Requiem of the Death


DON’T LIKE DON’T READ!!

Part of ”Slave Day”

Author: eL-ch4n

Rated: T- M

Summary: Kali ini anda berkesempatan untuk berbicara dengan Sang Maut itu sendiri.


.

requiem of the death

.

Selamat pagi, saya harap tidur anda semalam nyenyak

Bagaimana kalau hari ini anda beristirahat?

Ada tempat yang anda ingin pergi?

Ah, perpustakaan? Tentu sajadi sini ada.

Sebentar, akan saya antarkan ke sana.

.

Ah, di sini, kita sudah sampai.

Tuan Yunho suka membaca, lebih karena dia perlu mengetahui beberapa hal.

Di sini, kita mempunyai koleksi terlengkap mulai dari Sherlock Holmes edisi pertama sampai buku-buku pembedahan, anda tentu tidak ingin tahu untuk apa.

Baiklah, saya tinggalkan anda di sini dulu, saya akan membuatkan sarapan pagi dulu untuk semua dan untuk anda juga.

Kalau bisa, anda jangan keluar dari ruangan ini sampai saya tiba, oke?

Baik, saya pergi dulu.

.

Ketika anda ditinggalkan sendirian, perlahan anda mulai melangkah mengelilingi perpustakaan dua lantai yang begitu luas, tempat anda berada sekarang. Tangan anda perlahan menyisiri buku-buku dengan judul yang beberapa pernah anda baca. Aroma buku lama anda hirup dan anda nikmati. Sudah lama anda tak melihat buku sebanyak ini. Begitu nostalgic.

”Kupikir siapa, ternyata seekor tikus yang tersesat rupanya.” Sebuah suara yang pernah anda dengar, tetapi anda lupa siapa menghentikan gerakan anda. Sontak anda melihat sekeliling anda, mencari pemilik suara tersebut yang ternyata berdiri tepat di samping kiri anda.

Daesung.

Anda tahu siapa dia, penghuni – penguasanya – lantai bawah. Dapat anda rasakan anda mulai bergidik karena kengerian. Daesung sedang bersandar di dinding, di samping jendela besar yang memantulkan sinar matahari. Sosoknya yang mengenakan t-shirt putih dilapisi dengan jaket kulit hitam dan celana panjang hitam membuat dia mengeluarkan aura yang terlihat menekan.

Mengingat siapa Daesung sebenarnya, anda merasa bahwa ketakutan yang anda rasakan adalah masuk akal. Bagaimanapun Daesung adalah sang Death itu sendiri, ke mana dia melangkah sang kematian sudah bersiap dengan sabit pencabut nyawa. Dia berjalan mendekati anda, namun kemudian menarik kursi yang berada di tengah-tengah ruangan.

Perpustakaan tersebut luas, dua lantai dengan rak yang penuh berisi buku di sekitar dinding. Di tengah-tengah ruangan terdapat meja besar yang memiliki 8 kursi. Sementara ada juga sofa untuk satu orang yang menjadi penghubung antara rak yang satu dengan rak yang lain. Daesung sekarang sudah duduk di salah satu dari delapan kursi yang ada. Punggung kursi berada di depan sehingga Daesung bersandar ke depan dengan kedua tangannya memegang sandaran kursi yang tampaknya terbuat dari kayu yang mahal.

Anda sedikit bingung dengan apa yang harus anda lakukan, menunggu seperti seekor kelinci menatap sang predator di hadapannya. Daesung tersenyum – menyeringai lebih tepatnya – ke arah anda. Matanya yang tipis semakin tak terlihat saat senyuman itu terukir di wajahnya.

”Jadi, kudengar kau suka bertanya, kau tidak mau menanyakan apapun pada diriku?” tanya Daesung memecahkan keheningan.

Dari nada tersebut, ada sebuah tantangan yang ditujukan kepada anda. Tangan anda terkepal, basah karena keringat, dan dengan keberanian yang telah anda kumpulkan, anda menarik kursi yang terletak di ujung. Dengan dua kursi di antara kalian, anda merasa sudah cukup. Anda dudukkan diri anda, namun tidak seperti Daesung. Anda duduk seperti biasa, punggung anda sedikit anda sadarkan ke belakang, mencoba untuk menenangkan diri.

Menarik nafas satu, dua, tiga kali sembari menyadari tatapan tertarik dari Daesung. ”Baiklah, aku ingin tahu apa hubunganmu dengan Minzy?”

Walau terkejut dengan pertanyaan anda, Daesung cukup pintar dalam menyembunyikannya. Tentu saja, pikir anda. Daesung tidak akan disebut sebagai Death jika dia tidak pintar menyamarkan ekspresinya. ”Dia sahabatku.”

Anda menelan ludah. Penekanan pada bagian akhir dan sorotan mata Daesung seolah mengisyaratkan bahwa pembicaraan ini sampai di sana saja, namun anda tidak puas. Bukan itu yang ingin anda dengar.

”Jiyong juga sahabatmu, Eun Kyung juga, tapi kau bersedia menjadi seorang pembunuh demi Minzy, menggantikan posisinya.”

”Kau tahu apa?” sela Daesung. ”Kau tak tahu apa-apa,” kemudian Daesung tertawa, sebuah tawa mencekam yang menusuk. ”Tapi baiklah, akan kuceritakan. Mungkin kau akan tahu apa yang terjadi. Mungkin juga akan menjawab pertanyaanmu yang lain.”

Anda terdiam, tak berani menghentikan Daesung, tahu dengan konsekuensi yang mungkin anda hadapi. Jika Daesung akan menceritakan semuanya, dari awal, mungkin anda dapat menemukan kepingan puzzle yang lain. Akan tetapi, anda juga sudah mempersiapkan diri jika saja anda tidak akan mendapatkan jawabannya dan malah dihadapkan dengan sebuah pertanyaan yang lain. Bukankah itulah yang selama ini anda rasakan setiap masa lalu diceritakan kepada anda?

