‘Til Death do Us Apart


Jadi tadi sebenarnya sudah mau tidur, tapi baca ff lama di hape dan author notes, kemudian teringat sama ff ini :’)

.

.

FF ini eL ikut sertakan pada lomba ‘Hyeahkim’ kemarin dan mendapat juara 2. Ini ff kolaborasi gitu sama adik eL juga. Dia kasih ide dan eL yang bikinin. Beberapa adegan dalam fanfic ini adalah kejadian nyata, waktu itu pernah dikritik bahwa kisah ini kurang dengan romance dan kawan-kawannya. Tapi, eL membuat fic ini membayangkan kedua ortu eL dan rasanya agak aneh kalau menulis mereka (walau hanya dalam sebuah simbol) melakukan adegan mesra. Hehe.

Well, anyway, enjoy it! ^^

.

.

Title: ‘Til Death do Us Apart

Genre: Angst/Family/Comfort

Summary: Bisakah Minzy mempertahankan sumpah setia yang pernah dia ucapkan di depan altar bersama Daesung? Atau mungkinkah penyakit yang dia alami akan membuat keduanya berpisah?

Author Note:

eL selalu menganggap Heechul kurang lebih seperti diri eL dalam beberapa hal. Kibum juga mirip adik eL saat kejadian itu. Tapi sekarang, eL rasa dia yang lebih mirip Heechul dan eL lebih mirip Kibum. Hahaha. xD

Waktu itu kan lombanya harus couple straight, jadinya eL pake Daesung x Minzy. Sempat ada yang komen juga, kok terbalik sih? Kenapa malah Minzy yang jadi umma dan Heechul jadi anak. eL cuma bilang karena Heechul mirip eL aja. Hahaha. Habis kalau Sandara x Lee Min Ho, agak kurang cocok. Gak bsa membayangkan appa eL jadi Min Ho –a #dijitak

Apalagi mata Daesung sama appa eL mirip, garis lurus xD #plak #plak

Oh ya, yang ada di garis miring adalah hal yang ingin eL ucapkan kepada umma.

Satu hal yang ingin eL tekankan. Jangan sia-siakan kesempatan. Kau tidak tahu kapan maut akan datang dan sampai dia datang, hiduplah dengan pilihan terbaikmu.

Enjoy reading ^.~

-x-

“Dae-ah, aku takut,” gumam seorang yeojya cantik dengan potongan rambut bob hitam.
Matanya tertuju pada seorang namja yang duduk di sampingnya. Namja yang memiliki mata begitu sipit sehingga saat dia tersenyum sekarang, matanya terlihat seperti sepasang garis lurus. Dia tersenyum kepada sang yeojya, mengelus punggung sang yeojya dengan lembut. “Minzy-ah, tenanglah, aku akan berada di sampingmu.”

Yeojya yang bernama Minzy itu menatap ke arah namja yang adalah suaminya. Pandangannya begitu sendu dan seolah kehilangan harapan. “Daesung,” bisiknya lirih. Entah apa yang ada di dalam pikiran Minzy saat dia tersenyum saat ini. Dia menyandarkan kepalanya ke atas pundak Daesung, terdiam cukup lama.

“Kita pasti bisa melewatinya,” ujar Daesung setengah berbisik.

“Jangan beritahu Kibum dan Heechul dulu, ne?”

Mendengar nama kedua anak mereka keluar dari sang istri, Daesung hanya mengembangkan senyuman penuh arti. Dia membiarkan Minzy untuk meneruskan apa yang ingin dikatakan oleh sang yeojya. “Chullie sedang menghadapi ujian akhir semester, aku tak ingin mengganggu konsentrasinya. Bummie, sebentar lagi dia akan kuliah.” Ada secercah rasa senang yang terungkap dari balik kalimat yang dilontarkan Minzy. “Anak kita sebentar lagi akan dewasa.”
Daesung mengecup kening Minzy cukup lama sementara sang yeojya mulai terisak. Isakan karena mungkin saja sebentar lagi dia akan menjadi beban, atau mungkin karena tak lama lagi dia akan tiada.

Sumpah setia yang terucap di altar kemudian terngiang di dalam kepala Minzy. Dia pernah melewati maut sekali, namun tak ada yang tahu apakah dia bisa melawannya sekali lagi. Meskipun, seandainya, dia dapat melawannya, dia tidak ingin Daesung menemaninya.

.
.

‘Til Death do Us Apart

160300067956283872_x1UkGsLc_f_large

by eL-chan

29.08.2012

.

.

.

