Chapter 7: Meeting (II)


Sebelum saya semakin dikejar oleh plot ini sampe ke mimpi, lebih baik saya cepat ngetiknya deh 😛 dan semoga chapter ini dapat memperjelas semuanya ^^

Petunjuk membaca ff saya:

TIDAK SUKA COUPLENYA? TIDAK USAH BACA!

NEKAD BACA DAN TIDAK SUKA CERITANYA? KLIK TANDA SILANG!

NEKAD, TIDAK SUKA DAN MAU NGEFLAME? SILAKAN ANDA KE RUMAH SAKIT UNTUK MEMERIKSA MATA DAN OTAK ANDA.

Perlu petunjuk tambahan? 😉

Sisanya, selamat membaca ^^

Terima kasih

Dan sekali lagi ini hanyalah sebuah imajinasi, apa yang terjadi pada cerita ini murni hanya imajinasi author belaka dan mohon jangan melakukan plagiarisme. Sekali lagi, terima kasih.

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

.

.

Semenjak World War III, kelompok masyarakat dibagi menjadi empat kelas: doll, ordinary, callous, dan zenith.

Doll, seperti yang kita ketahui, adalah kumpulan masyarakat yang tidak berhasil bangkit dari keterpurukan mereka. Mereka yang berada dalam kelas ini adalah orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa lagi selain tubuh mereka untuk bertahan hidup. Meski terlihat para doll diperlakukan semena-mena dan diperjualbelikan secara legal, mereka tetap memiliki hak dan jika para master telah melakukan hal yang melewati batas maka para master bisa dituntut. Tapi, dunia begitu luas, black market tak bisa dihindar sehingga kadang kala banyak juga para doll yang meninggal karena diperlakukan semena-mena.

Ordinary sedikit lebih baik daripada doll. Singkatnya ordinary hanyalah kumpulan masyarakat biasa yang masih memiliki sesuatu untuk bisa digunakan, entah otak atau bakat lainnya. Ordinary bekerja seperti masyarakat pada abad lama untuk memenuhi kehidupannya. Mereka yang berada dalam kelas ini juga boleh membeli doll selama mereka mampu.

Yang berada sedikit di atas adalah callous. Mereka yang berada dalam kelas ini adalah tipe petarung dalam segala hal, baik mental maupun fisik. Tantangan adalah hal yang paling disukai oleh mereka. Ambisi menjadi pemicu dalam setiap tindakan mereka. Sayangnya, karena terlalu ambisius para callous sering disebut sebagai orang yang tak punya hati. Para callous juga memiliki sebuah kekuatan seperti telepati, transporter, proyeksi, dan kekuatan supranatural lainnya.

Zenith adalah yang berada paling tinggi di antara semua kelas yang ada. Apapun yang dikerjakan mereka pasti berhasil dan mereka hanya memerlukan waktu yang singkat untuk mempelajari sesuatu untuk bisa kemudian menguasainya. Singkatnya, zenith sudah mulai mendekati keberadaan Tuhan, namun layaknya manusia, ada kelemahan tersendiri bagi zenith. Mungkin mereka bisa menguasai banyak hal, tapi fisik mereka sedikit lebih lemah dibanding dengan callous.

Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh para callous yang ambisius. Merasa terancam dengan keberadaan zenith yang semakin banyak, mereka membunuh zenith satu per-satu hingga hanya dua yang tersisa dari kumpulan zenith. Satu di bawah pemerintahan Korea, Lee Donghae, yang kita ketahui bernama Choi Siwon dan satu lagi berada di bawah pemerintahan Rusia yang kita ketahui sebagai pencipta dari savior.

Namun, salah satu dari zenith yang bernama Jung Yonghwa menyadari perlawanan callous sebelum penyerangan. Katakan saja dia mempelajari vision sehingga dia sedikit banyak dapat melihat apa yang terjadi di masa depan. Istrinya adalah Jung Seohyun yang hanya seorang ordinary. Karena takut akan hilangnya zenith dan berkuasanya para callous yang ambisius, Yonghwa membicarakan sesuatu kepada istrinya, sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Seohyun menangis dengan keras atas pengorbanan Yonghwa demi masa depan kelas lainnya. Suaminya mengambil semua darahnya kemudian berpesan kepada Seohyun ketika dia menutup mata, istrinya itu harus segera menusukkan darah itu sehingga mengalir pada anaknya. Seohyun hanya bisa menuruti permintaan terakhir suaminya. Ketika ditanya apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh suaminya, Yonghwa hanya menjawab, ”Scion is my descendant.”

.

.

Broken Doll

Meeting

broken2_zps4191a156

(II)

By eL-ch4n

01.04.2012

.

.

”Ah..there Chunie, oh so good.

Suie, ohhh…yeshh…ahh….so tight.

Semenjak Eunhyuk membuka matanya, suara desahan itu yang menemaninya sampai sekarang. Suara desahan yang berasal dari ruang tamu yang terletak di sebelah kamarnya dan Donghae. Namja manis itu menghela nafas ketika mendengar suara-suara itu yang membuat tubuhnya menjadi tegang. Ingin sekali dia mengeluarkan cairannya, namun dia teringat akan pesan Donghae yang mengatakan bahwa tidak ada yang boleh menyentuh dirinya selain sang Perdana Menteri itu sendiri.

Dia memutuskan untuk pergi ke dapur saja untuk menyibukkan dirinya. Terkadang dia tidak mengerti bagaimana kedua namja yang sedang melakukan hubungan intim seperti tidak ada hari esok itu adalah ketua mafia yang paling ditakuti di Italia. Tapi, terkadang itulah misteri kehidupan. Beruntung ordinary seperti mereka bisa mencapai pada tingkat sejauh ini.

”Hei,” Sebuah suara serak membuat Eunhyuk sadar dari lamunannya. Dia memutar kepalanya dan mendapati seorang namja yang memiliki jidat yang sedikit lebar sedang tersenyum ke arahnya. Namja itu tidak memakai atasan sehiggga dia topless. Wajah namja manis itu memerah seketika menyadari hal tersebut. ”Apa yang kau lakukan di sini?” tanya namja itu dengan lembut.

Eunhyuk menggelengkan kepalanya, ”Ani, gwenchana, aku hanya ingin membuat sarapan saja, bukankah kau tadi masih di kamar?” Eunhyuk tak melanjutkan kalimatnya karena merasa malu.

