Chapter 3: Friends


Title: Matchmaker

Rated: T possible M

Couple: Yunjae and others

Warn: GS!

Summary: Namanya Kim Jaejoong, matchmaker yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi kehebatannya. Sudah banyak pasangan yang menikah karenanya. Tapi, bagaimana ketika suatu saat mantan suaminya menjadi kliennya?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

”Aku rasa bulan madu ke Paris sangat indah. Malamnya mereka bisa pergi ke Eiffel Tower untuk menikmati keindahan kota Paris. Lagipula Paris juga terkenal dengan romansanya kan? Ah, bagaimana menurutmu, Jae? Jae? Jae? JAE?!”

Mendengar namanya sontak membuat Jaejoong yang sedari tadi tertunduk akhirnya tersentak kaget. Di hadapannya sekarang terdapat seorang yeojya yang memiliki rambut hitam kecokelatan sepunggung. Badannya cukup tinggi dengan hidung mancung dan agak kecil. Tatapan matanya yang tajam terkadang mengingatkan Jaejoong terhadap mantan suaminya.

Ah, Jaejoong segera menggelengkan kepalanya begitu teringat kembali akan mantan suaminya. Kejadian kemarin cukup membuatnya merasa bingung. Bukankah Yunho sudah menceraikannya? Kenapa kemarin seolah Yunho tak ingin melepasnya? Oh, apa yang sebenarnya terjadi? ”Hei, gwenchana?” tanya yeojya itu dengan lembut ke arah Jaejoong yang kembali termenung.

Tak ingin mengkhawatirkan sahabatnya, Jaejoong menggelengkan kepalanya membuat ikal kudanya ikut bergoyang.

”Ah, Jaeku memang selalu cantik dalam keadaan apapun,” seru sebuah suara dari arah kanan kedua yeojya tersebut. Jaejoong hanya menghela nafas sebelum memutar kepalanya dan melihat ke arah seorang yeojya dengan rambut indigo-nya (ya, rambutnya tentu saja dicat, maksudku, tidak mungkin ada rambut alami berwarna indigo bukan?) yang dibiarkan terurai. Yeojya itu memakai kacamata berbingkai putih yang membuatnya terlihat manis. Bibirnya yang mengemut lolipop membuatnya terlihat lucu. Meskipun usianya yang tak bisa terbilang muda, tapi rasa cintanya terhadap lolipop tak bisa dilepaskan begitu saja.

Seriously, Han Jihyun, kau bertingkah seperti seorang stalker saja! Kalau aku tidak tahu kau sebagai sahabatku, mungkin aku akan berpikir kau sebagai seorang maniak!” seru yeojya yang duduk di seberang Jaejoong tadi sementara sang objek yang dijadikan model untuk difoto oleh yeojya bernama Jihyun tadi hanya terkekeh.

”Sudahlah, Enno, kau seperti tidak tahu sahabat kita saja.” Kembali sebuah suara lain datang menginterupsi interaksi mereka. Suara kali ini berasal dari yeojya yang memiliki rambut super panjang dan  berwarna – lagi-lagi – ungu gelap yang disanggul agar tidak menganggu. Terkadang Jaejoong berpikir apakah mungkin lebih baik dia juga ikut mencat rambutnya? Warna merah mungkin? Mengingat dia suka warna merah selain hitam.

Yeojya yang bernama Enno itu hanya bisa menghela nafas. ”Ne, arasso. Hanya saja terkadang aku berpikir Jihyun seperti jelmaan nyata dari Tomoyo yang ada di Card Captor Sakura. Kalian tahu anime itu kan?”

Jaejoong mengangguk berasama yeojya yang baru datang tadi sementara Jihyun memajukan bibirnya tanda bahwa dia cemberut. ”Aish, kalian ini,” gerutunya yang langsung mengambil tempat duduk di samping Enno. Alasannya? Agar dia bisa mengambil foto Jaejoong yang duduk di seberangnya.

”Eh, tapi kalau dipikir-pikir apa yang dibilang Enno benar juga, Jae. Jihyun itu rambutnya indigo sedikit mirip dengan Tomoyo dan juga panjang. Sayangnya, dia tidak bisa menjahit baju dan rambutnya tidak keriting,” gumam yeojya yang baru datang terakhir tadi yang sudah duduk di samping Jaejoong.

