Cappuccino


Title : Cappuccino

Rated : K+

Couple : Slight Minsu, broken!ChangKey

Genre: Romance/Angst

Summary : Junsu hanya yeojya biasa yang merasa penasaran dengan seorang namja jangkung yang selalu duduk di pojok cafe dan selalu memesan 1 cappuccino hangat dan dingin serta 2 buah cheesecake.

Warning : Genderswitch! Cliche plot

Don’t like don’t read

.

.

Kim Junsu hanyalah seorang yeojyayang menjalani kehidupan biasa layaknya para remaja seusianya. Dia bekerja sambilan di sebuah cafe ’In Heaven’ yang dikelola oleh sepasang suami istri –Jung Jaejoong dan Jung Yunho. Sudah dua bulan dia bekerja di cafe tersebut dan sudah akrab dengan para pelayan yang juga bekerja di tempat itu. Ada Park Yoochun – seorang namja dandy dan playboy namun sebenarnya berhati lembut dan merupakan seorang gentleman. Lee Hyukjae – yeojyachingu dari Lee Donghae yang juga adalah pelayan di cafe tersebut. Hubungan mereka sangat unik, terkadang berantem hanya karena hal kecil namun bisa bermesraan tak lama kemudian.

Junsu sangat iri dengan pasangan tersebut terutama kepada pemilik cafenya. Jung Yunho adalah seorang namja yang sangat gentle dan sangat perhatian, tapi juga pervert kepada istrinya Jung Jaejoong. Sementara Jaejoong sendiri adalah yeojya yang sangat cantik dan masakannya sangat lezat sehingga jelas dia yang menjadi koki utama di cafe tersebut.

Seperti dilihat, kehidupan Junsu biasa-biasa aja. Dia pergi ke kampus untuk menimba ilmu, bekerja di cafe untuk menambah uang saku, dan pulang ke rumah yang ditempatinya bersama kedua orang tuanya. Ya, hidup biasa seorang remaja. Namun, ada kalanya dia iri kepada pasangan Haehyuk dan Yunjae. Ingin sekali dia juga memiliki seorang yang bisa menjaganya dan mengasihinya sedimikian rupa. Pernah, Hyukkie –panggilan Hyukjae, menjodohkannya dengan Yoochun, tapi hubungan mereka berdua hanya bertahan selama 1 minggu karena mereka tak merasakan percikan-percikan yang seharusnya dirasakan.

Sampai akhirnya ada sesuatu –lebih tepatnya seseorang yang berhasil menarik Kim Junsu. Dia adalah seorang namja yang selalu datang setiap Selasa sore dan duduk di pojok cafe yang sepi hanya memesan 1 cappuccino hangat, 1 cappuccino dingin, dan 2 cheesecake. Sebenarnya, pertama kali Junsu beranggapan bahwa namja itu sedang menunggu seseorang namun orang tersebut. Kalau dalam bahasa Inggrisnya – you just get ditched. Namun, hal ini menarik perhatian Kim Junsu ketika namja itu terus datang setiap minggunya pada hari Selasa memesan pesanan yang sama. Namja itu hanya menyentuh cappuccino hangatnya dan cheesecake sembari melihat pemandangan di balik kaca.

Dan akhirnya, pada tanggal 14 Februari yang kebetulan hari Selasa juga, sesuatu merubah hidupnya.

.

.

Cappuccino

by eL-ch4n

14.02.2012

.

.

Selasa, 31 Januari, 17.50

Cling.

Bunyi gemerincing terdengar ketika pintu cafe yang terbuat dari kaca terbuka menampilkan seorang namja yang jangkung dengan pakaian rapi –kemeja putih bergaris vertikal dan celana hitam berbahan kain. Seperti biasa, namja tersebut segera berjalan ke pojok ruangan dan duduk di sana.

”Dia datang lagi, tuh.” ujar Hyukkie padaku yang saat itu sedang berada di bar mengambil pesanan untuk tamu lain. ”Kau mau melayaninya?” tanya Hyukkie kepadaku. Ya, memang sudah bukan rahasia lagi kalau aku, Kim Junsu, memiliki ketertarikan pada namja bertubuh jangkung itu. Dapat kurasakan kedua pipiku bersemu merah. Aku pun mengangguk pelan dan menyerahkan pesanan tamu lain kepada Hyukkie. Aku segera mengelap tangan menggunakan apron yang terikat di pinggangku. Tangan kiriku kemudian mengeluarkan catatan yang kusimpan di saku celana sementara tangan kananku meraih pen yang terletak pada saku bajuku.

