Chapter 4: Changmin


Title: Matchmaker

Rated: T possible M

Couple: Yunjae and others

Warn: GS!

Summary: Namanya Kim Jaejoong, matchmaker yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi kehebatannya. Sudah banyak pasangan yang menikah karenanya. Tapi, bagaimana ketika suatu saat mantan suaminya menjadi kliennya?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

”Yunnie-ah, aku takut,” gumam Jaejoong yang sedang duduk di ujung tempat tidur. Tangannya terlipat sembari menggenggam gaun tidurnya yang berwarna putih dengan corak bunga itu. Ekspresi gugup dan ketakutan terukir di wajahnya.

Malam pertama.

Itulah yang selalu ditakutkan oleh hampir setiap kaum hawa. Setelah menjaga apa yang paling berharga dari dirinya, akhirnya malam ini Jaejoong akan menyerahkannya kepada orang yang telah menjadi suaminya.

Mata doe-nya melirik ke arah Yunho yang setengah terduduk di sampingnya. Satu kaki namja itu menginjak tanah sementara yang satu lagi diduduki oleh namja itu. Tangan kirinya dengan lembut meraih dagu Jaejoong yang halus dan perlahan memutar kepala yeojya itu agar keduanya saling berhadapan.

Jaejoong meneguk ludahnya. Yunho yang di hadapannya topless dan hanya memakai celana tidur berwarna putih. Mata doe Jaejoong tak pernah lepas dari otot-otot Yunho yang terbentuk yang Jaejoong yakin bisa membuat sebagian namja di luar sana merasa iri. Kulit tan Yunho sendiri terlihat begitu indah di mata Jaejoong.

”Jae, lihat aku,” bisiknya perlahan membuat kedua pasang mata itu saling bertemu.

Senyuman di wajah Yunho sedikit membuat hati Jaejoong tenang, hanya sedikit karena dia masih bisa membayangkan rasa sakit yang akan dia alami nanti. Menurut yang dia dengar, semuanya dimulai dengan rasa sakit dan yang katanya akan berujung pada kenikmatan. Tapi, tetap saja. ”Kau percaya padaku?”

Terhadap pertanyaan itu, Jaejoong mengangguk tanpa keraguan mendatangkan senyuman tulus di wajah Yunho. Bibir tebal namja itu kemudian bertemu dengan kening Jaejoong dan berhenti di sana cukup lama. Kemudian bibir itu turun ke mata, hidung, pipi, dan berakhir pada sepasang lembaran merah milik Jaejoong yang empuk dan menggoda.

Buaian yang diberikan Yunho cukup membuat Jaejoong melupakan apa yang dia takutkan tadi. Dia berpikir bahwa dia dapat mempercayai dekapan hangat milik namja ini. Dia berpikir bahwa dia bisa menyerahkan semua miliknya. Maka malam itu Jaejoong menjadi satu seutuhnya dengan Yunho, sesuatu yang baginya merupakan hal terindah setelah lamaran dan pernikahan mereka. Dan, benar kata orang, nikmat yang dia alami kemudian tidak terukur daripada rasa sakit ketika Yunho pertama menyatukan tubuh mereka.

Indah.

Namun jika teringat kembali, rasanya begitu menyakitkan karena sekarang itu hanyalah bagian dari kepingan masa lalu.

Atau

Benarkah demikian?

.

.

4th Match

’Changmin’

by eL-ch4n

10.05.2012

.

.

Kali ini Jaejoong memutuskan untuk menikmati makan siangnya di kafe yang berbeda dari sebelumnya. Di seberangnya juga terdapat company makan siangnya yang berbeda dari sebelumnya. Namja dengan wajah tampan, bertubuh kekar yang dibalut kemeja berwarna putih bergaris vertikal dan dipadu dengan celana hitam berbahan kain. Namja yang kita kenal dengan nama Choi Siwon.

Lantas, apa yang sebenarnya sedang dilakukan Jaejoong yang seharusnya sedang mengerjakan tugasnya sebagai seorang matchmaker. Semua ini karena pembicaraannya dengan ketiga sahabatnya kemarin. Mendengar nasihat dari sahabatnya, Jaejoong membulatkan tekadnya.

Tanpa membuang waktu, dia segera menelepon Siwon agar menemuinya. Ah, sekali seorang Kim Jaejoong sudah bertekad, tidak akan ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Bahkan tidak ketiga sahabatnya yang menyuruhnya untuk berpikir kembali. Setelah dia menelepon Siwon untuk menemuinya sore nanti di cafe langganannya, dia baru saja menyadari kebodohannya.

Apa yang mau dia ucapkan pada Siwon nanti?