6 bulan kemudian…

Cinta.
Karena cinta terhadap Daesung dan keluarganya-lah, Minzy melakukan apa yang sudah selama ini dia lakukan. Semenjak pengobatan berhasil dia lalui, 6 bulan yang penuh penyiksaan, Minzy bisa dikatakan berhasil melawan maut. Hanya saja tidak ada yang tahu kapan maut akan mendatanginya lagi. Saat ini, Minzy sedang melewati masa penyembuhan, tak bisa menikmati makanan seperti sebelumnya. Daesung meminta umma Minzy, Gummy, untuk menjaga sang istri. Itulah sebabnya sekarang Minzy sedang duduk di atas kursi makan dengan umma-nya yang sedang memasak di dapur.

Di saat yang bersamaan, Heechul dan Kibum juga berada di ruang makan. Heechul adalah seorang namja cantik yang sedang duduk di atas tangga sembari memegang blackberry-nya. Dia mewarisi wajah cantik sang umma, keceriaan sang appa, dan sifat blak-blakan entah dari siapa (gabungan kedua orang tuanya mungkin?). Sementara Kibum adalah namja manis yang tengah membaca buku di kursi makan yang lain. Kalau Heechul adalah namja ceria dan bawel, maka Kibum lebih kepada pendiam seperti umma-nya. Dia juga lebih memiliki wajah manis appa-nya daripada kecantikan sang umma.

Apa yang sedang mereka lakukan sekarang, kalian tanya?

Ceritanya sekarang mereka berdua sedang dalam masa liburan. Heechul yang sudah menyelesaikan ujian semesternya dan Kibum yang sedang menunggu ajaran baru universitasnya. Mereka kembali pulang ke rumah dan disuruh Daesung untuk menjaga sang umma sementara dia pergi bekerja mencari nafkah. Tentu saja keduanya tidak keberatan, walau sempat merasa kesal dengan cara Daesung menyuruh mereka.

“Chullie-ah! Kalau kau bermain blackberry-mu sekali lagi, umma akan buang! Bummie-ah, kalau kau cuma mau baca buku saja, lebih baik kau di atas!” seru Minzy.
Gummy yang sedang memasak di dapur hanya menggelengkan kepalanya. Sudah sejak pagi Minzy berceloteh dan memarahi kedua anaknya. Entah apa yang direncanakan Minzy, Gummy tidak tahu, tetapi sepertinya berhasil membuat kedua anaknya kesal.

“Ish, umma! Marah-marah terus dari tadi!” balas Heechul dengan sinis.
Kibum hanya terdiam dan meletakkan kembali buku ke dalam rak. Dia memutuskan untuk membantu neneknya mengelap piring. Dengan satu decakan kesal, Heechul juga menyusul Kibum. Sementara Kibum mengelap piring, Heechul memasukkannya ke dalam lemari. Tetapi memang dasar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Heechul menjatuhkan piring plastik ke atas lantai. Sifat ceroboh sang appa lebih menonjol kepada Heechul daripada Kibum.
Saat Heechul hendak mengambil piring tersebut, kembali lagi Minzy mengomel. “Aish! Kamu itu kerja yang benar! Buat apa maaf kalau semua sudah terjadi, hah?!” Heechul kembali mendengus dan memutuskan untuk mengabaikan omelan Minzy. “Kerja tidak ada yang benar! Tahu gitu mending tidak usah berbuat apa-apa. Sana ke atas saja!”

Tak ingin kalah, Heechul melawan dan memasukkan piring tersebut ke dalam lemari dengan kasar. Dia meneruskannya sampai semua peralatan makan sudah pada letaknya. “Hyung ke atas saja, aku bisa menanganinya,” bisik Kibum pelan hingga Minzy tak bisa mendengarnya.
“Nanti. Aku ke atas pun juga umma pasti tetap mengomel. Dia akan bilang kenapa anaknya tidak ada yang perhatian dan turun ke bawah,” balas Heechul.

Selesai memasukkan piring, Heechul menyapu sebentar sementara Kibum kembali membaca buku. Ketika bagian dapur sudah tak adalagi yang bisa dikerjakan, Heechul dan Kibum segera beranjak ke atas menuju kamar mereka, meninggalkan Minzy sendirian di ruang makan.
Minzy yang telah ditinggalkan oleh kedua anaknya kembali menekan makanan agar menjadi halus supaya bisa dikonsumsi olehnya. Gummy, umma-nya, hanya tersenyum tipis dan melanjutkan untuk memasak makanan untuk kedua cucu dan menantunya.

Dalam keheningan, keduanya kembali melanjutkan aktivitas mereka. Minzy tidak sadar, matanya mulai memerah dan makanan yang dia kunyah sekarang tak ada rasanya.

Hambar. Sama seperti hidupnya sekarang.