Namja yang berada di hadapannya menyengir lebar. Satu langkah maju yang diambilnya membuat Eunhyuk mengambil satu langkah mundur. Ketika Eunhyuk terkunci dengan wastafel cuci piring, dia tak bisa bergerak mundur lagi. Kedua tangan namja itu berada di sampingya, membatasi semua gerakannya. Namja itu mendekatkan hidungnya pada rambut Eunhyuk yang baru saja dicuci. ”Hmm, wangimu harum, aku ingin tahu apakah bagian lain dari dirimu juga sama harumnya,” bisiknya sedukitf.

Tubuh Eunhyuk bergetar hebat. ”Err, Yoochun-shi?”

”Hmm?” Namja yang dipanggil Yoochun itu masih asyik mencium aroma tubuh Eunhyuk dan mendekatkan kedua tubuh mereka. ”Rasanya sekarang aku bisa mengerti kenapa Donghae menginginkanmu.”

Kedua mata Eunhyuk membulat. Ada yang aneh dengan suara Yoochun. Bukan hanya itu, Yoochun tidak pernah memanggil Donghae dengan namanya. Namja berjidat lebar itu selalu memanggil master-nya dengan sebutan-sebutan aneh seperti ’fishy’ atau sebagainya. Tangan Eunhyuk mendorong tubuh Yoochun yang sedikit besar darinya keras-keras hingga namja itu mundur beberapa langkah. ”Kau siapa?” tanyanya dengan tegas.

Yoochun –yang bukan Yoochun menurut Eunhyuk- menyengir lebar. ”Di luar dugaan kau cukup pintar, tapi sayang kepintaranmu tak akan bisa membawamu lepas dariku.” Tubuh Eunhyuk gemetar karena takut. Dia ingin lari dan berteriak tapi sekujur tubuhnya terasa kaku. ”Tenang saja sayang, ini tidak akan sakit, kau hanya –”

”Hanya apa?” Sebuah suara yang serak namun tegas terdengar diiringi dengan suara pelatuk pistol yang ditarik. ”Hanya apa Jonghyun?

Namja yang ternyata bernama Jonghyun itu menyengir. Dia mengangkat kedua tangannya seolah menyerah dan wajahnya berubah menjadi sosok namja lain. ”Padahal aku pikir kau sudah terlalu sibuk untuk meladeni kekasihmu yang seperti budak seks itu,” ejeknya.

Yoochun mendesis dan segera menahan kedua tangan Jonghyun. Didekatkannya pistol ke atas kepala Jonghyun. ”Apa yang akan kau lakukan sekarang, hah?”

”Banyak, salah satunya adalah membunuhmu,” jawabnya disertai kekehan.

Buag.

Tanpa peringatan, perut Yoochun ditinju oleh kepalan tangan Jonghyun yang entah bagaimana sudah terlepas dari genggaman Yoochun. ”Seorang ordinary mau melawan callous, heh, pikir dulu!”

Eunhyuk tak bisa melakukan apa-apa. Ingin rasanya dia membantu Yoochun yang sedang bertarung melawan Jonghyun, tapi dia tidak mungkin bisa menyela, yang ada tubuhnya akan remuk seketika. Kondisi sekarang tidak menguntungkan bagi Yoochun, namja itu sudah mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya. Apakah callous memang sekuat itu?

Buag.

Satu pukulan telak kembali menemui pipi Yoochun. ”Jadi beginikah pemimpin mafia di Italia? Cih, pantas saja mereka tidak ada apa-apanya,” ejek Jonghyun yang memicu emosi namja berjidat lebar itu. Dia berdiri dengan langkah tertatih-tatih dan memberikan sebuah pukulan lagi, tapi dapat dihindari dengan mudah oleh Jonghyun seolah pukulan itu tidak ada apa-apanya.

”Jangan bergerak!” Eunhyuk melihat Junsu yang entah bagaimana sudah berada di ruang dapur itu dengan berpakaian lengkap. Sebuah pistol berada di tangannya. Matanya terlihat tegas seolah dalam sekejap dia bisa membunuh Jonghyun. ”Kalau kau bergerak aku akan menembakmu!”

”Hei, bukankah ini tidak adil? Dua melawan satu?” tanyanya sembari mengangkat kedua alis matanya. Dia melirik ke arah Eunhyuk yang berdiri di belakangnya dan menyeringai. ”Oh iya, kau tidak akan berani untuk melawanku, sayang.”

Dia berjalan menuju ke arah Eunhyuk dan mengabaikan Junsu begitu saja. ”Hei, jangan bergerak!”

”Atau kau akan apa, anak manis?” tanya Jonghyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari jewel yang ada di hadapannya.

Dug.

Bunyi sesuatu terjatuh ke lantai menyadarkan Eunhyuk. Pandangannya teralihkan kepada Junsu yang sudah tak berdaya terbaring di atas lantai. Di belakangnya berdiri seorang namja manis dengan potongan rambut pendek. Ekspresinya datar tak ada emosi. ”Kau terlalu lama, Jongie,” ujarnya pelan. Jika saja tidak berada dalam keadaan ini, Eunhyuk berani bersumpah suara namja itu terdengar begitu indah.

”Kalau aku jadi kalian berdua, aku tak akan mau menyentuh apa yang dimiliki oleh sang Perdana Menteri, kau tahu?” Kali ini yang mengiterupsi mereka adalah sebuah suara yang terdengar ceria yang berasal dari seorang namja yang bersandar di dinding yang terletak di samping pintu. Namja itu memakai pakaian casual, matanya begitu sipit hingga tak terlihat. Sebuah senyuman lebar terukir di wajahnya membuat matanya semakin tak terlihat. Kedua tangannya terlipat menyilang di depan dadanya.

Namja manis yang memukul pingsan Junsu tadi mendecih pelan. Dia berjalan mendekati kepada sang pengganggu itu. Namun dalam sekejap saja namja itu telah hilang dari pandangan dan berada di belakangnya. ”Kim Kibum atau yang biasa dipanggil dengan Key, sudah 2 tahun menjabat sebagai callous. Peringkatmu, sayangnya, masih ada di bawahku,” jelas namja bermata sipit itu.

Kedua mata milik namja bernama Key itu membesar. Dia kaget atas identitasnya yang diketahui oleh namja itu. ”Darimana?”

”Bukan hal yang penting aku tahu darimana, yang aku tahu adalah kalian tidak boleh mengambil jewel.”