”Hei, aku mau membuat Yunho cemburu, maukah kau membantuku?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak, itu tidak mungkin.

”Hei, aku tahu kau suka padaku, tapi aku masih cinta sama Yunho, jadi bagaimana kalau kau membantuku dan aku akan mencarikanmu yeojya yang tepat?”

Ah, sepertinya itu lebih baik, tapi bahasanya mungkin lebih diperhalus. Setelah berpikir cukup keras dengan dipandangi oleh sahabatnya yang memiliki tatapan, ’Lihat-kan-apa-yang-kita-sudah-bilang-kau-sih-terlalu-terburu-buru’ kecuali Jihyun yang masih asyik merekam setiap gerakan Jaejoong dengan kamera digitalnya, akhirnya Jaejoong memutuskan untuk bertemu dengan Siwon dulu baru berpikir apa yang akan dia katakan.

Dan akhirnya di sinilah Jaejoong yang sedang mengunyah apple pie-nya dengan perlahan untuk memakan waktu. Siwon sendiri sudah meminum kopi yang dipesannya karena makanannya sudah dari tadi dihabiskannya. ”Jadi?” tanya Siwon yang sudah meletakkan cangkirnya di atas meja.

Aura yang dikeluarkan oleh namja itu terasa begitu elegan membuat Jaejoong meneguk ludah.

Tampan.

Satu kata itu melintas di dalam Jaejoong kala matanya memperhatikan dengan seksama penampilan Siwon. Ah, kenapa dia tidak menyadari tentang kelebihan Siwon?

Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Aish, bukan itu tujuannya mengajak Siwon untuk bertemu. Tenangkan dirimu Jaejoong. Dia mencoba untuk menarik nafas dan menenangkan dirinya yang begitu gugup. Rasa gugup ini berbeda dengan rasa gugup yang dirasakannya bersama Yunho. Saat bersama Yunho, meskipun gugup, ada kehangatan dan kenyamanan tersendiri, tapi rasa gugup bersama Siwon ini berbeda. Ah, dia ingat. Ini adalah perasaan kekagumannya. Pada usianya yang sudah dewasa ini tentu saja dia bisa membedakan mana yang disebut cinta dan mana yang disebut kekaguman. Jadi, sudah pasti ini hanya kekaguman belaka. Ya, itu pasti.

Satu hal yang baru Jaejoong sadari. Kenapa dia tidak mengenali perasaan gugup ketika dia berhadapan dengan Yunho lebih cepat? Ah, mungkin kalau begitu dia tidak akan dengan bodohnya memasangkan Yunho dengan Ryeowook yang sepertinya sangat cocok. Bahkan sampai sekarang, tidak adalagi berita dari Yunho mengenai kencan berikutnya. Jadi bisa dipastikan kalau usahanya berhasil.

”Jae?” Panggilan Siwon terhadapnya membuat dia tersadar dari lamunannya.

Tidak. Sekarang bukanlah saatnya memikirkan tentang Yunho, lebih baik dia meluruskan semuanya dengan Siwon.

”Ah, ne, itu aku,” mulai Jaejoong dengan gugup. Yeojya bermata doe itu menggigit bibir bawahnya karena keraguan yang dirasakan di hatinya. Dia masih tidak tahu apa yang harus dia katakan terhadap Siwon. Aish, pabboya Kim Jaejoong! Seharusnya kau tidak terburu-buru seperti itu.

Drrt. Drrt.

Perhatian keduanya teralih pada ponsel Siwon yang bergetar di atas meja makan. Namja itu melirik ponselnya sekilas dan kemudian menghela nafas. ”Ah, sepertinya aku sudah harus menjemput Dong Wook, mian, Jae,” ujar Siwon. Namja itu sedikit menundukkan kepalanya untuk menunjukkan permintaan maafnya.

Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan pelan bersamaan dengan tangannya. ”Ani, gwenchana,” jawabnya. Ketika Siwon meminta pada sang pelayan untuk bill mereka, Jaejoong terlihat memikirkan sesuatu. Menjemput Dong Wook berarti Siwon akan pergi ke sekolah Changmin mengingat bahwa namja yang lebih tua dari Changmin itu adalah sunbae anak-nya. Ah, mungkin dia bisa ikut dengan Siwon.

”Ah, Siwon,” panggil Jaejoong. Siwon yang sudah menandatangani bill dan menyerahkannya kepada sang pelayan, segera melihat ke arah Jaejoong.

”Ne?”

”Bolehkah aku ikut denganmu?” pinta Jaejoong. Dia menggunakan puppy eyes yang dia tahu tidak akan bisa ditolak oleh siapapun bahkan oleh seorang Jung Yunho.

