Chapter 5: Kim Hyun Joong


Title: Matchmaker

Rated: T possible M

Couple: Yunjae and others

Warn: GS!

Summary: Namanya Kim Jaejoong, matchmaker yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi kehebatannya. Sudah banyak pasangan yang menikah karenanya. Tapi, bagaimana ketika suatu saat mantan suaminya menjadi kliennya?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

”Umma, tambah!” seru Changmin yang menyerahkan mangkok nasinya yang sudah kosong kepada Jaejoong.

”Changmin, ambil sendiri jangan ganggu ummamu,” tegur Yunho yang sukses membuat Changmin kecil memajukan bibirnya.

Jaejoong hanya terkekeh dan mengambil mangkok nasi Changmin. ”Sudahlah, Yunnie, biarkan aku mengambilnya, gwenchana kok.”

”Tapi, aku tidak mau kau terus memanjakannya,” gerutu Yunho sembari mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya sekarang.

Yeojya itu mendekat ke wajah Yunho yang duduk di sampingnya dan mengecup pipinya ringan. ”Aigo, sekarang siapa yang manja, ne?” goda Jaejoong yang sukses membuat kedua pipi Yunho merona merah dan diiringi dengan gelak tawa ringan dari Jaejoong.

Setidaknya itu adalah pemandangan yang terjadi di ruang makan itu satu tahun yang lalu. Suasana kekeluargaan dan kehangatan yang ada, tapi sekarang? Lihatlah betapa kakunya Yunho dan Jaejoong yang duduk berseberangan apalagi dengan kejadian tadi. Yunho segera kembali masuk ke dalam kamar mandi dan Jaejoong segera memakai baju seadanya untuk menutupi tubuhnya yang polos.

Lantas, bagaimana dengan Changmin? Kalian tahu komik Crayon Shinchan? Bayangkan sekarang di kepala Changmin sekarang ada benjolan yang muncul di kepala Shinchan saat dia berulah dan kemudian diberi pitingan oleh Misae, umma Shinchan. Nah, kurang lebih keadaan Changmin saat itu. Dia juga memajukan bibirnya karena cemberut dan sakit yang dia terima. Siapa yang memukul kepalanya? Appa-nya tentu saja, tapi hanya pukulan ringan karena sedikit kesal atas ulah Changmin yang kekanakan.

”Umma, tambah!” Suara riang Changmin kemudian menghancurkan atmosfir tegang di antara mereka.

Jaejoong hendak mengambil mangkok kosong yang diberikan Changmin kepadanya, namun dengan cepat Yunho merebutnya. ”Biar aku saja, lagipula kau sudah bukan umma-nya lagi,” jawab Yunho yang seketika membuat hati Jaejoong terasa sakit. Dia kemudian sadar akan posisinya.

Aish, sudahlah Jaejoong, bukankah kau memutuskan untuk menunjukkan pada Yunho kemampuanmu sebagai matchmaker?! Kau harus tegar! ”Ah, ne,” gumam Jaejoong dengan pelan. Changmin yang duduk di antara mereka merasa kesal melihat interaksi dari kedua orang dewasa di sana.

”Ini, lain kali kau ambil sendiri nasimu,” ujar Yunho dengan nada yang sedikit ketus kepada Changmin. Sementara namja kecil itu kembali cemberut dan menerima mangkok nasinya dengan perasaan kesal.

”Ah, ne, bagaimana dengan Ryeowook-shi?” tanya Jaejoong berharap untuk memecahkan keheningan di antara mereka.

Yunho yang sudah memegang sumpit dan mangkok nasinya, menatap ke arah Jaejoong. ”Biasa saja, kami memang kebetulan pernah menjalin hubungan kerja. Saat itu perusahaan kami memakai restoran tempat dia bekerja dan yah, kami berkenalan di sana, itu saja.”