.

.

Malam itu purnama atau sabit, tidak ada yang tahu, yang jelas hanya kilauan cahaya dari sang rembulan yang tampak. Tak ada bintang yang berkela-kelip, langit tampak begitu sepi, begitu pula dengan jalanan pada jam 11an malam sekarang ini. Seekor binatang pengerat keluar dari tempat persembunyiannya, di balik tong sampah yang berada di gang kecil. Sesekali mencicit sembari mencari makanan untuk dirinya. Matanya tertuju kepada belahan roti yang sepertinya dibuang orang yang tak menghargai makanan. Dia berlari dengan cepat agar roti tersebut tak ada yang ambil dan dia dapat kembali ke rumahnya.

Sesuatu yang tajam –pisau mungkin – menancap tepat di perutnya membuat dia menjerit (mencicit) sembari meronta-ronta, mencoba melepaskan dirinya. Namun itu mustahil, apapun yang tajam yang menusuk dirinya tertanam di jalanan sehingga tidak mungkin bagi dirinya untuk kabur selain berharap akan kebaikan. Roti di hadapannya kemudian diambil oleh sebuah tangan yang terlihat lusuh. Jari-jari yang kotor, telapak tangan yang penuh bekas luka, dan luka yang masih baru di sekitar pergelangan tangan.

”Maafkan aku, tapi aku harus membawa pulang makanan untuk Minzy.” Sosok anak kecil itu perlahan terlihat dalam pantulan bola mata binatang pengerat tersebut. Daesung. Atau Daesung saat dia masih kecil dan polos. Dia menarik pocket knife yang dia gunakan untuk menancap tikus tadi dan mengambil belahan roti yang ditemukannya. Tikus tadi didoakannya sebentar sebelum kemudian ikut dimasukkannya ke dalam kantong yang dia siapkan tadi.

Dengan sigap, dia segera berlari keluar dari gang tersebut, melewati celah-celah yang ada hingga dia tiba di salah satu gang yang terpencil. Langkahnya berhenti di depan sesuatu yang tampak seperti goa. Dia melangkah masuk sembari mengangkat kantong yang sudah berisi makan malam mereka malam itu.

Di dalamnya seperti saluran bawah tanah, gelap dan terdengar suara tetesan air. Mata Daesung sudah terbiasa karena ini bukan kali pertama dia di sana. Tak berapa lama matanya menangkap cahaya berwarna putih redup. Senyuman tersungging di wajahnya. Dia mempercepat langkahnya.

”Aku pulang!” serunya ketika dia sudah berada di sana. Di dalam sana seperti sebuah kamar kecil, terdapat dua kasur yang terbuat dari kardus dan kain bekas yang dijahit, meja kecil yang dibuang, dan satu kompor kecil (jangan ditanya didapat dari mana).

”Daesung!” seru pria yang tadi sedang berbaring di kasur, Jiyong. ”Kau sudah kembali rupanya!”

Daesung menyengir lebar. ”Yap, dan aku tidak pulang dengan tangan kosong.” Mendengar itu, dua anak perempuan yang lain kemudian mengerumuni Daesung yang sudah duduk di depan kompor. ”Aku menemukan roti dua, dan tarra!” Dia mengeluarkan tikus yang dibunuhnya tadi dan terdengar suara teriakan kagum dari Jiyong dan dua perempuan lainnya, Eun Kyung dan Minzy.

Dapat dilihat dari kondisi mereka, keempatnya bukan berasal dari keluarga berada. Terkadang mereka tidak dapat makan seharian karena petugas sampah sudah mengambilnya atau ada preman di gang tersebut (mereka memilih untuk kelaparan daripada harus berkelahi dengan preman tersebut, terima kasih). Ada juga hari-hari seperti ini ketika salah satu dari mereka keluar dan membawa pulang makanan, tak peduli seberapa menjijikannya bentuknya.

”Aku tadi melihat ada lowongan di toko roti di seberang, besok aku akan coba untuk melamar kerja di sana,” ujar Jiyong sembari membelah roti dan memberikan satu bagiannya ke Eun Kyung.

”Kau pasti bisa!” seru Daesung. Jiyong mengangguk. ”Aku kayaknya akan coba untuk melamar jadi pembersih di toko butik itu, pembersih mereka sebelumnya berhenti karena melahirkan,” sambung Daesung lagi.

”Aku akan mencoba mencari uang dengan menari lagi, hari ini aku kurang berhasil sih, tapi siapa tahu besok akan lebih baik,” sambung Minzy.

Eun Kyung yang paling kecil di antara mereka memang belum bekerja dan ketiganya memaksa agar Eun Kyung untuk tinggal di rumah mereka ini dan belajar. Seminggu sekali, Daesung ataupun Jiyong berusaha untuk membawa pulang buku agar Eun Kyung dapat belajar. Setidaknya gadis itu mempunyai kesempatan untuk lebih baik. Dia masih 10 tahun, demi Tuhan. Daesung berharap Eun Kyung tidak akan seperti Jiyong, Minzy, atau dirinya.

Acara makan malam kemudian ditutupi dengan Daesung menyanyikan lullaby sebagai pengiring tidur untuk Eun Kyung. Menatap sosok Eun Kyung yang masih kecil, Daesung hanya bisa tersenyum tipis. Semoga saja hari esok akan lebih baik, setidaknya itu doanya setiap malam. Daesung hanya tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kehidupannya memang lebih baik, tak kekurangan makanan, mempunyai tempat tinggal, tetapi sesuatu di dalam dirinya mati, tertinggal di masa lalu.

.

.

”Kau makan tikus itu mentah-mentah?”

”Ya, membeli gas itu cukup mahal, lagipula kalau sudah lama kau akan terbiasa.”

”Kalian tidak sakit?”

