Chapter 7: Newcomer


Kesempatan kali ini saya yang ingin mengatakan pada anda.

Jika anda TIDAK SUKA, JANGAN BACA!

Saya sarankan bagi anda jika TIDAK TAHAN, SILAKAN KEMBALI! Saya akan antarkan anda pada pintu keluar.

Intinya ketika anda memutuskan untuk membaca ini, silakan tanggung sendiri akibatnya dan JANGAN memarahi author hanya karena ketidak-mampuan anda untuk membaca!

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

.

.

Chapter 7

.

.

Bangun! Bangun!

Ah, maaf saya terkesan kasar, tapi kita harus bergegas sekarang.

Bukankah kemarin anda bilang ingin mengikuti salah satu kegiatan sang master bukan?

Saya sudah menanyakan yang lain dan sepertinya hanya Siwon yang tidak keberatan, jadi ayo kita harus segera berangkat.

Tentu saja sekarang! Di antara semua master, dia itu yang paling rajin dan selalu paling pagi untuk keluar.

Kalau anda segera bersiap-siap, anda akan tahu dia pergi ke mana.

Ayo!

.

.

Saat fajar baru menyingsing, matahari terbit menampakkan dirinya, mewarnai cakrawala menjadi warna oranye yang terlihat indah. Namun, pada perspektif yang lain, warna itu seolah menunjukkan sebuah kesedihan. Terlepas dari semua itu sebenarnya, pagi hari mengartikan dua hal. Satu, sebuah harapan untuk menjalani hidup dan menempuh jalan yang baru. Atau, dua, satu hari penderitaan yang harus dilalui.

Pagi itu, cuaca masih dingin. Ketika kau mengambil nafas, deru nafasmu bisa terlihat dalam bentuk asap bening. Di pagi yang begitu dingin dan sepi itu, di salah satu gereja yang terdapat di tengah kota, jauh dari tempat penderitaan itu ada, berdirilah seorang Choi Siwon. Matanya terlihat sendu ketika mengamati bangunan bertanda salib di hadapannya. Ada perasaan rindu dan gugup ketika kakinya melangkah masuk ke dalam bangunan suci itu.

Tentu saja, suasana di dalam ruang kebaktian yang terletak di lantai satu masih sepi. Gedung gereja itu tidak begitu besar dibanding gereja yang lain. Sederhana dan menunjukkan rasa kekeluargaan yang hangat. Setidaknya itulah yang dirasakan dan ingin dicari oleh seorang Choi Siwon.

”Selamat pagi anak muda, apa ada yang bisa kubantu?” Siwon yang tadinya mengamati arsitektur dari gereja yang berbau klasik itu memutar kepalanya menuju ke sumber suara. Dia mengangguk pada seorang pendeta yang memakai kemeja dengan tuxedo hitam dipadu dengan celana hitam berbahan kain.

”Hanya ingin merenung saja, Bapa,” jawab Siwon.

Pendeta itu mengangguk tanpa melepaskan senyuman hangat di wajahnya. Meskipun sudah tua, Siwon masih bisa melihat karisma yang tampak dari sang pendeta. Dia kemudian membiarkan Siwon untuk duduk di salah satu kursi untuk berdoa dan mencari ketenangan. Siwon yang ditinggal sendirian akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi paling depan. Kepalanya tertunduk. Tangannya terlipat seperti sedang berdoa.

Entah apa yang dipikirkannya. Tak ada kata terucap. Hanya matanya terpejam dan pancaran kesedihan serta kekecewaan terlihat dari sekujur gerak-geriknya. Cukup lama dia berada dalam posisi tersebut. Merasa telah mendapatkan kedamaian yang dia cari, dia kemudian berjalan ke depan altar dan menatap pada salib yang ada di hadapannya.

”Dia akan selalu menerima setiap jiwa yang hilang,” ujar pendeta tadi dengan lembut.

Siwon mengangguk sebagai sebuah sapaan pada sang pendeta. ”Saya tahu akan hal itu,” balas Siwon dengan ramah.

Kembali pendeta itu tersenyum. ”Apa ada sesuatu yang sedang meresahkan dirimu, anak muda?”

Hening. Siwon terdiam tak tahu harus membalas apa. Meresahkan? Banyak. Bahkan jika diuraikan dengan kata-kata, 200halaman pun dia rasa tidak akan cukup. Terlalu banyak hal yang ingin dia tanya. Terlalu banyak hal yang menjadi misteri baginya. ”Sepertinya banyak yang ingin kau tanyakan. Ingatlah satu hal nak, semua hal terjadi karena satu alasan dan yakinlah bahwa Ia menciptakan segala sesuatu indah pada waktunya (1).”

Namja pemilik Choi Corporation itu mengangguk tanda bahwa dia mengerti dengan perkataan sang pendeta. ”Dan ingatlah, jika kau merasa lelah, datanglah kemari. Mungkin tidak bisa menyelesaikan masalahmu, tapi sekiranya dengan itu kau bisa mendapatkan kedamaianmu kembali.”

”Pak pendeta, ada telepon untuk anda,” sela sebuah suara tinggi dari arah kanan mereka.

Tampak seorang yeojya berparas manis. Rambutnya berwarna hitam dengan potongan bob. Kemeja warna putih dengan garis vertikal berwarna hijau membentuk lekuk tubuhnya. Celana jeans panjang yang dia kenakan membuat yeojya itu terlihat sedikit tinggi. ”Ah ne, aku akan ke sana. Sevine, bisakah kau menemani anak muda ini?”

Yeojya bernama Sevine itu mengangguk dengan malu tatkala matanya menangkap sosok Siwon yang terlihat sempurna di depannya. Siwon hanya tersenyum lembut sembari menggelengkan kepalanya. ”Ani, gwenchana. Sebentar lagi juga saya harus pergi. Panggilan tugas,” tutur Siwon. Raut kekecewaan sedikit terlintas pada wajah yeojya itu, tapi kemudian Sevine kembali tersenyum dan mengantarkan Siwon menuju ke depan gerbang gereja.

”Gomawo, kau tidak perlu mengantarkan diriku sampai ke depan,” ujar Siwon yang menunjukkan dimple smile-nya.

Sevine tersenyum malu dan kemudian menggelengkan kepalanya. ”Ani, gwenchana. Semoga hari anda menyenangkan, oppa.”

”Ah, ne, Tuhan memberkati,” balas Siwon dengan sedikit gugup. Entah kenapa mengucapkan kalimat itu membuat lidahnya terasa sedikit ngilu. Ada sesuatu yang terlupakan, tapi entah apa itu.

Ada perasaan aneh ketika melihat Sevine tersenyum ke arahnya, sebuah senyum yang seolah mengartikan bahwa yeojya itu tahu apa yang sedang disembunyikan oleh Siwon saat ini. ”Tuhan selalu memberkati kita, hanya saja terkadang kita terlalu buta untuk menyadari berkatnya. Mungkin seharusnya yang anda katakan adalah ’Semoga kau menyadari berkat Tuhan dalam hidupmu’.”