Jonghyun mendesis kesal namun mencoba untuk mengabaikan Key dengan namja itu dan memfokuskan dirinya pada Eunhyuk. Yoochun yang masih setengah sadar berdiri dan mencoba menarik Jonghyun. Dia memberikan satu pukulan telak di pipi kanan Jonghyun membuat sang callous mengeluarkan darah dari mulutnya. ”Ternyata aku cukup meremehkanmu,” gumamnya.

Daesung, kau sendiri?” tanya Yoochun yang entah bagaimana sekarang sudah berdiri tegap seolah luka yang dialaminya tadi tidak berpengaruh pada tubuhnya.

Eunhyuk bingung siapa yang dimasuk dengan Daesung namun ketika dia mendengar jawaban dari namja bermata sipit itu, dia akhirnya tahu. Sekarang pertanyaannya adalah siapa Daesung itu? ”Ne, hyung, yang lain sedang melakukan tugasnya. Kau terluka cukup parah, apa kau baik-baik saja?” Daesung bertanya dengan nada khawatir tanpa menghiraukan Key yang hendak memukulnya dari belakang.

Tangan kiri Daesung menghentikan gerakan Key seketika, ”Maaf ya, aku tidak mau mempermalukan hyung-ku jika aku kalah dari seorang callous sepertimu,” ujarnya dengan senyuman khasnya. ”Hyung, let’s begin the show,” serunya yang disertai dengan anggukan dari Yoochun.

Doll Perdana Menteri Korea itu masih tak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Baru saja ada seseorang yang menyamar menjadi Yoochun dan berhasil membuat Yoochun terluka parah. Junsu bahkan dibuat pingsan oleh namja yang muncul tak lama kemudian. Situasi mereka tadi berada di bawah, namun begitu namja bernama Daesung datang, Yoochun tiba-tiba saja menjadi sehat kembali seolah luka itu tidak ada apa-apanya dan sekarang mereka berada di atas angin.

Tak berapa lama, sosok kedua orang itu menghilang ketika mereka berdua hampir kalah. ”Cih, hologram, sudah kuduga Soo Man brengsek itu tidak akan mengirimkan callous yang asli,” desis Yoochun.

”Sudahlah, hyung, yang penting sekarang Eunhyuk-shi tidak kenapa-kenapa.”

”Kau siapa?” Suara Eunhyuk terdengar bergetar dan lemah. Tentu saja, bagaimana dia tidak ketakutan ketika mengalami apa yang baru saja terjadi?

Yoochun dan Daesung saling bertatapan dan menyengir. ”Kang Daesung imnida, callous at your service. Dan aku juga diperintahkan oleh YG-shi untuk menjaga anda.”

”YG?” Kedua alis mata Eunhyuk terangkat menunjukkan bahwa dia sedikit bingung dengan apa yang terjadi.

Daesung mengangguk dengan antusias, ”YG itu hanya sebuah julukan untuk pemimpin Italia.”

”Bukankah itu Vargas?” tanya Eunhyuk. Meskipun doll, dia sedikit tahu tentang seluk beluk politik yang ada dan nama pemimpin negara juga termasuk salah satunya.

”Vargas itu hanya simbol, namun yang benar-benar mengendalikan Italia adalah YG dan Yoochun-hyung ini juga berada di bawah pimpinannya,” jelas Daesung sembari tersenyum lebar.

Yoochun sendiri sudah berjalan ke arah Junsu yang masih pingsan. Dengan hati-hati dia menggandeng Junsu dengan bridal-style. ”Untung saja kau tidak datang bersama Seungri, pasti dia akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.”

”Jangan salahkan Seungri yang tertarik pada Junsu-hyung, Yoochun-hyung,” jawab Daesung.

”Jadi, aku aman?” tanya Eunhyuk dengan perlahan. Suara kekehan pelan menjadi jawabannya.

”Tentu saja, dalam callous, tidak ada yang bisa mengalahkan Big Bang,” seru Daesung.

”Ya, kecuali presiden Amerika dan pemimpin kalian sekarang,” goda Yoochun.

”Ah, hyung!” Dan tak lama gelak tawa mengisi ruangan itu seolah kejadian mengerikan tadi tak terjadi.

.

.

”Ngghh…ahhh…” Hal yang diingat Kibum setelah dia keluar dari kamar mandi adalah sosok Siwon yang terlihat serius. Tanpa berkata apa-apa, master-nya itu menarik dirinya dan mengurungnya di dalam kamar ini. Baju dan celana yang baru dikenakannya dilepas begitu saja oleh sang master hingga dia kembali bertelanjang dada.

Tubuh Kibum masih sedikit sakit akibat perlakuan Siwon kemarin sehingga dia tidak bisa banyak  melawan ketika tangan kekar sang master menariknya dan melemparnya ke atas tempat tidur. Kedua tangannya kembali terikat di atas kepalanya dan diikat di atas nighstand ranjang mereka. ”Ini supaya aku yakin bahwa kau tidak akan kabur,” bisiknya di telinga Kibum sebelum menjilati daun telinga sang Snow White.

Kedua kakinya dibuka lebar dan diikat pada kedua sisi tempat tidur. Tanpa persiapan, tanpa peringatan, Siwon memasukkan vibrator yang sudah disetel maksimum ke dalam hole Kibum mendatangkan erangan kesakitan dari namja manis itu. ”Aku tak akan memasang cock ring. Anggap saja sebagai keringanan dariku,” bisiknya sekali lagi sebelum melumat bibir namja manis itu dan meninggalkannya dalam kamarnya. Sebelum dia pergi, dia menyetel suhu ruangan agar tidak terlalu dingin ataupun terlalu panas. ”Jika kau merasa terlalu dingin, katakan saja heat it, dan jika terlalu panas katakan cool it. Aku sudah mengatur agar dia mengikuti suaramu,” pesan Siwon sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu meninggalkan Kibum dalam keadaan yang tak berdaya.

”Urmm…ahhh…” Dan di sinilah Kibum sekarang dengan tangan dan kaki yang terikat, vibrator di dalam tubuhnya dalam ukuran maksimum. Rasanya begitu sesak karena vibrator itu tidak berhasil mencapai titik sensitifnya. Berkali-kali namja cantik itu mencoba untuk menggerakkan badannya agar vibrator tersebut masuk lebih dalam namun usahanya nihil. Dia hanya bisa mendesah dan mengerang tertahan.

