Chapter 12 – Walking Randomly


Kesempatan kali ini saya yang ingin mengatakan pada anda.

Jika anda TIDAK SUKA, JANGAN BACA!

Saya sarankan bagi anda jika TIDAK TAHAN, SILAKAN KEMBALI! Saya akan antarkan anda pada pintu keluar.

Intinya ketika anda memutuskan untuk membaca ini, silakan tanggung sendiri akibatnya dan JANGAN memarahi author hanya karena ketidak-mampuan anda untuk membaca!

NO PLAGIARISM!

Warn: Don’t Like Don’t Read! 

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 |Chapter 3| Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9  | Chapter 10 | Chapter 11

.

.

Chapter 12

.

.

Saat itu TOP sedang berjalan menuju ruangan Yunho bersama dengan Taeyang. Derap langkah kaki keduanya menggema di lorong yang mereka lewati. Ketika berada di depan pintu Yunho, TOP hanya mengetuk pintu sekali dan kemudian segera memutar kenop pintunya, tak menunggu kata ’Masuk’ dari sang pemilik ruangan. Yunho mengangkat alisnya saat melihat TOP namun kemudian mengabaikan pemuda yang lebih tua darinya itu dan melanjutkan kembali untuk mengecek dokumen di hadapannya. Dokumen yang entah sejak kapan sudah menumpuk di mejanya.

”Kurasa kau perlu mempekerjakan seorang sekretaris, kau tahu?” ujar TOP. Pintu di belakangnya sudah ditutup oleh Taeyang yang sekarang sudah menuju ke pintu hitam.

Yunho hanya terdiam dan mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa dia tidak terlalu peduli. ”Mungkin kau dapat mempekerjakan Hyoyeon? Dia tampak terlatih dalam hal-hal seperti ini.”

”Tidak perlu,” sela Yunho. ”Terlalu banyak orang dan itu memusingkanku.”

”Terserah kau saja, tapi aku tidak mau kau sampai jatuh sakit dan kecapekan hanya karena kau tidak dapat beristirahat.”

Mendengar itu, Yunho mendengus,  seolah mengejek perkataan TOP kepadanya. Di antara mereka, Yunho dan TOP termasuk master yang dapat membagi waktu. Yunho karena dia seorang headmaster dan TOP karena dia adalah pemilik dari perusahaan entertainment. Pekerjaan keduanya mengharuskan mereka dapat membagi waktu dengan baik atau mereka akan kewalahan. Sempat mempekerjakan sekretaris, namun yang ada mereka malah menjadi sedikit kewalahan untuk menjaga agar sekretaris mereka tidak tertarik kepada keduanya.

Hyoyeon yang ditawarkan TOP adalah sekian dari banyak wanita yang tidak tertarik kepada keduanya, bukan karena wanita itu swing pada pihak yang lain, melainkan karena Hyoyeon memang tidak tertarik, sesederhana itu. ”Sudahlah, cepat kau masuk. Hari sudah mulai gelap dan aku yakin Minzy juga ingin segera menyelesaikan latihannya agar dapat bersama dengan Daesung.”

”Oh, D-lite? Sepertinya mengasyikkan.” Yunho melirik ke arah TOP dengan tatapan ’apakah kau serius?’, TOP terkekeh. ”Baiklah, aku juga sudah ingin beristirahat. Oh iya, tolong sampaikan kepada Taecyeon untuk mengantar Dara mengecek keadaan Jiyong setelah Taemin dan Changmin.”

”Hmm,” balas Yunho.

”Dan Yunho,” Yunho tak menjawab, tapi TOP tak peduli dan melanjutkan kalimatnya, ”Mungkin kau harus memikirkan mengenai sekretaris itu dan oh, kurasa seorang dokter pribadi lagi akan lebih baik. Tidak lucu kalau dokter kita juga sakit bukan?” Setelah itu, TOP pun menuju ke belakang pintu diikuti dengan Taeyang.

”Aku yakin kalau dia masih berada sebentar lagi, dia akan menyuruhku untuk mempekerjakan seseorang untuk membantu Taeyang dan Taecyeon. Sigh.” Yunho menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Suara goresan pena pada lembaran kertas yang sedang ditulisnya tertangkap oleh panca indera. Tangannya kemudian terhenti. Yunho tampak berpikir sesaat sebelum menekan tombol di intercom dan memanggil nama Taecyeon. ”Bawa Dara ke tempat Jiyong untuk daily check up.” Yunho sempat terhenti sesaat, menghela nafas panjang, dan melanjutkan perkataannya kembali, ”Panggilkan aku Hyoyeon dan juga Lee Jong Suk.”

.

.

Melihat orang berciuman dan bahkan melakukan hubungan intim bukanlah sesuatu yang tidak familiar bagi TOP, namun melihat Daesung dan Minzy yang saling melumat bibir satu sama lain adalah hal lain. Antara merasa jijik atau terharu, atau campuran di antara keduanya. Yang jelas TOP segera berdeham, membuat keduanya yang sedang sibuk dengan satu sama lain akhirnya memisahkan diri (bibir lebih tepatnya, karena Daesung masih memeluk pinggang Minzy dengan erat).

Hyung?” ucap Daesung saat sepasang matanya menangkap sosok TOP.

Oppa!” seru Minzy. Dia sedikit terkejut dengan kehadiran sang master. Dia kemudian teringat bahwa latihannya hari ini belum dimulai dan saat dia melihat TOP dengan kedua alis yang terangkat, Minzy menelan ludah dan mengangguk. ”Ma…master.”

TOP tersenyum puas. ”Ada beberapa hal yang ingin kudiskusikan mengenai transaksi kemarin. Aku pinjam Minzy sebentar, oke Daesung?”