Siwon merasa yeoya itu cukup aneh. Sesaat dia terlihat seperti seorang yeojya yang pemalu dan tiba-tiba saja sekarang dia terlihat bijaksana. Namja itu kemudian mengangguk dan mengundurkan dirinya. Dia memutar badannya tak menghiraukan bahwa pandangan orbs hitam milik sang yeojya masih berada di punggungnya.

Dia berbisik perlahan dengan harapan agar sang angin bisa membawa ucapannya menuju ke telinga Siwon. Namun, harapan hanya sebuah harapan. Sebuah hal semu yang belum tentu bisa menjadi nyata. Hanya satu kalimat yang dia ucapkan, tapi penuh perasaan dan kesedihan.

”Siwon-oppa, tak ingatkah kau pada diriku?

Biarlah hanya angin yang mendengar dan membawa pesan itu. Biarlah gedung bangunan itu menjadi saksi bisu atas emosi sendu yang terpancar di wajah yeojya itu. Karena seperti angin yang berhembus dan pergi tanpa meninggalkan jejak, mungkin seperti itulah keberadaan sang yeojya itu di dalam pikiran seorang Choi Siwon.

.

.

Eh? Saya juga tidak tahu siapa yeojya itu.

Bertemu dengan dirinya juga hanya sekarang.

Anda tidak perlu melihat saya seperti saya menyembunyikan sesuatu.

Bukankah sudah saya katakan dari awal bahwa saya akan mengantarkan anda?

Tak ada yang saya sembunyikan.

Setidaknya tidak sekarang.

.

.

Siwon keluar dari mobil benz hitamnya. Baju yang dikenakannya sekarang lebih formal. Black suit dipadu dengan kemeja putih dan celana berwarna hitam. Atribut yang biasa digunakan oleh para pebisnis. Tampangnya sekarang tanpa ekspresi. Tak ada lengkungan pada bibir merahnya. Hanya ekspresi datar. Dia mengambil nafas panjang sebelum menekan tombol panah atas dengan ibu jarinya. Sembari menunggu angka lift yang menunjukkan lantainya berada, dia berpikir pada kejadian tadi pagi.

Wajah yeojya itu terbayang di dalam kepalanya. Siapa dia? Kenapa ada perasaan familiar ketika yeojya itu memandangnya pertama kali? Orbs hitam itu seolah membuat dia tenggelam pada sebuah mimpi yang dia lupakan.

Ding.

Pintu lift yang terbuka segera membuyarkan pikirannya. Dia melangkah masuk pada lift yang kosong itu dan kemudian menekan angka 27 yang tertera di sana. Badannya bersandar pada dinding sebelah kanan. Matanya melihat angka yang tertera di layar yang berganti. Kalau sendirian seperti ini, tubuhnya serasa begitu sesak. Perasaan kesepian mendadak melanda hatinya. Tidak seharusnya dia seperti ini, tapi itulah yang terjadi pada dirinya.

”Aku tahu apa yang kau lakukan dengan Taecyeon, hentikan semuanya atau kau akan menyesal.

Bagai sebuah mantera, kalimat itu terus terulang di kepala Siwon. Pernyataan Kibum tentang dirinya. Benarkah slave-nya tahu apa yang sedang dia lakukan? Tapi Kibum memang berbeda dari yang lainnya. Semenjak matanya mendarat pada namja itu, Siwon tahu bahwa dia harus memilikinya. Tidak peduli meskipun ada Kyuhyun yang menjadi perantara mereka. Dia tidak egois, tidak, Siwon bukanlah namja yang tidak tahu harus memilih yang mana. Hanya saja dia tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun begitu saja terutama ketika namja itu adalah saudara kembar dari Kibum.

Ah, beginikah sulitnya untuk memilih, Siwon? Tak bisakah kau melupakan kebaikan hatimu sesaat dan memutuskan untuk bertindak kejam? Oh iya, kau sudah kejam, menjadi orang paling kejam yang pernah ada terutama ketika kau memutuskan untuk mengikuti Yunho. Sebenarnya, tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini, kalaupun ada, mungkin salahkan dirimu yang waktu itu terlalu naif. Terlalu naif sehingga percaya pada kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia ini.

Entah kenapa Siwon merasa bahwa lift berjalan begitu lama seolah sedang membiarkan dia untuk memikirkan semua masalah yang sedang ada di kepalanya. Selalu begini. Setiap melewati hari ketika dia dan keempat master lainnya menyetubuhi satu personal slave, dia akan menjadi seperti ini. Mengetahui besok adalah hari untuk para personal slave masuk ke dalam pintu hitam juga tidak membantunya. Ah, memikirkan kalau Kibum dan Kyuhyun harus kembali pada pintu itu membuat Siwon merasa sedikit sesak. Ingin rasanya dia menangis. Beginikah yang harus dirasakan oleh Taecyeon?

Taecyeon.

Kedua mata Siwon mendadak terbuka lebar. Namja itu, namja tegar yang selalu memasang wajah tanpa ekspresi dan hanya tersenyum sesekali itu tiba-tiba melintas di dalam otak Siwon. Mengetahui apa yang sudah dikorbankan Taecyeon, Siwon menjadi malu. Apa yang dia korbankan, apa yang dia kerjakan tidak sebanding, bahkan tidak akan pernah menandingi namja bertubuh atletis itu. Terkadang Siwon berpikir, kenapa Taecyeon bisa bertahan di tempat itu? Kenapa namja itu tidak keluar saja?

Namun dia terkekeh perlahan. ”Bodoh kau Siwon, bodoh,” bisiknya entah pada siapa.

Hanya ada satu alasan kenapa Taecyeon tidak keluar. Bukan karena tidak bisa, tapi namja itu tidak mau. Prinsipnya untuk menjaga tempat itu merupakan hal yang paling penting. Seperti sebuah warisan tidak tertulis yang mengikat Taecyeon pada tempat itu. Sama seperti dirinya dengan keempat master lainnya, terutama Yunho.

Semua master tahu apa yang sudah dilewati oleh sang headmaster, apa yang harus ditempuh oleh Yunho hingga dalam usia 17 tahun dia sudah bisa menduduki posisinya sekarang. Sangat hebat kalau diingat Yunho berasal dari kalangan menengah ke bawah. 5 tahun bukan waktu yang mudah namun Yunho sudah menjalani proses itu sejak usianya masih 12 tahun. Kalau dipikir-pikir, Siwon menjadi malu akan dirinya sendiri yang terkadang mengeluh. Mencari kedamaian terhadap apa yang dia lakukan. Terkadang dia iri dengan ketegaran yang ditunjukkan Yunho. Ketenangan yang diperlihatkan oleh TOP. Kejenakaan Minho. Kesabaran Taecyeon. Bahkan, kesadisan seorang Choi Dong Wook.

Dia tahu setiap master mempunyai rahasia sehingga terperangkap pada tempat itu, tak terkecuali dirinya. Hanya saja mereka tahu lebih baik daripada untuk menanyakan satu sama lain. Lift kemudian terhenti dan mengeluarkan bunyi ’Ding’ sekali lagi. Sedikit enggan, Siwon akhirnya melangkah keluar dari lift.

Dan sekarang mulailah keseharian Siwon, bukan sebagai master, melainkan sebagai Choi Siwon, pemilik Corporation.

.

.

Sekarang kita bisa melihat keseharian salah satu master.

