Chapter 4: Day One


Warn: TIDAK SUKA? TIDAK USAH BACA! 😉

NO FANWAR, PAIR WAR atau WAR JENIS APAPUN!

Hargailah setiap pendapat yang anda. Kalau tidak bisa, silakan saya antar anda klik tanda silang dan keluar dari ff ini. Terima kasih.

HARD BDSM.

TIDAK KUAT? TIDAK USAH BACA!

TIDAK SUKA? TIDAK USAH BACA!

TERLANJUR BACA? KLIK TANDA SILANG!

Perlu petunjuk tambahan?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

.

.

Chapter 4

.

.

Ini untuk anda, saya yakin anda pasti masih mual karena apa yang anda lihat tadi siang.

Apa? Anda penasaran dengan keadaan Changmin sekarang?

Hah. Baiklah, saya akan antar anda kembali ke lantai 4.

Sekedar informasi, memang para masters terlihat sangat kejam dan tak berperasaan, tapi mereka mempunyai alasan di balik semua itu. Alasan yang hanya diketahui oleh mereka.

Menurut saya? Hmm…kalau saya katakan mungkin mereka hanya mencari pelampiasan? Entahlah, saya juga tidak tahu, tapi dengan beban dari tanggung jawab yang mereka pikul, saya juga akan meledak satu saat jika tak melepasnya.

Ah, kita sudah sampai, silakan masuk.

Apa? Yeojya yang sedang duduk di samping Changmin? Oh, dia itu seorang dokter. Anda tidak mungkin berpikir kalau para masters yang sudah melakukan hubungan dengan para slave-nya secara kasar hingga meninggalkan luka akan membiarkan mereka begitu saja?

Para masters memiliki beberapa dokter pribadi. Tentunya dengan koneksi Yunho, hal ini tidak sulit. Kalau ditanya kenapa yeojya, katakan saja Yunho lebih mempercayai para yeojya karena mereka tidak akan mungkin memperburuk keadaan slave-nya. Kedua, karena pada saat ini, dokter yeojya sangat dipandang sebelah mata di masyarakat jadi dengan adanya tawaran seperti ini, mereka bukan hanya bisa menyalurkan bakat dan perhatian mereka, tetapi juga mendapat penghargaan tersendiri.

Ya, menyelamatkan orang lain yang hampir mati tetap sebuah penghargaan bukan?

Nama dokter itu Sandara Park atau biasa dipanggil dengan Dara. Wajahnya cantik meskipun usianya lebih tua daripada yang terlihat. Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu asli karena dia ada sedikit campuran. Dia sudah bekerja pada Yunho selama 10 tahun, kalau saya tidak salah informasi, karena, sekali lagi, saya baru masuk 5 tahun yang lalu.

Ternyata begitu kelihatan ya? Anda ternyata cukup pengamat atau mereka yang terlalu jelas? Dara memang dekat sekali dengan Jiyong. Ini hanya rumor dan saya juga masih tidak tahu apakah itu benar atau tidak.

Katakan pernah ada satu saat ketika TOP meledak. Itu karena ada yang melaporkan bahwa Dara dan Jiyong berciuman. Saya tidak tahu kebenarannya karena saya tidak ada di sini saat itu, saya sedang menemani yang lain seperti anda.

Lebih baik kita berdiri di sini, kita tidak akan mau menganggu mereka.

.

.

”Bagaimana keadaannya Dara?” tanya Jiyong dengan nada khawatir.

Ketika Se7en meletakkan Changmin kembali ke atas tempat tidur, tak berapa lama, Sandara datang untuk melihat keadaan Changmin. Yeojya itu segera menjahit beberapa tubuh Changmin yang sedikit terkelupas dan kemudian mengecek keadaan namja tersebut. ”Seperti biasa, Minho tahu tempat yang tepat untuk dikupas sehingga tidak mengenai pembuluh darah arterinya. Aku akan memberikan obat agar lukanya cepat menutup. Jahitannya harus diganti minimal sehari sekali. Besok aku akan mampir lagi,” jawab yeojya itu sembari tersenyum lebar kepada empat namja yang sedang berdiri.

Taemin kembali menghampiri Changmin dari sisi yang berlawanan dengan Sandara, namja paling muda itu segera mengelus kepala namja yang sedang tertidur itu dengan hati-hati. Berkali-kali dia mengucapkan kata ’mianhae’ dan ’gomawo’ pada Changmin yang sudah kembali tertidur setelah diberi obat bius oleh Sandara. Tubuhnya juga sudah dikenakan pakaian tidurnya sehingga sekarang dia sudah memakai piyama tidurnya.

”Aku akan kembali lagi besok.” Yeojya itu berdiri dan memasukkan peralatan dokternya ke dalam tasnya. Ketika dia hendak berbalik, Jiyong menggenggam tangannya. Sesaat waktu terasa berhenti di antara mereka berdua. Kedua pasang mata saling bertemu mencari apa yang tersembunyi di baliknya. ”Jiyong-ah?”

”Gomawo ya, kalau tidak ada kau kami tidak tahu harus berbuat apa terhadap Changmin.”

Sandara menarik tangannya dengan perlahan dari genggaman Jiyong. Dia menggeleng kepalanya kemudian memberikan sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan. ”Ani, itu sudah tugasku. Jaga mereka baik-baik.” Jiyong mengangguk sembari mengantarkan sang dokter keluar dari lantai mereka.

”Kalian belum menjawabku.” Suara Kibum yang datar membuat semua kepala teralih kepada saudara Kyuhyun yang tak pernah muncul kala Changmin berada di ruangan. ”Sudah kuduga ada sesuatu yang disembunyikan Kyu,” desisnya pelan.

”Kyu tak memberitahumu?” Kibum menggelengkan kepalanya pelan atas pertanyaan yang dilontarkan Jaejoong. ”Berarti apa yang dia katakan tadi benar,” bisiknya.

Jaejoong dapat berkesimpulan seperti itu karena pasalnya Kyuhyun akan selalu menceritakan apa yang dia lakukan pada hari itu kepada Kibum karena meskipun ada di dalam satu tubuh, terkadang mereka tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh saudaranya jika saudara yang sedang sadar menutup saudara yang ada di dalam. Jika Kyuhyun sedang sadar dan dia menutup kesadaran Kibum maka Kibum tak bisa melihat apa yang sedang terjadi, begitu pula sebaliknya.

”Siapa dia?” tanya Kibum sembari menunjuk ke arah Changmin yang sedang tertidur.

Personal Slave Choi Dong Wook yang baru, sudah bekerja di sini selama 7 bulan. Kasihan juga, baru bisa beradaptasi dan dia sudah harus melayani para masters,” ujar Jiyong yang sudah menutup pintu dan berjalan ke arah keempat temannya.

Kedua alis Kibum terangkat, tangannya terlipat di depan dadannya. ”Personal Slave? Dia sudah melayani untuk hari itu dan dia tidak mati?” tanya Kibum dengan nada sinis. Wajar saja, mengingat empat orang temannya semua meninggal di tangan Master Playboy itu, ah lebih tepatnya di tangan peliharannya, Mitsu. ”Hibur aku,” ujarnya kembali dengan kedua alis mata yang terangkat.

Taemin masih dengan setia mengelus-elus kening Changmin, menunggu sampai hyung-nya kembali tersadar. Dia tidak terlalu memperhatikan suasana di antara ketiga namja tertua yang mulai menegang. ”Changmin baru datang 7 bulan yang lalu. Hari itu Yunho menemukannya bersama Taecyeon dengan keadaan yang kurang lebih sama seperti keadaannya saat ini.” Jaejoong menghela nafas sebelum melirik Jiyong yang dijawab dengan anggukan oleh si fashionista.