”Seperti aku punya hak untuk menolak saja,” desis Daesung diiringi senyuman tajam. TOP mengangguk sembari melemparkan senyuman yang sama. Minzy – sedikit enggan dan gugup – berjalan mengikuti TOP untuk ke ruangan meeting yang terdapat di lantai tersebut.

Daesung dan Taeyang yang sudah ditinggal sendiri memutuskan untuk terdiam. Pria berambut mohawk itu perlahan menghampiri penguasa lantai tiga yang terlihat bosan. ”Berapa yang hari ini harus kuurus?” tanya Taeyang.

”Tidak tahu, aku tidak menghitungnya, hyung. Apalagi tampaknya tadi Seungri dan Changmin juga berulah. Rasanya merepotkan.” Taeyang mengangguk. ”Oh ya, bagaimana keadaan di atas? Sudah lama aku tidak keluar, rasanya aneh.”

”Jika yang kau maksud adalah kedatangan Alec, sepertinya badai sudah berlalu, setidaknya untuk saat ini. Mengenai kenapa kau belum keluar, sepertinya Yunho-shi memiliki rencana tersendiri –”

”Atau tidak ada klien yang menarik hatinya,” sela Daesung. Taeyang hanya terdiam, tak merespon. ”Hyung, apakah kau pernah berpikir? Sebenarnya, kita berada pada sisi terang atau sisi gelap dari dunia?”

Taeyang terlihat berpikir sejenak. Dia kemudian mengambil tempat duduk di samping Daesung dan menatap pria yang lebih muda darinya itu. ”Dunia tidak semudah itu, Daesung. Kita tak dapat mengatakan sesuatu itu gelap atau terang karena sudut pandang kita. Semua hanyalah sebagian dari keduanya. Jadi mungkin abu-abu?” Daesung terkekeh sejenak dan Taeyang terlihat sedikit rileks. ”Lagipula, biar berada pada kegelapan sekalipun, bukankah yang terpenting adalah saat ini kau hidup sepenuhnya?”

”Dengan membunuh orang,” sindir Daesung.

”Mungkin, mungkin kau sedang membantu dunia untuk membersihkannya dari kotoran yang semakin merajalela, tergantung dari mana kau melihatnya.”

Keheningan melanda keduanya, terbuai dalam irama melodi yang bermain di kepala mereka. ”Kau tahu, terkadang aku berharap bahwa ada seseorang di luar sana, seseorang yang cukup gila dan cukup jenius untuk, entahlah, melawan kita?”

”Ah, sebuah tantangan maksudmu?” Daesung terdiam, tetapi Taeyang sudah mendapatkan jawabannya. Dia hanya mengelus kepala dongsaeng-nya itu lembut sembari menyunggingkan senyuman khasnya.

.

.

Stetoskop yang dikenakan olehnya untuk mengecek detak jantung Changmin tadi sudah dilepasnya. Matanya menatap Changmin dengan sedikit khawatir, meski ekspresinya sedikit lebih baik dari sebelumnya. ”Changmin, kau harus tahu bahwa saat ini tubuhmu  masih belum sembuh dari luka kemarin,” lirih Dara. ”Aku akan memberikan resep dan obat untuk mencegah pendarahan lebih lanjut sekaligus mempercepat penutupan luka dari tubuhmu. Kau harus mencari seseorang, Changmin,” pinta Dara. Melihat tubuh Changmin yang memang lukanya sudah menutup tak membuat Dara lega begitu saja.

Changmin mengenakan pakaiannya dan tak mengindikasikan ingin menjawab pertanyaan dari sang dokter. Dara berdiri, meletakkan kedua tangannya pada pinggangnya. ”Dengar, kalau kau memang tidak ingin menyembuhkan dirimu karena kau sudah tak ingin hidup lagi, itu keputusanmu!” seru Dara. Dia menarik nafas panjang dan kali ini suaranya sedikit tajam namun tetap lembut. ”Namun karena berada dalam pengawasanku, aku ingin kau tetap menurutiku. Carikan seseorang untuk Se7en! Itu juga merupakan salah satu hakmu kan?”

Pemuda itu mendengus seolah mengejek pernyataan Dara. ”Hak apa, noona? Kalau aku mencari seseorang untuk Se7en, itu sama saja dengan membunuh diriku sendiri.”

”Kau sendiri tampak tidak ingin hidup lagi,” sela Dara.

Kedua bola mata Changmin menatap Dara dengan tajam, membuat bulu roma berdiri. ”Aku saat ini berada pada apa yang dikatakan hidup segan, mati pun tak mau, noona.”

”Changmin.”

Changmin selesai mengenakan kembali pakaiannya dan merapikan dirinya sehingga dia tampak layak. ”Sudahlah, noona. Aku yang paling tahu tentang diriku sendiri dan aku sudah biasa mengurusnya sendirian. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, aku tahu apa yang sedang kuperbuat.”

”Ya, kau memang tahu, tapi apakah kau sadar?”

Kembali pria itu terkekeh dan berhadapan dengan sang dokter. ”Kalau aku mencari tantangan dengan yang namanya kematian?” Dara terdiam, namun Changmin tahu bahwa dirinya benar. ”Lebih dari sadar, noona. Lebih dari apa yang kau ketahui.”

Merasa tak ada gunanya berdebat dengan sang detektif (sampai saat ini Changmin tak merasa dirinya lepas dari pekerjaannya), Dara kembali menghela nafas. Kedua tangannya dibiarkan berada di samping tubuhnya. Mengalah tampaknya bukan hal yang salah untuk saat ini. Selanjutnya, keduanya tetap terdiam sembari Dara menuliskan larangan bagi Changmin dan memberikan obat bagi pemuda tersebut. Setelah selesai, dia memberikan kepada Changmin untuk membacanya yang hanya dilirik sekilas oleh pemuda itu sembari menyengir. ”Kali ini saja aku berharap kau akan menuruti apa yang kutulis, Changmin,” pinta Dara dengan lirih.