Yah, tidak lebih dari pemilik perusahaan yang lain.

Tugas Siwon memastikan bahwa semuanya berada di dalam kendali.

Ada beberapa kaki tangan atau orang kepercayaannya.

Saya tidak akan menyebutkannya, karena saya rasa itu tidak terlalu penting.

Setdaknya tidak akan mempengerahui apa yang sedang ingin anda ketahui.

.

.

Ruang kerja Siwon terlihat simpel dan rapi. Semua tersusun pada tempatnya membuat suasana kerjanya terlihat nyaman. Ada sofa yang terletak di samping pintu yang digunakan untuk para tamu yang datang ke ruangannya. Aroma kopi memenuhi ruangan. Salah satu hal yang wajib memenuhi ruang kerja Siwon di pagi hari. Menurutnya, aroma kopi itu bisa sedikit menenangkan dirinya dan membuat kepalanya bisa berpikir jernih.

”Maaf tuan anda –”

Sayangnya, ketenangannya tak bisa bertahan lama ketika pintu kantornya terbuka menampakkan Minho yang memakai gaya punk sedang berjalan ke arahnya. Di belakang sang rapper, terlihat sekretaris Siwon yang kelabakan atas perbuatan Minho. Sementara namja itu? Minho hanya menyeringai dengan kedua tangan berada di saku celananya.

Tangan Siwon terangkat menandakan bahwa dia tidak keberatan dengan kehadiran Minho. Sang sekretaris menunduk dan kemudian kembali menutup pintu untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Minho yang sudah ditinggal sendiri bersama Siwon kembali menyeringai. Dia kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Siwon sehingga sekarang keduanya saling bertatapan. Kaki Minho kemudian terangkat di atas meja membuat Siwon harus menghentikan pekerjaannya.

”Bisakah kau turunkan kakimu, Minho?” tanya Siwon dengan tenang meski amarahnya mulai meronta untuk keluar. Minho hanya menyengir lebar dan meletakkan pada ujung meja. Setidaknya sekarang Siwon mempunyai tempat untuk melanjutkan kembali aktivitasnya.

Suara pen yang menggores di atas kertas putih yang menjadi satu-satunya sumber suara di tempat itu sampai akhirnya terdengar sebuah suara nista.

Bayangkan bagaimana wajah Siwon ketika mendengar suara ”Ah…more…” dari arah Minho.

”Opps, my phone,” jawab Minho sembari menyengir lebar. Tak ada sedikitpun rasa malu di wajah namja itu. Sebaliknya Siwon hanya bisa menepuk kepalanya dan kemudian menggelengkan kepalanya karena tak bisa menghadapi kelakuan dongsaengnya ini. ”Hehehe. Bagaimana? Suara Taemin indah kan?” tanya Minho dengan cengiran di wajahnya.

”Ne,” ujar Siwon pasrah. Bermaksud melanjutkan aktivitasnya kembali sepertinya bukan hal yang tepat selama Minho masih berada di sini. ”Apa maumu?” tanyanya pada akhirnya. Dia cukup penasaran tentunya dengan keberadaan Minho di sini.

Mendengar pertanyaan Siwon tadi membuat sang rapper menyeringai. Dia kemudian menarik kakinya dari meja Siwon dan kemudian memajukan tubuhnya hingga jarak di antara mereka begitu dekat. Siwon tersentak ketika Minho mengeluarkan sesuatu dari saku celanananya dan meletakkan sesuatu itu di tengah-tengah mereka. Setelah mencerna cukup lama, akhirnya dia mengetahui bahwa itu adalah sebuah flashdisk.

Akhirnya dia mengetahui apa yang sedang dilakukan Minho dan namja itu kemudian menghela nafas. ”Jadi, kau datang ingin menunjukkan penemuanmu yang terbaru?” tanya Siwon.

”Hei, kali ini aku yakin kau akan suka,” sela Minho dengan cepat. Ekspresi gembira tak pernah lepas dari wajahnya dan Siwon menjadi penasaran terhadap hal tersebut.

”Ya, dan itu yang kau katakan pada 13 percobaanmu sebelumnya,” tutur Siwon disertai helaan nafas panjang.

Minho menggelengkan kepalanya dan menyeringai. ”I’m fucking serious when I say you’re going to like it,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, mungkin kalimat yang dilontarkan Minho akan terdengar bagai bahasa dewa entah darimana. ”If I fine it’s another joke, you’re going to regret wasting my time,” balas Siwon tak kalah fasih.

Tentu saja dia tahu bahwa itu hanya sebuah ancaman tak berwujud. Minho tak akan pernah terpengaruh dengan apapun terutama dirinya. Kalau ada sesuatu atau seseorang yang akan dituruti Minho, mungkin itu adalah Yunho dan Se7en. Ah yah, semua master benar-benar takut pada master satu itu. Dalam sekejap saja dia bisa berada pada posisinya sekarang. Kalau bukan karena kegilaan dan kesadisannya, apa yang menyebabkan Choi Dong Wook yang dulunya disebut sebagai anak bawang sekarang berada hampir di puncak?

So? Wanna watch it or are we going to just sit here?” tanya Minho yang cukup kesal melihat Siwon kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Siwon mengangguk pasrah. Dia menekan sebuah tombol di bawah mejanya dan dalam sekejap ruangannya menjadi ruang kedap suara dan tertutup rapat dari dunia luar. Minho mencolok flashdisk tersebut pada komputer Siwon. ”Tenang saja, dia tidak akan menganggu sistem utama dan tentu saja bagian IT-mu tidak akan tahu mengenai hal ini,” jelas Minho. Dia seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Siwon. Mendengar penjelasan Minho, Siwon bernafas lega. Dia tidak mau pegawainya melihatnya dengan pandangan aneh. Sudah cukup dengan kedatangan Minho yang tiba-tiba hampir setiap minggu dan semua itu untuk menunjukkan penemuan-penemuan terbarunya atau lirik rap yang baru dia buat.

Layar monitor yang tadi menampilkan iconicon pada desktop sekarang menghitam. Panik sempat melanda Siwon, namun dia kembali tenang melihat Minho sedang mengetik sesuatu menggunakan keyboard-nya. Mungkin rumus-rumus yang tidak diketahuinya, pikir Siwon. Tapi, layar Siwon tetap berwarna hitam dan dia mulai sedikit gelisah.

”Hei,” tegur Siwon.

”Sssh,” sela Minho yang sedang sibuk mengetik sesuatu. Akhirnya dia menyengir lebar dan kemudian melepaskan jari-jari tangannya dari keyboard Siwon. Dia sekarang bersandar pada kursinya dan mengajak Siwon untuk bersantai juga. Untung saja monitor yang digunakan Siwon di ruang kerjanya cukup besar jadi dia tidak perlu berada dalam jarak dekat untuk melihat apa yang sebenarnya ditampilkan oleh monitornya.

Detik berikutnya, kedua mata Siwon membesar. Bagaimana dia tidak kaget? Bayangkan saja sekarang di layar monitornya terdapat seorang Kim Kibum yang tubuhnya polos tak memakai sehelai benang pun. Sang slave sedang duduk di sebuah kursi yang unik dan menurut Siwon kursi itu adalah salah satu penemuan baru dari Minho. Sepasang mata Siwon menatap Minho tak percaya. Sementara Minho? Namja itu hanya menyeringai senang seolah mengatakan pada Siwon untuk menikmatinya.