”Selamat sore tuan.” sapaku yang hanya dibalas anggukan dari namja jangkung yang masih melihat menu. ”1 cappuccino dingin, 1 cappuccino hangat, dan 2 cheese cake?” tanyaku. Hei, aku sudah hampir 10 kali mengambil pesanannya tak mungkin aku tak hafal bukan? Apalagi kalau dia selalu memesan hal yang sama.

Kulihat namja itu menatapku heran. Mungkin dia berpikir bagaimana aku bisa tahu pikirannya? ”Darimana kau tahu tentang pesanan biasaku?”

Mataku membulat mendengar pertanyaannya. ”Dengar ya tuan, anda sudah datang ke sini tiap hari Selasa duduk di pojok, memesan menu yang sama, bagaimana mungkin saya tidak ingat? Jangan meremehkan ingatan saya ya.” Jika aku menginginkan suatu reaksi, tawa lepas dari namja itu bukan yang kutebak. ”Maaf, apa ada yang salah?”

Dia menggelengkan kepalanya. ”Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja aku tak menyangka kalau pelayan di sini bisa bersikap judes sepertimu juga ya?” Jika mereka mengatakan bahwa senyuman milik Kim Kibum – yeojyachingu Choi Siwon sekaligus wakil ketua OSIS – maka mereka harus melihat senyuman lebar yang diberikan namja ini kepadaku sekarang. Urgh, aku bisa meleleh nih kalau begini.

”Mianhae.” Lebih baik aku minta maaf saja deh, daripada nanti dia malah menambah masalah.

”Gwenchana, kau sungguh menarik. Oke, aku pesan itu.” Diapun memberikan buku menu kepadaku dan aku segera berlalu menuju ke arah dapur. Di tengah jalan aku berpapasan dengan Hyukkie yang mengedipkan matanya kepadaku. Aigo, andai dia tahu apa yang dikatakan oleh namja tadi.

Ketika pesanannya selesai dibuat, aku segera mengantarkannya kepada namja tersebut. ”Ini pesanannya, tuan.”

”Changmin.” selanya membuatku bingung.

”Eh?” tanyaku kebingungan.

”Namaku Shim Changmin, Kim Junsu.”

”Ba-?” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia telah menunjuk ke arah nametag yang terpasang di dada sebelah kiriku. Mukaku langsung memerah dan aku segera menutupnya dengan tangan kananku. Samar-samar masih bisa kudengar gelak tawanya.

Dengan kecepatan dari mana aku segera meletakkan semua pesananku ke atas meja dan hendak kembali ke belakang, tetapi suaranya memanggilku lagi. ”Junsu.”

Aku berbalik dan melihat dia sudah menggenggam lengan cangkir cappuccinonya. Caranya memegang cangkir tersebut seperti seorang bangsawan membuatku terpesona sesaat. ”Junsu-shi, bisakah anda menemaniku?” Aku tersentak kaget mendengar pertanyaannya. Mulanya aku ingin menolak tapi Hyukkie mendahuluiku. ”Sudah, Junnie, kau temani saja dulu tuan ini, Yoochun, Hae dan aku bisa mengatasi tamu yang lain, lagipula cafe masih sepi kok.” Mulutku menganganga lebar. Kuberikan tatapan tajam pada Hyukkie yang hanya dibalasnya dengan lambaian.

”Minumlah, Junsu.” Mungkin dia melihatku yang masih menatapnya dengan bingung karenanya dia mengijinkanku untuk meminum cappuccino dingin yang terlihat segar di mataku.

”Tapi, bukannya ini untuk teman yang sedang kau tunggu?” Ups, sepertinya aku salah bicara karena tampaknya raut mukanya mulai berbeda.

Dia kembali tersenyum, tapi kali ini senyum penuh kesedihan yang terpasang di wajahnya. ”Dia tidak akan datang.” ujarnya lembut. Akhirnya kuputuskan untuk mengalihkan pembicaraan dan segera memotong cheesecake buatan Jae-noona yang memang lezat.

”Hahaha…” Sekali lagi dia tertawa, dan aku tidak mengerti kenapa. Oh! Dia menyuruhku untuk minum, tapi aku malah memakan cheesecake, aigo! Pabboya Kim Junsu! ”Kau lucu sekali, Junsu.”

