Chapter 2: Ryeowook


Title: Matchmaker

Rated: T possible M

Couple: Yunjae and others

Warn: GS!

Summary: Namanya Kim Jaejoong, matchmaker yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi kehebatannya. Sudah banyak pasangan yang menikah karenanya. Tapi, bagaimana ketika suatu saat mantan suaminya menjadi kliennya?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

Suasana gereja saat itu begitu ramai. Dentingan piano yang mengalunkan lagu penganti untuk mengiringi sang pengantin wanita mulai dimainkan. Para tamu yang hadir kembali duduk dengan tenang. Kepala mereka menghadap ke belakang, ke arah sang pengantin wanita yang sedang berjalan. Tak perlu dijelaskan dengan kata-kata bagaimana gaun berwarna putih yang dikenakan oleh sang pengantin wanita membuat yeojya yang akan berganti marga itu sangat memukau penonton. Lekuk tubuhnya yang indah tampak jelas dalam balutan gaun berwarna putih itu. Sebuket bunga berwarna putih menandakan ketulusan dan kepolosan berada dalam genggamannya.

Dan ekspresinya. Oh, jika dunia mengatakan bahwa senyuman Monalisa adalah yang terindah, maka mereka belum melihat senyuman yang sedang terukir pada wajah cantik yeojya itu. Kulit putih porselennya, bibir merah maroon-nya, dan juga tak lupa sepasang doe eyes yang begitu menghanyutkan. Semua namja yang melihatnya merasa iri dengan namja yang sedang berdiri di depan pendeta. Namja yang akan mendapatkan yeojya ini.

Permainan piano terhenti dan para hadirin kembali duduk untuk menunggu kedua pengantin mengucapkan sumpah setia mereka. ”Apakah anda, Jung Yunho, menerima Kim Jaejoong sebagai istri anda dan bersedia menemaninya baik dalam suka maupun duka, dalam kaya ataupun miskin, dalam sehat ataupun sakit, dalam semua kondisi yang ada?”

”Ya, saya bersedia,” jawab namja itu dengan mantap.

Kali ini sang pendeta menghadap ke arah sang yeojya yang masih tersenyum lembut dan menanyakan pertanyaan yang sama.

”Jaejoong? Kim Jaejoong? KIM JAEJOONG!”

”Ah, iya saya bersedia!” Jaejoong tersadar ketika mendengar suara kekehan dari sekitarnya. Wajahnya merona merah ketika mengetahui bahwa baru saja dia tertidur di atas meja kerjanya dan bahwa dia dibangunkan oleh bos-nya, yakni, Kim Heechul.

Yeojya berparas cantik itu hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya melihat salah satu staff terbaiknya bertindak aneh seperti ini. Dia kembali memperingatkan yang lain kembali bekerja dan mengalihkan perhatiannya kembali kepada Jaejoong yang sudah kembali duduk di atas kursinya (karena tadi Jaejoong berdiri akibat terkejut dengan teriakan Heechul).

Jaejoong yang sudah duduk di atas kursinya kembali menyandarkan kepalanya di atas meja karena kelelahan. Sudah dua hari ini dia tidak tidur karena harus mengurusi pekerjaannya terutama dengan tugas yang diberikan Heechul. Aish, karena harus mencari pasangan yang tepat untuk Yunho, dia harus lembur setelah selesai melakukan pekerjaannya.

”Kau ini kenapa, Jae? Aku tak mau kau memaksakan dirimu, arasso?” ujar Heechul dengan lembut sembari tangannya mengelus punggung Jaejoong.

Yeojya pemilik doe eyes itu hanya mengangguk sembari menutup matanya. Rasa kantuk kembali menyelimutinya, tapi dia harus bisa bertahan. Semakin cepat dia menyelesaikan tugas yang diberikan Heechul, semakin cepat pula dia bisa kembali kepada aktivitasnya yang semula. ”Oh ya, bagaimana dengan Yunho?”

Kalau di komik-komik, mungkin saat ini terdapat empat siku yang muncul di sudut kening Jaejoong. Mendengar nama itu kembali meningatkannya atas ejekan yang dilontark Yunho kepadanya dua hari yang lalu. Aish, dia tak mengerti di mana letak kesalahannya? Taemin sepertinya yeojya yang cocok untuk Yunho. Duh, kalau begini dia akan terikat terus dengan namja itu selamanya.

Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan malas tanda bahwa dia belum mendapatkan kemajuan sedikitpun. Dia sudah mencoba mencari yeojya yang kira-kira bisa memenuhi kriteria dari Yunho, tapi yang dia temukan kebanyakan adalah yeojya pesolek yang sepertinya bukan tipe rumah tangga. Heechul hanya bisa menggelengkan kepalanya, cukup prihatin dengan keadaan pegawainya itu. Kepala Jaejoong yang menghadap ke arah Heechul tadi sekarang sudah berputar sehingga mencium kertas yang ada di atas mejanya.