Umma, kenapa umma terus memasak? Istirahatlah,” pinta Minzy dengan lembut. Melihat umma­-nya terus memasak terutama untuk dirinya membuat dia merasa tidak enak. Meskipun sudah tua, Minzy salut terhadap umma-nya yang masih kuat dan tentu saja karena masakan Gummy sangat enak.

Gummy tersenyum lembut sembari memotong wortel. Suara lembut sang umma kemudian terdengar, ”Umma ingin melakukan apa yang bisa umma lakukan sekarang. Selagi bisa, kenapa tidak?”

Satu kalimat itu lantas membuat Minzy terdiam dan kembali menatapi nasi yang sudah halus di hadapannya. Kalimat yang dilontarkan umma-nya selalu berhasil membuatnya terdiam. Dia tak bisa membalasnya karena apa yang terucap benar adanya. Jika umma-nya masih bisa memasak, kenapa tidak memasak? Karena itu Minzy memutuskan, jika bisa memberikan Daesung sebuah pilihan yang lebih baik, kenapa tidak?

.

Hidup penuh pilihan, yang menyenangkan dan yang menyakitkan.

Jika pilihan yang kau pilih menyakitkan hatimu,

Namun kau yakin di satu sisi dapat membahagiakan mereka yang kau cintai

Maukah kau melakukannya?
.

Menatap ke cermin adalah hal yang paling menakutkan bagi Minzy sekarang. Di hadapannya sekarang terlihat seorang yeojya yang begitu buruk rupa. Tubuh kurus kering seperti kekurangan gizi. Mata terlihat sayu, tak memancarkan kehidupan. Rambut hitam indah yang dulu dia miliki, sudah hilang tak bersisa. Kecantikan yang dulu membuat semua orang terkagum, sekarang hanya tinggal kenangan.

Dia menarik nafas panjang saat melihat bayangannya di cermin. ‘Daesung berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada yang ada di balik cermin,’ pikirnya.

Cklik.

Ketika pintu kamar terbuka, Minzy terkesiap. Dia memutar badannya yang tengah berdiri di depan cermin rias, menatap ke arah Daesung yang sudah pulang. Wajah kelelahan Daesung tertangkap oleh indera penglihatannya dan dia kembali bersedih.

“Minzy!” seru Daesung dengan senang. Melihat sang istri yang menyambutnya, suami mana yang tak akan senang?

“Cepat mandi, umma sudah memasak untukmu, nanti dingin!” balas Minzy dengan kasar. Daesung mengangguk dan segera mandi, menuruti keinginan sang istri.

Satu tarikan nafas panjang dilakukan Minzy sebelum melakukan aksinya sekali lagi. Dia menunggu sampai Daesung selesai dan turun ke bawah untuk makan. Tak berapa lama, dia pun ikut turun menyusul sang suami. Dia merasakan atmosfir ruang makan yang begitu hangat. Oh, betapa dia akan merindukan hal ini. ”Chullie, bantu nenek kalian ambil nasi untuk appa! Bummie, bantu nenek angkat mangkoknya, itu panas!” seru Minzy.

Kedua anaknya segera mengikuti perintah sang umma sementara sang appa sedang terduduk di atas kursi, menunggu makanan di hadapannya. Heechul membawa piring berisi nasi ke tempat appa-nya, tak lupa juga dengan sendok dan garpu. Kibum menyusul dengan mangkok berisi sup panas tak berapa lama.

Minzy memutuskan untuk duduk di meja makan dekat dapur. Di rumah mereka terdapat dua meja makan, satu yang sedang diduduki oleh Minzy yang disebut meja kotor, sementara satu lagi tempat Daesung berada, yang umumnya untuk meja makan bersama. ”Chullie, ambilkan umma kuah.”

Heechul mengangguk dan segera menghampiri panci yang berisi sup panas untuk sang umma. ”Aish, bisa kerja yang benar tidak?” gerutu Minzy saat melihat gerakan Heechul yang lama. Dia kemudian merebut sendok sup dari tangan Heechul dan kemudian mengambil makanannya sendiri. Heechul hanya melihat dalam hening di sebelah sang umma, menunggu perintah yang akan diberikan kepadanya. ”Sudah, sana makan. Biar umma kerja sendiri saja! Kalau suruh kamu, mending umma  kerjakan sendiri!”

Minzy sempat mendengar gerutuan yang dilontarkan Heechul, namun karena terlalu kecil suaranya, dia tak dapat mendengar dengan jelas. Suasana di meja makan Daesung dan kedua anaknya tampak begitu hening. Atmosfir ceria tadi seolah berganti menjadi suram. ”Umma, biar mereka saja yang ambil!” seru Minzy saat melihat umma-nya sedang mengangkat piring berisi ayam goreng.

