Chapter 6: Dong Wook


Title: Matchmaker

Rated: T possible M

Couple: Yunjae and others

Warn: GS!

Summary: Namanya Kim Jaejoong, matchmaker yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi kehebatannya. Sudah banyak pasangan yang menikah karenanya. Tapi, bagaimana jika mantan suaminya menjadi kliennya?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

Terlihat dua anak namja tengah berjongkok di taman sekolah sedang mendiskusikan sesuatu yang sepertinya begitu serius. Namja yang tampak lebih tua itu mendengarkan dengan seksama perkataan yang dilontarkan oleh namja yang lebih muda. ”Pokoknya aku mau umma baikan lagi sama appa!” seru namja yang lebih muda yang bernama Changmin itu.

Kalau begitu namja yang satu lagi adalah Dong Wook yang dengan senantiasa mendengarkan celotehan Changmin layaknya anak yang penurut. ”Terus, apa yang mau kau lakukan?” tanya Dong Wook dengan tenang. Keduanya sekarang sudah berdiri dan tengah berjalan menuju pada salah satu ayunan yang terdapat di taman sana.

Changmin segera duduk di salah satu ayunan sementara Dong Wook berjalan ke belakang namja itu dan mulai mendorong Changmin dengan pelan. ”Aku bingung, kupikir dengan membuat mereka berdua berada dalam satu kamar akan membuat keduanya sadar,” gumam Changmin.

Dong Wook yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas. Tidak bisa dipercaya kalau Changmin yang ada di dekatnya sekarang adalah Changmin yang dijuluki Lord Voldamin. ”Adanya aku malah dipukul sama appa,” gerutu Changmin sembari memajukan bibirnya.

Kekehan terdengar dari diri Dong Wook membuat Changmin semakin memajukan bibirnya karena kesal. ”Changmin, Changmin, ahaha, terang saja appa-mu marah, biar bagaimanapun dia itu kan tetap seorang namja,” ujar Dong Wook.

”Eh?” Changmin memutar kepalanya dan memiringkan kepalanya sedikit sehingga dia sekarang terlihat begitu imut dan menggemaskan. ”Tapi, bukannya itu cara yang bagus agar keduanya bisa saling bicara ya?” tanya Changmin dengan polosnya.

Oh Tuhan, apa benar yang ada di hadapannya sekarang adalah Sang Lord Voldamin? Pikir Dong Wook di dalam hatinya. ”Aish, sudahlah, aku akan membantumu kalau begitu,” seru Dong Wook untuk mengalihkan perhatian namja itu.

”Jinjja? Gomawo, hyung, tapi yang kudengar dari appa kemarin sepertinya appa punya saingan baru,” gumam Changmin lagi.

”Saingan baru?” tanya Dong Wook sembari mengangkat kedua alisnya. Tangannya masih mendorong tubuh Changmin, namun dengan tenaga yang lebih ringan sekarang. ”Jadi setelah appaku, appamu masih ada lagi saingan? Sepertinya ummamu itu terkenal sekali ya,” goda Dong Wook.

Changmin menghentikan dorongan Dong Wook dan berdiri tegak. Dia mengangguk dengan antusias. ”Ne, ummaku itu sangat cantik dan populer! Appaku juga tampan!” seru Changmin.

Kembali Dong Wook terkekeh melihat antusiasme dari sahabatnya itu. ”Arasso, kalau boleh tahu kenapa appa dan ummamu berpisah?” tanya Dong Wook dengan hati-hati. Meskipun tahu bahwa sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tabu, Dong Wook harus tetap menanyakannya. Dia tidak mungkin membantu tanpa tahu akar permasalahan bukan?

Namja tampan nan manis itu menggigit bibir bawahnya. Ada terlihat keraguan dan kegugupan terpancar di wajahnya. ”Aku kira mungkin karena aku? Umma terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan dia jarang memperhatikan diriku. Sebenarnya, sebenarnya aku tidak keberatan. Lagipula aku tahu bahwa aku memang bukan anak kandung dari mereka.”

Dong Wook tersentak kaget mendengar pernyatan Changmin tadi. Rasanya tidak dipercaya bahwa namja yang tampak ceria itu ternyata menyimpan kenyataan pahit di baliknya. Dia masih berusaha bersikap tegar agar tidak ada seorangpun yang khawatir. ”Minku,” bisik Dong Wook dengan lembut. ”Ssst, aku rasa bukan karena itu, Minku. Coba kau ingat-ingat lagi apa yang terjadi setelah appa dan ummamu berpisah,” tanya Dong Wook dengan nada lembut. Sekarang dia sudah menarik Changmin dalam dekapannya dan mengelus lembut punggung Changmin.

”Mwolla, sejak itu appa selalu pulang malam meninggalkanku sendirian. Terkadang juga tiap malam ada yang menggedor pintu apartemen. Appa selalu menyuruhku untuk tidur dan mengabaikan ketukan pintu itu. Setidaknya itu terjadi sampai setengah tahun yang lalu dan kami bisa kembali hidup dengan tenang. Sesekali datang namja bertubuh kekar dan wajahnya sedikit seram yang selalu mencari appa. Tapi, karena appa sedang bekerja, namja itu kemudian berlalu begitu saja,” jelas Changmin.