Tiba-tiba saja dia terduduk tegak membuat Heechul tersentak kaget dengan reaksinya yang mendadak itu. Seulas senyuman terukir di wajahnya. Kedua tangannya memegang kedua sisi sebuah lembaran kertas yang memiliki sebuah foto yeojya manis yang memiliki rambut panjang sebahu berwarna hitam. Jaejoong tidak menghiraukan wajah penuh tanda tanya Heechul, melainkan memfokuskan dirinya untuk membaca keterangan yang tertulis di atas kertas yang digenggamnya.

Heechul sedikit bergidik ngeri ketika mendengar suara tawa Jaejoong yang seperti nenek sihir dalam dongeng. ”Fu fu fu, lihat saja kau Jung Yunho, akan kubuktikan kemampuanku sebagai seorang matchmaker.”

Mari kita lihat apa yang tertulis di atas kertas yang dipegang oleh Jaejoong tadi. Di samping foto yeojya tadi, tertulis sebuah nama: Kim Ryeowook.

.

.

2nd Match

”Ryeowook”

by eL-ch4n

06.05.2012

.

.

Seulas senyuman itu tak pernah lepas dari wajah cantik milik seorang Kim Jaejoong yang sedang duduk di dekat air mancur taman. Berkali-kali dia menyusun semua rencana yang akan dilakukan oleh orang yang akan dia pasangkan hari itu dan dia bisa membayangkan bagaiamana semua akan berakhir. Mungkin karena terlalu sibuk dengan pikirannya, dia tidak sadar dengan perhatian yang diberikan oleh para kaum adam yang ada di sekitarnya.

Bagaimana mereka bisa mengabaikan seseorang yang begitu indah seperti Jaejoong?

Kulitnya yang putih mulus. Lekuk badannya yang indah meski dalam balutan t-shirt abu-abu dan jeans yang sederhana. Bibir merahnya yang menggoda. Rambut panjangnya yang hitam sedikit kecokelatan itu berkilau terkena pantulan cahaya matahari bagaikan mahkota yang diinginkan oleh setiap yeojya.

”Umma!” Sebuah seruan menyadarkan Jaejoong dari lamunannya. Kepalanya berputar ke arah sumber suara dan mendapati sosok seorang namja kecil yang menunjukkan mismatch smile ke arahnya. Butuh sepersekian detik untuk Jaejoong memproses apa yang terjadi. Dan dia tidak menyadari tatapan kecewa dari para kau adam yang sedari tadi memperhatikannya. Mengetahui bahwa Jaejoong sudah tidak singel lagi membuat mereka semua sontak kecewa.

Jaejoong tersenyum lebar ketika namja kecil itu memeluk dirinya yang sedang duduk itu dengan erat. Karena tinggi namja itu, dia hanya bisa memeluk perut Jaejoong dan yeojya itu mengelus kepala namja kecil itu dengan  lembut. Seulas senyuman terukir di wajahnya. Hanya sekilas, tapi gerakannya terlihat bagai Bunda Teressa yang sedang merawat para anak kecil di jalanan. ”Changmin,” gumamnya dengan lembut.

”Umma, bogoshippo!” teriak Changmin yang semakin memperat pelukannya.

Memang semenjak perceraian mereka satu tahun yang lalu, Jaejoong semakin jarang bertemu dengan Changmin. Saat menikah saja, Jaejoong sendiri sudah sibuk dengan pekerjaannya, apalagi sekarang ketika mereka harus berpisah rumah? Tentu saja, waktu yang dihabiskan oleh umma dan anak itu semakin sedikit. Tiba-tiba Jaejoong menyadari sesuatu.

Yunho membawa Changmin!

Astaga, ini tidak ada di dalam perkiraannya. Tidak akan mungkin membawa Changmin yang sedikit rewel ke dalam kencan kali ini. ”Jaejoong-shi,” panggil Yunho.

Mendengar namanya disebut, Jaejoong langsung memutar kepalanya dan berhadapan dengan sepasang mata elang itu.

Gulp.

Dia menelan ludah melihat penampilan Yunho hari itu. Namja itu memakai kaus putih yang sangat pas di tubuhnya juga celana panjang yang membuat namja itu terlihat tinggi. Pakaian yang dikenakan namja itu lebih kasual daripada 2 kencan sebelumnya, namun entah kenapa Jaejoong melihat bahwa namja itu terlihat lebih tampan dalam balutan non formal seperti ini.

”Yun, Yunho-shi,” respon Jaejoong. Dia harus sedikit kesusahan mengontrol emosi yang tiba-tiba meluap di dalam tubuhnya. Aish, tenangkan dirimu Kim Jaejoong!

