Broken Past


Title: Broken Past

Part of Broken Doll (Dapat dibaca secara terpisah)

Cast: Sandara Park || Lee Minho || Choi Dong Wook || Park Hanbyul || Shim Changmin || Park Cheondoong/Thunder

Main Couple: SandaraxLeeMinho

Summary: Bagaimanakah kisah yang sebenarnya terjadi antara Sandara dengan Minho? Masa lalu, seberapa hancurnya itu, harus tetap diceritakan, tak boleh dilupakan. Kebenaran harus terungkap. Kisah tentang melindungi orang yang dicintai. Terkadang, untuk melindungi orang yang dicintai, diperlukan sebuah pengorbanan. Karena yang tersakiti bukan hanya satu jiwa, tapi dua jiwa yang saling bersatu.

.

.

 

Past, no matter how broken it was, shall always be revealed, shall never be forgotten.

The truth shall be known.

-x-

2137

Kurang lebih 100 tahun telah berlalu semenjak Perang Dunia ketiga antara Irak dengan Amerika. Sebuah peperangan yang memakan begitu banyak korban jiwa dan membutuhkan begitu banyak waktu untuk pemulihan. Semenjak saat itu juga, kaum hawa dan adam dipisahkan. Rusia yang menjadi tempat teraman, karena tidak terkena racun dan nuklir yang tersebar akibat peperangan, menjadi tempat berlindung bagi para kaum hawa. Mereka dikumpulkan di sana, dididik, dan diajarkan cara untuk bertahan hidup. Selain itu juga, para kaum hawa diberikan perawatan terhadap tubuh mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa stamina wanita semakin melemah semenjak peperangan tersebut. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya meninggal karena daya tubuh mereka tidak kuat. Lain halnya dengan kaum pria yang memang notabene staminanya lebih kuat. Mereka lebih dapat bertahan daripada kaum hawa. Oleh sebab itu, untuk menjaga generasi, para kaum wanita diberi perlakuan khusus dan dirawat di Rusia. Diberikan imun agar tahan terhadap racun, virus, atau apapun yang diyakini dapat membahayakan wanita.

Menjadi sebuah pertanyaan bagaimana seorang pria dapat bersama wanita. Terdapat banyak jawaban. Zaman sudah maju diiringi dengan kecanggihan teknologi. Para wanita juga dapat keluar dari Rusia, tetapi hanya proyeksinya saja. Proyeksi yang cukup nyata hingga bisa disentuh dan dapat juga dirasakan kehangatan dari sang wanita.

Namun tetap saja, jika kekasih tersebut ingin melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi, pernikahan, akan dilakukan banyak pemeriksaan, terutama terhadap kaum adam. Mereka akan dicek kesehatannya, pendidikan, dan beberapa hal. Jika sudah diyakini bahwa pria tersebut layak, maka mereka berdua boleh melanjutkannya. Jika tidak, maka pasangan kekasih tersebut harus rela untuk melepaskan hubungan mereka. Ironis.

Sekedar informasi, kaum pria dibagi menjadi 4 kelas. Doll, tingkatan paling rendah. Dapat dikatakan sebagai budak pemuas nafsu. Ordinary, kaum pria sederhana yang sederajat dengan manusia pada zaman dulu. Callous, para ambisi yang berada di puncak. Umumnya para pemimpin negara adalah seorang callous. Zenith, tingkatan paling tinggi dari kelas pria. Kelas yang dikatakan jenius karena dapat mempelajari segala sesuatu dengan mudah.

Hanya pria yang berada pada tingkatan ordinary, callous, dan zenith yang dapat menikah karena mereka dianggap layak. Ah. Sudah cukup kita pada penjelasannya. Bagaimana kalau sekarang kita menuju pada cerita kita?

Kisah kita kali ini mengenai sepasang suami istri yang telah hidup kurang lebih 2 tahun. Sang pria berjuang untuk bisa menjadi ordinary yang layak untuk mendampingi sang wanita. Keduanya akhirnya hidup bersama di satu negara lain. Memang Rusia adalah tempat teraman bagi kaum hawa, namun bukan berarti negara lain tidak aman. Selain Rusia, ada satu juga negara yang tidak terkena imbas. Hanya menjadi pertanyaan kenapa Rusia menjadi tempat ’wajib’ bagi kaum wanita. Di negara ini juga, kisah kita akan bermulai.

Di negara sakura ini, sebuah pendahuluan tentang perjalanan akan diceritakan. Sebuah masa lalu dari para pemain akan terkuak perlahan.

.

.

Broken Past

broken-past

Cr: http://shineesujufanfic.wordpress.com/

Part of ’Broken Doll’

by eL-ch4n

21.01.2013

.

.

Jepang, 2137

Suara ketukan pisau. Bunyi ketel tanda air sudah mendidih. Aroma masakan menggugah selera. Secangkir kopi hangat diseduh pada cangkir klasik buatan Inggris. Ketiga hal ini yang menjadi pagi dari seorang Lee Minho. Namja berwajah tampan yang tengah duduk di atas kursi makan, menikmati cangkir kopi, dengan membuka koran yang berbentuk layar di hadapannya.

”Honey, makanan sudah siap. Ayo letakkan dulu koranmu.” Sebuah suara lembut nan ceria tertangkap oleh indera Minho, mendatangkan seulas senyuman di wajah tampan namja itu.

Tangannya segera terlepas dari layar di hadapannya dan menarik tangan mungil seorang wanita yang berjalan ke arahnya. Hingga akhirnya tubuh mungil sang wanita berada di dalam dekapannya. Minho mendekatkan wajahnya kepada sang yeojya.

”Ah, tapi aku sudah makan kok tadi,” goda Minho.

Semburat merah muncul di kedua pipi sang wanita membuat Minho terkekeh kecil. Sandara Park atau Sandara Lee tak akan pernah bisa membuat Minho merasa bosan. Dia juga yang menjadi alasan bagi Minho untuk bertahan hidup. Sebuah pertemuan sederhana yang membuat ’cinta pada pandangan pertama’ terjadi.

”Sayang, kamu harus makan. Sebentar lagi kau akan kerja kan?” Sandara atau yang akrab dipanggil Dara mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan suaminya yang hasilnya nihil karena perbedaan tenaga di antara keduanya.