”Haha, dan jangan lupa kalau Tomoyo jauh lebih manis juga daripada Jihyun,” sambung Enno yang membuat bibir Jihyun semakin maju. Gelak tawa memenuhi meja makan mereka. ”Apalagi Jaejoong juga memiliki rambut cokelat kehitaman yang mirip dengan Sakura.”

”Ah, dan tak lupa juga kekuatannya untuk menjodohkan orang itu,” celetuk yeojya yang duduk di samping Jaejoong.

Entah kenapa mendengar kata jodoh membuat wajah Jaejoong kembali murung. Hal ini, tentu saja, tidak dilewatkan oleh ketiga sahabatnya. Enno memberi tanda dengan gerakan matanya kepada yeojya yang duduk di sebelah Jaejoong. Sementara Jihyun? Dia tentu saja tak akan melewatkan wajah merenung Jaejoong yang ada di hadapannya bukan?’

”Gwenchana?” tanya yeojya itu dengan lembut.

Jaejoong menggeleng dengan cepat, tak ingin membuat ketiga sahabatnya khawatir. ”Gwenchana, Okav, aku baik-baik saja.”

Tapi, jawaban Jaejoong justru membuat ketiga sahabatnya semakin khawatir. Ketiga yeojya itu saling berpandangan dan akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang meresahkan sahabatnya. Sejauh yang mereka tahu, hanya ada dua hal yang bisa menyebabkan Jaejoong seperti ini.

Satu. Pekerjaannya yang sejauh mereka tahu tidak mengalami kendala selain kalau dia akhir-akhir ini harus lembur.

Dan dua. Seseorang yang bernama lengkap Jung Yunho.

.

.

3rd Match

’Friends’

by eL-ch4n

09.05.2012

.

.

Bukan mau Jaejoong sebenarnya untuk mengambil cuti hari ini, tapi entah kenapa badannya terasa sangat tak bertenaga apalagi karena kejadian kemarin. Padahal sebenarnya dia berencana untuk menghabiskan siangnya dengan makan bersama dengan teman-temannya, tapi malah berujung dengan dia diinterogasi di dalam apartemennya sendiri! Bayangkan itu!

Yah, mulanya karena Oktav yang terus bersikeras menanyakan tentang keadaan Jaejoong yang tentu saja dijawab dengan senyuman paksa. Hal ini membuat yeojya berambut super panjang itu kesal. Baru saja dia hendak membentak, Jihyun sudah berteriak terlebih dahulu, ”Ya! Sudah diputuskan, acara berikutnya adalah di apartemen Jae!”

Tentu saja hal itu ditolak habis-habisan oleh Jaejoong. Maksudnya memanggil mereka bukan untuk membicarakan kejadian kemarin, melainkan untuk bersenda gurau dengan sahabatnya. Mengingat sifat sahabatnya yang keras kepala itu, Jaejoong hanya bisa menghela nafas ketika Enno menarik Jaejoong ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas ke apartemennya. Ah, untung saja dia Heechul mengijinkan dia untuk beristirahat karena mendengar suara Jaejoong yang lemas tadi.

”Jadi?” tanya Oktav sembari mengangkat kedua alisnya. Lahir di keluarga yang sangat mementingkan tata krama, Oktav duduk dengan sopan. Rambut panjangnya juga adalah perintah dari neneknya. Katanya itu agar keberuntungan Oktav tidak berkurang dan hanya boleh dipotong setelah neneknya meninggal. Sungguh aturan yang aneh menurut Jaejoong.

Saat ini, keempat yeojya itu sedang duduk di lantai kamar tidur Jaejoong yang cukup luas. Jihyun tetap memegang kameranya dan menggunakan kesempatan itu untuk merekam kamar Jaejoong. Kamar matchmaker itu tidak terlalu penuh riasan. Hanya memakai wallpaper bergambar langit yang katanya membuat jiwanya terasa lebih tenang. Keempatnya kembali duduk pada posisi yang sama, hanya saja kali ini dengan ketegangan.

”Jadi apa?” tanya Jaejoong berpura-pura tidak tahu.

Mereka memang sahabat baiknya, tapi dia tidak tahu apakah membicarakan tentang kehadiran Yunho kembali dalam dirinya adalah hal yang baik. Dia teringat ketika proses perceraian itu selesai, butuh kurang lebih 5 jam untuk meyakinkan Oktav untuk tidak menggunakan katana (Jaejoong tidak tahu kenapa ada katana di rumah sahabatnya itu) dan membelah tubuh Yunho menjadi dua. Dia juga harus meyakinkan Enno agar tidak mengerjai Yunho dalam perjalanan bisnis mantan suaminya. Tak lupa dengan Jihyun agar sahabatnya yang satu itu tidak menyebarkan foto Yunho yang tidak-tidak (yang tentu saja hasil editan) ke dalam jejaring sosial. Terkadang Jaejoong berpikir apakah ketiga sahabatnya itu mempunyai pekerjaan sampingan lain selain pekerjaan mereka sekarang.

