My Crush is a Gay?


Title: My Crush is a Gay?

Cast:

Main Cast:

– Sandara Park (YG Entertainment) as Dara

– Lee Minho (Starhaus Entertainment) as Lee Minho

– Park Sanghyun (J.Tune Camp) as Thunder/Sanghyun (Dara’s brother)

O.Cast:

– Park Bom (YG Entertainment)  as Bom

– Bang Cheol Yong (J.Tune Camp) as Mir

– Jang Wooyoung (JYP Entertainment) as Wooyoung

Genre: Romance/General/Drama

Length: Oneshot

Author Notes:

Ah, pertama kali mencoba genre seperti ini. Kkk. Semoga dapat feelnya :3

Diharapkan setelah membaca ini, kita jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui apa yang terjadi. Nanti jadi kayak Dara lagi yang salah paham sama adiknya sendiri. Kkk XD

Lalu, author juga ingin kita sedikit seperti Dara yang tetap menerima adiknya meskipun jika ternyata adiknya gay dan tetap mendoakan yang terbaik buat adiknya. Jangan pernah menghakimi seseorang jika tak mau dihakimi :3

Terakhir, selamat membaca. Semoga suka ^^

Luph,

eL-ch4n

SummarySandara mencintai Lee Minho, tetapi bagaimana kalau dia menduga bahwa Minho itu GAY dan sedang berpacaran dengan adiknya?

.

.

”Heiyo! Kamu lihat apa?”

Orang yang dipanggil terkejut. Dia yang tadi sedang meletakkan kepalanya di atas meja melihat ke arah luar, tersentak dan menatap ke arah orang yang memanggilnya tadi. Melihat siapa yang mengejutkannya, dia menghela nafas panjang. ”Bom, jangan mengagetkanku dong!” serunya.

Yeojya yang dipanggil Bom tadi terkekeh pelan dan kemudian duduk di kursi yang terletak di depan dongsaeng-nya. ”Kenapa Dara? Memangnya kau begitu terpesonanya dengan objek pengamatanmu sampai tak sadar kalau aku sudah memanggilmu berkali-kali.”

Pipi Dara bersemu merah mendatangkan kekehan dari yeojya yang menggodanya itu. ”Bom!” serunya.

”Kenapa tidak kau coba hampiri saja? Siapa tahu dia juga tertarik denganmu?” tanya Bom dengan lembut.

Dara menggelengkan kepalanya dan kemudian menatap objeknya yang merupakan seorang namja tampan yang tengah bermain basket di tengah lapangan. Namja dengan rambut sedikit cepak dan berwajah oriental. ”Tidak, Bom.”

”Lho? Kau kan belum mencoba.”

Kali ini Dara tersenyum melihat ke arah yeojya yang lebih tua yang ada di hadapannya. ”Karena, Bom, dia menyukai adikku.”

”Adikmu? Tapi adikmu kan –”

”Iya, dia menyukai Thunder dan iya, dia itu gay.”

.

.

”My Crush is a Gay?”

My Crush is a Gay?

My Crush is a Gay?

by eL-ch4n

15.09.2012

.

.

Dara tidak tahu dia durhaka terhadap siapa saat tahu dirinya mencintai seseorang yang tak dapat membalasnya. Terlebih lagi namjayang dia cintai memilih adiknya yang notabenenya juga sesama namja. Ada sedikit rasa sedih, kecewa, dan juga mungkin lega mengetahui bahwa objek cintanya lebih memilih sesama jenis daripada yeojya lain. Andai kata namja itu mencintai yeojya, mungkin Dara akan terus membanding-bandingkan dirinya dengan yeojya yang terpilih dan merasa tidak percaya diri. Akan tetapi, karena pilihan sang namja adalah juga namja, yah, Dara tak bisa melakukan apapun.

Bukannya Dara jelek, tidak, malah dia dapat dikatakan sebagai salah satu dari begitu banyak yeojya yang menjadi incaran di kampusnya. Bayangkan saja, wajahnya yang putih dan mulus seperti bayi, bentuk tubuhnya yang ramping pada bagian yang pas, dan tentu saja tak lupa rambut panjangnya yang terlihat berkilau terkena pantulan cahaya matahari. Singkat cerita, Dara adalah yeojya yang cantik, meskipun usianya terlihat lebih tua dari wajahnya. Oke, abaikan yang terakhir.

Saat ini, Dara sedang memegang buku pelajarannya dan bersiap-siap untuk menuju ruang kelasnya yang berikutnya. Bom adalah salah seorang sahabatnya yang tahu akan perasaannya terhadap Lee Minho, seorang namja jurusan hukum yang satu angkatan dengan adiknya, yang berarti namja itu lebih muda darinya. Mereka bertemu saat Thunder, julukan untuk adik Dara, mengajak Minho ke rumah untuk mengerjakan tugas dan membahas mengenai kasus apapun yang tidak Dara mengerti. Ya, karena Dara mengambil jurusan desain yang tak ada hubungannya sama sekali dengan hukum.

Brug.

Karena pikirannya terbang entah ke mana, Dara tidak memperhatikan jalannya dan menabrak seseorang hingga jatuh terduduk di atas lantai. Bukunya beterbangan entah ke mana. Untung saja bukunya tidak menimpa dirinya. Bayangkan saja dua buku yang terdapat 1000halaman menimpamu, pasti sakit rasanya. ”Mianhae,” ujar Dara.