Baru saja Jiyong hendak membuka mulutnya, Kibum langsung menyelanya, ”7 bulan dan sudah menjadi personal slave? Katakan kalian sedang bercanda.” Nada sinis tersirat dari suara Kibum.

Keheningan di antara mereka menjadi jawaban terselebung bagi saudara kembar Kyuhyun itu. Jiyong menganggap ekspresi Kibum yang berubah adalah tanda dia boleh memulai kalimatnya. ”Aku tahu ini aneh, mestinya kita harus melalui tahap itu sebelum terpilih menjadi personal slave, tapi begitu Changmin menginjakkan kaki, Se7en langsung meng-claim Changmin sebagai miliknya.”

”Seperti dirinya sekali, eoh?” Kibum berdecak kesal.

”Saat itu, Kyuhyun yang sadar dan aku pikir alasan kenapa kau tidak bertemu Changmin hanya kebetulan, siapa yang menduga kalau saudaramu mengaturnya agar kau tidak terluka?”

”Aku lebih terluka kalau mengetahuinya di saat seperti ini! Lagipula, untuk apa Dong Wook memerlukan personal slave kalau ujung-ujungnya dia akan membuangnya ketika mereka disentuh oleh orang lain?” Kibum melemparkan badannya ke sofa yang terletak tak jauh darinya.

”Dia tidak mati,” gumam Jaejoong pelan. ”Changmin belum mati Kibum, meskipun,” Namja cantik itu menggigit bibir bawahnya terlihat ragu. ”Meskipun dia baru saja melakukannya dengan master yang lain.”

Seketika Kibum berdiri kembali dan menatap Jaejoong dengan tajam. ”Kau jangan bercanda.” Ketika tak mendapat jawaban, dia kembali teringat sesuatu. ”Astaga, jangan katakan kalau melayani para masters yang dimaksud oleh Jiyong-hyung tadi adalah?” Kibum tak berani menyelesaikan kalimatnya begitu melihat ekspresi wajah kedua hyung-nya. Dia segera melihat ke arah Changmin yang lukanya sedikit lebih baik daripada tadi. Seketika itu juga semuanya masuk akal, alasan Kyuhyun kenapa dia selalu muncul ketika mereka masuk kamar dan hanya akan kembali tertidur jika bertemu dengan Siwon. Jadi inikah yang disembunyikan Kyuhyun darinya? ”Kyu…” gumam Kibum dengan pelan.

”Urghh…” Suara erangan dari arah tempat tidur menghancurkan suasana hening di antara mereka. Sontak, keempat namja itu segera mengalihkan perhatian mereka pada namja yang sedang membuka matanya dengan perlahan.

”Hyung!” Taemin meneriakkan nama Changmin dengan keras. Dia segera memeluk tubuh Changmin yang masih terbaring.

Changmin masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi sebelum akhirnya dia tersenyum lembut dan membelai kepala namja manis yang sedang memeluknya sekarang. ”Min, kau baik-baik saja?” Pertanyaan Jaejoong membuat perhatiannya teralih kepada tiga namja yang sedang berada di depannya. Alis matanya terangkat ketika melihat seorang namja yang belum pernah dia lihat. ”Kau?” tanyanya dengan hati-hati.

”Kim Kibum imnida.” Kibum tersenyum lembut dan memperkenalkan dirinya.

Personal Slave Se7en mengangguk pelan sebagai sapaan sebelum memperkenalkan dirinya juga. ”Ah, Shim Changmin imnida. Aku baru pertama melihatmu, kau siapa?”

Sebuah senyum simpul terukir di wajah namja yang tengah memandang Changmin itu. ”Saudara kembar Cho Kyuhyun.”

”Kyu? Aku tidak tahu dia punya saudara kembar.”

”Dia hanya melindungiku,” gumam Kibum pelan membuat Changmin menatapnya dengan perasaan bingung. ”Dan aku juga kepribadiannya yang lain.”

Malam itu, untuk pertama kalinya Changmin bertemu dengan Kibum. Entah apa yang akan menanti mereka di kemudian hari. Tak ada yang tahu.

.

.

Ayo kita tidur, sudah malam, akan lebih baik kita mempersiapkan diri karena besok kita akan ikut mereka keluar juga kan?

Atau anda mau tetap di sini saja?

Hmm…bagaimana kalau setengah hari kita berada di sini dan setengah hari kita mengikuti mereka? Dengan begitu, anda tidak menghabiskan waktu anda. Anda setuju? Bagus.

Oh, saya ingat, anda sudah memilih apa yang ingin dipertanyakan?

Bagaimana cara para masters memilih personal slaves rupanya.

Pertanyaan yang terlihat simple, namun memiliki jawaban paling ambigu yang bisa saya jelaskan.

Bagaimana kalau sekarang kita beristirahat dulu? Akan saya jelaskan semuanya besok.

.

.

Pagi telah tiba. Jarum jam pendek di ruangan para personal slave menunjuk pada angka 6. Dua insan telah terbangun dari tidurnya –Changmin dan Jiyong. Mereka terlihat dalam pembicaraan penting di kamar Jiyong. Lantai itu memiliki 5 kamar tidur untuk para personal slave. Ranjang yang ditiduri Changmin kemarin adalah ranjang yang memang sengaja diletakkan di depan kalau-kalau kelima personal slave ingin tidur bersama.

”Jadi Yunho menjanjikanmu kebebasan untuk hari ini?” Changmin mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. ”Dan kau bingung ingin mengajak siapa?” Sekali lagi namja di depannya mengangguk.

Tak berapa lama kemudian terdengarlah gelak tawa dari Jiyong membuat Changmin menatapnya dengan tatapan heran. ”Sebelum itu, apakah badanmu sudah lebih baik?” Changmin mengangguk. ”Baguslah, lalu kembali ke persoalan semula. Siapa yang kau ajak tidak masalah kok, kami tidak keberatan.”

”Tapi –”

Jiyong mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan Changmin. ”Dengar, kami tidak akan marah jika kau memilih siapapun yang kau pilih, tapi kalau boleh kuberi saran.” Hening sesaat dari keduanya membiarkan satu sama lain untuk mencerna apa yang terjadi. ”Kau ajak saja Kibum. Ini kali pertama kalian bertemu bukan? Kalian akan hidup bersama terus jadi akan lebih baik jika kalian saling mengakrabkan diri dulu.”

”Kibum ya? Dia terlihat sekali membenci diriku, hyung.”

Sebuah senyuman simpul terukir di wajah Jiyong. Tangan kanannya meraih kepala Changmin dan mengelusnya. ”Itu karena dia belum pernah berbicara denganmu, maka dari itu kau harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakrabkan diri dengannya.” Namja muda itu mengangguk dengan pelan atas pernyataan yang dikeluarkan hyung-nya. ”Terus, aku penasaran kenapa Se7en tidak, kau tahu?” Jiyong kembali menarik tangannya dan meletakkannya di atas lututnya.

Gulp.

Changmin menelan ludahnya mendengar pertanyaan itu. Sudah dia duga semua akan menanyakan hal itu, tapi entah kenapa dia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Lebih tepatnya karena dia juga tidak tahu apa jawabannya. ”Molla, hyung. Aku juga tidak tahu, yang jelas dia memberikanku satu kesempatan lagi. Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan dirinya melakukan hal itu?”

”Masa lalu para master adalah hal yang paling tabu untuk dibicarakan di tempat ini, Minnie. Dan memang kita tidak tahu apapun tentang mereka.”

”Oh begitu.”

Kriet.