Kriet.

Dirinya menjadi siaga ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Helaan nafas lega terdengar ketika dia melihat Mina yang masuk. ”Kibum-shi, saya mengantarkan makan siang anda,” ujar Mina sembari memberi hormat.

”Mina, urnghh, bisakah…ahh, kau melepaskan kedua ikatanku?” pinta Kibum dengan nada memelas. Mina meneguk ludah. Di satu sisi dia merasa kasihan dengan Kibum, namun membantah Siwon bukanlah opsi yang tepat. ”Please? Setidaknya sampai aku selesai, ah, memakan makan siangku?” Kibum meminta dengan tatapan mata yang polos.

”Hah,” desah Mina. Dia kemudian meletakkan nampan berisi makan siang itu ke atas lemari di samping Kibum. ”Arasso, Kibum-shi.”

Tak berapa lama semua ikatan di tangan Kibum terlepas sudah. Dengan perlahan dia menarik keluar vibrator di dalam dindingnya agar dia bisa makan dengan tenang. Mina tersenyum melihat Kibum yang memakan masakannya dengan lahap. Dia seperti melihat anaknya dalam diri Kibum. Dia menghapus air matanya yang sedikit mengalir keluar karena haru. Kibum yang melihatnya membantu yeojya tua itu untuk mengelap air matanya.

Waktu sungguh cepat berlalu. Sesaat tadi dia masih melihat Mina tersenyum lembut ke arahnya, sekarang yeojya itu sudah terbaring di atas lantai di depannya dengan darah yang mengalir di kepalanya karena dipukul oleh sebuah benda keras. Kibum tersentak kaget. Nampan berisi makanan itu terjatuh ke lantai. Pandangannya terarah pada seorang namja berambut pirang dengan wajah aegyo sedang menyengir kepadanya. ”Jadi ini mainan baru Wonnie?” tanyanya dengan nada lembut namun terdengar mengerikan. Kibum tahu bahwa dia berada dalam keadaan terdesak.

.

.

Suara pancuran air memenuhi kamar mandi menutupi suara kecipak kulit yang saling bersentuhan. Jaejoong sedang meletakkan kedua tangannya di atas dinding kamar mandi untuk menopang tubuhnya yang menungging sehingga membuat Yunho bisa melihat hole-nya yang begitu menggoda. Tubuh Yunho sedikit berjongkok. Kedua tangannya memegang pantat Jaejoong yang begitu kenyal. Lidahnya terjulur dan menjilati hole Jaejoong yang terlihat pink dan menggoda. ”Ohh…” desah Jaejoong mendapati sesuatu yang basah memasuki dindingnya.

”Hmm,” keluar dari mulut Yunho sesekali ketika dia menjilati dinding kekasihnya. ”Sudah lama tak merasakanmu, you’re still delicious, boo,” gumamnya.

Pikiran Jaejoong sudah kalut dan dipenuhi oleh hal yang lain. Tubuhnya bergetar hebat dengan sentuhan yang diberikan Yunho kepadanya. ”Yun, ahh~” Badannya sedikit melengkung ketika jari-jari Yunho masuk dan menekan titik prostatnya dalam sekali hentakan. ”Ohh~ there Yun,” gumamnya lagi. Yunho terkekeh perlahan. Dia menarik Jaejoong ke pangkuannya dengan jari-jarinya masih berada di dalam dinding Jaejoong. Pancuran air membuat tubuh mereka basah dan sedikit licin. Hal ini juga yang membuat jari Yunho masuk lebih mudah ke dalam dinding Jaejoong.

”Hmm~” desah mereka di sela-sela ciuman panas mereka. Yunho mengeluarkan jari-jarinya dan memosisikan Jaejoong berada di atas kejantanannya yang sudah berdiri tegak sempurna.

Kedua tangan Yunho berada di pinggang ramping Jaejoong untuk mengangkat tubuh ramping itu dan kemudian menjatuhkannya dan melahap junior-nya dalam satu hentakan. ”Arghhh~” erang Jaejoong ketika di saat yang bersamaan junior Yunho menyentuh titik prostatnya. ”Ohh~”

Faster, chagiya~” bisik Yunho di telinga namja cantik itu sebelum mempertemukan bibirnya pada leher Jaejoong yang terekspos di depannya.

”Ohh~ bite me…ahhh…moree…” Jaejoong melakukan gerakan naik turun terhadap milik Yunho sembari mencari titik sensitifnya sendiri. Kedua tangan Yunho memilin kedua nipple-nya yang sekarang meneganga sempurna. ”Ahh…Yunnie-ah~” Bibir Yunho masih setia mencium dan memberikan kissmark pada leher putih Jaejoong.

”Hmm~’”

”Ohh…Yun! Yunnie!”

Tangan kiri Yunho perlahan turun menuju milik Jaejoong yang sudah mulai mengeluarkan cairan precum, sebentar lagi sepertinya namja cantik itu akan mencapai orgasmenya. ”Oh, faster Yun…please…ahh,” racau Jaejoong.

Sebagai suami yang baik, Yunho menuruti permintaan Jaejoong. Tangannya mengocok milik Jaejoong dengan tempo yang lebih cepat. Tangan kanannya menopang tubuh mungil itu agar lebih cepat melakukan gerakan in dan out-nya. Tak berapa lama Jaejoong mencapai orgasmenya, ”Yun…cum..cumming…Yunnie!!”

”Urgh…Jae…”

Splurt.

Cairan putih Jaejoong keluar dan membasahi tangan Yunho yang tadi mengocok miliknya. Kedua tangan Jaejoong meraih tangan kekar Yunho dan menjilati jari-jari yang beroleskan cum­-nya agar tak bersisa. Yunho sendiri masih setia menggerakkan pantatnya untuk mendesak masuk ke dalam dinding Jaejoong yang dirasanya mulai menyempit. Hingga tak lama kemudian dia mencapai orgasmenya dan keluar di dalam Jaejoong. Cairan putih mengalir keluar sedikit dari hole Jaejoong yang penuh. ”Jae~” bisiknya di telinga namja cantik itu sebelum kemudian melumat bibir mungil itu. Kedua tangan Jaejoong melingkar di leher Yunho untuk memperdalam ciuman mereka.

.

.