”Aish, kau ini!” gerutu Enno sembari menggelengkan kepalanya.

”Kalian mau minum?” tanya Jaejoong lagi.

Sebelum dia berdiri, Oktav sudah menarik tangan Jaejoong untuk kembali duduk. ”Tidak perlu dan jangan mengalihkan pembicaraan lagi!”

Glek.

Jaejoong tahu itu pertanda tidak baik ketika Oktav sudah meninggikan suaranya. Bagai anak kecil yang penurut, yeojya itu duduk di samping sahabatnya kembali. ”Aigoo, Jaejoong yang ketakutan seperti ini juga kyeopta, seperti anak kucing,” gumam Jihyun yang langsung mendatangkan helaan nafas dari sahabatnya.

”Nah, sekarang ayo ceritakan kepada kami,” ujar Enno dengan lembut. Kalau dalam keadaan seperti ini, dialah yang bertugas seperti pendamai. Biasanya tugas itu dikerjakan Oktav, tapi mengingat keadaan Oktav, rasanya hal itu tidak mungkin.

Yeojya cantik bermata doe itu menggigit bibir bawahnya dengan keras. Tampak bahwa dia sedang berpikir keras apakah ingin menyampaikan tentang hal ini atau tidak. ”Pasti tentang Yunho yang menjadi klienmu bukan?” Pertanyaan yang berasal dari mulut Jihyun membuat Jaejoong terpaksa mengangkat kepalanya. Sahabatnya yang satu itu hanya tersenyum lembut sembari membereskan kamera yang ada di tangan.

Gulp.

Sang matchmaker menelan ludah. Dia tahu meskipun Jihyun sedang tersenyum, aura hitam di sekeliling yeojya itu tak luput dari mata Jaejoong. ”Ji – Jihyun,” gumam Jaejoong dengan gugup.

”Apa? Yunho menjadi klien Jaejoong?!” seru Enno.

Jihyun mengangguk. ”Ne, karena bekerja di IT, kurang lebih aku tahu tentang beberapa hal penting untuk mengikuti semua kegiatan Jae-ku~” Kalau dalam komik-komik, mungkin ketiga sahabatnya sekarang memiliki buntalan putih yang ada di samping kepala mereka dan ber-sweatdropped ria. ”Dan aku menemukan bahwa Heechul menyuruhmu mencarikan Yunho pasangan bukan?”

”Heechul? Kenapa Kim Heechul melakukan hal itu? Memangnya dia tidak tahu –”

”Dia tidak tahu, Oktav. Lagipula, Heechul kan baru menikah dengan Hankyung baru-baru ini dan tentu saja mengingat perilaku Hankyung, rasanya mustahil dia memberitahukan privasi pegawainya kepada istrinya itu,” sela Jihyun.

Enno kemudian memandang ke arah Jaejoong yang menundukkan kepalanya. ”Jadi, apakah ini tentang Yunho?”

Hening melanda keempat yeojya itu cukup lama. Ketiga sahabatnya tahu bahwa Jaejoong memerlukan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya. ”Ne,” mulainya dengan pelan. ”Aku, aku tak mengerti.” Dia menggigit bibir bawahnya dan masih tak ingin mengangkat kepalanya. ”Dia menceraikanku dan tiba-tiba. Tiba-tiba saja dia datang menginginkan seorang pasangan untuknya. Aku tak mengerti.”

”Sebenarnya kau masih mencintainya bukan?” tebak Oktav.

Masih mencintainya? Apakah Jaejoong masih mencintai Yunho? Kalau dipikir-pikir, perasaan yang dia alami kepada Yunho akhir-akhir ini sama seperti ketika dia dulu masih bersama dengan namja itu. Meskipun sudah berpacaran cukup lama (kira-kira 5 tahun), debaran itu masih ada. Dia hanya tak bisa mengerti jalan pikiran namja itu. Mereka bisa berpacaran selama 5 tahun, tapi kenapa pernikahan mereka tidak bisa selama itu? Bahkan setengahnya saja tidak sampai. Memang saat itu masih belum ada Changmin di antara mereka.