Pintu kamar Jiyong terbuka dengan perlahan menampilkan sosok Jaejoong yang masih terlihat sedikit mengantuk. ”Ternyata kau di sini Minnie, aku mencarimu tadi ke kamar dan aku cukup kaget karena kau tak ada di sana.”

”Ah, mianhae hyung.” Changmin mengangguk tanda bahwa dia menyesal membuat hyung-nya khawatir.

Jaejoong menggelengkan kepalanya dan berjalan menghampiri Changmin. Dia menempatkan dirinya di samping Changmin yang sedang duduk di ujung ranjang Jiyong sementara Jiyong sedang duduk di atas sofa. ”Ne, gwenchana, Minnie-ah. Bagaimana keadaanmu? Tidak biasanya kau bangun sepagi ini.”

Changmin memajukan bibirnya tanda bahwa dia sedikit cemberut mendengar pernyataan namja cantik yang sedang merapikan rambutnya. ”Aku sudah lebih baik hyung, obat dari Dara-noona benar-benar berkhasiat. Kalau soal bangun pagi, aku kan memang selalu bangun pagi, tapi biasanya aku tidur lagi.” Suara tawa memenuhi ruangan itu, tawa yang ringan tanpa beban.

Kriet.

Pintu kamar itu kembali terbuka dan tampaklah sosok Taemin dalam piyamanya yang sedang mengucek kedua matanya. Di belakangnya berdiri Kibum yang matanya masih setengah terpejam. ”Aigoo, kenapa semua jadi berkumpul di kamarku sih?” gerutu Jiyong dengan nada bercanda.

”Karena kamarmu paling lengkap fasilitasnya, hyung,” ujar Changmin sembari menjulurkan lidahnya yang sekali lagi mendatangkan gelak tawa di ruangan itu.

”Oke, kembali pada persoalan semula, kurasa apa yang kukatakan tidak ada salahnya, Min.” Suara Jiyong yang kembali serius membuat suasana kembali menegang. Taemin sudah duduk di samping Changmin dan memeluk hyung-nya itu dengan erat sementara Kibum duduk di lengan sofa yang sedang diduduki Jiyong.

”Ada apa memangnya?” tanya Jaejong dengan nada selidik.

Jiyong mengangkat wajahnya dan menunjuk ke arah Changmin. ”Dia mendapat kebebasan nanti jam 8 dan bingung ingin mengajak siapa.”

”Hyung!” Changmin berseru kesal karena dia tidak ingin semua orang tahu tentang apa yang sedang dipikirkannya.

”Oh.” Namja yang paling tua di antara mereka –Jaejoong- mengangguk tanda mengerti. Dia memutar badan Changmin sehingga sekarang mereka saling berhadapan. ”Ajak saja Kibum, ne?”

”Kenapa harus aku?” desis Kibum dengan nada kesal. ”Aku tak mau!”

”Karena kalian baru pertama bertemu, ada baiknya kalian mendekatkan diri kalian dulu, dan Bummie, jangan marahi Kyu, aku mendengar ocehanmu kemarin malam,” tegur Jaejoong. Kalau namja cantik itu sudah marah, maka dia akan sangat mengerikan, walau tetap masih kalah dari Siwon atau TOP ketika marah.

Kibum hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Pasalnya sekarang semua mata –kecuali Changmin – sedang menatapnya tajam seolah dia adalah sasaran empuk. Bahkan Taemin yang terkenal lembut itu juga sedang menatapnya tak kalah tajam dari kedua hyung-nya. ”Arasso.”

Sebuah tangan tiba-tiba terulur di depannya. Dia mengangkat kepalanya yang tadi sedikit tertunduk dan melihat Changmin sudah berdiri di depannya dengan seulas senyuman di wajahnya. ”Ayo kita berteman,” ujarnya dengan lembut. Kibum mengangguk dan menyambut uluran tangan Changmin.

.

.

Changmin memang pendiam dan dingin, tapi itu sebelum dia akhirnya bisa membuka dirinya kepada semua. Jadi anda jangan terlalu heran kalau melihatnya tersenyum dan bahkan tertawa dengan yang lain.

Akan tetapi, masih ada beberapa hal yang mungkin disembunyikannya, begitu pula dengan yang lain. Mereka memiliki masa lalu yang tidak ingin diketahui.

Saya tidak bisa memberitahukannya, lagipula saya memang tidak tahu.

Sekarang kita ke lantai 1 karena mereka harus bertemu dengan Yunho terlebih dahulu.

.

.

Suara goresan pen terdengar menggema di lantai milik Yunho. Dia sedang duduk di atas kursi kerjanya dengan matanya yang memakai kacamata itu menelusuri dokumen-dokumen yang ada di tangannya. Tak dihiraukannya ketukan pintu di ruangannya karena dia tahu salah satu dari kedua penjaga itu akan membukakan pintunya.

Derap langkah kaki terdengar mengalahkan suara goresan penanya. ”Yunho-shi, Changmin dan Kibum sudah datang,” ujar Taeyang.

”Terima kasih Taeyang, kau boleh kembali ke tempatmu,” jawab Yunho masih dengan mata dan perhatian yang tertuju pada dokumennya. Cukup lama akhirnya dia meletakkan kembali dokumennya dan melepas kacamata yang digunakannya tadi. ”Jadi, kau mengajak Kibum, eh?” Kedua alis mata Yunho terangkat menunjukkan bahwa dia sedikit tertarik dengan pilihan Changmin.

Namja yang ditanya itu menganggukkan kepalanya perlahan. ”Baiklah, itu pilihanmu. Jangan coba-coba kabur, kalian tidak akan bisa melakukannya kecuali kalian mau jadi makanan Mitsu.”

Gulp.

Dengan perlahan, kedua namja yang berdiri itu mengangguk. ”Dan aku cukup kaget kalau kau belum jadi makanan Mitsu, Changmin.” Sebuah seringaian terpasang di wajah sang head master. Tapi, Changmin hanya menjawabnya dengan pandangan tanpa ekspresi, terlihat tenang dan damai. ”Ya sudah, silakan kalian pergi, aku akan menyuruh salah satu dari mereka untuk mengawasi kalian.”

Yunho berdiri dan melihat ke arah Taeyang dan Taecyeon yang sedang berdiri tegak di depan pintu. Dia berjalan perlahan mendekati ke arah dua personal slave yang terlihat sedikit gugup itu. ”Tae –” Yunho terhenti sesaat memikirkan kembali apa yang akan diperintahkannya. Setelah mengangguk dengan mantap, dia berkata lagi, ”Taeyang, kau ikuti mereka.”

Hanya sekejap, benar-benar sesaat, terlihat perubahan ekspresi dari Taecyeon dan Changmin. Wajah mereka turun seolah ada suatu perasaan kecewa, namun tak ada yang tahu kenapa. ”Baik, Yunho-shi,” jawab Taeyang sembari menundukkan kepalanya. Kedua personal slave itu berbalik dan mengikuti Taeyang yang akan mengantarkan mereka ke dunia luar untuk pertama kalinya.

Setelah mereka pergi dan tertinggal Taecyeon dengan Yunho di ruangannya, sang head master berkata dengan nada sinis, ”Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, Taecyeon.”

Tak ada jawaban yang keluar dari penjaga berbada tegap itu, hanya ekspresi kosong yang terlihat. Yunho kembali menyeringai sebelum berbalik dan berjalan menuju ke arah meja kerjanya. Hanya hembusan angin yang melihat bagaimana Taecyeon menggigit bibirnya sampai sedikit mengeluarkan luka dan bagaimana kerasnya dia mengepalkan tangannya hingga memerah.

