Chapter 17 – A Journey to the Past


Current Mood: Because of You – After School

539917_365277916881387_1183546626_n

Cause I want to stay next to you
My love is true
Wanna go back to when I was with you

-x-

Ketika dunia beranggapan bahwa hanya ada dua negara yang berkuasa – Amerika dan Rusia – dengan Cina sebagai penengah yang menjadi penentu, dunia lupa dengan sebuah negara lain, yang selalul bersembunyi, tertutup dan menunggu sampai gilirannya untuk keluar. Dunia lupa dengan masa kejayaan negara tersebut, lupa karena dunia sudah menuju kehancuran, tapi negara itu tak pernah lupa akan masa kejayaannya di bawah Sang Ratu.

London, United Kingdom

Pria berambut pirang itu menatap ke arah luar jendela sembari menghirup aroma kopi dari cangkir yang dipegangnya. Asap dari kopi tersebut mengepul menandakan bahwa kopi itu sangat panas, tapi pria itu tak memedulikannya dan menyesap kopi itu dengan perlahan.

Pintu ruangannya berada terbuka dengan kencang membuat dia hampir tersedak karena terkejut kalau saja dia tidak terbiasa dengan kebiasaan pemuda yang baru masuk itu.

“KRIS!” teriak pemuda itu dengan keras.

Menghela nafas, pemuda berambut pirang itu berbalik badan sembari meletakkan cangkirnya di atas meja di dekatnya. “Ada apa Zitao?” tanyanya dengan pasrah.

“Yonghwa sudah mendapatkan akses menuju Russia! Baru saja Han ge memberitahuku. Kangin dan Han ge menyuruh kita untuk segera ke Amerika dan membantu mereka. Kurasa kita akan disuruh untuk menyamar menjadi Yonghwa dan Se7en ketika mereka pergi ke Russia.”

Kris mengangguk menerima informasi yang baru saja diceritakan oleh pemuda bernama Zitao tadi. “Kapan kita disuruh untuk ke sana?”

“3 jam lagi, mereka sudah mempersiapkan portal untuk kita.” Zitao menunggu respon dari lawan bicaranya itu yang masih terlihat meresapi apa yang baru saja dia beritahukan. “Kris?”

Tanpa melihat ke arah Zitao, Kris berbalik dan menatap ke arah luar jendela. Matanya terpejam, kerutnya terlihat menunjukkan dia sedang berpikir. “Tao, aku tahu aku sudah menarikmu sejauh ini, tapi jika kau ingin keluar sebelum terlambat.” Kris memutar badannya menghadap Tao. “Maka aku tak keberatan kau melakukannya.”

Perlahan Tao menghampirinya. Tangannya menyentuh pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Sedikit mendongak hingga keduanya saling bertatapan. “Kris, kurasa sudah terlambat untuk memintaku untuk keluar, aku sudah memutuskan hal ini sejak awal.” Tao tersenyum yang dibalas oleh Kris dengan sebuah pelukan erat. “Hey, aku tak bisa bernafas!”

Badan Kris bergetar. Tao mengelus punggung itu dengan perlahan sebab dia tahu bahwa apa yang akan mereka hadapi nanti akan berat bagi keduanya. Tapi Tao tahu bahwa dia tak sendiri, Kris bersamanya. Dan baginya, itu adalah yang terpenting saat ini.

-x-

broken doll-c

Broken Doll

“A Journey to the Past”

by eL-ch4n

-x-

Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Yonghwa, tidak Se7en sekalipun. Sudah bersama dengan pria itu sekian lama, Se7en tak dapat menebak jalan pikiran pemuda yang menyelamatkannya itu. Kali pertama dia bertemu dengan Yonghwa, itu adalah saat dia membuka matanya. Semuanya putih saat itu dan begitu terang sebab lampu di ruangan itu tepat mengenai dirinya. Tiba-tiba dia panik. Badannya bergerak ke kiri dan ke kanan, tapi ada sesuatu yang mengikat dirinya. Semakin kepanikan menjalar, membuat dia tak dapat berpikir dengan logika.

“Tenanglah,” Sebuah suara yang tak dikenalnya terdengar, diiringi dengan sentuhan lembut pada keningnya.

