Chapter 8: Interlude


Jadi chapter ini ingin saya ketik malam hari, tapi karena saya kembali dikejar sampai ke alam mimpi, jadi saya ketik saja deh -_-”

TIDAK SUKA TIDAK USAH BACA!

Mungkin NC-nya akan lebih sedikit dari sebelumnya. Bear with it, okay? 😉

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

.

.

Rusia yang waktu itu membantu Irak dalam WW III demi mendapatkan nama sebagai negeri adidaya memutuskan untuk mengakhiri perang. Begitu pula dengan Amerika. Perjanjian damai yang mereka lakukan akhirnya menghentikan perang dan semua negara yang ikut campur melakukan gencatan senjata.

Hanya saja, Treaty of Savior yang disetujui memiliki beberapa keganjalan. Salah satunya adalah negara yang tidak turut perang harus memberikan doll bagi Amerika dan Rusia setiap tahunnya. Entah untuk apa mereka tidak tahu. Lagipula, doll tak lebih dari manusia yang tidak berguna bagi negara tersebut sehingga mereka tidak mempertanyakan hal itu. Ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Amerika dan Rusia dan hanya kedua negara itu yang tahu.

Cina menjadi negara yang dipilih Amerika untuk mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan kedua negeri adidaya tersebut, yaitu tentang sebuah proyek ’Savior’ yang ditugaskan pada salah satu zenith yang tersisa yang berada di bawah perlindungan Rusia. Apa yang harus dilakukan oleh Cina adalah hal simpel, dia hanya harus memperbanyak sebuah virus yang diciptakan oleh sang zenith.

Jangan salah paham. Virus yang dimaksud dalam hal ini adalah campuran dari hormon testosteron dan beberapa zat kimia. Tujuan virus ini dikembangkan adalah untuk meningkatkan daya tahan para yeojya yang semakin menurun akibat perang nuklir yang terjadi. Namun sayangnya virus ini masih belum sempurna. Terbukti dari tubuh Heechul yang berubah sepenuhnya menjadi namja karena hormon pria yang dimasukkan dalam virus tersebut terlalu banyak. Amerika akhirnya mengatakan bahwa virus ini berbahaya karena penyebarannya tidak diketahui. Hanya karena Hankyung adalah salah satu dari yang merancang virus itu, ketika dia berhubungan badan dengan Heechul, virus ini tersebar pada namja cantik itu. Singkat cerita, virus S-1 ini gagal.

Lantas kenapa Cina dikeluarkan dari pertemuan yang selalu diadakan tiap tahun? Jawabannya karena negara lain mencurigai bahwa Cina menyabotase penemuan virus dan mereka takut jika Cina akan memperbanyak virus tersebut sehingga mereka tidak akan mendapat keuntungan lagi dari virus yang dikembangkan. Pada akhirnya, manusia adalah makhluk yang egois, tetap memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Yeojya tak banyak yang bertahan. Jumlah mereka semakin menurun, hanya beberapa yang memiliki daya tahan kuat yang bisa bertahan. Rusia menuntut zenith untuk menyerahkan Savior yang telah jadi, tapi seperti yang kita ketahui, sang zenith memiliki ketertarikan dengan Savior. Sayangnya, Rusia tahu akan hal itu dan negara itu akhirnya menuntut zenith atau dia akan dikirim menyusul teman-temannya.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah:

Apa yang harus dikerjakan oleh Savior?

.

.

Broken doll

“Interlude”

20130126-233544.jpg

by eL-ch4n

13.04.2012

.

.

Plak.

Sebuah tangan bertemu dengan pipi kiri milik seorang namja manis yang sedang terikat tak berdaya. Kedua tangan dari namja tangis itu terikat pada kedua ujung dinding sehingga tangannya terentang. Badannya sedikit melayang di udara. Namja itu tak berekspresi meskipun tangan itu telah menampar dirinya entah berapa kali.

”Kau hanya seorang doll, tak lebih dari sebuah boneka pemuas nafsu,” desis pemilik tangan itu.

”Pemuas nafsu? Bukankah itu dirimu, Lee Sungmin-shi?” balas namja manis yang terikat yang tak lain dan tak bukan adalah Kibum.

Sungmin yang mendengar balasan dari Kibum menggeram kesal. Dia kembali menampar pipi Kibum yang sudah memerah karena bekas tamparan dengan keras. ”Jaga mulutmu! Jangan karena aku tak boleh membunuhmu kau pikir aku tak bisa membuatmu mendekati kematian!”

Kibum tak bereaksi apa-apa. Bibirnya sudah sedikit mengeluarkan darah akibat tamparan dari Kibum. Tubuhnya sendiri hanya memakai baju yang sebagian besar sudah tersobek menampilkan sosok tubuhnya yang penuh luka bekas cambukan. Tak ada emosi ketika sepasang mata orbs itu memandang pada sepasang mata yang ada di depannya. Sekali lagi namja manis itu hanya terkekeh perlahan dan mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya.

”Apa yang kau tertawakan, eh?” geram Sungmin. Tak ada jawaban dari yang ditanya membuat namja berambut pirang itu semakin kesal.

”Anda sebut diri anda sebagai zenith, tapi sekarang anda tak ada bedanya dengan diri saya yang anda hina sebagai doll,” ujar Kibum. ”Setidaknya, Sungmin-shi, master saya adalah seorang zenith terhormat yang bahkan dihargai oleh setiap negara meski tak memiliki kedudukan. Sedangkan anda?” Kibum terkekeh dengan kesusahan karena bibirnya yang sedikit berdarah. ”Menjadi pemuas nafsu dari seorang callous yang menjijikkan.” Pernyataan Kibum disertai dengan tatapan tajam dari namja manis itu. Tatapan itu membuat Sungmin sedikit gemetar dan bertanya apakah namja manis ini adalah namja yang sedari tadi hanya terdiam menerima segala tindakannya?

”Kau,” geram Sungmin yang sudah mengepalkan kedua tangannya.

Dia baru saja hendak mempertemukan tangannya dengan pipi kiri Kibum sekali lagi kalau saja tidak dihalangi oleh sebuah tangan kekar. Kepalanya berputar dan matanya menangkap sosok seorang namja yang memiliki alis sedikit tebal, tampang sangar, dan sepasang mata orbs. Kau?”

.

.

Rapat telah dimulai selama 1 jam, namun tak kunjung ada hasil yang keluar. Setiap negara kembali mempertahankan keuntungan dan keutuhan negaranya masing-masing. Siwon tak habis pikir untuk apa mereka saling bertemu jika pada akhirnya semua akan kembali pada keadaan semula? Apakah sebegitu tidak ada pekerjaannyakah mereka sampai-sampai mereka menghabiskan uangnya hanya untuk pertemuan seperti ini? Sebuah formalitas? Heck, jika hanya sebuah formalitas bukankah lebih baik menggunakan proyeksi diri sendiri? Dengan demikian, uang yang digunakan juga tak akan terbuang percuma.

”Jadi, bagaimana menurutmu, Siwon-shi?” Pertanyaan yang berasal dari Presiden Amerika ini seketika menghentikan kericuhan yang terjadi di ruang rapat tersebut.

Gulp.

Siwon menelan ludah sebelum memajukan badannya ke depan agar menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting yang akan dia bicarakan. ”Saya rasa ide Se7en-shi untuk memanggil kembali Cina adalah keputusan yang tepat.” Seketika ruangan kembali ricuh sampai dia berdeham kembali untuk mengambil perhatian para anggota rapat. ”Coba anda pikir, negara mana yang lebih baik dalam melakukan multiplikasi? Cina. Negara mana yang dapat dengan cepat menyesuaikan teknologi yang berkembang? Cina. Dan negara ini juga memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dalam jumlah yang besar. Jika anda mau berpikir lebih lanjut, maka memberikan Cina kesempatan kedua bukan hal yang salah.”

Sebuah tangan terangkat ke atas. Anggukan diberikan Siwon kepada sang pemilik tangan sebagai tanda bahwa dia mengijinkan orang itu untuk bicara. ”Bukannya tidak setuju dengan kedatangan Cina kembali. Saya hanya mau menyertakan negara saya, Indonesia, untuk turut serta, boleh?” tanya wakil dari Indonesia, Jiyong ke arah Siwon.

”Kenapa anda bertanya pada saya, Jiyong-shi?” tanya Siwon kembali. Dia hanya memberikan pendapat, bukan sebagai pengambil keputusan. Hak itu sudah diberikan kepada Se7en dan Soo Man.