.

.

Saya juga tidak tahu kenapa Taecyeon terlihat kesal. Saya rasa bukan Changmin yang ingin dilindungi Taecyeon karena dia sudah bekerja pada Yunho jauh sebelum Changmin datang, 10 tahun mungkin?

Memang semenjak Changmin datang, Taecyeon terlihat sangat memperhatikan namja itu, tapi Taecyeon memang namja yang baik.

Dia selalu memperhatikan semua slaves yang ada di balik pintu hitam itu.

Taeyang?

Namja itu juga baik. Apakah anda tidak bisa melihatnya dari ekspresinya yang begitu ramah? Sungguh sangat disayangkan namja itu harus berada di tempat seperti ini.

Eh? Pintu hitam itu? Saya janji akan mengantarkan anda untuk masuk ke sana, tapi saya ingin yakin bahwa anda sudah siap. Melihat keadaan Changmin kemarin saja anda sudah hampir, maaf, ketakutan? Sampai saya rasa anda siap baru akan saya antarkan karena apa yang ada di baliknya jauh lebih mengerikan daripada apa yang anda lihat kemarin.

Oh, lampu pink menyala!

Maaf, saya belum menjelaskan. Para master memiliki satu tombol untuk memanggil para personal slave mereka. Ketika tombol itu dinyalakan lampu kecil yang terpasang di setiap sudut ruangan akan menyala sesuai dengan warna yang dikenakan para personal slave.

Karena lampu pink yang menyala, itu berarti TOP ingin Jiyong datang ke kamarnya! Saya merasakan firasat tidak enak.

Anda tahu kan bahwa TOP sedikit posesif terhadap Jiyong?

.

.

Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar begitu tangan lentik Jiyong bersentuhan dengan kayu jati yang berada di hadapannya. Helaan nafas terdengar dari dirinya kala dia menunggu pintu itu terbuka. Entah kenapa firasatnya sedikit tidak enak. Ketika dirinya masih berpikir, dia tidak sadar pintu di depannya sudah terbuka dan ada sebuah tangan yang menariknya dengan kasar.

Duag.

Dia bisa merasakan bagaimana kerasnya dinding yang ada di belakangnya sekarang. Dia bisa melihat bagaimana kedua mata yang menatapnya sekarang penuh dengan amarah. ”Bagaimana kabarmu, Jiyong-ah?” Namja yang ada di depannya bertanya dengan nada lembut, namun Jiyong tahu ada sebuah emosi lain di dalamnya.

”Ba- baik,” jawabnya dengan pelan.

TOP terkekeh pelan melihat namja yang tak berdaya di depannya. ”Aku melihatnya, kau tahu? Kalian seperti sedang bermain drama dan itu membuatku kesal.”

”Urgh.” Pegangan TOP terhadap kedua pergelangan tangannya semakin erat membuatnya mengerang kesakitan. ”Mi…mian, master, aku –”

”CUKUP!” Suara teriakkan dari TOP menghentikan apapun yang ingin dikeluarkan oleh Jiyong. Dia menyengir lebar sebelum melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Jiyong dan berjalan menuju ranjangnya. Dia terduduk di ujung ranjangnya dan melipat kedua tangannya. ”Kau tahu alasan kau kupanggil bukan?” Anggukan menjadi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya. ”Bagus, lakukan apa yang perlu kau lakukan.”

Dengan gerakan tangan yang gemetar, Jiyong melepaskan pakaian yang dikenakannya hingga tubuhnya sekarang polos tak memakai apapun. Dia bisa merasakan dinginnya angin dari pendingin ruangan di kamar itu menusuk tubuhnya. Berdiri seperti ini membuatnya terasa begitu terekspos apalagi ditambah tatapan dingin dari master-nya.

Langkah kakinya terdengar memenuhi ruangan ketika dia berjalan menghampiri master-nya. Diciumnya perlahan bibir sang master, namun dia tak mendapat balasan apapun hingga akhirnya dia melepaskan ciumannya. TOP hanya menyeringai sebelum kemudian mengeluarkan suaranya. ”Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” Jiyong mengangguk.

Dia kemudian berbalik dan berjalan ke arah dinding yang lain. Di kedua ujung dinding itu terdapat borgol dengan rantai yang panjang. Begitu Jiyong memasukkan tangannya ke dalam borgol tersebut, bunyi ’cklik’ terdengar. Kedua tangannya sekarang terentang di atas dan badannya sedikit melayang di udara membuat dia benar-benar tak berdaya dan terekspos sempurna.

TOP menjilat bibirnya sebelum berdiri dan berjalan menghampiri slave-nya. Dia dapat merasakan ketika tangannya menyentuh setiap inci kulit yang terpampang di depannya, pemilik kulit itu bergetar hebat. Sebuah seringaian kembali terpasang melihat bagaimana dirinya bisa memberikan efek sebesar itu pada slave-nya. Sebuah bukti bahwa dia masih memiliki kontrol terhadap namja yang ada di hadapannya.

Namja itu bergetar karena sebuah perasaan yang tak bisa dilukiskan kala tangan hangat milik master-nya menyentuh setiap bagian tubuhnya. Dia menginginkan sentuhan lebih dari master-nya hingga badannya menggeliat tak karuan. Ketika tangan kanan sang master menyentuh bibirnya, dia segera menjulurkan lidahnya dan menjilatnya seperti seorang anak yang sedang mengulum permen.

”Urgh…” Desahannya sedikit tertahan karena dua jari TOP yang berada di mulutnya.

Bibir TOP menelusuri tiap inci dari leher putih yang terpampang di depannya. Lidahnya merasakan tubuh namja yang ada di depannya. Giginya memberikan sebuah tanda kemerahan bahwa namja yang sedang berdiri tak berdaya itu adalah miliknya. ”You’re mine,” bisiknya dengan nada yang seksi di telinga Jiyong membuat sang fashionista kembali menggeliat. ”Hmm.” Bibir TOP mencium perlahan setiap bagian wajah Jiyong, mata, hidung, pipi, hingga ke mulutnya.

Kecipak kulit yang saling bertemu begitu jelas terdengar di kedua telinga namja tersebut. ”Ohh…ahh…” Lidah TOP bertemu dengan salah satu dari kedua tonjolan di dada slave-nya. Dia menjilati dan sesekali menggigit dengan hati-hati agar tidak menimbulkan luka pada tonjolan pink yang begitu menggodanya. ”Hah…ahh…”

Jiyong mendesah kecewa ketika bibir TOP tak menyentuh bibirnya dan hanya mengambang di depannya. Dia ingin meraih master-nya namun tertahan oleh borgol yang mengikat tangannya. TOP terkekeh pelan. ”Aku belum menghukum slave-ku yang nakal,” ujarnya dengan nada jahil. Dia berbalik dan berjalan ke arah lemarinya. Beberapa pilihan sex toys diambilnya, cock ring, vibrator, dan juga butt plug.

Mata Jiyong membesar dengan horor. Dia tahu hukuman macam apa yang akan menantinya. ”Mas…master, maafkan aku, jebbal?” pintanya dengan nada memelas. Dia tahu bahwa TOP tidak akan menghukumnya kalau seandainya dia mengganti Taemin kemarin, tapi dia juga tahu bahwa satu-satunya alasan kalau TOP akan menghukumnya adalah ketika dia mengabaikan perintahnya. Dan salah satu perintahnya adalah ’Jangan berhubungan dengan Dara’.

Dia hanya menyentuh Dara kemarin karena dia merasa khawatir. Dia bisa melihat ekspresi sendu dari yeojya itu dan dia hanya peduli sebagai sahabat. Ciuman yang pernah dia berikan pun hanya sebagai caranya untuk menenangkan yeojya itu. ”Master.”