Setelah keluar dari kamar mandi dan berpakaian lengkap, keduanya kembali berciuman dengan intens. Lidah bertarung dengan lidah, bibir saling melahap satu sama lain. Karena terlalu asyik dengan satu sama lain, mereka tidak menyadari kehadiran yang lain di dalam kamar itu. ”Sepertinya kami menganggu kalian, eh?” Sebuah suara menginterupsi mereka.

Dengan siaga, Yunho menjaga Jaejoong dan membiarkan namja cantik itu berdiri di belakangnya. ”Siapa kalian?” tanyanya kepada dua namja yang tampangnya terlihat masih muda. Yang satu berwajah manis dengan potongan rambut bob pirang sementara yang satu lagi namja tampan dengan alis sedikit tebal dan potongan rambut pendek. Keduanya hanya menyengir sebagai jawaban.

”Nama bukan masalah, Yunho-shi, yang jelas kami mau mengambil Jaejoong-mu,” ujar sang namja tampan.

”Hei, kata hyung tidak sopan kalau tidak memperkenalkan diri, namaku Lee Taemin dan dia Choi Minho,” sela sang namja cantik.

Yunho berjalan mundur sembari kedua tangannya sedikit terentang untuk menjaga Jaejoong. ”Kalian cukup lama berada di dalam sana sampai aku berpikir apa jangan-jangan kami harus menyela kalian saja tadi,” gumam Minho yang kemudian membuat muka Jaejoong memerah.

”Aigo, chagiya~ kau membuatnya malu,” canda Taemin.

Sekilas dua namja remaja itu terlihat normal layaknya remaja lainnya, namun Yunho merasakan adanya tanda bahaya. Sialnya, dia tidak membawa perlengkapannya karena dia baru saja keluar dari kamar mandi bersama dengan kekasihnya. Dia bertekad untuk menjaga Jaejoong. Sudah mendapatkannya, masa dia mau kehilangannya lagi?

Tangan Taemin terulur dan sebuah senyuman lebar terpasang di wajah manisnya. ”Jadi? Berikan kami Jaejoong ne?” tanyanya dengan nada riang.

Hening menerpa mereka. Minho yang tadinya terduduk di lengan sofa segera berdiri. ”Sepertinya mereka tidak suka dengan cara yang gampang, eh?”

”Jung Yunho, ordinary yang beruntung bisa menjadi pemilik dari Mi[R]otic, tempat penjualan para doll yang legal. Tapi, kau tidak cukup beruntung bertemu kami sepertinya,” jelas Taemin dengan wajah polos dan senyuman lebar.

”Jangan banyak bicara, Taemin, ayo kita mulai,” gumam Minho.

”Jae, mian,” bisik Yunho pelan sehingga hanya Jaejoong yang dapat mendengarnya. Namja cantik itu mengangguk tanda mengerti, dia tahu bahwa hanya ini yang bisa dilakukan Yunho untuk melindunginya. Dia hanya bisa menghormati keputusan kekasihnya itu. ”Tapi pastikan kau akan kembali,” balas Jaejoong pelan. Yunho mengangguk mantap, ”Tentu saja, chagi.” Dia mengecup kening Jaejoong dengan lembut sebelum rambutnya berubah menjadi hitam dan iris matanya menjadi cokelat.

Yunho tahu bahwa sebagai ordinary, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Itu sebabnya ketika Jaejoong diculik dan dijadikan bahan percobaan lalu kemudian diperjualbelikan menjadi doll tiga tahun lalu, U-know tercipta. U-know adalah bagian dalam diri Yunho yang berisi tekad dan semua hal yang tidak bisa dilakukan Yunho. Singkatnya, U-know adalah bagian hitam dari Yunho, bagian yang paling mengerikan yang hampir menyeimbangi callous.

”Jadi ini, U-know yang dibicarakan itu?” tanya Taemin yang disusul oleh siulan.

Jaejoong segera berlari ke pojok ruangan dan bersembunyi. Hanya doa yang bisa dia panjatkan agar Yunho dan U-know baik-baik saja. ”Awas!” teriak Jaejoong ketika dia melihat U-know yang sibuk memberikan pukulan bagi Taemin namun berhasil dihindari oleh namja manis itu tak memperhatikan Minho di belakangnya siap melakukan tendangan telak.

Berkat peringatan dari Jaejoong, U-know sempat menghindari tendangan Minho, namun karena tidak siap, dia kehilangan keseimbangan sehingga kakinya sedikit terkilir. Minho dan Taemin saling berpandangan kemudian mengangguk. U-know merasakan firasat tidak enak. Dia segera melancarkan serangan kepada Taemin karena berdasarkan pengamatannya, namja itu lebih lemah daripada Minho. Kakinya yang sedikit terkilir sangat tidak membantu gerakannya, terlebih ketika dia merasa bahwa Minho tak berada dalam jangkauannya. ”Hei, lebih baik kau memperhatikan dirimu sendiri,” ejek Taemin yang berada di depannya dengan cengiran di wajahnya.

Di sisi lain, Jaejoong semakin berjalan mundur ketika melihat Minho bergerak ke arahnya. Dia mencoba berlari, tetapi Minho sudah berada di depannya dengan tangan kekar Minho menghalangi gerakannya. ”He, sang princess sudah tidak bisa ke mana-mana lagi, eh?” Jaejoong menutup mata menantikan apa yang mungkin terjadi. Ketika tak merasakan apapun, dia perlahan membuka matanya dan mendapati tangan Minho sedang dipelintir oleh seorang namja dengan potongan rambut mohawk. Wajahnya terlihat ramah ketika bertemu pandang dengan Jaejoong. Dia mengangguk memberi salam sebelum berurusan dengan Minho kembali.

Mata Jaejoong bergegas mencari U-know yang sedang bertarung dengan Taemin bersama dengan seorang namja yang kelihatannya lebih muda dari Yunho yang menyengir karena senang. ”Seungri, jangan terlalu keras melawannya,” tegur namja yang menolong Jaejoong tadi.

”Urgh,” erang Minho yang lengannya dipatahkan oleh namja berambut mohawk itu. ”Kalian siapa?” tanyanya di sela-sela kesakitannya.

”Kami?” Kedua alis mata namja yang mematahkan tangannya itu terangkat karena tertarik. ”Sepertinya kalian harus lebih sering terbuka dengan sekitarnya, eh?”