Bukannya tidak mau, tapi Dara tahu jika dia mengalah terhadap keinginan suaminya, maka mereka akan kembali berakhir di ranjang atau sofa atau – Oke, terlalu banyak informasi. Intinya, Dara harus bisa membuat Minho makan karena dia juga sudah capek dan ingin mengerjakan hal lain lagi. ”Hmm,” gumam Minho.

Minho memeluk pinggang mungil Dara dengan erat dari belakang, membenamkan kepalanya pada leher Dara. Tangannya perlahan menuju pada perut Dara yang sedikit membesar. Dara dapat merasakan kelembutan dari cara Minho mengelus perutnya, menanti nyawa yang sebentar lagi akan keluar untuk melengkapi kebahagiaan mereka. ”Bagaimana kabar adik kecil di sini?” tanya Minho dengan halus.

Dara tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan Minho yang berada di perutnya. ”Adik kecil marah karena papanya tidak mau sarapan dan kerja. Sekarang dia sedang cemberut,” goda Dara.

Tawa kecil dari Minho di telinga Dara bagaikan sebuah musik pelengkap di pagi cerah mereka. ”Arasso, baiklah, papa akan makan, jadi jangan ngambek lagi, ne?” gumam Minho. Dia menundukkan kepalanya sehingga berhadapan dengan perut istrinya dan mengelusnya dengan perlahan. ”Jaga baik-baik mamamu saat papa lagi kerja, oke? Baik? Baguslah, anak baik, anak baik.” Tangan sang pria mengelus perut sang wanita dengan lembut seolah sedang mengelus rambut dari anak yang berada di dalam kandungan. ”Ah, aku sudah tidak sabar ingin tahu apakah dia akan jadi secantik mamanya atau setampan diriku,” goda Minho. Dara hanya terkekeh pelan dan merapikan poni suaminya.

Keduanya tidak tahu jenis kelamin bayi mereka. Dengan teknologi yang sudah maju, hal itu tentunya bukanlah hal yang susah, namun keduanya memutuskan untuk merahasiakannya. Sebenarnya dalam hati keduanya, mereka berharap agar yang lahir adalah seorang wanita karena mereka tidak tahu apakah jika bayi yang lahir seorang pria, anak mereka dapat bertahan. Anak seorang ordinary akan menjadi ordinary kecuali sang ibu memiliki kekuatan seperti seorang callous.

Dan keduanya tahu tentang kekuatan Dara. Hanya sedikit wanita yang memiliki ’kekuatan’ seperti callous atau zenith. Kekuatan seperti membaca pikiran, melayangkan benda-benda, yah kekuatan supernatural yang membuat mereka menjadi ’lebih’ daripada yang lain. Dara adalah salah satu dari bagian yang sedikit itu. Dia mempunyai kekuatan untuk melihat aura seseorang. Aura yang menandakan perasaan dari sang pemancar aura tersebut. Sayangnya, beda dengan para pria, wanita tidak dapat mengontrol kekuatannya. Kekuatan itu akan datang dan pergi dengan sesukanya. Begitu pula dengan kekuatan yang dimiliki oleh Dara.

Sebab itulah makanya keduanya takut jika anak mereka adalah lelaki. Namun, terlepas daripada itu, mereka berjanji akan tetap mencintai anak mereka dan merahasiakannya, menjaga anak mereka sampai anak mereka (jika benar) bisa mengontrol kekuatannya sendiri. Sungguh merepotkan ya? Hal ini karena Minho dan Dara ingin mencegah yang terburuk yang dapat terjadi.

Negara-negara itu tidak bodoh. Treaty of Savior boleh diberlakukan, namun bukan berarti ada kemungkinan terjadinya perang dunia keempat yang mungkin lebih dahsyat lagi. Sayang, negara yang turut berperang tidak tahu bahwa alasan perang dunia ketiga terjadi karena sebuah hal yang sederhana.

”Dara,” bisik Minho.

”Hmm?” gumam Dara yang menikmati kepalanya dielus oleh suaminya.

”Hari ini aku akan pulang agak malam. Kau tidur saja dulu. Aku juga akan bertahan untuk makan di luar. Dan kamu, jangan coba-coba untuk dekat dengan kompor selain untuk memanaskan air, mengerti?” ancam Minho. Dia tahu bahwa istrinya bukan seorang pemasak yang handal. Beruntung istrinya masih bisa memasak hal-hal sederhana. Biasanya Minho yang akan memasak untuk mereka berdua. Terlebih sekarang Dara sedang mengandung. Bersentuhan dengan hal-hal berbahaya adalah hal terakhir yang harus dilakukan oleh istrinya itu.

”Ne, aku mengerti. Aku akan pesan makan di luar saja. Lagipula sepertinya Thunder akan mampir nanti. Aku bisa minta dia untuk mengantarku keluar untuk membeli makanan,” papar Dara.

Suaminya mengangguk senang dan tangannya menyentuh pipi Dara dengan perlahan. ”Oke. Asal kau jangan menarik perhatian pria lain ya,” goda Minho.

Tak berapa lama suara tawa riang memenuhi ruangan makan tersebut. Ciuman singkat menghentikan suara tersebut sekaligus sebagai tanda bahwa Minho sebentar lagi harus pergi. Dan begitulah pagi mereka, penuh dengan tawa, ungkapan cinta yang manis, aroma kopi hangat dan sarapan yang sederhana. Hanya mereka tidak tahu bahwa pagi mereka tak akan lama lagi. Bahwa sebentar lagi kehidupan keduanya akan berputar 180 derajat.

.x.

Because, no matter what, the past is what makes you who you are right now

.x.

Siang itu Thunder, adik Dara, datang mengunjungi kakaknya dan seperti apa yang dikatakan Dara, dia dan adiknya pergi keluar untuk mencari makan. Mereka bisa saja menggunakan transporter untuk langsung ke tempat tujuan, tapi Dara mengatakan bahwa dia ingin berjalan dan menikmati udara segar. Lagipula, dia juga ingin ke pasar untuk membeli beberapa barang.

 Jalanan, seperti biasanya, sepi dan tak banyak yang berlalu lalang. Berbeda dengan jalanan 100 tahun yang lalu yang penuh dengan manusia berjalan kaki. Umumnya mereka yang sedang berada di luar adalah para pria kelas doll atau ordinary yang tidak cukup uang untuk membeli transporter. Atau mungkin juga seperti Dara yang ingin menikmati jalanan yang sepi, tidak penuh dengan polusi udara dan suara.

