The Mask Unveiled


Title: Broken Doll

Rated : M

Couple : Sibum, Yunjae, Haehyuk, Se7min, Hanchul

Genre : Romance/Drama/Fantasy/Dystopia

Warning:

NC. Smut. BDSM. Rape. PWP. BoyxBoy. Mpreg.

Don’t Like Don’t Read!

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14 | Chapter 15

,,

Kyuhyun yang ditinggal seorang diri kembali menjelajahi ruang perpustakaan yang terdapat di ruang utama. Ujung jarinya menyulusuri tulisan yang terukir pada buku-buku yang terpajang di rak di hadapannya. Sudah cukup lama bagi dirinya merasakan buku, mengingat semua sekarang serba digital. Kyuhyun tak mengerti kenapa Se7en mengoleksi buku, namun dia mengerti. Mencium aroma buku lama seolah menenangkan dia, membuatnya sedikit bernostalgia.

Matanya membaca cepat judul yang tertulis di sana. Tak ada yang menarik dirinya. Tumpukan buku yang di sana sebagian besar mengenai teori fisika dan sejenisnya. Kyuhyun tak ingin menguras otaknya membaca sesuatu yang mungkin belum tentu menjadi minatnya. Dia kemudian teringat pada buku putih polos yang ingin dia baca dulu namun terhalangi akan kedatangan Se7en.

Iris hitamnya mulai mencari buku tersebut. Dia sebenarnya tak mengerti apa yang membuanya tertarik. Buku itu polos, putih, seolah masih baru dan tak ada isinya. Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat dia ingin membacanya. Matanya kemudian menangkap buku putih tersebut, terletak di atas meja Se7en yang tak jauh darinya.

Gulp.

Kyuhyun menelan ludah, memberanikan dirinya untuk mendekati meja Se7en. Dengan hati-hati, tangannya membuka buku putih tersebut.

Tak ada judul.

Hanya cover putih, seputih salju yang ditemukannya. Di dalam buku tersebut pun tak ada tulisan apapun. kosong. Kyuhyun mencoba membukanya perlahan, hingga pada halaman terakhir yang ditemukannya hanya satu kata yang berbunyi.

Puru

-x-

Broken Doll

20130126-233544.jpg

”Blood Tears”

by eL-ch4n

-x-

Tiga orang yang berada di ruangan 3 x 3 itu belum mengucapkan satu patah pun sejak mereka berada di sana. Satu orang tersenyum sementara yang dua lainnya terlihat begitu intens. Jung Yonghwa – atau Yonghwa dalam tubuh Donghae – menyengir lebar, menyandarkan tubuhnya ke belakang sandaran kursi sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.

”Jadi, bagaimana kalau kau berikan aku Yunho sekarang?” tanya Yonghwa dengan nada mengejek.

”Kau bukan ancaman,” desis Kibum.

Yonghwa terkekeh. ”Benar, namun apa kau mau mempertaruhkan nyawa yang tak berdosa sekali lagi dalam sebuah pertarungan yang sia-sia?” Kibum mengernyit. Pernyataan Yonghwa menusuk bagaikan pisau tajam yang diasah. Yonghwa yang tahu akan hal itu, menyeringai. ”Kalau kau berikan aku Yunho, aku dapat melepaskanmu begitu saja.”

”Tidak akan,” sela Kibum, geram. ”Aku tidak tahu apa rencanamu – ”

”– ah, justru karena kau tak tahu, maka seharusnya kau percaya sama diriku. Biar bagaimanapun, kita tetap memiliki hubungan darah, bukankah begitu?” Kibum menatap tajam ke arah Yonghwa sementara pria itu hanya terkekeh dalam tubuh Donghae. Bulu roma Kibum berdiri. Tawa Yonghwa tidak enak didengar, seperti ada arti lain yang tersembunyi.

Oh tapi Kibum tahu, ada sesuatu yang belum diberitahukan Yonghwa dan Kibum akan memaksa untuk mendapatkan rahasia tersebut. ”Kau tahu, Kibum? Kadang ada kalanya kita tidak perlu mengetahui segala sesuatu. Kau dapat terjebak dalam pengetahuanmu sendiri.”

”Seperti kau pernah mengalaminya saja,” jawab Kibum sarkastik.

”Ya, kau tidak tahu,” balas Yonghwa dengan nada sendu. ”Sekarang kembali lagi, izinkan aku membawa Yunho dan aku akan menarik semua bawahan Se7en.”

Permintaan awal lagi. Sepertinya Kibum tak dapat menggali lebih dalam, Yonghwa mengetahui cara untuk menghindari setiap pertanyaan Kibum. Ini menggelikan – dan dia yang disebut sebagai Zenith kehabisan ide untuk melawan ayah – anak – nya sendiri. Apa mungkin darah Doll sudah terlalu lama berada di dalam dirinya?