Tak bisa menolak puppy eyes dari seorang Kim Jaejoong, Siwon hanya bisa meneguk ludah dan mengangguk pasrah. ”Yay!” seru Jaejoong seperti anak kecil. ”Ah, nanti akan kuganti uangnya,” ujarnya ketika mengingat bahwa dia belum membayar makanannya.

”Ani, tidak baik seorang yeojya membayar dalam kencan mereka.”

Kencan?

Oh tidak, sekarang Siwon sudah salah paham. Apa yang harus dia lakukan? Belum sempat dia mengutarakan pendapatnya, Siwon sudah menarik tubuh mungil yeojya itu keluar dari kafe menuju mobilnya. Pasrah, Jaejoong hanya mengikuti ke mana Siwon akan membawanya.

.

.

”Menurutmu, apa yang akan Siwon lakukan?” tanya Jihyun yang masih asyik merekam Jaejoong yang sedang dibukakan pintu oleh Siwon.

”Lebih baik bertanya apa yang akan Yunho lakukan, Jihyun,” gumam Enno yang sibuk menyantap makan siangnya.

Sementara Oktav sedang mengetik pesan kepada seseorang di seberang sana.

Apa yang dia tulis?

To: Petals

Subject: Part 1 –Success

Subjek sudah setuju untuk bekerja sama.

Tak berapa lama, ponselnya bergetar dan Jihyun yang duduk di samping Oktav ikut mengintip. ”Apa jawabannya?” tanyanya yang langsung dijawab oleh Oktav dengan menunjukkan isi pesan di ponselnya.

From: Petals

Subject: Re: Part 1 – Success

Bagus, lanjut pada tahap berikutnya.

”Aigo, secepat ini?” tanya Jihyun dengan tampang yang sedikit malas.

Enno yang sudah selesai makan kemudian meletakkan peralatan makannya dan merapikan sisa-sisa makanan di bibirnya. ”Justru lebih cepat lebih baik,” jawab Oktav yang mendatangkan seringaian pada ketiga yeojya itu.

.

.

”Appa!” teriak Dong Wook yang melihat sosok Siwon berjalan ke arahnya ditemani Jaejoong. Yeojya itu bisa melihat tatapan bingung dari namja kecil itu dan hanya tersenyum ketika Dong Wook menyapanya. ”Annyeong, ahjuma,” sapanya.

”Annyeong, Dong Wook-ah, di mana Changmin?” tanya Jaejoong sembari tersenyum lembut tanpa menyadari tatapan buas dari semua kaum namja yang ada di sekitar sana kecuali Siwon yang masih mencoba mengontrol dirinya dan Dong Wook yang sama sekali tidak peduli akan hal itu.

Namja yang ditanya itu menunjuk ke arah taman tempat sebagian anak-anak yang lain sedang bermain. Mata doe Jaejoong kemudian menyapu semua isi taman dan berharap untuk menemukan sosok Changmin, namun nihil. Namja cilik yang memiliki mismatch smile itu tidak terlihat di manapun.

Siwon yang dapat melihat ekspresi kecewa dari Jaejoong kemudian menepuk pundak yeojya itu. ”Gwenchana?” tanyanya dengan gentle.

Jaejoong tersenyum. Dia sekarang dapat mengerti kenapa sahabatnya dulu di sekolah bisa tergila-gila dengan Siwon. Namja itu bukan hanya tampan, tapi tutur katanya juga halus dan sikapnya juga gentle. Tapi, kenapa Jaejoong tidak bisa mencintai namja itu saja?

Ah, cinta memang seperti itu. Tak bisa dijelaskan dengan pikiran rasional. Tahu-tahu saja dia akan datang dan pergi, membuat kau terkadang merasa kesal dengan hal itu. Kalau memang cinta akan pergi kenapa cintanya terhadap Jung Yunho tak kunjung kandas? Apakah memang takdirnya untuk selalu terikat dengan seorang yang bernama Jung Yunho? Tidak bisakah dia mendapatkan kebebasannya?

”Jaejoong-ah?” Sebuah suara lembut menginterupsi pikirannya. Dia kemudian berbalik dan mendapati seorang yeojya dengan rambut hitam lebat sebahu dengan poni yang menutupi sebagian kening yeojya itu. Mata bulatnya yang berwarna cokelat menatap halus ke arah Jaejoong. ”Apa yang sedang anda lakukan di sini?”

