Forbidden Fruit


Annyeong semua, mood saya kembali dengan lanjutan chapter sebelumnya karena banyak yang minta 😀 dan seperti biasa, ini NC #plak

Semoga pada suka 😉

Warn ada di bawah hehe 😀

.

.

Title: Pure Love

Couple: Se7min/Min7en Collection

Rated: K-M

Summary: Cinta itu murni, tak peduli ke mana cinta itu ditujukan.

.

.

Story

Title: Forbidden Fruit

Rated: M

Story Summary: Beast tak berani menyentuh Beauty karena merasa dirinya tak layak untuk mendapatkan seseorang semurni Beauty. Namun pada akhirnya Beauty dan Beast hidup bahagia selama-lamanya.

Warn: Shota! Min is 14-15, Dong Wook 26! Crossdress Changmin! Panggilan Oppa terhadap seme 😉

Tidak Suka? Tidak usah baca, oke? 😉

.

.

Suara kecipak kulit saling bersentuhan menggema di ruang Dong Wook. Lampu di ruangan itu tak dinyalakan semuanya karena mendapat cahaya dari sinar mentari yang menembus melalui jendela besar yang terletak di ruangan tersebut. Kita dapat melihat tubuh mungil Changmin berada di dalam pangkuan Dong Wook yang sedang duduk di kursi kerjanya. Kedua tangan kecil Changmin melingkar di leher Dong Wook. Siapapun bisa mengetahui bahwa keduanya saat ini sedang berciuman dengan tangan kekar Dong Wook melingkar di pinggang ramping Changmin untuk menopang agar namja muda itu tidak jatuh.

Lidah saling bertarung, bibir saling menempel, dan saliva saling bertautan. Jika tidak mengingat akan kebutuhan oksigen sebagai manusia, Dong Wook mungkin akan terus melahap bibir mungil yang menjadi candunya itu. ”Hyung~” desah Changmin ketika bibir Dong Wook yang bertemu dengan bibirnya tadi sekarang menempel pada leher putihnya yang terekspos karena kancing kemeja atasnya terbuka.

Mendengar panggilan itu mendadak Dong Wook menarik kepalanya mendatangkan desahan kecewa dari Changmin. Dia menatap namja mungil di pangkuannya. Wajah basah karena peluh keringat, mata setengah tertutup karena kenikmatan yang dirasakannya tadi, bibir merah ranum yang semakin memerah dan mengundang, dan tak lupa bekas gigitan di leher putih tersebut. ”Hyung?” tanya Changmin sembari membuka matanya perlahan, merasa cukup kaget karena mendadak gerakan hyung-nya itu terhenti.

Ekspresi Dong Wook datar dan tak ada emosi. Matanya terlihat sendu dan ada sesuatu yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Kedua tangan yang melingkar di pinggang Changmin, menopang tubuh mungil di pangkuannya untuk terlepas darinya sehingga namja muda itu berdiri. ”Kurasa lebih baik kau pergi Changmin,” gumam Dong Wook mendatangkan tanda tanya dari Changmin.

”Wae?” tanya Changmin yang masih berdiri di depan Dong Wook. Kepalanya sedikit dimiringkan membuatnya terlihat imut dan menggemaskan di mata Dong Wook.

”Aku akan melanjutkan pekerjaanku, kau main saja bersama GD,” jawab Dong Wook dengan nada datar tanpa ekspresi. Mengetahui bahwa tak ada gunanya bertanya lagi, Changmin mengangguk dan keluar dari ruangan Dong Wook dengan perasaan hampa.

Blam.

Ketika pintu ruangan itu tertutup, Dong Wook menghela nafas. Kedua siku tangannya berada di atas meja dan kepalanya dibenamkan di atas kedua telapak tangannya. ”Maafkan aku, Hannie, Jaejoong, Yunho,” bisiknya lirih. ”Maafkan aku.”

.

.

Forbidden Fruit

by eL-ch4n

10.04.2012

.

.

Sudah hampir satu tahun Changmin tinggal bersama dengan Dong Wook yang artinya mereka tahun ini Changmin sudah berumur 15 tahun. Selama satu tahun itu pula, dia mengetahui apa yang terjadi di masa lalunya. Tentang hubungan Dong Wook dengan kedua orang tuanya, tentang apa yang terjadi di masa lalunya. Topeng yang dikenakan Dong Wook juga sudah lama tidak digunakan oleh namja itu di rumah kecuali untuk bekerja di luar.

Dong Wook dan kedua orang tuanya berteman akrab sampai akhirnya appanya, Yunho dan Dong Wook bertengkar untuk memperebutkan ummanya, Kim –Jung – Jaejoong. Mereka bertarung secara sehat dan berjanji siapapun yang dipilih oleh Jaejoong, maka yang tidak dipilih akan mengalah dan merelakannya. Singkat cerita, Jaejoong memilih Yunho karena memang sejak dulu umma-nya mencintai appa-nya itu. Dong Wook yang bersedih hanya bisa mengucapkan selamat di hari pernikahan kedua orang tuanya terlebih ketika mengetahui saat itu Jaejoong tengah mengandung Changmin.