Yunho – orang ketiga yang berada di ruangan itu – berdeham. Merasa dirinya diabaikan, dia akhirnya melakukan sesuatu untuk menentukan eksistensinya. ”Yonghwa-shi? Benar? Atau harus kupanggil Donghae?”

Yonghwa menyengir – dan dalam tubuh Donghae itu terlihat mengerikan, menurut Kibum tentu saja. ”Yonghwa lebih mudah, bagaimana Yunho?”

Pemilik dari Mirotic itu membuka mulutnya sekali lagi, ”Well, sebelumnya, saya tidak tahu harus setuju dengan yang mana. Saya hanya pihak ketiga yang tiba-tiba diikutsertakan ke dalam apapun ini. Jadi, saya harus tahu apa yang akan anda lakukan terhadap saya di sana.”

Yonghwa memajukan tubuhnya, mengurangi sedikit jaraknya dengan Yunho. ”Menurutmu apa yang akan kulakukan? Membunuhmu? Memanfaatkan tubuhmu? Membedah otakmu, mungkin? Apa yang berharga dari dirimu sampai harus kuinginkan, hmm?”

”Selain dari koneksi ke Rusia, saya tak dapat menemukan apapun lagi,” jawab Yunho dengan tenang.

Kibum harus mengakui bahwa dia sedikit kagum dengan penguasaan emosi yang dimiliki oleh Yunho. Pria itu tetap tampak tenang, tak peduli bahwa kedua pria yang berada di ruangan itu memiliki kelas yang lebih tinggi darinya. ”Dia hanya memerlukan akses itu,” jawab Kibum. Yunho kemudian menatap Sang Zenith. Sementara yang berbicara tadi kemudian menatap tajam ke arah Yonghwa. ”Yunho, Yonghwa menginginkan akses ke Rusia. Hanya itu.”

”Untuk apa?” tanya Yunho.

”Seperti yang kau ketahui, dikarenakan semua wanita berada di Rusia dan untuk menjaga atmosfir yang ada di sana, Rusia dijaga ketat. Semua semata-mata untuk memberikan ekosistem yang terbaik bagi wanita yang sedang tinggal di sana. Tak banyak yang memiliki akses ke sana. Hanya sebagian orang yang dikatakan layak untuk memiliki privilege tersebut.”

”Bagaimana dengan Se7en-shi?”

Kibum mendengus. ”Kalau Se7en memiliki akses tersebut, untuk apa dia datang kemari? Lagipula, Amerika dan Rusia tak pernah berada dalam situasi yang bagus. Terlebih lagi sejak Perang Dunia kedua. Ada perang dingin terselubung yang tidak terlihat ke permukaan. Bagaimana seorang Presiden Amerika diberikan akses?”

Mendengar penjelasan Kibum, Yunho terhening sejenak. Pria itu tampak berpikir sementara yang lain menunggunya – tak berharap banyak, tetapi rasa penasaran menyelimuti keduanya. ”Aku rasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.”

”Hmm?” tanya Yonghwa.

”Kenapa Amerika tidak mendapatkan akses? Maksudku, biar bagaimanapun mereka tetap negara maju bukan? Dengan adanya akses untuk Amerika bukankah Rusia bisa mendapatkan resource lebih banyak?”

Reaksi pertama yang dilakukan oleh Yonghwa saat mendengar hal itu adalah tertawa dengan keras. Satu tangannya menutup matanya, sementara yang lain memegang perutnya. Kibum menggelengkan kepalanya sementara Yunho kebingungan tak mengerti. ”Apakah ada sesuatu yang kukatakan salah?”

Tawa Yonghwa berhenti dan kemudian ekspresinya berubah mendadak menjadi serius. ”Tidak, tapi yang kau katakan berkontradiksi di dalam kalimatmu sendiri.”

”Maksudmu?”

”Kau mengatakan Amerika negara maju dan Rusia bisa mendapatkan resource lebih banyak dari Amerika, benar bukan?” tanya Yonghwa. Yunho mengangguk. ”Di sanalah letak kontradiksimu mulai. Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh seorang harimau yang lebih lemah dari singa untuk dapat bertahan hidup?”

”Mencari kelemahan sang singa?”

Yonghwa mengangguk. ”Kurang lebih, tapi daripada mencari kelemahan sang singa, harimau akan lebih memilih untuk mencari sesuatu yang dapat dia miliki yang tidak dimiliki oleh sang singa. Mudahnya, itu yang dilakukan oleh Rusia. Dia tahu bahwa negaranya saat ini yang dapat dikatakan memiliki udara yang paling bersih daripada negara lain. Bayangkan jika Amerika mendapatkan akses? Mereka negara maju dengan resource yang banyak. Meski Rusia juga termasuk negara maju, tetapi karena sejarahnya dulu, banyak negara yang berpikir dua kali untuk bekerja sama. Nah, Yunho, katakan sekarang, apakah alasan dari Rusia tidak mau mengizinkan Amerika memiliki akses ke negara mereka?”