Aninoona, aku yang salah, mianhae.” Tubuh Dara kaku seketika. Suara yang dia dengar tidak asing di telinganya. Benar apa kata orang, lebih baik jangan memikirkan seseorang begitu lama atau dia akan tiba-tiba muncul di hadapanmu. ”Noona, gwenchana?”

Dara masih tak bisa bicara, terlalu gugup untuk mengeluarkan suara sehingga dia hanya bisa mengangguk dan menerima uluran tangan dari Minho. Namja muda itu juga membantu mengambil 2 buku Dara yang terdapat di sampingnya. ”Ini, mianhae ya noona,” ujar Minho dengan lembut sekali lagi.

”Ah, aku yang harusnya minta maaf karena tak memperhatikan jalan,” jawab Dara. Akhirnya dia bisa menemukan kembali kepercayaan dirinya untuk berbicara. Suara malaikatnya akhirnya diperdengarkan kembali. ”Kau mau ke mana?” tanya Dara. Karena Minho sekelas dengan adiknya, dia kurang lebih tahu jadwal adiknya itu dan menurutnya, jam segini Minho harusnya sedang berada di kelas bersama dengan adiknya mempelajari apa yang namanya kewarganegaraan atau sejenisnya. ”Bukannya sekarang kau harusnya di kelas?”

Minho tersenyum lebar memperlihatkan sedikit lesung pipinya. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. ”Ah, itu, aku –”

”Minho!!” seru sebuah suara dari belakang Minho.

Dara yang berhadapan dengan Minho dapat melihat pemilik suara yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri.

Deg.

Hatinya kembali bergetar melihat kedatangan adiknya. Ada sedikit rasa kesal dan cemburu terhadap adiknya, tapi dia tidak boleh berpikir seperti ini. Asalkan adiknya bahagia, dia juga seharusnya senang, meskipun hatinya yang harus tersayat-sayat karena kebodohannya yang masih mencintai namja tampan di hadapannya.

Thunder menghampiri mereka tak lama kemudian. Dia segera menepuk pundak Minho dan kemudian baru menyadari kehadirannoona-nya. ”Noona, kau tak kelas?”

”Bukannya itu seharusnya yang noona tanyakan padamu, huh?” balas Dara dengan gaya galak yang dibuat-buat.

”Oh itu, gurunya tidak masuk jadi kelas kami kosong dan karena sudah tak ada kelas lagi, aku bermaksud mengajak Minho untuk pergi,” jelas Thunder panjang lebar. Dia masih tak melepaskan tangannya dari pundak kanan sahabatnya itu.

Dara hanya mengangguk mendengar penjelasan Thunder. Sekali lagi rasa iri itu muncul di hatinya. Kenapa bukan dia yang dapat berdiri di samping Minho sekarang? Kenapa harus adiknya? ”Kalau begitu, aku kelas dulu. Thunder, jangan pulang malam-malam dan Lee Minho, aku tak akan memaafkanmu kalau kau apa-apakan adikku!” ancam Dara.

”Siap noona!” balas Minho dengan bercanda.

Noona! Aku bukan anak-anak lagi,” gerutu Thunder.

Sementara itu Dara hanya bisa terkekeh, walau di dalam hatinya terdengar suara retakan. Minho dan Thunder saling berpandangan kemudian membicarakan ke mana mereka akan pergi. Memutuskan bahwa ini bukan tempatnya, Dara akhirnya izin untuk ke kelasnya. Dia berlari dengan cepat sembari memeluk kedua buku tebalnya. Begitu ingin keluar dari tempat itu hingga tak menyadari bahwa sepasang mata hitam cokelat tengah memandang punggungnya dengan intens.

.

Jika yang kau cintai dan kau sayangi bahagia, relakah kau untuk membiarkan dirimu saja yang terluka?

.

”Aish, kalau begini caranya lebih baik kau melupakan dia dan melangkah maju!” seru Bom saat mereka sedang makan siang bersama.

Seperti biasanya, siang ini juga tak berbeda dengan siang-siang lainnya. Kantin universitas yang dekat dengan lapangan basket membuat Dara dapat melihat Minho di lapangan dengan mudah. Matanya tak pernah lepas dari namja yang usianya lebih muda darinya itu. Dia melihat bagaimana ekspresi senang Minho saat berhasil memasukkan bola atau sesekali menelan ludah saat Minho mengelap keringat dengan kaos basketnya sehingga badan sang namja sedikit terlihat.

Oke, Dara mulai terlihat seperti seorang stalker dan dia tak bisa menghentikan hal itu. Bom yang mulai merasa kesal akhirnya tak dapat lagi menahan emosinya dan membentak Dara. ”Aku mengerti, Bom, tapi,” lirih Dara.

Bom hanya bisa menghela nafas dan kembali melanjutkan aktivitas makanannya. Dia tahu perasaan Dara, tetapi dia juga tak mau kalau sahabatnya terus melihat ke masa lalu dan tak bergerak maju. Biar bagaimanapun, dia tak boleh terus berusaha untuk menggapai apa yang sudah tak bisa dia jangkau. Bom mengikuti arah pandangan Dara yang mendadak menjadi sedih. Melihat apa yang ada di hadapan mereka, Bom mengerti. Minho sedang memeluk Thunder dan tertawa senang, sebuah tawa tulus yang membuat banyak yeojya jatuh hati termasuk sahabatnya ini.