Melihat umur Changmin, semua pasti berpikir bahwa Jaejoong hamil muda dan itu tidak salah. Pada umur 15 tahun Jaejoong hamil dan pada saat itu juga Yunho langsung melamarnya dan mereka menikah. Kedua orang tua Jaejoong dan Yunho sempat bertengkar hebat karena hal ini, bahkan orang tua Yunho mengatakan Jaejoong sebagai pelacur yang mau memberikan tubuhnya kepada siapa saja. Kedua orang tua Jaejoong tidak terima akan hal itu tentunya dan mereka membalas dengan mengatakan bahwa Yunholah yang bersalah.

Pada akhirnya, Dong Wook campur tangan. Namja itu sejak dulu selalu memiliki karisma. Dengan tutur katanya yang sopan dan berwibawa, kedua orang tua Jaejoong dan Yunho menerima keadaan anak mereka dengan damai. Bahkan ketika Changmin lahir, namja itu mengingat bagaimana kakek dan neneknya selalu memanjakan dirinya.

Dong Wook hanya pernah bertemu sekali dengan Changmin saat namja muda itu berumur 5 tahun. Tak banyak yang diingat Changmin selain bahwa saat itu Dong Wook datang dengan seorang yeojya cantik yang terlihat di foto itu. Pantas saja yeojya itu terkesan familiar di ingatan Changmin. Dong Wook datang dan mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Hanbyul dan mengundang kedua orang tua Changmin untuk ikut. Betapa bahagianya kedua orang tua Changmin mengetahui bahwa Dong Wook akan menikah dengan Hanbyul. Mereka memastikan untuk datang namun Changmin tak diijinkan untuk mengikuti pesta pernikahan tersebut karena saat itu Changmin sedang sakit.

Singkat cerita, Dong Wook hidup hampir 7 tahun dengan Hanbyul. Pernikahan Dong Wook terlihat sempurna, sayangnya mereka tak dikaruniakan anak karena ternyata Hanbyul mandul dan memiliki masalah. Dong Wook hanya mengelus dan menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Entah kenapa dia juga merasa sedikit lega akan hal itu karena meskipun dia mencintai dan menyayangi Hanbyul, ada sesuatu yang kurang yang tak bisa dijelaskan begitu saja.

Dong Wook tahu ini salah, namun tak bisa dipungkiri bahwa dia memiliki sebuah perasaan terhadap Changmin ketika mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Melihat mata Changmin mengingatkan Dong Wook akan mata Jaejoong yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang. Dia tahu itu tidak benar terlebih usia Changmin saat itu baru 5 tahun sehingga dia mencoba menghindari untuk betemu muka dengan Changmin. Itulah sebabnya mengapa Changmin tak pernah bertemu lagi dengan Dong Wook.

Album foto Changmin yang dimiliki Dong Wook adalah album yang disimpan kedua orang tuanya. Saat Jaejoong dan Yunho meninggal karena kecelakaan pesawat bersama dengan Hanbyul, Dong Wook menyimpan semua harta peninggalan kedua sahabat dan istrinya. Ya, Jaejong dan Yunho ikut serta dalam pesawat yang ditumpang Hanbyul. Bahkan ketiganya sempat mengobrol dan membicarakan tentang masa lalu. Tak ada yang tahu bahwa itu adalah akhir bagi ketiganya –

– dan sebuah awal bagi Dong Wook.

Segala usaha dilakukan Dong Wook untuk mencari Changmin dan mengambil hak adopsi anak sahabatnya itu, tapi pengadilan tentu saja lebih mengijinkan Changmin untuk dirawat oleh saudara Jaejoong dan Yunho yang meninggalkan anak kecil itu begitu saja di panti asuhan. Saudaranya hanya mau mendapatkan harta warisan dari keduanya dan meninggalkan anak kecil itu.

Betapa bahagianya Dong Wook ketika dia menemukan Changmin di panti asuhan itu. Alasan Dong Wook memberikan sumbangan ke beberapa panti adalah dengan harapan bahwa dia bisa bertemu dengan Changmin, sekaligus untuk menebus sedikit dosanya. Harapannya terkabul terutama ketika namja muda itu menciumnya. Rasanya seperti semua dosanya dihapuskan dan hidupnya begitu lengkap, namun dia tidak bisa memungkiri perasaan bersalah dan tidak layak untuk mendapatkan Changmin. Begitu banyak pikiran berkecamuk di otaknya. Bisa saja namja itu hanya menganggap Dong Wook sebagai penyelamat. Changmin masih muda, masih banyak kesempatan bagi dirinya untuk menemukan orang lain yang setara dengannya, yang tidak memilik dosa, yang bukan seorang Beast.

Pada akhirnya, meskipun Beast bisa kembali menjadi seorang pangeran dan mendapatkan Beauty-nya, ada sebuah perasaan yang menghalanginya. Sebuah pikiran, ”Apakah aku layak memilikinya?”

.

.

”Hei, Minnie, kenapa?!” Seperti biasa, GD selalu tampil dengan atribut yang mencolok namun terlihat keren di tubuhnya. Namja berwajah manis itu menghampiri Changmin yang sedang terduduk di bangku taman dengan wajah yang sedikit murung.

Pukulan halus di pundak Changmin menyadarkan namja itu dari lamunannya. Dia memutar kepalanya dan mendapati GD seperti biasa tersenyum lebar ke arahnya. ”Heyo! Hari sedang cerah, mukamu jangan seperti itu dong!” seru GD dengan cengiran khasnya.

Changmin hanya menyunggingkan sebuah senyuman simpul yang dipaksakan. ”Annyeong, hyung,” sapanya dengan lemas. Merasa ada yang aneh dengan namja muda itu, GD memutuskan untuk duduk di sampingnya dan menunggu sampai namja itu siap berbicara. ”Hyung,” panggil Changmin.