Sekali lagi mukaku memerah mendengar dia memanggil namaku. Tidak pernah kubayangkan bisa menghabiskan waktu dengannya. Kami melewatkan waktu sembari membicarakan beberapa hal. Dari sana aku tahu bahwa dia bersekolah di SHAWOL University dan umurnya lebih muda dariku 2 tahun. Aku tak percaya ketika dia mengatakannya bahkan aku menggoda kalau mungkin maksudnya lebih tua dariku 2 tahun. Hari itu, aku tidak menyangka bisa berbicara lepas dengan Shim Changmin yang selama ini sudah menarik perhatianku. Tidak juga kuketahui bahwa pertemuan kali ini akan membawaku pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

.

.

”Aigoo…cheesecake di sini memang enak ya, noona!”

”Dasar kau ini, yang kau pikirkan hanya makanan saja!”

”Urgh, tidak kok, aku juga memikirkanmu, noona.”

”Seriuslah Changmin, kau masih anak-anak.”

”Aku serius noona, saranghae.”

”…”

”Saranghae noona. Aku serius dengan perasaanku.”

”Ne, aku mengerti, Minnie-ah, tapi saat ini kau masih muda, masih panjang jalanmu. Mungkin yang kau rasakan padaku bukanlah cinta, hanya kasih sayang seorang dongsaeng pada noonanya.”

”Andwae, aku benar-benar mencintaimu noona.”

”Minnie-ah…baiklah, kalau nanti saat kau berusia 21 tahun dan perasaanmu kepadaku masih belum berubah, aku akan menerimamu jadi namjachinguku, arasso?”

”Ne, tapi noona harus berjanji harus menunggu sampai aku berusia 21 tahun ya.”

”Hahaha…tentu saja, Minnie-ah”

.

.

Kau bohong

Kau pergi tanpa sempat mendengar perasaanku

Aku terus menunggumu

Tapi kau tak akan pernah datang

.

.

”Minnie.”

”Ne, ada apa Leeteuk-noona?”

”Kau harus tenang ya, jangan panik.”

”Ada apa hyung?”

”Key…Key tertabrak mobil dan sekarang berada di rumah sakit.”

.

.

Janji yang kau ucapkan tak pernah kau penuhi

Kau bohong

Aku tak bisa percaya pada siapapun lagi

.

.

”Andwae! Bohong, ini bohong! Noona kan sudah berjanji akan menungguku! Noona! Saranghae noona! Masih ada 1 tahun lagi, kau berjanji akan bersamaku. Kenapa kau pergi, noona?!”

”Minnie-ah, sudahlah, Key juga pasti tak ingin kau bersedih.”

”TIDAK! INI BOHONG, KEY-NOONA TIDAK MATI. Dia masih hidup, keluarkan dia dari kotak, kasihan noona!!”

”Minnie.”

Plak

”Jangan panggil aku Minnie, hanya Key-noona yang boleh. Lepaskan. LEPASKAN!!”

.

.

Selasa, 14 Februari, 17.50

Kulihat ke arah jam cafe, waktu sudah menunjukkan hampir jam 6 sore, seharusnya dia datang, tapi kenapa sosoknya belum juga muncul ya? Sebuah tepukan di kepalaku membuatku tersadar dari lamunanku? ”Memikirkan chagiya ya?” goda Yoochun kepadaku. Rupanya yang menepukku tadi Yoochun yang baru kembali dari membereskan meja tamu. Aku tak menjawab dan kembali pada lamunanku. Mungkin dia telat, mungkin dia tidak bisa datang atau mungkin dia tidak akan datang lagi? Aigoo, jangan memikirkan hal-hal aneh Junsu! Tidak mungkin dia tidak datang, bahkan walau hujan badai sekalipun dia selalu datang dengan baju yang basah karena curah hujan. Jadi, tak mungkin dia tak datang. Tapi, bagaimana kalau dia memutuskan untuk tidak datang lagi?

Harus kuakui frekuensi kami bertemu lebih banyak. Dia lebih sering datang, bukan hanya hari Selasa saja bahkan hampir setiap hari dan memesan menu yang sama. Terkadang dia memintaku menemaninya jika cafe terlihat sepi dan kami akan mengobrol tentang banyak hal. Hobinya bermain game sama sepertiku. Dia cukup kaget melihat seorang yeojya suka bermain game, tapi memang itulah diriku, maaf saja kalau harus mengubah hobi hanya karena perbedaan kelamin saja  ya.

Cling.