Tak berapa lama datanglah sesosok yeojya manis dengan tubuh mungil yang menghampiri mereka. Yeojya itu mengenakan kaos putih dipadu dengan rompi dan rok bermotif kotak-kotak. Wajahnya yang baby face membuat orang tak akan menduga bahwa sesungguhnya yeojya itu sudah mendekati pertengahan dua puluh.

”Mian, saya terlambat,” gumam yeojya itu.

”Gwen –”

Wookie?”

” – chana, eh?” Jaejoong cukup kaget mendengar panggilan mesra yang keluar dari mulut Yunho. Entah kenapa di sudut hatinya, dia merasa sedikit kecewa. Tapi, itu pasti hanya perasaannya.

Ryeowook memutar badannya hingga menghadap ke arah Yunho dan Jaejoong tidak melewatkan seulas senyuman lebar yang terpasang di wajah yeojya itu. ”Yunho?” tanya Ryeowook dengan nada tak percaya.

”Jadi kau yang akan menjadi teman kencanku hari ini?” Nada bicara Yunho terkesan lebih santai daripada biasanya dan Jaejoong tahu bahwa itu adalah kebiasaan mantan suaminya kalau sudah bertemu dengan orang yang dia kenal baik. Jadi, berarti kali ini pilihannya tidak salah bukan?

Ya, namun kenapa hatimu merasa tersayat-sayat sekarang, Kim Jaejoong?

Butuh tenaga ekstra bagi Jaejoong untuk mengabaikan percakapan yang dilakukan oleh kedua orang yang ada di hadapannya. Beruntung ada Changmin di dekatnya sehingga dia memutuskan untuk memperhatikan Changmin dan menanyakan bagaimana keadaan namja kecil itu. Rasanya tidak percaya bahwa mereka sudah tak bertemu selama 1 tahun. Usia Changmin sekarang sudah 6 tahun dan dia sedang menduduki kelas 2 SD. Jaejoong merasa takjub dengan prestasi Changmin yang begitu memukau jadi sebenarnya tidaklah heran kalau Changmin lompat kelas.

”Baiklah, saya akan meninggalkan kalian berdua di sini,” ujar Jaejoong setelah merasa udara di sekitarnya mulai sedikit sesak. Dia merasa salah tempat berada di sekitar dua orang yang seperti pasangan kekasih yang dipertemukan itu.

Ryeowook mengangguk. ”Ah ne,” jawabnya sembari tersenyum lebar. Jaejoong mengerti arti dari senyuman itu. Tanda bahwa Ryeowook akan menikmati acara kencan kali ini. Ketika doe eyes-nya bertatapan dengan sepasang mata elang milik Yunho, dia menelan ludah. Kenapa Yunho melihatnya seperti ini? Seolah ada kilat amarah yang sedang dipancarkan oleh namja itu. Tidak, dia pasti salah lihat. Itu semua pasti hanya perasaannya saja.

”Changmin ikut denganku,” ujarnya dengan tegas.

Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan pelan. Membawa anak dalam kencan pertama bukan hal yang baik meskipun tampaknya Ryeowook tidak keberatan dengan hal itu. Tapi, tetap saja, kencan pertama adalah agar mereka berdua saling mengenal. Kalau Changmin ikut mereka, Jaejoong yakin bahwa perhatian Yunho akan teralihkan untuk mengawasi Changmin. ”Ani, aku akan menjaga Changmin, lagipula sudah lama kita tidak bertemu, ne Changmin?”

Changmin mengangguk dengan antusias. Tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk bersama dengan Jaejoong terlebih lagi kali ini Jaejoong sendiri yang menawarkan. Melihat Yunho yang menghela nafas, Jaejoong tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Akhirnya dia bisa mengendalikan situasi juga. ”Arasso,” jawab Yunho. ”Tapi, pastikan dia tidak makan pedas, perutnya masih belum beres, ne?”

Yeojya itu mengangguk dengan cepat begitu pula dengan Changmin. Lagipula, pikir Jaejoong, dia juga tidak akan membawa Changmin untuk pergi makan, hanya berkeliling di sekitar taman. Setelah membiarkan Yunho dan Ryeowook untuk masuk ke dalam tempat kencan kali ini, yaitu aquarium yang terletak di tengah kota, Jaejoong segera menarik Changmin untuk berkeliling di luar.

Namja kecil itu sangat antusias untuk melihat apa yang ada di sana. Mereka mengambil beberapa foto dengan latar belakang pemandangan atau patung yang ada di taman itu. Terkadang mereka meminta orang untuk mengambil foto mereka berdua. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata bahwa mereka sangat senang hari itu.

Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya Changmin dan Jaejoong duduk di ayunan dekat taman di sana. Jaejoong menyuruh Changmin untuk tidak ke mana-mana karena dia hanya akan pergi sebentar untuk membeli makanan dan minuman untuk mereka. Changmin mengangguk terhadap perintah Jaejoong. Merasa tenang bahwa Changmin sudah berjanji, Jaejoong berdiri dan berjalan ke tukang penjual makanan yang ada di dekat mereka. Dia memutuskan untuk membeli jagung bakar dua untuknya dan Changmin.

”Ah, jagungnya 2 ya,” ucap Jaejoong dengan ramah kepada sang penjual.

Dia menunggu di dekat sana sembari matanya mengelilingi taman itu. Letak taman kota itu cukup besar. Tempat penjual jagung itu berada di seberang air mancur sehingga ketika Jaejoong berbalik, dia dapat melihat air mancur kota itu. Sementara tempat aquarium yang didatangi Yunho dan Ryeowook tadi juga berada di seberang air mancur. Singkatnya air mancur itu menjadi penengah antara tempat Jaejoong berada sekarang dengan aquarium tersebut.

Jaejoong memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di sebelah penjual jagung bakar itu. Pikirannya terbang kepada mimpi yang dialaminya tadi pagi. Padahal sudah begitu lama dia tidak bermimpi tentang hari itu, hari pernikahannya, hari yang seharusnya menjadi hari yang paling indah bagi dirinya.

Yeojya itu sedikit menyandarkan tubuhnya sembari kepalanya menghadap ke arah langit sore. Dia tidak habis pikir bagaimana pernikahannya bisa berakhir seperti ini. Apakah dia dulu terlalu naif beranggapan bahwa Yunho akan menerima dirinya yang bekerja? Bukankah mereka sudah berjanji bahwa mereka akan tetap melanjutkan pekerjaan mereka sampai mereka merasa sudah saatnya harus berhenti bukan? Lantas kenapa? Apa yang salah di dalam dirinya?

Memang pada saat itu Jaejoong harus berusaha lebih keras karena dia baru saja mendapat jabatan baru. Dia berharap Yunho bisa mengerti akan hal itu, tapi kenapa? Kenapa namja itu malah menuntut cerai dari dirinya? Kalau tidak mengingat dia sudah bisa berpisah dengan Yunho selama 1 tahun dan dia sedang berada di taman, di mana semua bisa menatapnya, mungkin dia akan kembali meringkuk dan menangis. Ah, masih segar di ingatannya bagaimana setelah proses perceraian itu selesai, dia menangis dan tak keluar dari apartemen lamanya seminggu penuh. Hankyung sampai harus datang dan menanyakan apa dia baik-baik saja.

Tentu saja Jaejoong hanya tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya berada dalam kendalinya. Akhirnya setelah 1 tahun berlalu, dia bisa melewati semuanya. Ironisnya adalah, dia bisa menghasilkan begitu banyak pasangan yang awet, namun tidak dengan pernikahannya sendiri.

”Nona? Jagung bakar anda?”

Lamunan Jaejoong buyar dan dia langsung mengambil dompetnya yang ada di dalam saku celananya. Setelah membayar jagungnya, dia bermaksud untuk kembali ke tempat Changmin karena tak ingin membuat anak itu menunggu dirinya terlalu lama. Ketika dia hendak berbalik, matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang seketika membuat dadanya sesak.

Tak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi, dia segera berlari tak tentu arah. Dia sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa kembali berada di tempat Changmin tadi. Kepalanya tertunduk sejenak untuk menenangkan perasaannya. Hal pertama yang dia lihat ketika kepalanya terangkat adalah ayunan yang kosong dan seketika itu juga dia menjadi panik. Plastik yang berisi jagung bakar tadi pun terjatuh ke atas tanah dan telah terlupakan.

Dia mengitari setiap tempat yang ada dan bertanya pada semua yang berada di taman itu namun jawaban yang dia dapat sama, mereka semua terlalu sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing dan tak memperhatikan keberadaan Changmin. Badan Jaejoong terasa lemas dan dia langsung terduduk di atas rumput dengan raut wajah lelah.

Puk.

Ekspresi wajah Jaejoong kembali cerah, berharap bahwa yang menepuk pundaknya adalah Changmin, tetapi senyum itu memudar kala melihat bahwa pemilik tangan itu adalah Ryeowook. Yeojya itu menunduk dan raut wajahnya terlihat khawatir melihat Jaejoong sementara Yunho hanya menatapnya dengan ekspresi kosong.

”Jaejoong-shi, gwenchana?” tanya Ryeowook dengan suaranya yang lembut.

Butuh beberapa waktu bagi Jaejoong untuk menguatkan hatinya dan berdiri. ”Changmin,” mulainya. Cairan bening mulai mengaburkan pandangannya. ”Changmin hilang! Hiks,” isaknya.