Tampaknya Dong Wook mulai bisa mengerti duduk persoalan keluarga Changmin dan jika memang apa yang dia pikirkan benar berarti appa Changmin sebenarnya masih mencintai sang umma. Dan kalau begitu, maka dia harus membantu Changmin. Lagipula, dia tidak akan membiarkan appanya berhubungan dengan umma Changmin karena itu akan menganggu perasaannya terhadap Changmin. Sepertinya dia harus bertindak dengan cepat.

.

.

6th Match

”Dong Wook”

By eL-ch4n

29.05.2012

.

.

Dua hari sudah berlalu semenjak pertemuan Jaejoong dengan Yunho. Sejujurnya Jaejoong merasa sedikit lega karena dia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana saat bertemu Yunho lagi. Ada rasa kesal di dalam hatinya saat Yunho memperlakukannya seperti itu. Memangnya dia yeojya murahan apa? Lagipula, kenapa namja itu peduli? Bagaimana dengan Shin Young, yeojya yang dibawa oleh mantan suaminya itu?

”Heiyo, apa yang terjadi dengan pegawai terbaikku ini, eh? Kenapa kau menghela nafas terus daritadi?” Tepukan di bahu Jaejoong yang diberikan oleh Heechul membuat yeojya pemilik doe eyes itu terperangah kaget.

”Heechul-shi!” seru Jaejoong karena kaget yang dibalas dengan kekehan dari yeojya pemilik rambut hitam bergelombang itu.

Heechul berdecak pinggang. ”Hei, panggil aku eonnie! Lagipula apa yang membuatmu terlihat tidak bersemangat seperti ini? Biasanya kau sudah mengurus 4 atau 5 klien, tapi kali ini?” Dia melihat tumpukan kertas yang berada di atas meja Jaejoong dan menggelengkan kepalanya. ”2 saja kau belum selesai, yakin kau tidak mau istirahat?”

Dengan cepat, Jaejoong menggelengkan kepalanya. ”Ani, gwenchana, aku baik-baik saja kok, mungkin setelah makan siang nanti, aku akan lebih baik.”

Heechul menatap Jaejoong dengan penuh selidik, seolah tak percaya dengan apa yang dilontarkan oleh pegawainya itu, tapi tak berapa lama dia kemudian menghela nafas. ”Ne, arasso,” gumamnya pelan.

”Permisi,” sapa sebuah suara yang terdengar gentle diiringi dengan bisikan dari para karyawan yeojya yang ada di ruangan tersebut.

Pembicaraan Heechul dan Jaejoong terpaksa berhenti karena Jaejoong merasa familiar dengan suara tersebut. Yeojya itu memutar kepalanya dan sebuah senyuman terukir di wajahnya ketika mendapati Hyun Joong berdiri di hadapannya. Namja itu memakai t-shirt berwarna biru tua dipadu dengan celana jeans. Penampilannya yang sederhana tidak berhasil menutupi ketampanan yang terpancarkan oleh namja itu. ”Hyun Joong-shi,” tegur Jaejoong dengan lembut. ”Ada yang bisa saya bantu?”

”Ah, itu tadi saya kebetulan melewati tempat ini jadi saya memutuskan untuk mampir sekalian melanjutkan pembicaraan kita waktu itu.” Ya, Jaejoong ingat kalau pembicaraannya dengan Hyun Joong terpaksa ditunda karena namja itu segera membawa yeojya itu pulang karena Jaejoong mengatakan bahwa dia ingin menenangkan dirinya sendiri. Dua hari tidak mendapat kabar dari Hyun Joong, Jaejoong berpikir bahwa mungkinkah namja itu merubah pikiran terhadap dirinya? Dan ketika mendapati Hyun Joong berada di hadapannya sekarang, Jaejoong akhirnya bisa bernafas lega.

”Saya pikir anda sudah berubah pikiran,” ujar Jaejoong dengan lembut tidak memperhatikan tatapan selidik dari Heechul.

Hyun Joong menggelengkan kepalanya dengan cepat. ”Ani, saya sedang sibuk mengurus pekerjaan saya sehingga baru ada waktu dan kebetulan saya melewati tempat ini. Mungkin kita bisa melanjutkannya saat makan siang nanti?”

Jaejoong mengangguk dengan antusias dan segera merapikan mejanya. ”Ne, tunggu sebentar, saya akan membereskan meja saya dulu.” Setelah memastikan semua pada tempatnya, Jaejoong segera mengambil tas selempangnya dan satu amplop cokelat yang berisi data mengenai Hyun Joong. Dia berpamitan terhadap Heechul yang tampaknya masih menatap Hyun Joong dengan curiga. Sayangnya, Jaejoong tidak menyadari hal itu.

Setelah Jaejoong sudah pergi bersama Hyun Joong dan keluar dari ruangan itu, Heechul segera mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dengan cepat. Ekspresinya terlihat gelisah dan semua karyawannya bisa melihat kepanikan yang terpancar dari setiap gerakannya.