”Sakit dan tidak makan, makan dan tidak sakit, sama-sama akan membawa kami pada kematian, apa bedanya? Lebih baik makan untuk mempunyai tenaga dan memikirkan masalah sakit di kemudian hari.”

”Kau tidak menjelaskan satu hal.”

”Ya?”

”Hubunganmu dengan Minzy, kalian, di mana kalian bertemu? Kapan?”

”Itu tidak penting bukan?”

.

.

Seminggu kemudian, Minzy pulang dengan senyuman lebar di wajahnya. Napasnya terengah-engah karena berlari. Tidak ada orang di rumah selain Daesung karena Eun Kyung sedang pergi ke Gereja untuk mendapatkan pendidikan gratis yang diadakan tiap Kamis siang. Daesung yang kebetulan hari itu sudah ada di rumah melihat Minzy dengan heran.

”Ada apa, Minzy?” tanya Daesung. ”Kau seperti lari karena habis dikejar hantu saja.”

Minzy seolah melemparkan badannya ke arah Daesung dan memeluk pria itu. ”Aku diterima!”

”Eh?” Daesung terlihat bingung dengan satu kalimat dari Minzy tadi. Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya dan duduk di seberang Daesung, tapi tidak terlalu jauh.

”Sebenarnya dua hari yang lalu ada seorang pria mendatangiku dan menawarkanku audisi ke perusahaannya. Mulanya aku ragu, tapi saat aku melihat kartu nama dan nama perusahaannya, aku langsung berubah pikiran. Coba tebak!”

”Erm, tidak tahu?” gumam Daesung. Minzy memukul pundak pria itu dengan pelan. Keduanya tertawa.

”Yang menemuiku itu namanya Minho, dia adalah salah satu artis di TL Entertainment, kau tahu?”

”TL Entertainment? Yang pemiliknya si Choi Seunghyun itu?” Minzy mengangguk dengan cepat. Ekspresinya tampak begitu bahagia. Wajahnya begitu bersinar. Mau tak mau Daesung ikut tersenyum dan merasakan euphoria yang dipancarkan gadis itu. ”Lalu kau sekarang akan didebutkan?” goda Daesung.

”Tidak, aku harus melewati masa training dulu kata mereka.”

Mendengar kata training, Daesung mengangkat alisnya. Dia tahu bahwa training tidak gratis dan harus ada biaya yang dikeluarkan oleh mereka untuk mendaftar. Tapi, mereka akan mendapat uang dari mana? ”Training?”

”Iya! Tapi tenang saja kata Minho, semuanya gratis dan nanti kalau aku sudah debut, sebagian akan masuk ke perusahaan, dan aku terikat kontrak selama 5 tahun,” papar Minzy seolah dapat membaca pikiran Daesung.

”Oh begitu, lalu kau sudah tanda tangan kontrak?” Mendengar itu, Minzy menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.

”Dia mengatakan aku butuh wali dan aku berpikir untuk mengajak Jiyong, apa kau pikir dia akan mau?” tanya Minzy dengan mata yang seperti anak kecil meminta sesuatu. ”Oh, bukannya aku tidak mau menyuruhmu, tapi kita masih 15 tahun dan hanya Jiyong yang sudah 18 tahun, jadi –”

”Tenang saja, Minzy,” sela Daesung. Dia mengelus kepala Minzy dengan lembut seperti tatapan dan senyumannya. ”Aku mengerti, kalau Jiyong tidak mau, aku akan membantumu untuk membujuknya.”

”Tidak mau apa?” Suara Jiyong yang khas mengejutkan Minzy dan Daesung. Minzy sampai berdiri dari posisinya dan bergeser ke samping Daesung karena dia membelakangi Jiyong. Jiyong menyengir lebar. ”Kalian lucu sekali, aku baru pulang menjemput Eun Kyung sekalian tadi. Ada apa ini?”

Minzy melirik ke arah Daesung, seperti meminta tolong dan Daesung, seperti biasanya, membalasnya dengan senyuman dan memutuskan untuk menjelaskan kepada Jiyong. ”Sebelumnya, bagaimana kalau kalian duduk saja dulu? Akan lebih enak membicarakan ini sambil duduk dan oh ya, aku mendapat makan malam sisa dari toko roti. Sepertinya mereka tahu terkadang aku suka mengambil roti dari tong sampah dan mereka kasihan.”

Jiyong mengangguk. Dia kemudian duduk di kasur Minzy dan Eun Kyung sementara Eun Kyung mengikuti Jiyong dan duduk di sampingnya. ”Jadi, aku mendengar namaku disebut, ada apa?” tanya Jiyong.

Daesung menatap ke arah Minzy sebelum menjelaskan kepada Jiyong mengenai apa yang diceritakan Minzy kepadanya. Entah hanya perasaan saja atau tidak, ekspresi Jiyong tampak berubah begitu nama TOP disebut. Seperti perasaan tidak suka, entah kenapa. Setelah Daesung selesai menceritakan semuanya, Jiyong terdiam. Matanya menatap ke arah Minzy, tajam namun terdapat kelembutan di dalamnya.

”Apakah kau menginginkannya, Minzy?” tanya Jiyong dengan tenang.

Minzy dan Daesung berpandangan dan Daesung mengangguk seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Dia bahkan menepuk pundak Minzy seperti yang biasa dilakukannya untuk menenangkan gadis itu. Minzy tampak menelan ludah sebelum menghadap Jiyong sembari mengangguk dengan perlahan. ”Iya,” bisiknya. ”Aku ingin mencoba kemampuanku.”

Hanya sekilas, namun Daesung dapat melihat ekspresi sendu terpasang di wajah Jiyong. ”Baiklah, besok aku juga kosong. Aku akan memakai baju terbaikku untuk itu, kau harus training yang benar ya!” seru Jiyong. Minzy tampak berbinar seketika dan segera memeluk Jiyong, melingkarkan tangannya pada leher pria itu dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Daesung juga ikut bahagia. Malam itu tampaknya malam yang membahagiakan, menurut Daesung saat itu, karena setidaknya salah satu dari mereka mendapatkan cahaya dari kegelapan yang selama ini membelengu mereka.