”Hmm?”

”Apakah Wookie-hyung masih mencintai Hanbyul-noona?” tanya Changmin dengan suara pelan namun cukup keras untuk ditangkap gendang telinga GD.

Mendengar pertanyaan itu, GD menatap ke arah langit. Dia menutup matanya sejenak sebelum membuka suaranya, ”Tidak, dia tidak pernah mencintai Hanbyul,” jawab GD dengan tegas membuat Changmin sedikit terkejut dengan jawaban dari sang produser. ”Selama hidupnya yang kutahu, dia hanya mencintai Jaejoong, ummamu,” ujarnya dengan lembut sembari memutar kepalanya untuk mendapat Changmin sedang melihatnya dengan doe eyes seperti umma-namja itu. ”Tapi itu dulu, dan yang kutahu perasaannya kepada Hanbyul tak lebih dari seorang sahabat atau dari oppa terhadap dongsaengnya. Kau tahu kan bahwa Hanbyul mandul?” Changmin mengangguk. ”Sebenarnya hidup Hanbyul juga tak lama lagi. Itulah salah satu alasan Dong Wook menerima Hanbyul di hidupnya. Tapi, siapa yang menduga? Karena hidup bersama dengan orang yang dicintainya, umur Hanbyul bertahan lebih lama dari perkiraan. Dong Wook juga senang akan hal itu. Akhirnya, dia tidak merasa kesepian karena akan ada yang menemaninya.”

”Bukankah ada hyung dan TOP-hyung?” tanya Changmin dengan polosnya membuat namja itu terlihat begitu menggemaskan.

GD terkekeh pelan. ”Iya, tapi dia membutuhkan seseorang untuk di sampingnya, seseorang yang akan selalu menjaganya. Aku dan TOP tak akan bisa menjadi orang itu karena kami bukanlah orangnya. Hanbyul tahu bahwa Dong Wook tak mencintainya, namun dia sudah cukup puas dengan semua perhatian yang diberikan Dong Wook kepadanya. Sebenarnya aku tahu ini salah.” GD menggigit bibir bawahnya sembari mengalihkan perhatiannya pada langit yang begitu cerah. ”Tapi, aku merasa cukup senang ketika Hanbyul meninggal karena Dong Wook tidak lagi terikat oleh yeojya itu. Dia sekarang bebas.”

”Tapi apa yang menahannya?” seru Changmin. Seketika namja itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika sadar bahwa dia mengucapkan itu dengan suara lantang.

GD kembali tertawa pelan. ”Kau tidak perlu malu, aku tahu bahwa dia menciummu. Bekas gigitan itu,” tunjuknya pada bekas gigitan merah di leher Changmin yang seketika itu ditutup Changmin oleh tangannya. ”Diberikan olehnya kan? Meskipun kau katakan itu adalah gigitan serangga, aku tahu bahwa kau dan dia saling berhubungan, Minnie, dan aku tidak keberatan. Aku rasa Hanbyul juga. Dia pasti berharap Dong Wook bisa menemukan seseorang untuk dirinya.”

Suasanya kembali hening sampai akhirnya GD kembali berbicara, ”Kau tahu? Beberapa fotomu yang ada di atas sebenarnya diambil oleh Hanbyul. Dia yang memberikan itu kepada Dong Wook. Dia tahu bahwa sebenarnya Dong Wook memiliki perasaan terhadap dirimu. Yeojya itu bukan hanya cantik dan baik, tapi juga memiliki feeling yang kuat. Satu ucapannya sebelum berpisah denganku di pesawat itu.”

”Aku akan melepaskannya, GD, aku tahu selama ini karena diriku dia tidak bisa terbang, terikat olehku dengan yang namanya tanggung jawab. Setelah ini, aku akan mengakhirinya.”

”Siapa yang menduga kalau hal itu benar menjadi hal terakhir yang dilakukannya?” Tangan GD menepuk pundak Changmin pelan. ”Hei, itu adalah masa lalu. Jangan terlalu terkurung pada apa yang telah terjadi. Tataplah apa yang ada di hadapanmu. Mungkin dia hanya takut kalau seandainya kau tidak akan mencintainya. Dia takut kalau kau hanya melihatnya sebagai sosok seorang hyung yang sempurna.”

Benarkah apa yang dikatakan oleh GD? Apakah dia hanya melihat Dong Wook sebagai seorang hyung dan tak lebih? Tapi, kalau memang dia hanya melihat Dong Wook sebagai seorang hyung, kenapa dia merasa berdebar kala mata mereka saling bertemu? Kenapa dia tak pernah puas dengan setiap sentuhan yang diberikan Dong Wook terhadapnya? Kenapa dia selalu terhanyut oleh suara lembut Dong Wook? Dan kenapa dia tidak suka ketika Dong Wook terlihat akrab dengan siapapun? Dia masih mengingat betapa dia membenci Tiffany-noona yang dulu dia sayangi ketika yeojya itu memeluk Dong Wook sebagai ucapan terima kasih. Rasa-rasanya dia tidak pernah mengalami perasaan itu sebelumnya.

”Bagaimana kau tahu kau mencintainya, hyung?” tanya Changmin setelah berpikir cukup lama.

