Chapter 10 – Faith


Title: Matchmaker

Rated: M!!!

Couple: Yunjae and others

Warn: GS!

Don’t Like Don’t Read! NC!!

Summary: Namanya Kim Jaejoong, matchmaker yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi kehebatannya. Sudah banyak pasangan yang menikah karenanya. Tapi, bagaimana jika mantan suaminya menjadi kliennya?

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

10th Matchmaker

”Faith”

lyjsv

By eL-ch4n

03.02.2013

.

.

Keempat sahabat itu berkumpul di salah satu restoran tempat langganan mereka, menikmati makan siang selagi menghabiskan waktu istirahat kerja mereka. Han Jihyun, seperti biasa selalu membawa kamera dengan warna rambut yang berbeda, kali ini rambutnya dicat berwarna merah tua. Enno, Oktav, dan Jaejoong hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat melihat warna rambut sahabat mereka itu.

”Ya ampun, Jihyun, kau itu bukan artis, kenapa harus mengecat rambutmu setiap saat coba?” seru Enno saat pertama kali matanya menangkap sosok Jihyun dengan rambutnya yang baru.

Jihyun hanya menyengir lebar dan menunjukkan tanda peace dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang kamera. ”Karena aku rasa Jae perlu semangat jadi aku mengecat rambutku berwarna merah,” jawabnya dengan santai sembari berjalan dan duduk di sebelah Enno, berseberangan dengan Jaejoong.

Enno hanya bisa menghela nafas sementara Jaejoong tertawa kecil. ”Aigoo, kau tidak perlu melakukan hal itu, Jihyun-ah, tapi, gomawo,” ujar Jaejoong.

Jihyun tersenyum lebar di balik kameranya yang masih merekam gerakan Jaejoong. Dalam sekejap kameranya langsung diambil oleh Enno yang duduk di sebelahnya mendatangkan amarah dari Jihyun. ”Hei!” seru Jihyun.

”Nanti dulu, sekarang kita mau makan dan aku tidak bisa tenang kalau kau makan dengan memegang kamera,” tegur Enno.

Makanan yang mereka pesan tak lama kemudian datang dan keempat sahabat itu kemudian menikmati makanannya dalam pembicaraan ringan hingga setelah mereka selesai makan, ”Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan, Joongie?” tanya Oktav.

”Sekarang? Aku akan pergi –”

”Bukan! Bukan itu maksudku. Aish,” gerutu Oktav sembari meletakkan alat makannya di atas piring.

Jaejoong terlihat bingung dengan reaksi Oktav yang duduk di sampingnya. Enno menarik nafas dan kemudian berkata setelah mengelap mulutnya. “Maksudnya Oktav, jadi bagaimana dengan kau dan Yunho?”

Mendengar pertanyaan itu, Jaejoong terkejut sejenak sebelum memasang senyuman yang dipaksakannya. Dia menggelengkan kepalanya. ”Yunho dan aku baik-baik saja kok. Changmin juga sudah mulai akrab dengan Hyun Joong. Jadi semuanya sudah membaik.” Ekspresi Jaejoong terlihat murung, seperti ada emosi yang tak bisa terungkap oleh kata-kata.

Oktav kemudian memutar badan Jaejoong dan berhadapan dengan sahabatnya itu. ”Bukan itu maksudku dan kau mengalihkan pembicaraan. Aku rubah pertanyaanku. Apa yang akan kau lakukan terhadap hubunganmu dengan Yunho? Sekarang?” tanya Oktav dengan penekanan pada kata ’sekarang’.

Jaejoong kembali merenung. Dia menggigit bibir bawahnya tanda bahwa dia masih kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa. ”Aku…” bisiknya pelan.

Ketiga sahabatnya tahu arti ekspresi dari Jaejoong dan mereka hanya bisa menghela nafas. Jaejoong masih mencintai Yunho, selalu dan akan. Itu adalah hal mutlak yang mereka tahu. Hanya saja sesuatu yang bernama kepercayaan membuat Jaejoong meragukan perasaannya terhadap Yunho.

Ah, cinta. Yunho mencintai Jaejoong dan karena itu dia menceraikan yeojya itu agar tidak terseret dalam bahaya. Jaejoong mencintai Yunho dan karena itu dia merasa kecewa tak diizinkan untuk bersama dengan namja itu. Sebuah paradoks kehidupan.

Clap.

Sebuah suara tepukan tangan yang keras membuat mereka terkejut, terkecuali yang bertepuk tangan tadi (baca: Han Jihyun). Mereka kemudian menatap ke arah sahabat mereka yang agak –coret – eksentrik – coret – ini. Sebuah senyuman lebar terukir di wajah Jihyun. ”Aku tahu!”

”Apa yang kau tahu?” tanya Enno.

”Tapi sebelum itu, aku mau bertanya. Sebenarnya, kau sudah memaafkan Yunho atau belum, Jae?” tanya Jihyun dengan wajah yang serius membuat Jaejoong tersentak.

Kalau mau dijawab dengan jujur, Jaejoong sudah memaafkan Yunho sejak lama, sejak namja itu berada di sampingnya saat dia membuka mata. Saat namja itu meminta maaf kepada dirinya, Jaejoong sudah lama memaafkan Yunho. Jaejoong mengangguk perlahan atas pertanyaan Jihyun.

”Kalau –”

”Tunggu,” sela Oktav. ”Kau sudah memaafkan Yunho?” Jaejoong mengangguk lagi. ”Lantas kenapa kau tidak segera merebut dia kembali?”

”Ta – ”

”Demi apapun! Ya Tuhan, kalau kau sudah memaafkannya, ambil dia kembali.”

”Tidak semudah itu,” gumam Jaejoong, lebih kepada dirinya sendiri. Menerima Yunho berarti harus mengulang kembali seolah semuanya dari awal dan dia akan kembali teringat pada masa 1 tahun tanpa Yunho yang begitu menderita yang harus dia lewati.

”Jae,” tegur Oktav membuat kepala Jaejoong terangkat. ”Dengar, Yunho itu namja yang tampan, masih muda, dan terlebih lagi mapan. Oke, mungkin Changmin akan sedikit ’menghambat’ Yunho.” Oktav menggunakan jarinya untuk meng-quote kata ’menghambat’. ”Tapi tidak sedikit banyak wanita di luar sana yang menginginkannya. Hei, saat kita berbicara di sini, siapa yang tahu? Mungkin si Kim Ryeowook yang kau bilang itu sedang melakukan aksi terhadap Yunho?”

Jaejoong terdiam membenarkan perkataan Oktav. Benar, dia tahu bahwa Yunho adalah namja yang tersempurna yang dia bisa terima, tapi entahlah, ada sesuatu yang menahan dirinya.

”Dia tidak menghubungimu lagi, bukan begitu?” tanya Jihyun dengan perlahan. Semua mata menatap ke arah Jihyun, tidak terkecuali Jaejoong yang perlahan mulai mengangguk.

”Sejak dia meminta maaf, dia tidak menghubungiku lagi,” gumam Jaejoong. Yunho tidak pernah lagi mengontak Jaejoong sejak saat itu. Hanya sesekali dan itu pun saat sedang mengantarkan Changmin ke tempat Jaejoong sekaligus untuk menanyakan keadaan namja itu. Selain itu, Yunho hanya memberikan senyuman khas dirinya dan mengucapkan salam kemudian pergi dari hadapan Jaejoong.

Jaejoong tidak mengerti. Jika Yunho ingin dirinya kembali, kenapa namja itu tidak berbuat sesuatu? ”Dia memberimu waktu, bukankah itu yang kau inginkan?” tanya Jihyun yang seolah menjawab pertanyaan di kepala Jaejoong.

”Iya, tapi dia bisa mencoba untuk mengontakku setidaknya,” gumam Jaejoong.