”Karena anda adalah salah satu dari zenith yang tersisa. Tentunya pendapat anda lebih akan didengar daripada apa yang akan aku utarakan. Menurut analisis anda, apakah bisa negaraku juga diiikutsertakan dalam proyek ini?”

Zenith itu berdeham. Dia terdiam sejenak sementara pikirannya sedang menganilis segala kemungkinan yang bisa terjadi. Semuanya kembali hening menunggu sang zenith untuk menunjukkan kehebatannya. ”Ada kemungkinan 87% proyek ini akan berhasil jika Indonesia diikutsertakan dan 21% gagal.”

”Tolong pakai bahasa manusia? Tapi, kalau dihitung bukankah itu lebih daripada 100%?” tanya Soo Man yang entah kenapa terlihat tidak senang dengan pernyataan yang keluar dari sang zenith.

Siwon menghela nafas. ”100% adalah keadaan sempurna, namun dalam kehidupan, sempurna itu tidak ada dan hanya hal semu. Karena itulah, kemungkinan yang terjadi bisa lebih dari 100%. Meski mungkin sumber daya manusia Indonesia agak kurang karena lebih dari 67% dari mereka adalah doll dan hanya 11% dari mereka yang callous, tapi sumber daya alam yang mereka miliki sangat besar dan bermanfaat dalam proyek ini.”

”Tunggu, jadi kita akan mengembangkan virus S-1 kembali?” sela seorang namja dengan wajah sedikit imut yang di depannya terdapat bendera nasional negara Thailand.

Se7en menggelengkan kepalanya. ”Seperti yang kita ketahui S-1 terbukti gagal,” bisiknya lirih sembari melirik Hankyung yang terlihat merenung. ”Dan meskipun kita mencari akar permasalahannya, sepertinya citra dari S-1 itu sendiri sudah buruk di mata masyarakat. Maka dari itu kita akan mengembangkan proyek baru, Nickhun-shi,” ujar Se7en.

Namja bernama Nickhun itu menatap Se7en dengan penuh selidik. ”Apa itu?”

Sang Presiden Amerika itu menyeringai. ”Pernah anda dengar tentang male pregnancy?”

.

.

Tok. Tok.

”Sebentar,” teriak seseorang yang berada di balik pintu mahagoni hitam tersebut. Ketika pintu terbuka, tampillah seorang namja dengan paras cantik yang memakai gaun cina berwarna biru tua yang panjanganya sedikit di bawah lutut.

Namja yang diketahui bernama lengkap Kim Heechul sekaligus merangkap sebagai sepupu dari Siwon itu membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang ada di depannya. Seorang namja dengan badan tegap dan sedikit berisi. Pipinya sedikit chubby, tapi ekspresinya sedikit sangar. ”Chullie,” ujarnya pelan.

Kangin?” Heechul tak percaya bahwa yang berada di depannya adalah seorang Kim Youngwoon atau yang biasa dipanggil dengan Kangin.

Siapa Kangin kalian ingin tahu? Dia adalah namjachingu seorang Kim Heechul di masa lalu. Ketika Heechul masih seorang yeojya dan belum bertemu dengan Hankyung. Ketika itu mereka berdua merasa bahwa hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. Namun, siapa yang akan menduga bahwa datang seorang Tan Hangeng atau Tan Hankyung yang membuat Heechul mempertanyakan apa yang dia rasakan kepada Kangin. Singkat cerita, seperti yang kita ketahui Heechul memilih Hankyung dan mereka hidup bersama.

Di malam sebelum hari pernikahan mereka, Heechul dan Hankyung melakukan hubungan intim dan sekali lagi takdir kembali mempermainkan mereka. Heechul yang menjadi namja tentu tidak bisa menikah dengan Hankyung, apalagi status Heechul yang saat itu masih belum jelas. Bagi para yeojya, tidak ada pembagian kelas seperti yang tercipta bagi para namja. Terdengar diskriminasi memang, tapi ini untuk menuntut agar para namja berusaha lebih keras dari keterpurukan.

”Boleh aku masuk?” tanya Kangin dengan lembut. Tatapan matanya tak pernah lepas dari sosok namja cantik yang ada di hadapannya. Dia tahu tentang keadaan Heechul saat itu dan dia sempat ingin membantu, tapi sekali lagi, dia dikalahkan oleh namja Cina itu.

Heechul mengangguk dengan ragu-ragu. Sebenarnya dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan namja yang ada di hadapannya. Hanya saja mengingat jarak yang harus ditempuh Kangin untuk bertemu dengannya, Heechul merasa sedikit kasihan. ”Bagaimana Italia?” tanya Heechul begitu Kangin melangkahkan kaki masuk ke dalam.

Sayangnya, bukan jawaban yang dia terima melainkan sepasang tangan kekar yang mendorong tubuhnya sedikit kasar ke pintu yang ada di belakangnya. Namja cantik itu bisa merasakan hembusan nafas dari Kangin yang berdiri tak jauh dari dirinya. Jarak kepala mereka begitu tipis hingga Heechul bisa mengamati bibir yang dia cintai dulu, sepasang mata yang dia kagumi dulu, dan juga tangan yang saat ini menyentuhnya yang membuatnya bergetar dulu.

”Chullie,” bisik Kangin perlahan di telinga Heechul membuat namja itu bergidik ngeri.

Tangan kanan Kangin membelai pipi Heechul dengan lembut seperti yang pernah dia lakukan dulu. Oh, betapa dia sangat merindukan namja cantik yang berada di hadapannya. Dia tidak peduli meskipun harus menjadi gay, demi Heechul, dia rela. ”Kang – urmmph.” Ucapannya disela oleh bibir Kangin yang telah bertemu dengan bibirnya.

Mula-mula hanya sekedar menempelkan, namun perlahan bibir itu menuntut untuk membuka bibir lembut yang ada di hadapannya. Kedua tangan Kangin berada pada pundak Heechul untuk menekan namja cantik itu. Lidah Kangin menuntu masuk, tapi Heechul masih menutup bibirnya dengan kuat tak peduli seberapapun besar godaan untuk membiarkan lidah itu masuk untuk mencicipi dirinya. Ini salah. Heechul tahu akan hal itu. Pikirannya mengatakan ini salah, tapi tubuhnya perlahan mulai merespon.

Karena tak mendapat izin untuk masuk, bibir Kangin kemudian bergeser ke samping menuju leher putih yang terekspos. Gigitannya menjadi liar ketika melihat bekas merah yang tercetak di leher tersebut. Tangannya meraba-raba tubuh ramping yang ada di depannya yang masih terbalutkan gaun Cina tersebut.

Bruk.

Seketika itu tubuh Heechul ambruk. Kepalanya terjatuh di pundak Kangin. Dengan tatapan yang sendu, Kangin melingkarkan tangannya pada pinggang Heechul seolah sedang memeluk namja cantik itu. ”Chullie, aku berjanji, jika kau bahagia maka aku akan bahagia,” bisiknya pelan. Dia melirik tangan kirinya yang mengenakan sejenis jam dan berujar pelan, ”Roma, abort.” Tubuh mereka berdua menghilang pada detik berikutnya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun selain sebuah kertas yang melayang perlahan sebelum terjatuh ke tanah. Sebuah kertas yang bertuliskan dua kata dengan tulisan kapital.

YG

.

.

”Cih, apa-apaan namja itu!” gerutu Jiyong yang sudah keluar dari ruang rapat. Dia meminta izin keluar selama kurang lebih 10 menit untuk menenangkan diri sejenak. Tentu saja Se7en, yang tahu bahwa Jiyong sedang berusaha untuk mengontrol emosinya, mengizinkan namja penguasa Nusantara itu untuk keluar dari ruangan dan menenangkan diri sejenak.

Tanpa dia sadari, sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. ”Eek!” serunya ketika mendapati sepasang lengan kekar itu berada di perutnya. ”Ahh~” Hal berikut yang dirasakan Jiyong adalah sesuatu yang basah dan hangat sedang menjilati leher putihnya dengan liar. Tak bisa menahan desahan yang terus mendesak untuk keluar, Jiyong menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Moan for me, Ji,” bisik sebuah suara rendah di samping telinga Jiyong. ”Call my name,” bisiknya sekali lagi sebelum menghembus daun telinga Jiyong.