Ekspresi Yunho terlihat bahwa dia seperti mengerti sesuatu. Ada sebuah pikiran yang akhirnya terlintas dalam pikirannya. ”Supaya Amerika tidak dapat meng-copy situasi negara Rusia dan menerapkannya di Amerika?” tanya Yunho dengan ragu-ragu.

Tepuk tangan Yonghwa sekali membuat Yunho tersentak ke belakang karena terkejut. ”Tepat sekali, jadi, bersediakah kau ikut aku sekarang?”

”Tidak,” jawab Kibum.

”Aww Kibum, aku sedang bertanya kepada Yunho dan bukan dengan dirimu,” sahut Yonghwa dengan nada bercanda. Namun, Kibum tahu ada ancaman tersembunyi di baliknya.

Kibum menggelengkan kepalanya. ”Satu-satunya yang dapat kupikirkan adalah kau ingin menemui ibu dan jika itu benar, maka semakin tinggi alasan aku untuk tidak mengizinkanmu.”

DUAK.

Suara sesuatu – sebuah meja yang terletak di samping Yonghwa – terpukul oleh sesuatu yang keras terdengar. Kibum dan Yunho terhenyak kaget. Yonghwa berdiri setelah kepalan tangannya memukul meja dengan keras. Dia kemudian tersenyum, sebuah senyuman joker. ”Kibum, aku tak tahu bahwa kau tidak menginginkan orang tuamu untuk bahagia.”

Kibum ikut berdiri. ”Apanya bahagia?! Kau membuat ibu terluka! Dan setelah itu kau pergi!”

”MEMANGNYA KAU PIKIR KARENA SIAPA, HUH?” teriak Yonghwa sampai terengah-engah. Kibum terdiam. Yonghwa menghela nafas kemudian melanjutkan kalimatnya, ”Siapa yang memulai semua perang? SIAPA? JAWAB AKU!?”

Gugup adalah kata yang cukup menjelaskan perasaan Kibum saat itu. Dia tidak mengerti mengapa sosok di depannya dapat berubah sedemikian rupa. ”Kalau kau ingin cara yang karas, Kibum, aku akan melakukannya. Mungkin aku tak dapat sepenuhnya dikatakan menang, tapi aku dapat membuat kau menyesal keputusanmu untuk tidak menyetujui tawaran ini.”

”Baiklah.” Sebuah kata dari Yunho membuat kedua pria yang tengah berdiri itu kemudian menatap dirinya. Kibum menatap Yunho tak percaya sementara Yonghwa dengan ekspresi datar. ”Aku akan memberikan aksesku kepada Yonghwa, jika diperlukan. Aku tak ingin Jaejoong mengalami bahaya,” ujarnya. ”Aku tak tahu siapa yang lebih unggul, tetapi jika memang dapat diselesaikan dengan baik, aku tak masalah.”

Mendengar itu, Yonghwa terlihat tenang dan tersenyum kembali, lembut seperti dulu. ”Tapi aku punya syarat, aku tak ingin jauh-jauh dari Jaejoong –”

” – kau tak perlu khawatir,” sela Yonghwa. ”Aku hanya memerlukan aksesmu, dan setelah itu Se7en akan mengurus semuanya. Kode aksesmu, my dear Yunho, aku tak benar-benar membutuhkan dirimu secara fisik.”

Yunho mengangguk. Dia berdiri dan hendak menyalami Yonghwa, sebuah cara untuk melakukan transfer data yang tersimpan dalam masing-masing individu. Kibum menghentikan Yunho sebelum dirinya dan Yonghwa bersentuhan. ”Dengan syarat, kau tak akan membunuh pemerintah Rusia, Lee Soo Man, dan tak akan pernah lagi untuk masuk ke dalam tubuh Donghae.”

”Ah, tapi apa yang terjadi jika seandainya aku menolaknya?” tantang Yonghwa.

Tangan Kibum kemudian segera menyalami Yonghwa. Sekerjap, seperti elektrik menjalar ke tubuhnya. Kepalanya bergoyang. Dirinya tertarik pada sebuah dimensi waktu, sesuatu yang dapat terjadi ketika transfer terjadi. Yonghwa menarik tangannya dengan segera sebelum Kibum berhasil menemukan sesuatu. ”Tak baik melihat masa lalu orang tanpa seizinnya,” ujar Yonghwa dengan sedikit gugup.