Kang Yong In. Kalau Jaejoong tidak salah ingat, itu adalah nama dari yeojya yang ada di hadapannya saat ini. Jaejoong sering bertemu dengan yeojya ini saat Changmin masih TK karena yeojya ini adalah guru TK-nya Changmin dulu. Sang matchmaker menunduk sedikit untuk menyapa. ”Annyeong, Yong In-ah,” panggilnya dengan lembut.

”Annyeong,” balasnya pada sapaan Jaejoong tadi. Ketika bertemu muka dengan Siwon, Yong In menunduk dan kemudian juga menyapa namja pemilik dimple smile itu. ”Siwon-shi,” sapanya.

”Yong In-ah,” ujar Jaejoong yang terlihat sedikit ragu.

Merasa namanya dipanggil, Yong In kemudian menatap ke arah Jaejoong dengan lembut. ”Apakah kau melihat Changmin?”

”Changmin, ne?” Jaejoong mengangguk. ”Seharusnya dia bermain dengan yang lain di taman. Dong Wook, bukannya Changmin bermain bersamamu tadi?”

Dong Wook mengangguk. ”Ne, songsaengnim, tapi dia mendadak sakit perut jadi aku main sendiri. Aku pikir dia sudah kembali.”

”Mwo?!” seru Jaejoong yang membuat semua yang ada di sana menatap ke arahnya. Dia segera membungkuk untuk meminta maaf karena telah mengganggu. ”Benarkah itu, Dong Wook? Bukankah tadi kau menunjuk ke arah taman?” Jaejoong masih ingat kalau tadi namja kecil itu menunjuk ke arah taman ketika ditanya di mana Changmin berada. Tidak mungkin Dong Wook berbohong bukan?

Dong Wook mengangguk. ”Ne, tadi dia memang bermain bersamaku di taman sebelumnya dan kemudian masuk ke dalam karena sakit. Aku pikir dia sudah akan kembali karena biasanya jam segini dia pasti akan bermain di taman,” jelas Dong Wook.

Sejenak penjelasan dari namja itu membuat Jaejoong terpana. Ah, sepertinya buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, ne? Yeojya itu terkekeh pelan dan kemudian mengacak-acak rambut Dong Wook. ”Arasso, kalau begitu ahjuma akan masuk ke dalam dan mencari Changmin, ne? Kau pulang dengan appamu ya?” Dong Wook mengangguk dengan tegas dan segera menghampiri Siwon.

Siwon segera menggandeng tangan Dong Wook dan kemudian berbalik menatap ke arah Jaejoong. ”Kau bagaimana?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya. ”Aku rasa aku akan mencari Changmin dulu,” gumamnya lembut.

”Mau kutemani?” tawar Siwon dengan harapan bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan yeojya pujaannya itu. Tentu saja Jaejoong menolaknya karena tak ingin menambah kesalahpahaman mereka.

”Gwenchana,” ujarnya lembut. ”Aku bisa sendiri, lagipula aku ingin mengajak Changmin ke dokter kalau memang sakitnya belum sembuh,” jawabnya sekali lagi.

Namja itu hanya bisa menghela nafas mendengar penolakan Jaejoong terhadap ajakannya. Dia kemdian menggenggam pergelangan tangan kiri Jaejoong dengan tangan kanannya yang kosong. ”Dengar Jae, aku –”

”Umma!” Sebuah seruan menghentikan ucapan Siwon membuat namja itu hanya bisa menghela nafas karena sepertinya usahanya hari itu juga gagal.

Jaejoong segera melepaskan dirinya dari genggaman Siwon dan berjongkok seraya melebarkan tangannya. Dia menunggu Changmin untuk menghampirinya dan kemudian segera memeluknya. Yong In hanya tersenyum lembut melihat pemandangan yang sudah lama tidak dia lihat itu. Ya, dia juga tahu mengenai perceraian Yunho dengan Jaejoong. Sungguh disayangkan karena menurutnya mereka pasangan yang cukup serasi. ”Ah, kalau begitu aku pamit dulu ya, ada hal lain yang harus kuselesaikan,” kata Yong In yang kemudian dibalas dengan anggukan dari Jaejoong.

Changmin menyengir lebar dan menatap ke bawah ke arah Jaejoong mengingat Jaejoong yang tengah berjongkok. ”Umma, bogoshippo,” gumam Changmin yang segera memeluk Jaejoong sekali lagi.

Setelah pelukan mereka terlepas, Jaejoong tidak sadar akan tatapan tajam yang diarahkan Changmin ke Siwon, helaan nafas dari Siwon, dan gelengan kepala pasrah dari Dong Wook. ”Bagaimana harimu, Minnie?” tanya Jaejoong dengan lembut.

”Lumayan, umma,” jawab Changmin seraya memajukan bibirnya sehingga dia terlihat begitu menggemaskan.