Changmin hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai sementara Dara kembali menghela nafas panjang. ”Terima kasih, noona,” ucapnya seperti seorang anak kecil. Dara hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membereskan barangnya sebelum keluar dari kamar Changmin untuk mengecek keadaan para personal slaves lainnya.

Setelah dokter itu pergi, Changmin kemudian menatap ke arah anda. Tatapannya terlihat tajam, namun ada sedikit terlintas kesedihan di baliknya. ”Jadi daripada kau terdiam dan melihatku saja, bagaimana kalau kau mulai bertanya sehingga ini bisa cepat selesai.” Anda terdiam dan dia mengangkat kedua alisnya. ”Well?”

”Mengenai hubungan antara kau dan Yunho, mungkin kalian saudara, tapi sejauh yang kutahu, Yunho anak tunggal. Saudara tiri juga bukan karena Jaejoong dan Hyun Joong-lah saudara tirinya.” Changmin terdiam. Seulas seringaian di wajahnya membuat anda merasa bahwa apa yang anda katakan sebagian menarik perhatiaannya. Kedua tangan pria itu kemudian terlipat di depan dadanya, badannya masih terduduk di ujung kasur.

”Kau cukup cermat, tapi bagaimana jika keberadaanku dirahasiakan?” Anda menatapnya kali ini. ”Bagaimana jika selama ini Yunho tidak pernah tahu akan keberadaanku dan menganggap dirinya adalah anak tunggal?”

”Maka semakin rumit labirin yang tercipta,” jawab anda di dalam pikiran anda. Namun anda menjawab, ”Meskipun demikian, aku merasa itu bukan hal yang ingin kucari tahu jawabannya.” Kunci hubungan Changmin dengan Yunho (jika ada) memang penting, tetapi menurut anda, ada sesuatu yang sebenarnya menarik perhatian anda semenjak pertama kali anda melihat Changmin (selain daripada obsesi Se7en dengan Changmin tentunya).

”Oh?” Alis Changmin terangkat. ”Apa mungkin hubunganku dengan Taecyeon? Bagaimana rasanya membunuh kedua orang tuaku dengan tanganku sendiri? Atau apakah ada rahasia lain yang sesungguhnya kuketahui?”

”Mungkin.” Anda bergumam pelan.

”Atau mungkin bagaimana aku dapat bertemu dengan Alec? Dan hubungan apa yang ada di antara kami? Bagaimana, hmm?”

Anda menggigit bibir bawah anda, mencoba mencari kata yang tepat, tapi yang ada di hadapan anda adalah Changmin, pemuda yang berprofesi sebagai detektif yang memiliki insting yang cukup tajam. ”Yang ingin kutanyakan adalah kenapa –”

”Kenapa aku membunuh orang tuaku? Atau kenapa aku tak keluar dari tempat ini?” sela Changmin.

”Bukan,” seru anda. ”Aku mendengar kau ditemukan oleh Taecyeon dengan keadaan setengah sadar, kenapa? Apa yang berada di dalam mimpimu? Dan kenapa kau mengatakan kedua orang tuamu menodaimu? Padahal bukannya mereka hanya menjualmu saja?”

Keheningan yang menekan dapat anda rasakan. Mungkin anda merasa telah menekan tombol yang salah, namun gelak tawa Changmin kemudian terdengar. Tangan pria tersebut menutup mukanya, sementara yang satu lagi menahan perutnya. Tawanya tak kunjung berhenti membuat anda harus berdeham untuk mencari perhatiannya kembali.

”Dari begitu banyak yang bisa kau tanyakan, dan kau tanyakan hal yang terlihat sepele?” ejek Changmin.

Anda menelan ludah. ”Mungkin, hubunganmu dengan Taecyeon menjadi misteri, tapi entahlah, aku merasa mengetahuinya tak akan mengubah apa yang ada. Kau mengenal Taecyeon, dan dia mengenalmu. Itu tidak akan merubah kenyataan yang ada. Namun masa lalumu, kau seharusnya tak perlu berada di sini. Jika benar katamu, kau sudah mendekati kebenaran, maka seharusnya kau sudah dibunuh agar rahasia itu tidak terkuak.” Anda berhenti sejenak, mengamati reaksi Changmin yang masih terdiam. Merasa bahwa pria itu seolah mengizinkan anda, anda kembali melanjutkan perkataan anda. ”Nyatanya kau masih berada di sini dan memiliki kesempatan untuk keluar. Andai kata di luar sana tak ada yang percaya dengan apa yang kau katakan, namun kau mempunyai bukti kuat. Keberadaan dirimu di sini, bukankah itu sebuah bukti?”

”Bukti untuk apa? Kasus apa yang sebenarnya kita bicarakan? Tidakkah kau mengerti bahwa orang-orang yang berada di balik pintu hitam itu adalah orang-orang yang dikatakan sebagai sampah masyarakat? Sementara para kliennya, mereka mempunyai kuasa. Sedikit saja aku keluar dari sini, mereka akan tahu diri mereka akan terancam dan aku tak akan mempunyai kesempatan untuk selamat.”

”Jadi kenapa? Kenapa kau bisa berada dalam keadaan setengah tak sadar? Dan –”

”Aku membuntuti seseorang, orang yang kukenal, setelah itu semuanya gelap. Aku hanya ingat hari itu turun hujan dan aku tak ingat apa-apa lagi. Begitu aku terbangun, aku sudah berada di sini, puas?” Anda meneguk ludah. Ekspresi Changmin penuh dengan amarah, seolah bukan hanya menekan tombol yang salah, tetapi juga menusukkan pedang pada luka lama yang belum sembuh.

”Orang tuamu?”