GD menatapnya dengan lembut. ”Entahlah, banyak bentuk cinta, tapi aku tahu satu hal. Ketika aku mencintai TOP, aku tahu bahwa aku hanya ingin menghabiskan seumur hidupku dengan dirinya. Apakah kau berpikir hal itu dengan Dong Wook?”

Deg.

Tepat, itulah yang dia pikirkan ketika dia melihat Dong Wook. Dia merasa bahwa inilah orang yang dia harapkan untuk menghabiskan waktu bersama. ”Sepertinya aku benar, eh?” jawab GD dengan nada menggoda. ”Kalau begitu, mau melakukan sesuatu untuk Wookie-mu?” goda GD. Kedua pipi Changmin bersemu merah sebelum mengangguk dan mengikuti GD.

Beauty akan melakukan apa saja untuk meyakinkan Beast bahwa tak ada yang salah, bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang nyata dan benar.

.

.

Hari ini begitu melelahkan bagi Dong Wook ketika dia berjalan mengitari lorong panjang untuk menuju ke kamar tidurnya. Dia baru saja mengikuti rapat pemegang saham yang sepertinya hanya berujung pada pertengkaran tak berarti. Terlebih lagi sepanjang rapat, yang ada di pikirannya adalah sosok namja mungil yang memiliki mata bening indah, pipi tembem, dan wajah yang begitu menggemaskan. Kembali dia teringat akan kejadian pagi tadi. Itu bukan kali pertama mereka berciuman, bukan pula kali pertama Dong Wook hampir melangkahi batas, namun itu menjadi kali pertama Dong Wook memutuskan bahwa ini harus diakhiri. Hal terlarang ini tak boleh dilanjutkan lagi betapapun menggiurkannya buah terlarang yang ada di –

– depannya.

Kedua mata Dong Wook membesar ketika dia membuka pintu kamarnya. Katakan dia salah melihat, katakan saat ini pandangannya sedang kabur. Apakah yang sedang duduk di tempat tidurnya adalah Changmin yang berpakaian yeojya? Oh Tuhan, sepertinya memang dia hanya sedang bermimpi. Tidak mungkin bukan kalau Changmin memakai dress putih yang panjangnya di atas lutut sedikit memperlihatkan kakinya yang putih dan mulus? Terlebih lagi dengan wig panjang yang dikenakannya sekarang.

Oke, jadi ceritanya Changmin sedang duduk di ujung tempat tidur berpakaian dress putih polos yang membentuk lekuk tubuhnya yang ramping. Spaghetti line dari dress-nya memperlihatkan kedua lengan Changmin yang kecil dan tak lupa lehernya terekspos begitu indahnya di depan mata Dong Wook. Bibir Changmin sendiri terlihat lebih merah, sepertinya GD memolesi bibir itu dengan lipstik merah.

Gulp.

Dong Wook menelan ludah ketika dia melihat Changmin yang menatapnya dengan tatapan polos. Kedua pipi namja mungil itu bersemu merah ketika dia menyadari Dong Wook memperhatikannya dari atas sampai ke bawah. Changmin menggigit bibirnya pelan dan mengeluarkan suaranya yang masih belum berubah itu. ”Kau sudah pulang, urrmm, oppa?”

Untung saja Dong Wook memiliki daya pengendalian diri yang tinggi, kalau tidak bisa saja saat ini dia sudah berada di atas tubuh mungil Changmin dan menjelajahi tubuh Changmin yang sangat mengundang dirinya saat ini. Bayangkan saja, dress yang dikenakan Changmin memang menutupi bagian intim namja mungil itu, tapi terlihat begitu menggoda dan mengundang Dong Wook.

”Apa yang sedang kau lakukan, Minku?” tanya Dong Wook dengan suaranya yang tegas membuat tubuh Changmin sedikit gemetar karena takut. Changmin tak menjawab, melainkan hanya memalingkan kepalanya. ”Keluar,” ujar Dong Wook.

”Eh?” Kepala Changmin terangkat dan dia dapat melihat ekspresi Dong Wook yang mengeras.

”Aku bilang keluar!” Kali ini Dong Wook memerintah dengan suara yang lebih tegas membuat Changmin tersentak kaget.

Namja muda itu berdiri dan berjalan ke arah Dong Wook dengan perlahan. Tiap langkah yang diambil Changmin membuat namja muda itu semakin gemetar. Ketika dia berhenti tepat di depan Dong Wook, keduanya saling bertatapan. Untuk pertama kalinya, Changmin mengambil inisiatif untuk menempelkan bibirnya dengan Dong Wook. Sedikit susah memang, mengingat tinggi badan mereka yang berbeda. Changmin harus sedikit berjinjit dan itupun hanya bisa untuk menempelkan bibirnya sekilas.

Tak ada perubahan ekspresi di wajah Dong Wook  membuat hati Changmin terluka. Dia mengangguk dengan pelan sembari menahan agar air matanya tidak keluar. ”Arasso,” bisiknya pelan. Dia merasa konyol mengikuti saran GD untuk menggunakan dress Hanbyul dan memakai wig. Pada akhirnya, Dong Wook memang tak pernah menganggapnya lebih dari anak sahabatnya. ”Saranghae,”  bisiknya perlahan sebelum membuka pintu itu.

Brak.

Sebuah tangan kekar menahan pintu yang hendak dibuka Changmin. Dapat dirasakannya hembusan nafas Dong Wook di samping telinganya membuat tubuhnya gemetar hebat. ”Kau tahu apa yang kau lakukan, Minku?” bisiknya sembari menciumi leher Changmin yang terekspos. ”Kau tahu apa yang kau katakan tadi? Apakah kau yakin?” Changmin mengangguk setelah terdiam cukup lama.