Changmin, oh dia kembali teringat pada namja kecil itu. Mata tajamnya seperti Yunho dan tak lupa dengan sifatnya yang juga tak berbeda jauh dengan mantan suaminya itu. Sempat terlintas dalam otaknya kalau jangan-jangan Changmin adalah anak kandung Yunho, tapi karena dia mungkin terlalu naif, dia menyimpan pikiran itu jauh-jauh. Sakit di pipinya karena tamparan Yunho tidak berarti dengan apa yang dirasakan di dalam hatinya.

Ketiga sahabat Jaejoong itu saling berpandangan satu sama lain melihat sahabat mereka sedang merenung. Ada pertanda bahwa ini bukanlah hal yang baik. ”Ne, aku…aku masih mencintainya,” gumam Jaejoong. ”Tapi, kurasa tidak dengannya.”

Rasanya ketiga sahabatnya melupakan bagaimana cara untuk bernafas. Inilah yang mereka takutkan. Ketika Jaejoong tak bisa lepas dari ikatan masa lalu, ikatan dari seorang namja bernama Jung Yunho. ”Hei, gwenchana. Aku yakin bukan hanya hal itu saja yang mengusik pikiranmu bukan?”

Benar, ada hal lain yang mengganggu perasaan Jaejoong dan itu juga tidak terlepas dari kejadian kemarin. Perlakuan Yunho kemarin ketika melihatnya bersama Siwon seolah menunjukkan bahwa namja itu masih ada perasaan terhadapnya.

Tidak. Sadarlah Jaejoong. Itu semua hanya perasaanmu saja. Kau lupa kalau dia yang meminta cerai dari dirimu? Ya, meskipun dia tak pernah menjelaskan alasannya sama sekali selain karena kau tidak menghabiskan waktu bersama Changmin. Tapi, hei, itu tidak seharusnya menjadi alasan yang kuat untuk menuntut perceraian bukan? Sayangnya, bagi Yunho hal itu begitu krusial.

Melihat bahwa ketiga sahabatnya itu sedang menunggu dirinya, Jaejoong akhirnya memutuskan menceritakan kejadian kemarin dan sebelumnya. Mulai dari pertemuannya ketika Heechul menyuruhnya untuk mencarikan pasangan untuk Yunho. Tentang ejekan yang dilontarkan Yunho terhadapnya. Juga tak lupa tentang kencan kemarin, tentu saja dia tidak mengatakan tentang tamparan yang Yunho berikan. Dia tahu sifat sahabatnya dan dia tidak ingin sahabatnya mencari gara-gara hanya karena dirinya.

”Hmm,” gumam Enno. Tampak sedikit keraguan di wajahnya. ”Kalau dilihat dari gerak-geriknya, apakah mungkin sebenarnya dia masih ada perasaan terhadapmu, Jae?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan cepat. ”Ani! Tidak mungkin, itu sangat mustahil. Apa kau lupa siapa yang meminta perceraian?”

”Hei, kurasa kau salah menangkap arti perceraian itu, Jae,” tegur Oktav.

Yeojya itu menatap Oktav sembari mengangkat kedua alisnya. Ah, ekspresi Jaejoong saat itu tentu saja tak dilewatkan oleh Jihyun yang langsung menggunakan kameranya. Bayangkan saja Jaejoong yang memiliki doe eyes sedang menatapmu dengan tatapan innocent dan kepalanya sedikit dimiringkan. Tentu saja sangat imut! Ah jangan lupa juga tambahkan background bunga di sekitarnya. ”Maksudmu?” tanya Jaejoong dengan polosnya.

Oktav tersenyum. ”Perceraian bukan berarti keduanya sudah tidak saling mencintai bukan?” Pertanyaan ini tentu saja mendatangkan tanda tanya bagi Jaejoong. Kalau mereka masih mencintai, lantas kenapa? ”Kau ingat dengan Yui?” Jaejoong mengangguk mengingat sahabatnya yang sekarang berada di negara Sakura untuk melupakan perceraian yang menyakitkan itu. ”Dan tentu saja kau ingat kalau suaminya menuntut cerai darinya bukan?” Kembali Jaejoong mengangguk. Sebenarnya dia masih bingung dengan arah pembicaraan ini, tapi mengingat itu adalah Oktav, dia memutuskan untuk terus mendengarkan. ”Sebenarnya keduanya masih saling mencintai, hanya saja suaminya mengalami penyakit dan dia tidak ingin Yui harus menderita karenanya. Itulah sebabnya dia meminta cerai. Hal ini, kata suaminya, agar Yui bisa bebas dan melupakan dirinya. Jadi lihat? Justru karena rasa cinta itu suaminya Yui menuntut cerai. Tentu saja Yui tidak tahu hal ini sampai suaminya meninggal.”