”Mereka mati,” jawab Changmin singkat. ”Bukan mereka yang kubunuh, aku memang mengatakan mereka berada di sini, tapi aku tak membunuh mereka. Saat aku berada di sini, mereka sudah tiada.”

”Yang kau bunuh?”

Changmin tertawa dengan emosi yang tercampur, bagai tawa iblis yang menemukan mangsanya. ”Menodai dalam penuh banyak arti. Siapa yang kubunuh, itu tidak penting –”

”Itu penting, setidaknya bagiku.”

”Sebegitunya kau ingin tahu?” Changmin berdiri, berjalan mendekati anda. Bola matanya seolah ingin menelan anda saat itu. Anda meneguk ludah kembali. Secara refleks, anda mengambil satu langkah ke belakang. Namun saat Changmin semakin berjalan mendekat, anda terdiam, membiarkan jarak antara anda dengan Changmin semakin dekat. ”Baiklah, kuberitahu. Mereka adalah –”

Pintu yang terbuka dengan tanpa ketukan menghentikan pembicaraan anda dengan Changmin. Anda kemudian melihat ke arah pintu, di sana telah berdiri Se7en dengan tampang yang datar dan mengancam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, anda sudah tahu bahwa keberadaan anda di sini tidak diharapkan. Anda kemudian hanya mengangguk dan membiarkan sang narator membawa anda keluar dari ruangan itu.

Sebelum anda keluar, Changmin berteriak memanggil anda, ”Senang berbicara denganmu!” Anda hanya tersenyum tipis ke arah pemuda tersebut. Saat anda berada di luar ruangan, anda kemudian mengetahui bahwa Se7en tidaklah datang ke ruangan seorang diri.

.

.

Sepertinya ini akan menarik.

Apakah anda mau menunggu di sini saja dan melihat pertunjukkan yang mungkin akan terjadi?

Ah, baiklah kalau begitu. Ayo kita tunggu saja di sini.

.

.

”Saya tak menduga anda akan kembali secepat ini,” ucap Changmin dengan tenang. Tata bahasanya yang menjadi formal menandakan sebuah batasan yang sedang dilakukan oleh pemuda itu. Setidaknya itu yang dipelajari oleh Se7en.

Sang master menyeringai, melipat kedua tangannya di depan dadanya. ”Aku mendengar dari Dara bahwa aku seharusnya tidak memaksamu selama dua hari ke depan,” ujarnya.

”Aku baik-baik saja,” desis Changmin. Dia berjalan mendekati ke arah master-nya, tetapi tangan Se7en menghentikan langkah kakinya. Kepala Changmin sedikit berputar ke arah kiri seperti anak yang sedang kebingungan.

”Meski aku tahu kau baik-baik saja, aku tetap ingin menghargai pendapat Dara, jadi aku memutuskan untuk membiarkanmu beristirahat selama dua hari.”

”Aku tidak akan menggunakan hakku,” desis Changmin.

Mata Se7en begitu tajam tapi tak cukup menjadi ancaman bagi Changmin. ”Aku tahu, tapi aku rasa aku juga ingin mencoba hal lain, jadi kali ini aku akan berbaik hati menjadi pengamat.”

Kebingungan apapun yang meliputi kepala Changmin tadi hilang begitu saja saat melihat pintu di belakang Se7en terbuka dan menampilkan sosok orang yang sudah dia kenal berdiri di belakang sang master. ”Seungri?” ujar Changmin tak percaya.

Ekspresi Changmin yang terlihat terkejut menjadi sebuah kenikmatan tersendiri bagi Se7en. Seungri yang baru saja melangkah masuk ke kamar tersebut mencoba menghindari tatapan Changmin. Tubuh pemuda tersebut kemudian ditarik dan didorong hingga bertabrakan dengan Changmin. Beruntung pria jangkung itu sigap menangkap Seungri sehingga keduanya tidak jatuh.

”Seungri, kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Sebuah kalimat yang dipenuhi dengan perintah dan tekanan di dalamnya.

Yang dipanggil namanya kemudian menatap Changmin sesaat. Tampak keengganan tersirat pada bola mata beningnya, namun diabaikannya semua itu. Tangannya menarik leher Changmin hingga kepala keduanya berada pada satu level, menempelkan bibirnya dengan lembut.

Changmin ingin muntah saat itu juga. Bukan karena ciuman Seungri kepadanya, bukan. Jika apapun, dia malah merindukan bibir ini. Namun yang membuatnya muak adalah bagaimana akhirnya dia mengetahui kegilaan seorang Choi Dong Wook. Sampai sejauh mana dia akan jatuh pada lingkaran ini?

Desahan dari yang keluar dari pria bermata panda dalam pelukannya menyadarkan dirinya. Dia kemudian perlahan menarik tubuhnya, menghentikan ciuman mereka, menatap sang master seolah menunggu aba-aba. ”Apa yang kau inginkan?” desis Changmin.

”Kau tahu apa yang kuinginkan, Minku,” jawab Se7en dengan nada bercanda.

Genggaman Changmin terhadap lengan Seungri sedikit mengerat membuat pria itu mengerang kesakitan. Detik berikutnya Changmin kembali melumat bibir Seungri, kali ini dengan lebih ganas, tak ada kelembutan sama sekali. Dia menggigit bibir Seungri, mendesak lidahnya untuk masuk ke dalam yang dibiarkan oleh sang pemilik bibir.

Seungri mendorong tubuhnya perlahan, hingga keduanya terjatuh ke atas kasur dengan tubuh Changmin di bawah Seungri dan tautan keduanya yang terlepas. Keduanya hanya setengah berbaring dengan kaki mereka masih berada di atas lantai. Seungri melepas tautan mereka, bergerak turun perlahan dan kemudian menuju ke selangkangan Changmin, meneguk ludah sesaat.