Anggukan itu cukup membuat sesuatu dalam Dong Wook terbangun. Dia memutar tubuh mungil Changmin sehingga sekarang keduanya saling bertatapan. ”Kau tahu bahwa setelah ini kita tidak bisa kembali?”

”Aku tahu ini dan aku sungguh-sungguh mencintaimu, hyung. Aku ingin menghabiskan hidupku seterusnya bersamamu,” gumam Changmin sembari menundukkan kepalanya.

Tangan Dong Wook mengangkat kepala Changmin dengan perlahan. ”Kau tahu bahwa aku sangat posesif? Bahkan jika setelah ini kau meminta untuk berhenti atau kau memintaku untuk merelakanmu, aku tak akan melepaskanmu, apa kau siap?”

Tatapan Dong Wook begitu tajam seolah menembus apa yang ada di balik Changmin dan itu membuat namja mungil itu sedikit merinding. Dia mengangguk dengan perlahan. ”Ne…oppa.”

Dan hal berikutnya yang Changmin tahu adalah bibir Dong Wook yang melumat bibirnya yang mungil. Kedua tangannya terlingkar di leher Dong Wook dengan kedua tangan Dong Wook mengangkat tubuh mungilnya dalam dekapan hangat namja tegar itu. Tangan Dong Wook membantu Changmin agar melingkarkan kedua pahanya di pinggang kekar Dong Wook. Dia dapat merasakan miliknya yang dihalangi oleh dress dan celana dalam bergesekkan dengan milik Dong Wook. Hal ini mengeluarkan desahan di sela-sela ciumannya, ”Ahh~”

Bibir Dong Wook kali ini bergerak ke arah lehernya dan memberikan gigitan-gigitan kecil, menambah tanda merah yang ada di lehernya tadi pagi. Tubuh Changmin sekarang sudah dihempaskan di atas ranjang yang empuk dengan bibir Dong Wook masih setia di lehernya. Kedua tangan Changmin mengacak-acak rambut Dong Wook.

Tangan Dong Wook sendiri sudah menyelinap masuk ke dalam dress Changmin dan meraba perut datar namja itu. Ketika dia menemukan kedua tonjolan di dada Changmin di dalam sesuatu, dengan perlahan dia menggesekkan ibu jarinya ke atas tonjolan tersebut dan kembali mendatangkan desahan dari Changmin. ”Ohh~ Ahhh~”

”Panggil aku dengan oppa lagi, Minku,” bisik Dong Wook di sela-sela eksplorasinya terhadap leher Changmin oleh bibirnya.

”Nggh…oppa…

Panggilan itu membuat celana jeans Dong Wook semakin sempat. Tak sabar lagi, Dong Wook segera melepaskan kemejanya dan melemparkannya entah ke mana.

Srag.

Dress putih yang dikenakan Changmin segera disobek paksa oleh Dong Wook. Dia bisa menyuruh orang untuk menjahitnya lagi, yang penting sekarang adalah buah terlarang yang ada di bawahnya.

Gulp.

Dia meneguk ludah melihat tubuh Changmin yang sedang memakai pakaian dalam yeojya. Sebuah bra merah maroon yang kontras dengan kulit putihnya dipadu celana dalam berwarna sama. ”Look what w have here~” goda Dong Wook diiringi dengan siulan nakal.

Changmin merasa malu. Kedua tangannya terangkat dan menutupi wajahnya. Hal ini tentu saja mendatangkan perhatian Dong Wook. Dengan lembut dia membuka kedua tangan Changmin sehingga dia bisa melihat Changmin yang menutup matanya karena tak ingin menatap Dong Wook. ”Minku,” bisik Dong Wook pelan.

”Jangan lihat aku, hiks,” isak Changmin. Dia memang sudah mempersiapkan dirinya dengan segala konsekuensi yang ada, tapi entah kenapa dia merasa takut jika Dong Wook akan jijik melihat dirinya. Senyuman lembut terukir di wajah Dong Wook. Dia menundukkan kepalanya perlahan sembari kedua tangannya masih menggenggam erat tangan Changmin. ”Lihat aku, Minku,” bisik Dong Wook.

Namun, Changmin semakin menutup matanya erat-erat dan menggelengkan kepalanya. ”Lihat aku,” bisik Dong Wook sekali lagi. Merasa tak ada hasilnya, Dong Wook mengecup kening Changmin dengan perlahan dan cukup lama. Dia berbisik, ”Aku tak pernah melihat sesuatu seindah dirimu, Changmin.”

Pernyataan itu membuat Changmin membuka matanya perlahan dan dia bisa melihat ekspresi lembut Dong Wook di depannya. ”Saranghae, Minku, my Minku,” gumam Dong Wook sebelum mengecup bibir Changmin dengan lembut. Bermula dari ciuman pelan hingga berlanjut kepada ciuman yang lebih dalam. Genggaman Dong Wook terhadap tangan Changmin mengendur dan namja muda itu kembali melingkarkan tangannya pada leher Dong Wook. Tangan kanan Dong Wook menyelinap ke belakang punggung Changmin dan melepas bra yang dikenakan Changmin. Tangan kirinya sendiri mulai menurunkan celana dalam Changmin dengan perlahan.