Hanya Daesung tidak tahu bahwa cahaya itu tak lebih dari sesuatu yang semu laksana sinar bulan yang hanya pantulan dari sang mentari.

.

.

”Kenapa Jiyong seolah mengenal TOP? Bahkan saat di sini pun, TOP begitu menjaga Jiyong?”

”Bukankah itu adalah hal yang harus kau pecahkan? Sesuatu yang bagai benang merah tak terlihat ini?”

”Apakah kemudian Jiyong bertemu TOP?”

”Tentu saja, tentu, itu adalah sesuatu yang tak terhindari.”

”Tapi bagaimana TOP tahu bahwa Jiyong akan datang hari itu?”

”Minho, memangnya kau pikir kenapa tiba-tiba Minho melihat Minzy dan memberikan undangan tersebut? No offense, Minzy memang penari yang jago, tetapi semua kebetulan ini?”

”Kenapa Minho melakukannya?”

”Di sanalah titik balik semuanya.”

.

.

Hampir setengah tahun sudah Minzy berlatih di TL entertainment. Setiap malam dia akan pulang ke rumah mereka dan menceritakan kegiatannya hari itu. Wajah Minzy saat menceritakan itu terlihat begitu bahagia, bercahaya, begitu hidup hingga Daesung mau tak mau  juga ikut merasakannya. Namun, semuanya berubah ketika satu hari Minzy pulang ke rumah dengan ekspresi sendu. Hanya ada Daesung seperti hari itu. Jiyong yang sudah diterima menjadi salah satu pelayan di toko roti sedang bekerja dan Eun Kyung kembali mencoba menimba ilmu. Daesung yang memang hari itu sedang off memutuskan untuk beristirahat seharian di rumah sekaligus memikirkan apa yang dapat dia lakukan untuk esok hari.

”Minzy?” tanya Daesung dengan perlahan.

Mendengar namanya dipanggil, Minzy sontak seperti ketakutan. Daesung dapat melihat tubuh gadis itu bergetar. Kedua tangan Minzy memeluk tubuhnya sendiri seperti orang kedinginan sembari menggosok lengan dengan telapak tangannya berkali-kali. Sungguh aneh, pikir Daesung. ”Ada apa?”

Daesung masih tidak mendapatkan jawaban dari Minzy. Dia menunggu sampai gadis itu kemudian duduk di hadapannya dengan perlahan. Saat itu Daesung baru melihat bekas luka merah yang tampak di wajah Minzy, beberapa seperti pukulan dan goresan entah karena apa. Ada sesuatu yang aneh, tapi Daesung tidak tahu.

”Kumohon jangan benci aku,” isak Minzy. Dia menatap Daesung dengan ekspresi penuh ketakutan. Daesung tak tahu harus berkata apa. ”Kumohon Daesung, mereka,” Minzy tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena dia kemudian menangis. Melihat kondisi Minzy, Daesung mempunyai satu praduga, tapi dia berharap bahwa itu semua tidak mungkin. Minzy tidak mungkin, iya kan?

”Minzy?” Tangan Daesung terulur ke depan mencoba meraih Minzy dan mengatakan kepada gadis itu bahwa dia tidak akan marah, dia mengerti. ”Siapa?” tanya Daesung.

Minzy menundukkan kepalanya, menggeleng sebagai jawaban. ”Minho?” tanya Daesung. Minzy sedikit menegang tetapi kemudian menggelengkan kepalanya. Daesung menghela nafas. Sejak awal dia sudah merasa bahwa ada sesuatu dari Minho yang tampaknya tidak menyenangkan dan dari reaksi Minzy tadi, meskipun mungkin benar bukan Minho, tapi pria itu pasti salah satu penyebabnya.

Geram.

Apa hanya karena mereka tidak mampu lantas mereka layak diperlakukan seperti ini?

”Kau tidak perlu ke sana, Minzy,” geram Daesung.

Minzy menatap Daesung, sendu dan bersalah. ”Aku, aku harus, kalau tidak, kalau tidak kalian –”

”Persetan dengan semua itu, kau lebih penting, jangan pikirkan kami, kau, kalau tahu akan seperti ini, aku tidak akan mengizinkannya.” Daesung memukul tanah dengan keras membuat Minzy sempat melompat karena terkejut. Tangan Daesung memerah, tapi sakit bukan hal yang dia pedulikan sekarang.

Suara tepukan tangan mengalihkan perhatian keduanya. Mereka kemudian melihat sosok Minho yang sedang berdiri di sana dengan angkuhnya, beserta dengan dua orang berbaju hitam – bodyguard tampaknya.

”Sungguh suatu ceramah yang bagus, sayangnya, aku sedikit ngantuk dan harus menyelesaikan ini sekarang. Apa boleh sekarang aku mengambil Minzy-ku?” Ada ejekan di balik perkataan Minho yang dirasakan oleh Daesung. Dia segera berdiri, diikuti Minzy yang berdiri di belakangnya. Dengan mata yang tajam, dia menekan Minho.

”Dia bukan milikmu, atau milik siapa-siapa, dia adalah miliknya sendiri,” desis Daesung.

Minho menyengir lebar. ”Sayangnya, aku tidak peduli dengan hal tersebut. Aku akan mengambilnya meski harus melakukan paksaan sekalipun. Ayo Minzy, training-mu belum selesai. Ini baru permulaan saja.”

.

.

”Kami kemudian ditangkap, diculik mungkin, tapi toh tidak ada yang peduli lagi pada kami selain Jiyong dan Eun Kyung.”

”Apa yang terjadi setelah itu? Kalian dibawa ke sini?”