Ah, Jaejoong teringat kejadian itu ketika menghadiri pemakaman suami dari sahabatnya, Takamine Yui. Melihat sahabatnya yang menangis terus di pemakaman itu tentu saja membuat Jaejoong sadar bahwa sebenarnya Yui masih mencintai suaminya. Lantas, apakah Jaejoong juga sama? ”Hei, kau tidak ingin bilang kalau Yunho sakit bukan?” tanya Jaejoong mendadak.

”Tidak, Yunho itu tidak sakit apa-apa kok. Jadi kurasa bukan karena itu,” sela Jihyun. ”Tapi, apa yang dikatakan Oktav ada benarnya. Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan Yunho harus menuntut cerai darimu?”

”Ya, dan itu adalah karena aku tidak memperhatikan Changmin, ” gerutu Jaejoong.

”Hei, tell me, apakah kau membenci Changmin?” tanya Enno yang membuat Jaejoong kembali berpikir.

Membenci Changmin? Tidak. Anak kecil itu tidak tahu bahwa sebenarnya secara tidak langsung dia adalah penyebab perceraian Jaejoong. Tapi, Jaejoong juga tidak mungkin menyalahkan Changmin. Kalau boleh dibilang sebenarnya yang menjadi tanda tanya adalah Yunho. Namja itu menuntut cerai darinya dan kemarin dia seolah ingin mengatakan pada Siwon bahwa Jaejoong adalah miliknya.

Pikiran Jaejoong terasa penuh. Sebenarnya apa yang dikatan Oktav ada benarnya. Sejauh yang dia ingat, Yunho tak pernah mengatakan bahwa dia sudah tidak ada perasaan lagi terhadap Jaejoong. Hanya bahwa dia merasa Jaejoong tidak pernah menghabiskan waktu lagi dengan keluarga. Memang sebelum menikah dan bekerja, Jaejoong adalah pribadi yang ceria dan sangat keiburumahtanggaan.

Namun, diak kembali teringat pada kejadian Yunho memeluk Ryeowook kemarin. Ah, tidak, kalau benar Yunho masih mencintainya, dia tidak mungkin memeluk Ryeowook seperti itu bukan? Bahkan dia tidak mengejar Jaejoong untuk meminta maaf atas perbuatan yang dia lakukan. ”Tidak mungkin,” gumam Jaejoong.

”Eh?” sahut ketiganya.

”Tidak mungkin Yunho masih mencintaiku. Aku melihatnya kemarin, dia memeluk Ryeowook! Dan apa itu bukan mengartikan bahwa dia sudah tidak mencintaiku lagi?”

Mendengar itu Enno menghela nafas. ”Jae, terkadang kau itu terlalu naif, eh?” Jaejoong membesarkan matanya karena bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu. ”Dengar ya, memeluk Ryeowook itu bukan berarti dia tidak mencintaimu lagi, yah walau bukan berarti itu tidak bisa berarti sebaliknya. Ah, tapi bukan itu maksudku. Bisa saja dia memeluk Ryeowook karena sudah memberikan hari yang baik bukan? Lagipula, seperti kau bilang, mereka mengenal satu sama lain, jadi bukan mustahil kalau pelukan itu adalah pelukan antar sahabat bukan?”

”Ne, benar kata Enno. Kau seperti tidak tahu saja mantan suamimu yang suka memeluk orang itu,” goda Oktav yang membuat kedua pipi Jaejoong bersemu merah membuat yeojya itu terlihat begitu menggemaskan.

Klap.

Jihyun menepuk tangannya menarik perhatian ketiga sahabatnya. ”Tiba-tiba aku teringat dengan Siwon!” serunya mendadak.

”Wae?” tanya Enno.

”Dengar ya, kita tahu bagaimana sifat Siwon. Sekali dia menginginkan sesuatu yang lepas, dia akan meraihnya. Sebenarnya aku sudah sadar kalau dulu Siwon tertarik padamu, Jae. Memang dasarnya kamu yang terlalu kesemsem sama Yunho hingga tidak menyadari perasaan Siwon. Dan sekarang kamu, maaf, single, ini akan menjadi kesempatan bagi dia untuk merebutmu.”