Di mana Se7en? Sang master saat itu hanya menyeringai, melipat tangan di depan dadanya, dan bersandar di dinding, sembari menonton pertunjukkan yang ada di hadapannya.

Tubuh Changmin bergetar, Seungri dapat merasakannya, namun apa karena hasrat atau karena hal lain, Seungri tak tahu. Dia berharap bahwa hal lain yang dimaksud adalah sesuatu yang positif. Tangannya membuka resleting celana Changmin, mengeluarkan kejantanan pria itu yang sedikit menegang. Seungri tahu. Dia – mereka – sudah pernah melakukan ini sebelumnya, tidak sampai pada hubungan lebih lanjut, hanya saling melakukan masturbasi bersama-sama.

Perlahan tangannya menyentuh kejantanan Changmin, meremasnya sembari memijat bagian-bagian tertentu yang mendatangkan desahan dari pria yang lebih jangkung itu. Desahan nikmat itu semakin terdengar saat milik Changmin seutuhnya berada di dalam mulutnya. Pertama dia mengulum ujungnya, mencoba menggoda Changmin, kemudian sesekali dia memasukkan seutuhnya.

Baru pertama kali dalam melakukan hal ini dengan Changmin, dia merasa sangat hina. Dia yakin Changmin juga merasakan hal yang sama. Dilihat oleh Se7en adalah satu hal, namun melakukan ini karena sebuah paksaan dan bukan karena keinginan atau kebutuhan dari keduanya, itu jauh lebih menjijikkan. Terutama ketika tampak keduanya seolah menikmatinya.

Changmin menutup matanya dengan lengan kirinya, seolah ingin menghalangi cahaya lampu di ruangan itu. Namun sebenarnya, dia sedang menahan dirinya. Bibirnya digigit dengan keras hingga sedikit memerah. Tangan kanannya terkepal hingga menghasilkan warna yang sama dengan bibirnya saat ini. dia tidak akan memberikan kenikmatan bagi Se7en untuk dapat melihat dirinya yang sekarang. Tidak. Dia harus tetap terlihat tegar. Ini demi apa yang sudah dia perjuangkan selama ini. Toh, dia juga tidak bisa direndahkan lebih daripada ini lagi.

.

.

Ah, kenapa? Oh, anda sudah tidak ingin melihatnya lagi?

Baiklah, jadi sekarang anda mau ke mana?

Taemin?

Oh ya, tadi Dara memang sempat ke sana untuk mengecek pemuda itu.

Tampaknya sekarang dia sedang tertidur sih

Apakah anda masih mau mengeceknya?

Oh, oke, kalau begitu ayo ke sana.

.

.

Saat keluar dari ruangan Minho, Dara dikejutkan dengan keberadaan Key di hadapannya. Pemuda itu tampak begitu khawatir dan bagaimana dia bisa dapat keluar dari pintu hitam itu, Dara tidak ingin bertanya karena itu tampak jelas pada memar di tubuhnya. ”Dia baik-baik saja,” papar sang dokter.

Key tak banyak bicara, hanya mengangguk perlahan. Di belakangnya berdiri pria yang menolongnya waktu itu, Kim Jonghyun. Tubuhnya sedikit ditopang oleh pemuda itu karena kalau tidak, kakinya saat ini tidak kuat untuk mengangkat dirinya. ”Apakah kami boleh melihatnya?” tanya Jonghyun.

Dara terlihat ragu. Pasalnya dia tidak yakin Minho mengizinkan hal itu. Meskipun pria itu sedang tidak ada di sini karena sedang keluar melakukan eksperimennya, tetapi kalau hal ini diketahui oleh pria itu, dia tidak tahu apakah ini akan menjadi hal yang baik atau tidak.

”Masuk saja.” Sebuah suara yang tak mereka kenal terdengar dari arah belakang Dara. Gadis itu memutar tubuhnya dan melihat sosok pria yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Melihat dari raut wajah Jonghyun dan Key, mereka juga tampaknya tak mengenal pria ini. Pria yang di hadapan mereka hanya memakai t-shirt putih dengan celana jeans, atribut yang sederhana, sedikit berlawanan dengan perawakan pria itu yang tampak sempurna. Rambut cepak berwarna cokelat kemerahan. Kulit putih yang sedikit pucat. Namun paras pria itu begitu elok rupanya. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Kedua tangannya diletakkan di sakunya sembari dia berjalan menghampiri mereka.

”Siapa?” tanya Dara kepada pria itu.

Pria itu mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan dirinya. ”Salam kenal, aku Lee Jong Suk, dan aku akan menjadi asistenmu mulai dari hari ini, Sandara-shi.”

Barulah Dara mengerti bahwa pria di hadapannya ini adalah asisten yang dijelaskan oleh Taecyeon saat dia dibawa ke tempat Taemin ini. Dara mengerti bahwa Yunho melakukan ini untuk menjaga agar jika terjadi sesuatu pada dirinya, ada seseorang yang dapat menggantikannya. Namun mengambil asisten tanpa persetujuan darinya membuat Dara kesal. Setidaknya dia mendapat hak untuk memberikan pendapat mengenai asistennya bukan?

”Ah iya, Taecyeon tadi sempat menceritakan tentang dirimu,” jawab Dara dengan sinis.

Jika Jong Suk menyadari nada Dara yang berbeda, dia tak menunjukannya. Dia hanya tersenyum dan menarik kembali uluran tangannya yang diabaikan Dara begitu saja. ”Aku tersanjung dia menceritakan tentang diriku,” goda Jong Suk.

”Apa yang memberimu hak sehingga kau dapat mengizinkan mereka untuk masuk?” tanya Dara, mengabaikan perkataan Jong Suk.

”Ah?” Jong Suk menganguk. ”Dia saudara dari Lee Taemin bukan? Setahuku akan lebih baik jika pasien dikunjungi oleh saudaranya. Hal itu dapat menarik kesadaran pasien, bukankah demikian?”