”Jae, kurasa yang kau inginkan sebenarnya bukanlah sebuah kepastian bahwa kau masih mencintai Yunho. Tidak, kau mencintainya, sangat, dan yang sebenarnya kau rasakan adalah kekesalan karena dia tidak lagi melakukan tindakan untuk memperbaiki hubungan kalian. Kalau boleh aku bilang, dia tidak salah,” Jaejoong menatap Jihyun. ” – sepenuhnya,” lanjut Jihyun lagi.

”Ya, Jihyun-ah!” seru Enno.

”Tunggu, Enno, Jihyun got a point,” lanjut Oktav.

Jihyun menarik nafas untuk melanjutkan kalimatnya lagi. ”Jadi, seperti apa yang kukatakan tadi. Dia menantimu, seperti yang kau minta, meski tidak secara langsung. Oh, Jae, kau seperti tidak tahu Yunho. Kau suruh dia lompat ke Samudera Atlantik untuk mendapat maaf darimu saja aku yakin akan dia lakukan untukmu!” ujar Jihyun dengan nada yang mendramatisir. Jika dalam kartun, ketiga sahabatnya memiliki lambang air di samping wajah mereka atau yang dikenal sweat drop (?)

”Jihyun,” tegur Oktav.

”Oh, oke,” Jihyun berdeham lagi untuk kembali serius. ”Yah, intinya sebenarnya kau yang harus bergerak Jaejoong, jika kau masih menginginkan Yunho tentunya,” tambah Jihyun.

”Aku –” gumam Jaejoong yang terlihat kebingungan.

“Kalau kau tidak mau, biarkan saja Yunho sama Ryeowook. Mendengar apa yang kau katakan tentang Ryeowook, sepertinya dia gadis yang manis,” sela Jihyun. “Atau mungkin sama BoA? Kau tahu BoA tentunya? Sainganmu sejak kuliah itu? Kurasa mereka co –”

”YUNHO PUNYAKU!” seru Jaejoong sembari memukul meja dengan kedua tangannya dan berdiri membuat ketiga sahabatnya terkejut.

” – cok.” Jihyun menyeringai. ”Jadi, apalagi yang kau tunggu? Ambil dia dan rebut dia kembali. Dia sedang menantimu, Jae, dan siapa yang bilang kalau wanita yang harus selalu menunggu?” Dia mengedipkan matanya ke arah Jaejoong yang sudah kembali duduk dengan wajah yang merah karena malu.

”Ta…tapi apa yang harus kulakukan?”

Kali ini Enno yang membuka mulut, ”Well, cara lama? Cara paling mudah untuk mendapatkan pria adalah melalui perutnya?”

”Atau kau bisa tidak usah memakai apapun dan muncul di depan kamarnya,” sela sebuah suara lain yang mengejutkan keempat sahabat tersebut.

Keempat kepala itu memutar untuk melihat sumber suara yang tidak lain adalah Tan – Kim – Heechul yang sedang menyengir lebar. Heechul segera menarik kursi dari meja dekat mereka untuk bergabung dengan Jaejoong dan sahabatnya. ”Heechul!” seru Oktav dengan nada yang tak bisa dijelaskan. Sepertinya dia masih marah karena Heechul menembak Jaejoong.

”Oke, Oktav, aku sudah meminta maaf mengenai penembakan itu, jadi sekarang bisa kita kembali ke topik?” Oktav hanya menghela nafas panjang dan mengangguk. Heechul kemudian menyengir menghadap ke arah Jaejoong. ”Jadi bagaimana? Ideku cukup menarik kan? Cukup kau tidak memakai – Aduh!” seru Heechul kesakitan karena kepalanya dipukul oleh Enno yang duduk di sebelahnya. ”Aish, Enno, aku hanya bercanda tahu. Kalian ini, aduh, sakit,” gerutu Heechul.

”Sebenarnya, aku punya ide, tapi karena Heechul, aku jadi punya ide yang lebih menarik!” seru Jihyun yang kembali menepuk tangannya. Semuanya kemudian menatap sahabat mereka yang sedikit –coret – eksentrik –coret – itu dan mendengarkan idenya.

Muncul berbagai reaksi setelah ide Jihyun diceritakan. Mulai dari cengiran lebar Heechul, helaan nafas Enno, wajah serius Oktav hingga muka merah seperti tomat Jaejoong. ”Ide yang bagus!” seru Heechul. Sepertinya dia satu-satunya yang begitu tertarik dengan ide Jihyun dibandingkan yang lainnya.

”Aku, tapi –”

”Kurasa boleh juga,” sela Oktav. Enno dan Jaejoong menatap Oktav seolah tak percaya. Jika ada yang paling waras dan berpikir rasional di antara mereka itu adalah Oktav dan jika Oktav setuju, terdapat dua pilihan a) ide Jihyun memang bagus atau b) mereka sudah benar-benar tidak ada opsi lagi.

”Kau benar-benar pikir itu ide yang bagus?” tanya Jaejoong perlahan.

Oktav mengangguk sembari tersenyum. ”Tentu saja, tak ada salahnya mencoba bukan?”

”Oke, kalau begitu akan kusiapkan barang-barang yang diperlukan,” ucap Heechul sembari mengedipkan matanya sebelum pergi.

”Dan aku akan menyiapkan kamera yang baru untuk mengambil foto Jaejoong seperti biasa,” seru Jihyun.

”Kamera lamamu?” tanya Enno sembari mengangkat kamera milik Jihyun yang dia ambil tadi.

Jihyun menyengir lebar. ”Ah, buatmu saja, aku harus membeli yang terbaru untuk mengambil foto Jaejoong,” ujar Jihyun dengan nada ringan. Dia berjalan keluar dengan langkahnya yang seperti menari. Dia bersiul pelan sebuah nada ceria sesuai dengan senyuman lebar di wajahnya.

Enno dan Oktav hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabat mereka. Dengan ini berarti sudah 10 kamera yang ’diberikan’ Jihyun kepada Enno dan sekaligus entah kamera keberapa yang dibeli oleh sahabat mereka itu. Terkadang mereka berpikir apa pekerjaan Jihyun dan apa gadis itu juga bekerja melihat hidupnya hanya berkisar tentang Jaejoong dan Jaejoong. Ah, tapi sudahlah, sekarang adalah saatnya bagi Jaejoong untuk mengatakan kepada Yunho bahwa namja itu hanya miliknya.

.

.

Jadi di sinilah Kim Jaejoong berada, di depan gedung kerja Yunho, Jung Corporation, dengan sesuatu berbentuk kotak di dalam genggamannya. Dia mengecek kembali baju yang dia kenakan, dress putih tanpa lengan dengan renda di setiap ujungnya. Dress itu pendek, hanya sebatas lututnya saja dan karena itu dia mengenakan stocking hitam untuk menutupi pahanya yang berwarna putih mulus. Banyak namja yang meliriknya dan sedikit membuat Jaejoong resah. Dia tidak terlalu suka memakai pakaian terbuka karena itu bukan dirinya, tapi kata Jihyun dan Heechul, ini diperlukan dalam ’misi’ mereka. Jaejoong hanya bisa menghela nafas atas apa yang telah membawanya dalam ’misi’ mereka.


Girl_Jaejoong_20072010223321

Kurang lebih ini dress Jaejoong ^^V tapi tambahkan stocking ya? kkk~

Dia mengumpulkan keberaniannya dan berjalan memasuki gedung di hadapannya. Tampaknya masih ada beberapa dari pekerja di sana yang mengingat Jaejoong karena mereka menunduk memberi hormat kepada yeojya itu. Ah, siapa yang tidak tahu Kim Jaejoong? Istri dari sang pemilik Jung Corporation itu? Sang resepsionis yang bernama Jessica, terlihat dari papan nama di atas meja resepsionis, tersenyum lebar melihat Jaejoong. ”Jaejoong-shi! Sungguh kejutan anda mampir kemari, ada yang bisa saya bantu?” serunya dengan nada riang. Dia bahkan berdiri dan menyalami tangan Jaejoong seperti sahabat lama. Jika bukan karena meja yang menghalangi mereka, Jaejoong bisa membayangkan gadis itu akan memeluknya.