”Aigo, benar juga!” seru Oktav yang akhirnya menyadari kenyataan itu.

Sementara Jaejoong? Entahlah, sepertinya kalau sudah berhubungan dengan dirinya, dia mendadak jadi orang paling, maaf, bodoh sedunia dan juga tak lupa polos. ”Eh, eh? Kenapa?”

Mengetahui sifat sahabat mereka, ketiganya hanya bisa menghela nafas. ”Sekarang jawab kami, kamu masih mau bersama dengan Yunho atau tidak?” tanya Jihyun langsung pada intinya.

Pertanyaan itu membuat Jaejoong tersentak. Bersama Yunho? Ya, tentu saja. Biar bagaimanapun dia masih mencintainya. Namun, bagaimana dengan Yunho sendiri? Mereka sudah bercerai dan tidak mungkin rasanya membangun perasaan itu kembali apalagi dengan trauma yang dialami Jaejoong. ”Memangnya kenapa?” tanyanya dengan gugup.

Jihyun menghela nafas. ”Dengar, kalau kau masih ingin bersama dengan Yunho, maka yang harus kau lakukan adalah mencarikan pasangan yang ’tidak tepat’ untuk Yunho hingga akhirnya dia melihatmu kembali dan tunjukkan padanya bahwa kau adalah yeojya yang berbeda. Tapi,” selanya sembari menarik nafas. ”Kalau kau ingin melupakan Yunho, maka kau bisa ’menggunakan’ Siwon, kau tahu? Terkadang lebih baik bersama orang yang mencintaimu daripada dia yang kau cintai,” ujar Jihyun sembari mengangkat kedua bahunya sebentar.

Jaejoong terdiam sesaat memikirkan pernyataan sahabatnya itu. Apa yang dikatakan Jihyun ada benarnya juga. Dia harus menentukan posisinya saat ini. Daripada harus diombang-ambingkan dengan perasaan yang tak menentu ini, lebih baik dia harus mengetahui di mana letaknya sekarang. Memilih Yunho yang sebenarnya masih dicintainya? Atau mencoba mengalihkan perhatiannya pada Siwon?

”Mungkin saja ini kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untukmu, Jae,” bisik Enno dengan lembut. Dia menggenggam kedua tangan Jaejoong dengan erat hingga kepala Jaejoong yang tadinya menunduk terangkat dan berhadap dengan sepasang orbs bening milik sahabatnya. ”Apapun yang kau pilih, kami sebagai sahabatmu, akan selalu bersamamu, ne?” ujarnya untuk menenangkan Jaejoong.

Sang matchmaker mengangguk. Ah, kesempatan kedua. Sesuatu yang selalu dia harapkan. Dan jika benar ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya, maka tidak mungkin akan dia sia-siakan. ”Jadi?” tanya Oktav.

Kali ini Jaejoong tersenyum lebar. ”Tentu saja aku harus menunjukkan kepada Yunho bahwa aku disebut Aphrodite bukan tanpa sebab,” jawabnya sembari mengedipkan matanya.

”Apakah itu artinya?” Jaejoong mengangguk atas pertanyaan Enno yang kemudian diikuti oleh senyum lebar dari ketiga sahabatnya. ”Baiklah, kami akan membantumu!”

”Ah, kalau begitu kita harus memikirkan sesuatu untuk Siwon,” sela Jihyun mendadak.

Oktav mengangguk. ”Ne, namja itu juga harus diperhatikan.”

Jaejoong menggelengkan kepalanya membuat yang lainnya bingung. ”Tidak, seperti kata Jihyun, kita bisa ’menggunakan’ Siwon, tapi tenang saja aku akan membicarakan ini dengan Siwon terlebih dahulu.”

Butuh waktu sepersekian detik untuk mencerna maksud pernyataan Jaejoong dan setelah mereka tahu, seringaian tak lepas dari keempat yeojya itu.

Jung Yunho, bersiaplah sebab Sang Aprhodite telah bangkit dan akan menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya.

.

.

Sepasang kekasih itu tengah duduk di atas rumput yang bergoyang ditiup oleh angin. Cuaca senja itu terlihat begitu indah dengan matahari terbenam menjadi pemandangan utamanya. Angin sore itu sepoi-sepoi membuat udara tidak terlalu panas ataupun dingin. Sangat cocok bagi kedua insan yang tengah mengaitkan kedua tangan mereka.