Telinga TOP seolah sudah tuli oleh semua perkataan yang dilontarkan oleh Jiyong. Dia menyalakan vibrator yang cukup besar itu. Suara vibrator yang bergetar terdengar menakutkan di telinga Jiyong. Dia hanya bisa mencoba merilekskan dirinya ketika TOP sudah mendekat ke arahnya. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, vibrator itu sudah dimasukkan dalam sekejap menembus dinding rektumnya. ”ARGHH!” Mulutnya disumpal oleh penutup mulut yang berbentuk lingkaran itu sehingga dia tak bisa mengeluarkan suara apapun selain ’Uh’ dan ’Ah’.

Sesuatu yang dingin menyentuh kejantanannya yang sedikit menegang. Tanpa melihat ke arah bawah dia tahu bahwa TOP memasangkan cock ring di miliknya. ”Kita lihat seberapa lama kau akan bertahan ya?” gumam TOP dengan seringaian yang mengerikan di wajahnya.

Jiyong menggeleng-geleng sembari sedikit meneteskan air mata. Dia bisa merasakan sakit yang amat sangat ketika TOP kembali memasukkan butt plug di dalam dindingnya hingga sekarang dirinya terasa begitu penuh dan sesak. TOP menggeleng kepalanya bersama dengan jari telunjuk tangan kanannya. ”Ckck..aku benci dengan orang yang mengaku kalah sebelum melakukan apa-apa. Kau tak perlu bertahan lebih dari 3 jam kok, aku tahu bahwa kau pasti sangat sesak sekarang.” Jiyong mengangguk pasrah. Air matanya kembali menetes pelan bersama dengan membesarnya kedua pupil matanya ketika TOP mendorong butt plug tersebut semakin dalam hingga vibrator yang masuk lebih dulu tadi menyentuh prostatnya.

”Uhh…” Seketika itu juga miliknya langsung menegang dan berdiri membuat TOP tersenyum senang karenanya. Dia kembali berjalan ke dalam lemarinya dan mengeluarkan sebuah pocket pussy. Salah satu sex toys yang digunakan bagi para namja yang ingin melakukan masturbasi tanpa menggunakan tangannya.

Lengkap sudahlah kenikmatan sekaligus penderitaan Jiyong pada bagian bawahnya. Dia menerima rangsangan dari dua sisi sekaligus. Titik prostatnya disentuh, miliknya berada dalam dekapan hangat dan merasakan getaran tiada henti. Sungguh surga dalam arti tertentu. Sayangnya, dia merasa begitu sakit terutama karena dia tidak bisa keluar. Pasalnya, dengan rangsangan seperti itu, pastinya dia ingin mencapai orgasme namun tertahan.

”Kau pasti bisa bertahan, Jiyong-ah. Bukankah kau sudah pernah melewati tes seperti ini sebelumnya?”

.

.

Saya rasa saya akan menjelaskan sedikit bagaimana para master memilih personal slave-nya.

Seperti yang dikatakan oleh TOP tadi, para slaves yang ada di balik pintu hitam menjalani tes. Tes di sini maksudnya adalah tes ketahanan mental dan fisik. Mereka diberikan rangsangan dari segala sisi, siapa yang mencapai orgasmenya yang pertama dan keluar lebih dulu, tidak akan terpilih dan gugur saat itu juga.

Sementara mereka yang masih bisa bertahan akan diuji lagi oleh Taecyeon dan Taeyang.

Semakin lama seorang slave bertahan atas perlakuan Taecyeon dan Taeyang maka slave itu lulus pada tahap kedua.

Dan tahap terakhir mereka akan berhadapan dengan para master yang akan memilih mereka. Jika master mereka puas terhadap salah satu dari mereka, maka slave itu akan diangkat menjadi personal slave.

Maksudnya, andaikata Jiyong melayani Yunho dan sang head master tak merasa puas, maka Jiyong tak akan terpilih menjadi personal slave-nya dan akan dilemparkan pada master lainnya.

Pada akhirnya keputusan akan tetap berada pada tangan sang head master.

.

.

Bagaimana dengan Changmin?

Anda tahu alasan kenapa dia tertutup terhadap yang lain ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini?

Rasa iri dan kebencian dari semua slave bahkan termasuk Jiyong, Kyuhyun (karena Kibum disembunyikan oleh Kyuhyun), Jaejoong, dan Taemin. Mereka merasa iri karena Changmin tak perlu melalui tes yang begitu mengerikan seperti mereka. Mereka juga benci karena Changmin bisa mendapatkan posisinya begitu mudah.

Saya tidak tahu dengan pasti, tapi andai saya ada di posisi mereka, saya juga pasti akan merasakan hal yang sama. Selama satu bulan mereka mendiamkan Changmin hingga akhirnya satu malam Changmin berteriak begitu keras karena mimpi buruknya selama itu. Tak ada yang menghiraukannya pada bulan pertama dia mengalami mimpi buruknya. Namun, begitu bulan kedua dan teriakan Changmin semakin menyayat hati, perasaan keempat slave tergerak hingga akhirnya mereka merasa bersalah telah membenci Changmin yang tak tahu menahu akan tempat ini.

.

.

Jujur kalau alasan para master memilih para slave, saya benar-benar tidak tahu secara pasti. Hanya tes yang harus mereka jalani yang saya ketahui.

Saya hanya mendengar rumor, namun tak pasti juga kebenarannya karena ini hanya rumor. Ada yang mengatakan bahwa TOP memilh Jiyong karena Jiyong dulu adalah teman masa kecilnya. Tapi, Jiyong tak mengingat akan TOP sama sekali selain bahwa dia adalah salah satu masters penghuni tempat ini.

Terdengar klise memang, tapi sekali lagi saya katakan itu hanya rumor. Sama dengan rumor yang mengatakan bahwa Se7en membunuh 2 masters sebelum dirinya hingga hanya tersisa 5 masters di tempat ini.

Anda masih mau melanjutkan melihat hukuman TOP atau mengikuti ke mana Changmin pergi?

Tunggu, lampu biru! Oh tidak, Taemin!

.

.

Ketika lampu biru menerangi kamar para slave yang sedikit remang, Taemin tersentak kaget. Hanya Jaejoong dan Taemin yang berada di sana karena Jiyong sudah dipanggil oleh master-nya sementara Kibum dan Changmin sudah pergi keluar entah ke mana. ”Hyu..hyung,” ujar Taemin dengan gugup. Dia tahu bahwa cepat atau lambat dia harus menemui Minho, namun dia masih merasa sedikit takut.

Jaejoong menghampiri Taemin dan mengangkat namja mungil itu ke dalam dekapannya. Dia mengelus punggung namja yang bergetar itu hingga agak tenang. ”Sshhh..kau pasti bisa, tenang saja, Minho tak mungkin membunuhmu. Kalau ada apa-apa, kita akan menyuruh Dara untuk datang lagi dan mengobati dirimu, ya?” Ketika dekapannya terlepas, Jaejoong bisa melihat Taemin mengangguk dengan perlahan. Setetes air mata bening jatuh dari kedua pelupuk matanya. Jaejoong menghapusnya menggunakan kedua ibu jarinya.

”Ne, hyung, gomawo.” Jaejoong kembali membawa Taemin dalam pelukannya sebelum mengantar namja mungil itu ke luar ruangan.