Matanya melihat merah, bukan, itu adalah memorinya. Teringat saat dia berada di Jepang, jauh sebelum dia menjadi callous dan ikut melakukan penghapusan masal. Jauh bahkan sebelum dia melakukan hal konyol dengan Hanbyul. Ini adalah kisah Se7en di masa lalu, pertemuan pertamanya dengan Yonghwa. Juga sebuah kenyataan lebih dalam. Bahwa Se7en, bukanlah reinkarnasi, bahwa Se7en adalah droid yang dibuat Yonghwa dengan membawa ingatan Se7en masa lalu ketika dirinya masih hidup.

Bahkan, Se7en adalah salah satu dari sedikit saksi nyata dari perang dunia ketiga itu.

Lantas, paradoks apalagikah yang akan muncul?

-x-

Red Cold. Japan.

Berkali-kali sudah dia meneriakkan bahwa dirinya bukanlah orang Jepang, bahwa dia adalah seorang Korea yang saat itu berada di Jepang untuk berjalan-jalan. Namun tak digubrisnya. Para tentara Amerika itu tak peduli dan tetap menahannya. Mereka menarik Se7en untuk masuk pada kumpulan rakyat Jepang yang terikat tangannya. Tangannya juga terikat di depan dan jaketnya yang bagus terpaksa harus kotor karena debu, tapi toh itu sudah tak menjadi perhatiaannya sekarang.

Di belakang, para tentara Amerika berteriak dengan bahasa Inggris menyuruh mereka untuk cepat bergerak ke dalam. Se7en hanya bisa menebak apa yang akan dilakukan mereka terhadapnya. Sembari berjalan menuju tempat yang disuruh oleh tentara itu, Se7en melihat kumpulan lain yang dieksekusi secara publik. Mereka disuruh berjongkok dengan kepala ditutup karung, persis seperti dahulu kala, dan kemudian para tentara Amerika itu menembaknya satu per satu.

Se7en hanya bisa menganggap bahwa ini semua adalah kegilaan belaka. Padahal dia sudah memperingatkan sahabatnya itu, bahwa tak ada gunanya yang dia lakukan, tapi apa? Sekarang, dia sendiri yang harus terkena getahnya. Sementara apakah sahabatnya itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Se7en sudah tak peduli.

Tak berapa lama Se7en melihat mereka dimasukkan ke dalam sebuah gedung berlantai 2 yang sudah dipenuhi oleh orang. Seperti ikan pepes, mereka dipadatkan di dalam, Se7en dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi. Kemungkinan para tentara itu akan membiarkan mereka di sana sampai perlahan-lahan mati karena kehabisan oksigen atau mereka akan meledakkan tempat itu.

Mencuri dengar ketika satu tentara melapor pada atasannya, Se7en tahu bahwa yang kedualah yang akan terjadi. Se7en berusaha menembus agak keluar dan bersembunyi dalam kerumunan orang. Ketika dia melihat tentara tadi sudah akan menekan tombol, dia menghalangi kepalanya dan bersiap.

Tak berapa lama suara ledakan terdengar dan Se7en tak dapat berpikir lagi. Perlahan dia melihat warna merah mulai memenuhi ruangan diikuti dengan hawa panas yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Jika ada hal yang Se7en sesali, itu adalah usahanya yang tidak kuat untuk menyakinkan Siwon dan juga untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat pria itu sampai tega melakukan hal seperti ini?

-x-

Se7en yakin bahwa dia seharusnya sudah mati, tapi apa yang dia lihat sekarang membuatnya berpikiran lain. Dia berhadapan dengan seorang pemuda berambut pendek di hadapannya. Wajahnya berbentuk oval dengan dagunya yang sedikit tajam. Garis wajahnya membuat dirinya terlihat begitu mapan dan sangat berwibawa. Pemuda itu mengenakan jas lab berwarna putih dan itu berarti Se7en sedang berada di sebuah laboratorium. Sepertinya, suara yang tadi dia dengar berasal dari pemuda ini.

Yang menarik perhatian Se7en bukanlah pemuda itu, melainkan seorang anak lelaki yang berada di sana. Dilihat dari tinggi badannya, anak kecil itu paling baru berusia 3 sampai 5 tahun. Mungkinkah itu anaknya?

Se7en ingin berdiri duduk, tetapi tali masih menghalanginya. Sepertinya menyadari hal itu, pemuda tadi menghampirinya sembari tersenyum lembut. “Aku akan membukakan tali ini, tapi kamu jangan banyak bergerak, tubuhmu masih belum sempurna.” Dengan hati-hati, pemuda itu membuka tali yang mengikat Se7en ke atas ranjang tadi.