”Oh,” gumam Jaejoong sembari mengangguk. ”Tapi, Yunho-shi, saya melihat anda terlihat cukup akrab dengan dia sampai anda memanggil dia dengan nama panggilan?”

”Memangnya ada apa dengan hal itu? Saya rasa tidak ada masalah bukan?” balas Yunho yang kemudian meletakkan mangkok nasi dan sumpitnya ke atas meja. ”Apakah anda tidak suka dengan hal itu, Jaejoong-shi?”

Jleb.

Tidak suka? Ya, dia tidak suka ketika Yunho memanggil orang lain terutama yeojya dengan panggilan sayang. Tapi dia bisa apa? Dia sekarang tak lebih sebagai matchmaker untuk mencarikan umma sekaligus istri yang pantas untuk Yunho. ”Ani, tapi kalau memang anda –”

”Saya tidak menyukainya kalau itu yang ingin anda tanyakan,” sela Yunho yang membuat Jaejoong sedikit tersentak kaget. Tanpa mereka sadari saat itu, Changmin sedang menyengir karena senang.

”Eh? Tapi bukankah anda terlihat akrab dengan dia?” tanya Jaejoong dengan heran. Mata doe­-nya terlihat memancarkan kepolosan yang menghanyutkan.

Yunho kembali melanjutkan kegiatan makannya sembari menjawab Jaejoong. ”Ne, tapi saya hanya menganggap dia sebagai rekan kerja saja. Lagipula, dia sedikit kekanakan dan saya rasa Changmin tidak terlalu menyukainya.”

”Ani! Dia yang tidak menyukaiku! Buktinya saat kemarin kalian pergi berdua, dia tidak suka dengan keberadaanku,” sela Changmin dengan cepat.

Kemarin? Deg. Mendengar itu, hati Jaejoong berdetak dengan kencang. Jadi alasan Yunho tak menghubunginya karena dia sedang jalan dengan yeojya itu? Pabbo Kim Jaejoong, seharusnya kau senang karena artinya kehebatanmu sekali lagi terbukti, tapi semua itu terasa begitu sakit di satu sisi. Tentu saja, karena kau sendiri masih mencintainya, Jaejoong. ”Ah, ne,” jawab Jaejoong seadanya.

”Changmin, dia bukannya tidak suka denganmu. Sudah bagus dia tidak memarahimu ketika kau membuat bajunya kotor karena memuntahkan makananmu,” tegur Yunho sekali lagi.

Changmin memajukan bibirnya, tanda bahwa namja itu cemberut. ”Aku tidak suka makanannya. Aku mau makanan umma,” gumamnya. Nada bicara Changmin yang sendu membuat Jaejoong sedikit merasa bersalah tak pernah menghabiskan waktunya dulu bersama namja itu. ”Appa, umma, tak bisakah kalian kembali seperti dulu? Aku janji akan jadi anak baik, jebbal?” pinta Changmin dengan nada memelas.

Satu permintaan itu sontak membuat kedua orang dewasa itu saling berpandangan satu sama lain dalam kebingungan.

Apalagi sebenarnya yang direncanakan oleh Changmin?

.

.

5th Match

”Kim Hyun Joong”

by eL-ch4n

18.05.2012

.

.

”Jaejoong-shi?” sapa seorang namja yang bertubuh tinggi. Namja itu memiliki rambut cokelat terang yang sedikit berkilauan karena terkena pantulan cahaya matahari.

Mendengar namanya dipanggil, Jaejoong mengangkat kepalanya yang tertunduk tadi dan berhadapan dengan sepasang mata milik sang namja. Dia mengangguk dan mempersilakan namja itu untuk duduk di seberangnya. ”Hyun Joong-shi,” sapanya.

”Ah, panggil saja dengan Hyun Joong,” jawab Hyun Joong yang sudah duduk di seberang Jaejoong. Senyuman tak pernah lepas dari wajah tampan namja itu. Dia terlihat sangat menikmati posisinya untuk bisa mengamati Jaejoong sepenuhnya. ”Jadi, anda memanggil saya karena sudah menemukan pasangan yang tepat untuk saya?”