Ketika sosok Taemin sudah hilang di dalam lift, Jaejoong kembali menghela nafas menunggu gilirannya. Baru saja dia hendak masuk ke dalam kamar, seseorang menepuk pundaknya membuatnya menjerit kaget. ”Aish, kau membuatku kaget setengah mati, Taecyeon,” ujar Jaejoong lega ketika mendapati bahwa yang menepuk pundaknya tadi adalah Taecyeon. Kedua alis mata Jaejoong kemudian terangkat karena dia sedikit bingung dengan keberadaan Taecyeon di tempat ini. Bukankah namja itu seharusnya menjaga pintu hitam di bawah karena Taeyang sedang mengawasi Changmin dan Kibum. ”Ada apa? Kenapa kau ada di sini?”

Terlihat bahwa namja bertubuh atletis itu sedikit bingung mau memulai entah dari mana. ”Yunho-shi memanggil anda.”

Kedua mata Jaejoong membesar. Khusus untuk personal slave Jung Yunho tak menggunakan lampu, melainkan dipanggil secara langsung oleh Taecyeon dan Taeyang. Ada sesuatu yang terasa janggal menurut Jaejoong. Pasalnya, yang biasanya memanggil dirinya adalah Taeyang dan bukan Taecyeon. Meskipun Taeyang berada bersama Changmin dan Kibum sekarang, tetap saja dia penasaran.

”Changmin tak ada.” Seolah mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh Jaejoong, Taecyeon langsung menyela. Mendengar apa yang dilontarkan oleh sang penjaga, Jaejoong mengangguk tanda mengerti. Dia segera menutup pintu dan mengikuti Taecyeon menuju ke lantai yang ditempati Yunho, lantai 1.

.

.

Beginilah keseharian mereka, menunggu untuk dipanggil oleh sang master.

Terkadang ada juga hari di mana mereka tak akan dipanggil sama sekali dan bisa bersenda gurau dengan para personal slave yang lain.

Kadang pula mereka berkunjung ke belakang pintu hitam untuk menemui sahabat mereka dulu. Hal ini tentunya sangat dilarang oleh Yunho, tapi sekali dalam sebulan mereka diijinkan untuk melewati pintu hitam.

Waktu itu akan tiba dan anda akan saya bawa untuk menemani mereka.

Sekarang, mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh Minho pada Taemin.

.

.

”Akhirnya kau datang juga,” gumam Minho dengan nada datar.

Gulp.

Taemin menelan ludahnya. Bisa dilihat bahwa ekspresi takut terlihat sekali di wajah namja cantik itu. Ketika dia hendak berjalan mendekat ke arah sang master, sebuah tangan terangkat dan dia menghentikan langkahnya. ”Ah, ah, kau tetap di sana.”

Minho berdiri dan kemudian menarik Taemin sehingga namja mungil itu masuk ke dalam dekapannya. ”Kau tahu bahwa kau membuatku malu kemarin?” Entah kecepatan dari mana dia sudah kembali mendorong Taemin hingga namja manis itu menabrak dinding yang keras.

Tok. Tok.

Suara ketukan pintu menghentikan gerakan Minho. Dia menyeringai dan kemudian berbisik ke telinga Taemin, ”Let’s enjoy the show. Masuk.” Begitu mendengar perintah dari Minho, pintu kamarnya terbuka dan tampillah sesosok namja yang cantik. Dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sedikit tua dari Taemin dan Minho, namun usia tidak masalah.

”Anda memanggil saya, Minho-shi?” tanya namja itu dengan suaranya yang lembut.

Minho segera melepaskan genggamannya dari Taemin dan segera menghampiri namja manis itu. Tangan kanannya menyelip di pinggang namja manis itu dengan seringaian terpasang di wajahnya. Dalam sekejap mata, tidak ada jarak lagi di antara kedua namja yang sekarang tengah berciuman di hadapan Taemin. Kedua matanya membesar karena terkejut. Ada sebuah perasaan lain di dalam tubuhya ketika melihat Minho mencium orang lain selain dirinya. Iri. Karena dia selalu merasa bahwa Minho tetap adalah miliknya dan begitu juga sebaliknya. Takut. Takut andaikata Minho membuang dirinya dan membuatnya kembali ke lantai bawah, lantai penuh dengan kenangan mengerikan. Dia tidak akan bisa bertahan selama lebih dari 10 hari jika dia harus dikirimkan ke balik pintu hitam itu.

”Ah, Key, kau memang pintar memuaskanku.” Suara rendah Minho menyadarkan pikiran Taemin. Dia bisa melihat bagaimana Minho tersenyum puas terhadap namja manis yang menyengir.

”Semua untuk anda, Minho-shi,” jawab namja bernama Key.

Taemin masih diam mematung ketika dia melihat Minho menarik Key ke atas ranjang yang ada di depannya. Mereka saling bercumbu dan seolah mengabaikan kehadiran Taemin. Ini adalah hukuman paling menyakitkan daripada hukuman lain yang pernah dia terima. Hukuman yang sangat menyakitkan mentalnya.

Ketika dia hendak meraih kenop pintu untuk keluar, sebuah pernyataan peringatan menghalanginya, ”Kau keluar dari pintu itu dan aku pastikan kau kembali kepada tempatmu yang semula.” Tubuh Taemin menjadi kaku seketika kala mendengar suara mengerikan dari Minho. Dia berbalik dengan perasaan tak menentu. Jantungnya terasa berhenti seketika ketika melihat bahwa kedua namja yang berada di kasur Minho sudah setengah telanjang. ”Kemari.” Suara Minho datar namun Taemin tahu ada nada perintah di baliknya.

Begitu dia menghampiri mereka, tubuhnya langsung ditarik dan punggungnya langsung bertemu dengan kasur. Sementara itu, Key masih sibuk menciumi setiap inci tubuh Minho yang sudah tak memakai apapun sama seperti dirinya.

Srak.

Kaos yang dikenakan Taemin segera disobek oleh Minho begtu pula dengan celananya yang ditarik paksa. Sekarang Taemin tak kalah polosnya dengan kedua namja yang berada di atasnya. Minho menyeringai melihat ekspresi Taemin yang terbaik. Hal yang paling menyenangkan adalah melihat keadaan mainannya tak berdaya seperti saat ini.

”Urmm.” Desahan keluar dari mulut Taemin ketika Minho langsung melumat bibirnya saat itu juga. Lidah mereka saling bertarung yang tentunya dimenangkan oleh Minho. Tangan Minho mulai meraba-raba tubuhnya yang polos. Ketika bertemu dengan kejantanannya, Taemin sedikit menaikkan badannya karena menginginkan sentuhan dari sang master yang disusuli oleh erangan kecewa dari Taemin karena tak mendapatkan apa yang diharapkannya. ”Khekhe. Kau tentu tidak mengharapkan ini akan selesai begini saja bukan?”

Gulp.

Taemin menelan ludahnya ketika melihat Minho sudah memegang vibrator yang letaknya tak jauh dari mereka tadi. Vibrator yang berwarna hitam kebiruan itu terlihat begitu mengerikan di mata Taemin karena ukurannya yang besar. Dalam satu sentakan, Minho langsung memasukkan vibrator tersebut ke dalam tubuh Taemin.

Bibir Key segera membungkam suara jeritan yang ingin dikeluarkan oleh Taemin. Minho menyengir melihat apa yang ada di bawahnya saat ini. Dua namja manis itu saling bertarung lidah. Dia bisa merasakan bahwa miliknya sudah mulai menegang dan siap untuk mencapai orgasme. Segera dia melanjutkan aksinya untuk memasukkan vibrator tersebut lebih dalam lagi ke dinding sempit milik Taemin.

Namja manis itu bisa merasakan sesuatu yang dingin dan bersifat metal menyentuh miliknya. Cock ring terpasang indah di kejantanannya yang sedikit berdiri. Minho mengecup singkat milik Taemin yang sedikit kecil itu.