”Urrm…” Jiyong menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk menahan desahan yang ingin keluar dari mulutnya. Lidah itu semakin lihai untuk menjilati tubuh bagian kanan Jiyong. Tangan yang melingkar di perutnya tadi pun perlahan bergerak turun menuju ke sebuah gundukan di tengah selangkangan Jiyong. ”Urngh, hah, Seungie~” desah Jiyong.

Call me TOP, Jiyong-ah,” ujar suara itu dengan lembut sembari memutar kepala Jiyong sehingga kedua pasang mata itu saling bertemu. Dalam sekejap bibir Jiyong telah ditempel oleh bibir namja bernama TOP itu. Lidah TOP dengan lihai membuka bibir Jiyong sehingga bisa masuk dan bertemu dengan sang pemilik rumah. Saling beradu cukup lama, namun tentu saja pertarungan tersebut dimenangkan oleh TOP.

Desahan-desahan keluar dari sela-sela ciuman mereka. Suara kecipak kulit saling bertukar terdengar bagai sebuah untaian irama indah di telinga kedua insan tersebut. Tubuh Jiyong yang lebih mungil terhempas di dinding dengan bibirnya yang masih menempel pada bibir TOP. ”TOP, jangan…hah…10 menit lagi aku harus kembali, hah…” tegur Jiyong setelah dia berhasil mengontrol nafasnya.

TOP menatap wajah Jiyong dengan intens sebelum tersenyum senang. ”Benarkah?” Jiyong menelan ludah sebelum mengangguk perlahan. Dia terlihat ragu apalagi ketika melihat seringaian yang terukir di wajah TOP. ”Kalau begitu kita langsung masuk ke intinya saja ya?”

”Ap –urnghh!” Ucapan Jiyong terhenti ketika bibir TOP langsung menguncinya. Tangan namja kekar itu dengan lihai membuka celana jeans yang sedang dikenakan Jiyong hingga sekarang milik Jiyong terpampang dengan indahnya.

TOP menjilat bibirnya sejenak melihat keadaan Jiyong sekarang. Mata setengah terpejam, bibir lumayan memerah, dan tentu saja kejantanan Jiyong yang mulai mengeluarkan precumnya. Dia memutar badan Jiyong hingga wakil dari Nusantara itu menghadap ke arah dinding. ”Karena kita tak punya banyak waktu, aku tak akan mempersiapkanmu, Jiyong-ah.”

Kedua mata Jiyong membesar mendengar pernyataan TOP tadi. Tanpa persiapan? Hell, itu akan sangat sakit. Terutama mengingat mereka sudah jarang melakukan hal ini. ”Tung – ahhH!!!!”

”Sshh, kau tidak mau mereka datang dan melihatmu dalam keadaan seperti ini bukan?” tegur TOP di telinga Jiyong. ”Yah, meskipun aku tidak terlalu peduli, toh mereka sudah tahu bahwa kau tak lebih dari seorang doll dari seorang Choi Seunghyun.”

Doll? Ya, seorang Kwon Jiyong adalah doll seorang Choi Seunghyun. Seharusnya, seorang doll tak lebih dari sekedar pemuas nafsu dari sang master. Jadi, apa yang membuat Jiyong berbeda? Tentu saja kapabilitas dari Jiyong itu sendiri. TOP tahu bahwa doll-nya itu memiliki suatu potensi sebagai seorang leader. Jadi apa yang lebih baik daripada memberikan kesempatan bagi doll-nya itu untuk berkembang? Bukankah hal ini juga akan menguntungkan dirinya? Dengan Jiyong menguasai suatu negara, TOP mendapat berkah lain tersendiri. Lagipula, jiwa Jiyong sebagai doll tak akan bisa lepas. Hanya seorang TOP yang bisa memuaskan seorang Kwon Jiyong.

Jiyong menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulutnya agar teriakannya tidak keluar. Matanya sudah sedikit mengeluarkan cairan bening yang perlahan mengalir di kedua pipinya. Rasanya sangat sakit, namun di satu sisi dia tidak bisa memungkiri perasaan antusiasme yang dialaminya. Satu tangan TOP mengocok miliknya dengan tempo yang sama dengan gerakan in dan out dari sang master sementara satu tangan master-nya memegang pantat kenyal Jiyong untuk membantu gerakannya.

”Ah…seperti biasa, kau sangat ketat, Jiyong-ah,” bisik TOP dengan nada seduktif di telinga Jiyong. Siapapun bisa melihat bahwa tubuh Jiyong bergetar. Perasaan takut akan ketahuan oleh yang lain membuat antusiasme Jiyong semakin meningkat.

”Ahh!” Hentakan berikutnya dari TOP mendatangkan desahan nikmat dari Jiyong yang terselip keluar hingga bisa ditangkap oleh gendang telinga TOP. Seberapa keras Jiyong berusaha untuk menahan dirinya agar tidak mengeluarkan desahan yang bisa meningkatkan libido dari master-nya, itu bukanlah hal yang mudah. Mengingat dirinya dimanjakan dari dua arah sekaligus.

Tak berapa lama, dia merasa akan keluar, namun TOP yang menyadari akan hal itu menutup jalan keluarnya. Karena sudah tak tahan, akhirnya Jiyong juga membantu TOP dengan memaju-mundurkan pantatnya ke arah kejantanan TOP yang berdiri tegak. ”Urgh, faster, bitch!” ucap TOP.

Plak.

Dia menampar pantat kanan Jiyong dengan tangannya menampilkan bekas merah tangannya pada pantat putih dari namja manis itu. ”…re…more…ahhh,” desah Jiyong. Mengikuti permintaan dari doll-nya, TOP kembali menampar kedua belahan putih itu sehingga dinding yang mendekapnya semakin menyempit dan memperbesar gesekan di antaranya.

Akhirnya, Jiyong bisa merasakan milik TOP yang mulai membesar dan terasa semakin licin. Hingga beberapa saat kemudian, keduanya mencapai orgasme mereka. ”Hah, hah,” keluar dari mulut keduanya untuk mengatur nafas mereka. Tangan kiri TOP memutar kepala namja yang ada di hadapannya dan melumat bibir merah itu sekali lagi sembari mengeluarkan miliknya perlahan. Bisa dilihat cairan putih perlahan merembes keluar dari dinding Jiyong yang tentunya terlihat menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Dia mengjentikkan jarinya dan kemudian celana Jiyong kembali terpasang sempurna sekaligus dengan celananya.

”Aku tak mau tanggung jawab kalau mereka lihat,” gerutu Jiyong yang memajukan bibirnya hingga membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Kalau tidak mengingat mereka sedang mengadakan rapat, TOP pasti akan kembali menyetubuhi namja itu di sini.

”Jangan tunjukkan wajah seperti itu atau aku akan mengatakan pada Se7en bahwa Presiden Indonesia dan zenith tidak bisa mengikuti rapat,” bisik TOP dengan nada seduktif membuat kedua pipi Jiyong bersemu merah.

Zenith? Jiyong membesarkan matanya dan kemudian menatap horor ke arah TOP. ”Zenith? TOP, kau tidak?”

”Oh, memangnya kau pikir kenapa aku bisa berada di sini, chagi~?”

Masih tak percaya dengan jawaban yang diterimanya, Jiyong bertanya lagi, ”Kapan?”

TOP mengambil satu langkah mundur hingga terdapat sedikit jarak di antara mereka. Berada di dekat namja itu dan menghirup aromanya akan membuat TOP kehilangan kendali lagi. ”Hmm, coba kuingat,” katanya sembari memasang pose berpikir. ”Sepertinya sejak dia mendapat pesan?”

”Jadi artinya kau yang akan menggantikannya?” tanya Jiyong sekali lagi.

Anggukan menjadi jawaban dari namja yang berada di hadapannya. ”Hmm, lagipula aku bisa sekalian mengawasi doll-ku yang kelihatan bosan dan kesal daritadi bukan?” TOP mengedipkan salah satu matanya ke arah Jiyong membuat namja itu kembali tersipu malu.

”Aish, lalu kameranya?” tanya Jiyong ketika teringat akan apa yang mereka lakukan tadi. Cengiran TOP mendatangkan helaan nafas lega dari Jiyong. ”Memangnya clear yang kupunya tidak ada gunanya?”

”Syukurlah,” helanya.