Jaejoong tersenyum sembari menggelengkan kepalanya perlahan. ”Ani, sebelum memasangkan orang, saya harus terlebih dahulu bertemu dengan orang itu dan menentukan bagaimana karakternya. Apa yang tertulis dengan apa yang dialami secara langsung terkadang berbeda bukan?”

Hyun Joong terkekeh pelan membuat Jaejoong hanya tersenyum lembut. ”Ah, tak salah anda disebut dengan sebutan aphrodite, ne? Jadi, apa yang ingin anda ketahui dari saya? Sepertinya semua sudah saya tulis di dalam form pendaftaran.”

”Sebenarnya saya hanya ingin menghabiskan waktu saja untuk mengetahui karakter anda secara mendalam, Hyun Joong. Bukankah dengan begitu saya bisa lebih mudah untuk menentukan pasangan yang cocok untuk anda?”

Namja itu mengangguk perlahan. Tak lama datanglah waitress yang meminta pesanan mereka. Setelah memberitahukan pesanan mereka, Hyun Joong melipat kedua tangannya dan kembali menatap Jaejoong dengan intens. ”Apakah anda juga melakukan hal ini dengan yang lainnya?” Jaejoong mengangguk. ”Yah, sayang sekali,” gumam Hyun Joong.

”Wae?” tanya Jaejoong dengan nada polos.

”Padahal saya pikir saya orang special yang mendapat kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dengan anda, Jaejoong.” Ucapan Hyun Joong tadi sukses membuat kedua pipi Jaejoong merona merah.

Terlalu sibuk dengan pekerjaannya, rasanya sudah lama sekali seseorang menggodanya seperti yang dilakukan Hyun Joong padanya. ”Ah, saya hanya berusaha untuk mengetahui karakter anda saja.”

”Kalau begitu kenalilah karakter saya dan tentukan apakah saya pantas untuk menjadi orang yang special itu,” ujar Hyun Joong dengan lembut. Dia memegang kedua tangan Jaejoong sembari menatap pada sepasang doe eyes milik sang yeojya. Tatapannya tulus dan membuat Jaejoong merasa hangat, sayangnya tak ada debaran yang bisa dia rasakan saat bersama dengan Yunho.

Kalau bukan karena waitress yang mengantarkan pesanan mereka, mungkin Jaejoong tidak tahu harus bagaimana untuk menarik tangannya kembali dari genggaman Hyun Joong. ”Jadi, Jaejoong, boleh saya menganggap ini sebagai kencan?” tanya Hyun Joong yang sukses membuat Jaejoong kaku seketika.

Kring.

”Selamat datang, untuk berapa orang tuan?” sapa sang waitress ketika melihat ada tamu.

”Untuk dua orang,” jawab tamu tersebut sembari menunjukkan angka dua dengan jari tangannya.

Deg.

Suara itu terdengar familiar di telinga Jaejoong. Tidak mungkin? Dia memutar kepalanya yang memunggungi pintu masuk kafe tersebut dan mendapati mantan suaminya yang kemarin menghabiskan waktu bersama dengan dirinya sedang berjalan masuk dengan seorang yeojya. Jaejoong tak mengenal yeojya itu dan tak merasa pernah bertemu dengannya. Rambut hitam milik yeojya yang bergelombang itu dibiarkan digerai begitu saja. Tingginya membuat yeojya itu terlihat imut dan manis ditambah dengan pipi chubby milik yeojya itu. Kacamata berbingkai putih yang dia kenakan juga membuatnya terlihat berpendidikan apalagi dengan tingkah laku yeojya itu.

Jaejoong masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi sampai tak sadar bahwa Hyun Joong terus memanggilnya berkali-kali. ”Jaejoong?” Akhirnya Jaejoong kembali dari pikirannya dan kemudian kembali menghadap ke arah Hyun Joong. Panggilan namja itu tentu saja membuat Yunho menyadari kehadiran Jaejoong dan sesaat keduanya bertatapan sebelum Jaejoong yang memutuskan kontak mata di antara mereka.