Taeyang, awas!” seru U-know untuk memberi peringatan kepada namja yang masih berbicara dengan santai terhadap Minho. Namja yang bernama Taeyang itu mengerahkan tangan kanannya dan menghentikan gerakan Taemin seketika. ”Kalian harus belajar lebih baik, ne?” katanya dengan ramah.

Sama seperti Jonghyun dan Key tadi, sosok Minho dan Taemin juga menghilang begitu saja. ”Seperti kata Daesung, hanya hologram,” gumam Taeyang.

Jaejoong yang masih dalam keadaan shok hanya bisa menatap mereka dengan kaku. Barulah ketika tangan lembut Yunho menyentuhnya dan dirinya berada dalam dekapan hangat Yunho, dia menangis sekeras-kerasnya. ”Sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang,” gumam Taeyang. Seungri hanya mengangguk, ”Ne, hyung.”

.

.

Kau harus sadar secepatnya. Ingat siapa dirimu sesungguhnya.

”Hosh, hosh.” Changmin yang tertidur lelap tadi segera terbangun ketika mendapati mimpi yang aneh itu. Mimpi itu sudah menghantuinya sejak seminggu yang lalu entah karena apa. Mulanya dia menganggap bahwa dia hanya kelelahan, namun mimpi itu semakin lama semakin jelas dan kali ini dia melihat sosoknya yang terbaring dengan bibir dan kulit yang begitu pucat seperti seorang mayat.

Kakinya ditekuk dan tangan kirinya bertumpu di atas lututnya. Keningnya dibenamkannya pada telapak tangan kirinya sementara helaan nafas keluar dari tubuhnya. ”Hyung?” Suara Kyuhyun menyadarkan dia dari lamunannya. ”Gwenchana?” tanya namja muda itu dengan hati-hati. Dia berjalan menghampiri hyung-nya. Tangannya yang mungil menyentuh kening hyung-nya untuk memeriksa apakah mungkin hyung-nya sedang sakit.

Gerakan Kyuhyun membuat Changmin menatapnya dengan intens hingga entah bagaimana dan tidak tahu siapa yang memulai, tubuh Changmin kembali berbaring di atas ranjang dengan bibirnya yang saling bertautan dengan milik Kyuhyun. ”Urmm~” desah Kyuhyun ketika tangan hyung-nya menyelinap masuk ke dalam kaos yang dikenakannya. Tangan hyung-nya yang sedikit dingin membuat tubuhnya bergetar hebat terutama ketika kedua tangan itu dengan lihai memainkan nipple-nya membuat dia terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan hyung-nya menerobos masuk dan melakukan ekplorasi terhadap mulutnya.

”Hmm~” Bibir Changmin sekarang berada di antara pundak dan kepala mungil Kyuhyun. Sesekali dia memberikan gigitan kecil yang disertai dengan ”Nggh~” dari mulut Kyuhyun.

Begitu tangan mungil Kyuhyun menyelinap masuk ke dalam celana jeans-nya dan hendak menyentuh miliknya, seketika itu juga Changmin mendorong namja mungil itu. Kedua tangannya berada di kedua sisi kepalanya menahan sebuah rasa pusing yang tiba-tiba menggerogotinya. Sentuhan khawatir dari Kyuhyun malah membuat sesuatu di dalamnya bergejolak.

Bukan. Yang diharapkan Changmin untuk menyentuhnya saat ini bukanlah tangan mungil Kyuhyun yang selalu bisa menghangatkannya dulu, melainkan sebuah tangan kekar yang selalu menyakitinya namun di saat yang sama selalu melindunginya. Tidak mungkin.

Changmin menggelengkan kepalanya berkali-kali dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya sebuah pemikiran tidak berguna. Tidak mungkin ini terjadi. Apakah dia telah terjebak? Terjebak dalam takdir seorang doll? Oh, jangan katakan itu.

”Hyung?” tanya Kyuhyun dengan nada khawatir. Changmin memutar badannya dan melihat dongsaeng-nya itu melihatnya dengan ekspresi takut dan gugup. Namja yang lebih tua itu berusaha untuk tersenyum lembut dan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. ”Ne, gwenchana, Kyu,” bisiknya pada telinga Kyuhyun.

Baru saja bibir mereka hendak bertemu, suara ketukan pintu di rumah kecil mereka menyadarkan mereka. Siapa yang datang? Itulah yang pertama kali terlintas di pikiran mereka. Keduanya saling bertatapan dengan perasaan bingung sebelum akhirnya Changmin menghela nafas dan mengangkat badan Kyuhyun kemudian memosisikannya di atas ranjang.

Dengan langkah tegap dan perasaan aneh, dia berjalan ke depan pintu. Suara ketukan itu terdengar lagi dan membuat Changmin memantapkan hati untuk membukanya. Ketika daun pintu terbuka, yang berada di hadapannya membuat mulutnya sedikit menganga. Di hadapannya sekarang berdiri sosok seorang yeojya dengan tubuh ramping, rambut cokelat panjang di bawah bahu dan sebuah senyum indah di wajah yeojya itu.

Gulp.

Changmin menelan ludah. Dia tahu siapa yang berada di hadapannya. Choi Hanbyul, istri dari Choi Dong Wook atau Se7en atau yang sekarang dipanggilnya master. Apa yang sedang dilakukan Hanbyul di sini? ”Hanbyul-shi?” Yeojya itu mengangguk sembari tersenyum ramah. ”Kalau anda mau mencari master, dia tidak ada di –”

”Aku tahu dia tidak ada di sini.”

” – sini, eh?” Changmin terkesiap. Jika yeojya itu tahu bahwa suaminya tidak ada di sini, lantas untuk apa dia berada di sini. ”Kenapa?” Tanpa sadar dia mengucapkan apa yang ditanyakan otaknya.

Yeojya itu kembali tersenyum lembut. ”Karena aku ingin bicara denganmu, Changmin.”

.

.

”Kau siapa?” tanya Kibum ketika melihat namja yang berada di hadapannya dengan sebuah seringaian yang mengerikan.

Namja itu hanya menyeringai dan berjalan mendekati Kibum. ”Aku tidak tahu apakah sopan berbicara dengan seseorang tanpa memakai pakaian, mana sopan santunmu? Oh maaf, kau sudah tidak mempunyai sopan santun semenjak menjadi doll, rupanya?” ejek namja itu.

Seharusnya perkataan namja itu bisa membuat Kibum marah, namun sang Snow White hanya tersenyum sinis. ”Oh maaf, cloth,” ujarnya sembari menjentikkan jarinya dan seketika itu juga dia sudah berpakaian. Hal ini membuat namja itu sedikit kaget namun segera dia mengabaikannya. ”Kenapa? Kaget?”