Rambut Key langsung ditarik –dijambak – oleh Minho sehingga lumatannya terhadap Taemin terhenti. Bibirnya langsung bertemu dengan milik Minho. Dia membiarkan lidah Minho memasuki mulutnya dan menjelejahi gigi dan setiap inci mulutnya. ”Urm…ahh…” Tak lupa dia mengeluarkan desahan-desahan yang pasti akan menaikkan libido Minho.

”2 jam saja, Taemin, 2 jam saja kau bisa bertahan, maka hukumanmu selesai,” perintah Minho yang sudah memutar badan Key hingga sang master melihat punggung putih tak bercela itu.

Pipi Key bertemu dengan kasur yang empuk. Badannya yang miring sedikit melayang di atas Taemin sehingga namja mungil itu bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh dua namja itu. Doggy style. Minho memasukkan miliknya ke dalam dinding rektum Key tanpa persiapan dalam posisi doggy style. Dalam posisi itu, Taemin bisa melihat bagaimana milik Minho ditelan oleh hole Key. Bagaimana milik Key terlihat semakin menegang dan bergesekkan dengan miliknya memberikan rangsangan tersendiri.

”Ohh..ahh…more master…more…” Suara desahan dari Key sendiri membuat Taemin merasa semakin sesak. Ingin rasanya dia mencapai orgasme namun tertahan. Air matanya mengalir perlahan dari kedua matanya. Entah karena sakit karena tak bisa mencapai orgasme atau sakit karena melihat master-nya menyetubuhi orang lain selain dirinya.

.

.

Anda perlu tissue?

Sama-sama. Anda tidak perlu malu, saya juga dulu seperti anda ketika pertama kali datang.

Namun, lama kelamaan anda pasti akan terbiasa. Di sini berlaku sedikit hukum rimba, siapa yang kuat dia yang bisa bertahan.

Semuanya akan melakukan apapun demi bisa bertahan hidup.

Jika anda tanya kenapa mereka tidak keluar. Jawabannya hanya dua, mereka tidak bisa keluar karena Yunho akan langsung menemukan mereka atau mereka akan langsung menjadi makanan Mitsu saat itu juga.

Kedua, ke mana mereka akan pergi jika mereka keluar dari tempat ini? Tak ada yang akan menerima mereka. Bisa dikatakan mereka adalah yang terbuang dari masyarakat. Hanya berada di sinilah mereka bisa tetap bertahan hidup.

Psst…ayo sekarang kita ikuti Changmin dan Kibum. Jangan berisik, oke?

.

.

Suasana begitu hening di mobil yang digunakan oleh Taeyang untuk membawa Changmin dan Kibum keluar. ”Kita mau ke mana?” tanya sang supir untuk memecahkan keheningan di antara mereka bertiga.

”Terserah,” jawab Kibum dengan singkat.

”Aku tidak tahu. Apa kau ada ide, Taeyang-shi?” tanya Changmin dengan lembut kepada Taeyang yang duduk di seberangnya.

Taeyang yang ditanya segera menggaruk-garuk rambutnya yang berbentuk mohawk yang tidak gatal sama sekali. ”Bagaimana ya? Aku kurang tahu juga, hehe.”

Changmin memajukan bibirnya karena terlihat sekali bahwa namja itu sedang berpikir. ”Hei, kenapa kau kecewa bukan Taecyeon yang menemani kita?” Satu pertanyaan dari Kibum sontak membuat suasana menjadi canggung.

Namja yang lebih pendek dari Changmin itu menyandarkan tubuhnya antara pintu dan sandaran kursi. Kedua tangannya terlipat. Matanya penuh selidik menatap Changmin yang hanya menyengir tak jelas. ”Aku tak kecewa kok,” jawab Changmin dengan nada ceria. Kibum tak percaya dengan jawaban yang didapatnya, tapi berpikir bahwa tak bisa mendapat lebih lagi, dia akhirnya hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali meletakkan kedua tangannya di samping tubuhnya. ”Terserah kau saja.”

”Aku ingin pergi ke taman bermain, tapi aku juga ingin berkunjung ke museum seni, ah tapi-tapi aku juga ingin ke restoran all you can eat seharian!” ujar Changmin dengan nada ceria. Tak dipercaya bahwa namja ini adalah namja dingin yang pertama kali menginjakkan kaki ke tempa itu. Tak bisa dipikir dengan akal sehat juga kalau namja ini adalah namja yang telah melewati 10 jam bersama keempat master namun masih bisa berjalan dalam keadaan sehat.

Taeyang tertawa keras mendengar pernyataan Changmin yang seperti anak kecil. ”Ne, arasso, tapi kita tak bisa pergi ke semua tempat sekaligus.”

”Bummie mau pergi ke mana?” Sejenak Kibum menatap Changmin dengan perasaan terkejut ketika namanya dipanggil dengan Bummie. ”Mian, boleh kupanggil Bummie?” tanya Changmin dengan hati takut membuat saudara Kyuhyun itu marah.

Kibum mengangguk perlahan. ”Ne, tak masalah. Sudah kukatakan terserah padamu, hari ini kan seharusnya kau yang pergi.”

”Ayolah, kalau ada tempat yang ingin kau datangi tempat apa itu?” Dia terus mendesak Kibum hingga akhirnya yang didesak hanya bisa menghela nafas pasrah.

”Museum fotografi, teater, dan perpustakaan,” jawab Kibum dengan nada datar.

”Perpustakaan? Membosankan!” seru Changmin.

Kibum tersenyum simpul dan Taeyang hanya bisa tertawa pelan. Akhirnya mereka berunding lagi ke mana tujuan mereka hari itu. Supir yang tadi sudah keluar karena diabaikan sekarang sudah kembali masuk dan mulai menjalankan mesinnya.

.

.

Menurut anda, mereka akan pergi ke mana?

Taman bermain?

Museum fotografi dan Perpustakaan?

Atau

Teater dan Restoran all you can eat?

Bagaimana nasib Jiyong?

Bagimana dengan Taemin?

Apakah yang akan dihadapi Jaejoong kala Yunho menemuinya nanti?

Dan

Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Changmin dan Taecyeon?

.

.

eL-ch4n

presents

”Day One”

.

.

A/N:

Semoga chapter ini memenuhi harapan anda semua ^^ Tapi Minho dan TOP sadis juga ya di sini -___-”” merinding juga jadinya..hahaha…

Berikut hasil votingnya XD

Untuk yang dipilih pergi bersama Changmin:

Kihyun (45)

Se7en (11)

GD, Jaejoong, Taemin (2)

Pertanyaan yang dipilih:

Bagaimana para master memilih personal slave (25)

Bagaimana hubungan antara kelima masters (10)

Bagaimana Yunho menemukan para slaves (10)

Kali ini, kalau anda bersedia untuk ikut voting saja ^^

Ke mana Changmin dan Kibum akan pergi?

Taman bermain

Museum fotografi dan Perpustakaan

Teater dan Restoran all you can eat

Spoiler: Tempat yang dipilih tempat untuk..kalian tahu 😉 tapi belum tentu ChangBum, hoho, so, expect for the unexpected. ^^

Kesimpulan review:

Satu. Safe Word itu adalah kata yang digunakan dalam permainan BDSM seperti ini. Kata itu digunakan jika dalam hubungan itu, salah satu sudah menuju terlalu ekstrim. Ketika kata itu terucap maka permainan BDSM itu dihentikan. Safe word itu HARUS kata yang unik. Kata-kata seperti ’Don’t’, ’Stop’, atau ’No’ tidak pernah digunakan karena kata itu sering terucap dalam hubungan seperti ini. Biasanya mereka menggunakan: red (artinya sudah berlebihan), yellow (masih oke), green (tidak ada masalah). Ini saya dapat dari wiki, mian klau translation agak error dikit…tapi intinya begitu ^^

Dua. Kibum dan Kyuhyun adalah duo personality, tapi satu tubuh. Tahu Ranma ½? Ya kurang lebih mereka seperti itu ^^ kalau berubah kepribadian maka penampilan mereka otomatis juga berubah.