Jaejoong menggaruk-garuk lehernya dan mengangguk. ”Yunho ada?” tanyanya perlahan.

Jessica tersenyum lebar seolah tahu apa yang dimaksud oleh Jaejoong dan mengangguk dengan antusias. ”Tentu saja, silakan naik lift dan ke lantai 5, akan saya beritahukan pada Minzy bahwa anda akan tiba.” Jaejoong mengangguk mengucapkan terima kasihnya. Dia masih tidak mengerti kenapa Jessica tersenyum begitu lebar seolah ada sesuatu yang membahagiakan gadis itu.

Setelah Jaejoong masuk ke dalam lift, Jessica tiba-tiba teringat sesuatu dan ingin mengejar yeojya itu, tapi pintu lift sudah tertutup. Dia menepuk dahinya. ”Aduh, aku lupa memberitahu bahwa BoAk-shi juga sedang datang berkunjung. Ah, mungkin BoA sudah selesai juga. Ya sudahlah,” gumam Jessica yang kembali ke meja kerjanya.

.

.

Bunyi ’ding’ menandakan bahwa Jaejoong sudah tiba pada lantai yang dia tuju. Dia mengangguk melihat beberapa orang yang dia kenal dan kemudian berjalan menuju ke meja sekretaris pribadi Yunho, yang jika Jaejoong tidak salah ingat, bernama Minzy. Minzy adalah seorang gadis muda dengan potongan rambut bob hitam yang memiliki wajah imut. Tidak dipercaya kalau gadis muda ini dipercayakan oleh Yunho untuk menjadi sekretaris pribadinya. Sepertinya Minzy juga baru direkrut dalam 1 tahun ini karena Jaejoong belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Jaejoong merasa tidak nyaman memikirkan bahwa Yunho bersama dengan gadis muda ini setiap hari. Jaejoong bahkan tidak tenang ketika membayangkan bahwa Yunho – aish sudahlah Jaejoong, kau ke sini bukan untuk merenung kembali.

”Ada yang bisa saya bantu? Ah, anda Jaejoong-shi, benar?” tanya Minzy. Jaejoong mengangguk sembari tersenyum kecil.

Minzy berdiri dan segera mengantarkan Jaejoong ke depan ruang kerja Yunho dan segera meninggalkan Jaejoong untuk menentukan langkah selanjutnya. Setelah mengambil nafas panjang, Jaejoong mengetuk sekali untuk memberitahukan keberadaannya dan perlahan membuka pintu kerja Yunho.

Terkejut adalah kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan Jaejoong dan jangan lupakan juga dengan kata cemburu dan amarah. Apa yang dilihat Jaejoong, kalian tanya? Di ruangan kerja itu, sayangnya, Yunho tidak sendiri. Mantan suaminya itu tengah duduk di kursi kerjanya sementara di samping berdiri gadis yang dia kenal dan dia benci. BoA sedang berdiri di samping Yunho dan sedang membukakan bekal (atau makanan restoran, Jaejoong tidak yakin BoA bisa memasak) yang dibawanya. Yunho sendiri terlihat cuek dan melanjutkan untuk mengerjakan pekerjaannya.

”Err…” gumam Jaejoong. Sontak Yunho berdiri ketika mendapati Jaejoong berada di depan pintu. Matanya membesar melihat apa yang dikenakan Jaejoong.

Pandangan Yunho terhadapnya membuat Jaejoong merasa tidak nyaman. ”Yun..ho? Kau sedang sibuk?” tanya Jaejoong perlahan.

”Tidak…tidak, aku sudah selesai.” Yunho segera membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya dan tidak menghiraukan wajah cemberut dari BoA. Dia segera menghampiri Jaejoong dan menarik tangan putih yeojya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya. Ketika dia berbalik, dia menyadari keberadaan BoA dan berkata kepada gadis itu. ”Ah, BoA-shi, jika tidak ada apa-apa lagi, boleh tinggalkan saya sendiri?”

Jaejoong dapat melihat BoA terlihat kesal dan menatapnya tajam. Entah kenapa, Jaejoong merasa senang dapat menang dari yeojya yang sejak dulu menjadi musuh bebuyutannya. Dia melihat BoA yang keluar setelah membereskan bekal yang dibawa gadis itu. Sebelum pergi, BoA sekali lagi menatap tajam ke arah Jaejoong seolah ingin menelannya hidup-hidup, tapi Jaejoong hanya menyengir lebar.

Setelah BoA pergi, di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua dan Jaejoong baru ingat dengan keadaannya. Dia memutar kepalanya untuk mendapati Yunho menatapnya dengan gugup. Namja itu berkali-kali menggaruk lehernya yang Jaejoong sudah tahu sebagai tanda bahwa namja itu sedang gugup dan tidak tahu harus mengucapkan apa.

”Yunnie, aku bawa bekal untukmu,” ujar Jaejoong dengan ceria. ”Aku membuatnya sendiri,” tambah Jaejoong ketika tidak mendapat respon dari Yunho.

Namja itu masih menatap tak percaya ke arah Jaejoong yang sudah mengeluarkan puppy eyes andalan yeojya itu. ”Yunnie tidak suka?” tanya Jaejoong dengan wajah cemberut.

”Ah, tidak, tidak, sini, aku akan makan. Kau kan tahu aku selalu suka masakanmu, Joongie,” ujar Yunho dengan cepat. Dia segera meraih bekal makanan di tangan Jaejoong yang akan ditarik oleh yeojya itu tadi. Yunho menyadari bahwa kotak makan yang dibawa Jaejoong hanya satu dan cukup besar. Oleh karena itu, dia bertanya kepada yeojya itu. ”Jae? Kenapa kau cuma bawa satu?”

Mendengar pertanyaan Yunho, Jaejoong tersenyum lebar. Dia kembali mengambil bekal makanan dari tangan Yunho. ”Kotak makannya cuma satu karena kita akan makan bersama. Ini sumpitmu dan ini sumpitku,” seru Jaejoong seraih memberikan sumpit kepada Yunho.

Yeojya itu segera membuka kotak makan dan mulai menyiapkan hal lain yang diperlukan. Dia tidak menyadari bahwa Yunho sedang menatapnya dengan lembut, penuh dengan cinta. ”Yunnie?” Ucapannya membuat Yunho tersadar kembali dan menatapnya. ”Ayo kita makan!” serunya. Namja itu tertawa. Keduanya kemudian menatap bekal yang menggoda selera di hadapan mereka. Sesekali saling mengeluarkan canda seperti dulu. Gelak tawa kemudian memenuhi ruangan kerja Yunho selama jam makan siang.

.

.

”Errm, Jae?” panggil Yunho. Keduanya sudah selesai makan dan Jaejoong sedang memasukkan kembali kotak bekal yang dibawanya tadi.

”Hmm?” sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari kotak bekal yang sedang dia rapikan.

Yunho menggaruk-garuk kepalanya. ”Itu, nanti malam, kau mau memasak untuk Changmin?” tanya namja itu dengan perlahan.

Jaejoong yang sudah selesai merapikan kotak bekal segera menghadap Yunho. ”Tentu saja! Aku tidak keberatan!” seru Jaejoong.