Thunder, adik laki-laki Dara, mulai khawatir. Dia menatap tajam ke setiap pria atau orang-orang yang sedang melihat kakaknya dengan penuh nafsu, yang tentu saja tidak disadari oleh kakaknya yang sibuk melihat toko-toko di sekitar. Thunder hanya bisa menghela nafas. Dara selalu merasa bahwa dirinya jelek dan tidak punya kelebihan, padahal sebaliknya, Dara adalah wanita yang cantik. Wajahnya yang baby face sering membuat orang salah menduga umur kakaknya itu. Terlebih lagi dengan rambut cokelat panjang dan kulit putih mulus milik Dara dipadu dengan senyuman manis wanita itu, dapat dipastikan banyak yang akan bertekuk lutut.

Maka sebenarnya menurut Thunder, yang beruntung adalah Minho, bukan Dara. Minholah yang berhasil membuka hati Dara terhadap pria. Mungkin, menurut Thunder, karena sifat Minho yang keras kepala dan terus mendekati Dara serta meyakinkan kakaknya bahwa kakaknya itu cantik dan sempurna. Untuk lebih detailnya, Thunder tidak tahu. Hanya pasangan itu dan Tuhanlah yang tahu mengenai kejelasan cerita.

Ah, sudahlah. Thunder ke sini untuk menemani kakaknya, bukan untuk bernostalgia. Dia berlari menghampiri kakaknya yang sudah berdiri di depan pasar modern langganan mereka. Penjaga tokonya adalah seorang pria muda yang murah senyum bernama Kang Daesung.

”Ah, Dara-shi, kau datang lagi hari ini!” seru Daesung saat pintu tokonya terbuka. Dara mengangguk dan segera menghampiri kasir tempat Daesung berdiri. Segera, sang penjaga toko mengeluarkan proyeksi barang-barang di antara mereka. ”Aku sudah menyiapkan barang-barang anda. Mau ambil sendiri, atau kuambilkan?”

Dalam artian diambilkan adalah membuat proyeksi di hadapan mereka menjadi nyata. Hei, dunia sudah maju, jadi membuat proyeksi menjadi nyata bukanlah hal yang susah. ”Oh, Thunder-shi, semoga hari anda menyenangkan,” sapa Daesung yang baru menyadari kehadiran Thunder di belakang Dara.

”Ya, akan menyenangkan kalau saja kakak tidak memaksaku untuk menemaninya berjalan kaki,” canda Thunder yang dijawab dengan gelak tawa dari Daesung dan wajah cemberut dari sang kakak.

”Oke, kalau begitu aku ambil pesananku dulu ya,” ujar Dara meninggalkan Thunder dan Daesung di kasir. Dia tidak menyadari perubahan sifat dari Daesung.

Thunder yang bersandar pada meja kasir menyadari keheningan dari sang pria penuh senyum itu dan merasa aneh. ”Gwenchana, Daesung-ah?” tanya Thunder yang dijawab dengan senyuman lebar khas dari pria itu. Seulas senyuman yang penuh paksaan, pikir Thunder.

”Tidak apa-apa, hanya berpikir. Kandungan Dara-shi, sepertinya tidak akan lama lagi ya?” tanyanya.

Thunder hanya mengangkat kedua bahunya. ”Entahlah, aku tidak mengerti dengan mereka. Ada cara mudah untuk hamil, tetapi mereka lebih memilih cara tradisional. Minho sialan itu. Kalau sampai kakakku kenapa-kenapa –” geram Thunder.

”Tenang saja, Dara-shi adalah wanita yang kuat. Aku yakin dia dapat melahirkan dengan selamat,” ujar Daesung.

Ketakutan Thunder beralasan. Tubuh wanita, termasuk Dara, sudah dijelaskan sebelumnya menjadi lebih lemah. Stamina mereka tidak kuat untuk melakukan aktivitas biasa apalagi untuk melahirkan? Tidak sedikit yang kemudian meninggal karena melahirkan anak mereka. Pemerintah bahkan menjaga ketat wanita dan pernikahan di antara keduanya juga dilakukan dengan seksama. Karena jumlah wanita yang sedikit, tidak jarang pemerintah memaksa para wanita yang hamil harus memeriksa kandungan mereka. Jika diketahui bahwa rahim mereka berisi janin laki-laki, maka dengan tanpa perasaan, wanita itu akan dipaksa untuk menggugurkan kandungannya. Hanya beberapa yang bisa lepas dari ancaman pemerintah, tentunya mereka yang mempunyai pengaruh atau yang seperti pasangan Dara dan Minho ini. Memutuskan untuk tidak mengetahui kelamin anak mereka dan bersembunyi dari pemerintah.

Tidak jarang pasangan suami istri yang bersembunyi dan Jepang menjadi pilihan yang tepat. Selain karena negeri sakura itu asri, namun juga karena udara negara tersebut, seperti dijelaskan, belum terlalu tercemar seperti negara lain. Dan juga karena Minho dipindah-tugaskan ke negara ini juga.

Baiklah, mari sekarang kita kembali ke tokoh utama wanita kita yang sedang berada di salah satu rak yang paling ujung. Dia sedang berjinjit mencoba untuk meraih makanan nutrisi yang letaknya di atas. ”Seharusnya aku berpesan pada Daesung untuk tidak meletakkan pesananku di atas,” gerutunya.  Dia mencoba melompat beberapa kali yang hasilnya nihil. ”Dan kenapa Doongie tidak membantuku~” gumamnya.

Ketika dia hendak melompat untuk yang keberapa kalinya, ada sebuah tangan yang muncul dari sampingnya dan mengambil barang yang dia inginkan. ”Ah, terima kasih,” bisiknya saat meraih makanan nutrisi tersebut. Dia berbalik untuk melihat penyelamatnya dan mendapati seorang pria yang begitu jangkung hingga dia harus sedikit mendongak untuk dapat melihat wajah sang pria.

Penolongnya adalah seorang pria yang cukup tampan dan manis. Garis wajah pria itu terlihat begitu elok dan Dara merasa bahwa pria itu dapat menjadi seorang pria yang manis dan tampan di saat yang bersamaan. Kesan imut dari pria itu muncul saat wajah pria itu dihiasi oleh sebuah senyuman. Ditambah lagi pipi temben  yang terlihat menggemaskan itu.