”Err…permisi?” Sebuah suara yang lembut membuyarkan kegiatan mereka tadi, terutama Dara dari lamunannya. ”Sandara-noona?” tanya pemilik suara itu sekali lagi. Kali ini kedua yeojya tadi memutar kepalanya dan mendapati seorang namja manis yang terlihat gugup di hadapan mereka. Keduanya kemudian tersenyum.

”Ya, itu aku, ada yang bisa kubantu?” tanya Dara dengan lembut. Dia merasa gemas melihat kelakukan namja manis nan lucu di hadapannya. ”Kamu Bang Cheol Yong kan? Yang biasa dipanggil Mir itu?”

Namja yang memiliki panggilan Mir itu mengangguk dengan antusias. Rasa bahagia dan antusiasme memenuhi dirinya saat tahu bahwa yeojya cantik di hadapannya mengenali dirinya. ”Iya, aku senang noona masih mengingat diriku! Namaku Bang Cheol Yong, aku, aku sudah melihat daftar tadi dan aku bermaksud untuk menyapa noona!”

”Daftar?” tanya Dara dengan pandangan bingung.

Mir mengangguk. ”Iya, daftar partner untuk projek akhir semester ini.”

Dara kemudian mengerti maksud Mir. Universitasnya memiliki satu projek unik yang merupakan salah satu syarat untuk lulus semester. Untuk menjaga agar tidak adanya senioritas ataupun junioritas, mereka memasangkan satu junior dan satu senior dalam jurusan yang sama untuk menyelesaikan sebuah projek sebagai tugas akhir semester. Tahun lalu, Dara berpasangan dengan seorang namja muda yang bernama Jang Wooyoung. Dipikir-pikir, sudah lama Dara tak mendengar kabar dari Wooyoung. Setelah projek mereka selesai, mereka sempat akrab beberapa minggu, namun kemudian Wooyoung seperti hilang dari muka bumi. Kalaupun berpapasan, Wooyoung terlihat ketakutan dan hanya mengangguk sesekali.

”Oh, kau partner-ku?” Mir mengangguk. ”Kalau begitu, kita bekerja dengan baik untuk semester ini ya,” ujar Dara dengan lembut. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Mir yang dibalas dengan antusias.

”Iya, aku akan memastikan bahwa projek kita yang terbaik dan noona bisa lulus dengan nilai memuaskan!” seru Mir dengan antusias membuat Dara terkekeh.

”Oke, terima kasih. Aku mohon kerja samanya.” Mir mengangguk sekali lagi sebelum kemudian undur diri dari kedua yeojya tersebut.

”Siapa dia, noona?” tanya sebuah suara yang tak asing di telinga Dara.

Thunder, tak tahu muncul dari mana, sudah mengambil posisi duduk di hadapan Dara dan Bom. Minho menyusul di belakangnya dengan penuh keringat dan duduk di sampingnya sehingga dia berada tepat di seberang Dara sementar Thunder sedikit bergeser sehingga berhadapan dengan Bom. ”Oh, dia hanya partner-ku untuk projek akhir nanti. Kau sudah melihat daftar?”

”Belum,” jawab Thunder dengan tenang. Dia mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli. ”Paling dengan Minzy atau IU,” lanjutnya.

”Kalau kau, Minho?” tanya Dara dengan nada senang yang dibuat-buat.

Minho hanya mengangkat bahunya tanda bahwa dia juga tak tahu dan tak peduli. ”Lihat saja nanti, siapapun mereka pasti akan datang menghampiriku.”

”Aish, kalau tak tahu dirimu, aku sudah menganggap kau sedang menyombongkan dirimu, Minho,” goda Thunder.

”Iya, aku sedang menyombongkan satu aspek di dalam diriku, Thunder,” goda Minho balik.

Dara hanya bisa tersenyum tipis yang tak dilewatkan oleh Bom. ”Kalian sudah makan?” tanya Bom untuk mengalihkan ’pasangan’ yang ada di hadapannya.

Mendengar kata makanan, sontak Thunder kemudian menatap ke arah keduanya dan menggelengkan kepalanya dengan imut. ”Belum, apa Bom-noona mau membeliku makanan?” tanyanya dengan manja. Bom hanya terkekeh.

”Tidak, tapi aku bisa mengantarmu untuk mencari-cari makanan enak.”

Yah, sepertinya Bom sedang ingin menjadi teman yang baik dengan memberikan waktu untuk berduaan dengan Minho atau mungkin Bom hanya ingin Dara tersadar dari kebingungannya. Bom segera menarik Thunder dan meninggalkan Minho dengan Dara sendirian. Suasana canggung sempat tercipta di antara mereka saat Dara menatap Minho yang sedang menatap punggung Thunder dan Bom yang sedang berjalan meninggalkan mereka.

”Kau tak makan?” tanya Dara pada akhirnya. Dia tak tahan jika harus berdiam dalam posisi seperti ini dan memutuskan untuk membuka pembicaraan dengan pertanyaan basi.

Minho kemudian menatap ke arah Dara dan menggelengkan kepalanya. ”Belum lapar, mungkin nanti saja. Makan setelah olahraga itu bukanlah hal yang baik,” papar Minho.