”Kurang lebih.”

”Lantai berapa?”

.

.

Daesung berdiri dari kursinya, berjalan menuju ke arah jendela, membelakangi anda. Terlihat dia sedang memikirkan sesuatu, masa lalu mungkin?

”Kami tidak tahu mengenai pembagian lantai saat dimasukkan ke tempat ini,” bisik Daesung. ”Akhirnya Taeyang menjelaskannya kepada kami, tahu bahwa Minho seperti biasa selalu mengambil orang dan melakukan seenaknya. Perlahan dia mengantarkan kami lantai per lantai, untuk melihat apa yang dikerjakan mereka di sana. Sepanjang perjalanan, aku terus menggenggam tangan Minzy, memastikan kepada dia bahwa dia tidak sendiri, bahwa aku berada di sana. Apa kau tahu betapa menyedihkannya hal itu?” Anda tidak dapat melihat wajah Daesung saat ini, namun dari suaranya yang begitu lirih, anda dapat membayangkan pilu luka masa lalu yang terpajang sekarang.

”Minho menginginkan Minzy di lantai 1, tentu saja. Pria menjijikan itu,” desis Daesung.

Sebuah pernyataan yang sangat vulgar, menurut anda. Daesung dengan terang-terangan seperti menyatakan perang kepada Minho.

”Dulu mungkin aku tidak berani, tapi sekarang,” Daesung memutar kepalanya, menatap ke arah anda. ”Dia bukan apa-apa bagiku, tak lebih dari seekor tikus yang kubunuh untuk makan malamku.”

Anda menelan ludah. Di hadapan anda bukanlah Daesung yang murah senyum, Daesung yang baik, Daesung yang polos. Di depan anda adalah Sang Death itu sendiri. Mencoba memberanikan diri, anda kembali bertanya, ”Apa yang terjadi? Kau di lantai tiga, dan Minzy tidak di sana. Jiyong dan Eun Kyung juga di sini. Kenapa?”

Equivalent Trade, kau tahu? Peraturan yang diagung-agungkan dalam dunia alkemis?” Anda mengangguk perlahan, merasa pernah mendengar itu di suatu tempat, hanya tak tahu apa kaitannya dengan hal ini. ”Seperti itulah yang kami lakukan.”

”Apa Yunho tak berbuat apa-apa?”

Daesung terlihat tenang saat mendengar nama sang headmaster disebutkan. ”Jika bukan karena dia, jika bukan karena dia.” Keheningan menimpa kalian, sesuatu yang menekan namun lembut di satu sisi. ”Jiyong datang, memukul TOP, meminta kami untuk dikembalikan. Namun TOP tak tahu apa-apa karena itu semua perbuatan Minho.”

”Apa hubungan Jiyong dengan TOP?” tanya anda dengan cepat, tak sempat memikirkan dampak yang mungkin terjadi.

”Sesuatu yang hanya mereka ketahui, tapi aku tidak akan menahanmu, seandainya kau masih penasaran.” Anda terdiam, tahu bahwa sekali lagi Daesung sedang memperingatkan anda untuk tidak menyelediki lebih dalam. Saat melihat anda yang tampaknya mendapat kode tersebut, Daesung kembali melanjutkan. ”Kalau kau penasaran dengan kenapa Minzy dan aku bisa berada di tempat kami sekarang, bagaimana kami akhirnya tinggal di sini, akan kuceritakan.”

.

.

Jika sebelumnya Daesung berpikir dia tinggal di neraka, maka mungkin dia salah. Di sini, di tempat apapun ini, jauh lebih menampilkan neraka yang selama ini hanya dia dengar di dalam kisah sebelum tidur. Tidak, Daesung  bukannya tidak diberi makan. Sebaliknya, di tempat ini,  makanan mereka sudah terjamin, tiga kali sehari, dan bahkan makanan yang belum pernah dilihat oleh Daesung sebelumnya. Sayangnnya, makanan mewah dan bahkan tempat tidur yang empuk tidak dapat menutupi betapa bobroknya tempat mereka berada sekarang. Bukan karena tempatnya juga, melainkan karena perlakuan yang diberikan kepada mereka. Bagai semut yang kehidupannya tak berguna – atau setidaknya keadaan Daesung saat itu.

Daesung merasa sakit saat kedua lengannya diangkat oleh dua pria bertubuh besar dengan tanpa perasaan. Kakinya tidak kuat untuk berdiri sehingga dia ditarik sembari berlutut. Dia tidak ingat sudah berapa lama dia ditahan di tempat ini. Dia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan Minzy sekarang. Terakhir saat mereka bertemu, Minzy menangis dan meneriakkan namanya, meminta tolong namun Daesung tak dapat melakukan apapun. Dia dibawakan langsung ke lantai 2 dan diberikan pelatihan penyiksaan. Sementara Minzy, Daesung bersumpah akan membunuh Minho jika dia harus, dia melihat gadis itu ditarik dengan paksa ke lantai 1, tempat mereka yang tinggal di sana dilatih untuk memuskan tamu-tamu Minho dan TOP.

Pandangan Daesung sedikit mengabur, tetapi dia masih dapat melihat saat dirinya dibawa ke sebuah pintu, keluar dari lantainya sekarang setelah melewati liku-liku yang hampir dia hafal (jika tidak mengingat bahwa Minho akan selalu mengubahnya). Di balik pintu itu tampak sebuah kantor biasa, meja dengan komputer di atasnya, kursi, sofa di samping pintu, dan juga rak yang berisi buku.

Mata Daesung menangkap sebuah figur pria – Asia tampaknya. Badan pria itu cukup tinggi dan tegap, terlihat dari kemeja yang membalut tubuhnya. Kepalanya cukup kecil, tapi tidak menutupi bahwa pria di hadapannya memiliki sebuah karisma.

Kedua pria yang mengangkatnya tadi sudah pergi meninggalkan dia di ruangan itu bersama dengan pria yang tidak dia ketahui namanya.