”Baiklah, sebelum kita masuk dan berpura-pura tidak mengenal.” TOP mengunci bibir Jiyong sekali lagi sebelum perlahan sosok namja tampan itu berubah. Rambutnya menjadi hitam, kulitnya menjadi lebih putih, dan sepasang lesung pipi terbentuk ketika dia tersenyum ke arah Jiyong setelah melepas ciuman mereka. ”Ayo,” ajaknya.

Jiyong mengangguk. ”Of course, Siwon-shi.”

.

.

Sudah hampir 10 menit mereka berdua saling bertatapan, namun tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Namja kecil yang berada di antara mereka berdua hanya bisa menelan ludah melihat suasana tegang di antara mereka. Satu-satunya yeojya di antara mereka akhirnya tersenyum lembut setelah meneguk teh yang diseduhkan Changmin tadi. ”Tehmu enak,” ujarnya lembut.

Changmin menundukkan kepalanya sedikit. ”Ne, gomawo,” jawabnya.

”Ummaku pernah mengatakan padaku bahwa kau bisa menilai seseorang dari cara dia menyeduhkan teh,” mulai yeojya itu dengan perlahan. Cangkir teh yang berada di tangannya tadi sekarang sudah berada di atas meja. Kedua tangannya sendiri menyilang dan berada di atas pangkuannya. ”Dan aku tahu Changmin, bahwa kau adalah namja yang baik.” Sekali lagi, Changmin hanya mengangguk membiarkan yeojya itu meneruskan kalimatnya. ”Hanya sayangnya, kau berada pada tempat yang tidak tepat.”

Yeojya itu menatap Changmin dengan ekspresi sendu. ”Aku tahu apa yang kau lakukan terhadap Dong Wook di belakangku. Sudah lama aku bahkan tak memanggil dia dengan panggilan sayang kami dan itu semua sejak kau datang.”

Gulp.

Namja itu menelan ludah. Tubuhnya terasa kaku dan tegang seketika. Sebuah perasaan bersalah menggerogoti dirinya. ”Mian –”

”Jangan minta maaf. Aku tahu bahwa cepat atau lambat Dong Wook akan mencari pengganti diriku,” urainya pelan. ”Hidupku tak akan lama lagi, Changmin dan Dong Wook tahu akan hal itu. Racun atau apapun itu sudah mulai menyebar ke semua bagian diriku. Bahkan pandanganku sekarang sudah mulai mengabur. Kalau saja tidak mengingat zaman sudah maju, mungkin sekarang aku sudah buta.” Senyum yang diberikan yeojya itu terlihat begitu menyedihkan di mata Changmin. Senyuman itu seolah menunjukkan bahwa yeojya itu baik-baik saja padahal kenyataannya tidak. Changmin tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh yeojya itu.

”Apa yang sebenarnya ingin anda katakan kepada saya, Hanbyul-shi?”

”Panggil saja aku dengan noona, Changmin, boleh kupanggil kau Minnie?” tanya yeojya itu dengan suara halusnya. Changmin kembali tertegun sebelum kemudian mengangguk. Dia sempat merasa bersalah karena pernah menghina yeojya itu. Karena dia merasa yeojya itu bodoh, mengizinkan suaminya untuk membeli doll seperti dirinya. ”Minnie,” panggilnya pelan. ”Apakah kau tahu arti dari tulisan yang berada di belakang lehermu itu?”

Mendengar pernyataan yeojya itu, tangan kanan Changmin sontak menyentuh tulisan ’S-00’ yang berada di belakang lehernya. ”Darimana?”

”Aku tahu semuanya tentang dirimu, Changmin. Aku tahu kau dibeli oleh Dong Wook di Korea  7 tahun lalu dan saat itu kau masih berusia kurang lebih 16 tahun dan Kyuhyun,” urainya sembari mengangguk ke arah Kyuhyun. ”Berusia 8 tahun. Aku juga tahu bahwa kau membebaskan ’S-01’ atau yang memiliki nama asli Kim Kibum agar dia tidak terperangkap oleh Dong Wook. Untuk hal ini aku tak bisa mengatakan bahwa kau pintar atau bodoh. Kadang orang yang baik adalah orang yang bodoh di saat yang bersamaan.”

Sebenarnya Changmin tahu bahwa dia sedang disindir, tapi entah kenapa dia tidak ingin membalas perkataan yeojya itu. Dia merasa bahwa apa yang dikatakan yeojya itu benar. Kebaikannya mendatangkan musibah bagi dirinya sendiri. Ingatan akan hukuman yang diberikan Se7en kembali terlintas di otaknya. Begitu mengerikan. Namun, dia tak memiliki rasa penyesalan sama sekali. Namja itu –Kibum– masih memiliki hak untuk kabur. 8 bulan yang dilalui mereka bersama cukup membuat Changmin mengetahui bahwa Kibum adalah namja yang baik. Jadi ketika namja itu menawarkan untuk kabur bersama, apa yang menahanmu, Max – Shim – Changmin?

”Apa kau tahu siapa itu Kibum? Apa karena kau melihat dia memiliki tanda yang sama dengan dirimu, meskipun dia memiliki angka 1, kau merasa dia adalah saudaramu?” Tak ada jawaban dari Changmin membuat Hanbyul yakin akan jawabannya. Benar, itulah yang dirasakan Changmin. Ketika Kyuhyun menemukan namja manis itu dalam perjalanan pulang mereka ke rumah, Changmin merasakan sesuatu yang familiar. Seperti namja manis itu adalah seseorang yang dia kenal di masa lalunya. ”Tahukah kau siapa sebenarnya dirimu? Dan apa arti dari tulisan ’S-00’ di belakangmu itu?”

Sembari menggigit bibir bawahnya karena menahan rasa gugup, dia menggelengkan kepalanya perlahan. Dia tahu bahwa cepat atau lambat dia akan mengetahui sesuatu akan dirinya, namun dia tak tahu apakah dia ingin mengetahuinya sekarang atau tidak. ”Apakah kau mau tahu artinya?”

”Hyung,” panggil Kyuhyun dengan nada lirih. Dia memutuskan untuk menenangkan hyung-nya dengan menggenggam tangan Changmin dengan tangannya yang mungil. Namja yang lebih tua itu menggenggam erat tangan mungil Kyuhyun seolah tak ingin melepaskannya. Tanpa melihat ke arah Kyuhyun dan siapapun, dia mengangguk perlahan, mengizinkan yeojya itu untuk melanjutkannya.

”Apakah kau tahu tentang Savior?” Changmin mengangguk dengan perlahan. Sekarang dia sudah mengeluarkan keberaniannya untuk menatap ke arah Hanbyul. ”Sebuah proyek yang dikatakan gagal oleh Rusia karena ternyata Savior tak berhasil menjalankan tugasnya. Apa kau tahu apa yang harus dikerjakan oleh Savior?” Changmin menggelengkan kepalanya. ”Male pregnancy,” ujar yeojya itu dengan lembut.

”Hah?” Terlihat bahwa namja itu sedikit bingung dengan pernyataan itu.

”Rusia tahu bahwa sejak virus itu beredar, tidak memungkinkan bagi yeojya untuk melahirkan dan oleh sebab itu, Rusia menawarkan sebuah ide gila. Membuat seorang namja bisa melahirkan demi menjaga kelangsungan hidup manusia. Mulanya hal ini ditentang keras, tentu saja, mengingat sebagian besar dari callous pasti tidak akan mungkin mau merendahkan dirinya hanya untuk melahirkan seorang anak.” Yeojya itu terhenti sejenak untuk mengambil nafas. ”Tapi Rusia tidak mau berhenti. Dia meyakinkan salah satu dari zenith yang tersisa untuk mengerjakan proyek ini. Tak mengetahui keadaan dunia luar karena selalu terkurung demi keamanannya, zenith itu menyetujui proyek itu.”

Zenith? Mendengar kata itu membuat Changmin teringat akan kejadian masa lalu, masa kelam ketika para zenith dibunuh hingga akhirnya pemerintah turun tangan untuk melindungi mereka yang tersisa. Sejauh yang Changmin ketahui, hanya dua saja yang tersisa dan yang Changmin ketahui dua zenith itu sudah menjadi sepasang kekasih. Lantas? ”Jangan berpikir terlalu keras, Minnie. Dengarkan saja diriku terlebih dahulu.” Suara lembut Hanbyul membuyarkan semua pemikiran Changmin. Dia mengangguk perlahan dan membiarkan yeojya itu melanjutkan kalimatnya.