Kibum yang kali ini berinisiatif untuk segera merebut piring tersebut dari neneknya sebelum terjadi omelan lagi. Makan malam kali ini tak berbeda dari sebelumnya. Suasana hening kembali melanda mereka. Untunglah masakan Gummy yang enak setidaknya mencairkan suasana makan. Di bagian Minzy, dia masih menekan nasi sembari mencampurkan bola-bola daging agar lebih halus. Karena lidahnya yang masih dalam proses pemulihan, dokter tidak menyarankan untuk mengkonsumsi masakan yang keras. Lagipula, bukannya Minzy bisa memakan yang keras dengan mulut seperti ini. Menghindari makanan panas, dingin, pedas, dan juga terlalu manis adalah pilihan tepat agar cepat sembuh.

Sebenarnya dia teringat bagaimana sosok Daesung saat tahu mengenai penyakitnya. Begitu hancur dan rapuh. Minzy kembali merenungkan saat bulan Maret ketika dirinya terjatuh pingsan karena kekurangan darah dan Daesung terlihat begitu khawatir. Minzy masih bisa melihat di sela-sela kesadarannya bagaimana suara teriakan Daesung memanggilnya untuk bertahan. Jika dapat memutar waktu, Minzy tak ingin melihat raut seperti itu di muka Daesung lagi. Sangat menyedihkan. Mungkin itu kali pertama bagi Minzy melihat Daesung menangis semenjak kelahiran Kibum.

.

Kasih dan cinta, dua kata yang mengandung satu makna yang sama.

Serupa tapi tak sama.

Kasih seorang ibu kepada anaknya.

Dan cinta seorang istri kepada suaminya

Membuat seorang wanita mampu melakukan apapun demi kebahagiaan anak dan suami.

Sebuah pengorbanan.

.

Hari Sabtu adalah hari bagi Minzy untuk menenangkan diri. Kedua anak dan suaminya tengah pergi ke mall atau bioskop untuk menonton film yang sedang diputar. Di rumah, hanya tinggal dirinya sendiri dengan sang umma. Gummy lebih suka duduk di bawah menonton TV sementara Minzy di atas menatap kosong ke layar kaca.

Dia ingin menangisi kehidupannya, takdir yang membuat dia seperti ini. Dia mengerti bahwa ini adalah rencana Tuhan, bahwa Tuhan tak akan pernah menguji umat-Nya melebih kemampuan umat-Nya. Minzy berharap bahwa dia cukup kuat untuk melewati semua ujian ini. Dia ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Daesung.

Minzy tahu bahwa Daesung bukanlah ahjussi tua yang jelek dan tak memiliki karisma. Sebaliknya, meskipun sudah tua, Daesung memiliki sebuah keunikan dan daya tariknya sendiri. Bagaimana ucapan yang keluar dari Daesung penuh wibawa dan kebijakan. Semua dikarenakan masa lalu yang dialami oleh sang suami sendiri. Posisi Daesung di perusahaan juga tak kalah menggoda. Menjadi seorang direktur di perusahannya bukankah meneriakkan sesuatu?

Karena semua kelebihan Daesung yang Minzy pahami, dia juga mengerti bahwa banyak yeojya di luar sana yang jauh lebih baik untuk Daesung, jauh lebih cantik. Yeojya yang tidak botak dan tidak seburuk rupa seperti dirinya. Yeojya yang tidak kurus kering dan lebih berisi pada bagian tertentu daripada dirinya. Minzy bukanlah apa-apa dibanding yeojya cantik dan baik hati yang ada di luar sana. Yeojya yang mungkin dapat menjadi umma bagi kedua anaknya.

Oh, air matanya mulai mengalir perlahan. Tetesan bening yang ada di matanya mengaburkan pandangannya. Dia merasa bersalah telah meneriaki Heechul dan Kibum selama ini. Kalau boleh, dia merasa kecewa kepada dirinya sendiri, tak bisa menjadi umma yang baik kepada kedua anaknya. Daripada menggunakan cara baik untuk mendekati Heechul dan Kibum, dia lebih memilih menggunakan kekerasan. Matanya menatap ke arah tangannya yang bergetar. Dia mengingat bagaimana tangan ini dulu menggunakan rotan untuk memukul kedua anaknya, bagian kaki, punggung, hingga menimbulkan luka. Bagaimana dia memukul kedua anaknya hingga menimbulkan bekas di punggung. Bagaimana dia kemudian menangis di malam hari setelah dia melakukan itu, mencurahkannya kepada Daesung yang menepuk pundaknya dengan lembut. Bagaimana Daesung mengucapkan kalimat yang dapat menenangkan dirinya.