Bunyi pintu terbuka membuatku segera menoleh ke arah pintu dengan penuh antusias. Senyumku memudar seketika melihat dia menggandeng seorang yeojya berambut pirang sebahu. Wajahnya cantik bahkan lebih cantik dariku. Ketika tersenyum, pipi yeojya itu membentuk lesung pipi yang menambah kecantikannya. Yoochun menepukku dan menatapku khawatir. ”Gwenchana?” Mungkin dia dapat merasakan diriku yang tiba-tiba terdiam melihat pemandangan tersebut. Aku menggeleng kepalaku dan mengatakan bahwa aku tak kenapa-kenapa. ”Gwenchana.” jawabku tegas. Aku mengerahkan segenap tenagaku dan menghampiri meja mereka. Aku tak pernah menyangka bahwa jarak antara meja bar dengan meja yang dia duduki sejauh ini. Tiap langkah terasa berat bagiku apalagi mendengar gelak tawa mereka membuat hatiku kembali berdenyut sakit.

”Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” Aku tak mencoba menyembunyikan suaraku yang sepertinya terdengar serak dan sendu. Kulihat Changmin menatapku khawatir tapi aku hanya memasang senyum bisnis kepadanya. Si yeojya masih asyik melihat menu makanan sementara Changmin masih menatapku tajam. Sudahlah berhenti memberiku tatapan seperti itu seolah kau peduli. Aku mengalihkan pandanganku ke arah yeojya itu. ”Bagaimana kalau couple set special saja? Karena hari ini hari Valentine, kami menyiapkan menu khusus. Isinya ada 2 pasta, 1 club sandwich, 2…cappucino dan 2 cheesecake sebagai penutupnya dan harganya hanya dihitung satu, bagaimana?”

”Wah, sepertinya enak, tapi – ” Belum sempat yeojya itu menyelesaikan kalimatnya, Changmin segera menyelanya. ”Baiklah, kami pesan itu saja.” Sepintas kulihat yeojya itu mengangkat alisnya mungkin heran dengan kelakuan Changmin. Aku mengabaikan hal itu dan segera mengangguk untuk mencatat pesanan. ”Baik 1 couple set akan segera tiba. Kalau ada apa-apa silakan panggil saya, Kim Junsu. Gomawo.”

Lebih cepat pergi dari tempat itu lebih baik. Aku menyuruh Hyukkie untuk mengantarkan pesanannya karena rasanya aku tak sanggup untuk melakukannya. Sudah 1 jam Changmin dan yeojya itu berada di cafe dan selama 1 jam itu aku merasa sesak tak bisa bernafas. Beginikah rasanya ditolak sebelum menembak? Jika tahu rasanya seperti ini lebih baik aku melupakan perasaan ini.

Akhirnya tak berapa lama Changmin mengangkat tangan menandakan dia meminta bill. Karena yang lain sedang sibuk, mau tak mau aku yang harus melayani mereka. Kubawa bill ke meja mereka dengan langkah berat. ”Ini billnya, ada yang bisa saya bantu lagi?” tanyaku mencoba bersikap seramah mungkin.

”Ah, namamu tadi kau bilang Kim Junsu?” Mendengar reaksi yeojya itu yang kelewat ceria, aku sedikit heran. ”Ne.” Aku mengangguk. ”Ada apa?”

Dia menggeleng kepalanya dengan senyuman lebar masih terpasang di wajahnya. Matanya seolah menembus diriku dan memeriksa diriku. Setelah menatapku seolah ingin memakanku, dia berpaling ke arah Changmin dan mengedipkan matanya. ”Pilihan yang bagus. Ne, kalau begitu aku pulang dulu ya Min. Kau gantikan aku ya?” Belum sempat aku menjawab yeojya tadi sudah mendorongku untuk duduk di tempatnya dan bergegas pergi dari cafe. Sekarang aku berhadapan dengan mata caramel yang menghanyutkanku 3 bulan ini. ”Err, kalau sudah selesai, aku akan mengambil billnya.”

”Dia itu noonaku.” ujarnya ketika aku bermaksud mengambil kertas putih berisi tagihan makanan mereka tadi yang sudah terdapat beberapa lembar uang.

”He?”