Ketika bra itu terlepas, Dong Wook segera melemparnya menyusul kemejanya yang ada di lantai. Bibir Dong Wook segera menjilati nipple Changmin dengan brutal dan penuh nafsu. ”Urnghh…ahhh…oppa…” Mendengar desahan Changmin membuat Dong Wook semakin gencar melakukan aksinya. Tangan kanannya memilin nipple yang satu sementara lidahnya masih setia mencicip tonjolan pink di hadapannya. Tangan kirinya memainkan twinsball Changmin dan menghindari kejantanan Changmin yang sudah mulai menegang.

”Oppa~”

Bibir Dong Wook berjalan perlahan ke bawah menyusul tangan kirinya. Dia menatap milik Changmin yang terlihat lebih kecil daripada miliknya dan tersenyum lembut. Kecupan singkat diberikannya pada kejantanan Changmin sebelum memasukkan semuanya ke dalam mulutnya. Kedua tangannya sendiri sibuk memainkan twinsball Changmin. ”Ohh, oppa~ oppa~” Changmin meracau ketika sesuatu yang hangat menyelimuti kejantanannya. Rasanya begitu nikmat terutama ketika lidah Dong Wook menjilati miliknya dengan lihai. Gesekan antara bibir Dong Wook dengan miliknya menambahkan rangsangan di dalam tubuhnya.

”Oppa, please, please~”

Please (kulum) apa Minku? (kulum)”

Faster…ohh…faster oppa…

Dan sesuai permintaan Changmin, Dong Wook mempercepat kulumannya. Dia bisa merasakan bahwa sebentar lagi Changmin akan mencapai orgasmenya dan dia langsung menghentikan kulumannya. ”Urnghh~” Changmin mendesah kecewa namun kemudian diiringi dengan teriakan nyaring. ”OPPA!!”

Tanpa persiapan, tanpa aba-aba Dong Wook menembus hole mungil Changmin. Air mata mengalir keluar dari namja yang ada di bawahnya. Merasa bersalah Dong Wook menghapus air mata itu dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mengocok milik Changmin dengan perlahan namun ibu jarinya menutup jalan keluar Changmin. ”Oppa~ ohh…”

”Mian, tapi aku ingin menjadi yang pertama memasukimu,” gumam Dong Wook pelan. Matanya terlihat sendu melihat ekspresi kesakitan di wajah Changmin. Melihat ekspresi itu, Changmin mengangguk perlahan dan menggelengkan kepalanya. ”Gwenchana, aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit, teruskan saja…oppa~”

Dong Wook tahu itu bohong karena dia bisa merasakan ekspresi kesakitan Changmin yang menyayat hatinya. ”Pusatkan perhatianmu pada tanganku, Minku.” Changmin mengangguk sembari menutup matanya dan memfokuskan dirinya terhadap apa yang dilakukan tangan Dong Wook.

Tangan kanan Dong Wook mengocok milik Changmin lebih cepat dan tangan kirinya menahan paha Changmin yang melingkar di pinggang kekarnya agar mempermudah dia untuk melakukan gerakannya. Dia terdiam sebentar sampai merasa bahwa tubuh Changmin mulai rileks. Perlahan dia mulai melakukan gerakan in dan out terhadap dinding rektum Changmin yang sempit.

Tak bisa dilukiskan betapa hangat dan nikmatnya dinding Changmin yang menyelimuti miliknya. Dia bisa merasakan dirinya berdenyut di dalam dinding hangat Changmin. Tapi, dia tahu bahwa dia harus bergerak cepat untuk menemukan titik kenikmata Changmin agar namja yang ada di bawahnya tidak merasakan sakit lagi. ”Ohhh~ Oppa!”

Akhirnya dia menemukan titik prostat Changmin dan dengan gencarnya menyerang titik itu berkali-kali. Tangan kanannya sekarang sudah menyusul tangan kirinya menggenggam erat kedua paha Changmin agar dia bisa memasukkan dan mengeluarkan miliknya dari dinding Changmin dengan mudah. Hal itu juga untuk menahan tubuh Changmin yang lebih kecil dariinya tidak terhempas ke nightstand ranjang dan membenturnya. ”Cum…cumming…oppa! Oppa!”

Splurt.

Cairan putih akhirnya muncrat keluar dari kejantanan Changmin, menyembur ke perutnya yang polos tak terbalut apapun. Beberapa mencapai ke dadanya yang terekspos. Tangan Changmin mengambil cairan putih tersebut dan menghisap jari-jarinya yang teroleskan cairan putih itu membuat Dong Wook yang melihatnya semakin liar menyerang dinding Changmin. ”Ohh…ahhh~” desah Changmin kembali ketika milik Dong Wook semakin terasa membesar membuat dindingnya menyempit dan bisa merasakan milik Dong Wook yang berdenyut di dalamnya.

”Urgh…ahhh~” keluar dari bibir Dong Wook ketika akhirnya tak lama dia mencapai orgasmenya dan mengeluarkan semua cairan putih di dalam dinding Changmin. Beberapa merembes keluar dari hole mungil namja muda itu.