Badan sang yeojya tengah bersandar pada dada bidang milik sang namja. Kedua pasang mata mereka tak pernah lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapannya. Tak perlu kata yang terucap karena semua gerakan mereka sudah menunjukkan semuanya. Ah, andai saja waktu bisa terhenti saat ini juga, begitulah pikir kedua insan tersebut.

”Joongie,” ujar namja itu dengan lembut. Yeojya yang dipanggil namanya tadi hanya menjawab dengan, ”Hmm,” tanpa mengubah posisinya. ”Hari ini begitu indah, ne?”

Kepala Yeojya itu bergerak naik turun tanda bahwa dia setuju. Tak ada yang lebih indah dari hari ini ketika dia menghabiskan seharian waktunya dengan namja yang ada bersamanya saat ini. ”Maukah kau melengkapi hari indah ini Joongie?”

”Hmm,” jawab yeojya itu yang masih menikmati suasana saat itu.

Cukup lama bagi dirinya untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang berada di depannya. Ketika dia mencerna apa sesuatu itu, kedua pupil matanya membesar. Dia langsung memutar kepalanya dan melihat namjachingunya yang menatapnya dengan lembut namun juga dengan kegugupan. ”Yunnie, i – ini?”

Namja itu mengangguk dengan perlahan. ”Ne, Joongie –ah,” Dia melepaskan diri dari yeojyachingunya dan perlahan berlutut. Karena sang yeojya berada dalam posisi yang sama, tinggi keduanya sejajar, namun itu bukan menjadi masalah. Yeojya itu menutup mulut dengan kedua tangannya masih tak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Pandangannya mulai memudar karena cairan bening yang berkumpul di depan matanya.

Kim Jaejoong, will you marry me and make me the happiest man in the world?” Terkesan klise memang, tapi jika yang mengucapkannya adalah orang yang sangat kau cintai, tentu hal itu akan menjadi hal teromantis yang pernah kau dengar.

Tak mendapat reaksi dari sang yeojya, sang namja mulai cemas apalagi mendengar isak tangis dari yeojya itu. Dia mengangkat sedikit kepalanya hingga kedua pasang mata itu kemudian saling berhadapan. Yeojya itu mengangguk dengan haru. Isak tangisnya semakin mengeras. ”Ne, I will, Yunnie, I will.”

Dia melemparkan badannya yang mungil ke arah sang namja hingga keduanya sekarang terbaring di atas rumput dengan badan sang namja berada di bawahnya. Namja itu tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya yang salah satunya masih memegang kotak cincin pada pinggang ramping yeojya itu. Ah, selalu begini. Rasanya begitu pas dan lengkap. Inilah yang dicarinya. Inilah yang diinginkannya, diinginkan mereka.

Badan sang yeojya mulai naik perlahan dan sekarang mereka setengah terduduk. ”Pasangkan untukku Yunnie,” pinta sang yeojya dengan nada manja. Tentu saja hal itu langsung dituruti oleh sang namjachingu. Ketika cincin dengan batu permata yang paling indah yang pernah dia lihat, semuanya terasa begitu lengkap.

Keduanya saling memandang sesaat sebelum akhirnya bibir mereka saling menyentuh dengan lembut. Ciuman ini tidak dipenuhi nafsu. Bukan juga ciuman yang biasa mereka lakukan. Ciuman kali ini lebih tulus, lebih penuh perasaan. Ciuman ini seolah mengatakan semua hal yang ingin mereka sampaikan. Semua perasaan yang meluap di dalam diri mereka. Ciuman itulah menjadi pelengkap hari mereka yang indah itu.

Dan hari itu adalah hari di mana seorang Jung Yunho melamar Kim Jaejoong. Awal yang indah bukan?

Semoga saja akhir mereka juga akan seindah atau bahkan lebih daripada awal mereka. Yah, tapi hanya takdir dan Tuhan yang tahu mengenai hal itu bukan? Mereka hanya bisa berharap bahwa benang merah takdir masih terjalin di antara keduanya.

Lalu bagaimana jika benang merah itu sudah putus? Kalau hal ini ditanyakan pada seorang anak kecil yang polos, dia tentu akan menjawab:

Kenapa harus bingung? Tinggal disambung lagi atau kalau tidak pakai benang yang lain lagi saja.”