”Leeteuk noona hanya noonaku, Kim Junsu. Dia bukan yeojyachinguku.” Aku bingung. Apa maksudnya dia menjelaskan hal ini kepadaku? ”Aku dulu pernah mencintai seseorang, seseorang yang sangat berharga bagiku, Kim Kibum atau kupanggil dengan Key. Aku menembaknya 3 tahun lalu di tempat ini, kursi yang sama, meja yang sama, tempat yang sama, dengan menu yang sama seperti sekarang.” Kubiarkan dia terhenti merangkai kata di kepalanya sementara aku sendiri masih mencoba mencerna apa yang terjadi. ”Tapi, dia hanya menganggapku bercanda dan menyuruhku menunggu sampai aku berusia 21 tahun. Dia berjanji akan menungguku, tapi dia melanggarnya. 1 tahun yang lalu.” Dia menarik nafas berat. ”Dia pergi untuk selama-lamanya karena menyelamatkan seorang anak kecil yang menyeberang jalan. Tubuhnya terpental oleh truk. Ketika dilarikan ke rumah sakit, dokter tak bisa berbuat banyak karena dia sudah banyak kehilangan darah.”

Changmin menunduk, tapi aku dapat melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Perlahan kuarahkan tanganku menuju ke pipinya, mencoba menghapus tetesan bening yang perlahan keluar. Tangan kami saling bertemu. Dia menggenggamnya erat dan aku membiarkannya. ”Sebelum dia meninggal, dia berkata kepadaku.”

.

.

”Min…(uhuk) janjimu…”

”Noona, jangan bicara! Kumohon, bertahanlah.”

”Min…kau pasti…(uhuk) men…kan…nya…”

”Noona, noona.”

”Min…sa..rang…ha…e”

”NOONA! NOONA!”

.

.

”Aku tak mengerti apa maksud perkataannya karena saat itu dia mengucapkannya  sepatah sepatah. Leeteuk noona tadi adalah teman akrab Key. Sebelum pergi, Key sempat menitipkan sebuah surat kepada Leeteuk dan menyerahkannya kepadaku saat umurku 21 tahun ketika sesuatu terjadi padanya.” Sekali lagi dia terhenti dan aku merasa bahwa aku menahan nafasku. ”Dia menderita kanker stadium 4 dan hidupnya tak lama lagi, itulah sebabnya dia menolakku. Dia tak ingin aku menderita. Rupanya, Tuhan sendiri mempunyai takdir lain dan merenggut dia dari diriku.”

Aku mencoba mengelus pipinya dengan lembut. Tangannya masih menggenggam erat tanganku dan telapak tanganku sesekali bertemu dengan bibirnya. ”Suie, aku tak pernah merasakan hal ini lagi sampai aku bertemu denganmu.” Mata kami saling berhadapan, mencoba mencari jawaban dari lawan bicara. ”Maukah?” Dia memulai dengan canggung. ”Maukah kau menungguku?”

Gulp.

Aku menelan ludah mendengar pertanyaannya. Apa maksud dari pertanyaannya. Sebuah ambigu tidak terukur. Menunggu apa? ”Menunggu sampai aku bisa melangkah maju dan bersedia memeluk cahaya yang baru?”

Hening melanda kami yang terdengar hanya detik jam di cafe meski cafe pada jam itu sangat ramai, namun kami merasa waktu seolah berhenti. Bagaimana Junsu? Apakah kau siap? Menunggu sampai dia bisa melangkah menerima cintamu? Aku hening tak tahu harus menjawab seperti apa. Tiba-tiba aku teringat oleh perkataan Jaejoong-noona ketika kutanyakan bagaimana dia bisa mendapatkan cinta Yunho-oppa yang dulunya sangat dingin.

”Cinta memang perlu pengorbanan dan perjuangan Su. Jika kau hanya diam maka  dewi fortuna pun akan berbalik dan kau tak akan bisa meraih rambutnya karena bagian belakangnya botak. Itu lucu memang, tapi itu mengajarkan bahwa kesempatan hanya satu kali begitu pula dengan cinta sejati. Mereka datang dan mereka pergi, gapailah saat mereka datang dan jagalah agar mereka tak pergi. Aku juga menunggu, menunggu dengan setia sembari tetap melaksanakan aksiku untuk meruntuhkan dinding es itu.”

Sekarang aku tahu apa yang harus kukatakan. Aku menarik tanganku dari genggaman Changmin. ”Tidak.” jawabku tegas. Aku dapat melihat matanya membulat membesar seolah tak percaya dengan jawabanku. Ada sebersit kesedihan di baliknya. Dia mengangguk pelan. ”Aku mengerti.” ujarnya lirih.