Dara tersipu malu seperti seorang gadis remaja. Dia terus memperingatkan dirinya bahwa tidak baik melihat pria lain saat dia sendiri sudah mempunyai suami. Ah, tetapi memperhatikan bukan berarti berniat lebih kan? Lagipula, Dara berani bersumpah bahwa pria di hadapannya pasti dapat menaklukkan banyak wanita hanya dengan senyuman atau sekedar berdiri saja.

”Sama-sama. Habis aku cukup kasihan kau tidak bisa meraihnya,” balas sang pria yang sepertinya sedikit menyindir Dara.

Oke. Tampang boleh lumayan, tetapi sepertinya cara bicara pria itu harus diperbaiki. Dara segera berdecak pinggang dan menunjuk ke arah dada pria itu. ”Hei, bukan begitu caranya bicara dengan orang yang lebih tua darimu!” seru Dara. Dilihat dari wajah pria itu, sepertinya usianya masih jauh di bawah Dara dan dia juga kesal ketika orang tanpa secara langsung menghina tubuhnya yang pendek.

”Eh? Tua?” tanya pria itu bingung.

”Ne! Jadi bersikaplah lebih sopan, mengerti?!” seru Dara.

Pria itu tampak tak percaya dan mengamati Dara dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Salahkan tubuhnya yang mungil. Salahkan wajahnya yang baby face sehingga banyak yang sering mengira dia jauh lebih muda dan memperlakukan dia seperti anak-anak.

”Baiklah, kau –”

”Minku, ayo pulang!” Sebuah suara lain menghampiri keduanya menghentikan ucapan pria jangkung itu sekaligus pembicaraan mereka. Dara melihat sosok pria tampan lain yang menghampiri mereka. Saat ini, entah kenapa, kekuatan Dara muncul dan dia dapat melihat aura dari kedua pria tersebut.

Hitam dan Ungu.

Hitam melambangkan sesuatu yang suram, entah masa lalu mereka, masa depan, atau rahasia yang disembunyikan oleh mereka berdua. Ungu berarti…perselingkuhan. Mungkinkah kedua pria ini?

Dara lekas menggelengkan kepalanya untuk memastikan matanya. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat kedua warna tadi segera berubah menjadi warna lain.

Emas dan Merah.

Dara belum pernah melihat warna emas dalam aura seseorang dan warna itu berasal dari sang pria jangkung sementara merah berasal dari pria yang baru saja tiba. Dia hanya bisa menebak arti warna emas, namun merah. Warna itu adalah warna ambigu bagi Dara. Entah warna itu berarti kemarahan atau bisa juga pengorbanan yang akan memakan darah. Dara hanya berharap semoga bukan yang terakhir karena dia tidak menginginkan terjadi pertumpahan darah lagi.

”Shichi,” bisik pria jangkung yang dipanggil Minku tadi. Terdengar begitu lirih dan rindu. Seperti panggilan yang dilakukan Dara terhadap suaminya. Pria jangkung itu menghadap pria yang menghampiri mereka dan mengangguk kemudian berbalik lagi untuk menatap Dara. ”Oke deh, kalau begitu aku pulang dulu ya, noo-na,” goda Minku terhadap Dara.

Tahu bahwa dia kembali diejek, Dara menggeram dan hanya bisa menggerutu karena kedua pria tadi sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri. Dia pun kemudian memutuskan untuk membeli barang yang dia butuhkan dan pulang. Terlalu malam juga tidak baik untuk dirinya dan Thunder. Terlebih keduanya tidak membawa transporter tadi. Jadi satu-satunya cara adalah dengan berjalan kaki.

Dara tidak tahu bahwa itu adalah pertemuan pertamanya dengan Shim Changmin, zenith tertinggi dan Choi Dong Wook, Sang Presiden Amerika.

.x.

What happened in the past shall always remain at the past

.x.

Sore sudah tiba. Matahari perlahan sudah mulai bersembunyi di balik awan membuat langit mulai menggelap. Thunder memaksa kakaknya untuk mempercepat langkah mereka, tetapi kakaknya itu masih ingin menikmati udara luar. Begitu segar karena banyak proyeksi pepohonan asli di sekitar mereka, membuatnya dapat merasakan kesegaran yang dihasilkan oleh tanaman tersebut.

Thunder hanya bisa melihat aksi kakaknya itu dengan sebuah senyuman lembut. Tangannya membawa belanjaan kakaknya karena dia tidak mau kakaknya itu membawa barang yang berat yang dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Langkahnya terhenti saat bertubrukan dengan tubuh mungil sang kakak. Dia kemudian melihat ekspresi terkejut kakaknya seolah sedang melihat hantu.

Akhirnya, dia pun mengarahkan pandangannya menuju apa yang sedang dilihat kakaknya. Tangannya mengepal karena geram. Mukanya memerah karena amarah dan kekuatna Dara yang masih tersisa dapat melihat aura merah membara di sekitar wajah adiknya. ”Doongie,” bisik Dara lirih. Dia menghentikan adiknya yang hendak menghampiri pemandangan mereka dan melampiaskan amarah adiknya itu.

Pemandangan yang mereka lihat bukanlah sesuatu yang signifikan. Hanya seorang pria dan wanita yang sedang berpelukan. Ya, seandainya pria itu bukanlah Lee Minho, suami Dara dan wanita yang memeluk Minho bukan wanita asing yang Dara yakin bukanlah saudara Minho. Jadi, alasan Minho untuk pulang malam adalah untuk bertemu dengan wanita asing ini?

Rasa cemburu dan kecewa muncul dalam hati Dara. Dia mencoba untuk menemukan alasan yang tepat kenapa suaminya bertemu dengan seorang wanita di tengah malam, di restoran. Mungkin kliennya? Pikir Dara. Bisa saja. Namun, Dara terlihat ragu. Jika hanya sebatas klien, kenapa keduanya tampak begitu mesra dan akrab? Dia bahkan melihat senyuman manis yang biasa diperlihatkan suaminya itu hanya untuk dirinya sekarang muncul untuk diperlihatkan pada wanita asing itu.

Tenangkan dirimu Dara, ucapnya di dalam hati. Bisa saja wanita itu adalah sahabat lama Minho. Bisa saja wanita itu hanya teman kerja Minho. Begitu banyak alasan dikeluarkan di dalam dirinya untuk mencari jawaban yang tepat. Semuanya terasa tidak begitu berarti karena rasa minder di dalam dirinya.