Dia mengangguk ke arah Yunho dan kemudian mereka melakukan transfer. Hanya sekejap karena hanya kode yang diperlukan. ”Adios, Amigos,” salamnya setelah yang dia perlukan selesai. Donghae yang sudah tidak dimasuki lagi oleh Yonghwa, terjatuh pingsan ke bawah, kakinya lemas tak bertenaga. Yunho segera menahannya sebelum kepala Perdana Menteri itu jatuh ke lantai.

Kibum masih tak bergeming. Tangannya perlahan terangkat menyentuh sesuatu yang hangat yang berada di pipinya.

Tetesan air mata berwarna merah.

Semerah darah.

.

.

Sementara Yonghwa melakukan diskusi dengan Kibum dan Yunho, Se7en mengizinkan dirinya untuk masuk ke dalam tempat persembunyian Kibum. Tentu saja hal ini tidak diizinkan oleh Kibum, namun Siwon – entah kenapa – mengatakan bahwa hal ini tidak masalah dan bahwa dia akan mengawasi Se7en. Sebenarnya ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Se7en juga. Maka saat perjalanan ke ruangan Changmin, dia memanfaatkan hal tersebut.

”Kenapa kau sangat setia terhadap Yonghwa?” tanya Siwon sembari mereka berjalan. Se7en menghentikan langkahnya sejenak, memutar kepalanya menatap Siwon, kemudian menggelengkan kepalanya. Siwon melihat terukir sebuah senyuman merendahkan di wajah Se7en. ”Kenapa?” Pasalnya, Siwon merasa bahwa Se7en terlihat begitu setia kepada Yonghwa. Oke, mungkin dia tidak tahu terlalu banyak tentang keduanya, tetapi Se7en yang seorang Presiden yang memiliki kuasa begitu besar, kenapa begitu menuruti Jung Yonghwa?

”Menurutmu kenapa?” balas Se7en.

”Entahlah, aku tak tahu, satu-satunya yang terpikirkan adalah kau mempunyai hutang budi terhadap dirinya, hutang nyawa mungkin. Mungkin dia menyelamatkan nyawamu sekali dan dia merasa berhutang budi?”

Se7en mengangguk. ”Kau pernah mendengar, Red Cold?”

”Iya, itu salah satu invasi Amerika terhadap negara Jepang. Mereka mencuci bersih negara Jepang dan tak membiarkan ada satupun yang tersisa. Darah para korban berlinangan di semua tanah Jepang dan karena pembantaian ini dilakukan dengan dingin maka dinamakan Red Cold, begitu?”

”Sepertinya kau mempelajari sejarahmu dengan baik,” Se7en terkekeh. ”Katakan saja aku berada di sana,” papar Se7en dengan serius. ”Dan aku sudah mati, tapi Yonghwa menyelamatkanku.”

”Kau sudah pernah mati?” tanya Siwon setelah dia menyadari kalimat tersebut.

Langkah keduanya berhenti tepat di depan pintu kamar Changmin. Se7en menyengir. Dia mengangkat kedua bahunya. ”Mungkin, aku tak tahu. Yang jelas, apa yang kulihat di Red Cold lebih mengerikan dari apapun juga.” Keduanya terhening sejenak. Se7en kemudian berkata lagi, ”Pikirkan Siwon, seberapa besar yang akan kau lakukan demi orang yang kau sayangi dan seberapa korban yang harus menderita karenanya.”

Siwon tersentak mendengarnya. Se7en menekan tombol di samping pintu yang kemudian membukakan pintu menuju tempat Changmin. ”Dan Siwon, apakah semuanya setara?” tanya Se7en sebelum pintu kemudian memisahkannya dari Siwon.

Siwon tak bergeming. Se7en seolah mengejeknya dan juga di satu sisi seolah sedang memberitahukannya sesuatu. Apa pria itu sedang memberinya petunjuk? Atau pria itu hanya memberikan teka-teki yang kembali tak berarti? Satu yang Siwon tangkap, jika benar Se7en pernah mati dan Yonghwa menyelamatkan Presiden Amerika itu, berarti Yonghwa berada di Amerika saat itu? Membantu Amerika? Dan kalau begitu, kenapa –

Kenapa Yonghwa mau menyelamatkan Se7en?

.

.

Changmin menggeliat di atas kasurnya, tak mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana. Dia tidak tahu bahwa hamil dapat membuat seseorang merasa capek seperti ini. Dia merasa bosan namun melakukan apapun juga rasanya tak sanggup. Dia mencoba memutar badannya ke arah samping dan kemudian akhirnya menyadari ada seseorang yang berada di kasurnya. Sontak dia bangkit dan memosisikan dirinya terduduk di atas kasur. ”Siapa?” tanyanya.

Terdengar suara kekehan yang tak asing dari arah kirinya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk mencoba melihat penyusup yang memasuki kamarnya. ”Se – 7en?” panggilnya tak percaya.