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Ini saya update cepat karena si ilham lagi datang XDDD

Dan ini saya fokusin sama perasaan Jaemma dan nantikan momen2 Yunjae dan juga Sijae pada episode berikutnya 😉

Buat para OC yang belum muncul, ditunggu kehadirannya ya 😉

Terima kasih sudah ikut berpatisipasi ^^V Kalau ditanya kenapa saya milih OC, mungkin karena kalau pakai OC itu karakter mereka bisa lebih dikembangkan, sementara kalau sudah pakai karakter asli agak susah  ._.

Dan semoga yang sudah dimasukkan merasa puas dengan deskripsinya, kalau tidak, bilang saja nanti akan saya ganti 😉

Ah, dan apakah chingudeul keberatan kalau OC-nya ada yang saya gunakan untuk Broken Doll? Tolong beritahu saya ya 😉 Nanti kredit akan tetap saya berikan 😉

Gomawo sebelumnya ^o^

.

.

A/N:

Dan saya harap chapter ini tidak akan mengecewakan chingudeul semuanya ._.v

Stay tune for the next chapter 😉

Last, review? 😉

_Verzeihen

 

Advertisements

19 responses to “Chapter 3: Friends

  1. Ternyata teman-temannya Jae itu OC semua, ne? Jaejoong masih akan berusaha mendapatkan Yunnie-nya kembalikan? terus pakai Siwon buat manas-manasin Yunho.
    Aku pun bingung kenapa Yunho menuntut cerai sama Jaejoong karena Changmin padahal dia masih mencintainya,
    Yak Yunho bersiaplah dengan serangan pembalasan Jae kali ini, semoga YunJae bisa cepat sama-sama ^^

    • ne *nods* kkk~ masih dong..kan jae hanya utk yunho :3 ~
      hahaha….aku juga bingung nentuin alasannya, semoga saja berikutnya benar .___.v
      amin..semoga mereka bersama cepat >///< dan begitu juga di dunia nyata :')

  2. ~Bayangkan saja Jaejoong yang memiliki doe eyes sedang menatapmu dengan tatapan innocent dan kepalanya sedikit dimiringkan. Tentu saja sangat imut! Ah jangan lupa juga tambahkan background bunga di sekitarnya.~

    *melting bayanginnya*
    KYAAA!!!!!
    UMMA NEOMU YEPPEOOO!!!!!
    KAWAAAAIIIII!!!!! XD
    *teriak ala fansgirl*

    Ah, umma puna tmen2 yg slalu dukung dy…
    Jd tenang kl umma didampingi sunbae2 di ffn *ups
    Duh ngaco
    Wkwk

    Eonnie setuju ama kallimat trakhir.. :

    ”Kenapa harus bingung? Tinggal disambung lagi atau kalau tidak pakai benang yang lain lagi saja.”

    Hihi, itu sll jd jawaban aku kalo puna masalah sama kya jeje umma tuh :9

    • Aduh..pgen dicubit rasanya >///< pasti imut banget itu *ikutan melting*

      hahaha..sunbae2? O.oa *garuk2 kepala*
      iyaa xDD itu aku ngarang total padahal u,u #jduar #digigit

  3. wah eomma dilema berat
    emang sih sikap appa tuh bingungin
    tapi aku tau maksud appa
    sama kayak temen2 eomma
    ada yang lagi sembunyiin appa dari eomma
    emang sih enggak suka karena appa maen tangan ama eomma
    ommo berapa sih umur eomma?
    kok polos melebihin Changmin?
    ckckck eomma dasar

    • Hehehe.
      27 tahun :3
      Dia udah nikah sama Yunho pas 26 tahun
      Semoga gak salah ingat juga
      Yunho emang orangnya emosian
      Dari ff yang kubaca kykny semua rata2 begitu sih, hehe :3

  4. Bner2 shabat sejati. .tauuu aj klo shabat’ny lg galau, tp syangny susah mw ngbyangin bntuk*?* dn wujud shabat’ny jaema, . Bs jg ide’ny dgn ad’ny siwon mngkn yunpa akn cmburu tngkat dewa ahahaha, . Ohh MY, sweettt bgt yunjae moment’ny, .

  5. Jangan bilang umma mau balik sama appa lagi trus minta bantuan siwon buat bikin appa cemburu /kyaaaaaaaa/ #plak

    Ngomong2 soal si ilham, ilham itu sesuatunya eonni ya sampai si ilham datang baru eoni bisa nulis #jduag

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s