Kibum yang tak memakai apapun sedang duduk di sebuah kursi. Kedua tangannya berada pada lengan kursi dengan pergelangan tangannya terikat dengan sebuah gelang hitam yang keluar dari kursi tersebut. Mata sang slave ditutup dengan kain hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Mulut Kibum berisi sesuatu yang Siwon yakin adalah sebuah vibrator. Kedua nipple Kibum terdapat nipple clamp. Nipple clamp gunanya menjepit nipple dan dihubungkan dengan tali pada ujungnya sehingga terlihat seperti dua penjepit yang saling berhubungan.

Siwon bisa merasa bahwa hal itu sangat menyakitkan, tapi di satu sisi memberikan kenikmatan bagi sang slave. Terbukti dari kejantanan Kibum yang mulai berdiri tegak. Kedua kaki Kibum sedikit ditekuk melebar sehingga memperlihatkan kejantanan sang slave yang dihiasi dengan cock ring sekaligus hole pink milik namja bermarga Kim itu.

Gulp.

Butuh sepersekian detik bagi Siwon untuk menelan ludah dan mulai merasakan suhu udara yang mulai menaik. Dia membuka kancing kemeja atasnya karena gerah yang dia rasakan. ”It’s only the beginning, hyung,” ujar Minho sembari menyeringai. Dia cukup puas melihat ekspresi nafsu Siwon. ”Coba tekan tombol ’P’ hyung,” perintahnya pada Siwon.

Meski tak mengerti, Siwon tetap menuruti perintah dari Minho dan menekan tombol ’P’ pada keyboard. Detik berikutnya desahan dan erangan Kibum terdengar semakin keras. ”Urnghh,” desah Kibum yang tertahan karena vibrator yang ada di mulutnya. Kalau saja tidak mengingat ruang itu kedap suara, mungkin Siwon akan merasa khawatir jika seseorang di luar mendengarkan desahan Kibum. Kepala Kibum menggeleng kala Siwon menekan tombol ’P’ dan cukup lama bagi Siwon untuk menyadari bahwa pada bagian bawah hole Kibum keluar sebuah vibrator yang kemudian masuk ke dalam hole Kibum tanpa persiapan. Vibrator itu terdiam dan Siwon bisa melihat bahwa Kibum merasa sesak terlebih dengan kejantanannya yang terdapat cock ring untuk menahan orgasme sang slave.

Try ’V’.” Siwon menatap Minho yang mengangguk tanda bahwa sang rapper meyakinkan Siwon untuk melakukan apa yang disuruhnya. Dengan gugup Siwon menekan tombol ’V’ dan detik berikutnya dia mendengar sesuatu yang bergetar dari layar.

Barulah kemudian dia sadar bahwa vibrator yang berada di hole dan mulut Kibum bergetar memberikan rangsangan dua arah pada sang slave. ”P is for penetration. V for vibration. Need more?” papar Minho. Mengetahui apa yang sebenarnya dijelaskan oleh Minho, Siwon kemudian mengangguk perlahan dan membiarkan namja itu untuk mengambil alih keyboard. ”Oh, let’s see. F for faster.” Begitu tombol ’F’ ditekan, Siwon bisa merasakan suara getaran itu semakin cepat begitu pula dengan erangan dari Kibum.

”Urngg….”

Mendengar desahan Kibum membuat sesuatu di selangkangannya serasa menyempit. Oke, ini mulai membuat Siwon kehilangan kendali.

D is for deeper.”

”Orgghh..urghh…” Kepala Kibum menggeleng-geleng semakin cepat ketika Siwon melihat vibrator yang ada di hole Kibum semakin masuk ke dalam karena ditekan oleh sesuatu yang terletak di tengah selangkangan Kibum.

C is for climax, tapi setahuku aku juga memprogram itu untuk hal yang lain. Terlalu banyak kodenya, nanti akan kuberikan bukunya untukmu, jadi bagaimana?” tanya Minho dengan sebuah seringaian di wajahnya.

Siwon menatap Minho cukup lama sebelum menarik nafas panjang. ”Apakah ini aman?”

Minho mengangguk dengan mantap. ”Tentu saja, well, walau sebenarnya Kibum adalah percobaan pertamaku, tapi Taecyeon ada di sana untuk mengawasi kok, jadi tenang saja.”

”Taecyeon?” tanya Siwon dengan nada tak suka yang tidak disadari Minho. Sang Rapper hanya mengangguk dan bersandar kembali.

”Yup, aku menyuruh Taecyeon untuk ada di sana kalau-kalau terjadi sesuatu, tapi kau tidak perlu khawatir kok. Taecyeon hanya akan masuk ke dalam ruangan kalau sudah kuperintahkan. Maksudku dengan arti Taecyeon ada di sana adalah, dia bisa masuk ke dalam ruangan itu kalau terjadi sesuatu di luar kendaliku. Kau tentu tidak mau Kibum- mu terluka bukan?”

Entah kenapa tetap saja mendengar Taecyeon berada di sana membuat hati Siwon tidak tenang. Ada perasaan khawatir yang melanda dirinya dan hal ini tidak dilewatkan Minho. ”Hei, kenapa kau jadi seposesif seperti Se7en-hyung sih! Santai sajalah, hyung, Kibum tak akan ke mana-mana. Setidaknya kalau dia bisa bertahan tentunya.”

Posesif?

Ah, mungkin. Tapi, Siwon tidak terima kalau dia harus disamakan oleh Se7en. Rasa posesif yang dimilikinya tidak sebesar master tertua itu yang sampai-sampai mengikuti Changmin kencan kemarin dan kemudian membawa namja itu pergi hingga sekarang belum pulang. Bahkan Se7en sampai menelepon Siwon hanya agar dia bisa membawa Changmin pergi dan menyuruh dia untuk membereskan Kibum (atau Kyuhyun). Yah, bukannya dia tidak suka sih, tapi tetap saja.

Suasana di antara mereka sedikit tegang. Bahkan desahan dan erangan dari Kibum yang sempat meningkatkan libido Siwon tidak dihiraukan oleh pemilik Choi Corporation itu lagi. Sebaliknya, matanya menatap kosong ke arah Minho. Cukup lama hingga akhirnya suara ketukan yang menyadarkan mereka. Minho segera mematikan programnya dan Siwon kembali pada posisinya.

Dia kembali menekan tombol tadi dan ruangannya kembali menjadi seperti semula seketika. Tampak sosok sekretarisnya di hadapan mereka. ”Ada apa?” tanya Siwon dengan emosi yang sudah dia kendalikan.

”Ah, Siwon-shi, maaf tapi ada seorang namja yang mencari anda,” jawab sang sekretaris dengan gugup.

Kedua alis Siwon terangkat, merasa aneh dengan jawaban dari sang sekretaris. ”Namja?”

”Ne,” balas sang sekretaris disertai anggukan cepat. ”Ne, dia bilang ini penting. Namanya, sebentar, namanya Alexander Jovanka Philip.”