To: Others

Subject: Danger

Bahaya! Rencana C harus segera dilaksanakan!

.

.

”Jadi, kita mau pergi makan di mana?” tanya Hyun Joong setelah memasang seat belt dan duduk di kursi pengemudi.

”Saya ikut anda saja, Hyun Joong-shi,” jawab Jaejoong.

Hyun Joong tersenyum lembut sembari menatap Jaejoong. ”Bukankah sudah kubilang untuk memanggilku dengan Hyun Joong saja?”

”Ah, ne,” gumam Jaejoong yang segera menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan intens dari Hyun Joong. Meskipun dia merasa tenang bersama dengan Hyun Joong, ada perasaan risih ketika berdekatan dengan namja itu, seolah ada perasaan bersalah yang meliputi dirinya. Bersalah kepada siapa, dia juga tidak tahu.

Drrt. Drrt.

Ponsel Jaejoong tiba-tiba saja bergetar dan Jaejoong segera mengangkatnya sementara Hyun Joong masih menunggu keputusan dari yeojya itu. ”Yeoboseyo?” sapa Jaejoong dengan lembut. ”Ne, ini Jaejoong, ah Yong In-shi, ada apa? Eh? Changmin hilang?! Ne, ne, arasso, aku akan segera ke sana!” Dia segera menutup teleponnya dan hendak membuka seat belt-nya sebelum dihentikan oleh Hyun Joong.

”Gwenchana?” tanya Hyun Joong dengan lembut.

Jaejoong begitu panik, tampak dari wajahnya yang terlihat begitu pucat. ”Changmin, Changmin hi –hilang! A – aku harus segera menjemputnya!” seru Jaejoong. Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia merasa takut ketika mendengar kabar Changmin yang hilang. Tentu saja dia khawatir! Meskipun Changmin bukan anak kandungnya, tapi dia sudah terlalu menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. Apalagi kalau dia Changmin dikatakan hilang!

”Sshh, tenangkan dirimu dulu, Jaejoong, aku akan mengantarmu ke sana, ne? Di mana sekolahnya?” ujar Hyun Joong dengan lembut.

Mendengar suara Hyun Joong yang tenang, sedikit demi sedikit Jaejoong mulai bisa meredakan rasa paniknya. Dia mengangguk dan mengatakan tempat sekolah Changmin. Sepanjang perjalanan, Jaejoong melipat tangannya dengan keras hingga memerah. Dia sedang bergulat di dalam dirinya apakah mau menyampaikan hal ini kepada Yunho atau tidak. Mungkin saja Yunho sudah tahu mengenai keadaan Changmin, tapi dia rasa tidak ada salahnya untuk mengabarkan mantan suaminya itu.

Rasa gugup memenuhi Jaejoong saat mendengar dering pertama hingga akhirnya suara bass yang selalu membuat dia hanyut itu terdengar. ”Yeoboseyo?”

”Yunho-ah,” ujar Jaejoong sembari terisak. Dia tidak memperhatikan Hyun Joong yang memberi lirikan kesal pada dirinya. Ketakutan sudah menutupi dirinya terhadap keadaan sekitar. ”Changmin, Changmin hi – hilang.”

Hening terdengar dari seberang membuat Jaejoong merasa gelisah. Apakah Yunho akan memarahinya lagi? Tapi, kali ini bukan kesalahannya juga kan?

”Di mana kau sekarang?” tanya Yunho dengan datar tanpa emosi.

”Aku sedang dalam perjalanan menuju sekolah Changmin,” jawab Jaejoong sembari menahan isak tangisnya.

Aku akan segera ke sana dan Jaejoong.”

Ne?”

”Jangan menangis.”

Klik.

Dan Yunho segera mematikan telepon mereka. Pernyataan terakhir Yunho membuat Jaejoong tersentak. Rasanya ada secercah harapan di dalam hatinya. Bagaikan sebuah déjà vu mendengar pernyataan itu. ”Gwenchana?” Satu pertanyaan dari Hyun Joong membuat Jaejoong kembali dari lamunannya. Dia mengangguk, kali ini perasaannya sedikit lebih tenang dan air mata yang tidak disadarinya mengalir tadi sudah berhenti.

Jaejoong tidak menyadari satu hal bahwa semenjak dia menelepon Yunho tadi, ekspresi Hyun Joong berubah. Raut wajah namja itu sedikit mengeras dan genggamannya terhadap stir mobil semakin mengeras.

.

.

”Umma, appa,” racau Changmin yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang. Tubuh namja itu begitu panas dan sepertinya dia demam. Peluh keringat terus bercucuran di kepalanya membuat Jaejoong sering mengelap.

Ekspresi Jaejoong terlihat begitu sedih melihat Changmin yang sepertinya sedikit kesusahan untuk bernafas dan terus menggigau daritadi. Dia menggenggam tangan mungil Changmin dan memberi kecupan ringan. Tangan yang satunya mengelus-elus kening Changmin sembari mengelap keringat yang membasahi wajah namja itu.