Helaan nafas lega keluar dari mulut Yunho mendengar jawaban dari yeojya itu. Dia terkejut ketika sesuatu yang halus menyentuh pipinya. Sontak dia menepuk tangan yang menyentuhnya tadi. Jaejoong tersentak kaget, namun kemudian dia terkekeh pelan. ”Kenapa kamu, Yunnie? Aku hanya mau mengambil nasi yang ada di mulutmu. Kamu ini, tetap tidak berubah, tidak bisa makan dengan rapi,” celoteh Jaejoong. ”Eh, itu maksudku,” ujar Jaejoong kelabakan.

”Ah, tidak apa-apa,” sela Yunho dengan senyuman lembut. ”Di mana nasinya?” Dia kemudian menggunakan tangannya untuk meraih nasi yang kemungkinan ada di sekitar mulutnya. Jaejoong kembali terkekeh. ”Di sini?” Jaejoong menggelengkan kepalanya.

Kekehan Jaejoong semakin menjadi hingga akhirnya dia menarik tangan Yunho dan kemudian mengambil butiran nasi itu dengan tangannya sendiri. ”Aish, Yunnie, kau itu,” bisik Jaejoong. Setelah pipi Yunho bersih dari butiran nasi, keduanya kemudian tersadar dengan jarak mereka yang begitu dekat.

Jaejoong sedikit mendongak ke atas karena tinggi mereka yang berbeda dan keduanya saling bertatapan dengan intens. Perlahan, tidak ada yang tahu siapa yang memulai, keduanya mulai mendekatkan kepala mereka dan menutup mata mereka. Ketika hidung mereka saling bersentuhan dan saat keduanya bisa merasakan deru nafas masing-masing, pintu ruang kantor Yunho diketuk.

Secepat kilat keduanya memisahkan diri dan Jaejoong pura-pura membereskan debu yang tidak ada dari pakaiannya saat pintu ruang kantor Yunho terbuka, menampilkan sosok Minzy dengan balutan kemeja putih dan rok hitam. ”Yunho-shi? Saya mau mengingatkan rapat anda dengan Tuan Lee 15 menit lagi. Saya harap anda sudah siap-siap,” tegur Minzy. Yunho mengangguk dan membereskan dasi yang tidak kusut sama sekali.

”Ada apa lagi Minzy?” tanya Yunho saat dia melihat sekretaris pribadinya itu belum pergi juga.

”Aku mau melakukan briefing tentang isi rapat nanti dengan anda, Yunho-shi,” jawab Minzy dengan nada heran. Sepertinya berkas yang dipegang Minzy pada tangan kirinya sekarang untuk diskusi mereka.

”Oh,” bisik Yunho. Dia baru teringat kalau sekretaris pribadinya itu selalu melakukan briefing untuk mengingatkan dia tentang hal-hal penting agar dia tidak lupa.

Merasa bahwa itu adalah tanda bahwa dia harus pergi, Jaejoong mengambil kotak bekalnya. ”Kalau begitu aku pergi dulu, Yun…nie,” bisik Jaejoong. (Mantan) Pasangan suami istri itu tersipu malu sementara Minzy hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mereka.

”Tunggu Jae, kau jadi kan? Nanti malam?” tanya Yunho sembari menangkap pergelangan tangan Jaejoong.

”Iya, tentu saja, kalau begitu biar aku saja yang menjemput Changmin nanti. Dia punya kunci rumah kan?” tanya Jaejoong yang dijawab dengan anggukan. ”Oke, kalau begitu sampai jumpa nanti malam, Yunnie.” Ketika melewati Minzy yang membukakan pintu untuknya, Jaejoong mengangguk yang dibalas oleh sekretaris itu juga. Setelah keluar dari ruangan itu, Jaejoong tidak tahu bahwa Yunho melompat kegirangan seperti anak kecil yang mendapat undian. Dia juga tidak melihat bahwa Minzy menggelengkan kepala dengan pasrah melihat kelakukan kekanakan bosnya.

.

.

Menjemput Changmin seharusnya hal yang mudah jika saja anak itu tidak merengek mengatakan ingin menghabiskan waktu dengan Hyun Joong. Akhirnya yang bisa Jaejoong lakukan adalah mengalah pada puppy eyes anak itu yang dia pelajari entah dari siapa (dari dirinya, mungkin? Sepertinya karma sedang berlaku padanya). Setelah memastikan bahwa Changmin sudah tiba dengan selamat di apartemen Hyun Joong dan mengambil kunci rumah darinya, Jaejoong kemudian melanjutkan ’misi’.

Semua yang berada di rumah itu begitu nostalgia. Dapur yang sudah lama tidak dia sentuh, ah, dia baru-baru ini pernah menyentuhnya saat memasakkan makanan untuk Changmin. Mukanya bersemu merah saat mengingat kejadian waktu itu. Ketika dia sedang mengganti baju dan Yunho datang – Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memutuskan untuk menyiapkan peralatan memasak.

Dia memutuskan untuk memasak yang sederhana saja, sup kesukaan suaminya itu. Dia mengeluarkan bahan-bahan yang dia baru beli dan mencoba untuk bertaruh dengan lemari es. Betapa terkejutnya ketika dia melihat bahwa lemari es itu sudah penuh seolah dipersiapkan untuknya. Jaejoong tersenyum membayangkan kalau Yunho menyuruh Minzy untuk membeli semua bahan ini setelah dia pergi. Ah, dia tahu benar sifat (mantan) suaminya itu.

Tak berapa lama saat dia sedang mencicipi sup, pintu rumah terbuka. Dia mendengar langkah kaki yang menuju dapur, tetapi dia terlalu sibuk untuk menambah bahan-bahan untuk supnya. ”Hmm…aku mencium bau yang enak.” Sebuah suara yang dia kenal menyapanya. Jaejoong tersenyum dan berbalik menatap Yunho.

”Sudah pulang, Yun? Selamat datang,” ucap Jaejoong seperti dulu.

Jika dalam komik-komik, maka dagu Yunho akan menyentuh lantai. Bagaimana tidak? Jaejoong mengenakan pakaian rumah biasa yang memeluk tubuh yeojya itu dengan baik, tetapi bukan itu yang membuat Yunho terkejut. Celemek putih berenda yang dipakai Jaejoong membuat yeojya itu terlihat semakin manis dan menggemaskan. Terlebih dengan pipi temben Jaejoong yang memerah karena terus dilihat seperti itu.

Intinya. Jaejoong sangat cantik dan jika – coret – Yunho tidak bisa mengontrol dirinya, mereka akan berakhir di – coret.

Yunho meneguk ludahnya. ”Jae? Kau masak apa?” tanya Yunho setelah berhasil mengontrol dirinya.

Jaejoong tersenyum lebar dan kemudian menyuruhnya untuk duduk. Yunho, yang masih memakai seragam kerja, duduk di kursi makan dan melihat banyak makanan yang sudah disajikan oleh (mantan) istrinya itu. ”Hei, aku bukan Changmin. Aku tidak bisa makan sebanyak ini,” candanya. ”Oh ya, ngomong-ngomong, di mana Changmin?”

Mendengar nama Changmin, Jaejoong menjadi tegang. Dia menunduk dan menghindari tatapan Yunho. ”Err…” Jaejoong menggigit bibir bawahnya. ”Changmin bilang dia mau bersama dengan Hyun Joong…jadi…”

Keduanya hening beberapa saat hingga akhirnya Yunho mengambil kesimpulan bahwa malam ini dia hanya akan berdua saja dengan Jaejoong. Entah dia harus bersyukur atau mengutuk atas takdirnya itu.

”Aku akan siapkan supnya,” ujar Jaejoong cepat untuk mengalihkan pembicaraan.

”Ah, ne,” balas Yunho.

Setelah semua masakan telah tersajikan, keduanya makan dalam keheningan. Tak tahan dengan suasana aneh di sekitar mereka, Jaejoong mencoba membuat pembicaraan. ”Jadi bagaimana harimu, Yunnie?”