”Aku tahu akan hal itu,” desis Dara. ”Kalau kau biarkan mereka masuk tanpa izin dari Minho –”

”Apakah hal itu penting?” sela Jong Suk. Dara menatap pria di hadapannya seolah pria itu sudah gila. ”Apakah itu penting jika Minho-shi mengizinkannya atau tidak? Saat ini, bukankah Taemin adalah pasiennya?”

Jonghyun dan Key yang mengamati dari belakang merasa sedikit risih dan tidak enak dengan situasi yang ada sekarang. ”Masuklah,” bisik Dara. Keduanya sedikit terkejut mendengar bisikan dari gadis tersebut. ”Kalian boleh masuk, tapi jangan berisik. Taemin masih membutuhkan istirahat. Kalau ada apa-apa, aku akan bertanggung jawab kepada Minho,” papar Dara.

Kedua pria itu kemudian saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk ke arah Dara, mengucapkan terima kasih kepada dirinya, dan masuk ke dalam ruangan tersebut, meninggalkan kedua dokter tersebut di luar. Dara membalikkan badannya, membelakangi Jong Suk yang sedang berjalan menghampiri dirinya. ”Aku tidak menduga kau akan berubah pikiran secepat itu.”

”Kalau aku terkena hukuman, aku akan menarikmu juga, tenang saja, kau kan asistenku.” Dara menekankan kata asisten sementara Jong Suk tersenyum lebar. Dara ingin protes kepada Yunho mengenai hal ini, namun sepertinya dia malah diingatkan sesuatu oleh Jong Suk, sesuatu yang sudah hampir dia lupakan. Sebuah hati yang seharusnya dia miliki saat menjadi seorang dokter. Entah sejak kapan perasaan itu hilang digantikan oleh sebuah ketakutan akan amarah dari para master.

Mungkin, mungkin ini akan perlahan membuka jalan baru bagi dirinya – atau mungkin lebih.

.

.

Kkk. Tampaknya pria bernama Lee Jong Suk itu sedikit menarik ya?

Hmm, saya juga belum pernah melihatnya. Sejujurnya ini pertama kali saya melihat dan mendengar namanya.

Tampaknya dia memang bukan penghuni tempat ini.

Mungkin teman Yunho di luar?

Tapi, apapun itu, rasanya mulai dari sekarang semuanya akan berbeda.

Tidak sabar melihatnya

Bagaimana dengan anda?

Oh, sudah hampir malam.

Apakah anda mau beristirahat? Wajah anda sudah tampak pucat.

Atau perlukah saya memanggil kedua dokter itu untuk mengecek anda juga?

Eh, tidak perlu? Anda yakin? Baiklah kalau anda bilang begitu. Lebih baik sekarang kita beristirahat saja.

Anda masih mau mengecek Jaejoong?

Well, kita memang belum melihatnya seharian sih. Baiklah, mungkin kita bisa ke ruangan mereka.

.

.

Yunho telah menjelaskan beberapa hal penting mengenai hal yang harus dikerjakan oleh Hyoyeon. Jika gadis itu mengerjakannya dengan baik, maka gadis itu akan dipekerjakan yang sekaligus akan mengurangi tanggung jawab Yunho. Setidaknya dia jadi mempunyai sedikit waktu untuk mengawasi hal lain. Dan karena itulah sekarang dia sudah berada di kamarnya, mencoba untuk beristirahat dengan memejamkan matanya sejenak.

Matanya kemudian sedikit melembut saat melihat sosok yang berada di kasurnya. Jaejoong tengah berbaring di sana setelah dia mengeluarkannya dari kamar Daesung. Yunho langsung menyuruh Jong Suk untuk mengecek keadaan Jaejoong sekaligus sebagai sebuah ujian bagi pria itu. Yunho boleh dikatakan cukup tercengang dengan hasil yang diperlihatkan Jong Suk, bagaimana dia bisa menebak semuanya dengan baik. Maka dia langsung mengangkat pria itu untuk menjadi asisten Dara tanpa menanyakannya terlebih dahulu. Toh, Dara akan menyadari bahwa pria itu akan menjadi pertolongan yang tepat untuk dirinya.

Dia duduk di samping Jaejoong. Tangannya mengelus wajah elok milik personal slave-nya itu dengan lembut, bertolak belakang dengan sikapnya selama ini. Selalu. Jaejoong memiliki sebuah efek yang tak dapat dijelaskan kepada dirinya. Dia tidak tahu apakah hal itu baik atau tidak. Dia ingat apa yang dikatakan oleh Rain satu hari saat dia menduduki kursi headmaster.

”Menjadi manusia akan menghalangimu, Yunho, dan kau akan tahu artinya suatu saat nanti.”

Yunho langsung menarik kembali tangannya. Matanya terlihat kosong. Tangannya terkepal, merasakan kekesalan entah dari mana. Dia kembali berdiri, membuka pakaiannya dan memutuskan untuk mandi saja untuk menyegarkan pikirannya. Yunho tidak tahu bahwa Jaejoong tidak tertidur saat dia masuk. Dia hanya menutup mata karena takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Yunho terhadap dirinya. Namun saat Yunho menyentuhnya dengan lembut tadi, Jaejoong kembali teringat akan masa lalunya. Saat Hyun Joong, Yunho, dan dirinya bermain bersama, tanpa perasaan khawatir, tanpa tahu apapun. Dia tidak tahu apakah yang kemudian mengubah semuanya.