”Daesung, bukan?” tanya pria itu.

Daesung tidak menjawab, tidak juga mengangguk ataupun menggeleng. Bukan karena dia sudah tidak memiliki tenaga, tidak, dia bahkan dapat mengambil pen yang tergeletak di atas meja saat ini dan menggunakannya untuk melindungi diri jika dia mau.

”Apakah kau sudah menjadi bisu sekarang?” Kembali pria itu bertanya, namun dengan penekanan lain yang tersembunyi.

”Daesung,” yang menjadi balasan.

Pria itu mengangguk, tampak puas. ”Aku minta maaf,” ujar pria itu perlahan. Daesung mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan tatapan tak percaya. Matanya terbuka begitu lebar hingga dapat keluar sewaktu-waktu. Apakah dia tidak salah mendengar? Pria di depannya meminta maaf? Seperti dapat membaca pikiran Daesung, kembali pria itu melanjutkan perkataannya. ”Aku sedang mengurusi sesuatu di luar dan Minho mulai menjadi-jadi, TOP juga baru mengetahui ini saat temanmu Jiyong memukulnya dan menemukan Minzy di lantai dua, sepertinya kabur dari training yang diberikan Minho. Aku segera kemari saat TOP memberitahuku. Jadi, aku minta maaf.”

”Maaf?” teriak Daesung. ”Kau minta maaf setelah apa yang terjadi? Apa kau pikir itu dapat mengubah semuanya?!”

”Tidak, maaf memang tidak berguna, tapi lebih baik aku meminta maaf daripada tidak sama sekali,” jawab pria itu dengan tenang. Mata elangnya terlihat tenang dan menghanyutkan. ”Aku tak dapat mengizinkanmu keluar, tapi –”

Seperti sebuah tombol tertekan, entah apa yang membut Daesung menerjang maju. Tangan kanan meraih pen yang terletak di atas meja, tangan kiri mencengkram kerah baju pria tersebut dengan erat. Nafas Daesung mulai teratur, tangan yang memegang pen sudah siap untuk menancap jika diperlukan. Sayangnya pria di dalam genggamannya tak bergerak. Bahkan dia tersenyum melihat kelakuan Daesung.

I like you, Daesung,” bisiknya. ”Kau cukup lincah, gerakanmu tangkas dan tidak gegabah. Kau sudah memprediksikan apa yang dapat kau gunakan. Oh, jangan kau pikir aku tidak tahu kau sudah mengincar pen itu, bahkan aku sengaja menyiapkannya. Ternyata aku benar.”

Daesung masih tidak mengerti dengan apa yang baru dijelaskan kepadanya. Gengamannya tidak pernah dia longgarkan. ”Kau jangan main-main terhadapku,” desis Daesung.

”Oh, tidak Daesung, aku tidak bermain-main denganmu. Aku akan memberikan sebuah penawaran bagimu, kurasa kau akan tertarik.”

”Tidak perlu, keluarkan aku dan Minzy dari sini.”

”Yunho,” ujar pria itu dengan tenang, tak seperti seseorang yang nyawanya berada di ambang batas.

”Apa?”

”Namaku Yunho, kupikir akan lebih baik kau tahu nama orang yang akan memberimu penawaran untuk tetap hidup, atau kau memilih untuk mati di sini?” balas Yunho tanpa ekspresi apapun.

Hidup lama di jalanan membuat Daesung tahu kapan seseorang merupakan ancaman dan harus diwaspadai. Yunho memberikan aura itu saat ini dan Daesung sempat berpikir konyol untuk membiarkannya dan menusuk pen itu ke leher pria bernama Yunho ini. Namun, sesuatu mengatakan untuk dia mendengarkan penawaran tersebut. Lagipula dia belum dapat memastikan keberadaan Minzy saat ini. Terlebih lagi, pria ini tampak memiliki otoritas lebih daripada Minho dan TOP. ”Baiklah, Yunho, jelaskan kepadaku.”

Yunho menyengir. ”Kau memintaku menjelaskan tetapi masih tetap menodongkan pen itu? Kau tidak pandai dalam bernegosiasi, Daesung.”

Daesung mendengus kesal, namun dia kemudian menarik dirinya dari meja dan berdiri di posisinya sebelumnya. ”Apa maumu?”

”Ah kau tahu bahwa di balik pintu itu terdapat tiga lantai bukan?” Daesung mengangguk. ”Aku yakin juga Taeyang sudah menceritakan apa saja yang berada di tiap lantai?” Kembali Daesung mengangguk. Sedikit merasa diremehkan karena cara bertanya Yunho seperti untuk anak kecil yang tak tahu apa-apa. ”Kudengar Minho sedikit kasar saat melatihmu. Sebenarnya dia tidak bertugas di lantai itu, tapi dia sudah diberikan hukumannya, jika kau ingin tahu.”

”Cepat jelaskan penawaranmu,” balas Daesung dengan geram.

Well, aku sempat mencari data tentang dirimu, dan cukup menarik. Harus kukatakan aku cukup terkagum. Kau selalu tersenyum, membuat orang lengah terhadap dirimu dengan aura yang kau keluarkan, lalu kemudian kau merampok mereka. Tidak setiap hari kau lakukan karena kau tahu itu akan berbahaya. Kau pandai mengamati. Kau tahu siapa yang menurutmu layak dan siapa yang tidak. Gerakanmu, seperti yang kukatakan tadi, sigap dan tak ada sesuatu yang sia-sia. Aku menawarkanmu untuk menjadi penguasa lantai tiga. Bagaimana?”