Pintu kamar yang terbuka tidak membuat Jaejoong kaget. Dia masih tetap setia memandang ke arah Changmin dengan lembut. Tak lama kemudian dia merasakan sepasang lengan kekar melingkar dan memeluk pinggangnya yang ramping. Punggungnya bertemu dengan dada bidang dari sang pemilik lengan. ”Bagaimana keadaannya,” bisik namja itu dengan lembut pada daun telinga Jaejoong. Bibirnya kemudian mencium rambut Jaejoong dan menghirup aroma shampoo yang dikenakan oleh sang yeojya.

”Yun, bagaimana ini? Changmin…Changmin, hiks,” isak yeojya itu dengan perlahan. Dia sudah memutar badannya sekarang dan memeluk namja itu membiarkan kepalanya berada di dalam dekapan sang namja.

Yunho –nama namja itu –mengelus kepala Jaejoong dengan lembut sembari memberikan kecupan ringan. ”Sssh, tenanglah, Changmin akan baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat, ne?” ujarnya dengan nada yang lembut. ”Sudahlah, boo, jangan menangis, ne?” Tangan Yunho memegang kedua pipi tembem milik Jaejoong sembari kedua ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir pada istrinya.

Jaejoong mengangguk dengan pelan seperti seorang anak kecil membuat senyum terukir di wajah Yunho. ”Baguslah, jangan menangis lagi, arasso?” Kembali yeojya itu mengangguk dengan perlahan dan mulai menghentikan tangisannya. Yunho tersenyum dan kemudian perlahan menghilangkan jejak di antara mereka hingga akhirnya kedua bibir mereka saling menempel untuk menenangkan satu sama lain.

.

.

”Mian, Jaejoong-shi, tadi aku masuk ke dalam sebentar untuk mengambil barang dan saat aku kembali Changmin sudah tidak ada,” ujar Yong In tak kalah panik dengan keadaan Jaejoong sekarang.

Begitu tiba di sekolah Changmin, Jaejoong segera keluar dari mobil dan meninggalkan Hyun Joong untuk menghampiri Yong In yang sudah menanti kedatangannya. Hatinya semakin kalut apalagi mendengar bahwa Changmin sudah menghilang dari 1 jam yang lalu. ”Di mana anda melihat Changmin?” tanya Jaejoong dengan nada khawatir.

Yong In menunjuk ayunan yang terdapat di taman sekolah. ”Di sana, tapi bukan hanya Changmin saja yang hilang, Dong Wook juga tak ada. Mereka tadi bermain di sana, namun tiba-tiba saja saat aku kembali mereka menghilang!” seru Yong In dengan nada panik.

Dong Wook? Tiba-tiba Jaejoong teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat Changmin juga menghilang namun ternyata sedang bermain dengan namja yang ternyata anak dari Choi Siwon itu. Mungkinkah mereka saat ini hanya sedang bermain-main saja? Ah, Jaejoong segera menggelengkan kepalanya. Yang penting sekarang dia harus menemukan Changmin dulu! Untung saja di perjalanan tadi, dia sudah menelepon Heechul tentang Changmin yang menghilang. Yeojya itu memberikan izin bagi Jaejoong sampai Changmin ditemukan.

”Apa anda sudah mencarinya di sekitar sini, Yong In-shi? Mungkin mereka hanya bermain di sekitar sini?” tanya Jaejoong mencoba segala kemungkinan. Yeojya berambut hitam lebat itu menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia sudah memikirkan hal yang sama.

”Saya sudah mencarinya di sekitar sana juga, Jaejoong-shi, namun mereka tak ada. Saya bahkan sudah bertanya kepada anak-anak yang lain, namun mereka tak melihat Changmin dan Dong Wook.” Yong In berhenti sejenak ketika melihat tubuh Jaejoong yang sedikit gemetar. ”Tenang saja, Jaejoong-shi, kami juga sudah melaporkan ini terhadap yang lain dan sekarang sedang mencari mereka.”

Hyun Joong hendak meraih Jaejoong ke dalam dekapannya untuk menenangkan yeojya yang ada di sampingnya itu, namun gerakannya kalah cepat oleh satu tangan kekar yang segera memutar tubuh Jaejoong dan membiarkan kepala Jaejoong bersandar di dadanya. ”Dasar, bukankah sudah kubilang jangan menangis,” gerutu sang pemilik tangan yang tak lain dan tak bukan adalah Yunho.

Namja pemilik mata elang itu menatap tajam ke arah Hyun Joong sembari menyeringai yang hanya dibalas oleh ekspresi tenang dari Hyun Joong. Jaejoong sendiri tidak peduli karena saat ini dia benar-benar butuh sebuah ketenangan. Tangan yang mendekapnya dan dada yang menjadi tempatnya bersandar mampu memberikan semuanya membuat Jaejoong sedikit banyak melupakan masalahnya. ”Jadi, kalian sudah mencari di mana saja?” tanya Yunho dengan tenang.