”Ah? Eh? Baik. Ya, selain dari tumpukan menggunung dari Minzy, semuanya baik-baik saja,” jawab Yunho dengan sarkasme. Jaejoong terkekeh. Mendengar tawa kecil Jaejoong, Yunho tersenyum. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar suara tawa dari yeojya itu. ”Jae,” panggil Yunho dengan lembut.

”Hmm?” tanya Jaejoong.

Yunho meletakkan sumpit dan mangkok yang berisi setengah nasi ke atas meja. Dia menatap Jaejoong dengan intens. ”Mengenai kita…” Yunho tidak tahu bagaimana untuk melanjutkannya. Dia akhirnya memutuskan untuk menyuruh Jaejoong melupakannya saja. ”Ah sudahlah, ayo kita makan lagi.” Dia mengambil sumpitnya dan mangkok nasinya, mencoba untuk menikmati makanan di tengah suasana aneh di antara mereka.

”Yunnie!” seru Jaejoong membuat Yunho tersentak. ”Sebenarnya…sebenarnya kau masih menginginkanku atau tidak?” isak Jaejoong. Dia tidak menangis, tapi suaranya begitu serak sehingga Yunho hampir berpikir bahwa yeojya itu tengah menangis. ”Kau tidak pernah lagi menghubungiku sejak saat itu, sejak kau meminta maaf. Itu sudah hampir 1 bulan, Yun! Sebenarnya kau serius atau tidak?!”

”Jae –”

”Kau dikelilingi wanita cantik, ada BoA, Jessica, bahkan sekretaris pribadimu, Minzy! Aku…kau tidak tahu Yun, waktu kau meminta cerai, aku takut bahwa sebenarnya kau hanya menggunakan pekerjaanku sebagai alasan. Bahwa kau sebenarnya sudah melihat wanita lain. Memang salahku karena kurang perhatian, tapi aku…hiks…” isak Jaejoong.

”Jae…” bisik Yunho.

”Kemudian ternyata itu semua karena Hyun Joong dan pekerjaanmu yang lain. Aku kecewa, Yun. Maksudku, apa kau tidak menganggapku cukup layak hingga kau merahasiakan ini dariku? Atau kau meminta maaf hanya karena merasa harus kau lakukan? Jangan-jangan kau sendiri bersama dengan yeojya yang bernama Shin Young atau siapa namanya itu!”

Jaejoong terus mengeluarkan unek-uneknya, segalah keluh kesah, dan ketakutannya selama ini. Dia terlalu sibuk menutup mata dan mengeluarkan semua perasaannya hingga tak menyadari saat Yunho sudah berada di depannya. ”Jae,” bisik Yunho dengan tegas. Perlahan Jaejoong menghentikan ucapannya dan membuka matanya.

Dilihatnya Yunho tengah menatapnya dengan lembut. Tangan namja itu meraih pipinya dengan perlahan. ”Maafkan aku, aku…aku tidak tahu bahwa selama ini kau selalu merasa tidak tenang. Jika ada satu hal yang tak boleh kau ragukan, itu adalah perasaanku padamu. Kim Jaejoong, aku, Jung Yunho, sangat mencintaimu, sangat. Maaf karena salahku salah. Aku tidak mau menyeretmu. Aku takut. Membayangkan bahwa bisa saja yang terjadi Jihye tertimpa padamu, aku menjadi takut. Karena itu aku melepaskanmu, Jae.”

Yunho menarik nafas. Satu tangannya yang lain kemudian meraih pipi Jaejoong yang satunya sehingga sekarang kedua tangannya sudah memegang pipi Jaejoong. ”Aku berjanji saat itu jika aku menyelesaikan semuanya dan kau masih belum menemukan penggantiku, aku akan merebutmu kembali. Aku. Aku hanya tidak menduga semua akan menjadi seperti ini. Saat kau di rumah sakit, aku ketakutan. Ketakutan itu kembali. Aku bahkan tidak berani membuka mataku karena tak ingin melihat dirimu yang hilang kesadaran.”

Bulir bening itu perlahan mengalir dari mata Yunho menemani Jaejoong yang wajahnya sudah basah. Dia menarik tubuh mungil Jaejoong dalam pelukannya. ”Aku mencintaimu, selalu, dan saat melihat wajahmu. Aku tahu bahwa kau butuh wakut. Aku pikir dengan tidak menghubungimu, kau bisa berpikir. Aku menunggumu, aku tak tahu harus bagaimana.”

Plak.

Jaejoong menepuk pipi Yunho, tapi tidak terlalu keras. ”Dengar, sudah cukup dengan minta maafnya. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mencoba untuk mengubah masa depan kita. Apakah kau mau?” tanyanya dengan sebuah senyuman yang dihiasi dengan air matanya.

Yunho mengangguk. ”Tentu saja. Saranghae, Kim Jaejoong, saranghae,” bisiknya sembari mengecup air mata Jaejoong.

”Ne….saranghae, Yunnie-ah,” bisik Jaejoong dengan lembut.

Tidak ada satu kata pun yang bisa mendeskripsikan perasaan Yunho selain bahagia ketika mendengar kata itu dari Jaejoong. Dia segera memeluk Jaejoong lagi. ”Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi,” bisiknya.

.

.

Semuanya terjadi begitu cepat. Keduanya tidak tahu bagaimana menjelaskan kenapa mereka bisa berada di atas tempat tidur dengan bibir yang saling menempel seperti tak ingin lepas satu sama lain. Tubuh yang saling bergesekkan meminta sentuhan lebih. Tangan Jaejoong yang melingkar di leher Yunho, menarik suaminya – ya, sekarang mereka sudah bukan mantan lagi – untuk memperdalam ciuman mereka.

Kemeja yang dikenakan Yunho sudah tergeletak di atas lantai memperlihatkan tubuh dan ototnya yang sempurna. Jaejoong menjilat bibirnya sementara tangannya bergerilya pada tubuh polos yang terpampang di hadapannya. ”Ahh…Jae,” desah Yunho. Dia menarik tangan Jaejoong dan kembali mencium bibir Jaejoong membuat bibir merah itu semakin memerah karena panasnya ciuman mereka.

Tangan Yunho menghentikan gerakan Jaejoong yang ingin melepaskan celemek yang dikenakannya saat itu. Dia menatap Yunho dengan bingung. ”Jangan, aku ingin kau hanya memakai celemek itu saja,” bisiknya di telinga Jaejoong, salah satu titik sensitif istrinya.

Muka Jaejoong tersipu malu. Meskipun lampu kamar tidur mereka (ya, mereka sedang melakukannya di tempat tidur yang ada di kamar mereka dulu) remang-remang, Yunho dapat melihat wajah malu Jaejoong dan menyeringai. ”Hmm, mari kubantu,” bisiknya. Dia menggigit daun telinga Jaejoong sesaat sebelum membantu membuka baju Jaejoong tanpa menanggalkan celemek yang masih setia menempel di tubuh yeojya itu.

Yunho bersedia membayar berapapun untuk menghentikan waktu agar menikmati pemandangan yang tersuguhkan di hadapannya. Tubuh Jaejoong yang polos. Celana dan kaos yang dikenakan Jaejoong sudah menyusul kemeja Yunho di atas lantai. Hanya celemek yang menutupi surga yang akan dinikmatinya nanti. Yunho menjilat bibirnya. Gerakan Jaejoong menggigit bibir bawahnya tidak membantu Yunho dan malah membuat dia semakin bergairah.

Tanpa menunggu waktu lagi, Yunho memulai aksinya. Lidahnya terjulur menjilati salah satu tonjolan yang terhalangi oleh celemek putih itu. Tangannya dengan lihai memilin tonjolan yang lain yang juga berada di balik celemek. ”Ahh…Yunn….ahhh…”

Ini Yunho yang dia kenal. Yunho yang mencintainya. Yunho yang begitu perhatian. Yunho yang – coret – pervert – coret. ”Yunnie…hmm…ah…~” Dia terus mendesah di bawah gerakan tangan Yunho yang lihai. Tidak perlu waktu lama untuk tonjolan di kedua buah dadanya menegang di balik celemek yang basah karena ludah Yunho.