Bibir Daesung terbuka, ingin mengeluarkan sepatah dua patah kata, tapi tak ada yang keluar. Wajar jika dia dikatakan terkejut. Lantai tiga? Yang dia ketahui dari lantai tiga adalah itu lantai yang jauh lebih mengerikan dari lantainya. Penghuni di sana tidak dapat dikatakan akrab, bahkan jika ada kesempatan untuk apa yang mereka katakan menguji kekuatan, mereka akan melakukannya. Bertahan hidup satu hari di sana tampaknya bukan hal yang mudah.

”Bicaramu seperti itu hal yang mudah saja,” kata Daesung dengan sinis.

Yunho tersenyum. ”Taeyang akan melatihmu, sebulan, dan kalau dalam sebulan kau tidak dapat melukainya sedikit saja, maka kau akan dikembalikan ke lantai dua dan perjanjian ini tak pernah ada, Minzy juga akan tetap diletakkan di lantai satu.”

Daesung mengepalkan tangannya. Memikirkan untuk menyerang Yunho, tetapi trik yang sama tidak akan berguna dua kali. Jadi dia menunggu, mencari celah sampai pria itu salah melakukan sesuatu. ”Kau tidak akan bisa kabur, Daesung. Siapapun yang sudah menginjakkan kakinya di tempat ini tidak bisa keluar kecuali karena tugas atau karena kematian.”

”Kalau aku berhasil melukai Taeyang?” tanya Daesung, menatap tajam ke arah Yunho.

Kali ini Yunho menyeringai, terlihat intrik dengan pertanyaan Daesung. ”Kalau itu terjadi, Daesung. Kau akan menjadi penguasa lantai tiga pertama selama aku berada di tempat ini dan aku akan menjamin keselamatan Minzy. Dia akan kuletakkan di lantai dua, tak perlu melayani tamu-tamu menjijikkan Minho, jangan bilang pada siapa-siapa aku mengatakan hal ini.” Daesung sedikit tertegun. Apakah Yunho sedang berusaha untuk bercanda dengannya?

”Selama sebulan aku dilatih, apa yang akan terjadi pada Minzy?”

”Ah,” ujar Yunho. ”Sudah kuduga kau memang cermat. Sebagai permintaan maaf atas kelalaianku, Minzy akan kuletakkan ke lantai dua mulai dari sekarang. Dia akan diberikan pelatihan di bawah TOP dan siapa tahu? Mungkin dia dapat juga menjadi penguasa lantai dua setelah James. Aku memang membutuhkan penguasa yang baru.”

Otak Daesung berpikir dengan cepat. Pro dan kontra untuk penawaran yang ditawarkan kepadanya. Sekilas tampak tidak ada artinya, dia toh akan tetap berada di tempat ini sepanjang hidupnya. Namun, mungkin dia dapat mengambil kesempatan ini, jika ada kemungkinan untuk membiarkan Minzy tidak perlu melakukan hal menajiskan itu.

”Jika aku menolaknya?” tanya Daesung dengan hati-hati.

Raut wajah Yunho mengkerut, seperti tidak setuju dengan ide Daesung. ”Kalau kau menolak, Minzy tetap akan kupindahkan ke lantai dua, tapi aku tidak tahu apakah TOP akan melatihnya, dan aku tidak dapat menjamin keselamatannya. Sedangkan kau,” Yunho memicingkan matanya ke arah Daesung. ”Terpaksa harus kubiarkan mati, kau sudah mencoba untuk membunuhku. Kau tidak dapat kubiarkan kembali.”

”Kau tidak pernah mendengar kata tidak, sepertinya ya?” Daesung menanyakannya dengan sebuah seringaian di wajahnya. Yunho terdiam sejenak, sepertinya ada sesuatu yang mengena dalam pertanyaan Daesung, tapi dia tidak peduli karena Yunho menjawabnya tak lama kemudian.

”Kau dapat memulai pelatihanmu besok. Setidaknya aku akan membiarkan kau bertemu Minzy. Akan kubiarkan Taeyang mengantarkanmu ke sana.” Yunho menekan tombol pada intercom di atas mejanya. ”Taeyang, tolong jemput Daesung dan antarkan dia ke tempat Minzy. Malam ini dia akan beristirahat di kamar tamu. Besok, kau mulai pelatihan.”

Keduanya kembali berhadapan. ”Semoga mimpi indah, Daesung.” Pintu ruangan itu kemudian terbuka dan tampillah pria berambut mohawk yang Daesung kenal sebagai Taeyang. Dia mengikuti pria itu untuk keluar dari ruangan Yunho. Sesaat sebelum dia keluar, Yunho berkata dengan sedikit keras. ”Welcome to hell, Daesung.”

.

.

”Yah, jadi begitulah,” ujar Daesung sembari menyelesaikan ceritanya.

”Kau masih belum menjelaskan apa hubunganmu dengan Minzy. Lalu, apakah kau berhasil melukai Taeyang?”

”Oh, dia berhasil melukai saya, bahkan kalau diingat lagi, saya sampai tidak dapat berjalan seharian,” sela seseorang yang anda kenal sebagai Taeyang, orang yang dibicarakan. Kedua tangannya tersimpan di saku celananya. Rambut mohawk-nya sedikit dipotong dan tampak rapi. Eye-smiles khas dirinya diberikan kepada anda sebagai sapaan. ”Kalau tidak, bagaimana dia bisa menjadi penguasa bukan?”

Taeyang berjalan menuju ke arah Daesung yang sudah duduk di seberang anda pada posisi awal tadi. ”Ayo Daesung, ada tugas menantimu. Aku ditugaskan untuk memanggilmu.”

Daesung mengangguk. Dia kemudian beranjak dari kursi di hadapan anda. ”Kenapa kau tidak mencoba kabur? Dengan kekuatan yang kau punya sekarang, bukankah hal itu tidak susah?” Anda tahu bahwa yang anda tanyakan adalah sesuatu yang tabu, namun bagi anda itu aneh. Daesung bisa saja mengecoh Taeyang yang menemaninya dalam bertugas. Bahkan mungkin membunuh pria itu dan keluar dari tempat ini, mungkin merencakan sesuatu dengan Minzy, Jiyong, dan Eun Kyung untuk keluar dari sini.