Jika ada satu hal yang dia sesali mungkin caranya yang salah dalam mendidik anaknya. Dia tak dapat menyalahkan Heechul dan Kibum jika mereka membenci dirinya sekarang, terutama ketika dia terus mengeluh seperti ini. Oh Tuhan, apakah ini hukuman karena dia dulu tak menghargai harta yang Kau titipkan padanya? Ataukah ini tak lebih dari sebuah peringatan bahwa sudah saatnya Minzy meninggalkan ketiganya?

Kepala Minzy kembali terasa sakit setiap dia memikirkan hal yang terlalu berat. Dokter memang sudah berpesan agar Minzy tidak boleh terlalu stress. Ini juga salah satu alasan kenapa Daesung memaksa agar Kibum dan Heechul tidak menceritakan masalah mereka kepada Minzy, melainkan Daesung. Tentunya Minzy baru tahu akan hal ini tak berapa lama setelahnya.

Suara berisik di bawah menandakan bahwa suami dan kedua anaknya sudah pulang. Jam sudah berdentang 10 kali, tanda sudah jam 10 malam. Tidak aneh kalau mereka sudah pulang jam segini, hanya saja Minzy berharap mereka memilih untuk pulang lebih malam sehingga dia bisa lebih lama merenungi dirinya.

Tak menunggu lama, Minzy segera menutup layar TV yang menyala, membaringkan dirinya di atas ranjang, dan menyelimutinya sehingga dia terlihat sedang tidur. Indera pendengarannya menangkap suara pintu kamar yang terbuka, pintu kamarnya dan pintu kamar anaknya. Langkah kaki Daesung terdengar memasuki ruangan. ”Minzy?” Dia dapat mendengar suara Daesung yang memanggilnya dengan lembut.

Menghindari pertanyaan Daesung, Minzy segera memiringkan sedikit tubuhnya seolah sedang mencari posisi yang nyaman baginya. Dia tahu bahwa Daesung mengenal ciri khasnya sehingga dia yakin Daesung pasti mengerti maksud tindakannya. Benar saja, Daesung melewati tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk melepaskan jam tangan, mengeluarkan uang dari kantong, dan beberapa hal lainnya sebelum mengganti baju.

Isakan kecil Minzy tertutupi oleh suara dari TV yang dinyalakan Daesung. Hal ini membuat Minzy kembali bersedih di dalam hatinya. Daesung yang biasanya berhemat akan beberapa hal, mengeluarkan uang untuk membeli headset hanya agar dia tidak menganggu Minzy saat ingin menonton TV. Lampu kamar juga diatur biar tidak terlalu terang, padahal Minzy tahu bahwa biasanya Daesung menyalakan lampu lebih banyak agar mata sang suami tidak rusak.

Cukup.

Sudah cukup dia mengasihani dirinya sendiri, dia harus membuat Daesung membenci dirinya dengan cara apapun. Dia harus membuat Daesung menyesal dan kemudian…

Menceraikannya.

Oh, bagaimana satu kata itu sudah membuat air mata mengalir perlahan di mata Minzy. Tak ada isakan, hanya tetesan bening yang turun membasahi pipinya yang sudah tak tembem lagi.

Cerai adalah kata yang begitu berat, tapi Minzy dapat memberikan banyak alasan kenapa Daesung harus melakukan hal itu. Salah satunya karena Minzy tak lebih dari beban bagi keluarganya. Keadaannya sekarang membuat dia tak bisa pergi ke manapun. Setiap beberapa jam, dia harus makan dan juga tidak boleh sembarang makan, hanya bubur atau mie yang lunak yang dapat dia konsumsi. Terkadang dia minum susu, tapi itu pun hanya berguna untuk mengganjal perut.

Bukan hanya menjadi beban, Minzy sekarang tak bisa melakukan tugas sebagai umma dan istri yang baik. Istri mana yang tidak bisa melayani suaminya lagi setelah pulang? Dia sudah tidak bisa menemani Daesung seperti dulu, menemani makan malam di ruang makan, memasak makanan enak untuk suami dan anaknya, atau bahkan menemani Daesung menonton film di televisi. Sekarang, semuanya tak lebih dari kenangan.

Satu lagi yang menjadi alasan kuat Minzy. Maut tak ada yang tahu, sakit tak ada yang dapat menolak. Siapa yang dapat menebak kapan penyakit Minzy akan berkembang menjadi lebih parah? Dia tidak sanggup membayangkan wajah Daesung yang sedih seperti saat itu atau bagaimana jika anak-anaknya nanti tak memiliki umma lagi? Lebih baik dia pergi sebelum semuanya terlambat. Setidaknya, dengan pergi jauh dari kehidupan mereka, membuat mereka membenci dirinya, mereka bisa berjalan maju, melupakan dirinya.

Gyut.