Mendengar pernyataan itu Se7en melihat badannya yang penuh dengan jahitan. Apakah ini yang dimaksud dengan tidak sempurnah? Tapi dia tidak merasakan sakit, apakah karena dia diberikan obat penahan rasa sakit?

“Tidak,” Seolah pria itu dapat membaca pikirannya, dia menjawab dari samping Se7en sementara masih dengan hati-hati memperhatikan detak jantung Se7en pada mesin di sampingnya. “Kamu sudah lebih stabil sekarang, itu bagus.” Dia mengangguk dan berbalik untuk berjalan ke arah anak kecil yang melihat Se7en sedari tadi. Pria itu kemudian mengelus kepala anak kecil tadi. “Namanya Jung Yonghwa,” sebub pria itu. “Dan namaku Jung Ji Hoon, tapi kau dapat memanggilku Rain saja untuk lebih mudah, Choi Dong Wook.”

Se7en tersentak kaget sebab sudah sejak lama dia tak mendengar orang memanggil namanya. Apakah pria ini mengenalnya? Dan nama yang sudah lama tak didengarnya itu, bagaimana pria itu bisa tahu?

“Anak sulung dari Yang Hyun Suk, YG, dan mempunyai adik bernama Chaerin. Kalian satu keluarga, tapi bagaimana mungkin punya marga yang berbeda?” tanya Rain dengan tenang.

Ada sesuatu terbakar dari dalam diri Se7en. Emosi yang tak terbendung. “Aku tahu kau ingin marah, tapi aku harap kau bersabar sebab proses sinkronisasi dengan tubuhmu belum sempurna secara seluruhnya.”

Tak ada suara yang keluar saat dia membuka mulutnya membuatnya kebingungan. “Aku tahu banyak hal yang ingin kau tanyakan, aku akan menjawabnya satu per-satu,” ucap Rain dengan sabar. Dia seperti menghadapi seorang anak kecil yang baru dibangunkan dari tidur. “Pertama, aku tahu namamu adalah Choi Dong Wook sebab aku akan membutuhkan bantuanmu. Aku tahu kau adalah sahabat Choi Siwon dan aku tahu juga bahwa dialah alasan kenapa perang tak terelakkan.”

Dia meninggalkan Yonghwa dan berjalan ke arah Se7en, mengulurkan tangannya. Dengan ragu-ragu, Se7en meraih uluran tangan tersebut dan mencoba untuk berdiri. Kedua kakinya terasa lemah dan walau masih sedikit agak kepayahan, dia masih dapat berdiri. Rain membantunya untuk berjalan, mereka melewati Yonghwa yang masih tak berbicara dan menatap Se7en dengan tanpa ekspresi.

Se7en tak tahu apa yang ada di pikiran anak kecil itu. Anak itu seperti dirinya, itu yang dia rasakan. Seperti tak percaya pada dunia dan menganggap bahwa ada dirinya atau tidak pun, tak akan berbeda pada dunia.

Rain merangkul Se7en, meletakkan tangan pria itu ke atas pundaknya dan berjalan pada ujung ruangan. Perlahan dinding itu terbuka dan Se7en menyadari bahwa di sekitar ruangan itu adalah jendela kaca tembus pandang ke arah luar.

Dunia luar sudah hancur, itu yang dapat Se7en simpulkan. Gedung-gedung sudah runtuh, asap di mana-mana dan di bawah sana banyak mayat terbaring begitu saja. Jika gedung sudah runtuh, lantas di manakah mereka?

“Ini adalah gedungku, satu-satunya yang masih tersisa dari negeri sakura ini. Aku berhasil bernegosiasi dengan Amerika untuk hal ini.” Rain terdiam, seperti ada sebuah beban yang sedang dia tanggung. “Aku berharap bahwa perang tak akan muncul lagi, bahwa ke depannya semuanya akan dapat diselesaikan dengan mudah. Siapa yang menduga, sahabatmu mempunyai pemikiran yang aneh.”

“Apa yang kau negosiasikan?” Se7en ingin bertanya, tapi dia masih tak mampu berbicara.