Mendengar apa yang dilontarkan Jaejoong tadi, Yunho ikut panik. Amarah menguasai dirinya. Yunho menarik kerah Jaejoong tak peduli meskipun yang ditariknya adalah seorang yeojya. ”Kau bilang akan menjaga Changmin!” geram Yunho.

Jaejoong terlihat begitu gemetar. Dia tak bisa menjawab apa-apa. Semua memang salahnya, kalau saja dia tidak meninggalkan Changmin, mungkin saja namja itu tidak akan hilang. ”Yunho,” gumam Ryeowook. Dapat dilihat dari raut wajah yeojya itu, dia tidak percaya bahwa Yunho bisa kehilangan kendali seperti ini. Yunho yang dia tahu adalah seorang namja yang bisa menjaga emosi dan mengendalikan dirinya, bukan Yunho yang seperti ini. Dia seolah dapat menerkam Jaejoong sewaktu-waktu.

”Inilah sebabnya kenapa kau tidak pernah bisa menjadi umma Changmin,” desis Yunho.

Jaejoong yang sedari tadi terdiam segera tersentak kaget dengan pernyataan Yunho tadi. Jadi inikah alasan kenapa Yunho menceraikannya? Pada akhirnya semua karena Changmin. ”Kenapa?” balas Jaejoong sembari menepis tangan namja itu. ”Kenapa kau tidak pernah menanyakan keadaanku? Changmin, Changmin, semua selalu tentang Changmin! Aku jadi curiga jangan-jangan dia bukan anak dari adikmu, tapi anakmu sendiri, ya kan?!”

Plak.

Semua yang berada di taman itu menghentikan aktivitas mereka dan memusatkan perhatiannya kepada ketiga orang yang sedang melakukan free live drama ini. Tangan Jaejoong perlahan meraih pipi kirinya yang mulai memerah karena perlakuan Yunho tadi. Sementara itu, ekspresi Yunho dipenuhi amarah walau sekilas tampak di matanya bahwa dia juga sedikit terkejut dengan perbuatannya.

”Yunho,” gumam Ryeowook yang tak percaya bahwa Yunho baru saja menampar seorang yeojya.

”Dengar, aku –”

”HENTIKAN! Sudah cukup, aku akan mencari Changmin! Mian, aku yang salah, puas?!” sela Jaejoong dengan cepat. Pipi yang ditampar Yunho tadi mulai memerah dan rasa perih mulai menjalar. Pandangannya benar-benar mengabur dan dia dapat merasakan wajahnya mulai basah. Tak membiarkan Yunho untuk mengatainya lagi, dia segera berbalik dan berlari ke arah lain untuk mencari Changmin. Dia berlari secepat yang dia bisa, berharap Yunho tak akan bisa menyusulnya. Ada dua perasaan berkecamuk di dalam hatinya kala mendapati Yunho tak mengejarnya. Rasa lega karena dia tak perlu berhadapan dengan namja itu lagi dan rasa kecewa. Entahlah, mungkin dia berharap bahwa Yunho akan meminta maaf atas apa yang namja itu lakukan, tapi mengingat sifat mantan suaminya, sepertinya itu sangat mustahil.

Dengan perasaan yang campur aduk, Jaejoong mencoba untuk mencari Changmin. Air matanya sudah berhenti mengalir karena dia tahu menangis sekarang tak ada gunanya. Seluruh taman sudah diitarinya namun batang hidung Changmin tak kunjung tampak. Jaejoong sudah hampir menyerah kalau saja dia tidak mendengar suara tawa yang berada dekat dengan kran air taman.

”Hyung!”

Deg.

Jaejoong mengenal suara tinggi itu. Maka dengan cepat dia segera berjalan menuju ke arah sumber suara. Hatinya langsung bernafas lega mendapati Changmin sedang bermain dengan seorang anak namja yang sepertinya lebih tua dari Changmin 2 atau 3 tahun. Changmin sedang disemprot menggunakan cipratan yang dilakukan oleh namja yang lebih tua itu.

”Changmin!” Mendengar namanya dipanggil, namja itu segera memutar badannya dan melihat Jaejoong yang sudah melipat tangannya di depan dada. Tampak bahwa yeojya itu sedang marah besar.

Gulp.

Changmin menelan ludah dan hanya bisa berharap semoga yeojya itu tidak akan mendampratnya habis-habisan. Jaejoong tidak memarahinya, sebaliknya dia merasakan kehangatan menyelimutinya. ”Ke mana saja kau anak bodoh?!” tegur Jaejoong.

Tangan mungil Changmin melingkar di leher Jaejoong mencoba untuk menenangkan tubuh yeojya yang bergetar di dalam pelukannya itu. ”Mian, umma, mian,” bisik Changmin pelan. Sedikit rasa bersalah timbul di hatinya karena menyebabkan umma-nya khawatir. Meski Changmin tahu bahwa Jaejoong bukanlah umma kandungnya, tapi dia sudah menganggap yeojya itu sebagai umma-nya. ”Lain kali jangan ke mana-mana tanpa memberitahu umma, arasso?”