”Karena kalau aku menunggu tanpa berbuat apa-apa kau tidak akan bisa bergerak maju, jadi.” Aku terhenti menunggu ekspresinya yang menatapku bingung. Aku tersenyum jahil dan memajukan tubuhku sedikit, memperpendek jarak di antara kami. Urgh, salahkan tubuhku yang sedikit pendek sehingga aku harus berjinjit untuk bisa meraihnya. Segera kutinggalkan ciuman singkat pada bibirnya dan mengambil tagihan makanan mereka.

Aku segera berlari meninggalkan dia yang masih kebingungan. Ketika sampai di depan kasir, aku berbalik dan berteriak, ”Saranghae Shim Changmin! Bersiaplah karena aku akan membuatmu menyukaiku!” Rasanya senang bisa mengungkapkan perasaanku. Kulirik Yoochun menyengir kepadaku sembari menerima bill dari tanganku. Changmin tak berkata apa-apa lagi selain mengambil uang kembaliannya dan menuju ke arah pintu. Sebelum dia pergi seutuhnya, dia berbalik dan menatapku sambil menyengir. ”Kurasa aku yang harus menunggu aksimu, ya? Sampai bertemu lagi.”

Hari itu, 14 Februari adalah hari kasih sayang. Mungkin aku memang tak berhasil mendapatkan seorang Shim Changmin, tapi hari itu aku belajar bahwa cinta itu seperti cappuccino yang manis namun juga pahit. Cappuccino itu enak karena ada rasa pahit di dalamnya yang membuatnya berbeda. Begitu pula dengan cinta. Cinta itu indah ketika ada sebuah ’kepahitan’ di dalamnya yang membuatmu merasakan betapa sebenarnya manisnya cinta itu. Tapi, aku ingin sekali mengubah rasa cappuccino ini menjadi cokelat. Kapan ya?

.

.

The End

.

.

Ini hanya cerita selingan dari author untuk melepas stress dari cerita yang lain yang plotnya ternyata lebih berat dari perkiraan -_-”

Untuk yang Broken Doll, sebenarnya sih mau lanjutin, tapi author mau tobat bentar jadinya bikin yang straight deh atau genderswitch. Kalau mikirnya yadong melulu otak author bisa meledak. Apalagi pas ngeliat Junsu ciuman sama namja kemarin di Elizabeth Musical! Otak author sudah ke mana-mana >,<

Oke deh, untuk yang merayakan maupun tidak *duar* thor ucapin

 

HAPPY VALENTINE’S DAY

Akhir kata,

Review? 😉

_verzeihen

Advertisements

16 responses to “Cappuccino

  1. I love MinSu couple..
    Tapi kenapa ada Key segala muncul, lbh baik kyu yg muncul #bawel
    Suka pas junsu nyium minnie, so sweet

  2. so sweet #cubit pipi minnie
    itu pic cappuccino-nya lucu bgt gambar kucing. junsu kan suka bgt kucing.
    el ada ff crack pair jaejoong g? habis aku lg sedikit sebel nich. knp byk ff HoMin tp kok kl Jaejoong ttp aja setia berpasangan ma Yunho. pengen nyari ff indo Jaejoong tp yg pasangannya bukan Yunho ada g y? hahahaha #digantung ma Yunho

    • #ikutancubit #eh
      hahaha…jaejoong suka dipasangin sama yoochun kok klo di ff inggris ~_~ makany yg indo balas dendam kykny wkwkwk
      ada..heechul jaejoong aja ada #plak

  3. “Aku mencoba berdiri. Mencengkeram kuat kalut yang meletup di dada kiriku. Ku edarkan pandangan mencoba kembali mencari jalan. Sial, dimana aku?

    Aku mencoba mengatur napas, masih setia menjajakan mata mencari peluang untuk kembali melangkah. Tidak, tidak, tidak, lebih baik aku beristirahat.

    Tidak, hingga mata ku terpaut pada titik itu.

    Aku mencoba melangkah, walau tertatih. Aku coba sekali lagi, mencoba peruntungan untuk kembali terbuai dalam aroma yang menguar dibalik tikungan jalan setapak itu.

    Tetap perlahan dan tak akan terburu.
    Hingga akhirnya seulas senyum mengembang diiringi cahaya baru.”

    Aigoooooooo.. Minsu..
    Saya gak nyangka bisa nemu couple ini di sini.
    Ah, hati saya jadi tenteram rasanya baca fic ini. Saya baru sadar, akhir-akhir ini saya lebih sering baca fic dengan tema berat. Jadi saya perlu merefreshing kan diri dengan bacaan fluff, crispy, sweet seperti ini XD

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s