”Haha dan Thunder mengatakan bahwa makanan diperlukan setelah olahraga untuk mengganti energi yang telah terbuang,” ujar Dara dengan nada riang.

”Ya, dia memang seperti itu, unik dan menyenangkan,” gumam Minho. ”Seperti kakaknya,” bisik Minho lagi dengan perlahan hingga tak terdengar oleh Dara.

”Eh? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Dara. Dia memajukan sedikit badannya hingga jarak di antara mereka berkurang. Karena itulah dia dapat mengamati dengan seksama lekuk wajah namja yang ada di hadapannya. Garis wajah yang begitu tampan ditambah dengan bibir merah yang terlihat seksi dan menggoda. Mata indah yang memancarkan ketegasan dan sebuah tekad.

Gulp.

Dara menelan ludah karena gugup dan segera menghindari pandangannya ke arah lain. Minho meletakkan tangannya pada pipi Dara dan perlahan memutar kepala yeojya itu hingga keduanya berpandangan. Jantung Dara berdetak dengan kencang dan dia berharap semoga Minho tidak mendengarnya dan jantungnya tidak meledak begitu saja.

”Bibirmu ada nasi,” gumam Minho.

Segera muka Dara memerah dan mengelap bibirnya yang terdapat sebutir nasi. Minho yang sudah menarik tangannya terkekeh perlahan membuat Dara menjadi semakin malu. ”Ya! Kau tak perlu tertawa seperti itu kan?! Tidak ada yang lucu,” gerutu Dara. Dia memainkan sendok di atas nasi dan memutuskan untuk mengabaikan kejadian tadi. Dara semakin malu saat hampir berpikir bahwa Minho akan menciumnya.

’Bodoh kau Dara, Lee Minho mencintai adikmu, Park Sanghyun, bukan Sandara Park,’ gerutunya di dalam pikirannya.

Akhirnya Dara memutuskan untuk melanjutkan makanannya dan mengabaikan tatapan aneh dan penuh selidik dari Minho. ”Noona, aku –”

”Kami kembali!” Suara riang Bom menyela perkataan Minho tadi. Sejenak Dara merasa penasaran, namun karena tampaknya Minho menyambut Thunder dengan senyuman lebar, Dara memutuskan untuk melupakannya saja. ”Ada apa?” tanya Bom yang merasakan perubahan atmosfir yang terjadi.

Dara hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menghabiskan makanannya. ”Ternyata kalian berdua ini makannya banyak sekali ya,” gumam Bom sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Tidak, ini kan buat Minho juga,” balas Thunder dengan semangat. Dia kemudian memberikan sumpit kepada Minho dan menghabiskan makanan mereka berdua. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya, perut Dara terasa mual. Hatinya sakit melihat bagaimana Minho sesekali tertawa dan mengelus kepala Thunder dengan penuh kasih sayang. Matanya semakin mengabur saat melihat Minho menyuapi Thunder dan sesekali menggoda adiknya.

Hal terakhir yang dia dengar sebelum kegelapan menyelimutinya adalah sebuah pertanyaan dari Bom. ”Dara, kau baik-baik saja?” Setelah itu, semuanya gelap dan Dara hilang kesadaran.

.

Kadang kala keras kepala membuat kita tak bisa bergerak maju.

.

Hal pertama yang dilihat oleh Dara saat dia membuka matanya adalah ruangan yang putih dan asing di matanya. Perlahan dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mencoba untuk melihat ke sekelilingnya, membiasakan diri terhadap cahaya yang masuk tertangkap oleh retina.

Noona!” seru sebuah suara yang tampak tak asing di telinga Dara.

Sepasang mata miliknya menatap sosok Minho yang tengah duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya. Minho sedang menatapnya dengan penuh rasa khawatir. ”Minho?” tanya Dara dengan perlahan. ”Di mana aku?”

Noona jangan banyak bergerak dulu. Kata dokter, noona kurang istirahat,” papar Minho dengan nada penuh perhatian.

Dara hanya bisa mengangguk mendengar informasi dari Minho. Badannya terlalu lelah untuk bergerak sehingga dia memutuskan untuk tetap terbaring di atas ranjang. Sepertinya saat ini dia sedang berada di dalam ruang kesehatan yang ada di universitasnya. Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa Minho ada di sini? ”Thunder?”

”Oh, Sanghyun sedang mengambil tas dan membuat surat izin untuk noona,” jelas Minho.

Deg.

Jantung Dara berdetak saat mendengar Minho menyebut nama Sanghyun. Sanghyun adalah nama asli adiknya, Thunder. Entah bagaimana julukan Thunder terjadi begitu saja sehingga terkadang Dara hampir lupa dengan nama adiknya sendiri. Jika Minho memanggil Thunder dengan nama aslinya, berarti Minho memang benar-benar serius. Sudahlah Dara, sampai kapan kau mau terus berdiam di masa lalu seperti ini?

Sreg.

Suara pintu ruangan yang terbuka membuat kedua perhatian mereka teralih pada Thunder yang sudah berada di depan pintu dengan membawa tas Dara dengan wajah riang. ”Noona!” seru Thunder yang segera menghampiri kakaknya. Sang noona hanya tersenyum lembut dan menyambut pelukan hangat yang diberikan sang dongsaeng kepadanya.