”Intinya, zenith itu berhasil menciptakan Savior dan sebelum kau menangkap arti yang salah, Savior bukanlah robot atau kloningan. Dia adalah namja yang normal layaknya manusia biasa. Hanya saja dia diberikan hormon estrogen dan progesteron atau hormon wanita lainnya dalam jumlah yang cukup banyak dicampur dengan beberapa zat kimia. Sebenarnya proyek itu belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya. Tapi dia bisa dikatakan cukup sempurna karena sampai sekarang Savior belum mati meskipun terjadi persilangan hormon.”

Hening kembali melanda mereka. ”Dan apakah kau tahu mengenai cerita seorang professor yang menjadikan dirinya sebagai objek percobaannya sendiri?” Changmin mengangguk dengan ragu-ragu. Sepertinya dia tahu apa yang akan diucapkan yeojya itu. ”Zenith itu menguji dirinya sendiri, memasukkan campuran kimia itu ke dalam tubuhnya. Tentunya hal itu dilakukan setelah Rusia merebut Savior yang sudah dianggap keluarga olehnya. Bagi zenith, savior bukan hanya sekedar proyek namun lebih dari itu.”

”Apa maksudnya?”

Yeojya itu kembali melanjutkan seolah pertanyaan Changmin hanya sekedar angin lalu. ”Virus yang dikembangkan zenith dicuri oleh Rusia dan mereka mengujinya sekali lagi kepada salah satu dari doll yang ada. Ketika master doll itu datang, semua sudah terlambat, doll itu mati karena tidak bisa menahan gejolak di dalam tubuhnya. Ternyata virus itu masih belum berhasil sepenuhnya. Hanya beberapa namja yang bisa disuntik oleh virus itu. Dan sejauh yang aku tahu ada 3 namja yang berhasil.”

Gulp.

Changmin menelan ludah untuk menunggu agar yeojya itu melanjutkan kalimatnya. ”Kim Jaejoong, seorang ordinary yang diatur secara licik oleh Rusia agar menjadi doll. Hal ini dikarenakan Rusia memiliki dendam terhadap suami Jaejoong, yaitu Jung Yunho yang menolak untuk bekerja sama memberikan doll sebagai percobaan. Alhasil, Rusia menculik Jaejoong dan menjadikan namja itu sebagai doll. Yang kedua adalah Kim Kibum, namja yang kau selamatkan tempo hari. Dong Wook tahu mengenai identitas namja itu sehingga dia merasa kesal ketika kau melepaskannya. Padahal jika dia memiliki Kibum, maka Rusia tidak akan bisa menentangnya, tapi kau menggagalkan rencananya.”

Deg.

Jantung Changmin berdetak kencang ketika mendengar hal tersebut. Tangannya yang senggang menyentuh dadanya yang terasa sesak. Sebuah perasaan bersalah dan sedih menjalar di setiap bagian tubuhnya. Dia merasa bersalah telah menggagalkan rencana Se7en dan sekaligus sedih ketika mendengar kata memiliki yang dilontarkan Hanbyul tadi.

”Lalu yang ketiga?” Pertanyaan polos ini keluar dari mulut Kyuhyun yang sedari tadi hanya bisa terdiam.

Gyut.

Genggaman Changmin pada tangannya semakin erat dan Kyuhyun tahu bahwa hyung-nya itu sedang memikirkan sesuatu. Yeojya itu menunduk dengan tatapan sedih sebelum mengambil nafas panjang dan menatap kedua namja di ruangan itu. ”Dan yang terakhir, kau, Max atau Shim Changmin, sepupuku yang seharusnya meninggal karena dibunuh oleh para callous.”

Seketika itu juga kedua mata Changmin membesar karena terkejut. Kepalanya mendadak terasa begitu pusing hingga dia melepaskan tangan Kyuhyun dan memegangi kepalanya yang berdenyut. Dia mengerang kesakitan. Ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Sebuah kepingan masa lalu.  Memori itu melintas begitu saja di otaknya. Hanya sebentar sebelum kegelapan menyelimutinya dan teriakan khawatir Kyuhyun mendengung di telinganya.

.

.

”Kumohon, selamatkan dia!”

”Tidak bisa, Hanbyul-shi. Kau sudah tahu dia sudah kehilangan banyak darah, tak ada yang bisa kami lakukan selain merelakannya.”

”Tidak! Changmin satu-satunya keluargaku yang tersisa, kumohon selamatkan dia!”

”Biar aku yang melakukannya.”

”Kau?”

”Tapi setelah itu kau harus menyerahkannya kepadaku, bagaimana? Tapi, tenang saja, kau masih bisa berhubungan dengan dirinya, hanya dia tidak akan tahu kau adalah keluarganya.”

”Kau janji?”

”Pernahkah aku berbohong padamu? Hanbyul-shi?”

”Baiklah, aku percaya padamu, Soo Man-shi.

.

.

Jaejoong menatap foto pernikahannya dengan sebuah tatapan lembut. Terpancar ekspresi senang karena akhirnya dia bisa kembali bersama dengan suaminya itu. Meskipun sekarang suaminya masih terbaring di atas kasur karena kelelahan. Jaejoong sebenarnya tahu bahwa ketika menjadi U-know, banyak energi Yunho yang terbuang. Makanya ketika tadi U-know kembali menjadi Yunho, suaminya jatuh pingsan dan segera dibopong Taeyang ke kamar mereka.

”Hyung, bagaimana keadaannya?” Suara Seungri kemudian membuyarkan pikiran Jaejoong. Dengan hati-hati, dia meletakkan kembali pigura foto itu ke atas meja dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kasurnya. Rasanya masih tidak percaya bahwa namja yang terbaring di atas kasur itu adalah suaminya, Jung Yunho.

Tangan lembut Jaejoong membelai pipi Yunho, mengamati setiap lekuk dan garis wajah suaminya. Dia tidak memperhatikan ketika Taeyang dan Seungri berjalan sedikit menjauh darinya untuk memberikannya privasi. Kedua namja itu saling melirik satu sama lain dengan tatapan teduh. Seungri menyengir lebar sebelum mencium Taeyang sekilas. Ketika Taeyang hendak bereaksi, Seungri telah melepaskan ciuman mereka dan berjalan ke arah Yunho dan Jaejoong.

”Tenang saja, kata hyung, Yunho-hyung hanya kelelahan kok!” ujar Seungri dengan seru. ”Kalau Jae-hyung menciumnya, siapa tahu nanti Yunho-hyung akan terbangun! Kau tahu? Seperti dalam dongeng lho.”

Dug.

”Appo, sakit,” keluh Seungri yang kepalanya dipukul oleh Yunho yang baru saja terbangun.

”Maknae sialan, jadi maksudmu aku ini putrinya?” gerutu Yunho yang perlahan mendudukkan dirinya di atas ranjang. Seungri hanya menjulurkan lidahnya dan berlari sebelum bisa ditahan oleh Yunho. ”Cih, dasar!” desisnya.

”Yunnie.” Suara lembut Jaejoong menyadarkan Yunho. Dia memutar kepalanya dan bertatapan dengan pemilik doe eyes itu. Ekspresi keduanya begitu lembut seolah kau bisa melihat cinta yang mereka rasakan.

”Boo,” panggil Yunho. Dengan tangan kanannya, dia menarik lengan Jaejoong hingga badan ringan Jaejoong menimpa dirinya. ”Aku merindukanmu,” bisiknya lembut sebelum melumat bibir merah milik namja cantik yang ada di hadapannya. ”Urmm, Jae~”

”Yunnie~ ahh.” Bibir Yunho menempel cukup lama di leher namja cantik itu, menikmati setiap detik yang bisa dia lewati dengan orang yang dicintainya itu. ”Yun.”

”Hmm?” gumam Yunho yang mulai menjilati kulit putih itu.

Suara dehaman akhirnya menyadarkan mereka bahwa mereka bukanlah satu-satunya yang berada di kamar itu. Jaejoong segera mengangkat tubuhnya dan duduk di kursi yang terletak di samping Yunho. Sementara Yunho menggeram kesal karena kegiatannya diganggu. ”Silakan kalian lanjutkan. Anggap saja kami tak ada di sini,” goda Taeyang.

”Hentikan Young Bae, itu sama sekali tidak lucu,” gerutu Yunho. ”Lagipula kenapa kalian berdua berada di sini?”