Wanita asing itu cantik. Rambutnya panjang, kulitnya putih, tubuhnya tinggi dan berlekuk pada tempatnya. Pakaian wanita itu juga modis, dress pendek berwarna hitam dipadu dengan cardigan merah. Wanita itu tampak seperti lukisan indah yang menjadi nyata. Berbeda dengan dirinya yang tidak modis. Hanya mengenakan celana jeans panjang dan kaos putih bercorak. Dengan perutnya yang mulai membuncit, tubuhnya terlihat pendek dan begitu berisi.

”Noona,” bisik Thunder lirih melihat ekspresi kakaknya. Sudah menjadi adik dari kakaknya begitu lama, dia sadar apa yang ada di dalam pikiran kakaknya. Tidak perlu kemampuan zenith untuk membaca pikiran untuk tahu bahwa kakaknya sedang bersedih dan sedang membandingkan diri dengan wanita asing yang bersama suami kakaknya itu. ”Noona,” bisiknya sekali lagi.

Dara memutar kepalanya dan memasangkan senyuman paksa kepada sang adik. ”Ah, Doongie, ayo kita pulang ne? Noona-mu ini sudah capek,” ujar Dara dengan nada yang dipaksa ceria.

Tidak ingin memperpanjang masalah, Thunder hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakaknya yang cepat. Dia berjanji di dalam pikirannya bahwa dia akan memberikan hukuman bagi siapapun yang menyakiti kakaknya. Tidak termasuk suami kakaknya sendiri. Tega-teganya dia menghabiskan waktu bersama wanita lain sementara kakaknya harus melewati hari sendirian. Kedua tangannya yang sudah memegang kembali belanjaaan kakaknya mengepal keras.

Sayangnya, apa yang terjadi sebenarnya lebih dari apa yang terlihat. Hanya saja Dara dan Thunder tidak tahu bahwa wanita asing yang sedang bersama Minho adalah Park Hanbyul, istri dari Sang Presiden Amerika, Choi Dong Wook, yang baru ditemui Dara tadi.

.x.

A past with no explanation will lead to misunderstanding

.x.

Pintu ruang tamu terbuka mendatangkan bunyi di rumah yang hening tadi. Dara sedang terduduk di ruang makan, tertidur dengan kepala terletak di atas meja. Suara pintu tadi membangunkannya dan segera dia berdiri untuk menghampiri sang pembuka pintu yang adalah suaminya sendiri. ”Honey~ kamu sudah pulang?” seru Dara dengan ceria seolah apa yang dia lihat tadi sore tidak terjadi.

Minho tersenyum lembut. Dia membuka jasnya dan meletakkannya ke tiang kemudian menghampiri Dara. Tangannya segera menarik badan mungil Dara ke dalam dekapannya. Begitu erat hingga Dara agak sedikit kesulitan untuk bernafas. ”Honey?” tanya Dara.

Dekapan Minho semakin erat sesaat sebelum kemudian terlepas dan Minho meletakkan kecupan singkat di bibir Dara. ”Kau belum tidur?” tanya Minho. ”Adik kecil pasti sudah kecapekan. Kau juga seharusnya sudah beristirahat,” tegur Minho.

Mendengar itu, Dara menggembungkan pipinya dan cemberut. ”Habis adik kecil kesepian karena papanya belum pulang,” jawab Dara. Minho mencubit pipi Dara karena gemas dan kemudian menggendong Dara dalam bridal style. ”Gyaa! Honey, apa yang kau lakukan?”

”Karena sepertinya adik kecil sudah mulai nakal, maka papa akan memberikan hukuman,” ujar Minho dengan seringaian. Muka Dara bersemu merah.

Ini adalah Minho yang dia kenal. Ini adalah Minho yang dia cintai. Mungkin wanita asing tadi hanya sekedar klien atau teman lama Minho. Dara tidak peduli, yang penting baginya adalah tangan hangat yang tengah memeluknya saat ini, yang berjanji akan selalu menjaganya. Ucapan setia dan cinta menggema di telinganya. Sebuah ketakutan mendadak menjalar saat melihat warna abu-abu dari aura yang dipancarkan oleh Minho.

Abu-abu berarti keraguan. Dara berharap bahwa apa yang diragukan Minho bukanlah pernikahan mereka. Dia hanya bisa berharap, berdoa pada bulan purnama yang sedang bersinar terang dan menjadi saksi atas ungkapan kasih mereka, bahwa keraguan Minho bukanlah seperti apa yang dia pikirkan.

Namun ketakutan Dara semakin besar saat pagi tiba dan dia tidak mendapati Minho di samping tempat tidur. Bahkan suaminya itu hanya meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan bahwa suaminya itu akan pulang malam lagi dan tidak ingin membangunkannya karena ingin Dara beristirahat. Tidak seperti suaminya. Biasanya, tak peduli keadaan seperti apapun, Minho akan selalu menunggu Dara sampai terbangun. Terlebih lagi karena dirinya sekarang sedang hamil. Suaminya itu selalu menjaga Dara dengan protektif sampai terkadang membuat Dara kesal diperlakukan seperti anak-anak.

Sekarang, dia merasa kehilangan kehangatan suaminya. Baru satu hari, Dara, pikirnya di dalam hati. Mungkin Minho benar-benar sedang sibuk dan membutuhkan waktu untuk beristirahat. Sebagai istri yang baik, lebih baik dia mempersiapkan rumah yang nyaman untuk suaminya.

Kalau hanya satu hari, Dara bisa memaklumi, tapi kalau hal ini terus berlanjut selama seminggu, jangan salahkan kalau Dara mulai khawatir. Seminggu berlalu dengan sifat Minho yang aneh dan tidak biasanya. Bangun pagi, tak memberikan salam kepada Dara, pulang malam. Bahkan Dara tidak bisa mengingat kapan terakhir kali suaminya itu memeluk dirinya. Yang bisa diingatnya hanyalah punggung Minho yang selalu dilihatnya saat terbangun di tengah malam.

Pagi ini juga sama seperti pagi-pagi sebelumnya dalam minggu ini. Minho sudah pergi kerja, meninggalkan Dara sendirian. Suaminya itu bahkan tidak meminum kopi hangat yang diseduhkannya untuk suaminya itu. Rasa lelah dan stress mulai menguasai dirinya. Dia masih mencoba bertahan karena dia harus menjaga kondisinya untuk bayi dalam kandungannya.