Mendengar jawaban itu Jaejoong sontak mengangkat kedua alis matanya. ”Lumayan? Memangnya ada apa?”

”Aku lapar, umma,” bisik Changmin dengan nada polosnya mendatangkan gelak tawa ringan dari yeojya yang tengah berjongkok itu. ”Ah, umma! Aku belum makan daritadi!”

”Ya, dan kau katakan menghabiskan porsiku pada makan siang tadi sebagai ’belum makan’. Aku penasaran apa arti kata makan sesungguhnya bagimu, Jung Changmin,” ejek Dong Wook.

”Hyung!” protes Changmin sekali lagi.

Dong Wook hanya tertawa dan mengabaikan balasan Changmin. ”Sudahlah, ne, kamu mau makan apa?” tanya Jaejoong untuk menengahi pertengkaran kedua anak kecil itu.

Cengiran lebar kemudian tampak dari wajah Changmin. ”Masakan umma!” serunya dengan girang.

Tak tahan dengan kepolosan Changmin, Jaejoong kemudian mencubiti kedua pipi tembem milik Changmin dengan gemas. ”Ne, arasso, umma akan masak untukmu. Kita ke apartemen umma ne?” tawar Jaejoong.

”Ani, appa bilang aku harus tiba di rumah sebelum dia pulang, jadi umma masak di rumahku saja, ne?” pinta Changmin dengan nada memelas.

Gulp.

Ah, kalau ke rumah Changmin berarti ke rumah-nya yang dulu bukan? Dan ada juga kemungkinan untuk bertemu dengan Yunho, sesuatu yang sebenarnya diharapkan sekaligus tidak diinginkannya. ”Tapi –”

”Sudahlah, Jae, kau temani saja Changmin, aku akan mengantar kalian ke sana, ne?” sela Siwon.

Yeojya itu menatap Siwon dengan bingung. Dia seolah tak mengerti jalan pikiran namja itu. Sesaat tadi, dia mengatakan bahwa mereka sedang berkencan, dan sedetik kemudian dia berubah menjadi seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?  ”Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Siwon merasa aneh dengan tatapan Jaejoong.

Jaejoong berdiri dan kemudian menarik Siwon dari kedua anak kecil itu sehingga mereka bisa berbincang lebih aman. ”Apa yang sebenarnya kau lakukan, Choi Siwon?” tanya Jaejoong dengan nada serius.

”Ani, aku hanya ingin membantu,” elaknya dengan nada santai, tapi Jaejoong tahu ada yang disembunyikan namja itu. ”Dengar Jaejoong, aku tidak bodoh. Oke, katakan aku naif dengan beranggapan aku punya kesempatan. Tapi, aku jelas-jelas bisa melihat tujuan dari pembicaraan kita tadi di kafe.”

Kedua mata doe Jaejoong membesar. Bagaimana namja itu tahu? ”Hei, sudah kukatakan aku tidak bodoh, oke? Yah, siapa tahu saja dengan kau melihat kau tidak ada harapan dengan Yunho, kau akan memberikan kesempatan untukku? Tapi kalau ternyata kau masih ada harapan dan aku kehilangan kesempatan, yang penting kau bahagia. Itu yang penting,” tutur Siwon dengan lembut.

Perkataan Siwon tadi membuat Jaejoong merasa terharu. Kenapa namja se-gentle dan sesempurna Siwon tak bisa dicintainya? Sebaliknya, dia malah mencintai seorang Jung Yunho, yang meskipun baik, tapi terlampau cuek dan lebih suka menyimpan semuanya sendiri. Bahkan dia masih belum bisa menemukan alasan lain kenapa mereka bercerai selain Changmin dan kenyataan bahwa dia tidak bisa menghabiskan waktunya dengan keluarga. Jaejoong mengangguk pelan akan pernyataan lembut dari Siwon yang menyentuh hatinya dan kemudian menyetujui tawaran namja itu.

Oke, ini adalah pertaruhan dari Kim Jaejoong. Kalau dia masih ada kesempatan, dia akan meraihnya, kalau tidak, mungkin menjalin hubungan dengan Siwon tidak buruk.

.

.

Dengan perdebatan dan rengekan dari Changmin yang cukup lama, akhirnya Jaejoong setuju untuk memasak menggunakan dapur yang sudah lama tidak disentuhnya. Semuanya masih lengkap dan berada di sana bahkan Jaejoong merasa Yunho tidak merubah posisi peralatan dapur sama sekali. Ini bsia berarti dua hal. Satu, Yunho memang tidak pernah menyentuh dapur. Dua, ada harapan kecil dari Jaejoong bahwa Yunho tak menyentuhnya karena ingin merasakan kehadiran Jaejoong di sana.