”Urm,” jawab Changmin disertai dengan anggukan membuat namja itu terlihat begitu menggemaskan di mata Jaejoong. Yeojya itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubiti pipi tembem Changmin.

”Dan kau anak muda,” tegur Jaejoong pada namja yang bersama Changmin tadi. ”Siapa dirimu?”

Namja itu menunduk memberi hormat kepada Jaejoong. Satu hal yang membuat Jaejoong terkejut adalah aura yang mengelilingi namja itu, ada sebuah rasa hormat yang timbul kala dia melihat anak itu. ”Mian, ahjumah, Choi Dong Wook imnida. Saya sunbae Changmin di sekolah dan tadi saya yang mengajaknya main. Saya minta maaf jika dia menyebabkan anda kerepotan tadi. ”

Yeojya cantik itu mengangguk dan kemudian mengacak-acak rambut Dong Wook. ”Ne, arasso.” Meskipun amarahnya tadi meledak-ledak, tapi melihat permintaan maaf yang tulus dari keduanya, Jaejoong tak sanggup untuk memarahi mereka. Alhasil dia hanya membawa keduanya ke dalam pelukannya. Karena dalam posisi berlutut, tinggi ketiganya seimbang sehingga pelukan yang diberikannya lebih mudah.

”Pokoknya jangan pergi ke mana-mana tanpa memberitahu umma dulu ne? Kau tahu kan kalau appa-mu itu sangat panikan?” Namja pemilik mismatch smile itu mengangguk dengan cepat. Helaan nafas lega keluar dari Jaejoong. Satu masalah selesai, sekarang dia harus menghadapi masalah yang lain.

Satu hal yang tak pernah Jaejoong mengerti, apakah sumpah setia yang mereka ucapkan di altar gereja hari itu tidak berarti sehingga dengan mudahnya Yunho menuntut cerai darinya? Kenapa? Apa sebenarnya yang salah dari pernikahan mereka?

”…ma? Umma?” Panggilan lembut dari Changmin menyadarkan Jaejoong dari pikirannya. Entah sudah berapa kali dia melamunkan hal yang sama. Padahal dia sudah berhasil melupakan segala kegelisahannya, kenapa kali ini hal itu muncul kembali? ”Gwenchana?”

Senyum lembut terukir di wajah cantik Jaejoong yang mengundang banyak perhatian dari para kaum adam yang sedari tadi mendaratkan mata mereka pada sosok Jaejoong. ”Ne, gwenchana. Ayo kita temui appa-mu, mereka pasti sudah selesai berkencan. Bagaimana dengan kau Dong Wook?”

”Ah, gwenchana, sebentar lagi appa-ku juga akan menjemputku. Ah, itu dia!” Kepala Jaejoong berputar untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleh Dong Wook. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat. Seorang namja berparas tampan yang memakai kemeja putih bergaris vertikal dipadu dengan celana hitam sedang berjalan ke arah mereka. Wajahnya menampilkan sebuah senyuman berlesung pipi yang membuat raut ekspresinya terlihat ramah dan hangat. Sebenarnya bukan itu yang diperhatikan Jaejoong, melainkan wajah namja itu yang terlihat familiar.

Ketika namja itu telah sampai di hadapan mereka, tatapan mata Jaejoong tak pernah lepas dari namja itu membuat appa dari Dong Wook akhirnya menyadari kehadiran Changmin dan Jaejoong di sana. ”Jae?”

Ah, suara itu! ”Choi Siwon?” Namja pemilik dimple smile itu tersenyum sekali lagi dan mengangguk dengan antusias. ”Dong Wook adalah anakmu?” Untuk pertanyaan yang dilontarkan Jaejoong tadi, namja bernama Siwon tadi terlihat ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. ”Tapi, dia?”

”Iya, dia anakku dari mantan istriku,” jawab Siwon dengan cepat.

Mendengar kata mantan, Jaejoong sedikit terkejut. Dia berdiri dengan perlahan agar bisa mengimbangi tinggi mereka atau setidaknya mengurangi jarak tinggi mereka. ”Ne, istriku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu saat melahirkan Dong Wook, kau ingat Stella?” Jaejoong mengangguk. Oh, dia ingat sekali dengan yeojya itu. Memang pada masa kuliahnya dulu, Siwon dan Stella terlihat seperti sepasang kekasih yang begitu mesra dan tak heran bagi Jaejoong mendapati keduanya berakhir pada pernikahan. ”Ya, dia meninggal saat melahirkan Dong Wook.”