Siang tiba dan seseorang menekan tombol bel di rumahnya membuat dia berpikir siapa yang datang hari itu. Sejauh yang dia ingat, Thunder tidak mengatakan apa-apa untuk datang ke rumahnya dan dia tidak bisa mengingat siapa yang akan datang. Maka, dengan perasaan yang campur aduk, dia membuka pintu rumahnya dengan perlahan.

Jika dia bisa menutup dan membanting pintunya dengan keras, maka dia akan melakukannya. Dia menyesal. Kenapa dia harus membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa penasaran dan membuka pintu rumahnya untuk mendapatkan wanita asing yang bersama suaminya waktu itu berdiri di hadapan rumahnya. ”Maaf, anda mencari siapa?” tanyanya ramah. Dia mencoba untuk tetap tersenyum, tapi rasanya susah ketika mengingat wanita asing di hadapannya pernah terlihat bermesraan dengan suaminya.

Wanita itu tersenyum lembut dan mengangguk untuk memberi hormat. ”Namaku Choi Hanbyul, apakah Minho-shi ada?” tanyanya kepada Dara.

”Suamiku sudah pergi, ada yang bisa kubantu?” ujar Dara dan melakukan penekanan pada kata ’suami’ untuk menunjukkan pada wanita itu siapa Minho.

”Ah, kalau begitu anda adalah Sandara-shi, istri Minho, benar?” tanya wanita itu dengan ceria.

Dara sedikit terkejut dan mengangguk. Berada sedekat ini dengan wanita itu membuat Dara menjadi minder. Wanita itu begitu cantik, tampak seperti model-model dalam majalah atau boneka yang menjadi nyata. ”Ne, kau siapa?” tanya Dara lagi dengan hati-hati. ”Bukan namamu, maksudku,” ucap Dara lagi.

Wanita bernama Hanbyul itu mengangguk tanda mengerti. Senyuman lembut tak pernah lepas dari wajah cantik wanita itu. ”Aku ada urusan dengan Minho-shi, tapi kalau dia tidak ada, baiklah. Aku titip pesan saja kalau begitu.”

”Baiklah,” jawab Dara. Dia menerima sebuah layar bening dari Hanbyul. Tangannya mencoba untuk melihat apa isi dari layar tersebut, namun dia tahu bahwa layar tersebut telah diberi password.

”Kalau begitu saya permisi dulu. Senang bertemu dengan anda secara langsung, Sandara-shi, Minho-shi sering menceritakan tentang istrinya yang cantik dan pengertian.” Mendengar perkataan Hanbyul tadi, Dara tersipu malu. Dia merasa bersalah telah menuduh suaminya yang tidak-tidak dan wanita di hadapannya yang terlihat begitu ramah ini. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Hanbyul segera menghilang di hadapan Dara dan meninggalkan wanita itu sendiri dalam rasa penasaran terhadap surat yang ada di tangannya.

Dia mencoba untuk menebak password surat tersebut dalam 3 kali coba. Batas menebak password itu ada 5 kali, jadi mungkin kalau dia menggunakan 3 kali, tidak ada masalah bukan? Lagipula, sejauh yang dia tahu, batas password itu akan diulang jika didiamkan selama 1 jam. Maka dengan rasa penasarannya, Dara menutup pintu dan segera bersandar di sofa. Kedua tangannya mengangkat surat tersebut sembari berbaring sekarang di sofa ruang tamu.

Lee Minho.

Password incorrect.

You have 4 chances left.

Hmm. Sepertinya password-nya tidak akan semudah itu. Apa mungkin nama dari wanita itu? Hanbyul kalau tidak salah.

Choi Hanbyul.

Password incorrect.

You have 3 chances left.

Dara meletakkan surat tersebut di atas meja karena bingung. Matanya ditutup oleh tangannya untuk beristirahat sejenak dan berpikir. Kira-kira apa yang dapat menjadi password dari surat tersebut. Namanya? Tidak mungkin. Sepertinya password-nya bukan nama orang. Apakah berasal dari angka? Ah. Dia begitu penasaran.

Badannya berguling ke kiri dan ke kanan sembari pikirannya sedang menganalisa beberapa kemungkinan. Entah kenapa tiba-tiba tangannya meraih surat tersebut dan menekan beberapa tombol.

H

U

N

T

E

R

Password correct.

Surat yang dipegang Dara tadi kemudian melayang dan menampilkan proyeksi pria tua yang tidak dia kenal. Dara merasa sedikit bersalah telah membuka surat tersebut, namun entah kenapa dia penasaran.

”Minho, kau harus segera kembali. Tugasmu sudah selesai. Sudah cukup bermain-main. Mau sampai kapan kau akan menjadi seorang ordinary, huh? Hanya karena wanita itu kah kau merendahkan dirimu yang seorang callous? Semua sudah akan dimulai. Kau harus segera kembali dan tinggalkan istrimu itu. Cepat kembali.”

Cklik.

Bersamaan dengan selesainya pesan tersebut, sebuah suara mengejutkan Dara yang terduduk di sofa. ”Dara,” tegur suara milik suaminya itu.

Dara terperanjat kaget. Dia berdiri dan membalikkan badannya mendapati Minho tengah menatapnya dengan penuh amarah. ”Ho..honey, kau sudah pulang?”

”Apa yang kau lakukan?” desis Minho, mengabaikan pertanyaan Dara.

Menyadari amarah dari suaminya, Dara bergegas lari namun dia kalah cepat oleh suaminya yang sudah menarik tangannya dengan kasar. ”Kenapa kau membuka pesan itu, huh?” Minho meletakkan kedua tangannya pada pundak Dara dan mengguncangkan tubuh mungil istrinya itu.

”Mi..mian…ma…maaf,” ujar Dara dengan terbata-bata. Rasa shok dialaminya saat melihat kelakuan Minho yang tidak seperti biasanya. Mata yang membara. Tangan yang memegangnya dengan kasar. Mulut yang begitu tegas.

”Apalagi yang kau dengar, huh?” tanya Minho dengan keras.

”Ti…tidak ada,” gumam Dara. Minho mendorong tubuh Dara ke atas sofa dengan kasar dan segera berlari menuju ke surat yang sudah tergeletak di atas meja. Sayangnya, Minho tidak sadar bahwa dorongan yang dia lakukan terhadap Dara membuat kandungan istrinya dalam bahaya. ”Urghh…” erang Dara kesakitan. Dia memegang perutnya yang mulai menggeliut membuat dia kesakitan. Mulutnya terus mengeluarkan erangan. Keringatnya mulai bercucuran.