Taeyang mengangkat kedua alisnya. ”Lupa bahwa kami baru saja menyelamatkanmu dari SHINEE?”

Yunho mengacak-acak rambutnya karena kesal. ”Cih, bagaimana aku bisa melupakan hal itu?”

”Err, mungkin karena hyung terlalu sibuk berciuman dengan Jaejoong-hyung?” jawab Seungri dengan nada yang dibuat polos dan tampang tak berdosa.

Namja berwajah kecil itu mendesis kesal ke arah sang maknae. ”Jadi sekarang kita harus bagaimana? Kurasa Korea bukan tempat yang aman lagi.”

”Ya, dan untuk itu aku ditugaskan untuk menjemput kalian,” jelas Taeyang.

”Ke mana?” tanya Yunho dengan malas.

Jaejoong tidak mengeluarkan suara apapun karena sebenarnya dia cukup bingung dengan kedua namja yang menyelamatkan dirinya tadi. Bukannya tak tahu berterima kasih, tapi sebenarnya dia tidak tahu siapa mereka dan kenapa Yunho bisa mengenal mereka.

”Kami bertemu waktu itu, boo.” Seolah bisa membaca pikiran suaminya, Yunho menjawab pertanyaan yang ada di dalam pikiran namja cantik itu. ”Mereka membantu U-know untuk menyelamatkanmu dari tempat itu.” Jaejoong mengangguk tanda bahwa dia mengerti dan mengijinkan suaminya untuk melanjutkan pembicaraannya dengan kedua namja itu. ”Jadi, kau akan membawa kami ke mana?”

Taeyang dan Seungri menyengir lebar mendengar pertanyaan itu. ”Ke tempat semuanya dimulai, di mana lagi kalau bukan tempat yang dikuasai Jiyong sekarang?”

”In…donesia?” Taeyang hanya mengedip ke arah Yunho.

.

.

”Ini, kau gunakan saja dia.”

”Siapa dia?”

”Sepupu dari istri Presiden Amerika itu. Hanya tinggal hitungan waktu namja ini akan meninggal. Jadi lebih baik sebelum dia meninggal, dia berguna bagi kita bukan?”

”Kau.”

”Kenapa? Kau kesal? Marah? Kenapa tidak kau marah pada dirimu yang tidak lebih dari seonggok daging yang dikaruniai bakat tak berguna?”

”Cih, aku bersumpah Soo Man, satu saat kau akan mendapatkan ganjarannya.”

”Aku tunggu sumpahmu menjadi kenyataan, walau kutahu itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan bisa mengalahkanku.”

.

.

Donghae terlihat sedang bersandar di dinding yang terletak di luar ruang rapat. Sepertinya sekarang adalah waktu istirahat. Terlihat dari beberapa wakil negara sedang mondar-mandir di luar. Dia mengeluarkan sejenis kartu transparan dan kemudian menekan sesuatu di atas kartu transparan itu. Tampaknya itu adalah sejenis ponsel yang digunakan oleh mereka. Setelah dering yang ketiga, Donghae segera menekan sesuatu yang menampilkan cahaya merah dan panggilan terhenti. Dia kembali menekan pada tempat yang sama dan meletakkan kartu transparan itu di telinga kirinya. ”Master?”

Hi my doll, miss me?” tanya Donghae dengan seulas senyuman di wajahnya. ”Aku tak bisa mendengarmu,” desisnya dengan nada yang lebih serius.

”Ne, I…I miss you master,” jawab Eunhyuk dengan gugup. Dia merasa malu karena di ruangan itu terdapat Daesung yang sedang duduk menunggu kabar dari yang lain. Dia tahu apa yang akan dilakukan oleh sang master, tapi dia tidak berani melakukannya di depan Daesung.

”Ada siapa di sana?” Seolah bisa membaca pikirannya, Donghae langsung menanyakan keadan Eunhyuk.

Dengan ragu-ragu, doll itu menjawab, ”Dae..Daesung, master.”

Donghae mengangguk, ”The Broken Angel, eh?” Tak mengerti apa yang dikatakan oleh sang master, Eunhyuk hanya terdiam. Mendapat respon seperti itu, Donghae hanya terkekeh. ”Kalau begitu sekarang kau ke kamar, doll.”

Eunhyuk mengangguk. Daesung sempat menanyakan ke mana dia akan pergi namun melihat ekspresi merahnya sepertinya namja itu mengerti apa yang akan dilakukannya. Dia bahkan bertanya, ”Apa perlu aku menyiapkan sesuatu?” Eunhyuk merasa malu dengan pertanyaan itu dan segera menuju ke kamarnya.

”Sudah di kamar?”

”Ne…ne, master,” jawab Eunhyuk dengan gugup. Mendengar suara Donghae saja sudah bisa membuat dirinya bergetar karena antusias. Dia duduk di ujung ranjang dan mencoba menghirup aroma Donghae yang masih tersisa di ruangan itu. Dia bahkan tidak mendengar ketika master-nya memintanya untuk mengerjakan sesuatu. ”Eh? Mian, aku –”

”Buka bajumu,” sela Donghae dengan cepat, sedikit merasa kesal karena tidak didengar oleh doll-nya. ”Setelah itu pastikan dirimu terbaring di atas ranjang kita tanpa memakai sehelai benangpun. Gunakan headset chagi~ karena aku ingin mendengarmu mendesah karena suaraku di telingamu.”

Tanpa basa-basi, Eunhyuk segera melepas semua atribut yang dikenakannya hingga dia tidak memakai sehelai benang pun. Tangannya kemudian meraih sejenis headset tanpa kabel dan dipasangkannya di telinga kanannya. Dia menunggu instruksi berikutnya dari sang master. ”Bagus, aku mau kau meraba setiap bagian tubuhmu dan membayangkan aku yang melakukannya.”

Oh, Eunhyuk bisa membayangkannya. Ketika tangannya menyentuh setiap bagian dari tubuhnya yang polos, dia membayangkan tangan itu sebagai tangan master-nya yang selalu lembut dan menggunakan setiap waktu yang ada untuk menggodanya. ”Bayangkan tangan yang sedang memilin kedua nipple-mu adalah tanganku. Mendesahlah untukku.”

”Ohh…ahhH~ master…” Desahan yang dikeluarkan Eunhyuk membangkitkan sesuatu yang tertidur di tengah selangkangan Donghae. ”Ohh..~” Tangan Eunhyuk sekarang berada di kedua nipple-nya dan dia memilinnya seperti yang biasa Donghae lakukan pada dirinya.

”Sekarang tangan kananku sedang bergerak turun sementara lidahku mulai menjilati nipple-mu yang satu.” Eunhyuk melakukan persis seperti yang diperintahkan kepadanya. Tangan kiri Eunhyuk bergerak turun, meraba perutnya yang rata seperti yang dilakukan Donghae. Nipple kirinya kemudian terasa menegang hanya karena membayangkan Donghae sedang menjilatinya seperti seorang bayi yang ingin meminta ASI dari ibunya.

Donghae sendiri juga merasa sedikit sesak, tapi sebagai seme, tentunya ketahanan dirinya lebih kuat dalam hal menahan orgasmenya. ”Lalu sekarang tanganku bergerak menuju bagian paling intimmu yang mulai mengeluarkan cairan precum, eits, tapi aku tidak menyentuh milikmu, melainkan hanya bermain pada twinsball yang ada di sampingnya.”

Perdana Menteri Korea itu terkekeh mendengar erangan kecewa dari namja manis yang ada di seberang telepon. ”What a slutty doll, eh? Bisa menegang hanya karena sentuhanku,” goda Donghae yang semakin membuat milik Eunhyuk terasa tegang. ”Kau sudah mau orgasme, doll?”

Ahh..yesh..master…please,” pinta Eunhyuk dengan nada memelas.

”Kalau kau keluar sekarang, aku tak akan menyentuhmu selama 1 minggu, doll.” Donghae terdiam menunggu bunyi  ’purr’ karena kecewa tak bisa keluar saat itu juga. ”Aku mau kau memasang cock ring pada milikmu. Jangan lupa vibrator yang disetel dengan maksimum pada dindingmu. Kalau kau bisa bertahan sampai aku pulang, aku akan memberimu hadiah. Dan jangan lupa kirimkan fotomu agar aku percaya bahwa kau benar-benar melakukannya.” Tak menunggu jawaban dari doll-nya, Donghae langsung menutup pembicaraan mereka. Lagipula, Siwon sedang menghampirinya.