”Ne, Minnie, bagaimana dengan Ryeowook-ahjuma?” tanya Jaejoong yang sedang memotong wortel kecil-kecil agar Changmin yang tidak suka wortel bisa memakannya. Dia juga teringat dengan peringatan Yunho bahwa namja kecil itu tidak bisa memakan sesuatu yang pedas. Akhirnya, Jaejoong memutuskan membuat sup sayur hangat untuk kandungan gizi Changmin yang sepertinya tidak terawat. Lihat saja Changmin. Dia memang tumbuh ke atas (alias tinggi) tapi tubuhnya kurus seolah bisa diterbangkan angin begitu saja.

Changmin yang sedang duduk di kursi makan sembari mengerjakan pekerjaan rumahnya hanya menjawab dengan malas. ”Aku tidak suka dengannya, umma. Masakannya memang enak, tapi aku rasa dia tidak suka padaku.”

”Kau tak boleh bilang begitu, Minnie,” tegur Jaejoong dengan halus. Dia tetap mengerjakan kegiatannya dengan ulet tanpa menyadari suara pintu apartemen yang terbuka.

”Ani, umma, aku serius. Dia tampak tidak senang karena aku mengganggu kencannya dengan appa kemarin,” gerutu Changmin.

Jaejoong terkekeh. Dia tidak percaya kalau Ryeowook yang tampak baik itu melakukan apa yang dijelaskan Changmin tadi. ”Tidak mungkin, Minnie, mungkin kau hanya salah paham. Ryeowook itu yeojya yang baik kok,” jelas Jaejoong sembari menahan rasa sakit hatinya.

Ha. Pintar sekali kau Jaejoong! Bukankah kau sendiri ingin merebut kembali Yunho, kenapa sekarang kau malah mendorong Yunho untuk bersama dengan Ryeowook? ”Umma,” panggil Changmin dengan lembut yang membuat Jaejoong memutar kepala dan setengah badannya.

Dia tidak tahu bahwa Changmin sudah siap dengan tepung yang ada di tangan kecil namja itu dan kemudian akan melemparinya. Maka Jaejoong hanya bisa pasrah ketika seluruh tubuhnya dari rambut hingga ke ujung kakinya kotor oleh tepung. ”Changmin!” tegur Jaejoong. Sementara itu, Changmin hanya tertawa terbahak-bahak melihat Jaejoong yang seperti mumi berjalan karena sekujur tubuhnya berwarna putih.

”Mian, umma, hehe,” gumam Changmin sembari menyengir.

Yeojya itu hanya bisa menghela nafas melihat kejahilan anaknya. Ah, sudahlah Jaejoong, kalau kau cari gara-gara dengan setan kecil itu, tidak akan ada habisnya. Yang ada, kau akan semakin terjebak di dalamnya. ”Aish, kalau sekali lagi kau begini, umma tidak akan membuatmu makanan dan kau harus makan ramen saja, bagaimana?”

Takut dengan ancaman dari umma-nya, Changmin mengangguk dan terduduk dengan rapi di atas kursi. Jaejoong mengeluh dengan tubuhnya yang penuh dengan tepung. ”Umma mandi saja, pakaian umma beberapa masih ada kok, appa tidak membuangnya,” ujar Changmin dengan lembut.

Apa dia tidak salah dengar? Yunho tidak membuang bajunya? Memang sih paska perceraian, Jaejoong tidak mengambil semua bajunya karena tidak akan muat di dalam lemari di apartemennya. Dia hanya mengambil beberapa bajunya yang akan dia gunakan dan meninggalkan sisanya terutama yang dibeli oleh Yunho. Dia hanya tidak mau teringat dengan namja itu ketika melihat pemberian dari mantan suaminya.

Butuh sejumlah keberanian untuk membuka pintu kamar utama, tempat mereka menghabiskan malam pertama mereka, tempat mereka saling berbagi kehangatan, sekaligus juga sebagai tempat pertama kali mereka bertengkar. Helaan nafas keluar dari Jaejoong.

Tenang, Jaejoong, kau hanya perlu masuk dan mandi kemudian mengganti bajumu. Kau tidak mungkin masak dengan tubuh penuh tepung yang sepertinya mulai melengket karena suasana kamar yang sedikit panas. Perlahan, kenop pintu itu dia buka dan melihat bahwa kamar yang pernah dia tempati dulu tak berubah sedikitpun. Semuanya masih sama pada tempatnya, kasur, lemari, meja rias, bahkan cermin setengah badan yang dia pinta kepada Yunho masih ada di sana. Ah, semua ini mendatangkan nostalgia bagi Jaejoong.