Keduanya mengatur nafas. Dong Wook mengeluarkan miliknya yang disertai dengan cairannya yang mengalir keluar dari hole namja itu. Dia menjilati cum-nya sendiri yang ada di dalam hole Changmin membuat desahan kembali keluar dari diri Changmin. Setelah merasa cukup bersih, badannya diangkat hingga dadanya bergesekkan dengan dada polos Changmin. Bibirnya melumat bibir Changmin yang masih mencoba mengatur nafas. ”Sepertinya kita harus terus melakukannya sampai kau hamil,” bisik Dong Wook di telinga Changmin yang mendatangkan semburat merah di kedua pipi Changmin membuatnya terlihat begitu menggemaskan.

.

.

Kali ini, Dong Wook yang bersandar di sandaran ranjangnya. Kepalanya sedikit terangkat ke atas, bibirnya sedikit terbuka karena apa yang sedang dilakukan oleh Changmin saat ini. Dia melirik pipi Changmin yang semakin menggembung karena miliknya dilahap oleh mulut mungil itu. Kejantanan Dong Wook yang tidak sanggup dikulum Changmin disentuh oleh kedua tangan mungil itu. Kepala Changmin naik turun untuk melakukan blow job pada milik Dong Wook. Oh, betapa apa yang dilakukan namja mungil itu membuat Dong Wook bisa kehilangan kendali.

”Urmm~”

”Ohh…so good, Minku, so good.”

Dalam hati Changmin ada perasaan sedikit bangga bisa membuat Dong Wook merasa nikmat dan membuat namja itu kehilangan kendali. Dia semakin gencar melakukan aksinya. Memaju-mundurkan kepalanya dan mengulum milik Dong Wook yang besar dengan mulutnya.

Splurt.

Tak berapa lama Dong Wook melepaskan orgasmenya yang kedua? Ketiga? Entahlah, sudah tidak ada yang menghitungnya. Cairan putih membasahi wajah Changmin dan kedua tangannya. Dia menjilati cairan putih yang berada di dekat bibirnya sementara tangannya mengelap beberapa yang ada di bagian atas wajahnya. Jari-jarinya dijilat dan diemut seperti seorang anak baik untuk merasakan cum Dong Wook. Namja yang lebih tua itu terkekeh dan mengangkat tubuh mungil Changmin ke dalam pangkuannya.

Changmin duduk dengan kedua pantatnya berada tepat di depan milik Dong Wook. ”Ahh~” desahnya pelan.

Dong Wook terkekeh pelan dan kemudian menjilati cairan putih yang ada di sekujur wajah Changmin. ”Hmm~ you taste delicious, Minku,” bisiknya.

”Mmm.”

Ride me,” bisik Dong Wook di telinga Changmin membuat tubuh namja mungil itu bergetar hebat. Dia mengangguk pelan. Kedua tangan mungilnya berada di dada Dong Wook untuk menopang tubuhnya. Dia mengangkat bagian bawah tubuhnya dan dalam satu hentakan dia memasukkan kejantanan Dong Wook yang besar ke dalam dindingnya sekali lagi. ”Ngghh~” Changmin mengerang namun kali ini tidak sesakit yang pertama. Dong Wook menunggu sampai namja mungil itu siap sembari memberikan kecupan dan gigitan kecil terhadap leher Changmin. Wig yang dikenakan Changmin tadi sudah terlempar ke mana.

”Ohh…oppa…oppa!” teriak Changmin ketika lidah Dong Wook bermain-main dengan kedua tonjolan di dadanya.

Dengan tenaga yang tersisa dia menaik-turunkan tubuhnya sekaligus mencari titik prostatnya sendiri. Tak berapa lama akhirnya dia menemukan titik tersebut dan seketika itu juga dia orgasme. Cairan putih muncrat ke dada bidang Dong Wook. ”Lick it,” ujar Dong Wook dengan tegas. Changmin menghentikan gerakannya dan menundukkan badannya sedikit untuk menjilati cairan putih yang ada di dada bidang Dong Wook.

Slurp. Slurp.

Suara lidah Changmin yang menjilati cairan putih di dada Dong Wook terdengar bagai untaian melodi indah yang menggema di telinga Dong Wook. Sebuah ide terlintas di dalam benak dong Wook. Dia memasukkan satu jari dari kedua tangannya ke dalam dinding Changmin yang sudah berisi miliknya membuat dia bisa merasakan kejantanannya yang berdenyut dalam dinding hangat Changmin. ”ARGH!” Changmin kembali mengerang kesakitan dan menghentikan gerakannya ketika merasa ada yang memasuki dirinya.

Ride me,” bisik Dong Wook. Changmin menurutinya. Dia menarik nafas terlebih dahulu sebelum menaikkan tubuhnya dan kembali menenggelamkan milik Dong Wook ke dalam dindingnya bersama dengan kedua jari Dong Wook. Sekarang Dong Wook menambahkan jarinya sehingga ada total empat jari dengan kejantanan Dong Wook yang ada di dalam hole Changmin. ”Faster, Minku, faster,” perintah Dong Wook dengan nada mendesis. Tubuhnya sendiri sudah melengkung karena nikmat. Miliknya yang berada dalam dekapan hangat hole Changmin dan bergesekan dengan dinding tersebut bersama dengan keempat jarinya membuat dia merasa begitu nikmat.

Changmin memasukkan milik Dong Wook pada sudut yang sama sehingga kejantanan Dong Wook menyentuh titik prostatnya. ”Cumm…cumming! Oppa! Oppa!”

”Ahh…Minku…oh yes…Minku! Minku!”

Splurt.