Dan Minho bersumpah bahwa detik itu dia melihat sisi seorang Choi Siwon yang lain. Choi Siwon yang dia kenal adalah namja yang ramah dan baik hati. Bahkan dia sempat merasa bingung mengapa namja itu bisa berada di sana. Tapi, sekarang mungkin dia bisa mengetahui salah satu alasannya. Karena Choi Siwon yang berada di hadapannya sekarang memiliki sepasang mata pembunuh. Tangan namja itu terkepal begitu erat dan tentu saja Minho tidak melewatkan aura hitam yang terpancar dari namja itu.

Sepertinya Minho benar-benar bisa melihat Choi Siwon yang berbeda. Dia tidak tahu siapa namja bernama Alexander itu, tapi sepertinya ini akan menarik.

.

.

Oh tidak. Tidak mungkin. Ini gawat!

Dengar, aku harus segera kembali ke tempat Yunho dan mengabarkan hal ini.

Anda tetap di sini saja.

Taeyang akan menemani anda.

Mungkin anda juga bisa menggunakan kesempatan ini untuk bertanya-tanya tentang dirinya.

Yang jelas sekarang saya harus kembali dulu.

Taeyang, tolong temani tamu kita.

Dan anda, saya mohon, jangan masuk ke dalam ruangan Siwon sekarang.

Kecuali anda mencari kematian.

Maaf, saya harus segera pergi.

.

.

Anda hanya mengangguk ketika sang narator meninggalkan anda sendirian, kali ini dengan Taeyang yang menjadi company anda. Dia membawa anda untuk duduk di sofa yang terdapat di lobi depan dan menawarkan anda cokelat kalengan. Karena merasa haus, anda menerima tawaran tersebut. Anda membuka cokelat tersebut dan kemudian melepaskan dahaga anda.

Sesaat, keheningan di antara kalian membuat anda merasa sedikit sesak. Banyak hal yang ingin anda tanyakan. Mulai dari alasan kenapa Taeyang berada di tempat itu sampai pada namja yang bernama Alexander tadi. Anda melirik ke arah Taeyang yang sedang menikmati kopi kalengannya sembari bersandar pada dinding. Anda pun memutuskan untuk mengikutinya.

”Taeyang-shi,” sapa anda setelah mengumpulkan keberanian untuk bertanya.

Dia memutar kepalanya dan menatap anda dengan lembut. Kopi kalengannya sekarang berada di dalam genggamannya. ”Kenapa?”

”Oh, anda mau bertanya kenapa saya berada di sini, begitu? Ah, Taecyeon memang sudah memberitahuku tentang hal ini. Bagaimana kalau kita berbicara dengan bahasa yang non formal, dengan begitu akan terasa lebih akrab, bukankah demikian?”

Anda hanya mengangguk menandakan bahwa anda tak keberatan dengan tawaran Taeyang. Mungkin merasa gemas dengan reaksi anda, Taeyang kemudian mengacak-acak rambut anda seperti yang dilakukan seorang kakak pada adiknya. ”Yah, bagaimana menjelaskannya ya? Aish, kalau ditanya seperti ini aku juga bingung. Kalau Taecyeon, mungkin dia akan bilang karena melindungi seseorang, seperti itukah?” Anda kemudian teringat pada percakapan Taecyeon kemarin dan perlahan anda menganggukkan kepala anda tanda bahwa apa yang dikatakan Taeyang benar. ”Well, yah, aku pun tak beda jauh, kurasa. Terlalu membingungkan untuk dijelaskan. Yang jelas aku harus berada di sini. Setidaknya karena aku masih ada hutang terhadap Yunho-shi.”

”Hutang?” tanya anda dengan ragu-ragu, takut seandainya perasaan Taeyang akan tersinggung. Sebaliknya, namja itu hanya tersenyum kepada anda sekali lagi.

Dia mengangguk. ”Ne, anggap saja aku berhutang satu nyawa terhadap Yunho-shi dan ini adalah caraku untuk membalas budiku. Ah, aku jadi teringat sesuatu!” serunya mendadak membuat anda kaget. Cokelat kalengan yang anda minum tadi sudah habis, tetapi anda masih memegangnya seolah anda membutuhkan sesuatu untuk sedikit mengalihkan pikiran anda. ”Taecyeon, well, dia bukan hanya karena ingin melindungi seseorang. Sebenarnya mungkin karena sudah turun temurun keluarganya menjadi penjaga tempat itu.”

Taeyang yang mendadak diam karena berpikir sesuatu membuat anda penasaran. ”Taeyang-shi?”

”Ah, panggil aku dengan sebutan Taeyang saja,” selanya.

”Ne, gwenchana?” tanya anda dengan perlahan yang langsung dijawab dengan gelengan kepala dari Taeyang.

”Anda tak perlu khawatir. Saya hanya terpikir sesuatu. Mengenai Taecyeon, ah pemuda itu, keluarganya merupakan salah satu pengelola tempat itu. Mungkin akan lebih tepat jika dia yang menjadi head master berikutnya.”

”Bukankah head master adalah Yunho?” Sekali lagi anda merasa penasaran dengan pernyataan yang baru saja diajukan oleh Taeyang. Kalau benar apa yang dikatakan Taeyang, bukankah berarti akan timbul perasaan dendam atau tidak senang dari Taecyeon karena tempatnya direbut oleh Yunho?

”Tenang saja, Taecyeon bukanlah seseorang yang ambisius. Bahkan sebenarnya dia merasa bersyukur. Pernah satu malam dia mengatakan kepadaku bagaimana dia tidak bisa mengungkapkan rasa syukurnya ketika Yunho memutuskan untuk mengambil posisi sebagai head master.”

”Memangnya kenapa dengan posisi itu? Bukankah dengan menjadi head master, dia bisa mendapatkan semua yang dia inginkan?”

Gelak tawa yang meluncur dari mulut Taeyang membuat anda sadar kepedihan yang tersembunyi dalam senyuman namja itu. ”Jika memang demikian, Yunho-shi tidak akan pernah semenderita ini. Sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi tak bisa dia sentuh. Bukankah itu lebih menyakitkan daripada sama sekali tak bisa mendapatkannya?”

Bingung. Itulah yang pertama terlintas dalam benak anda ketika mendengar penjelasan Taeyang, tapi anda tak bisa memungkiri bahwa pernyataan itu cukup masuk akal. Saat tahu bahwa apa yang anda inginkan ada di depan mata, tapi tak bisa anda sentuh sebenarnya jauh lebih menyakitkan daripada anda sudah mengetahui bahwa tidak ada harapan untuk anda. Harapan. Dia bisa membuat anda melambung tinggi dan menjatuhkan anda pada jurang yang terdalam.

”Dan harapan yang membuat kita melakukan segala hal yang kita lakukan sekarang. Tidakkah anda berpikir demikian?” gumam Taeyang pada diri anda. Anda merenungkan kembali pernyataan tersebut. Namun tak lama karena perhatian anda kemudian teralih pada seorang namja yang keluar dari arah lift yang diikuti Siwon dari belakang. Namja itu cukup tampan. Rambutnya hitam dan digunting sedikit bergaya. Poninya dimirngkan ke samping sehingga anda bisa melihat struktur wajah namja itu lebih jelas. Anda memperhatikan alis matanya yang tidak simetris. Bibir atasnya yang sedikit tipis sementara yang bawah sedikit lebih tebal. Kulitnya putih sehingga kontras dengan celana jeans hitam dan t-shirt hitam yang sedang dikenakannya.