Yong In kemudian menjelaskan apa yang terjadi, di mana saja tempat yang sudah mereka cari, dan apa saja yang sudah melakukan. Yunho mengangguk tanda bahwa dia telah mencerna setiap informasi yang diberikan. Tangannya masih memegang pinggang ramping Jaejoong dengan posesif dan membiarkan yeojya itu untuk menenangkan dirinya. ”Kalau begitu, coba kita cari lagi di tempat lain. Changmin itu anak yang pintar jadi tidak mungkin dia masih berada di dekat sini. Mungkin akan lebih baik jika kita memperluas pencarian.”

”Gwenchana?” tanya Yunho dengan lembut kepada Jaejoong saat dia merasakan gerakan dari yeojya itu.

Jaejoong segera menarik dirinya dari pelukan Yunho dan tertawa dengan gugup. ”Ah, ne, gomawo Yunho,” ujarnya.

”Ah, Siwon-shi!” seru Yong In yang sontak membuat ketiga orang dewasa tadi melihat ke samping. Dari arah lain tampak Siwon yang tengah berlari dengan wajah khawatir dan ada tanda tanya besar saat melihat seorang yeojya yang mengikuti Siwon dari belakang. Jaejoong harus mengakui bahwa yeojya itu sangat cantik. Kulitnya putih, tubuhnya mungil, rambutnya hitam, dan bibir yeojya itu begitu merah terlihat menggemaskan. Belum lagi aura elegan yang terpancar dari yeojya itu. Tapi, rasanya wajah yeojya itu tampak tak asing di mata Jaejoong.

Sepertinya percuma bagi Jaejoong untuk mengingat karena otaknya saat ini sedang kalut. Begitu Siwon sampai di dekat mereka, namja itu menarik nafas panjang dan tak lama yeojya itu juga menghampiri mereka. ”Ah, Yong In-shi, saya sudah mendengar tentang Dong Wook, apakah dia masih belum ditemukan?” tanya Siwon setelah mengatur nafasnya.

”Siwon?” tanya Jaejoong yang mengalihkan perhatian namja itu ke arahnya. ”Siapa yeojya itu?” tanya Jaejoong dengan polos seolah itu bukan pertanyaan yang aneh.

”Oh dia –”

”Kim Kibum imnida,” sela yeojya itu dengan lembut tanpa senyuman di wajahnya, tapi Jaejoong bisa merasakan ekspresi yeojya itu yang sedikit melembut.

”Ah, Kim Jaejoong imnida,” balas Jaejoong. ”Kau itu?”

Kibum kemudian terkekeh perlahan. ”Sepertinya anda lupa dengan saya ya, Jaejoong-shi?”

Mata Jaejoong membesar dan dia sontak mengingat seseorang yang memanggilnya dengan nada bicara seperti itu. ”Bummie!” serunya yang langsung memeluk yeojya bernama Kibum itu. Kibum hanya tersenyum dan membalas pelukan Jaejoong.

”Ehem,” sela Yunho. ”Bisakah kita menunda perkenalan ini nanti saja? Saat ini kita harus mencari di mana keberadaan Changmin dan Dong Wook.”

Pelukan kedua yeojya itu kemudian terlepas. Jaejoong mengangguk dan kemudian kembali berdiri di dekat Yunho. Entah kenapa, tanpa mereka sadari keduanya berdiri bersebelahan dengan jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Jaejoong kemudian menatap ke arah suaminya yang dengan tegas menjelaskan apa yang bisa mereka lakukan. Dia mengajukan untuk melakukan pencarian terhadap daerah yang lebih jauh dan membagi beberapa kelompok. Karena hari sudah hampir gelap, dia menyarankan untuk segera mencari mereka sebelum terjadi apa-apa.

Entah kenapa di benak Jaejoong, ada satu tempat yang terlintas di otaknya namun dia merasa sedikit ragu. Barulah ketika Yunho melihat Jaejoong masih terdiam, namja itu berhenti dan bertanya, ”Wae?”

”Mungkinkah Changmin…?”

Kedua mata Yunho membesar seolah mengerti maksud dari perkataan Jaejoong. Dia mengangguk dan segera bergegas ke mobilnya. ”A…aku ikut!” seru Jaejoong yang segera duduk di kursi penumpang. Rasa panik menutupi keduanya hingga mereka tak sadar bahwa sedari tadi mereka sudah menggunakan bahasa yang lebih informal dari sebelumnya.

Sepertinya sedikit demi sedikit benang merah mulai terjalin kembali ya?

.

.

”Changmin, gwenchana?” tanya Dong Wook kepada Changmin yang sedang duduk di sampingnya. Saat ini keduanya tengah duduk di bawah pohon beringin besar yang terletak di tepi danau, danau tempat mereka berpikinik dulu. Saat itu Changmin masih ingat, umma-nya akan selalu membuat bekal yang enak dari rumah dan appa-nya akan menemani dia bermain di sekitar sana. Ah, seandainya saja dia bisa mengulang kembali kejadian waktu itu.

Hari sudah lumayan gelap meskipun matahari masih bersinar namun tidak bisa dipungkiri udara Seoul semakin menurun. Changmin yang masih memakai seragam sekolah yaitu kemeja putih dengan celana panjang berwarna hijau terlihat sedikit menggigil kedinginan. Namja yang lebih muda itu tampaknya lupa untuk membawa jaket.