”Aku sudah membawa tas noona dan semua peralatan sekolah noona, lebih baik noona pulang saja, ne?” tawar Thunder.

Dara hanya bisa menghela nafas sebelum mengangguk perlahan. Lagipula dia juga tidak merasa dapat berkonsentrasi pada pelajaran berikutnya. Mungkin akan lebih baik dia beristirahat. Sepertinya dia akan meminta Bom untuk menemaninya. ”Ya sudah, aku akan minta Bom untuk menemaniku pulang,” jawab Dara.

”Tidak perlu, Minho saja yang menemani noona pulang!” seru Thunder. Dia menepuk pundak sahabatnya yang hanya tertawa lirih sementara tak memperhatikan raut sedih dari wajah sang kakak. Meskipun senang dapat menghabiskan waktu bersama dengan Minho, Dara tidak merasa senang. Tentu saja, setelah mengetahui perasaan Minho, dapatkah Dara masih merasa senang?

”Tidak perlu, kau malah merepotkan Minho,” ujar Dara dengan lembut.

Thunder menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum kembali menepuk pundak Minho. ”Noona tidak perlu khawatir, Minho tidak keberatan kok, iya kan Minnie?” goda Thunder yang membuat kedua pipi Minho bersemu merah.

”Aish, kau itu!” seru Minho untuk menutupi rasa malunya.

Jujur Dara merasa ada yang sedikit aneh, reaksi Thunder seperti seorang dongsaeng yang ingin menjodohkan sang noona dengan Minho. Tetapi, bukankah Minho adalah kekasihnya? ”Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya!” seru Thunder yang menepuk pundak Minho sekali lagi sebelum keluar dari ruangan. Sesaat dia sempat mengedipkan mata ke arah keduanya, entah kepada siapa Dara tidak tahu, tetapi sepertinya kepada dirinya atau Minho?

Setelah ditinggal pergi oleh Thunder, keduanya kembali dalam suasana hening. Dara yang sudah berada pada posisi duduk mulai berdiri perlahan untuk beranjak dari kasur. Minho yang menyadari gerakan Dara tadi segera membantu yeojya itu. ”Ah, gomawo,” ujar Dara.

Ne, aku akan mengantar noona pulang.” Ucapan Minho terdengar lembut dan suaranya begitu menghanyutkan hati Dara. Sejujurnya dia tidak mengerti kenapa dia bisa terjerat pada pesona seorang Lee Minho. Begitu banyak namja yang menginginkan dirinya, tapi dia tolak semua. Hei, Dara bukan seorang yeojya yang jelek apalagi seperti yang telah disebutkan bahwa dia adalah salah satu yeojyapopuler jadi jangan heran jika ada satu atau dua namja yang menyatakan cinta padanya. Sayangnya, hati Dara berlabuh pada namjayang ada di hadapannya, namja yang tidak membalas cintanya, sekaligus juga namja yang kemungkinan akan menjadi adik iparnya.

Oke, kau mulai berpikir terlalu jauh Sandara Park. ”Gwenchana, tidak perlu, sungguh, aku bisa sendiri.”

”Aku bersikeras.” Kali ini ucapan Minho terdengar tegas dan meskipun terpasang senyuman di wajah sang namja, Dara dapat merasakan sebuah paksaan di baliknya. ”Lagipula Sanghyun sudah menitipkan noona padaku, aku tak mungkin melanggar janjiku.”

Sekali lagi hati Dara harus kembali retak. Dia mengangguk dengan lemah dan menerima uluran tangan dari Minho yang membantunya untuk berdiri. Sepanjang perjalanan ke rumahnya, Dara dan Minho saling bertukar pendapat. Topik yang dibicarakan tidak jauh dari pelajaran kampus, tugas kampus, dan tentu saja Park Sanghyun atau Thunder.

.

Hati yang retak tak akan mudah untuk kembali.

.

Malam telah tiba dan saat ini Dara sedang berada di dalam kamarnya mengerjakan tugas presentasi untuk lusa. Ketukan di pintunya membuat dia menghentikan pekerjaannya. ”Masuk,” ujarnya. Dara memutar kursi berodanya sehingga sekarang dia berhadapan dengan pintu sehingga dapat melihat siapa yang masuk ke kamarnya. Pintunya perlahan terbuka dan menampilkan sosok Thunder yang tersenyum lebar.

Hanya melihat sosok adiknya, Dara langsung mengalami pergelutan. Sedih dan senang. Sedih karena teringat dengan hatinya yang retak dan senang karena sang adik mencari dirinya. ”Hyunnie, ada apa?” Hyunnie adalah salah satu panggilan sayang Dara kepada Thunder. Dia hanya menggunakannya saat di dalam rumah karena dia tahu Thunder akan merasa malu jika dia menggunakan julukan itu di depan umum.

Thunder tersenyum lebar dan segera masuk. Dia mengambil posisi duduk di ujung ranjang Dara. ”Noona, apa Minho tidak mengatakan sesuatu?”

Alis mata Dara terangkat, merasa intrik dengan pertanyaan ini. Dia menggelengkan kepalanya setelah berhasil mengingat apa yang terjadi dalam perjalanan pulang tadi. ”Tidak ada yang aneh, kami hanya berbincang tentang kampus dan kamu, tentu saja,” goda Dara. Candaan itu sukses membuat kedua pipi Thunder bersemu merah.