Pria yang dipanggil namanya itu mengangguk dan tersenyum. Dia mengelus pipi Changmin dengan lembut. Punggung tangannya bergesekkan dengan pipi tembem yang sudah lama tak disentuhnya. ”Halo, Minku. Aku datang untuk menemuimu.”

Changmin sedikit bergidik. Dia rindu dengan sentuhan master-nya dan di sisi lain, dia ketakutan dengan apa yang dapat dilakukan oleh tangan hangat yang membelainya sekarang. Se7en tersenyum lembut – sesuatu yang jarang sekali dilihat oleh Changmin. ”Aku tidak akan mengapa-apakan dirimu. Aku hanya ingin menyapa dirimu saja. Lagipula aku juga tak dapat berlama-lama di sini.”

Masih tak ada jawaban dari pria yang notabene lebih tinggi darinya itu, Se7en mengalihkan pandangannya ke bawah, ke arah perut Changmin yang sedikit membesar. Dia menundukkan kepalanya, mengecup perut Changmin yang dialasi oleh kain. Changmin menatapnya, tak berekspresi.

Setelah mengecup perut tersebut, Se7en mengelusnya, lembut memberikan kasih sayang pada nyawa baru di dalam sana. ”Se7en,” bisik Changmin.

”Dong Wook, Changmin, Dong Wook,” ucap Se7en. Kepalanya kemudian terangkat kembali dan bertemu muka dengan Changmin. Raut wajahnya sedikit sendu. ”Se7en adalah julukanku, dan aku ingin kau memanggil nama asliku – nama yang sudah lama kulupakan.”

Dia mengangkat tangan kiri Changmin perlahan, memberikan kecupan singkat di sana dan kemudian membelai punggung tangan tersebut. ”Asalkan ada satu orang saja yang mengingatnya, bagiku itu lebih dari cukup.” Changmin mungkin tidak sepintar Zenith, tapi ada sesuatu yang diimplikasikan oleh pernyataan Se7en tadi. Pria itu seolah sedang menyampaikan pesan terakhir. Apakah mungkin?

”Se – Dong Wook, kau –”

Se7en mendiamkan Changmin dengan jari telunjuknya. Diletakkannya tepat di mulut Changmin. ”Aku harus pergi sekarang, tampaknya urusanku di sini sudah selesai. Sampai berjumpa lagi, Minku.” Se7en tak membiarkan Changmin untuk membalasnya karena dia segera mencium Changmin, lembut, berbeda dengan ciuman penuh nafsu yang biasa mereka lakukan.

Ketika bibir mereka terlepas, Changmin bermaksud membanjiri Se7en dengan pertanyaan, namun pria itu sudah pergi dengan teleportasi. Changmin mengutuk, namun dia tahu itu tak ada gunanya. Tangannya berdenyut, mencengkram bajunya dengan erat, rasanya ada sesuatu yang tak enak. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Semuanya memintanya untuk beristirahat, untuk menjaga staminanya. Persetan dengan stamina. Dia harus tahu sebelum dia mati karena penasaran.

.

.

Hangeng terbaring di atas kasur namun dia tak sendirian. Heechul – dengan tubuhnya yang kembali menjadi perempuan – juga terbaring di atasnya – di atas dada bidang Hangeng lebih tepatnya. Tangan Hangeng membelai rambut panjang Heechul sesekali, memberikan kenyamanan bagi wanita yang adalahnya istrinya itu.

Heechul bergerak sedikit, mengerang dalam mimpinya dan Hangeng tersenyum tipis melihatnya. Dia tak percaya bahwa hari ini akan tiba, hari yang damai – tak tampak bahwa mereka sedang berada dalam perang tersembunyi. Hanya saja Hangeng tahu bahwa apa yang dialaminya sekarang tak akan bertahan lama. Ah, andai saja waktu dapat berhenti.

Ketukan di pintunya membuat Hangeng terjaga. Dengan perlahan supaya tidak membangunkan Heechul, dia berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu, membukanya sembari mengambil langkah keluar. Hangeng menutup pintu di belakangnya dan menatap Kangin yang sudah berdiri di sana. Wajah Kangin terlihat serius. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, pikir Hangeng.

”Ada apa?” tanyanya setelah Kangin tak mengucapkan sesuatu juga.

”Ada informasi yang baru diterima dari Amerika hari ini,” ucap Kangin mencoba untuk tenang.

”Dan?” tanya Hangeng lagi.

”Yonghwa telah mendapatkan akses dari Yunho untuk ke Rusia, kurasa sekarang saatnya kita memproses rencana Szatan kita.” Hangeng mengangguk menerima informasi tersebut.