”Cukup kaget, tidak menduga seorang doll sepertimu bisa melakukan hal itu,” jawab namja itu dengan nada sarkasme.

”Bicara soal sopan santun, anda sendiri juga tidak sopan berbicara dengan saya tanpa memperkenalkan diri anda,” ujar Kibum dengan nada datar tanpa ekspresi.

Namja yang ada di hadapannya sedikit menggeram namun kembali lagi pada ekspresinya yang semula. ”Lee Sungmin imnida, Kibum-shi, dan zenith at your service,” tambahnya pada akhir kalimatnya membuat kedua alis mata Kibum terangkat.

”Oh, the last zenith, eh?” Entah kenapa namja bernama Sungmin itu tidak suka dengan nada bicara Kibum yang seolah-olah meremehkannya. ”Jadi apa yang ingin dilakukan zenith terhormat seperti anda mau bicara dengan saya yang hanya seorang doll ini?” Kibum berdiri dan menghindari mayat Mina untuk mendekat Sungmin. Sadar atau tidak, tetapi tangan Mina sedikit bergerak.

Sungmin menyeringai. ”Kita bisa melakukan hal ini dengan cara halus atau kasar. Kau bisa mengikutiku tanpa ada perlawanan atau –”

”Atau apa, Sungmin-shi? Apa yang akan anda lakukan terhadap saya?” tantang Kibum. Kedua wajah mereka cukup dekat. Hanya hembusan angin yang memisahkan mereka.

Shindong,” desis Sungmin. Tiba-tiba muncullah seorang namja dengan tubuh yang sedikit lebih berisi dari arah belakang Kibum sehingga sekarang sang Snow White terperangkap. ”Ikut saja kami dengan tenang atau aku tak bisa menjamin apa yang bisa terjadi pada Changmin-mu dan Wonnie,” ujar Sungmin dengan nada ancaman.

Tubuh Kibum seketika diam. Dia menatap tajam ke arah Sungmin sebelum mengangkat tangannya santai. ”Arasso, aku akan mengikutimu, tapi biarkan aku memberi salam terakhir pada Mina.”

Sungmin menatapnya curiga namun jika dengan itu namja yang ada di hadapannya ini mau mengikutinya tanpa paksaan, maka dia tidak keberatan. ”Arasso, tapi lakukan dengan cepat,” perintahnya. Kibum mengangguk. Dia menunduk dan memegang tangan Mina dengan erat seolah memberi semangat pada yeojya tua yang selalu menemaninya itu. Sebuah bisikan dia berikan pada telinga yeojya itu hingga Sungmin dan Shindong tidak bisa mendengarnya. ”Ayo kita pergi,” ujar Kibum dengan mantap setelah melakukan sesuatu pada Mina dan berjalan mengikuti Sungmin diiringi Shindong di belakangnya.

Tak lama setelah mereka menghilang dalam transporter, tangan Mina bergerak perlahan dan yeojya itu berdiri dengan tegak seolah dia tidak dipukul sampai mati. ”Cih, inilah akibatnya menjadi seorang magnae,” desisnya. Tangan kanannya bergerak turun dari atas kepalanya hingga ke bawah dan wajahnya perlahan berubah jadi seorang yeojya berumur menjadi seorang yeojya berambut hitam dengan potongan bob dan wajah yang manis. ”Neve juga suka seenaknya kalau memberikan tugas,” desisnya.

Matanya beralih pada tangan yang disentuh oleh Kibum tadi. Sebuah tulisan hieroglyph tertulis di tangannya. ”Dan kenapa juga dia selalu memakai tulisan aneh seperti ini sih?!”

Jangan mengeluh terus, Minzy.

Sebuah suara teguran terdengar di kepalanya. Yeojya bernama Minzy itu menghela nafas, ”Arasso, Dara-eonnie.”

Apa yang dikatakannya?

”Kala angin terbang menghembuskan daun yang tersisa saat itulah salju turun,” bisik Minzy.

Khas dia sekali, eh?

Minzy hanya mengangguk meski dia tahu bahwa orang yang melakukan telepati dengan dirinya tak bisa mendengarnya. Kembalilah ke Indonesia sekarang, ada tugas lain untukmu.

”Lalu bagaimana jika Siwon-shi pulang dan tidak mendapatiku di sini?”

Mina sudah mati, kau bisa mengurusnya bukan?

”Dasar,” gerutunya sebelum memutuskan telepati tersebut. ”Bisanya cuma memerintah saja.”

Minzy.

”Ne, ne, aku akan segera melaksanakannya, eonnie!”

.

.

Ruang rapat itu terasa tegang, belum ada yang memulai percakapan hingga akhirnya Hankyung memasuki ruangan itu. Seketika itu suasana menjadi ricuh pasca kedatangan Hankyung. ”Apa yang dilakukan olehnya di sini?” tanya Soo Man dengan nada tidak suka.

”Aku yang mengundangnya.” Suara tegas Se7en memecahkan kericuhan yang ada. Presiden Amerika itu berdiri tegap dan berjalan menghampiri Hankyung. Dia memukul pundak namja Cina itu dengan perlahan. ”Bukankah semua negara harus diundang dan sudah lama Cina tidak menghadiri rapat ini,” jelasnya sembari tersenyum ramah. Dia sangat suka menikmati raut tidak senang yang terpasang di wajah Soo Man.

”Bukankah sudah lama Cina tercoret dari daftar semenjak kejadian penyebaran virus S-1 itu?” tanya salah seorang yang hadir di ruangan itu. Kericuhan kembali terjadi di ruangan itu.

Siwon merasa kaget mendapati namjachingu sepupunya itu berada di sini. Dia sudah tahu mengenai kondisi sepupunya itu dan Donghae juga sudah menjelaskannya tentang kemungkinan kehadiran Hankyung di rapat kali ini. Hanya saja dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. ”Jangan berpikir terlalu banyak, Siwon,” gumam Donghae yang hanya melihat kejadian yang sedang terjadi itu dengan wajah santai.

”Donghae? Kau sudah tahu?”

”Sepertinya Cina akan tetap menjadi sekutu dari Amerika yang tidak pernah bisa terpisahkan.”