”Aish, bukan itu, apa dia tidak mengatakan sesuatu mengenai…ah lupakan saja.” Thunder terlihat pasrah dan akhirnya mencoba untuk mengalihkan perhatian. ”Oh ya, noona sedang mengerjakan apa?”

Mengerti bahwa adiknya tak ingin membicarakan hal yang sama lebih lanjut, Dara memutuskan untuk mengikuti keinginan adiknya saja. Lagipula, dia dapat menebak apa yang ingin dikatakan Thunder. Mungkin maksudnya adalah apakah Minho mengatakan sesuatu mengenai hubungannya dengan sang namja pemain basket itu. Ya sudahlah, lagipula Dara juga tidak sanggup untuk mendengarkan apa yang akan keluar dari mulut Minho.

”Ini? Tugas presentasi untuk lusa. Ah, bicara presentasi, aku jadi ingat harus menyiapkan bahan presentasi bersama Mir,” gumam Dara.

”Mir?” tanya Thunder penuh selidik.

Dara mengangguk dengan antusias. ”Mir, nama aslinya Bang Cheol Yong. Anak desain semester satu yang menjadi partner noonalho.”

”Oh…kali ini Mir,” gumam Thunder. Ada sesuatu di balik nada bicara Thunder dan Dara merasa penasaran.

”Hyunnie, kenapa?” tanya Dara dengan lembut.

Sang dongsaeng hanya menggelengkan kepalanya dan memperlihatkan senyuman lebarnya kepada sang kakak. ”Tidak ada apa-apa.”

”Oh begitu,” jawab Dara meskipun dia masih merasa tak puas. ”Lalu, kau berpasangan dengan siapa?” Kali ini Thunder terdiam cukup lama sampai akhirnya Dara berpikir apa dia salah bertanya. ”Hyunnie?”

Thunder tersentak kaget dan menggigit bibir bawahnya, terlihat sedang berpikir. Apakah partner-nya sedemikian dibenci oleh adiknya sampai-sampai adiknya tak mau menyebut namanya? ”Aku berpasangan dengan Seungho, noona.”

”Seungho? Seungho yang menjadi ketua klub paduan suara, Seungho yang itu?” Thunder mengangguk. ”Aku tak tahu dia mengambil jurusan hukum.”

Helaan nafas terdengar keluar dari Thunder. ”Memang tidak, sampai semester lalu dia masih mengambil jurusan akuntansi, tetapi mendadak saja pada semester ini dia mengambil hukum dan entahlah, dosen memutuskan untuk memasangkannya denganku. Katanya karena nilaiku tinggi dan aku bisa mengajar Seungho pelajaran yang tertinggal.”

”Oh, kau terlihat tidak suka, kenapa?” tanya Dara penuh selidik.

Gelengan yang menjadi jawaban diam dari Thunder. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Thunder kembali berbicara. ”Bukannya tidak suka, aku tak dekat dengannya, noona. Kau sendiri tahu bahwa aku bukan orang yang pandai bersosialisasi, aku hanya takut nanti kami tak bisa bekerja dengan baik dan kau tahu, tugas yang jelek.”

Kekehan kecil dari Dara membuat kepala Thunder yang tertunduk tadi terangkat. Dia menatap noona-nya dengan heran. ”Hyunnie, Hyunnie, kau ini, namamu boleh Thunder, tapi kenapa kau tidak bisa punya tekad seperti petir, eh? Jangan berpikir terlalu aneh. Lagipula, kalau kau kesusahan, noona akan membantumu dan bukankah ada Minho?”

”Minho? Apa hubungannya ini dengan Minho?” tanya Thunder dengan heran.

Dara tidak mengerti kenapa Thunder mengelak seolah tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Baru saja dia hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan, umma mereka memanggil mereka untuk segera tidur karena besok harus berangkat ke kampus pagi-pagi sekali.

.

Sebuah kebenaran yang tersimpan membawa kita pada sebuah masa depan yang buram.

.

”Maaf, tapi aku tak bisa menerima perasaanmu.” Ini adalah kalimat yang sama yang keluar dari mulut seorang Sandara Park untuk kedua kalinya. Siang ini dia sudah mendapat pernyataan cinta sebanyak dua dan orang yang kedua ini tak lain dan tak bukan adalah rekan kerjanya sendiri. Dara merasa sedikit takut apakah nanti dia bisa mengerjakan tugas bersama dengan baik.

Di luar dugaan, Mir malah tersenyum lebar sembari menggaruk-garuk kepalanya yang Dara yakin sebenarnya tidak gatal. ”Sudah kuduga noona akan menolaknya. Maaf merepotkan, noona tidak perlu khawatir kok. Aku hanya tidak mau berharap lebih ketika bekerja bersama dengan noona untuk satu semester ini. Jadi aku pikir lebih baik aku mengungkapkannya terlebih dahulu.” Dara mengangguk mendengar penjelasan Mir. Ternyata, di balik perilaku Mir yang serampangan, dia memikirkan hal sejauh ini juga.

Gomawo, Mir, aku benar-benar senang, semoga kita bisa bekerja dengan baik untuk satu semester ini!” seru Dara.

”Tentu saja! Aku adalah namja yang akan menepati janjiku, jadi tenang saja. Oh, aku kembali ke kelas dulu ya!” Sebenarnya Dara ingin kembali bersama, tetapi melihat ekspresi luka yang terlintas di muka Mir, Dara mengangguk. Dia tahu bahwa saat ini sang junior ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.