Anda tidak tahu siapa namja itu, tapi ada sebuah dugaan bahwa namja itulah yang bernama Alexander sekaligus namja yang mendatangkan Choi Siwon yang berbeda. Saat dia hendak menuju ke pintu keluar, anda melihat dia sempat melirik anda karena dia pasti akan melewati tempat anda jika harus keluar dari gedung tersebut. Ekspresinya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jika dulu, mungkin anda tidak tahu apa arti dari ekspresi tersebut, tapi menghabiskan waktu cukup lama di sini, anda kurang lebih menangkap ungkapan yang tersembunyi di baliknya.

Pengharapan. Kekecewaan.

Dua hal itu yang anda pelajari di sana dan dua hal itulah yang terpancar di wajahnya. Kecewa entah karena apa dan berharap andai dia mendapatkan sebuah kesempatan kedua (yang sepertinya menurut anda tidak berhasil dia dapatkan dan anda berpikir bahwa mungkin inilah alasan dari kekecewaan yang terpancar dari diri namja itu). Anda melihat Siwon sedang berbincang-bincang sesaat dengan namja tersebut. Ketika anda mencoba untuk menuju ke arah mereka, seseorang menghentikan langkah anda. Anda berbalik dan melihat Taeyang memegang pergelangan tangan anda sembari menggelengkan kepalanya. ”Kurasa bukan hal yang baik,” ujarnya dengan lembut.

Anda mengangguk dan kemudian duduk kembali, memutuskan untuk menunggu agar sang narator kembali menjemput anda.

.

.

Maaf telah membiarkan anda menunggu terlalu lama.

Terima kasih Taeyang. Kau boleh kembali kepada pekerjaanmu.

Oh, namja itu?

Ah iya. Anda benar. Dia adalah Alexander Jovanka Philip.

Saya tidak tahu siapa dia dan apa hubungannya dengan Siwon.

Percayalah. Tidak ada gunanya saya menyimpan rahasia dari anda.

Oh itu. Yunho memang sudah berpesan pada saya kalau Alec, untuk dipersingkat, datang, saya harus segera melaporkannya kepada Yunho.

Sepertinya Yunho sudah menduga kedatangan namja itu.

Jadi bagaimana? Apakah anda sudah menanyakan apa hal yang terpenting kepada Taeyang?

Jika anda disuruh memilih untuk menghabiskan waktu anda berikutnya, siapa orang itu?

Taecyeon yang menurut anda menjadi kunci dari semua?

Taeyang, yang saya amati, sepertinya cukup banyak berbicara pada anda?

Atau mungkin

Anda ingin tahu siapa saya?

Ah, tapi rasanya tidak menarik kalau anda tahu jati diri saya secepat ini bukan?

Jadi mungkin antara Taecyeon dan Taeyang saja, ne?

Selanjutnya kita akan ke mana?

Masih mau mengawasi Siwon?

Atau mungkin anda mau kembali?

Minho? Ah, dia sudah kembali juga tadi. Saya sempat melihat dia masuk ke dalam tempat itu saat saya hendak kemari menjemput anda.

Bagaimana? Pulang? Ne, arasso. Ayo.

.

.

Satu ketukan di pintu menghentikan semua aktivitas Yunho. Dia kemudian melihat kenop pintu yang berputar dan pintu yang perlahan terbuka menampilkan sosok Taemin yang sedikit gemetar. Tubuh namja itu masih tersimpan sedikit luka akibat perlakuan kasar dari Minho. Yunho menatap namja mungil itu dengan datar. Tak ada emosi yang terlukis di wajahnya.

”An – anda memanggil saya, Yun..ho –shi?” tanya Taemin dengan gugup. Ada rasa takut yang menghampirinya ketika mendengar bahwa dia dipanggil hari itu. Dia tahu bahwa hari itu para personal slave tidak ada aktivitas untuk melayani sang master, mengingat besok adalah hari itu. Biasanya Yunho akan memberikan satu hari untuk beristirahat dan Yunho yang memanggilnya hari ini pasti bukan tanpa sebab.

Yunho menyeringai seperti setan membuat bulu roma Taemin berdiri. Hanya memakai hot pants dan kemeja tidur membuat angin dari ac di ruangan itu menembus kulitnya. Suhu ruangan itu dingin, tapi entah kenapa keringatnya tak bisa berhenti keluar. Dia mencoba menghindari tatapan dari Yunho dengan melihat ke arah kakinya yang hanya memakai sandal tidur.

”Tentunya kau sudah tahu kenapa aku memanggilmu bukan?” Satu pertanyaan dari Yunho sontak membuat tubuh Taemin bergetar karena ketakutan.

Dia tidak tahu alasan Yunho memanggilnya, tetapi dia tidak bodoh untuk mencoba menebak apa alasannya. Pasti mengenai kejadian hari itu ketika seharusnya dia yang maju, tetapi digantikan oleh Changmin. Tapi, dia bisa apa? Saat itu Changmin bersikeras untuk menggantikan dirinya yang sakit. Memang saat itu sangat tidak memungkinkan bagi tubuhnya untuk melayani para masteri  sekaligus dan Changmin menawarkan dirinya meskipun mereka tahu apa akibatnya.

”Kau tidak tahu?” Suara Yunho kali ini lebih lembut, tapi hal ini justru membuat Taemin semakin ketakutan. Sang head master kemudian berdiri dan mengambil langkah untuk mendekati Taemin yang sedang berdiri di ambang pintu. Ekspresi Yunho semakin berubah kala jarak di antara mereka semakin dekat. Seringaian yang terpasang di wajahnya semakin lebar melihat reaksi Taemin. Ada rasa kesenangan di dalamnya. ”Atau kau berpura-pura untuk tidak tahu,” bisik Yunho tepat di telinga Taemin yang sudah berada di depannya.

Tangan Yunho mendadak mencengkram surai pirang Taemin sehingga wajah keduanya sekarang saling berhadapan. ”Hmm, sepertinya Minho sudah memberikanmu hukuman, ne? Tapi, aku masih belum puas.” Bibirnya kemudian melumat bibir Taemin dan menyerang namja mungil yang tidak memiliki persiapan itu sebelumnya.

Suara kecipak saliva membuat Yunho semakin gencar untuk memperdalam ciuman mereka. Dia mendorong tubuh mungil Taemin ke pintu tanpa melepaskan tautan mereka. Lidahnya bertarung dengan lidah sang tuan rumah yang tentu saja dimenangkan oleh dirinya. Tangannya menyelip di antara kemeja yang dikenakan Taemin dan mencari tonjolan untuk kemudian memilinnya. ”Urngh,” desah Taemin.

Libido Yunho sedikit meningkat, tapi rangsangan yang dia terima tidak cukup. Lagipula dia harus memberi hukuman dan bukannya kenikmatan bagi namja yang bibirnya sedang dilumat olehnya. Baru saja dia hendak memindahkan bibirnya ke leher putih milik Taemin, suara ketukan di pintu membuatnya mengerang dan menghentikan gerakannya.