”Ah, ne sampai di mana kita tadi?” tanya Jaejoong dengan canggung terutama ketika dia merasa Yunho sedang menghampirinya.

”Jadi seorang matchmaker bisa berkencan rupanya?” tanya Yunho dengan sarkasme di dalamnya.

Oke, sekarang di wajah Jaejoong sudah muncul empat siku yang biasanya terdapat di dalam komik-komik saat sang tokoh utama sedang marah. Senyum yang terukir di wajahnya juga sudah mulai berbeda. ”Maaf, Hyun Joong,” gumamnya kepada Hyun Joong sebelum bertatapan muka dengan Yunho. Dia melihat yeojya yang berdiri di samping Yunho sedang tersenyum lembut ke arahnya. Seperti biasa, Yunho adalah Yunho, namja itu terlihat cuek dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya sementara sang yeojya sedang memegang tas dengan kedua tangannya.

”Ada apa?” desis Jaejoong.

”Hanya ingin menyapa matchmaker-ku saja,” jawab Yunho sembari menggidikkan bahunya.

Matchmaker? Oh, berarti kau Kim Jaejoong bukan?” seru yeojya yang berdiri di samping Yunho. Dia segera memegang tangan Jaejoong dan menyalaminya seperti seorang anak kecil yang bertemu dengan idolanya. ”Aigoo, aku sudah mendengar tentang kehebatanmu, Yunnie juga sering menceritakan dirimu.”

Yunnie? Sejak kapan Yunho tidak keberatan dipanggil Yunnie oleh yeojya lain?

Shin Young,” sela Yunho. Dapat terdengar amarah tersembunyi di balik nada bicara Yunho yang hanya disadari oleh Jaejoong.

”Ah, ne, itu aku,” jawab Jaejoong dengan canggung. Dia merasa sedikit bingung dengan yeojya yang ada di hadapannya. Bagaimana dia bisa mengetahui tentangnya dan apa saja yang sudah diceritakan Yunho kepadanya.

Shin Young menepuk pundak Yunho. ”Aish, seharusnya kau lebih cepat mempertemukanku dengannya, Yun, kau ini,” tegur Shin Young.

Sejujurnya Jaejoong tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi dia tetap berusaha untuk tegar. Ada sesuatu di dalam dirinya yang meronta untuk keluar, tapi dia tidak mungkin menangis di tempat seperti ini. Tidak. Dia sudah berjanji untuk tegar dan move on. Apabila Yunho memang sudah tidak mencintainya, setidaknya dia harus mencarikan seseorang yang tepat untuk namja itu. ”Ah ya, perkenalkan, namaku Seo Shin Young, aku ini –”

”Shin Young!” tegur Yunho dengan cepat seolah tak ingin Shin Young mengucapkan lebih dari itu.

Yeojya itu hanya menghela nafas pasrah dan menarik badannya yang tadi menunduk agar bisa sejajar dengan Jaejoong yang sedang duduk saat itu. ”Ne, arasso, arasso.”

”Maaf, saya tidak tahu kalian siapa, tapi jika kalian tidak keberatan, Jaejoong dan saya ada urusan, boleh?” tanya Hyun Joong yang menyadari perubahan emosi yang terlukis di wajah Jaejoong.

”Ah, arasso. Ayo kita duduk, Yunnie.” Dan Shin Young segera menarik Yunho untuk menjauh dari tempat duduk mereka. Jaejoong yang menundukkan kepalanya dan menatap ke arah pesanannya tak sadar bahwa tatapan elang Yunho tak pernah lepas dari sosoknya.

.

.