Setelah ditinggal sendirian di taman belakang universitas, Dara menghela nafas sembari menatap ke arah langit. Lama dia merenung apa yang harus dia lakukan, mungkin sebaiknya dia juga menyatakan perasaannya agar dia bisa melangkah maju seperti yang dilakukan Mir tadi. Entahlah, dia hanya takut menghadapi penolakan yang dia yakin akan dia terima.

Noona?” Kedua mata Dara terbuka lebar saat telinganya menangkap suara yang tak asing di telinganya. Benar saja, di depannya berdiri sosok Minho yang terlihat khawatir. ”Gwenchana?”

Hening melanda keduanya. Dara meneguk ludahnya sembari mencari kata-kata yang tepat untuk dilontarkan. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Dara mengangguk membuat Minho sedikit kebingungan. ”Minho!”

”N..ne?”

Saranghae!” seru Dara.

Selesai. Dia telah mengatakan apa yang selama ini menganggu hatinya dan sudah saatnya juga dia untuk kabur dari namja yang ada di hadapannya. Ketika dia hendak pergi, langkahnya terhenti karena seseorang menggenggam tangannya. Tidak perlu berbalik untuk tahu bahwa yang memegang tangannya adalah Minho karena hanya mereka berdua yang ada di sana.

Jantung Dara berdetak kencang. Keringatnya keluar. Perutnya terasa sakit dan mendadak dia berharap ada lubang di hadapannya agar dia bisa menghilang. ”Noona tidak mau mendengar jawabanku?” tanya Minho perlahan.

”Tidak perlu, aku tahu bahwa aku akan ditolak, aku –” Belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya diputar dan dalam sekejap bibirnya bertemu dengan sesuatu yang hangat.

Minho sedang menciumnya. Sebuah ciuman lembut yang membuainya, membuatnya terbang. Ciuman yang begitu penuh cinta ini membuat Dara menjadi bingung. Apa artinya semua ini? Setelah ciuman mereka terlepas, tangan kanan Minho membelai pipi Dara perlahan. Sebuah senyum terukir di wajah sang namja. ”Saranghae, noona. Aku juga mencintaimu.”

Kedua mata Dara membesar tak percaya dengan apa yang dia dengar. Kesadarannya kembali dan dia memukul tangan Minho dengan kasar. ”Kau bercanda! Kau sedang mempermainkanku! Aku tidak akan memaafkan kalau kau juga menyakiti hati Sanghyun!”

”Tung..tunggu! Menyakiti siapa? Kenapa aku menyakiti Sanghyun?” tanya Minho. Terlihat dari raut wajahnya bahwa namja itu tidak tahu apa yang dibicarakan Dara. Entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

”Sanghyun itu pacarmu! Kenapa kau menciumku? Kenapa kau – hiks.”

”Eh..tunggu, aku pacaran dengan Sanghyun? Noona, sekedar informasi, aku masih normal dan suka dengan yeojya,” jelas Minho dengan panik.

”Bohong…aku melihatnya! Kau memeluk Sanghyun dan mengatakan saranghae ke adikku saat kau ke rumah kami waktu itu. Kau tidak boleh berpura-pura. Sudah mendapatkan Sanghyun dan kau masih mau menginginkan aku? Jangan rakus kau Lee Minho!”

”Eh? Tidak, noona salah paham. Aku tidak begitu. Sanghyun dan aku, kami tidak. Ini hanya salah paham,” jelas Minho dengan panik. Terlihat bahwa dia sendiri tak tahu harus bagaimana menghadapi Dara.

Dara menatap Minho dengan ekspresi bingung. Dia melihat Minho menghela nafas dan bersandar pada dinding yang ada di belakang sang namja. Minho menutup matanya dengan tangan kanannya. Terlihat bahwa sang namja sedang berpikir keras. ”Begini, waktu itu aku. Aish.” Minho mengacak-acak rambutnya dan akhirnya memutuskan untuk menatap ke arah Dara. ”Oke, sebenarnya aku sudah jatuh cinta dengan noona yang menolongku pada saat aku tersesat pada hari pertama semester.”

Otak Dara kemudian berpikir keras. Dia memang ingat pernah menolong satu mahasiswa baru yang sedang mencari kacamata dan kemudian memutuskan untuk mengantarkan mahasiswa baru itu ke kelas karena sepertinya namja yang dia tolong itu tersesat. Akan tetapi, Dara tidak ingat menolong seorang namja tampan seperti Minho, melainkan…

”Tapi, orang yang aku tolong adalah seorang namja berkacamata tebal dan berpenampilan culun?”

Pipi Minho bersemu merah mendengar penjelasan Dara. ”Itu aku,” ujar Minho setengah berbisik. ”Sejak saat itu aku mencari tahu tentang noona dan ternyata noona adalah kakak Sanghyun, salah satu sahabatku di universitas ini. Sanghyun mengatakan bahwanoona tidak melihat penampilan seseorang, tetapi aku memutuskan untuk menjadi seseorang yang pantas untuk noona.”

Tubuh Dara terasa kaku. Masih tidak percaya dengan penjelasan Minho. ”Lalu tentang perbuatan kalian di kamar Sanghyun?”