“Kloning, Dong Wook, aku akan menyukseskan program pengkloningan dan sebagai imbalannya, mereka akan membiarkanku berlaku seenaknya. Dan aku tahu kau akan bertanya bagaimana aku mengetahuinya.” Rain menatap Se7en. Dengan posisi mereka saat ini, keduanya begitu dekat dan Se7en dapat melihat ada hal lain yang sedang dipikirkan Rain saat itu. Tatapannya begitu sendu.

“Bagaimana kalau kau duduk?” Dia kemudian mengarahkan Se7en untuk duduk di salah satu kursi di dekat sana. Yonghwa sudah berdiri di sana. Anak itu sungguh mengejutkan Se7en karena tak banyak bicara. “Dia baru saja kehilangan orang tuanya, mohon dimaklumi.” Rain merujuk ke arah Jung Yonghwa.

Merasa seperti orang tua, Se7en bersandar pada kursinya, menunggu Rain untuk melanjutkan ceritanya. “Kedua, aku tahu kau adalah anak Yang Hyun Suk, karena dia memintaku untuk menolongmu. Sebenarnya, bisa dibilang dia juga yang memaksaku untuk menemukan dirimu.” Rain sudah kembali berdiri dan menghadap ke arah luar sementara Se7en memandanganya tak percaya. “Aku tahu kau akan berkata bahwa aku berbohong, tapi begitulah kenyataannya. Aku tahu kalau kau juga bekerja bersama dengan Siwon di labnya. Jadi aku tak akan meragukan kemampuanmu di bidangmu. Aku tahu kau pakar dalam sains, terutama biologi. Dan di sinilah aku menyetujui hal itu.”

“Maksudnya?” pikir Se7en. Masih tak dapat bersuara membuatnya frustasi, banyak sekali hal yang ingin dia tanyakan, tapi tak bisa dia ucapkan.

“Kau bisa mengucapkannya, kau tahu,” sela Rain. Se7en merasa penasaran. Pria itu seolah dapat membaca pikiran Se7en, seolah tahu apa yang sedang dipikirkannya saat itu. “Aku tak dapat membaca pikiranmu,” ujar Rain seolah menjawab perkataan Se7en. “Kau yang mengirimkan telepati padaku Se7en. Vokalmu masih belum beres karena aku masih belom menemukan jaringan sel yang tepat, tapi kau dapat menggunakan pikiranmu untuk berbicara denganku.”

“Dia bercanda kan? Mana ada hal segila itu?”

“Sayangnya ada, Se7en. Dan itu bukan hal gila, ini adalah sebuah evolusi.” Rain meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya. “Kau sudah mati, Se7en, ah bukan, dirimu yang dulu sudah mati. Saat aku menemukanmu di tumpukan mayat itu, badanmu sudah tak utuh, tangan kirimu, kaki kananmu, sebagian dari perutmu dan lehermu sudah hilang bersama dengan bom yang diledakkan itu. Hanya saja, beruntung aku menemukanmu kurang dari 24 jam sehingga otakmu masih utuh dan masih berfungsi.”

“Aku mengawetkan otakmu, memindahkan memorimu ke sebuah tubuh, beberapa bagian yang kau miliki sekarang adalah tubuhmu, termasuk juga wajahmu. Ah ini, kalau kau mau melihatnya.” Rain membuka laci di samping Se7en dan mengeluarkan sebuah cermin.

Di dalam cermin, Se7en dapat melihat sosoknya. Wajah sedikit oval. Bola mata yang tajam. Bibir yang tebal. Garis muka yang membuat ekspresinya terlihat serius. Ini adalah wajahnya dan dia tak percaya bahwa dia masih melihat wajahnya dalam keadaan utuh.

“Sebenarnya itu hanya sebagian, sisanya aku menggunakan silikon dan beberapa sel lain untuk menyembuhkan lukamu. Beruntung teknologi operasi plastik di Korea sudah maju jadi aku dapat menggunakannya.” Rain terkekeh menjelaskannya.

“Nah, kalau kau sudah puas menikmati wajahmu, aku akan mulai kembali penjelasanku. Jika kau masih mau mendengarkannya, tentu saja.” Se7en meletakkan cermin itu dan mengangguk ke arah Rain.

Kalau memang kegilaan ini tidak akan berakhir, lebih baik dia menguranginya sebisa mungkin. “Apakah kau mendengarku kalau begitu?”

“Dengan sangat jelas,” Rain tersenyum.