”Jadi, namja tadi, apakah anda mengenalnya?” tanya Hyun Joong untuk memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka setelah kepergian Shin Young dan Yunho. Kedua orang itu duduk cukup jauh di antara mereka namun Jaejoong masih bisa melihat sosok Yunho di antara kerumunan.

Jaejoong hanya mengangguk sembari tersenyum pelan. ”Ne, dia itu,” gumamnya. Dia terlihat ragu dan kemudian menggigit bibir bawahnya. ”Mantan suamiku,” ujarnya. Dia tak mengerti kenapa dia bisa menceritakan tentang Yunho pada Hyun Joong, tapi dia merasa nyaman bersama dengan namja itu. Hyun Joong tampak seperti sosok seorang oppa bagi dirinya yang dapat mendengarkan keluh kesahnya.

”Oh, jadi seorang matchmaker juga pernah mengalami masa lalu seperti itu, ne?” ujar Hyun Joong dengan nada ramah. Jaejoong hanya mengangguk. Hatinya sedikit merasa ragu apakah sebenarnya aman menceritakan ini pada kliennya. Mungkin Hyun Joong akan kehilangan kepercayaan terhadapnya karena dia sendiri tak bisa menjaga cintanya dengan baik. Yah, apa katanya ketika tahu bahwa seorang matchmaker tak bisa menjaga hubungannya?

Ketika ada kehangatan yang menyentuh kedua tangannya, Jaejoong mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. Dia mendapati Hyun Joong tengah tersenyum lembut ke arahnya. ”Anda tak perlu khawatir, Jaejoong. Justru mengetahui bahwa anda punya masa lalu seperti itu membuat saya yakin bisa menyerahkan keputusan saya pada anda. Dengan pengalaman yang anda miliki, pasti anda mempunyai keinginan untuk membuat agar orang lain tak akan mengalami hal yang sama seperti anda, dan menurut saya itulah yang membuat anda selalu sungguh-sungguh dalam memberikan hal yang terbaik untuk mereka yang meminta bantuan anda.”

Ada sebuah perasaan lega dalam hati Jaejoong mendengar penjelasan Hyun Joong. Benar, memang sebenarnya itulah yang dia rasakan ketika mencarikan pasangan untuk kliennya. Dia harus memastikan bahwa mereka benar-benar saling menyukai atau setidaknya ada sebuah ketertarikan. Dia tidak mau semuanya dilakukan dengan begitu cepat dan nanti akan berakhir seperti dia. Intinya, dia tidak ingin ada yang merasakan penderitaan seperti dirinya dan dia sungguh bahagia ketika Hyun Joong mau mengerti dirinya. Selama ini, kliennya tidak tahu bahwa dia sudah bercerai. Mereka hanya tahu bahwa Jaejoong terlalu sibuk bekerja hingga tak ada waktu untuk kehidupan pribadinya. Itulah dinding yang dibangun Jaejoong terhadap para kliennya.

”Jadi anda tidak perlu khawatir ne,” ujar Hyun Joong.

Jaejoong mengangguk dengan semangat. Seulas senyuman tulus terukir di wajahnya. Hal ini menyebabkan Hyun Joong menarik tangannya dan kemudian mengecup pipi kanan Jaejoong mendatangkan semburat merah di kedua pipi yeojya itu. ”Lagipula, senyuman lebih cocok untuk wajah indah ini daripada guratan kesal dan ekspresi sedih, jadi tersenyumlah dengan tulus, ne?” Mendengar perkataan Hyun Joong membuat senyuman di wajah Jaejoong semakin melebar.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya menyebabkan yeojya itu harus berdiri. ”Ikut aku,” desis Yunho yang mendadak muncul entah dari mana. Jaejoong tak menyadari tatapan tajam yang diberikan Yunho ke arah Hyun Joong dan menghempaskan tangan Yunho yang menggenggam tangannya dengan erat.

”Apa maumu?!” seru Jaejoong dengan lantang. ”Lepaskan aku!” Dia meronta untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Yunho yang keras. Keduanya berdiri dengan keadaan yang membuat orang salah paham.