Rasa sesak di dada semakin bertambah mengingat bahwa mungkin saat dia pergi nanti, dia akan tak lebih menjadi sebuah kenangan. Bagai daun-daun yang berguguran yang terlupakan seiring bersentuh dengan tanah. Mungkin seperti itulah sosoknya saat dia kembali menjadi tanah, bertemu kembali dengan Sang Pencipta.

.

Sumpah setia di atas altar.

Bahwa kau akan bersama dengan pasanganmu sampai maut memisahkan

Beranikah kau melanggarnya?

Karena mungkin dengan begitu, kau dapat memberikan kebebasan bagi pasanganmu

Untuk membiarkannya menemukan yang lebih baik dari dirimu.

Sebuah pengorbanan agar dia bisa melanjutkan perjalanannya karena langkahmu sebentar lagi akan terhenti.

.

”Chullie! Cuci piring!”

”Chullie, buka pintu!”

”Chullie, lap meja!”

Seharian ini, Minzy terus memarahi Heechul. Berhubung Kibum sedang ada urusan dengan teman-temannya, jadilah Heechul tinggal sendirian di dalam neraka. Sudah sejak pagi, Minzy terus mengomeli Heechul padahal namja cantik satu itu sudah melakukan semuanya (atau sedang ingin melakukannya dan Minzy langsung memarahinya). Mungkin bagi beberapa orang yang sudah melihat tindakan Heechul berpikir bahwa amarah Minzy tampak tak ada alasan. Heechul bukannya tidak membantu, dia bahkan sedang berjalan untuk melakukan kegiatan yang disuruh Minzy bahkan sebelum sang umma menyuruhnya.

Hal yang membuat Minzy heran adalah Heechul tak berdecak kesal atau bahkan balas memarahinya. Tahu bahwa tensi anaknya yang satu ini cukup tinggi, Minzy berharap bisa melakukan hal yang sama dengan menekan tombol yang tetap. Namun, nyatanya Heechul tetap biasa saja. Dia melakukan semua yang disuruh dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Ketika siang tiba, Heechul terduduk dan Minzy memarahinya sekali lagi untuk membereskan meja padahal anaknya sendiri belum selesai menyantap makanan sang umma. Heechul hanya mengabaikan amarah sang umma dan lanjut menghabiskan makanannya. Barulah setelah habis, dia membereskan peralatan makan. ”Sudah, umma marah saja, aku bakal dengar dan menganggapnya sebagai angin lalu.”

Jawaban Heechul sedikit membuat Minzy tersentak. Dia tidak menduga akan mendengar balasan seperti ini dari anaknya. Gummy yang juga berada di dapur dan mengamati kegiatan anak dan cucunya sedari tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lebih memilih untuk mencuci panci yang akan dia gunakan untuk membuat kuah untuk menantunya nanti malam.

Oke, jika cara ini tidak berhasil, maka Minzy mempunyai cara yang lain. Dia bisa memanfaatkan Heechul yang sangat mementingkan penampilan di masyarakat. Tentunya mengajak sang umma yang buruk rupa keluar pasti akan ditolak mentah-mentah oleh Heechul bukan?

”Tidak apa-apa,” jawab Heechul. Minzy tersentak kaget. Ini tidak sesuai dengan perkiraannya.

”Kau tidak malu umma pergi seperti ini?” Minzy menunjuk kepalanya yang menggunakan syal untuk menutupi rambutnya yang sudah tak ada dan gayanya yang lebih terlihat begitu tua rentan.

Heechul mengangkat kedua bahunya sembari mengelap piring. ”Tidak masalah, toh mereka tidak mengenal umma dan aku tidak peduli. Kenapa harus memikirkan pendapat orang lain?” jawab Heechul acuh.

Minzy tidak tahu harus terharu mendengar perkataan Heechul atau bersedih karena dia tak berhasil membuat Heechul membenci dirinya seperti yang dia inginkan. Heechul berhak mendapatkan umma yang lebih baik. Mungkin dengan pergi keluar bersama dengannya, Heechul akan sadar bahwa dia bukanlah umma yang cocok untuk Heechul.

.

Pernah mendengar peribahasa ini?

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan?

Mungkin benar, tapi satu hal yang mungkin tak terpikirkan

Hormat anak kepada sang ibu juga tak terhingga

Sepanjang jalannya kasih sang ibu kepada sang anak.

.

Minzy menghela nafas di depan cermin. Dia sedang terduduk di depan meja rias. Matanya menatap ke arah cermin dengan sendu. Apa yang terjadi tadi bersama Heechul di luar perkiraannya. Dia malah menghabiskan waktu dengan tawa bersama anaknya. Sudah lama dia tidak berbicara mengenai kehidupan Heechul. Mungkin karena terlalu lama dia terkurung di dalam rumahnya sendiri. Memang sesekali Heechul bermain blackberry dan itu cukup membuatnya kesal, tapi rasa kesalnya tertutupi oleh rasa senangnya menghabiskan waktu bersama anaknya.