Keduanya mencapai orgasme di saat yang bersamaan. Changmin segera terjatuh pada dekapan Dong Wook. Kepalanya bersandar di pundak Dong Wook yang sudah mengeluarkan kedua tangannya dari dinding Changmin. Sebuah senyuman lembut terukir di wjaah Dong Wook melihat ekspresi damai Changmin yang sudah menutup matanya karena kelelahan. Kedua tangannya membelai punggung polos Changmin dengan lembut.

Dengan hati-hati, dia membaringkan tubuh mungil Changmin di sampingnya. Karena masih ingin merasakan kehangatan dinding Changmin, dia membiarkan miliknya mendekam di dalam hole Changmin yang sempit dan hangat. Sebelum memejamkan matanya untuk menyusul Changmin, dia mengecup kening Changmin dengan lembut. ”Saranghae Minku,” bisiknya sembari menyelimuti mereka berdua.

.

.

”Aish, aku tidak bisa tidur!”

”Kenapa?”

”Kau tidak merasa terganggu dengan mereka? Cih, kenapa mereka berisik sekali!”

”Bukankah kau yang mendukung mereka?”

”Iya, tapi tidak begini! Aku kan jadi tidak bisa tidur!”

”Wae?”

”Itu…aku…”

”Arasso.”

”Eh?”

”Ayo kita juga lakukan apa yang mereka lakukan, Jiyong-ah. Aku juga sudah tidak tahan.”

”Seungie~ ahhh~”

”Panggil aku oppa, ne?”

”Ohh..ahhh~ ne, oppa~”

.

Pada akhirnya Beauty dan Beast hidup bahagia selama-lamanya.

.

The End

.

.

A/N:

Sejujurnya saya paling suka chapter kemarin, entah kenapa rasanya hanyut sendiri pas baca apalagi pas bagian Se7en nyelamatin Changmin trus kissu lehernya..gyaa XDDD *curcol* Semoga chingudeul juga suka ^^V

Oke deh, ciao 😉

_Verzeihen

 

Advertisements

27 responses to “Forbidden Fruit

  1. gyaaaaaaaa cptnya publish sekuel ini. Hm pervy dong wook as always, innocent min xD
    Yg ga bisa ngebayangin adlh saat changmin pake baju yeoja+atribut wig segala macem, dr td usaha ngebayangin, eh yg muncul wajah unyu changmin di mv hug :3
    Sampai ngebayangi berondong min, yg baru abg, diyadongin se7en + 4jari pula, hmmmm ntah changmin merasa seperti di surga atw di neraka, kkk~
    Ngakak wktu changmin manggil se7en oppa *lol ditambah GD ikutan pula pake oppa-oppa segala, sukses senyum2 sendirian deh tengah mlm 😀

    • hehehe..sebenarnya kan udah prnah dipublsih jadi ya begitulah XD

      he eh..emang changmin di hug unyu banget, sumpah XDDD
      aduh..bang se7en aku ngiri sama kakmu u.u #jduar
      hahaha..hayo2 nanti disangka org aneh senyum2 sendirian tengah mlam :p

  2. eonni cepet publish sequelnya 😀

    astaga aku hampir mati keabisan darah gegara baca ncnya
    changminie gimana keadaan hole mu?? 😉 khukhukhu

    oke eonn ini harus ada sequelnya, ditunggu loh!!!

  3. wweeww…
    Haiii.. aku reader baruu~~~ hoho..

    oowwhh…ini lanjutannya yang changmin n d’beast yya~~~

    masiih ada lanjutan ato.sequelnya lagi gakk.. mau lanjutannya doongg..haha..

  4. happily ever after.. Abis bc couple ini ko jd suka kalo minku jd uke ya? Pdhl dulu suka kalo dia jd seme.. Dsini smuany pas bgt.. Ncny jg wah deh ga bs di ungkapkan dgn kata2..

  5. uaaa… *mimisan*
    KYAAAA, changmin kau itu unyu banget sih ^^
    Trus changmin ama GD manggil oppa, sumpah kocak bgt
    Hahaha akhirnya ff ini d repulish, ff lainya di publish ulang lgi dong eon.

  6. omoooooona
    Minnie kau kau *berbusa*
    ya ampun kamu nappeun yah kekeke
    tapi dengan nappeun ke gini si Domng Wook malah demen ahai
    tapi tadi NC ny emang bener2 hotttttt deh
    ampe merinding aku nya

    aku enggak ngebayangin deh
    Minnie yang lagi ngedesah sambil manggil oppa >.< *pervy*
    wah bikin lagi yang hot
    aku jadi suka ama Se7Min atau MinSe7en kekeke

    • *ambil busa buat cuci kamar #eh
      Hoho tapi kren kan? :3 #plak
      Kok merinding? Ada setannya? #eh
      Hehe…Oppa Oppa, so sweet >w<
      Asyik, ada yg suka se7min lagi XDDD

  7. el chan ceritanya unik… ^^ klo ni ff nggak ada nc-an nya pasti jadi cerita cinta yg mengharu biru….. tapi aku suka jg nc-nya kok *nah loh* Nc se7min tu selalu hot… Jadi ingat yunjae couple yg jg hot…. Keep writing se7min ^^

  8. hueeww… sumveh eonni….
    so hawt… so kewl… making in lovee… *kebut kebut*
    ini emang abang sepen punya kecenderungan sadist di panpic eonni eoh??
    n chang maso?? ‘_’)a

    tapi overall ga papa.. zhe suka….
    itu chiri fanfic.ny eonni eL :)))

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s