Dia menyentuh keningnya, berpikir untuk tindakan mereka selanjutnya. ”Dengan kode dari Heechul dan Yunho maka Se7en dan Yonghwa dapat ke Rusia. Sementara itu di sini kita harus mulai mempersiapkan doll untuk menyerupai Se7en dan Yonghwa. Kau bisa memulainya?” Kangin mengangguk. ”Bagus, aku akan berganti baju dulu dan setelah itu akan bergabung denganmu. Jangan lupa untuk tetap memantau Rusia. Aku dengar mereka mengirimkan SHINee untuk merebut Savior. Kurasa kita juga harus mengirimkan bantuan segera.”

Kangin menggelengkan kepalanya. ”Tidak perlu, Italia sudah mengirimkan BIGBANG untuk mengawasi mereka, lagipula empat Savior sudah berada di headquarter Neve.”

”Empat?” tanya Hangeng dengan terkejut. Kangin mengangguk.

”Iya, empat Savior, Jung Jaejoong, Kim Kibum, Shim – Max – Changmin, dan Lee Hyukjae, kenapa?”

Hangeng menundukkan kepalanya. Di otaknya sedang bekerja untuk menganalisa beberapa hal. Kangin yang mengetahui hal itu,  mendiamkan pria Cina itu sampai akhirnya Hangeng berbicara kembali. ”Seingatku, projek Savior itu ada lima.”

Kedua bola mata Kangin membesar. ”Ti – tidak mungkin, semua tahu bahwa Savior hanya ada empat.”

Hangeng menggelengkan kepalanya, tidak setuju. ”Tidak, aku yakin sekali ada lima karena aku sempat melirik projek itu sekilas saat aku menghampiri Rusia dulu.”

”Kalau memang ada lima, siapakah Savior yang tersisa?”

”Tidak tahu,” bisik Hangeng. ”Siapapun itu, dia tak boleh jatuh ke tangan Rusia, tidak boleh.” Hangeng mendesis, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Samar-samar desiran angin berhembus, melewati keduanya diiringi dengan siulan burung entah dari mana.

.

.

Indonesia, mendengar negara itu, yang teringat mungkin adalah suatu negara dengan sumber daya yang banyak. Negera dengan pulau terbanyak dari Sabang sampai Merauke, begitu banyak budaya dan tempat wisata yang dapat didalami. Sayangnya, mungkin itu yang dapat dinikmati dulu, 100 tahun yang lalu. Sekarang, semua tak layaknya bangunan runtuh di beberapa pulau – Irian terutama, hancur tak bersisa. Jakarta yang dianggap ibukota, sebuah kota metropolitan dengan penduduk terpada di negara itu juga sudah kosong, jarang sekali kau mendengar deru nafas di kota tersebut.

Kwon Jiyong, seorang doll yang mendapat kesempatan untuk memiliki sebuah posisi, sesuatu yang sangat jarang terjadi, presiden dari Indonesia tersebut kemudian memindahkan semua kegiatan pemerintahan ke Pulau Sumatera yang notabene mengalami kerusakan terminimal daripada lima pulau lainnya. Tentu saja banyak anggota lain yang protes – banyak yang tidak suka dengan kenyataan seorang doll yang mengontrol mereka, seorang yang kedudukannya jauh di bawah mereka – namun dengan TOP sebagai sang master, callous yang cukup disegani di belakang Jiyong, mau tak mau merekapun terdiam.

Siang itu, Jiyong sedang berkeliling di Pulau Jawa, mencoba untuk melihat pembangunan yang sedang berjalan di sana. Cukup banyak perubahan yang membuat dirinya sedikit senang. Gedung-gedung tinggi yang runtuh sebelumnya sudah hilang, dihancurkan dengan buldozer dan sejenisnya, diratakan hingga hanya tanah yang tersisa. Jiyong juga memerintah mereka untuk memastikan tanah tersebut cukup subur untuk dapat ditanami pohon. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memberikan pasokan oksigen yang cukup bagi semua. Meski seorang doll, dia tetap memiliki pengetahuan dasar, terutama ketika TOP yang menyediakan semuanya.

”Aku sudah tahu bahwa kau akan berada di sini,” Sebuah suara menghentikan langkah kaki Jiyong di Kota Tua – atau apa yang tersisa dari kota tersebut. Dia memutar kepalanya, mendapati TOP dengan kaos putih, jubah hitam dan celana kain hitam panjang, melangkah ke arahnya. Master-nya itu lebih cocok untuk menjadi seorang model daripada apapun pekerjaan oleh pria itu.

Master,” bisiknya.

TOP yang sudah berdiri tepat di depan Jiyong tersenyum. Tubuh mereka saling bersentuhan karena dekatnya jarak mereka. ”Kalau di luar, kau boleh memanggilku dengan TOP, aku tak ingin mereka memandang sebelah mata terhadap dirimu.” Jiyong mengangguk, meneguk ludah. TOP kembali mengurangi jarak di antara muka mereka, bibirnya kemudian menyentuh telinga Jiyong. ”Namun tidak jika kita berdua di kamar, di atas ranjang, di sana kau harus menuruti semua keinginanku.”