Pintu kamar yang terbuka membuat dia kembali tersentak kaget. Matanya bertatapan langsung dengan Daesung yang malam itu memutuskan untuk pulang cepat. Sepertinya sang suami tak ingin membuat sang istri dan mertua tidur terlalu malam karena menyiapkan makan malam untuknya. Atau mungkin ada alasan lain bagi Daesung untuk pulang lebih pagi.

Jika ada yang berbeda malam ini, hal itu adalah kantong plastik yang Minzy tahu berasal dari toko pakaian bermerk ternama. ”Apa itu, Dae?” ucap Minzy dengan sedikit kesusahan. Bekas operasi di lidahnya membuat indera bicaranya juga tak berjalan sesuai harapan. Mungkin hanya waktu marah, kejelasan lafalnya dapat ditolerir.

”Oh, tadi ada diskon di toko ini dan aku memutuskan untuk membeli beberapa baju. Cobalah! Pasti cantik!” seru Daesung.

”Tidak mau!” balas Minzy dengan sengit.

Cantik?

Bagian mana dari dirinya yang dapat meneriakkan kata cantik, huh? Tubuh tak berdaging penuh tulang? Pipi tak berisi hanya terlihat urat? Kepala tak penuh rambut? Mata sayu dan cincin hitam di sekeliling matanya? Oh mungkin Daesung sudah buta. Sepertinya begitu, Minzy meyakinkan dirinya sendiri.

Entah sejak kapan, Daesung sudah berdiri di hadapannya, tersenyum lembut yang membuat mata sang suami terlihat seperti sebuah garis lurus. ”Minzy, percayalah, kau cantik, sangat cantik,” bisik Daesung. ”Coba dulu, ne? Aku membeli pakaian ini membayangkan kau memakainya dengan semangat. Aku mendengar dari Chullie kalau kau pergi ke luar hari ini. Itu bagus, kau harus sering-sering keluar kalau kau sudah cukup kuat.”

Melihat Minzy masih tak bereaksi, Daesung menghela nafas dan kemudian melanjutkan kalimatnya. ”Dengar Minzy, aku mengerti mungkin emosimu sedikit tidak stabil karena dalam masa penyembuhan. Aku sudah mengatakan hal ini juga kepada Chullie dan Bummie. Mereka mengerti. Jadi, mungkin kalau kau marah kepada mereka, mereka tak akan kesal. Oke, mereka akan kesal, tapi mereka mengerti. Bukankah rasa saling memahami yang diperlukan dalam sebuah keluarga? Kau yang mengajarkan itu kepadaku Minzy.”

Tidak stabil? Oh jadi, selama ini amarahnya hanya dianggap sebagai pelampiasan dalam masa penyembuhannya? Mungkinkah karena itu mereka tak menganggapnya serius? ”Dae, dengar aku tidak marah! Aku tidak melampiaskan apapun. Apa kau tak mengerti bahwa aku benci kepadamu? Benci kepada Chullie dan Bummie karena tak mendengarkanku?!” Setiap kata benci yang terlontar bagaikan satu tusukan belati pada jantungnya, sangat menyakitkan.

”Ssh..jangan banyak bicara, lidahmu masih belum sembuh benar,” bisik Daesung. Dia memeluk Minzy dengan erat, membenamkan kepala yeojya yang dia cintai ke dalam dadanya. ”Minzy, oh Minzy, aku minta maaf jika kau membenci diriku, katakan apa salahku?”

”Kau tidak pantas untukku! Kau…kau berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.” Kali ini Minzy terisak di dalam pelukan Daesung, membenamkan kepalanya lebih dalam agar Daesung tak menyadari isakannya.

Perlahan, Daesung mengelus kepalanya. ”Minzy, bukankah kita sudah berjanji? Baik suka maupun duka, sakit ataupun sehat, kita akan selalu bersama,” ujar Daesung perlahan. ”Masakan karena hal ini aku harus melepasmu, tidak Minzy, tidak.”

Isak tangis Minzy semakin terdengar. Pertahanannya runtuh sudah. Begitu lama dia tak merasakan kehangatan dari sang suami. Begitu rindu akan sentuhan ringan di kepalanya. ”Minzy, kau itu cantik. Tidakkah kau tahu bahwa saat ini kau terlihat begitu cantik di mataku?”

”Kau bohong,” desis Minzy.

”Andai aku bisa menyuruh doraemon untuk memberikanku alat agar kau bisa melihat apa yang sedang kulihat sekarang, akan kulakukan, Minzy.” Daesung meletakkan kedua tangannya kepada pipi Minzy yang bertulang membuatnya dapat melihat sosok Minzy yang tengah mengeluarkan air mata.