Adegan itu terlihat seperti sebuah bagian di dalam film ketika sang yeojya ketahuan berselingkuh dengan orang lain dan sang kekasih datang menariknya. ”Cih,” decak Yunho yang cukup kesal dengan perlawanan Jaejoong. Tanpa aba-aba, dia menggunakan tangan kanannya yang mencengkram pergelangan tangan mungil Jaejoong untuk menarik tubuh ramping Jaejoong mendekat ke arahnya. Tangan kirinya menempel pada bagian belakang kepala Jaejoong dan dalam sekejap saja bibir mereka bersentuhan.

Seluruh tamu yang hadir menahan nafas dan terkejut melihat adegan live itu. Sementara Jaejoong? Yeojya itu membesarkan kedua doe eyes-nya karena kaget dengan tindakan Yunho kepadanya. Dia mencoba untuk meronta, namun tenaga Yunho yang lebih kuat darinya membuat semuanya sia-sia. Ketika bibir mereka terlepas, Yunho tak berkata apa-apa lagi selain menarik Jaejoong keluar dari tempat itu.

Hyun Joong? Setelah Yunho dan Jaejoong keluar dari tempat itu, akhirnya dia berhasil sadar dari keterkejutannya. Detik berikutnya seulas seringaian terpasang di wajahnya. ”Yunho-shi, ne? Sepertinya ini akan menarik,” bisiknya pelan entah kepada siapa.

Shin Young? Yeojya itu sedang duduk dan menikmati kopinya di meja yang ditempatinya bersama dengan Yunho tadi. Dia kemudian mengetik sebuah pesan singkat melalui ponselnya.

To: Petals

Subject: Success and Danger

Rencana B berhasil, tapi sepertinya ada bahaya yang menanti

.

.

Yunho menarik Jaejoong keluar dari kafe tersebut dan kemudian berjalan menuju ke mobilnya. Dia membukakan pintu penumpang dan memaksa Jaejoong untuk masuk ke dalamnya. Tak tahu harus berkata apa, Jaejoong mengikuti perintah Yunho dengan patuh.

Blam.

Yunho membanting pintu mobilnya dengan kencang entah karena apa dan itu membuat Jaejoong memincingkan matanya karena kaget. Namja itu segera duduk di kursi pengemudi. Sejenak keheningan melanda mereka berdua. Jaejoong sendiri masih mencoba untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Apakah Yunho baru saja menciumnya?

”Yun –”

”Cukup, biarkan aku tenang sejenak,” sela Yunho. Yeojya itu hanya mengangguk karena dia tahu bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan tentang ciuman tadi.

Tak lama, terdengar helaan nafas panjang dari namja itu. ”Jadi beginikah kerjaanmu selama ini? Berkencan dengan para klienmu dengan alasan untuk ’mengetahui karakter mereka’?” desis Yunho.

Kedua mata Jaejoong membesar karena kaget. Dia tidak percaya bahwa Yunho menganggap dirinya seperti itu. ”Ani! Asal kau tahu saja, Yunho-shi, saya sedang bersikap profesional terhadap klien saya. Lagipula, asal anda tahu, yang menjadi klien saja bukan hanya namja saja. Apa anda juga mau mengatakan saya melakukan entah apa yang ada di pikiran anda?”

Sakit.

Itulah yang dirasakan Jaejoong sekarang. Apakah ini salah satu alasan kenapa Yunho menceraikannya? Karena namja itu tidak bisa mempercayainya melakukan pekerjaannya. ”Cih, siapa yang tahu. Bisa saja kau beralasan,” decak Yunho.

”Sudah cukup, Yunho-shi! Alasan anda tidak masuk akal dan saya tidak mengerti kenapa anda harus marah terhadap saya! Saya bukanlah yeojya murahan, jika itu yang anda maksud. Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi.”

Blam.