”Jadi?” tanya Donghae pada Siwon yang sudah berada di depannya. Namja pemilik lesung pipi itu menampilkan ekspresi bingung akan pertanyaan Donghae. ”Jangan berpura-pura bodoh. Jadi di mana dia sekarang, TOP?”

Siwon atau TOP yang sedang menyamar hanya menyengir lebar. ”Pergi menyelamatkan doll-nya, mungkin?”

Donghae hanya berdecik kesal. ”Dasar, suka seenaknya. Terkadang aku berpikir apa dia sebenarnya adalah callous ya?”

Callous yang juga memiliki kekuatan zenith? Sepertinya menarik,” ujar TOP dengan nada canda.

Drrt. Drrt.

”Sepertinya ponselmu berbunyi, master~” goda TOP sebelum berjalan meninggalkan Donghae karena tidak mau melihat apapun yang akan dibaca oleh Perdana Menteri Korea tersebut.

Sebuah senyuman lebar terpasang di wajahnya ketika melihat foto yang dia terima. Foto Eunhyuk yang sedang terbaring di atas ranjang. Hole Eunhyuk yang terisi oleh vibrator dan kejantannya yang dipasang cock ring terlihat dalam mode close up. Kepala Eunhyuk sedikit terangkat sehingga Donghae bisa melihat ekspresi Eunhyuk yang dipenuhi nafsu. Senyumnya semakin melebar ketika melihat judul dari foto yang dia terima: Your Slutty Doll is Waiting.

.

.

”Anda tahu apa yang sedang anda lakukan sekarang, Hanbyul-shi?”

”Ne, seperti yang sudah saya katakan, selama Changmin bisa terselamatkan, saya tidak masalah.”

”Anda tahu bahwa kemungkinan dia akan hidup setelah aku menyelamatkannya juga akan kecil?”

”Maksudnya?”

”Hah. Sudah kuduga, namja brengsek itu belum menjelaskan apa-apa. Setelah aku menyelamatkannya, aku akan menjadikan dia sebagai objek percobaanku dan aku juga tidak tahu apa ini akan berhasil. 7 dari 10 tikus jantan yang menjadi objek percobaan ini mati sementara yang 3 juga sedang sekarat. Apa anda masih akan melanjutkannya?”

”Tidak apa-apa. Setidaknya dia bisa meninggal karena bisa menolong seseorang dan bukan karena dibunuh dengan kejam oleh para callous.”

.

.

”TOP?” tanya Sungmin dengan ekspresi terkejut. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh namja yang mempunyai status sebagai rapper terkenal itu di sana. ”Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

TOP tidak menjawab. Sebaliknya dia hanya menatap dingin tanpa ekspresi ke arah Sungmin. ”Kalau kau pukul dia lebih dari ini, dia akan terluka. Lebih baik aku bawa dia kembali dulu ke ruang kesehatan dan baru kau siksa dia lagi nanti. Bukankah lebih baik menyiksa sesuatu yang baru daripada yang sudah hampir hancur?”

Meski merasa kesal karena kegiatannya diganggu, Sungmin harus mengakui bahwa apa yang dikatakan TOP benar. Jika Kibum terluka lebih dari ini, Soo Man bisa dipastikan akan marah besar karena namja aegyo itu telah membuat Kibum tak berdaya. Lebih baik dia menuruti TOP untuk membiarkan namja Snow White itu beristirahat.

Dia akhirnya mengangguk. ”Arasso, kau urus dia. 1 jam lagi aku akan kembali. Lagipula terlalu lama bersamanya bisa membuatku merasa sesak.”

Blam.

Sungmin menutup pintu kayu dengan kasar. Ketika hanya dua namja itu yang tersisa di ruangan itu, TOP memutuskan untuk membelai pipi Kibum yang sedikit banyak sudah mulai memerah.

”Urm,” erang Kibum karena tangan TOP menyentuh tepat pada bekas luka tadi. Namun sentuhan tangan TOP entah kenapa terasa familiar dan hangat di hati Kibum.

Sebuah senyuman tipis terukir di wajah TOP. Dengan hati-hati dia melepaskan ikatan tangan dan kaki Kibum hingga namja manis itu terjatuh ke dalam dekapannya. Kibum dapat melihat raut wajah TOP dari dekat karena sekarang dia sedang dibopong TOP dalam bridal-style. Dari samping, dia bisa melihat bagaimana garis-garis wajah TOP, hidungnya, bibirnya, dan sepasang mata yang sesekali mengawasi dirinya.

Kibum tahu bahwa TOP adalah orang yang beda, namun sentuhannya, entah kenapa terasa begitu familiar. Katakan dia gila, katakan dia aneh, tapi dia yakin dia pernah merasakan tangan itu. Hanya saja pertanyaannya. Siapa? Dan kapan?

TOP membawa Kibum pada satu kamar kosong yang sekelilingnya dihiasi dengan warna putih. Namja tampan itu membaringkan sang Snow White di atas ranjang dengan hati-hati. Ketika namja manis itu sudah terbaring sepenuhnya di atas ranjang, TOP merapikan kening Kibum dan membelainya dengan lembut.

Namja tampan itu hendak berbalik dan meninggalkan Kibum agar namja manis itu pulih, namun tangan ramping itu menghentikannya. TOP memutar tubuhnya dan mendapati Kibum yang sedang menunduk sembari menggigit bibirnya. Namja manis itu terlihat sedikit ragu dan sedang berpikir.

Baru hendak mengucapkan satu kata, bibirnya telah dikunci oleh bibir milik sang rapper. Tubuh Kibum yang mungil kembali terbaring di atas ranjang dengan tubuh TOP menimpanya. Kedua kaki TOP berada di antara kaki Kibum untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, kaki itu juga berfungsi untuk menopang tubuh TOP yang lebih besar dari Kibum. TOP menggigit bibir bawah namja manis itu agar terbuka sehingga dia bisa memasukkan lidahnya untuk menelusuri setiap inci dari mulut hangat milik Kibum.

Tangannya yang berada di pundak Kibum tadi sekarang perlahan menyusup ke dalam balik baju Kibum. Lagipula baju yang dikenakan namja manis itu juga sudah cukup sobek sehingga lebih banyak menampilkan kulit mulus Snow White daripada menyembunyikannya. ”Urnghh,” desah Kibum di sela ciumannya ketika tangan TOP memilin kedua tonjolan di dada Kibum dengan gemas.

Gerakan TOP begitu cepat. Entah bagaimana sekarang tubuh Kibum sudah polos sepenuhnya dan dia sendiri tidak bisa menghentikan namja yang sedang menghisap lehernya seperti seorang vampir itu. Dia hanya bisa mendesah yang sebenarnya malah meningkatkan libido dari namja yang sedang menimpanya.

Slurp. Slurp.

TOP menjilati tonjolan di dada Kibum seperti seorang anak bayi yang mengulum nipple ibunya untuk mendapat ASI. Cukup lama sampai Kibum bisa merasa seperti ada yang keluar dari nipple-nya karena TOP terus menghisapnya. ”Hmm, what a slut, eh? Bisa setegang ini karena sentuhan oleh namja lain?”

Mendengar pernyataan itu Kibum tersentak dari kenikmatan yang dia rasakan. Benar, kenapa dengan mudah dia bisa terangsang seperti itu? Bahkan dia belum pernah bertemu dengan namja yang sedang menatapnya dengan intens ini. Tidak, dia bukan pelacur. Tapi kenapa?

Tatapan Kibum terlihat sedih dan sendu. Dia merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Ketika TOP hendak menciumnya kembali, Kibum segera mendorong namja tampan itu. Tentu saja hal itu tidak artinya mengingat Kibum lebih kecil dari TOP. Dia hanya bisa pasrah ketika satu tangan TOP memegang dua pergelangan tangannya dan meletakannya di atas kepalanya. Ciuman TOP mulai menuntut dan Kibum kembali terbuai dengan kemahiran lidah yang beradu dengannya.

Satu tangan TOP yang senggang segera memijat-mijat kejantanan Kibum yang mulai mengeluarkan precum. Gerakan tangan TOP sangat pelan membuat Kibum merasa sesak. Sentuhan ini, bibir ini, hanya ada satu orang yang bisa membuatnya merasakan hal ini. ”Siwon?” tanya Kibum setelah TOP melepas ciuman mereka.