Sementara Taemin? Namja mungil itu merasa sedikit lega, namun juga kecewa karena hasratnya tidak bisa terpuaskan. Setidaknya, melakukan hubungan itu dengan sang head master menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Kalau dipikir-pikir, sejauh ini yang benar-benar berhubungan dengan sang head master hanya Jaejoong dan Jiyong. Maksudnya benar-benar adalah tidak ada orang ketiga yang berada dalam hubungan intim tersebut. Pada saat hari itu, dia memang melakukan hubungan dengan Yunho, tapi juga dengan keempat master lainnya dan menurutnya, itu tidak ada bedanya.

Yunho menarik pundak Taemin agar dia bisa membuka pintu meskipun dia tahu pintu tersebut tidak terkunci. Kala pintu terbuka, Yunho mengerang kecewa. Siapa sebenarnya yang ada di depan pintu? ”Apa maumu Alec?” tanyanya dengan nada kesal.

Namja bernama Alexander yang menemui Siwon sekarang sudah berdiri di depan Yunho. Sama seperti tadi, hanya ekspresi datar yang terpampang di wajahnya. ”Siapa yang membawamu ke sini?” tanya Yunho lagi setelah mengetahui sifat namja yang di hadapannya yang sangat pendiam. Dia kemudian menatap ke arah Taemin dan berkata pada namja itu, ”Sebaiknya kau segera kembali, kali ini kau kubiarkan.” Taemin mengangguk meski ada sirat kekecewaan yang terpancar di wajahnya. Dia segera pergi dari tempat itu sebelum menyapa Alec sesaat yang dibalas dengan anggukan ringan dari sang namja.

Blam.

Yunho menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar. Dia berjalan menuju ke arah meja kerjanya dan membiarkan Alec begitu saja. ”Apa maumu?” desisnya pelan.

Alec tak berbicara. Dia hanya terdiam dan mengamati Yunho yang kembali memulai pekerjaannya. ”Siwon,” bisik Alec dengan perlahan.

”Kenapa dengan dia?” tanya Yunho dengan sinis. Dia tahu tujuan kedatangan namja itu, tapi entah kenapa dia masih tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh namja itu. ”Apa maumu, Alec?”

”Se7en,” ujarnya. Kalau dipikir secara logika, jawaban Alec sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yunho, tapi seolah mengerti sifat dari namja itu, Yunho terdiam.

”Tidak,” balas Yunho tak kalah tegas.

U-know.” Kali ini Alec berbicara dengan suara yang lebih keras dan lantang membuat Yunho sempat terkejut sebentar. ”Siwon,” desis Alec. Orbs hitamnya menatap tajam ke arah Yunho.

Tentu saja julukan Yunho sebagai U-know yang ditakuti di dunia gelap bukan tanpa alasan. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Dia menatap kembali ke arah Alec. ”Apa maumu, Alec? Sudah kukatakan tidak dan itu artinya tidak.”

”Se7en dan Siwon. Kau tidak membutuhkan mereka,” ujar Alec. Rasanya sungguh keajaiban mendengar namja itu berbicara satu kalimat utuh.

”Apakah perlu kita merayakan hal ini, Alec? Bisakah kau keluar dari tempat ini juga sekarang? Siapa juga yang mengijinkanmu untuk masuk ke tempat ini, huh? Taecyeon?” Alec tak menjawab apa-apa dan hanya terdiam membiarkan Yunho untuk menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi. ”Kembalilah, di sini sudah bukan tempatmu lagi.”

Kedua namja itu berdiri dengan tegap. Mata saling memandang, berharap bisa menghancurkan dinding yang terbangun di antara mereka. Namun nihil, semuanya tak ada gunanya. Dinding yang terbangun terlalu kuat untuk dirobohkan. Alec kemudian menyeringai, sesuatu yang menurut Yunho adalah isyarat bahwa hal yang buruk akan tiba. ”Sekarang atau selanjutnya, kita lihat saja, Jung Yunho.”

Satu pernyataan itu bagaikan tantangan perang bagi Yunho. Sang head master hanya terdiam mengamati kepergian Alec. Dan setelah 10 tahun lamanya akhirnya seorang Jung Yunho benar-benar tersenyum. Satu senyuman yang sudah tak pernah dia ingat. Perasaan inilah yang dia nantikan. Inilah yang akan mengubah segalanya.

”Dan Yunho,” ujar Alec sebelum dia benar-benar menutup pintu. Dia memutar kepalanya sehigga sekarang keduanya saling bertatapan. Sebuah senyuman terukir di wajah keduanya. ”Jaejoong dan Changmin, tentukan pilihanmu.”

Blam.

Pintu tertutup. Senyum yang tadinya muncul di wajah Yunho menghilang diganti sebuah seringaian yang bisa membuat siapapun melihatnya merasa ngeri. ”Begitukah? Jadi sekarang sudah saatnya, eh?” bisik Yunho entah pada siapa karena di ruangan itu hanya ada dirinya sendiri. Kepalanya tertunduk dan melihat kedua tangannya dengan sebuah tatapan yang tak bisa dijelaskan begitu saja. Suatu perasaan abstrak terbangun di dalamnya.

Mungkin ini akan menjadi akhir dari segalanya.

Atau bisa saja, ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang ditakutkan oleh Yunho.

.

.

Alec dan Yunho ya, sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka berdua.

Saya sendiri tidak tahu, tapi satu yang bisa saya katakan.

Setiap master mempunyai masa lalu dan sebuah rahasia, rahasia yang membuat mereka akhirnya terikat pada tempat ini.

Dan sepertinya anda juga mulai sadar?

Semua masa lalu mereka terikat dalam satu benang takdir.

Benang takdir yang berujung pada seorang Jung Yunho.

Tanpa dia, tempat ini hanya akan tinggal sebuah nama.

Tidak adalagi rumah bagi mereka yang berada di balik pintu hitam.

Tak adalagi kesehariaan yang berbeda dari kegiatan monoton para master.

Juga mungkin tidak ada saya yang membawa anda untuk menjelajah tempat ini.

.

.

Beristirahatlah. Besok adalah waktunya, waktu bagi para personal slave untuk menyadarkan posisi mereka sekarang.

Eh? Tidak, kemungkinan untuk mengganti personal slave itu kecil karena umumnya para master merasa sudah terikat dengan slave mereka.

Tapi siapa yang tahu?

Bukankah segala sesuatu di dunia ini adalah mungkin?

Terlepas dari itu semua, anda akan melangkah masuk  ke dalam.

Mungkin tak seperti apa yang anda harapkan.

Mungkin anda berharap bisa melihat sesuatu yang mengerikan.

Saya tidak tahu harapan anda, tapi saya hanya ingin menyampaikan satu hal.

Harapan bisa membawa anda pada kehidupan yang baru, tapi harapan jugalah yang mengantarkan pada kehancuran.

.

.

eL-ch4n

presents

”Slave Day”

~Newcomer~

.

.