Dia kemudian membuka pakaiannya yang penuh tepung juga celananya hingga dia sekarang hanya mengenakan pakaian dalamnya yang berwarna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih. Dia membuka lemari pakaiannya dan menemukan semuanya masih pada tempatnya. Posisi lemari itu sejajar dengan kamar mandi dan karena Jaejoong sedang membuka pintu lemari, dia tidak bisa melihat ke arah kamar mandi. Terlalu sibuk melihat-lihat, Jaejoong juga tidak menyadari suara shower yang sudah dimatikan

Ketika akhirnya menemukan pakaian yang dia rasa pas, sebuah t-shirt hijau tua dengan gambar smiley dan hot pants, Jaejoong kemudian menutup pintu lemarin.

”Changmin-ah?” Sebuah suara itu sontak menyadarkan Jaejoong.

Yeojya itu memutar kepalanya ke arah kanan dan apa yang ada di hadapannya membuat dia sedikit terpesona.

Sekali lagi dia mengagumi tubuh Yunho yang topless dan basah karena sepertinya namja itu habis mandi. Namja itu hanya memakai handuk yang menutupi bagian intimnya dengan handuk lain yang sedang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Satu detik. Mereka masih saling bertatapan.

Dua detik. Rasa kaget mulai menjalar pada diri keduanya.

Tiga detik. Jaejoong segera menggunakan baju yang dia ambil untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam itu.

Empat detik. Suara teriakan keduanya terdengar yang kemudian diiringi dengan satu nama.

”CHANGMIN!!!”

Sementara namja yang diserukan namanya tadi hanya menyengir lebar di balik pintu dan memasang pose ’V’ entah pada siapa.

Changmin, Changmin, sepertinya julukan evil itu tak pernah lepas darimu ya? Atau bisa saja ini salah satu ulahmu untuk mengembalikan kedua insan yang sebenarnya masih saling mencintai itu?

Ah, kita tunggu saja aksi Changmin yang berikutnya, ne?

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Mian, saya sudah merasa kalau chapter kemarin kurang greget atau gimana gitu, makanya ini saya update cepat m(_0_)m semoga semuanya merasa lebih puas *deep bow*

Ah, dan saya tidak sempat membalas review kalian, tapi saya membacanya kok ^^ dan saya cukup senang karena chingudeul suka dengan cara saya mendeskripsikan OC-nya.

Bagi yang mau mengirimkan OC untuk BD bisa kirim ke twitter (at)_Verzeihen atau PM atau Review di sini juga gapapa ^^v Kalau bisa OC-nya itu yeojya ne? 😉

.

.

Maaf sekali lagi, saya tidak pernah merasa segagal ini dan mengecewakan para chingudeul 😥 *jedukin kepala ke tembok* Semoga chapter ini (saya sungguh berharap) bisa memuaskan keinginan kalian ^^v

Untuk yang request Zhoury, saya justru lagi mau tanya ada yang mau bkinin saya tidak? T_T soalny lagi haus sama couple itu juga mendadak, habis Henry imut sih X3 #plak

Ah, oke saya tak akan banyak beralasan tentang chapter kemarin, tapi saya memang merasa itu perlu hanya saja mungkin kurang yj momennya. Gomawo untuk kritiknya, ini akan jadi pembelajaran bagi saya untuk lebih baik ^^V

Last, review 😉

_Verzeihen

PS: Nantikan aksi Changmin selanjutnya 😉 #plak

Advertisements

19 responses to “Chapter 4: Changmin

  1. Howaaaaa.. First Comment niiii ummaaa terharu abis (˘̩̩̩﹏˘̩ƪ)
    Gara2 galau g bs nonton junsu jd q baca ulang FF umma den #plakk
    Sumpahhhhh y aq tahu siwon miwon jusshi tu gantenggg tp aq sama skaliii g sukaaa liat dy gatel2an mAaa jaemaaa ku (” `з´ )_,/”(>_<'!)
    Siwon miwon tahukah anda lubang jaema tu lo ibarat telor asin ud di stempel cap YUNNPA Bediri !!! So you don't deserve it laaaa!!! ( ˘˘̯)
    Ummaaaa update ny yg niiii tar bkin full NC yaaaaa? (ˆڡˆ). #ngakak bareng mimin kikiki ╋╋ǕӚӑː̗̀=))ː̖́╋╋ǕӚӑː̗̀=Dː̖́╋╋ǕӚӑː̗̀=))ː̖́