”Hmm…kau…slurp…nikmat…hmm…” bisik Yunho. Jaejoong sudah tidak dapat membalas perkataan Yunho karena kenikmatan diberikan Yunho kepadanya.

Suaminya itu menggunakan tangannya yang satu meraba bagian bawahnya, tapi belum sampai ke bagian intim. Yunho melakukannya di atas celemek yang dia gunakan sehingga kain halus itu bersentuhan dengan kulitnya, mendatangkan sensasi lain yang semakin membuat dirinya bergairah. Bibir Yunho kembali bertemu dengan bibirnya dan kali ini kedua tangan suaminya itu bermain dengan kedua tonjolan di dadanya. Desahan demi desahan terus keluar dari mulutnya, menjadi latar musik dari kegiatan mereka.

Saat tautan mereka terlepas, lidah Yunho bergerak ke arah lain, turun ke leher Jaejoong. Berdiam di sana sejenak sebelum kemudian memberi gigitan-gigitan kecil sebagai tanda kepemilikan. ”Ohh…ahh…Yunn…~” Badan Jaejoong terus bergerak ketika titik sensitifnya tersentuh oleh bibir Yunho itu. Dia mencoba untuk mendorong Yunho dan setelah berhasil, dia mengubah kedudukan mereka. Kali ini Yunho yang berada di bawahnya.

Yunho yang pertama bingung, kemudian tersenyum saat melihat apa yang telah dia lakukan pada Jaejoong. Rambut yeojya itu basah karena keringat, tapi terlihat bersinar oleh pantulan lampu. Bibirnya semakin merah dan terlihat begitu kissable dan memabukkan. Matanya memancarkan hawa nafsu. Tangan Jaejoong perlahan bergerak di atas badan Yunho yang polos, melakukan gerakan seolah sedang memijat namja itu. Dia kemudian mencium bibir Yunho dengan ganas dan perlombaan dominasi dimulai yang sekali lagi dimenangkan oleh Yunho.

Sebelum lepas kendali, Jaejoong segera menghentikan ciuman mereka dan bergerak ke leher Yunho, melakukan hal yang sama pada leher namja itu seperti yang dilakukan terhadapnya. Lama tidak berhubungan dengan Yunho membuat Jaejoong merasa begitu bersemangat. Seperti semua keinginan terpendamnya dikeluarkan. Begitu pula dengan Yunho.

Jaejoong menepuk tangan Yunho yang ingin menyentuhnya. Dia menggunakan jari telunjuknya dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan seolah mengatakan bahwa belum saatnya. Dengan ekspresi yang seduktif, dia mulai membuka celemek yang dia kenakan. Begitu perlahan hingga sedikit menyiksa Yunho. Dia memosisikan diri untuk duduk di atas perut Yunho hingga suaminya itu bisa melihat lebih jelas aksinya. Ketika celemek putih itu sudah terlepas, tubuh polos Jaejoong tampak membuat Yunho menjilat bibirnya.

Tangan Jaejoong meraih tangan Yunho untuk menyentuh kedua buah dadanya dan itulah yang dilakukan Yunho. Dia meremas dada Jaejoong yang begitu pas di tangannya mendatangkan desahan dari yeojya itu. Tangannya perlahan melepaskan dada tersebut dan menyentuh pinggir tubuh Jaejoong yang membentuk s-line. Begitu indah. Begitu pas.

Detik berikutnya, tubuh Jaejoong menunduk karena Yunho menariknya dalam ciuman yang panjang. Posisi mereka kembali seperti semula dengan Jaejoong di bawah badan Yunho. ”Meskipun aku menikmatinya, tapi besok kita harus kerja dan kurasa lebih baik kita langsung ke intinya, ne?” ucap Yunho sembari mengedipkan matanya.

Terlalu malu untuk menjawab, Jaejoong hanya mengangguk. Itulah tanda yang diperlukan Yunho untuk membuka celananya dan membebaskan kejantanannya yang terasa begitu sesak tadi. Dia ingin sekali melakukan rimming terhadap kewanitaan Jaejoong yang sudah basah karena dirinya, tapi cukuplah untuk malam ini. Mereka, toh, masih ada banyak waktu kan?

Dia membuka celana dalam Jaejoong yang sudah basah karena cairan yeojya itu. ”Ssh…tenanglah,” bisiknya sembari mengelus kening Jaejoong. Sebuah kecupan singkat pada kening Jaejoong untuk menenangkan yeojya itu sebagai tanda untuk memulai gerakannya yang berikutnya. Dia memosisikan kejantanannya yang sudah berdenyut dan berdiri tegak ke dalam kewanitaan Jaejoong yang sudah basah.

Jleb.

Ciuman dia berikan pada bibir Jaejoong saat dia memasukkan dirinya ke dalam dinding hangat yang begitu nikmat itu. Rasa sakit menjalar dalam tubuh Jaejoong. Sudah lama tidak melakukan ini, semuanya begitu sesak, bagai kembali ke malam pertama mereka. Saat itu juga Yunho memperlakukannya dengan lembut. Suara pria itu menenangkan dirinya. Bibir Yunho mengecupnya. Tangan Yunho membelainya seperti dia begitu berharga.

Hentakan yang diberikan Yunho berikutnya membuat Jaejoong berteriak dalam kenikmatan. ”Ahh! There! Ah…Yunnie…there~”

Yunho mengangguk. Dia mencium Jaejoong sekali lagi sebelum kemudian meletakkan tangannya pada paha Jaejoong untuk membantu gerakan in dan out-nya terhadap dinding ketat Jaejoong. ”Argh…Jae…kau ketat sekali…urgh…”

”Yunnie! Faster….ahh…” desah Jaejoong.

Mengikuti permintaan Jaejoong, Yunho mempercepat gerakannya pada sudut dan posisi yang sama membuat yeojya di bawahnya mendesah tak henti. ”Yunn…deeper…ahh..~”

Jaejoong dapat merasakan dirinya dapat keluar sewaktu-waktu apalagi sekarang bibir Yunho sedang menjilat dadanya seperti seorang bayi. ”Hmm…urm…Yunnie…Yunnie~”

Desahan Jaejoong bagaikan sebuah melodi di telinganya. Dia juga tidak menduga bahwa dapat keluar secepat ini. ”Yunnie…cumm…ahh….” seru Jaejoong.

”Aku juga…argh….” Yunho mempercepat gerakannya dalam menggesekkan miliknya terhadap dinding Jaejoong. Tak berapa lama Jaejoong keluar. ”Yunnie!” Yunho sendiri masih sedikit lagi untuk mencapai klimaks. Mengetahui hal itu, Jaejoong membantu dengan mengetatkan dindingnya membuat Yunho tak bisa berkata-kata karena nikmat.

”Jae…Jae!!” seru Yunho. Dia mengeluarkan cairannya di dalam Jaejoong. Rasanya sudah lama tak melakukan ini. Begitu nostalgia. Dia terbaring di samping Jaejoong dan mengelus pipi yeojya yang tengah tersenyum padanya. Keduanya berciuman kembali. Sebuah ciuman singkat nan lembut.

Saat ciuman terlepas, Jaejoong menggumamkan kata, ”Saranghae,” yang juga dijawab ”Saranghae” oleh Yunho.

Dan di malam itu, keduanya kembali mendapatkan apa yang selama ini mereka inginkan. Keberadaan satu sama lain di sisi mereka. Jaejoong mendapatkan kembali kepercayaan bahwa Yunholah orang yang tepat untuk dirinya. Sementara Yunho, dia kembali mendapatkan sosok yang selama ini menguatkannya.