Minho yang masih sibuk membuka surat tersebut, mengalihkan perhatiannya saat mendengar erangan keras dari istrinya. Betapa terkejutnya melihat kondisi Dara di hadapannya. Tangan kiri istrinya meremas baju seolah sedang meremas perut buncit istrinya. Tangan kanannya menggenggam erat lengan sofa sementara mata Dara terpejam menahan sakit. Mata Minho kemudian tertuju pada cairan merah yang membasahi celana rumah pendek milik Dara.

Segera, dia menghampiri Dara. ”Dara, chagiya, gwenchana? Dara…bertahanlah, sebentar…” bisik Minho. Dia menggenggam tangan Dara dengan erat sesaat sebelum mengambil transporter yang terletak di atas meja. Semoga saja gelombang transporter tidak akan menganggu kandungan Dara.

Begitu sampai di rumah sakit, Minho yang menggendong Dara dalam bridal style, segera memaksa para dokter untuk bergegas merawat istrinya. Dara segera dimasukkan ke dalam Unit Gawat Darurat dan Minho tidak diperbolehkan untuk masuk. Terlihat wajahnya begitu cemas melihat tubuh Dara yang dibawa pergi ke dalam UGD.

Tangannya terlipat seperti sedang berdoa, matanya terpejam karena takut. Begitu banyak hal yang terjadi. Dia berdoa semoga Dara tidak akan kenapa-kenapa, semoga anaknya selamat. Di saat seperti itu, tiba-tiba saja sebuah suara yang dia kenal memanggil dirinya. Dia memutar kepalanya menatap pemilik suara tersebut yang adalah Hanbyul. ”Apa maumu?” desisnya. Dia tahu bahwa surat itu pasti diantarkan oleh wanita ini. Bahwa wanita bernama Hanbyul itulah yang secara tidak langsung menyebabkan hal ini terjadi.

Dia tidak dapat menyalahkan Hanbyul sepenuhnya karena dia juga bersalah. Seandainya saja dia menceritakan hal yang sebenarnya kepada Dara maka istrinya tidak akan kaget dan dia tidak akan dikuasai oleh emosi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Dia tak bisa mengulang masa lalu. Hanya bisa menjalani apa yang dapat kemudian terjadi. ”Kau mempunyai 2 pilihan Minho. Kembali ke Rusia dan kami akan melepaskan Dara atau kau boleh kembali bersama dengan Dara, tetapi tak lepas dari kami.”

Pilihan yang sulit, seperti buah simalakama. Meninggalkan Dara saat istrinya sedang mengalami kejadian bukan hanya tidak bertanggung jawab, tetapi juga akan menyakiti hati istrinya. Tetapi, bersama dengan Dara juga bukanlah hal yang tepat karena dia tidak tahu apa yang akan dihadapi mereka di kemudian hari nanti. Bisa lebih buruk dan lebih berbahaya dari ini.

”Bagaimana, Minho?” tanya Hanbyul dengan sebuah senyuman yang Minho tahu sangat mengerikan.

”Kau memang kejam, Hanbyul,” desis Minho.

”Bukan aku, Minho, tapi takdirlah yang memutuskan demikian,” ucap Hanbyul.

”Aku akan kembali, tapi izinkan aku mengucapkan –”

”Tidak, kau harus segera kembali sekarang,” potong Hanbyul. ”Siapa yang akan tahu apa yang akan kau lakukan ketika kau bertemu kembali dengan Dara. Kau pasti akan berubah pikiran. Kau harus segera kembali seperti yang kau ucapkan. Tidak ada kata tidak.”

Tangan Minho mengepal dan menatap Hanbyul dengan tajam. Bisakah dia meninggalkan Dara yang saat ini tengah kesakitan di ruang UGD? Yang berteriak namanya dan memohon agar Minho berada di sisinya? Bersediakah dia membiarkan Dara menjalani hari-hari berikutnya sendirian setelah apa yang terjadi?

Kedua mata Minho terpejam perlahan. Dia menghela nafas panjang. Bulir bening itu mengalir perlahan dari kedua matanya yang terpejam.

Bisa.

Minho bisa meninggalkan Dara jika itu berarti yang dia lakukan adalah untuk melindungi Dara, wanita yang mencintainya, wanita yang dia cintai, wanita yang mengubahnya. Dara adalah seorang wanita yang bisa mengubah

”Lucu juga.”

Lee Minho

”Kau dulu itu kan dingin.”

Seorang pembunuh bayaran.

”Dan jangan lupa seorang pembunuh berhati dingin.”

Menjadi seorang pria penuh dengan cinta.

”Tapi lihat dirimu sekarang.”

Dara adalah cahayanya.

”Jadi lemah seperti ini hanya karena wanita itu.”

Dan dia berjanji akan terus menjaga cahaya itu.

”Ayo pergi.”

Meskipun dia harus menyakiti cahaya tersebut.

”Hanbyul,” panggil Minho sebelum keduanya pergi dari tempat itu menggunakan transporter. Hanbyul memutar untuk menatap Minho, menunggu kata yang akan keluar dari mulut Minho. ”Tidakkah kau mencintai Dong Wook?”

Hanbyul terdiam sebelum tersenyum. ”Kalau aku tidak mencintainya, aku tidak akan menyakitinya. Kau tahu ini adalah jalan yang terbaik,” ucap Hanbyul. Nadanya sedikit bergetar dan hal itu tidak terlewatkan oleh Minho. ”Ayo, dia sudah menunggu kita.” Minho tak mengangguk, tak menerima uluran tangan Hanbyul dan menghilang dari rumah sakit menuju tempat yang akan mereka tuju. ”Huh, takdirlah yang kejam, Minho,” bisik Hanbyul sebelum dia juga ikut menghilang di dalam transporter.

.x.

No matter how hard the past is, live, live for a better tomorrow.

Cause tomorrow is about uncertainty.

About hope.

.x.

Jepang, awal 2138.

Siang itu, matahari bersinar begitu terik menyinari wanita bernama Dara yang tengah berjalan di antara kerumunan. Tangan Dara menyentuh perutnya yang mengecil dengan ekspresi yang sendu.

.

”Maafkan kami, Sandara-shi, kami sudah berusaha sebisa kami, tetapi janinnya sudah terlalu lemah dan tidak bisa kami selamatkan.”

”Bohong! Kalian bohong! Tidak mungkin! Minho, di mana suamiku? Kalian bohong! Kembalikan, kembalikan anakku!”