Dong Wook menghela nafas sebelum melepas jaketnya dan memberikannya kepada Changmin. ”Eh?” tanya Changmin yang kaget atas sesuatu yang menepuk pundaknya. Dipandangnya Dong Wook yang sudah kembali memandang ke arah danau yang memantulkan cahaya matahari, terlihat begitu indah.

”Sudahlah, tenang saja, mereka pasti menemukan tempat ini. Bukankah katamu tempat ini penuh kenangan?” gumam Dong Wook dengan nada yang menenangkan.

Changmin mengangguk. Dia menekukkan kakinya dan menyilangkan kedua tangan di atas lututnya. Kepalanya kemudian bersandar pada lipatan tangannya sementara matanya memandang ke arah yang sama dengan tatapan Dong Wook. ”Ne, setidaknya bagiku tempat ini penuh kenangan,” bisiknya dengan pelan namun cukup keras untuk terdengar oleh Dong Wook.

Mata Changmin terpejam dan menikmati angin sore yang berhembus dengan lembut seolah ingin menenangkan jiwanya. Telinganya mencoba menikmati suara yang diciptakan oleh angin yang bergesekkan dengan rumput yang bergoyang. Untaian melodi seolah diciptakan oleh alam untuk menemani mereka berdua. Indera penciumannya entah kenapa menghirup aroma Dong Wook yang terasa manly dan menenangkan. Tak terasa pandangan Changmin mulai mengabur.

”Tenanglah,” bisik Dong Wook sembari meletakkan tangan kirinya ke atas kepala Changmin untuk meyakinkan namja itu bahwa semua akan baik-baik saja. Changmin kembali menundukkan kepalanya dan tetesan bening itu perlahan mulai mengumpul di pelupuk matanya. Dong Wook hanya bisa tersenyum lembut sembari mengelus ringan kepala Changmin.

”Changmin!” Satu seruan dari depan mereka membuat kepala Changmin terangkat. Sebuah senyuman kemudian terukir di wajahnya. Dia mengelap air mata yang sempat mengalir tadi dengan tangannya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali seolah tidak percaya bahwa di hadapannya sekarang ada appa dan umma-nya yang tengah berlari menghampirinya. Wajah Jaejoong terlihat penuh kekhawatiran sementara appa-nya tetap menggunakan tampang stoic, tapi Changmin bisa melihat ekspresi kelegaan yang terpancar dari appanya.

Plak.

Begitu menghampiri Changmin, Jaejoong segera menampar Dong Wook. Air mata mengumpul di pelupuk matanya. ”KAU ITU APA-APAAN HAH? APA MAKSUDMU MENGAJAK CHANGMIN?!” seru Jaejoong kepada Dong Wook. Namja yang ditampar tadi hanya memegang pipi kirinya yang mulai memerah dan tak berekspresi apa-apa terhadap sang yeojya.

”Um…umma,” panggil Changmin dengan gugup. Dia sungguh tidak menduga kalau umma-nya akan semarah itu. ”Um –”

”Diam Changmin! Namja ini harus tahu sopan santun! Sudah dua kali dia membuat ulah dan kali –”

”HENTIKAN!” jerit Changmin sembari berdiri membuat Jaejoong tersentak kaget karena bentakan Changmin tadi. ”Umma tidak pernah mendengarkanku. Umma…umma, ini bukan salah hyung, aku yang salah, aku yang meminta dirinya untuk membawaku ke sini!”

Jaejoong menatap Changmin dengan ekspresi terkejut. ”Maksudmu?” Yunho yang sudah mendekat ke arah mereka berdiri di samping Jaejoong yang sudah kembali berdiri tegak.

Isak tangis Changmin mulai terdengar. ”Hiks, umma dan appa, kalian kenapa bertengkar? Kenapa berpisah? Apakah, hiks, apakah kita tidak bisa kembali seperti dulu?” ujar Changmin sebelum kemudian dia pingsan. Beruntung Dong Wook berada di dekatnya sehingga dia bisa menahan tubuh Changmin sebelum bertemu dengan tanah.

”Saya memang tak berhak ikut campur, tapi menurut saya kalian berdua sudah cukup dewasa untuk tahu alasan di balik tindakan Changmin hari ini. Dia hanya ingin keluarganya kembali seperti dulu,” gumam Dong Wook sembari mengangkat tubuh Changmin dalam bridal-style. Dia sempat melirik appa-nya yang datang bersama dengan yeojya dan namja yang tak dia kenal. ”Yunho-ahjushi, Jaejoong-ahjumah, permintaan Changmin…tidakkah kalian bisa mengabulkannya? Dia hanya ingin semuanya kembali berbahagia,” ujar Dong Wook dengan nada datar membiarkan kedua orang dewasa itu terdiam.

Satu pernyataan Dong Wook seolah membungkam keduanya membuat mereka tak bisa berkata-kata. ”Saya akan bilang sama appa kalau Changmin akan menginap. Jaejoong-shi, Yunho-shi, Changmin tak meminta hal yang susah bukan?” tanya Dong Wook sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan menuju ke arah appa-nya yang tampak kelelahan karena berlari. Beruntung badan Changmin kurus dan ringan sehingga Dong Wook bisa membopohnya tanpa susah payah.