Meski Se7en merasa sudah gila, akan lebih baik dia mendengarkan penjelasan Rain lebih lanjut. Dia mengangguk, membiarkan pemuda di hadapannya untuk melanjutkan pembicaraan ini. “Kau tahu kan kalau dari dulu yang selalu menderita adalah mereka yang di bawah, para rakyat yang ditelentarkan oleh pemerintahan?” Tak menunggu balasan, Rain kembali melanjutkan. “Begitu pula kali ini, para pemerintah dengan kekuasaannya menyalahgunakan hal itu. Mereka setuju dengan penghapusan massal yang direncanakan sahabatmu. Benar,” Rain mengangguk ke arah wajah terkejut Se7en. “Siwon tak merencanakan perang antara Amerika dan Irak hanya karena untuk menemukan Kibum. Siwon menawarkan sebuah penghapusan massal dengan harapan dapat menarik Kibum. Temanmu, Dong Wook, mungkin adalah alasan kenapa kegilaan ini semua bermula.”

Se7en merasa ada gerakan di sampingnya, tempat anak bernama Yonghwa berdiri, ketika nama Kibum disebutkan. Ini hanya praduga, Se7en kemudian berani menanyakannya. “Apakah Yonghwa adalah…?”

Rain mengangguk. “Yonghwa adalah anaknya Kibum dan Siwon; sekitar sebulan lalu aku berhasil menemukan Kibum dan sebelum kau tanya mengapa aku tak memberitahukan ini kepada Siwon sebab Siwon sendiri sudah mati. Dia terbunuh pada sesuatu yang dia buat sendiri. Mungkin seperti Dr. Frankestein yang ketakutan dengan ciptaannya sendiri. Lagipula, tak ada yang dapat dilakukan Siwon. Menemukan Kibum, bertemu dengan Kibum, tak akan membawakan negeri ini kepada kedamaian. Dan mulailah aku akan menjelaskan alasan ketiga aku menginginkanmu, Dong Wook.”

Rain kemudian menjelaskan bahwa dengan posisi Se7en yang notabene sudah berhasil melakukan pengkloningan sempurna. Se7en adalah satu-satunya yang dapat dia percayai untuk melakukan misinya, yaitu untuk mengawali Yonghwa. Dia menambahkan bahwa beberapa orang di pemerintahan (termasuk juga ayahnya, yang mana Se7en sudah tak terkejut lagi) sudah membuat diri mereka dalam tidur panjang, dan akan membuka mata pada saat dunia sudah lebih baik, pada waktu yang belum diketahui. Untuk itu Rain membutuhkan Se7en untuk menjaga Yonghwa, untuk melanjutkan kembali apa yang sudah dilakukan Rain, menyempurnakan pengkloningan. Sebab, apabila Yonghwa sudah terpanggil, Se7en dapat menghidupkan Yonghwa kembali.

Jika Se7en tidak menjadi gila sebelumnya, dia yakin informasi yang baru diterimanya ini sanggup membuat dia menjadi orang yang tidak waras lagi. Bahkan mungkin otaknya sudah akan meledak kalau tidak mengingat dia baru saja selamat dari ledakan. Dia melihat ke arah Yonghwa yang hanya terdiam mendengarkan itu semua. Tidakkah anak itu akan berkata sesuatu?

“Aku memilihmu,” ujar Yonghwa tegas, tak terlihat seperti anak seumurnya. Dia menatap Se7en dengan tajam sekarang. Meski badannya masih kecil, Se7en dapat merasa sosok anak kecil itu yang terlihat besar di hadapannya. “Aku meminta paman Rain untuk mencarimu. Aku tahu dirimu, kau yang membantu menyembunyikan ibu agar ibu tidak terseret dalam kegilaan ini. Dan aku tahu kau terpaksa harus memutuskan hubungan dengan kami sebab Siwon sudah mulai tahu. Dan karena itu, aku yakin kau dapat membantuku.”

Akhirnya Yonghwa mengeluarkan kalimat terpanjang selama seharian. Se7en menelan ludah. Refleks dirinya mengangguk perlahan seolah menerima sebuah perintah dari Yonghwa. Dan Se7en tahu bahwa semenjak saat itu, hidupnya sudah akan berubah. Mungkin, dia berpikir, apakah jika dia mempertemukan Siwon dan Kibum semuanya akan berubah?