Membalaskan dendam? Jaejoong ingin menertawakan dirinya saat ini. Membiarkan pembunuh orang tuanya menyentuh dirinya dan menikmati sentuhan itu, apanya yang dapat dikatakan sebagai balas dendam? Tidak membantu kalau dia semakin direndahkan dengan kegilaannya akan kematian dan darah. Yunho menggenggam dia sepenuhnya. Dalam tangan pria itu, Jaejoong tak berdaya. Dia meringkuk, memeluk dirinya untuk menghangatkan dirinya pada temperatur ruangan yang mulai menurun –atau hanya perasaan dia saja.

Suara shower yang dimatikan menandakan Yunho sudah selesai mandi dan Jaejoong kembali berpura-pura untuk tidur. Tubuhnya masih sedikit gementar karena suhu ruangan, meski dia sudah diselimuti oleh Yunho setelah Jong Suk memeriksa dirinya tadi. Dia dapat merasakan wangi sabun dari Yunho yang menandakan pria itu sudah berada di sampingnya. Sesuatu yang basah menyentuh pipinya dan dia sudah menghafal sesuatu itu sebagai bibir Yunho. Begitu lembut. Begitu gentle.

Sleep tite,” bisik Yunho. Dia kemudian juga bergabung dengan Jaejoong menuju alam mimpi. Setidaknya setelah dia menyadari tubuh Jaejoong yang sedikit bergetar entah karena apa dan memutuskan untuk menarik pria itu dalam dekapannya. Yah, mungkin dia sudah mulai sedikit mengerti mengenai peringatan dari Rain. Dia benci jika pria tua itu benar.

.

.

Sang narator kemudian mengantarkan anda kembali ke ruangan anda setelah semua yang telah terjadi. Entah kenapa rasanya bagi anda, hari ini berjalan sangat lama. Begitu banyak hal yang saksikan hari ini. Anda tidak tahu apakah setelah ini anda masih sanggup untuk melihat apa yang mungkin terjadi keesokkan harinya. Sang narator kemudian mengundurkan dirinya. Terkadang anda berpikir apakah sang narator pernah beristirahat ataukah dia adalah seorang manusia super yang tak memerlukan istirahat sama sekali layaknya manusia biasa.

Anda merasa kehausan, menginginkan sesuatu yang segar untuk memuaskan dahaga anda. Perlahan anda kembali keluar dari ruangan anda, berhati-hati agar tidak menimbulkan bunyi yang kemudian dapat membangunkan penghuni tempat ini. Tampaknya bukan anda sendiri yang ingin ke dapur. Sebelum memasuki ruangan tersebut, anda mendengar suara. Sebuah percakapan antara dua orang. Satu suara anda kenal dan satunya lagi baru anda dengar tadi.

Kim Kibum dan Lee Jong Suk.

”Kenapa kau ada di sini?” Jelas sekali Kibum yang bertanya.

”Aku? Hanya bekerja menjadi asisten untuk Sandara-shi.”

Meski anda tak dapat melihat dengan jelas, anda dapat membayangkan Kibum yang tampak tidak terpuaskan dengan jawaban Jong Suk tadi. Anda mencoba memajukan tubuh anda lebih dekat tanpa diketahui oleh mereka. Penasaran dengan hubungan keduanya yang mungkin dapat menjadi petunjuk – atau mungkin misteri lagi – bagi anda.

”Siapa yang mengirimmu?” tanya Kibum lagi.

Kali ini Jong Suk tersenyum lebar, menyeringai lebih tepatnya. ”Menurutmu?” balas pria itu dengan nada yang menantang. Anda tak percaya bahwa pria murah senyum itu dapat mengeluarkan nada seperti itu, tapi melihat apa yang telah terjadi di tempat ini, rasanya seharusnya ini bukan hal yang mengejutkan. Siwon yang terlihat pendiam dan ramah itu ternyata memiliki sisi sadistik yang tersembunyi dari dunia luar.

”Aku punya dua nama, tapi aku tak tahu mereka akan sebodoh itu,” desis Kibum.

Well, mereka berdua tidak bodoh, Kibum-shi, tapi kau tahu bagaimana nama ketiga yang tak kau sebutkan memiliki pengaruh yang lebih besar pada salah satu dari mereka daripada kita, apakah kau lupa?”

”Maksudmu –”

”Ara ara, lebih baik kita jangan menyebutkan nama, Kibum-shi, karena siapa yang tahu? Dinding pun mempunyai telinga jika kau perhatikan.” Anda tahu bahwa dalam posisi anda, tidak seharusnya keberadaan anda diketahui. Namun, entah bagaimana, anda merasa bahwa Jong Suk sedang menyindir anda dan memberi peringatan bagi anda untuk tidak tahu lebih dalam lagi daripada seharusnya. Maka dari itu, anda memutuskan untuk melangkah kembali ke kamar anda, meninggalkan keduanya. Seberapapun anda ingin tahu lebih dalam lagi, anda merasa bahwa saat ini yang anda butuhkan adalah istirahat dan bukanlah sebuah misteri yang harus dipecahkan lagi.

”Sampai kapan aku harus seperti ini?” bisik anda perlahan saat anda sudah berbaring pada kasur anda. Hanya angin dari AC yang tampaknya mendengarkan bisikan pelan anda. Mungkin sebenarnya anda sendiri sudah tahu jawaban dari pertanyaan anda, sebuah pertanyaan retoris. Bukan ’sampai kapan’, melainkan ’apakah aku mau’ adalah yang seharusnya anda cari jawabannya.

.

.

eL-ch4n

presents

Slave Day

”Walking Randomly”

.

.

 AN:

Hello /waves/ apakah masih ada yang ingat dengan author satu ini? C: ataukah ada yang masih ingat dengan ff ini? -bricked-

maaf ini been so long banget. tapi gak tahu kenapa akhirnya pengen ngetik lagi ff ini. mencoba kembali membaca ulang semuanya (seriously saya benar2 baca ulang dan baru sadar kalau plot ini jadi makin ribet kayak benang kusut uwu) kkk.