Jaejoong dan Yunho?

Keduanya masih bungkam, tak bisa berkata apapun. Di dalam hati mereka ada sebuah perasaan lain yang seolah meluap keluar. Keduanya saling berpandangan dengan intens untuk menyelami perasaan masing-masing. Angin berhembus di antara mereka seolah ingin menyampaikan kepada mereka untuk melupakan apa yang terjadi di masa lalu dan memulai kembali semuanya dari awal.

Pertanyaannya sekarang apa bisa?

Terutama ketika kita bisa melihat kilat yang tampak di sepasang mata milik seorang Kim Hyun Joong?

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Oke, saya minta maaf karena saya update chapter ini lama, tapi saya sendiri masih banyak urusan. Ini saja saya update setelah saya menyelesaikan tugas akuntansi saya. Jika anda mengikuti twitter saya, saya sudah mengatakan bahwa saya tidak akan update sebelum akun saya selesai dan berhubung sudah selesai dan tadi memang sembari menunggu teman, saya sudah ketik chapter ini separuh, saya lanjutkan dan memutuskan untuk mengupdatenya hari ini ^^V

Semoga saja chapter ini cukup memuaskan hati chingudeul.

Berhubung saya benar-benar capek. Ini aja mata sudah 5 watt, saya minta maaf tidak bisa balas review chingudeul m(_0_)m

Tapi saya sungguh berterima kasih untuk review dari kalian semua, itu sungguh menyemangati saya :’) jadi sering2lah mereview ya~ #dijitak

Twitter: (at)_Verzeihen

Mention for folback 😉

Last, review? 😉

Advertisements

37 responses to “Chapter 6: Dong Wook

  1. Eon aq koment lg ya tp klo mlai dr prolog ampek chp 5 ya jgn soalny qu prnah reveiw di ffn bkanny ngeluh ce tp qu hrus ngsah otak mau ksih kta” apa, cumn itu yg aq bngungkn..
    Uri umma dan uri appa truti ja keinginan Changmin khan ksihan Changminny, dia juga btuh ksih syang sbuah kluarga yg uth di dlm sbuah rumh..
    Qu hrap couple YunJae mau mngabulkan. AaAaAamiIinN..
    Biar Kim Hyun Joong g bsa dket2 lgi ma Jae khan Jae hny mlik Yunho..
    Aq tnggu chp brktny ya..

    • hahaha..gwenchana kok 🙂
      Makasih lho udah capek2 mau review lagi, eon terharu :’)
      sep..doakan semoga mereka cepat balikan lagi ya 😉
      Ini lagi diusahakn supaya bisa ketik secepatnya ^0^

  2. Ummaaaaa o(≧∇≦)o
    Kapannn dillanjutttt???
    Sumpahhh ni FF keren abissss …
    Haaaaaa haaaaa (º̩̩́Дº̩̩̀)
    Jaejoong jgn samaaa hyunjung dong andwaeeee (º̩̩́Дº̩̩̀)
    Pokokny hrs YUNJAE (ง’̀⌣’́)ง
    Hidup YunJae #teriakbarengCHANGMIN ~(˘▼˘~ ) ~(˘▼˘)~ ( ~˘▼˘) ~ #plakkkk

  3. hmm…
    Aku tahu!
    Sebenarnya heechul adalah petals, terus Dong Wook mau membantu changmin karena dia menyukai changmin, terus kayaknya Yunho juga ikut perperan dalam rencana Heechul. Aigooo*nepok jidat.
    FFnya keren, aku Suka semua ff eonie. FFnya lanjut ne^^
    kamshamidda ^_^

  4. aigo umma appa knp gak trutin kemauan changmin aja? kasihan kan tuh changminnya..#elus2 dada changmin #diceburin se7en ke jurang
    ditunggu kelanjutannya ne noona

  5. eonnie, aku suka sama ff eonnie,
    aku selalu nunggu ff eonnie,
    ayo, satukan jae umma dengan yunppa 😉

    ditunggu chap selanjutnya eonnie 🙂

  6. se7minnnnnnnn!!!!!!!! XD
    saya gila dengan couple bocah iniiii huahahahaha
    huaaaaaaaaaaaaaa lanjutkan ching
    aku gak tau disini tapi yunjaeeeee~
    aku sedih dengar kata2 seven yang sangat kereeennn XD
    lanjutkannn chinggg XD

  7. kyaaa ini favoriiitt 😀
    ini aku baru baca langsung rekap komen di chap ini
    gapapa ya thorrr
    hooaaaa daebaakk!!!
    aku suka jalan ceritanya thor~
    sukses bikin penasaaraaann
    ditunggu kelanjutannya ^^

    keep writing author 🙂

  8. Umma…
    Ankmu dtgg..
    Bgi permen donkk
    *plak…
    Kpn dilnjut umma..??
    Umma..
    SSAARRAANNGGHHAAEE…
    *Terek pke toa

  9. 😀 haduh!! ada Joongnya hehehe, ama YunJae ya?? jgn 2Joong 😀

    Lanjut!!