”Itu…” Minho menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. ”Sanghyun menyuruhku untuk latihan sebelum menyatakan cinta kepada noona. Katanya lebih baik aku segera mengungkapkan perasaanku sebelum noona direbut. Jadi yangnoona lihat waktu itu sebenarnya adalah latihanku untuk menyatakan cinta pada noona. Aku tidak menduga kalau itu akan membuatnoona salah paham.”

Jika saja di depan Dara ada lubang, dia tentu akan lompat ke dalamnya tanpa membuang-buang waktu. Dia begitu malu mengetahui bahwa semua ini hanya kesalahpahamannya saja. Seandainya saja dia tidak mengambil kesimpulan secepat itu. Ingin rasanya dia kabur saja. Yah, dia memang sudah berniat kabur, tetapi sekali lagi Minho menghalanginya. Kali ini badan mungilnya masuk ke dalam dekapan seorang Lee Minho. ”Sekarang aku sudah berhasil menangkap noona, jadi noona tidak boleh kabur lagi.” Di balik suaranya, Dara seolah dapat melihat sebuah seringaian yang terukir di wajah sang namja.

Pipi Dara kembali memerah mendengar pernyataan dari Minho. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan perlahan dalam pelukan Minho yang begitu hangat. ”Oh ya noona, aku ada satu pengakuan lagi.” Dara melepaskan pelukan mereka dan menatap Minho dengan penuh tanya. ”Ingat Jang Wooyoung?” Dara mengangguk. Badannya yang lebih pendek dari Minho membuat dia harus sedikit mendongak untuk dapat menatap Minho secara langsung. ”Err, sebenarnya aku mengancam dia bahwa dia tak boleh mendekati noona lagi dan aku mengatakan bahwa aku adalah namjachingu noona.”

”Apa?” seru Dara.

”Yah, begitulah, hehe.” Minho menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal, membuat Dara hanya bisa menghela nafas panjang. Jadi itu sebabnya kenapa juniornya yang satu itu tidak pernah lagi menyapanya. Ya sudahlah, ini tandanya Minho benar-benar mencintainya.

”Hei,” ujar Dara. ”Aku bahagia karena kau mau merubah dirimu untuk aku. Maafkan aku karena tidak sadar akan keberadaanmu sebelumnya, ya?”

Dara mengakui bahwa sebenarnya dia memang sudah tertarik dengan namja yang dia tolong pada hari pertama semester. Akan tetapi, dia tidak menduga bahwa namja itu adalah Minho. Harus dia akui kalau saja Minho tidak merubah dirinya dan pergi ke rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama Thunder, mungkin Dara tidak akan mengingat dirinya. ”Jadi, bagaimana kalau kau jadi dirimu yang sebelumnya saja? Aku tak mau memaksamu.”

Mendengar hal itu, Minho tersenyum lebar. Benar kata Thunder bahwa Dara tidak mempedulikan penampilannya, tetapi dia sudah bertekad untuk menjadi namja yang baik untuk Dara. ”Tidak perlu, aku cukup bahagia dengan diriku yang sekarang.”

”Tapi aku tak suka karena banyak yeojya yang akan melihatmu,” gumam Dara dengan nada cemberut. Dia segera mengalihkan kepalanya karena malu dengan apa yang baru saja dia ucpakan. Sementara Minho menyengir dan menggoda yeojya yang baru saja menjadi kekasihnya itu.

”Tenang saja, aku akan tetap mencintai Sandara Park.” Keduanya kembali berada dalam pelukan hangat tidak peduli dengan suara kamera dan bel yang berbunyi.

.

Ada baiknya, sebelum mengasumsikan sesuatu, kita memastikan bahwa apa yang kita ketahui benar adanya.

Indera kita bisa menipu kita, tetapi kebenaran tidak akan pernah bisa ditutupi.

.

Keesokkan harinya, seluruh universitas merasa kaget dengan foto heboh Dara dan Minho yang berpelukan. Banyak hati yang patah, namun banyak juga yang mendukung mereka. Seorang namja manis yang bernama Park Sanghyun tersenyum senang melihat foto itu dari kejauhan. Di lehernya terdapat sebuah tali yang mengalungkannya dengan sebuah kamera digital.

”Sepertinya aku mendapat topik hangat untuk minggu ini,” ujarnya pelan.

.

The End

Advertisements

5 responses to “My Crush is a Gay?

  1. wah..wah..
    dara salah paham nih sama minho..coba aja kalo dara ga mikir yang engga” tentang minho sama thunder.#poordara
    tapi yang jelas dara sama minho jadian!!
    kenapa sulit banget sih si minho bilang suka sama dara sampe” harus dara duluan yang bilang saranghae..
    bdw,eon mau tanya matchmakernya di proteksi yah??padahal aku udah nunggu lamaaa banget,mau baca tapi diproteksi.hiks T_T trus gimana cara dape passwordny y eon??
    gomawo sebelumnya

    • Coba baca di bagian yang about matchmaker deh XDD di sana dikasih tahu mengenai passwordnya kok 😉
      iya, dara kan emang suka salah paham -w- tapi gapapa klo gk kayak gitu, naskah ini tidak akan terbentu kan? #eh

  2. huahhh dara eonni lucu bgt sih sampe salah paham gitu mana sama adeknya sendiri lagi hhehe :3

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s