A/N:

(Satu) Pengkhotbah 3:11a

Alow semua XDD

Mian ya saya lama baru update, soalnya habis uts otak saya terkuras dan langsung ketik BD yang susahnya minta ampun *jedukin kepala ke dinding*

Semoga chapter ini memuaskan hasrat *?* kalian #apadah

Readers: Mana NC-nya?

Me: Eh itu, soalnya kemarin kan dibilang Yunho selalu memberikan satu hari istirahat bagi para personal slave jadi ya gak ada NC, tapi ini semoga cukup menjelaskan cerita? ^^V

Readers: Kenapa pake OC?

Me: Itu karena saya takut kalau memakai artis Kpop karakter dari artis tersebut sudah terlalu kuat sehingga cukup memberikan pandangan subjektif, jadinya seperti ini deh, semoga chingudeul tidak keberatan ._.v

.

.

A/N:

Hasil voting kemarin itu sempat seri sampai2 saya harus ngecek ulang :/

Siwon (17)

Se7en (16)

Yunho (12)

TOP (7)

Minho (5)

.

.

Berikutnya, siapa yang ingin anda tanyai?

Taecyeon

Taeyang

.

.

Dan selamat membaca 😉

Terus maaf kalau semua master tidak bisa tampilkan, saya menyesuaikan plot dengan hasil voting kemarin ^^v dan karena suara terbanyak memilih Siwon, saya fokuskan pada kesehariannya 😀

.

.

Besok adalah saat anda melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di balik pintu hitam tersebut.

Saya sudah katakan bahwa anda jangan berharap hal yang aneh-aneh.

Mungkin saja hanya sesuatu yang biasa yang ada di baliknya, atau mungkin saja tidak.

Tergantung dari persepsi anda sebenarnya.

Hanya saja, harapan terkadang bisa menjatuhkan manusia.

Itulah yang setidaknya dialami oleh Yunho dan Taecyeon.

Dan saya menunggu jawaban anda.

Siapa yang ingin anda tanyakan.

Taecyeon yang seharusnya menjadi pemilik tempat itu.

Atau Taeyang yang sepertinya tertarik dengan keberadaan anda?

Selamat beristirahat

Dan

Selamat menikmati

.

.

Note:

OC

Sevine ©min yeon rin / (at)mayasevine

Alexander Jovanka Philip © Alexander Jovanka Philip

Advertisements

27 responses to “Chapter 7: Newcomer

  1. huaaaaaaaa *mata berbinar*
    boleh minta programnya gak? hehe *di mutilasi siwon*

    huisssssss siapa tu Alexander Jovanka Philip?
    master sebelum yunho? huaaaaaaissss PENASARAN LAGIII XD

  2. OMO..omo…. ada apa ini?? siapa alexander itu?? koq yunho harus milih antara minnie n jaejoong?

    yunpa bakal milih yg mana? jangan jaejoong!!! andwe!!
    makin tambah penasaran nih sumpah!!!!

  3. hah,makin banyak mistery dan teka/i-nya ne.
    dant ternyata Taecyeon itu berperan penting juga.
    dan yg bangun tempat itu bukan Yunpa ya,kok katanya kluarga Taecyeon dah turun temurun ngejaga tempat itu?
    emang tempat itu dibangun udah lama banget ya?
    Alec tu sapa ya?

    • makin banyak teka2 seperti kehidupan
      taecyeon..kurang lebih begitu 🙂
      bukan..hehe..taecyeon lah pemilik awal (?)
      sudah untuk menyeimbangkan dunia (?)
      dan alec adalh pemain baru ^^V

  4. Satu yang mau Nara sampaikan, Yunppa aku nggak rela Appa ciuman sama Taemin…. Hua…. Umma, Appa selingkuh (ngadu sama Jaemma ==”).
    Minho jenius tapi sadis…. Ckckckck…..
    Tiap chap selalu membawa misteri tersendiri…..
    Huah, jadi merinding gara-gara sangking penasaran….

    • hihi..aku jga gak rela ._.) tapi banyk yg minta jga (?) jadi sekalian deh utk fanservice (?)
      hihi..sadis2 tapi kern lho #plak
      semoga gak penasaran lagi deh X3

  5. eohh?
    alec itu siapa sih?
    ada hub.apa sbnrnya antara alec n yunho?
    trus knp dia mau seven n siwon…?
    jaejoong…. changmin… ??
    huwaaaa…. penasaraaaaaannnn…(^o^)

  6. .wah,,sya jdi pnsran ama taecyeon,,siapa dia sbnr’a?dan,siapa yg sbnar’a ingin dia lindungi?uwo,,pnuh misteri,, 😮
    .skali lgi daebak d buat eL!!keep writing ne!fighting!!^_^b

  7. Ummaaaaa~ liat tuh appa slingkuh –”
    Ff author-ssi berhasil buat mejerit histeris (lagi) ¬_¬
    Alec itu siapa?? Kyknya dia itu misterius deh
    Yaudh deh saya mau lanjut ._.)

  8. Oke chingu, krn bsok sdh hari’y, seperti’y saya harus segera loncat ke next chap…,
    #triiiiing (menghilang)

  9. syapa lgi alex itu???
    ame lima master aja udh kelepek2 skrang ada lgi stu..
    makn suka dan pasti makn menarik…
    hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa minnie mana???

    • Alex itu siapa saja bleh #plak
      Hahaha. klepe2k gimana? O.oa
      Minnie lagi di kamarku :3 *digampar se7en* *plak
      Waw. Makasih makasih >.< *deep bow*

  10. yunho ma taemin? huaaaa anak km tu bang napa km rape juga,,
    taecyeon seharusnya jd headmaster? banyak banget teka teki
    trus knp yunho seakan seneng kehadiran alec. kaya ngerasa bakal dpt kebebasan gt… ahhhh penasaran banget

    • Hehehe. Kan namanya jg headmaster :DD
      Iya, teka2 yang saya sendiri juga bingung *garuk2 kepala* *plak
      Hmm. Bisa karena kebebasan, bsa karena akhirnya ada sesuatu yg menarik 😉

  11. Aishhh padahal aku suka crosspair Yunho-Taemin, tapi gara-gara si Alec gakjadi deh u,u *jitak si Alex
    Eoh, eoh.. Kenapa Alex tiba-tiba ingin siwon dan se7en? Lalu apa hubungan Yunho dgn Changmin? Kenapa Alex menyuruh Yunho memilih?
    Deuh, penasaraaaaan thorrrr.
    Minho, mesin kinky-nya boleh juga. Udah ada di dunianyata nggak yaaaa…

    Masih nyesek gara-gara Yunho-Taemin nggak jadi. Tanggung jawab thooorrrr.
    Kalo ada waktu bikinin oneshoot pairing ini dong :p
    Yuntae~ yuntae~

    • *ikutan jitak Alec* *lho
      Sbnrny sih masih gk tega bkin Yunppa sama yg lain TT__TT tpi nanti akan diusahakan deh (?)
      Hmm…Karena mereka pegang peranan penting? :3 kkk~
      Aw. Yunho memang dari dulu sudah harus memilh. Hahaha #Plak
      Klo ada, saya jg mau beli xDD #plak

      Lah, kenapa saya tanggung jawab?
      Memangnya chingu hamil? O.oa
      YunJae u,u #plak

  12. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

Comments are closed.