 ”Sandara-shi, badanmu masih lemah, jangan terlalu banyak bergerak dan mengenai suamimu, kami tak menemukannya. Kami sudah mencoba untuk menghubunginya, tetapi kami tak bisa meraihnya.”

 ”Andwae! Tidak! Honey. Honey! Aku minta maaf, aku minta maaf…honey…”

.

Minho meninggalkannya. Itulah yang diketahui Dara saat dia terbangun dari mimpi buruk panjang yang adalah sebuah kenyataan pahit. Bayi yang selama ini dia tunggu tak kunjung datang dan tak akan pernah tiba. Suami yang dia cintai pergi entha ke mana. Dia kembali sendirian. Thunder bermaksud untuk menampungnya, tetapi karena Minho belum bercerai dengan dirinya, maka Dara masih berada dalam naungan pria itu dan tak dapat pergi seenaknya tanpa suaminya.

”Ah, aku bertemu dengan si noona,” seru sebuah suara yang tampak tak asing bagi Dara.

Dia yang sedari tadi menunduk melihat jalanan, mengangkat kepalanya perlahan dan melihat pria jangkung yang waktu itu pernah menolongnya. Minku bukan namanya?

”Sedang apa noona?” canda pria itu.

Entah setan apa yang merasuki Dara hingga akhirnya dia membenamkan dirinya dalam dada pria jangkung itu dan menangis sekeras yang dia bisa mendatangkan perhatian dari pejalan di sekitar mereka. Pria jangkung itu kelihatan kelabakan dan mencoba untuk menenangkan Dara. ”Hei, hei, noona.”

”Tolong biarkan aku sebentar,” isak Dara. Pria jangkung itu hanya bisa pasrah dan membalas pelukan Dara agar tidak terlihat aneh.

”Ah, sebentar lagi hujan. Tuhan sedang menangis, sepertinya,” bisik pria jangkung itu. Dia menatap ke arah langit yang mulai berubah gelap. Sungguh tidak dipercaya kalau tadi langit begitu cerah karena sekarang matahari sudah bersembunyi di balik awan. Gelap. Tetes air itu perlahan turuh membasahi penghuni bumi termasuk Dara dan pria jangkung itu.

”Dara,” bisik Dara.

”Hmm?” tanya Changmin yang kebingungan.

”Jangan panggil aku noona seenakmu. Namaku Dara,” ujar Dara. Sepertinya setelah menangis di tengah hujan ini membuat dia sedikit bisa lebih lega.

”Baiklah Dara-noona. Namaku Changmin, Shim Changmin,” ujar Changmin dengan lembut. ”Bagaimana kalau sekarang kita berteduh? Nanti kita bisa masuk angin.” Dara mengangguk dan keduanya kemudian berlari ke salah satu toko untuk berteduh di tengah hujan. Biarlah, Dara berpikir, biarlah hujan ini akan menghapus semua masa lalunya dan membiarkan dia melangkah pada sebuah masa depan. Namun dia tahu, bahwa dia tak akan bisa melupakan masa lalunya. Minho. Anaknya. Semua adalah bagian dari dirinya dan semua itu yang menjadikan dirinya sekarang.

Roda takdir memang kejam. Changmin yang menyelamatkan dirinya dari sebuah keputusasaan adalah sepupu dari orang yang memulai semua ini kepada Dara, Choi Hanbyul. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana masa depan mereka. Mereka hanya bisa berharap.

Dara bahkan tidak tahu bahwa 7 tahun kemudian dia akan bertemu kembali dengan Minho, bukan karena pria itu merindukannya, tetapi karena pria itu harus membunuhnya.

.x.

 ”Aku masih ingin bukti sebagai tanda kesetiaanmu.” 

”Apa maksudmu? Aku pikir semuanya sudah jelas?!”

”Well, kau tahu bahwa seorang raja harus memastikan bahwa pengawalnya benar-benar memihaknya dan tak ada maksud untuk berkhianat. Maka dari itu, aku memerintahkanmu, Lee Minho, untuk membunuh Sandara Park atau harus kupanggil dengan sebutan nyonya Lee?”

.x.

”Jangan terlalu banyak berpikir, bunuh saja dia seperti yang diperintahkan kepadamu.”

”Apakah aku harus membunuhnya?”

”Membunuh punya banyak arti, Minho, Kurasa dengan meninggalkannya saat dia keguguran, kau sudah membunuhnya.”

”…”

”Jika kau tidak mau membunuhnya, maka kita bisa melakukan cara lain. Lagipula, seperti yang sudah kukatakan, membunuh adalah sebuah kata yang ambigu.”

 

.x.

”Ho – Minho?”

”Aku datang untuk membunuhmu, Dara.”

”Begitu? Inikah akhirnya?”

”Selamat tinggal.”

.x.

Broken Past

The End

.x.

A/N:

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan @_@ bagi yang sudah membaca ’Broken Doll’ semoga ini semakin dipahami dan memecahkan satu ’teka-teki’ lagi. Atau malah menambah satu ya? O.oa kkk~

Ah, ff ini saya ikut sertakan dalam lomba tapi kalah /pundung/ hmm mungkin karena saya salah kirim naskah sih xD kkk, ya sudahlah, yang penting hutang saya berkurang #plak

Last, comment 🙂

_Verzeihen.

Advertisements

7 responses to “Broken Past

  1. wah baru baca yg iniiii >.<
    Aku agak2 lupa sama cerita yg terakhir, wkwkwkwkk… /puk2 eL/
    Loh?

    Jd gitu cerita tentang Dara dan rahimnya, jg sbnrnya Dara udh lama kenal Changmin.
    Lalu Minho, knp dia disuruh pulang ke Rusia?
    Msh berhubungan dg kerjaannya kah?
    Minho bukan seorang ordinary, tpi dia msh harus tunduk sama se7en ya?
    Uwaahh benar agak2 sedikit ngerti tentang Dara.
    Cuman bikin bingung juga iya 😛
    Apa Minho disuruh ngebunuh Dara cuma krn sbg perwujudan kesetiaan doang?
    Gak ada alasan lainnya? 😮

  2. Lagi search di google nemu ff ini kyaaa daebak unnie~! Penasaran minho bunuh dara gak yaaa semoga deh, aaa jadi ngefans sama unnie hehe^~^ jadi penasaran sama broken dollnya unnie..

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s