Kericuhan kali ini tidak ditenangkan oleh Se7en karena namja itu merasa tertarik melihat reaksi dari para peserta yang menghadiri rapat itu, melainkan oleh seorang namja yang memiliki perpaduan wajah manis dan tampan yang duduk di bangku agak pojok sebelah negara matahari terbit itu. Potongan rambut namja itu sedikit aneh namun terkesan stylish. Di depan mejanya terpasang miniatur bendera berwarna merah putih yang menandakan negara yang diwakili oleh namja itu –Indonesia. ”Kurasa daripada membahas kenapa Cina diijinkan untuk ikut serta dalam rapat ini, bukankah bahasan mengenai mengapa presentasi yeojya yang berada di Rusia semakin menurun? Berdasarkan pengamatan terakhir, kehidupan yeojya malah menurun 17% dari sebelumnya.”

”Benar kata Jiyong, apakah anda mempunyai penjelasan akan hal itu, Soo Man-shi?” tanya Se7en dengan alis terangkat pada namja tua yang menyeringai.

”Sama seperti dengan alasan kenapa presentasi kehidupan di Indonesia menurun sebesar 22%,” jawabnya dengan tenang. ”Sungguh kasihan negara yang kau jaga itu, Jiyong-ah. Penuh dengan sumber daya alam, tetapi dirusak oleh para manusia yang tak tahu menahu cara untuk mengaturnya. Bahkan sekarang pun, negaramu tak lebih dari sebuah nama belaka,” ejek Soo Man.

Namja yang bernama Jiyong itu hanya tersenyum sinis. Tangannya terlipat dan diletakkan di atas meja, wajahnya sedikit dicondongkan ke depan seolah bisa mendekatkan diri kepada Soo Man yang berada di seberangnya. ”Setidaknya negaraku yang kau bilang tinggal nama itu sedang bergerak maju sementara kau masih tak bisa bergerak dari masa lalu, Soo Man-shi,” balas Jiyong tak kalah sinis.

”Sepertinya ini akan seru,” bisik Donghae pada Siwon yang hanya bisa melihat keadaan di dalam ruang rapat itu semakin menegang.

.

.

To be continued.

.

.

Annyeong haseyo semuanya ^^…tadi sebenarnya mau bkin april fool, tapi karena sudah lewat, jadi abaikan saja..hho #plak

Oke deh, semoga chapter ini memuaskan dan mian klo NC dan chapternya agak pendek 😥 saya akan berusaha lebih panjang lagi..#plak

Dan apakah chapter ini cukup menjawab semua pertanyaan? ^^

Sekali lagi sya ingatkan kalau ff ini hanya fiksi.

’Unleash your imagination’

Yang menjadi moto fanfiction bukan tanpa artinya. Harap anda mengerti bahwa saya tidak bermaksud mem-bash karakter atau apapun karena semua yang mereka lakukan ada alasannya, oke? 😉

See u on next chapter 😉

Review? 😉

_Verzeihen

Advertisements

21 responses to “Chapter 7: Meeting (II)

  1. Yeey!yunjae is back
    tidak!!para uke mau dicuri!!untung ada big bang sang penyelamat!
    Please ada TopGd couple y,min..
    Ceritanya benar2 seru..

  2. Waaahhh..rame banget yah dichapter ini karna banyak yang mau pada diculik…sudah agak2 ngerti sih sebagian besar ceritanya…
    Jiyong sudah on stage dengan bendera Indonesia..kemanakah bang TOP???
    lanjut dunk…

  3. huwaaa…ceritanya seru
    tapi q suka’na sibum couple sih..
    q dah baca ff ni smpe yg ch 12 di ffn, trus q ngikutin author ke sini
    buat dapetin PW’na gimana sih??

  4. Apakah Jung Yohwa itu Appanya Yunppa? Marganya sama soalnya….
    Jreng-jreng…. Akhirnya Chunie sama Junsu muncul juga, nggal tahu kenapa lagi kepincut sama Yoochun ==” Chunie jadi pemimpin mafia? Keren!
    Woah Eun dapat julukan Jewel? Terus Jaemma Princess? Cocok soalnya Jaemma cantik gitu ==”
    Kibum dipanggil Snow White kalau Changmin julukannya apa?
    Woah, Shinee jadi pihak musuh terus Big Bang jadi penyelamat gitu?
    U-Know benaran muncul saat Jaemma terdesak ne? Wah, aku jadi ngefans sama U-Know walau awalnya sebel gara-gara nyiksa Jaemma *Plak! Dasar Nara ga punya pendirian ==”
    Wah makin banyak pemain baru bermunculan, makin rame, makin seru…..

    • Bukan 😀 hanya itu yg bsa kujawab dulu ^^V
      Yoochun tapi di sini cuma kyk selingan doang..kkk~
      Changmin bingung, MInku aja deh? #jduar
      hehe…nah kan jadi suka sama U-know XDD
      makin rame makin seru, makin bingung Q,Q

  5. indonesia juga masuh eoh??
    hiyahahahahaaaa.. knp aku malah gugup ya..
    ada apa sma para doll.., knp mreka mau di bwa.., orang2 itu suruhan soe man kah..

  6. Pingback: Chapter 12: Who is Jung Yonghwa? | _Verzeihen·

  7. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

  8. Waduhhhhh itu para doll pada mau di ambil ya???sama siapa???kemana????
    Wahhhh indonesia muncul nih, tp bkn negara berkembang ya 😦

    Msih bngung pembuat savior itu siapa????trus doll savior itu changmin kan????

  9. Okay. Di chapter ini makin banjir cast. Semua nya ada. dbsk, sj, shinee, bigbang, 2ne1 hohoho Makin banyak cast aku nya makin bingung maksimal XD hueahahahaha XD
    tapi jujur author, aku suka ff ini. Walaupun ‘kurang’ paham tapi aku suka, kayanya cocok aja gitu peletakan para cast dengan adegan dan karakternya :3
    bytheway….. Ada yunjae lagi disini ngiahahahahaha XD LOVE IT!!

  10. keeeereeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnn
    pokoknya ini part sumpah bkin deg2an tegang sendiri apalg yg pas penculikan para uke
    astga astga semua selamat kenapa kibum nggk ???
    ya ampuuunnnn
    si sungmin segala yg ngjemput ckckck
    eaaa mantan ketemu pacal balu siwon #opss
    akhirnya aku paham aku paham khan kalo ada penjelasan ini aku ngerti

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s