Oh, ide Jihyun dan Heechul? Yah, well, lupakan saja. Itu tidak begitu berarti. Hanya meliputi Jaejoong berpakaian seksi dan makanan enak. Hanya itu. Ah, yah, atau setidaknya ada campuran obat perangsang pada bahan yang diberikan Heechul untuk Jaejoong? Oh, lupakan. Itu tidak ada dalam skenario.

.

.

Pagi tiba dan mereka kembali melakukan aktivitas mereka. Yang berbeda adalah perasaan mereka yang sudah tersambung. Itu dan kepindahan Jaejoong kembali ke rumah mereka yang lama. Changmin terkadang menginap di rumah Hyun Joong. Yunho dan Jaejoong tak tahu apa yang dikerjakan mereka, tapi Changmin tetap memanggil mereka dengan ’appa’ dan ’umma’ sehingga mereka membiarkannya. Toh, tidak ada salahnya jika sang appa menghabiskan waktu dengan anaknya bukan?

Yunho dan Jaejoong? Hal pertama yang dilakukan Yunho setelah berhasil kabur dari – coret – kejaran –coret – Minzy, dia mendaftarkan dirinya dan Jaejoong untuk pernikahan. Berikutnya? Jaejoong kembali merancang pernikahan. Hanya kali ini adalah pernikahannya kembali dengan Yunho.

Indah. Indah. Semuanya telah kembali seperti semula. Perlahan, semua benang merah kembali terhubung. Jalan kembali terbentuk. Mungkin suatu saat nanti saat anda sedang berjalan-jalan dan menuju ke sebuah perusahaan bernama ’Bolero’ anda akan bertemu dengan seorang pegawai wanita yang tersenyum ramah kepada anda. Cantik seperti hatinya. Dia, yang setelah melewati semuanya, dengan perutnya yang sedikit membesar akan menemani anda.

”Selamat datang, nama saya Jung Jaejoong dan saya matchmaker anda. Mohon bantuannya untuk ke depan.”

.

The End (?)

.

AN:

Oke. Maaf klo endingnya agak ngerush (?) jadi kyk PWP gitu deh –a #dijitak terus buat BoA, itu no offense. Yg terpikir Cuma dia saat itu. Hahaha. Habis bosan klo yg jadi jahat Jessica ato Tiffany terus. Kkk~

Tadinya mau Ryeowook, tapi kyknya gak pas, jadinya diganti deh xDD kkk~ Nanti malah jadi terlalu mellow. Kkk~

Hmm. Tadinya mau bikin ini jadi epilogue, tapi karena terlalu panjang, sepertinya aneh. Makanya ini jadi chapter terakhir deh ^.~

Dan jujur sih saya memang agak kurang puas dengan chapter kemarin. Romantis tapi ada yang kurang, semoga chapter kali ini bisa menutupinya/ .____. *deep bow* 

Oh ya, ff ini juga untuk merayakan Yunjae Day!! Wuhuu!! Saya tahu kecepatan, tapi di sana sudah tanggal 5 kan? ;))

Anyway. #HappYunJaeDay (gak tahu hashtag, ini asal .__. #slapped)

Yunjae is Real!!

AKTF !! xDD

Dan saya ingin memberikan pengumuman :))

~*~*~*~*~*~*~

Saya berencana mau menerbitkan ff Matchmaker ini, tapi saya ingin tahu dengan peminatnya (?)

Kalau jadi diterbitkan, saya akan:

1) Mencoba untuk tidak mengganti nama Yunho dan Jaejoong, hanya marganya saja. Jika sangat terpaksa, saya hanya akan membuat Yunho jadi Yuhan dan Jaejoong menjadi Jae (Jaeha mungkin?) xD saja. Semoga tetap terasa .___.v

2) Menambahkan beberapa adegan dalam chapter sebelumnya. Ya, saya serius. Entah kenapa saya merasa kurang puas dengan beberapa bagian jadi mungkin nanti akan diperbaiki.

3) Membuat side story Sibum dan kelanjutan Hyun Joong Changmin Se7en (?)

4) Menambahkan epilogue setelah side story ke dalam buku tersebut.

Saya lagi mau coba tanya2 dulu mengenai minat dari chingudeul ^^v Kalau banyak, mungkin akan saya lanjutkan ke penerbit. Gomawo sebelumnya ^^v

Terima kasih sudah menemani saya selama ini? kkk :)) Saya selalu bahagia ketika membaca komen kalian ^^v

~*~*~*~*~*~*~*~

Thanks to:

ikkimassu || haruna87 || tantrionyu || jaexi || lipminnie || VitaMinnieMin || Jung hyera || n4oK0 || Geuchan || Jung Hojong || MiRuu || Jung Jaerista || yunjae always || RetnoMyaniezasia || Zelenvi || YunJani || reta || Zheyra Sky || meirah || reaRelf || no name || Shofi Cassiopeia || RanYJjeje || cloudkimmy || mallashinki || leekim3115 || yunjaelovesuie || desi2121 || hyefye || heeya territory || revi_killian || chima || Me Is || puzZy cat || sicca nicky || heechie || aniimin || Chun FG || HaeRieJoongie || rani1208 || kei10 || NeuNeu || Han Neul Ra || Rachmin Nurul Aini (@Kazune9095) || Sinta || jiaithieilf13 || rima || naepoppo || Secret 19 || ajeng || idwinaya || Pearl Liliana || Nobby ||

~*~*~*~*~*~*~*~

Ah saya juga ada tambahan lagi. Bagi yang membaca ‘Broken Doll ada side story Lee Minho x Sandara Park ya ;)) Selamat membaca ^^v Ini saya ikut sertakan untuk lomba, jika tidak keberatan, boleh minta RCL? :))

>>> Broken Past <<<

Thanks :))

Last, Review/Comment? 😉

_verzeihen

PS: Tolong beritahu tentang masukkannya ya ^^v oh klo mau juga ikut poling sekalian :))

PPS: Enno, Oktav, Jihyun, and Shin Young adalah OC 😉

Advertisements

30 responses to “Chapter 10 – Faith

  1. Ummmaaaa akhirny NC ku terwujuddd gomawooooooo Omoooo (人´∀`*) …
    ⓣⓗⓐⓝⓚⓢ yach<3<3
    Jinjjjaaa gomawooo ( ◦˘ з(˘⌣˘)~♡ aq sukaaa bgt endingnyyyy .. Tp lnjutanny sevenmin gmn y????

    Umma serius mau dbukuin???
    Then booked it
    Kolo emg ini FF y bikin aja FF umma lo saranku y tetep aj yunjae
    As expensive as possible as long as ur daughter have the money I will buy it ko unma!!! Do not worry!!! Fightinggg haelhajiii \(‾▿‾)- -(‾▿‾)/ tar q bantu RT in kyk biasanyo #plakk

  2. Jaemom wkt bilang ”YUNHO PUNYAKU!” tuch Imuuuuutz bgt! ^_^
    Oktav yg paling waras? Wkkk, pdhal sbnernya q stuju bgt ma ide Lady Hee yg Jaema datengin Yunpa tanpa pake apa2*Plak!!! yadong kumat*
    Sekuel buat Se7min donk eL…
    Klo ni mo dbuat buku… novel harlequin yg q bli stgh taun yg lalu msih 2 yg bahkan segelnya blm q buka deh. TT____TT
    entah knapa akhir2 ni g da minat ma kertas. Tp slamat brusaha…
    Ps. Lama g maen ksini skrg dpasang labirin y… KEREN!!! Gandeng Jaema erat2 biar g nyasar

  3. waaah..
    keren… 🙂
    akhirnya menemukan yg sesuai selera(?) setelah dari kemaren gak nemu ff yunjae yg sesuai selera(?).. 🙂
    aku boleh minta epilogue nya?
    aku janji aku bakalan komen ko… 🙂
    aku pingin baca yunjae + baby mereka.. hehehe
    aku suka banget liat yunpa sama anak kecil.. 🙂
    happy yunjae day.. 🙂

  4. Pengen baca sequel sih. Tp Mau dibuat buku yah?? Sequelnya kan bisa baca disana.. Judulnya tetep matchmaker?? Sibumnya juga ada?! Kalau gitu Good luck yah el.