Jaejoong kembali membanting pintu mobil Yunho karena kesal. Dia sungguh tidak menduga bahwa Yunho akan berpikir seperti itu terhadap dirinya. Rasanya pertahanannya bisa saja runtuh seketika. Sebenarnya dia sedikit berharap Yunho mengejarnya dan meminta maaf, tapi sepertinya itu hanya harapan belaka.

”Jaejoong?”

Jaejoong tidak tahu bagaimana dia bisa kembali berjalan ke depan kafe dengan perasaannya, tapi mendengar suara hangat dari Hyun Joong membuat perasaanya sedikit lega. Maka, entah apa yang terjadi, dia segera melingkarkan tangannya pada pinggang Hyun Joong dan membenamkan kepalanya pada dada bidang Hyun Joong.

Isak tangis kemudian terdengar dari yeojya itu kala Hyun Joong mengelus punggungnya dengan lembut. Dengan posisinya yang sekarang, Jaejoong tidak sadar bahwa dia membelakangi Yunho yang menatap tajam ke arah Hyun Joong.

Dan Hyun Joong? Namja itu menyeringai lebar seperti serigala yang berhasil mendapatkan mangsanya. Sekali lagi, adegan dalam komik ketika kedua pemeran pria bertemu dan memperebutkan yeojya muncul. Tapi kilat dan petir yang muncul pada background kali ini berbeda dari sebelumnya. Lebih mengerikan dan mencekam terutama dengan seringaian yang juga terpasang di wajah keduanya.

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Oke, maaf ya kalau chapter ini jadi aneh m(_0_)m *kabur sebelum dijitak readers*

Last, review? 😉

_Verzeihen

Advertisements

11 responses to “Chapter 5: Kim Hyun Joong

  1. *tonjok hyunjoong*
    iiihhh yunho itu uda jelas2 punya rasa suka!!! kenapa gak ngaku terus sih!! (ya gak serulah~#tabok)
    makin seruuuu lanjutkan chinggg~ 😀

  2. lagi-lagi nama Petals selalu muncul, bikin penasaran aja. eonni, siapa sih dia? sepertinya kalau Yunho nggak mungkin deh, soalnya di sini dia yang jadi obyeknya…
    Hyung Joong sepertinya menyukai Jaejoong juga nih. Appa bear gimana tuh, muncul lagi saingan baru
    Di sini Changmin nggak beraksi lagi, ne? masih takut karena habis dijitak beruang ya? Aku tunggu aja aksi Changmin selanjutnya…

    • siapa ya ? .____.v
      gak dong..kan yunho itu korban (?) wkwkw
      sekali2 biarin si jaemma diperebutkan banyak orang xDD #plak
      gak dong..kan dia takut kyk shinchan. wkwk xD ayo2 ditunggu (?)

  3. Hyun Joong tampak seperti sosok seorang OPPA bagi dirinya yang dapat mendengarkan keluh kesahnya.

    LOL

    hihiww, bagian oppa itu mesti dibold eonn LOLOLOL
    Akhirnya bener2keliatan kan posesifnya yunpa? LOL
    Yunpa, posesif banget siiiihhh
    Xixi, masi cinta yaaaa? *digamparyunpa

  4. Whohoho,,
    Yunpa Vs Hyunjoong!
    Hlang siwon, dtg hyunjong.
    Yunpa cembru tuh, blang aja msh cinta sma Momy, trus knapa gak balikan aja sih.

  5. Ihhh hyunjoong oppa jangan deket2 umma *deathglare*
    Jangan jadi orang ketiga lagi pleaseeee *puppy eyes*

    Umm umm petals itu siapa yaa *think*
    Tadinya aku fikir dia itu changmin, tapi kayanya ga mungkin deh :/
    Ahhhh mungkin si petals itu heechul eonni /ehh oppa maksudnya/ secara kan dia yang minta umma buat nyariin pasangan buat appa *smirk*
    Ahhh kita lihat saja nanti siapa dia 😀

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s