Jiyong mengangguk pelan, mencoba menahan desiran nafsu di dalam tubuhnya. TOP benar, di luar, dia adalah seorang presiden dan meski TOP adalah master-nya, rakyatnya sekarang menatap dirinya, bertumpu padanya. Dan untuk itu dia tak boleh terlihat lemah. Jika dia harus berpura-pura menjadi seorang callous pun, dia tak masalah.

”Kau dari mana?” tanya Jiyong, mulai menemukan kembali composure-nya.

”Hanya melakukan pengecekan di Irian, memastikan para pekerja tidak mengambil emas yang tersimpan di sana.”

”Dan memberikannya pada Amerika, begitu?” sambung Jiyong dengan sarkasme di dalamnya.

TOP tertawa. Dia tahu bahwa Jiyong tidak suka dengan kenyataan bahwa Indonesia dulu sangat dibodohi dan menginginkan segala sesuatu dengan praktis. Mungkin, pikir TOP, perang ini setidaknya dapat membuat semuanya memulai dari awal.

Ya, mungkin demikian.

”Jadi, kau sedang apa? Bukankah seharusnya kau tak banyak bergerak, kau tahu hologrammu dapat mengerjakan semuanya kan?” tanya TOP dengan nada khawatir.

Jiyong terkekeh, mendorong dada TOP. ”Tidak, seorang pemimpin tidak boleh menitipkan pekerjaannya pada orang lain jika dia dapat mengerjakannya, meskipun orang lain itu adalah hologramnya sendiri.”

Sebuah ekspresi bangga terukir di wajah TOP. Ini yang dia suka dari Jiyong, meskipun pria itu seorang doll, namun Jiyong tetap memiliki seorang harga diri sebagai manusia. Alasan mengapa pria itu tetap menjadi seorang doll tidak diketahui oleh TOP, namun dia tahu bahwa tidak mudah bagi orang dari kelas doll untuk naik, apalagi menjadi seorang callous.

TOP menarik Jiyong ke dalam pelukannya, tidak peduli jika beberapa ordinary yang bekerja di sana menatap mereka dan kutukan yang terlontar dari mulut Jiyong. Dia meletakkan tangan kanannya pada bagian belakang kepala Jiyong sementara yang satu lagi melingkar di perut pria itu. ”Aku tahu,” bisik TOP. Tangannya bergesekkan dengan punggung Jiyong, memberikan fraksi untuk menenangkan pria dalam pelukannya. ”Tapi aku tak mau kau sakit, dan terutama dengan,” TOP menghentikan ucapannya, merenggangkan pelukan mereka sedikit. Tangan kirinya yang berada di belakang tadi kemudian menyentuh perut Jiyong. ”Nyawa ini berada di perutmu, kau butuh istirahat.”

Jiyong tersenyum lembut. Dia sangat menyukai dengan perhatian yang diberikan TOP kepadanya. Mungkin di balik pintu kamar mereka, ketika berdua dan di atas ranjang, TOP terlihat tak berperasaan, namun ketika di luar, ketika mereka hanya seorang Jiyong dan TOP, pria itu selalu mengkhawatirkannya. ”Tenang saja,” bisik Jiyong, menyentuh pipi TOP perlahan. ”Aku akan baik-baik saja demi kau, dan demi nyawa ini.” Jiyong meletakkan tangannya di atas punggung tangan TOP.

Keduanya saling tersenyum dan angin yang berhembus, menggoyangkan ujung kerah kemeja yang dikenakan Jiyong. Sebuah tulisan terukir di sana, di atas dada Jiyong, di bawah lehernya, tulisan yang tak asing lagi.

S-04

.

.

to be continued

.

.

Author Notes:

Wuhuu! Anybody miss me? Or at least miss this fic? –bricked

Anyway, aku mau mengucapkan terima kasih sama yang masih menunggu fic ini dengan setia seperti Se7en yang setia mati dengan Yonghwa. Semoga dengan ini beberapa hal mulai terbuka. Clue terbesar adalah penjelasan Yonghwa mengenai Amerika dan Rusia!

Lalu Puru juga ada koneksi dengan hubungan Yonghwa – Donghae – Kibum (hubungan orang tua dan anak yang sangat unik uwu)

Dan iya, Se7en sebenarnya secara tidak langsung mengejek, Siwon 😉

Kalau baca Broken Memory (promosi dikit) uwu Se7en kan sudah melarang Siwon dan mgkn begitu deh kkk.