TOP tersenyum lembut sebelum kemudian sosoknya berubah dengan perlahan menjadi sosok seorang Choi Siwon yang tersenyum dan memperlihatkan dimple smile-nya. ”Siwon, Siwon,” ujar Kibum sembari melingkarkan lengannya di leher Siwon. Dia menangis sejadi-jadinya di pundak namja itu. Dia merasa begitu lega karena Siwon sekarang berada di sampingnya dan juga ternyata dia hanya bisa terangsang oleh namja yang dipelukanya sekarang.

Well, sepertinya aku perlu mengingatkanmu akan sentuhanku lagi ya?” goda Siwon sementara namja manis itu mengangguk dengan pelan.

Tubuh Kibum kembali berada di atas ranjang dengan kepala Siwon yang sekarang sudah berada di selangkangannya. Siwon menjilati milik Kibum dan mencicipi rasa doll-nya. Tangannya sendiri sedang memainkan twinsball Kibum dengan tempo yang sama. ”Urngh…ahh…Siwon…please?

Please..slurp…what, Bummie?” tanya Siwon yang masih setia menjilati milik Kibum.

Persetan dengan akal sehat. Kibum segera mendorong Siwon sehingga sekarang posisi mereka terbalik dengan dia di atas master-nya. ”Need you, now,” bisiknya.

Dia kemudian bergerak ke arah celana yang dikenakan Siwon. Tangannya dengan lihai membuka kancing celana Siwon dan membebaskan junior Siwon yang sudah tegang sempurna. Kedua tangannya memegang milik Siwon dan memosisikannya di depan hole-nya yang sedari tadi sudah berdenyut minta untuk dimasuki. ”Bummie, slow down,” tegur Siwon. Meski dia sangat menginginkan namja yang sudah terpampang polos di hadapannya, dia tidak mau menyakiti namja itu.

Can’t, need you,” balas Kibum yang langsung memasukkan milik Siwon ke dalam dindingnya.

”ARGHH!” teriak Kibum sedikit tertahan karena tak ingin menimbulkan rasa curiga dari Sungmin.

”Urgh,” erang Siwon karena sesuatu yang hangat dan sempit menyelimuti juniornya yang tidak bisa dikatakan kecil.

Siwon bisa merasakan bagaimana dinding Kibum menjepit miliknya dengan erat membuatnya terasa sedikit sesak namun nikmat karena Kibum bergerak dalam tempo yang tepat. ”Ahh…ohhh~” Ketika desahan ini keluar dari mulut Kibum, Siwon tahu bahwa namja manis itu telah menemukan titik prostatnya. Siwon memegang pinggang Kibum untuk membantu namja manis itu melakukan gerakan uke on top dengan mudah.

”Ohh…faster…bummie…ohhh~”

Keduanya sama-sama dikelubuti rasa nikmat yang tak bisa digantikan. Satu perasaan yang hangat menyelimuti keduanya. Mereka tahu bahwa saat ini yang terpenting adalah satu sama lain. ”Cumm…ah…cumming…

Me too…ohh~”

Splurt. Splurt.

Cairan putih Kibum keluar dan muncrat ke atas kemeja yang dikenakan Siwon sementara Siwon sendiri mengeluarkan cairan putihnya di dalam tubuh Kibum. Bisa dilihat cairan putih mengalir perlahan dari dinding Kibum membasahi celana yang dikenakan Siwon. Sang doll menundukkan kepalanya hingga kedua dada mereka saling bergesekkan. Bibirnya dipertemukan dengan bibir sang master. Tak peduli apa yang terjadi nanti yang terpenting adalah saat ini. Karena mereka tahu satu hal bahwa yang mereka rasakan sekarang adalah hal tabu.

.

.

”Selamat datang kembali.”

”Siapa kau? Aku siapa?”

”Kau tidak ingat siapa dirimu?”

”Aku…urgh…”

”Sepertinya aku berhasil menyelamatkanmu, tapi tidak dengan memorimu.”

”Apa maksudmu? Siapa kau? Siapa aku?”

”Mulai sekarang namamu adalah Savior.”

”Savior?”

”Ne, kau adalah savior dan seperti namamu, kau akan menyelamatkan kita semua.”

”Lalu kau siapa?”

”Aku penciptamu, namaku Neve.

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Oke, ini chapter paling rumit sejauh saya dan saya harap saya bisa cukup membuat chingudeul mulai mengerti jalan cerita saya.

Curcol dikit ya? Jadi ini plot awalnya itu simpel banget, Cuma Siwon beli Kibum sebagai doll dan Kibum hanya akan digunakan sebagai pemuas nafsu…namun…KENAPA JADI BEGINI DXX *capslock error*

Dan seiring berjalannya waktu, cerita ini semakin mencapai titik terang? Pokoknya nanti setelah masalahnya selesai, plot awal saya untuk Sibum akan saya lakukan #eh

Mengenai part Kangin, saya sebenarnya bingung mau masukkin dia YG atau tidak tapi kayaknya lebih pas kalau dia berpihak pada YG :3

.

.

Beberapa hal penting.

Satu. Jangan hanya terpaku pada jumlah zenith yang diberikan pada cerita.

Dua. Perhatikan pada paragraf penjelasan mengenai Jung Yonghwa.

Tiga. Perhatikan kalimat TOP pada chapter ini.

Empat. Cari arti Neve dan anda bisa menemukan zenith yang satu lagi 😉

Lima. Tidak tahu ada petunjuk lain atau tidak #plak

Oke, itu saja :3

Dan ini sedikit cuplikan tentang chapter berikutnya(karena saya tidak tahu kapan bisa update lagi =,=”):

.

.

Ketika cinta akhirnya saling menyadarkan

”Aku bukanlah aku? Bagaimana agar aku bisa tahu apa yang harus kulakukan?”

.

Ketika cinta tak lagi bisa dipercaya

”Jadi selama ini kau hanya mempermainkanku saja?”

.

Ketika cinta akhirnya menjadi benci

”Kau sudah tahu bahwa sejak dulu aku tak pernah mencintaimu!”

.

Ketika cinta harus diperjuangkan

”Aku tahu aku egois, tapi jika dengan egois aku bisa memilikimu, aku akan menjadi orang paling egois di dunia.”

.

Ketika cinta harus dipaksakan

”Kenapa kau tak bisa melihat diriku? Apa bagusnya dari namja itu?”

.

Ketika cinta harus hilang

”Dia pergi dan tidak mungkin akan kembali lagi. Dia telah sadar.”

.

Ketika itulah cinta akhirnya menjadi pisau bermata dua.

Dia bisa menguatkanmu dan bisa menjatuhkanmu

Tergantung di mana cinta itu berpihak

.

eL-ch4n

will present

”Love”

.

Last, review? 😉

_Verzeihen

Advertisements

15 responses to “Chapter 8: Interlude

  1. hmmmm…..
    penuh intrik n teka teki…
    saling menebak dan mulai memahami cerita yg sbnrnya…..
    kereeeenn….^^,

  2. makin greget dan penasaran..
    dan tentu makin keren kaga bosen bcanya soalnya kta di ajak bwt berimajinasi tinggi dan berpikir luat..
    keren bru nemu ff yang bikin aku ngerasa beda di setiap partnya..

    daebakkk

  3. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

  4. Mncul nama baru nih, nave itu siapa sbnrnya?????
    Owhhhh jadi heechul itu sbnrnya yeoja japi krna virus yg dibuat hangeng dia jadi namja???owhhhhh gtu tuh

    Mulai ktmu nih titik terangnya tapi msih bngung juga deh

    Lanjut baca ahhhhhh 😉

  5. Horeee……!!!! Nickhun ma Jiyong nongol!!!!! #plak #salpok
    ekhm….. ekhm…… anneong eL-chan! BB imnida! Reader lama rievewer baru! -3-
    Hehehe….. mav bru review skrang! Bingung cra ngreview.ny sih! –”
    Pnasaran nih! Tdi tu Eunhyuk, nd Jaejoong d.incer ma SHINee knpa? Trz pa hbungan U-Know ma Jiyong???? Dah ya takut kpanjangan! Bye eL-chan!!! ^0^/

  6. aku agak puyeng pas part ini
    top siwon ? siwon top ?
    seriously ??? aaaa jinjja ???
    agak bingung
    adegan NC nya bnyk yg ku skip karna aku mau fokus sm masalahnya dan ceritanya
    kangin sm heenim mantan ??
    duhh itu mau dibw kemana ???

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s