  5. iya eL, ini pwp deh kyaknya =.=
    kalo ini part terakhir, berarti da epilognya kan 🙂
    *kedip2nista ma Changmin-nii
    side storynya, Hyunjoong-changmin gmn?
    pgn adegan appa-anak yg Niichan nya evil banget, kekekeeee
    untuk bukunya, good luck ya eL 🙂

  6. Waaaa
    Epilognya kereen
    Seneng kalau endingnya yunjae bersatu 😀
    Wah, mau dibukuin eon? Kayak novel gitu?
    Kyaaa! Daebak! Ayo diterbitin aja eon! 😀
    Lebih baik castnya tetep yunjae deh, ditambahin bumbu se7min, terus sibum~
    Semangat eon!!! XD

  7. Hyaaaa akhirnya NC Yunjae…. pnas dngin mbayanginnya >_<
    Q plg suka pas jae blg "YUNHO PUNYAKU"
    Berkesan bgt deh 🙂
    Tp krg puas jg, blm ada YunJaeMin moment T_T

  8. Lucu banget Jaema pengen cepetan balik ma Yun tapi malu-malu, Yunppa juga jadi kaku sendiri. Ya, akhirnya nikah lagi..
    Ini Changmin pasti modus nggak mau ikut pulang biar nggak ganggu YunJae, tapi, tapi pengen lihat adegan se7min dan Hyunjoong juga
    El-eonni mau bikin bukunya? Buat aja eon, kudukung deh. Pengennya sih jangan ganti nama(kalau bisa) tapi yah pasti sulit…
    Semangat el-eon!

  9. eL~~
    brasa kaya jadi emaknya si Changmomo deh, tp couplrnya si Tabi nee~ 😉

    eL, tumbenan ada bbrp typo.
    rate M nya juga kurang tuh #plak
    Efek ngetik mbil nonton brg Appa kah?

    Chap ini kurang greget deh, menurutku #ditabokeL
    tapi trima kasih sudah memenuhi permintaan kami (reader) yang menginginkan ga end di chap 9 kmaren. #peluk

  10. hyaaaaiiii…
    end, chukkae eL-ssi 😀
    akhirnya mereka kawin lagi, changmin punya dedek.
    hyunjoong semoga dapet pengganti jihye.
    dan bolero semoga makin banyak kliennya
    hahaha

    buat ke penerbit, coba aja eL-ssi, semoga sukses ne!! (^^)9
    fighting!!!

  11. aku setujuuu bwt smua pilihan d atas chinguuu!!! chara ny tetep buat yunjae aja, hehehehe
    dan kelanjutan itu wajiiib, apa lagi yg se7min, itu harus, mesti, wajib lanjuuut,

    yaaaay, akhirnya mereka berdua lagi, senengnya, si changmin emang super genius, sengaja ngasih waktu ke umma appa nya, hahahaha, anak pintar, *tepuktepuk kepala min, #ehh

  12. huaaa happy ending , bagus banget chap ini chingu akhirnya yunjae bisa bersatu lagi , yey ..
    serius chingu mau buku in ff ny nih ? gak sabar nih buat beli ..

  13. Akhir’a yunjae balikan lg , langsung NCan lg ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
    Changmin pengertian banget gak gangguin yunjae ^^

  14. aku lom baca chap ini ya?
    lupa==a
    tapi suka~~~
    nc-nya bener2 mantap,naughty Jaema.<
    ngebayangin cuman pake celemek,,aduh,pasti menggoda banget,,=
    .
    chukkae buat matchmaker yg dah diterbitin,moga laku keras ne.

  15. Saeng~ akhir’nya Baca Jg nich Eonn chap trakhir!!!
    HeeHeeHee~
    Demen bgtz paz bagian JaemMa biLang ”YUNHO PUNYAKU!”
    Emak bner2 sesuatu bgtz dech,,,
    KheKheKhe~
    IyYe2 Mak, AppaBear cuma Punya UmmaBoo seOrang, ambiL2 sono!!!

    FinaLLy, YunJae eNCe’an Jg dech, Si Abang emank anak yg Pengertian nee, dr awaL pzti seLaLu sngaja biar YunJae bsa ber2-2 truz bkin Ade’ buat Abang!!!!
    Nyiahaahaahaahaa~

    UkKhay karna NoveL’nya uda mo terbit, nanti Lanjutan’nya bca d NoveL’nya ajJa!!!
    d tunggu buku’nya nee,,,
    (“⌒∇⌒”)

    Keep Writing Saengi~
    HWAITING!!!
    *(*´∀`*)☆

  16. syukurlah semuanya berakhir bahagia. dan akhirnya aku jg baca sampe selesai gomawo auhorr 🙂

  17. akhirnya bisa baca ff mu eon!!!
    setelah perjuangan cari password
    (akhirny setelah ngeh petunjuk darimu eon)
    uwah!!!!
    hepi ending yeee!!!
    akhirnya jaemma dan yunpa bersatu.
    eon,kenapa ga skalian ajah diterbitinnya di gramed.kenapa harus pake credit card T.T
    aku ga punya.
    pokoknya sukses selalu y untuk eonni.
    hwaiting!!

  18. sekarang tAnggal berapa sih…kok aku telat banget ya
    udah ada ya el eonni di tokobuku…aku jadi pengen baca
    bagus…aku suka suka banget malah
    jaemma emang cuma buat yunppa seorang…
    gomawo ffnya bgus
    lanjutkan

    • Hahaha. Gak ad di toko buku, adanya cuma kalau kamu mau pesan gitu :))
      Di sana ada epilogue juga sih sama secret match 😉
      Klo kamu tertarik coba aja hubungin ke twitter aku ^-^
      hehe =3

  19. Annyeong author-shi~~
    saya nggak sengaja nemu blog author. Yrus buka ff ne coz summery menarik bngt. Maaf saya belum baca cerita na jdi belum bsa komen tpi hnya mw blag saya sangat menantikan jika ff ne d terbitkan msh dengan cast yg sama yaitu YunJae. Apalagi jarang ada yg nerbitkan novel YunJae cast. Ditunggu ya n semoga jadi diterbitkan na. Klau bisa kabar2i ya.. hehehe
    Gomawo~~

  20. Authooooooooorrrrr lalalalaalala~ /ciumin muka hyunjoong/what/?
    Aku suka aku suka, mantep dah cerita nya. Alurnya enak. Disetiap chapter author selalu bilang gaje, tidak memuaskan dll. Tapi menurutku ini udah sangat sempurna sekali’-‘)d mungkin karna aku bacanya setelah all chapter completed wkwkwk xD
    eoh? Mau dibuku kan?? Gimana kabar buku nya? Yah aku telat t.t
    butyeah………..cerita ini lebih cocok untuk di film kan saja author. Seperti broken doll, Titik. 😀 pasti lebih keren. Insidious 2 aja mungkin lewat! Serius! 😉

  21. Umm disini banyak yang panggil eonni umma, aku juga mauuu~ bolehkah? *puppyeyes*

    Ommoooo pict jaema cantik banget, ahhh pantes yunpa kelepek2 #plak

    Terserah yang lain mau bilang endingnya kaya gimana, tapi menurut aku endingnya perfect *kecup*
    Lope lope diudara deh pokoknya #plak

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s