Anyway, what do you think of this chapter? ^^

Last, but not least

Thanks to:

zhe | changchangie | ezkjpr | 지유 | siska lee | min yoongi | Ardhelia Orchid | red akuma | mio-chan | HZ | Meyla Rahma | chwangkyu_kihae | niswa | YunkaFen | alicekang | ceekuchiki | miss o | folpuris

PS:

Sedikit informasi soal kode savior (soalnya saya juga bingung /plak)

So here:

S-00 Changmin
S-01 Kibum
S-02 Jaejoong
S-03 Eunhyuk

Advertisements

13 responses to “The Mask Unveiled

  1. huwaaaaaaa akhirnya :”) gatau mau comment kaya gimana, yg jelas update cepet ya :* banyakin kyuhyun dong, itu se7en cepet banget ketemu sm changmin? kasian minkuminnuuu
    ihhh gemes deh liat top :*
    semangat nulisnya ^^ fighting! jayakan se7min

  2. huwaaaaa…. akhirnya updateeee….. sedikit agak lupa, tapi pas ditengah akhirnya kilasan balik dipart sbelumnya muncul jadi lancar bacanya. tadi juga agak kaget pas changmin hamil, tapi pas diinget inget emang iya, dan…. kyaaahh… kenapa FF ini selalu buat aku bersemangat?? penuh teka teki, emang seharusnya yg baca FF ini kudu punya daya ingat yg cukup bagus, mengingat beberapa istilah sulit yangs ering digunakan disini.

    oh, savior ke empat itu… Jiyoung kan?? lalu kenapa bisa terpisah ama ke empat savior? maksudnya kok nggak ada yang tau?

    ah… ciyee…. master yunho yang nggak mau pisah ama jaejoongnya…
    ciyeee…. se7en yang mau dipanggil dong wook sama minku seorang…

    kyaaaa… saya bahagia banget pas tau FF ini update 🙂
    next part jangan kelamaan ya… eL-Nii

    oh ya, slave day? slave day? apa kabar? #colek dikit kekeke….

  3. So, what will happen to Jiyong???? *bam bam bam bam bam bam~*

    ThankU for the update and Happy birthday, Miss L sayang~~~~
    Wuuuu@~ *clap clap* *tebar confetti* 🎊 🎊 🎊

  4. wakaakakkk padahal fict ini sudah aku buka dari bbrp hari yg lalu, tp baru dibaca tadi karena harus nyiapin waktu yg tepat lol
    btw, chapter ini jauhhhhh lebih ringan dibandingkan chapter2 lainnya. aku lgsg bisa ngerti maksudnya hahahah
    dan pas saviour ditanya sama hangeng kangin yg tersisa siapa lgsg inget sama jiyoung, dan bener hahaha.
    aku masih gak ngerti aja disini perannya han tuh sbnrnya gimana. gajelas. sama kayak orangnya.

    ((lah fans macem apa))

    well, ditungguuuuuuubgt kelanjutannya. btw once again, happy birthday!

    -ezkjpr

  5. halo!!! reader lama! baru comment! ;P
    jadi S-04 itu Jiyong ya? GTOP so sweet bngitz~ Se7Min juga! akh~ ngmong2 mana Kibum? *clingukan
    cepet lanjutin dong~ pwease~~~~ ditunggu lho!

  6. Uuuhhhhh…
    Seru pake banget..
    Aku udh nebak pasti jiyong yang jadi savior ke-5..
    Hhhh…
    Kapan update lagi..?
    Kabarin yaa…

  7. aaaa…..
    udah lama gak ngecek dan sekali ngecek sudah update.
    utk chap depan cepat lanjuti yan ^^

  8. Ini belum dilanjutkah? Atau aku yg lost lanjutannya yg ga tau dimana? Hehe
    Tapi serius suka banget cerita ini baru aku temuin kemaren dan kelar 16 chap dalam 2 hr ga tidur krn serunya XD
    Ditunggu kelanjutannya
    Author Ganbatte! Hwaiting! ;*

  9. Miris liat Donghae, tubuhnya dijadiin perantara sama Yonghwa supaya bisa komunikasi sama mereka semua.
    Itu Kenapa bapak-anak (Yonghwa/Donghae/Kibum) pada saling menjatuhkan begitu? -,-
    Dan terjawablah sudah saviour kelima itu adalah Kwon Jiyoung!!!

    Penasaran sumpah nantinya ini bakalan berakhir seperti apa!!

    Saya tetap tungguin lanjutannya, cepat dilanjut ya nim, Fighting!!!

  10. Aku baru ketemu ff ini *astaga dari kemaren kemana aja?*
    Maaf thor baru komen di chapter ini..
    Sumpah ini ff keren banget, semua pair fav ada disini, kecuali kyumin huhuhu

    Btw, lanjutannya kapan ya?
    Keep writing thor… Ditunggu pake banget level 30000 lanjutannya yaa

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s