”Aku punya pertanyaan untukmu,” tutur Daesung dengan perlahan. Tak terdapat indikasi apapun bahwa dia marah, namun anda justru merasa takut. ”Apakah kau akan keluar dari tempat yang memastikan kehidupan meskipun itu kegelapan?”

Anda tertegun. Daesung berjalan mendekati anda hingga jarak kalian tak begitu jauh, namun tak terlalu dekat hingga dapat mendengar deru nafas masing-masing. ”Di luar sana aku tidak mempunyai kehidupan, aku hanya menjalani kehidupan. Berharap setiap hari untuk dapat tetap hidup, menabung begitu lama, namun tak ada hasilnya. Satu-satunya yang membuatku masih bertahan di sana adalah Minzy,” bisik Daesung pada bagian terakhir. Anda melihat kesenduan yang terpancar dari Daesung. ”Dan setelah kejadian itu, dia berubah. Dia tetap Minzy, tapi semuanya berubah. Aku, Jiyong, Eun Kyung, dan Minzy. Kami tahu di sini kami berada dalam kegelapan, tak pernah melihat cahaya. Namun, jauh lebih baik daripada kembali kepada hidup tanpa kejelasan seperti dulu bukan?”

”Aku mengerti kau mencoba berempati, tetapi jangan memberikan sesuatu yang tak bertanggung jawab. Keluar dari tempat ini lalu untuk apa? Membunuh Taeyang lalu hidup dalam pelarian? Kau tahu peraturannya, once in you can never get out. Dulu aku tak mempunyai alasan untuk hidup, di sini, ada sesuatu yang dapat kulindungi dan aku mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ini adalah harapanku, sesuatu yang mendorongku untuk tetap melihat hari esok.”

Daesung terdiam sejenak sebelum kemudian mengangguk dan berjalan mengikuti Taeyang yang memberikan tatapan bersalah kepada anda. Anda yang tadinya berdiri untuk menghadapi Daesung, terduduk lemas di atas kursi, tak dapat berkata apa-apa. Begitu lelah hingga rasanya anda hanya bisa membaringkan kepala anda di meja, memejamkan mata dan berharap agar anda segera dijemput dan mungkin melanjutkan hari anda – entah apapun kegiatan yang diberikan kepada anda.

Anda tidak tahu apa yang terjadi atau bagaimana hal itu bisa terjadi, namun saat anda tertidur, sebuah mimpi masa lalu yang tidak anda ketahui masuk ke dalam alam bawah sadar anda. Anda tidak mendengar ketika Daesung kembali ke perpustakaan dan membisikkan sesuatu yang membuat mimpi itu datang kepada anda. Hanya sang angin yang menjadi pendengar setia terhadap apa yang terucap dari bibir Daesung saat itu diiringi dengan senyuman tipisnya.

Sayup-sayup di dalam mimpi, sebuah suara berbisik di telinga anda, hangat dan familiar.

.

.

Minzy adalah penyelamatku, jika bukan karena dia, tidak akan ada Daesung. Sayangnya, kisah ini belum dapat terungkap sekarang. Semoga ada lain waktu, itu jika kau masih berada di sini.”

.

.

eL-ch4n

presents

”Requiem of the Death”

.

.

When one does not have a will to live

Even the darkness could be the reason to


AN:

Hello everyone, adakah yang masih mengingat dengan fanfic ini? /plak/

Anyway, sebenarnya fanfic ini sempat sudah dibuat gitu cuma waktu itu untuk lomba dan karena sudah selesai lombanya (eL kirim cerpen yang lain) eL berpikir untuk kemudian mempublish ini 🙂

and let’s say this as a birthday gift for my lovely daughter, who’s having her birthday today, aka Sevine. I hope you’ll like this fic.

Have a blast!

And, mind to review and like? 🙂

Thanks!

Yours,
eL-ch4n

Advertisements

3 responses to “Requiem of the Death

  1. Oh my to the nyebur got #dihajar
    eL – eonni…. kangennnn… mue hee >_3< dan ternyata ohh ternyata TOP itu baik.. hueww.. dibalik semua itu #halah
    mesti ada udang di balik bakwan nih.. Minho kog bisa bawa mereka ke 'hell' ini,, and tawaran Yun ke Daesung jg.. hum humm '-'a mari berpikir!!
    Sedikit ada pencerahan nih… ajak kita jalan2 lagi… ∩__∩
    Btw,, ini kata2 untuk minggu ini.. #dalem bgt

    ”Apakah kau akan keluar dari tempat yang
    memastikan kehidupan meskipun itu kegelapan?”

    Keep writing ^_^
    zhe akan selalu nunggu update nya…

  2. huwaaaaa….. mianhae noona…. saya baru sempat mampir. jeongmal miannata… T.T

    saya beneran ikut lemes setelah berbicara dgn daesung. dan benar, kini bnyk pertanyaan yg mengganjal dalam benak saya. apa daesung mencintai minzy? minzy menyelamatkan daesung dari apa? kapan? dan kenapa? aishhh….. pusing saya. sebaiknya saya kembali ke kamar dan beristirahat. tapi saya tak berani keluar ruang perpustakaan ini. apalagi narator suda mewanti wanti. ih…. mana sih naratornya? pergi kok lama bgt.

    btw, entah karena sudah tau beberapa masa lalu ketiga master. kok kesan yg saya dapat minho itu master yg paling brengsek ya? hahaha apa karena saya belum dpt petunjuk apapun mengenai dia?

    baiklah. lebih baik saya mencari buku dan membcanya sembari menunggu narator datang.

  3. Kak please dilanjut donggg slave dayynya
    Side story tentang taemin key dan minho jg dongg kak
    Ceritanya banyak oesan tersirat kwren dehhh..

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s