Jadi mungkin kalau mau baca ini, saya sarankan coba baca dari chapter 1 lagi klo lupa xD

Terus ada beberapa yang ternyata agak kontradiksi, di chapter ini semoga beberapa (?) berhasil diluruskan. Kkk. Soalnya klo yang sebelum2nya emang supaya bikin misterius jadinya beberapa kyk agak ditutup2in kkk eh tapi malah jadinya suka ada yang bertolak belakang -bricked-

Anyway,

saya mau mengucapkan banyak terima kasih buat yang masih mau membaca fic ini, yang sudah memberi comment, bahkan sampai mengejar saya di LINE dan FB -bricked.

To everyone of you, I sincerely give my gratitude. Tanpa kalian mungkin saya gak terpikir untuk melanjutkan fic ini :’D

Semoga anda menikmati chapter ini sebagaimana saya menikmati kembali menulisnya xD

Ciao

Luv,

Verzeihen

Advertisements

11 responses to “Chapter 12 – Walking Randomly

  1. yohooo…. akhirnya di update…
    yah… lagi lagi part taemin dikit.
    waduh… sapa lagi tuh jong suk? keknya punya hubungan deh ama kibum. aishhh…. makin penasaran….. >.<

    yunho kalo bersikap gentle gitu manis euyy… kekeke….
    yah, ini mulai kebuka dikit. tapi juga nambahin mistery lagi. wkwkwk…

    dan yg bisa aku banggakan adalah, saya bisa baca n ngerti ini tanpa review part sebelumnyaaa… wah.. saya daebakk. :3

    noona…. updatenya yg cepet dong… sebulan sekali kek #ehmalahnawar #abaikan

  2. Dapet notif di email, El update sesuatu…
    ternyata Slave day!!! yeaaaaaay…

    menggali memori lagi, baca 2 chapt terakhir biar nyambung sama yg ini. hahahaa…

    konten BDSM na dikit ya?? trasa kurang ‘slave day’ gitu. hohohooo #jiwasadis.

    brharap sdikit pncerahan ttg teka teki terdahulu, malah disuguhin satu lg karakter yg sprti na bakal brperan penting.
    si jong suk sprti na mnarik…

    pliisss lanjutin SD ini, el…
    pliisss….

    oh ya, mau nanya, pembelajaran di Sex Academy kapan mulai ya??? #modus #nagih

  3. huoow. . . . eonni eL akhirnya kembali dari pertapaannya #dorr
    sempet kaget tadi pas ada notif di email, kirain ada new comment, ehh ternyata Slave Day :O :O
    really eonni, bener-bener kangen baca ff eonni yang penuh teka-teki #applause
    dan akhirnya ff Slave Day nambah chapter *semoga yang lain juga ikut nambah 😀
    zhe baca lagi dari awal lagi ehehee karna lupa plot.nya… dan masih dibuat campur aduk kkk~~bingung, jengkel, marah, syedih, tapi juga bisa senyum-senyum sendiri :))))
    dan chap ini sedikit bikin ada cahaya(?) saat dibaca,, tapi masih banyak yang disembunyikan ne?? dan tambah ribet ‘-‘)a
    eonni eL emang jjang (^_^)b
    semoga makin banyak misteri yang kebuka n diberi pencerahan biar eonni semangat nulis yang laen juga ❤ ❤
    zhe nunggu eonni ^^
    Hwaiting eonni :* :*

  4. Apkh akn ada cinta antr master n personal slave ? #berharapiya . .

    Law bc ni ff, sring gk tuntas. . Gk than liat ksadisan pr master. . . Mungkin smw yg da d tpt tu puny ktriktan 1 dg yg laen kli eaa.. KiBum j kyk udh knal ma JongSuk, pdhal JongSuk kn org bru . . .

  5. Akhirnya nih ff kau hidupkan kembali eL, setelah sekian lama mati suri…’!
    Sebenarnya sdh agak lupa sama jln cerita’y, tp pas baca chap ini, misteri2 yg ada di chap sblmnya, muncul satu per satu di memori aku.
    Sering2 lah eL update ff yg satu ini, soal’y misteri2nya bikin aku penasaran ‘setengah hidup’. 🙂

  6. Akhirnya updet aah jebal min keren abis..penasaran sama lanjutannya. Cuma ingin tau apakah seorang pengamat bisa bosan dan lelah sama semua misteri di balik pintu hitam itu?

  7. aaaaaahhhh saya baca lgggii ini ff

    ok pertama2 saya lupa chapter kmrn tuh gmn

    pas bc chapter akhir 11 baru inget

    kasihan taemin (?)
    knp kyna dia yg paling parah stlh minnie yaa /ok minku mksdnyaaaa/

    jong suk masuk??
    dikirim siapa dia??

    ah msh penasaran ama cerita siwon n kibum

    plsss di ceritakan kembali masa lalu siwon

    masig krg pahammmm elll dirikuu

    eh suka sma yunho disni. kynya sayang bgt ma jeje
    saya lupa apa yg dikatakan rain ke yunho di chapter 11 -_-

    ok lanjutkan el

    mnt banyakin siwon n kibum ya

  8. Ff kedua yg aku baca di blog mu 😉
    So so amaze!
    Dua FF dgn plot yg ga bosenin dan jalan cerita yg bingungin wkwkwk
    Semoga ketemu ending yg pas
    Masih setia menunggu
    Anyway.. thanks again :*

  9. next chapter please :(( kapan update lagi thor?? aku baru baca ff ini, di kasih tau temen. bagus bangettt!!!!!! aku suka ❤❤
    cara penulisan nya keren, ceritanya bikin penasaran, bikin pengen baca terus. tapi dah ga ada yang bisa dibaca lagi :((
    cepet update dong eL ❤❤
    btw, thanks for writing this fanfic :)))

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s