Minzy terkekeh dalam tangisnya. Dalam keadaan seperti ini, Daesung masih saja bisa membuat lelucon konyol seperti ini. ”Memang apa yang kau lihat? Seorang yeojya tak berdaging dan seperti papan gilasan?”

Daesung tertawa pelan. ”Hahaha. Penampilannya mungkin, tapi yang kulihat bukan itu.” Kali ini dia menatap ke arah Minzy dengan intens. ”Yang kulihat adalah seorang yeojya yang memiliki kekuatan untuk melawan maut. Seorang  yeojya yang rela berkorban demi keluarganya. Seorang yeojya yang masih berani untuk bertahan meskipun banyak halangan yang menanti.”

”Iya, tapi aku jelek,” sela Minzy.

”Jelek atau tidak, aku sudah tidak peduli, Minzy. Toh, aku tidak menikahimu karena penampilanmu. Kau harus lihat dirimu yang dulu daripada sekarang,” goda Daesung.

Minzy memukul pundak Daesung perlahan. ”Padahal dulu kau yang melamarku bahkan kalau aku tidak bilang iya, kau mau menghentikan mobil di tengah-tengah rel kereta api!”

”Hahaha. Kau harus melihat wajahmu saat itu, Minzy.”

Keduanya tertawa dan kemudian mata saling memandang penuh arti. Daesung mungkin tak mengerti alasan di balik amarah Minzy selama ini. Minzy mungkin gagal menjalankan rencananya. Keduanya mungkin gagal, namun mereka berhasil meraih sesuatu, keutuhan dari hubungan mereka.

Bukankah ucapan sumpah setia di altar selalu ditambahkan dengan kata akhir sang pendeta:

”Dengan ini saya umumkan kalian sebagai suami istri sampai maut memisahkan.”

.

.

Hidup bukanlah dongeng

Tak dimulai dengan kata ’Pada zaman dahulu kala’

Dan diakhiri dengan kata ’…mereka hidup bahagia selama-lamanya.’

Tetapi selama kepercayaan untuk akhir yang indah dipegang

Bukan tak mungkin bahwa hidup akan diakhiri dengan kalimat yang sama

”…dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.”

Atau boleh juga diubah

”…mereka hidup bahagia bersama sampai maut memisahkan mereka.”

.

The End

.

Author Notes:

So, bagaimana menurut kalian? c:

Apa yang diucapkan kepada Minzy oleh Daesung juga sebuah ungkapan dari dalam hati eL dan apa yang diucapkan Minzy mengenai apakah Heechul akan malu jalan bersama dengannya benar terjadi dan apa yang diucapkan Heechul juga apa yang eL ucapkan.

Tapi eL bersyukur sekarang semuanya sudah baik2 saja. Umma eL hanya perlu menjalani terapi untuk kontrol kesehatan. Memang masih agak susah makan, tapi sudah lebih baik. Ah. eL bahagia sekali. Semoga saja kisah ini dapat membuat chingudeul menghargai setiap waktu bersama dengan sang umma ^^ eL tahu kalau mungkin ceritanya agak flat, tapi eL tidak mau menambahkan terlalu banyak ‘bumbu’ eL mau asli seperti apa yang pernah terjadi dalam kehidupan eL.

Oh, dan apa yang diucapkan Gummy benar2 diucapkan sama halmoni eL! Dia suka masak dan selalu berada di dapur dari pagi sampai malam kecuali untuk mandi dan nonton TV sebentar. Pas ditanya, “Kok nenek gak mau santai aja sih?” Dia jawab, “Nenek mau kerjain apa yang bisa nenek lakukan sekarang.” :’)

Last, comment? 🙂 

_Verzeihen 

Advertisements

3 responses to “‘Til Death do Us Apart

  1. huweeeee ane terharu T_T
    Mau komen apa juga bingung. Minzy dan Daesung di sini pasangan sempurna.
    Heechul dan Kibum juga bisa mengerti kekesalan Minzy yg suka menyuruh-nyuruh mereka tanpa memprotes dg kasar.
    Pasti eL bahagia punya mama papa spt itu.
    Smoga mama eL segera sembuh ^^

  2. el sumpah aq sedih bgt.. Well…remind me for my past… Actually part janji suci itu,really hard to believe,skrg msh aada yg mengenggam janji suci itu seerat2nya. Hope,your mother always keep health, and also mine’s.i know,every child love them. We love our mother,with our’s ways even with not saying i love you ,mom for everyday,and give skinship or hugging. But i do believe,every child was always keep their mommies,and daddies in heart. Love it! Elll jjang!!!!! You played my emotion**hikksss

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s