      • Kkkkkk~~~ ummaaa match makerny yg chapter ini aq plg sukaaaa (*☻-☻*) ummaa g mao bikin yg full NC ny gt di epilog ??? ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆ aq siap comment sebanyak apapun yg umma minta deh (`_´)ゞ

  2. hadeuhhhhh setiap baca ff yunjae ga tau kenapa kok ya Siwon itu selalu jadi pihak ketiga.. aigo.. Siwon khan milik Kibum #eh? tapi ngomong2 ini ntar ada Kibum ga? eL-ch4an munculin Kibum donk biar sama Siwon. eheheheheheh… aduh Changmin evil banget lah ya… itu ngerjain Mommy ma Daddy gitu… ohya, Siwon itu setuju bantuin MOmmy ga sih? bikin Daddy cembokur.. next chap

    • Iya nih..gak ngerti –a ada dong xDD coba aja diliat..pasti ada kok #jduar Changmin kan evil tapi imut xD kkk~ setuju2 aja deh..klo gak setuju saya ancam gak dikasih jatah sama kibum #Lho

  3. Ternyata Siwon dengan mudahnya mau membantu Jaejoong ^^ tenang aja Siwon, kalau nggak bisa dapatin Jaejoong kan Siwon pasangannya Kibum.
    Oh iya, si Petals itu siapa? Kok temannya Jaejoong pada laporan sama dia sih, Changmin kah? Yunho kah? atau yang lainnya?
    Changmin!! omo, dirimu baik masih anak-anak tetap aja evil, ne?#peluk Changmin. Jenius banget bisa ngerencanain hal itu, sanking pengennya umma dan appa-nya balikan lagi d^^b. Jadi nggak sabar lihat aksi Changmin yang lainnya… Changmin saranghae :3

    • iya…karena dia tahu klo yunho hanya utk jaejoong xDD
      petals itu..ya begitulah #jduar itu artinya petal #plak
      wkwkwk…changmin masa kecil2 bisa begitu /geleng2/ *eh ngapain peluk2, itu Changmin punyaku *jitak* #plak

  4. kayaknya aku udah komen di chapter ini ya eonn *sigh*
    Oemji.. Bner2 clueless..
    ah bodo amat.. Yasudah, aku komen ajah pkoknya!!! DX

    Humppttt

    changmin itu ususnya sampe kaki dongwook ah :9
    Pencernaannya juga cepet, makanya 10 menit juga uda slese dicerna smua makanannya *digileschangmin

    Huwoohhh..
    siwon oppa 😦
    Huh, jangan deketin jeje!!!! *bakarpetasan

    Dan dongwook ah, jangan lengah ama changmin ne??
    Dia gampang ketiup angin *plak eh, gampang ilang maksudnya..
    Sbagai seme yg baik, jagain minnie nee? :9
    Kekeke

    Duh ya Allah..
    Jeje tuh masih cinta yunho..
    Yunho juga..
    Astaghfirullah,, jadi ribet begini t,t

    • wwkk..makasih ya dah komenl agi xDD #plak

      iya..gila itu anak, heran, kykny cacingan deh –a #jduar
      wkwk…

      Siwon, kau hanya punya kibum
      *lempar siwon buat kibum* #lho

      wkwk…bkannya gampang bkin orang tergoda? xD #jduar
      he eh* dong wook itu kan baik, pasti bsa jaga changmin deh
      kkk~

      #puk2 tenang aja..pasti mereka akan balik kok
      #semoga

  5. Evilxa Minnie kluar tuh, tp bkin Yunpa n Momy mkin dket.
    Siwon tau aja klo momy emank syangxa sma yunpa aja.
    Go to next chap.

  6. Kyaaa pict’ny minnie imutttt bgt, jd pngen nyium butt suie jumma _plak_ , . First night’ny so sweetttt. . .Mksud shbat’ny jaema ap yaw? Kog kyk smacam dtektif gtu, ? Siwon sbnerny pngen pr1in yunjae lg ato pngen rebut jaema, kog brubah2 truz sifatny, .
    Woah minnie top bgt dah, scra tdk lngsung mesum jg ide’ny minnie, ayoo yunpa cpetan ‘serang’ jaema, . Ehehehe.

    • iyia >///< Changmin emang unyu banget kkk~ apa ya? saya juga bingung *garuk2 kepala*
      kan dia orangnya labil #plak wkwk…gak boleh diserang2, nanti bsa gawat kejadiannya #lho

  7. kali ini aku bersyukur krena changmin dilahirkan sebagai seorang evil… hahaha. mbayangin mukanya yunho sama jaejoong mesti lucu banget waktu saling teriak. hahaha… sudahlah, yunjae itu memang serasi jika bersama…. ^^

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s