Tiga. Saya ini HANYA MANUSIA BIASA yang punya kekurangan, jadi saya MINTA MAAF jika ada kata-kata yang menyinggung chingudeul m(_0_)m hontouni gomennasai *deep bow*

Empat. Kasian amat si narator dibilang tour guide Safari -__-”  dan saya senang kalau suka dengan pembawaan si narator, saya takut pada ngerasa aneh ^^

Lima. SUPER DUPER TERIMA KASIH buat dukungannya ya semua *hug reviewer dan readers satu per satu tightly*

Enam. Saya butuh asisten buat voting nih, ada yang bersedia? #plak #abaikan

.

A/N terakhir

Udahlah saya capek kalau masih PAIR WAR atau ngeFLAME authornya sendiri -__-”” silakan anda mau berkoar-koar karena saya yakin anda sendiri pasti akan capek. Lagipula daripada MENJATUHKAN orang lain bukankah lebih baik anda MEMBANGUN diri anda sendiri dulu ya? 😉

Jadi, saya harap semua chingudeul suka dengan chapter ini dan menginginkan saya untuk tetap melanjutkannya ^^

Hmm. Terakhir, selamat membaca ^^

.

.

Hari pertama belum selesai.

Masih ada kurang lebih 11 jam lagi.

Menurut anda ke mana Changmin dan Kibum akan pergi?

Taman bermain?

Museum fotografi dan perpustakaan?

Teater dan restoran all you can eat?

Lalu, mobil hitam yang membuntuti Changmin dan Kibum sekarang itu milik siapa?

Siwon master Kibum dan Kyuhyun?

Mungkinkah Se7en?

Atau adakah orang lain seperti Taecyeon mungkin?

Saya katakan selamat datang karena ini hari pertama mereka akan kembali bekerja.

Anda akan saya antarkan masuk ke balik pintu hitam jika anda sudah siap dan tentunya bertepatan dengan hari para personal slaves diijinkan untuk masuk ke sana.

Selamat datang.

Dan karena anda sudah masuk, maka anda sudah tak bisa keluar.

Saya senang bertemu dengan anda yang rela untuk mendengarkan kisah mereka yang selalu tersembunyi.

Inilah kehidupan.

Saya ucapkan selamat menikmati.

.

.

Last, review? 😉

_Verzeihen

Advertisements

29 responses to “Chapter 4: Day One

  1. hukumannya harus nahan orgasm selama berjam2 ne,hah jadi slave emang harus tahan banting banget.
    Jaema ama Yunpa belum beraksi ne.

  2. wah… kibum akhirnya muncul jga.. aq bingung jadi sebenernya itu kyuhun baik ma kembarannya aka kibum atau gmna.. kibum ma kyuhun masih penasaran ma orang ini…

    wah… para slave bener2 deh.. tenaga’a pada kuat2.. ckckck
    kasihan jiyong harus dihukum cma gara2 deket2 ma dara..ckckck..

    ya ampun sumpah deh..minho jahat bener ma taemin!! kyk’a master yg paling g pnya hati ke slave’a itu ci minho deh..ckckck…

  3. penasaran sama Taecyon dan Changmin, apa mereka saling kenal sebelumnya? nan molla.. dan TOP, heeuuuhh posesif bgd c tuh namja, gregetan jadiny.. ckckck

    aku mau bilang, author-ssi aku padamu, hhe.. why? biasany aku paling gk bs baca ff di luar cast Lee Sungmin krn susah buat dapetin feel nya, kdg juga wlw cast nya Lee Sungmin, kl author-nya gk lihai, aku jg susah dpt feel-nya.. tapi ini, aku bs sampe ch 4 jadi aku bs blg kl ini satu2-nya ff yunjae, GD-TOP, WonKyubum, 2Min yg aku suka krn dpt feel-nya.. mgkn aku jg mulai suka sama Se7Min ㅋㅋㅋ

    • ah..saya juga penasaran ._.)
      Wah aku terharu…bagus sekali kalau chingu jadi suka sama se7min. Ayo tebarkan virus mereka bersama y 😀
      Gomawo untuk reviewnya ^^v

  4. Penuh tanda tanya….
    Apakah dulu Dara dan Jiyong pernah berhungungan? Apakah Taecyeon dan Changmin sudah saling kenal? Lalu Taemin itu cemburu sama Key ya?
    Huah…. Penuh rahasia….

  5. gulp…..#nelen air liur saking tegangnya
    minnie lbh baik ke resto aja buat bs mkn yg byk buat tambahan stamina, hehee….
    aigoo…. minho 3some ne~

  6. .waa!!trnyta yg sya pikirkan benar!changmin mengajak kibum!hehe
    .bolehkah saya ikut menebak?mmm,,mnurut sya sprti’a kibum dan changmin akan prgi k t4 ke 3,teater dan restaurant,itu si hrpan sya sja,,^_^
    .dan kalo tntang mobil yg membuntuti mrka brtiga,,sepertinya milik se7en y,,#sok tau
    .haha,y sdh,dri pda pnsran,lbih baik sya menuju chap slnjutnya saja,,
    .gomawo ne!!keep writing!fighting!! 0_^b

    • hehe..baguslah .w<
      boleh2 🙂 dan sepertinya tebakan anda benar 😉
      sebenarnya tak ad dalam pilihan, tapi karena pada memilih, jadi silakan 😀
      Cheonma
      hehe
      hwaiting ^^v

  7. Panas dingin bacanya :&
    Sesadis2nya TOP mgkn lebih sadis lg minho kali yaa :”
    Oh ya, knp cm jaemma yg ga pake lampu panggilan??
    Naratornya itu ada cast tersendirinya ga??
    Saya penasaran…
    Oke, saya mau lanjut lg :3

  8. huhuhuhu mau liat 3somenya minkeymin masa u,u seharusnya full tuh beb pasti keren heheheh
    jidiiii uhhh kesian bebeb aku satu ini.. enak eoh dihukum gt… 3 jam doang?g lama sekalian kkkk

  9. Author-nim, mau tanya aku reader baru ni.. hehe.., Kenapa ygChap 1 ma Chap 3 eror? aku sangat penasaran! Kumohon diperbaiki… >_<

  10. Jiyong dan Dara… Changmin dan Taecyeon… Ada hubungan apa ya di antara mereka… Penuh tanda tanya ini -_-

    Akhirnya yg dinanti datang juga -> Penyiksaan personal slave dgn couple masing-masing.

    Aigooo, Minku yg dingin bisa childish juga ternyata *tiba-tiba dijitak dongWook
    *gara2 panggil changmin Minku *kabur bareng baby panda Tao *eh(?)

    Key itu siapanya Minho ya? Kayaknya bukan slave yg di pintu hitam, hmmm

    • Saya jga gak tahu. Saya jg pusing Q.Q

      Hahaha. Sudah paling ditunggu itu kaykny xDD

      *ikutan jitak* *eh kkk kenapa jadi ama Tao? O.oa

      Iya, dia itu slave di balik pintu hitam lho ;)) kkk~

  11. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

Comments are closed.