  10. Sebenarnya akyu dah komen FF ini dsana…tapi sekarang dibawa aja deh yah komen yg dsana…
    Aish..sebenernye Jaemma sm Yunppa mestinya malu yah..kalah sm anak kecil macem Dong Wook…halah2 Lord VoldeMin pake acara tepar…(*elus2 Minnie*..jangan sakit yah ganteng)…xixixi..:P

    Aku koq gregetan bngt yah baca nih FF…heiyooooo…tp penasaran deh akh..*haduh..dasar reader labil..plaaaakk*

    Makasih apdetannya yah cantik..ditunggu chappie barunya…

    • haha…ya ampun, jadi merepotkan >/<
      He eh *nods* gimana ya, kadnag klo udah dewasa kan gengsinya tinggi u,u #plak
      eh..jangan elus2, nanti ada yg marah (read: Dong wook and me) u,u

      kenapa? jangan geregetan dong Q.Q terus aku jangan dicekk ya nanti #plak

      ah makasih diblang cantik.jadi malu *blushing* #lho

  11. Hee… begitu ya, jadi begitu toh Dong Wook :3#plaak. Ternyata Dong Wook udah naksir Changmin, ne. Makanya Dong Wook mau bantu Changmin, udah kelihatan sih dari chap-chap sebelumnya, cuma nggak yakin aja kalau masih kecil bisa langsung suka. Tapi Changmin yang evil itu nggak tahu sih ya… Banyakin Se7Min-nya eonni!!
    Omo, kenapa baru ku baru kusadari sekarang. KONSPIRASI, ada konspirasi di sini!! Sepertinya semua bersekongkol ne, pada mau menyatukan YunJae lagi? tapi masih ada saingan berat nih buat appa bear…
    Aku dukung 100000% buat bersatunya YunJae!! Hidup YunJae!!!#Kibarin spanduk YunJae

    • Iya dong..kan Dong Wook emang suka dan cinta mati sama dia #eaa ya mgkn masih cinta monyet gitu2 deh kk~
      Konspirasi? O.oa siapa2? o.oa #jduar *ikutan heboh* wkwk..iya, hyun joong itu saingan terakhir..semoga #plak *ikutan kibar bendera* #lho

  12. KYAAAA!!!~~~
    itu demi apa se7en masi kecil aja unyu dan jeniuuusss!!~~~
    kkkkk~

    omoooooo….
    tapi changmin idenya gila sih .____.
    *digampar changmin

    yoshh!!!
    kayaknya emang masih ada benih2 cinta #halah

    semoga cepet nikah lagi yaa~~
    YunJae is REAAALL~~

    • kkk..iya dong, kan se7en gitu lho xD #plak
      emang..dia klo gak gila bkan changmin namanya *dijitak*

      masih dong..kan namanya yunho hanya utk jae dan jae utk yunho :p

      YUNJAE IS MORE THAN REAL XDD #plak

  13. Hmm …,
    Saya udah baca ini di ffn ^^
    Tapi baca lagi! Dan saya review lagi! XDD

    Sebenarnya saya mau bertanya tentang DongWook *pasang muka ala guru BK*
    Dia hanya setahun/dua tahun dari Changmin, kan?
    Kok rasanya udah terlalu tua ya untuk seukurannya? Apalagi dia manggil Yunho dengan Jaejoong tadi pakai embel-embel -ssi -_-
    Anak kecil yang keburu uzur -_- *buaghh!!

    Yup! eL! Ini reader ababil-mu! Sekaligus stalker-mu! kkk~~ *awas kalau sampe lupa! Banting Changmin ntar (_ _”)

    • wah makasih xD *terharu*

      iya? O.oa
      Bener2, masa sih? mungkin karena terbiasa tinggal sndiri dengan appanya, jadinya dia seperti itu deh kkk~
      Emang…dasar kurang ajar *jitak Dong Wook* *dijitak balik*

      wkwk…stalker? O.oa
      Jangan..jangan banting Changminku Q.Q

  14. Dongwok n minnie,, psangan bru nih.
    Hyunjoong kyakxa serius sma momy, n yunpa pastixa gak ska sma hyunjoong.

    Author,, sya ska ffmu!!

  15. Woah minnie trnyta mlah br2an dgn dong wook, .scra tdk lngsung yunjae msh sling mbutuhkn, knp gk blikan aj sih, udh tau msh sling mncintai, dong wook aj pny pmikiran dwasa. Aigoo ad alsan trsmbunyi kah yunpa cerain jaema??. . ,

  16. yunjae cepet balikan ne..
    kaga malu apa sma ank kecil kyk se7en..
    se7en aja yang ank kecil udh berpikiran dewasa apalgi yunjae yang udh geude kan..
    minnie kyk.y bakaln sakit tuh??

  17. Ommooooo se7en jjang *pake pom2*
    Dewasa banget, dia bisa ngimbangin minnie yang evil *smirk*

    Umma appa kenapa ga balikan ajaa, kan kalian masih saling mencintai 😥
    Appa sebenarnya apa sih alasan appa ceraiin umma!!? *hikshiks*

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s