Terdengar nada sedih yang tersirat di dalam ucapan Siwon dan Jaejoong sedikit merasa bersalah telah mengungkitnya. ”Mian, aku tidak tahu.”

Siwon menggelengkan kepalanya dengan cepat. ”Gwenchana, itu bukan salahmu juga. Kita juga sudah lama tidak saling mengontak. Oh ya, bagaimana dengan Yunho?”

Raut wajah Jaejoong berubah kala mendengar nama Yunho disebut. Dia masih bisa merasakan perih yang ada di pipinya akibat perbuatan Yunho tadi. ”Kami sudah bercerai,” jawab Jaejoong dengan cepat sembari menggigit bibirnya.

”Benarkah? Padahal kalian pasangan yang sangat serasi lho,” tutur Siwon dengan nada serius bercampur canda. Anggukan menjadi respon dari Jaejoong karena dia sudah tak percaya dengan suaranya sendiri. ”Apakah berarti aku masih ada kesempatan, Jae?”

Kepala Jaejoong terangkat memperlihatkan doe eyes-nya yang selalu memancarkan kepolosan dan kenaifannya. Kepalanya sedikit dimiringkan dan tanpa dia ketahui bahwa gerakan itu justru membuatnya terlihat begitu imut. ”Eh?” tanya Jaejoong dengan kaget.

Dengan berani Siwon meraih kedua tangan Jaejoong dan menggenggamnya membuat kedua pipi yeojya itu memerah. ”Sebenarnya sudah sejak dulu aku tertarik padamu, tapi Yunho yang mendapatkanmu dan aku memutuskan untuk menyerah, apakah –”

”Umma!” sela Changmin. Kedua orang dewasa yang terhanyut dengan percakapan mereka tadi tak memperhatikan raut wajah Changmin yang terlihat tak suka. Hanya Dong Wook yang menyadari perubahan ekspresi Changmin. Namja yang paling muda itu memajukan bibirnya menunjukkan bahwa dia tak suka diabaikan. Padahal sebenarnya dia merasa tidak nyaman ketika seseorang selain appa-nya memegang umma-nya.

Begitu Changmin menyebutkan namanya tadi, Jaejoong segera menarik tangannya dari genggaman Siwon dan menuju ke arah Changmin. ”Ne, Changmin-ah?” tanyanya lembut.

”Aku mau pulang, appa juga pasti sudah menunggu!” gerutu Changmin yang segera disambut dengan senyuman lembut dari Jaejoong.

Jaejoong bermaksud untuk mengucapkan salam perpisahannya ketika sekali lagi tangan Siwon menghentikan gerakannya. Tangan namja itu memegang erat pergelangan tangan kirinya. Sebenarnya Jaejoong ingin melepaskan tangannya, tapi genggaman Siwon terlalu kuat. ”Siwon?”

”Aku serius Jae, jika kau mengijinkanku, aku akan –”

”Jae tidak akan menjadi milikmu atau siapapun,” seru sebuah suara yang membuat keempat orang yang menjadi pusat perhatian taman itu menghentikan aktivitasnya. Merasa genggaman Siwon sudah mulai melemah, Jaejoong segera memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan tangannya.

Yeojya itu cukup kaget melihat kilat amarah yang ada di mata elang milik Yunho. Kenapa namja itu marah? ”Tidak sampai dia menemukan seseorang yang pantas untukku,” lanjut Yunho lagi dan itu sontak membuyarkan semua harapan Jaejoong.

”Maksudmu?” tanya Siwon dengan tanda tanya besar.

Yunho berjalan ke arah Jaejoong dan meninggalkan Ryeowook yang sedang mengambil nafas karena mengejar langkah Yunho tadi. ”Saat ini, Jaejoong bertugas untuk mencarikanku umma yang pantas untuk Changmin. Sampai saat itu tiba, dia masih milikku,” ujar Yunho dengan nada posesif. Tangannya langsung melingkar di pinggang ramping Jaejoong dan menarik yeojya itu dalam pelukannya. Matanya tak melewatkan rona merah yang tampak di wajah Jaejoong.

”Kalau begitu, Yunho-shi, saya bersedia untuk membantu anda mencarikan umma untuk Changmin jika itu berarti saya bisa mendapatkan Jae,” jawab Siwon dengan santai.

Kalau situasi mereka digambarkan di dalam komik, mungkin latar belakangnya adalah petir tak lupa dengan sound effect guntur dan tentu saja kilatan cahaya yang keluar dari antara keduanya.

Sepertinya takdir mempunyai rencana lain bagi mereka.

Ataukah seseorang yang memperkirakan ini semua?

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Alow semua 😀 apakah chingudeul merindukan saya? Saya rindu lho sama chingudeul ^^v #peluksatusatu

Ini chapter comeback saya setelah UTS yang panjang~ (lebai Cuma 5 hari padahal). Ah, untuk BD dan SD maaf bukannya gak mau dilanjutkan, tapi otak saya sudah diperas sama soal2 UTS T_T

Bayangkan dibanting akuntansi, ekonomi dan statistik tiga hari berturut2 alhasil ujian terakhir saya udah malas belajar deh *Curcol*

Ah, gimana dengan chapter ini? 😉 siapa yang minta Changmin muncul? Udah saya munculkan nih, dan kaykny ada hint-hint se7min dikit #plak

Maaf ya kalau chapter ini amat sangat lama -__-”  dan sya masukkin Siwon untuk menambah ’suasana’ gimana2? :3

.

.

Last, review? 😉

_Verzeihen

Advertisements

21 responses to “Chapter 2: Ryeowook

  1. aaaa… sebenarnya apa masalah perceraian yundad ma jaemom sich? aigooo siwon muncul, n jadi orang ketiga,,, ayo wonnie bikin rusuh aja #dilemparbom,, biar yundad ma jaemom sadar klo mereka masih saling cinta…. next chap

    • wkwkwk..apa ya? Dibaca aja, pasti tau xD #plak
      iya, emang siwon selalu jadi orang ketiga neh u,u yundad ama jaemma juga suka kyk gitu, pura2 jual mahal neh u,u #eh

  2. Apa hubungan Yunho sama Ryewook, kok kelihatannya mereka akrab banget sampai pelukan segala.
    Appa bilang Jae miliknya? Appa posesif banget, padahal umma udah bukan istrinya. Hayo appa ada saingan tuh, Gimana kalau Jae direbut Siwon.
    aaa.. ada Se7Min-nya ^^ ternyata Changmin pergi karena diajak se7en? pantasan dia ngikut aja

    • cuma hubungan kerja…sepertinya emang ryeowook yg kesemsem sendiri sama yunho xDD kkk~
      wkwkwk…appa sih sok jual mahal u,u iya dong, kan saya pecinta se7min,j adi hrus ada #plak

  3. eonnie, aku lupa uda komen chapter brapa ajah *sigh*

    Jadi ulang aja yah dari chapter ni, cz klo prolog ama chap 1 aku lumayan yakin uda komen.. 🙂
    Entah d ffn atau dsini #plak
    Mian, huhu, ingatan jangka pendek ini emg nyusahin kdg2 u,u

    Ah well, appa posesif dsini kliatan bgt :9
    Siwon ada2 aja deh ih. Sebel sndiri liatnya t,t
    Hikseuuu…

    Umma, tetep tabah yaaa…
    Appa masi cinta kookk
    Tuh buktinya posesif!! :9 *ngasal

    • wkwkwk..gwenchana
      langsung dari yang akhir juga gappa kok santai aja xDD

      iya..sama, ingatanku juga menyebalkan ini –a #ggiit #eh
      jangan sebel dong..siwon emang saingan paling tepat #lho

      kkk..#puk2 umma #lho
      bener banget, appa lagian sok2an u,u #jduar

  4. wah jangan2 emang appa cuma mau bikinkeyakinan aja
    appa tau pasti eomma itu enggak bakalan bisa ama org lain
    nah maka nya di apura2 make jasa eomma?
    wah appa emang jeniusdeh
    eh enggak di sangka bakalan menuai ‘badai’ yah

  5. Ahh,, chap 1 tae n skrg ryewook yg jd psnganxa yunpa, trus chap dpan spa lg nih.
    Mana siwon ikut2n ska sma momy lg,,
    smoga yunjae cpet ber1.

  6. Yunpa kejamm, skrang mlai main tngan. Ahahaha yunpa gk rela jaema d incar orng, aigoo sfat posesifny gk ilang. Ommo. . Itu pict wookie,? Hoho level psona msh tinggi jaema mka’ny yunpa gk bs brpaling. ,

  7. yunpa nampar jaema..
    jahatttttttttttttttttt…
    skrang yunpa malah posesif sma jaema..
    haduhhh bakaln ada yang CLBK nih

  8. Howaaaarrww t.t
    pertama buka halaman ini
    “wth, ryeowook cuma buat yesung!!!!” kekekekeke~
    awalnya aku gasuka genderswitch, aku lebih suka boyxboy yang dibuat kisahnya lebih ‘real’ di kenyataan hehe.
    Tapi setelah sampai disini, baru saya sependapat dengan author, kalau ceritanya begini,emang dapet feel nya harus di gs-in^^
    aku mau lanjut ke chapter berikutnya dulu,ppai 😀

  9. Huwaaa appa jahat #poorumma

    Ish ish ish sikap posesifnya appa keluar :/ kalo masih mencintai umma kenapa ga bilang aja apa, lagipula emang cuma umma yang cocok buat appa *gigitbantal*

    Itu siwon apa2an!!! *ngasahgolok*

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s