Tapi, dia tak menyesal, kalau boleh dikatakan. Sebab, jika tidak karena Siwon pun, mungkin para petinggi itu akan melakukan kegilaan lain demi kepentingan mereka. Setidaknya, dengan ini mungkin dia dapat meminimalisir apa yang dapat terjadi. Sebab, Se7en yang sudah lama bergerak dalam bidang biologi, juga adalah seorang politikus handal dan dia sudah mengetahui rencana dari pemerintahan mengenai overpopulation. Dan dia berharap bahwa mungkin jika ada sesuatu yang dapat mengalihkan ini semua, sahabatnya dapat menjadi kuncinya. Siapa yang menduga bahwa ternyata dia pun tak lebih dari bidak catur?

-x-

“Aku harap kau tidak sedang berpikir dua kali mengenai hal ini, Se7en.” Suara Yonghwa menyadarkan dia dari lamunannya pada masa lalu.

Dia menggelengkan kepalanya, tak mempedulikan pria yang berjalan menghampirinya dari belakang. “Aku hanya sedang ke masa lalu,” jawabnya lirih.

“Aku berhutang banyak padamu,” Yonghwa berkata dengan pelan. Keduanya sekarang berdiri berdampingan menghadap ke arah api yang sedang menari di perapian. Suara nyala api terdengar ketika keduanya tak berbicara.

Se7en menggeleng. “Ya mungkin, tapi aku juga bertanggung jawab. Aku tidak tahu apa rencanamu Yonghwa, tapi aku akan selalu setia padamu sebab kau memilihku dan menyelamatkanku. Dan,” Se7en menarik nafas panjang. “Akulah mungkin yang menjadi alasan kenapa semua ini dapat terjadi.”

“Mungkin,” Yonghwa mengangguk. “Tapi kau sendiripun sudah banyak berkorban Se7en. Saat aku menghentikan projek pengkloningan dan penghidupan kembali mereka yang sudah membeku, saat itu aku menghentikan penghidupan kembali adikmu, Chaerin. Tepat saat itu, hanya ayahmu saja yang berhasil hidup kembali.”

Yonghwa dapat melihat Se7en mengepal tangannya, mengerti perdebatan Presiden Amerika itu. “Ironis ya,” Yonghwa mengalihkan pembicaraan. “Kau yang dibunuh oleh Amerika, akhirnya menjadi pemimpinnya. Apakah kau akan membalaskan dendammu, atau ada hal lain yang ingin kau lakukan, aku pun tak tahu.”

“Sama sepertimu, Yonghwa, sama sepertimu,” bisik Se7en.

“Apa yang akan dikatakan Rain saat melihat kita ya saat ini?”

Se7en terkekeh mendengar nama yang sudah lama tak didengarnya itu. “Mungkin,” Se7en memulai dengan hati-hati. “Dia akan memulai penjelasan yang panjang lebar lagi agar kita melanjutkan apa yang dia mulai. Walau yah, technically, itu yang sedang kita lakukan juga bukan?”

Tak ada jawaban dari Yonghwa membuat Se7en melirik pria itu. Kali ini Yonghwa terlihat diam seribu bahasa, kali ini dia yang berpikir apa yang sedang dia lakukan. “Rain ingin kita menghentikan pengkloningan karena hal itu gila, kita seharusnya mati sesuai dengan natur alam, bukan hidup lagi dengan proses pengkloningan. Walau memang hanya para petinggi seperti Soo Man dan YG yang berhasil lolos, tapi masih banyak juga yang selamat. Seharusnya kita semua mati, manusia memang sampah.”

“Ya,” angguk Se7en. “Dan karena itu kita sudah menghentikan pembangunan diri itu, menghapus data tentang pengkloningan. Dan kau tahu apa artinya itu kan?” Yonghwa terdiam, tapi Se7en tahu bahwa pria itu mengerti apa maksudnya. “Ini adalah kesempatan terakhir kita Yonghwa, dan aku harap apapun yang sedang kau rencanakan kali ini akan berhasil. Kita tak adalagi kesempatan berikutnya.”

-x-

Ada sebuah kisah
tentang seorang pembuat boneka
begitu dia kesepian
dia berharap bahwa bonekanya dapat berbicara
bahwa satu ketika dia tak sendirian
maka dia terus membuat boneka
dengan harapan itu
Pembuat boneka itu lupa akan satu hal
akan anaknya yang selalu melihatnya
dari ujung ruangan saat dia membuat boneka
Pembuat boneka itu lupa
sebab dia membuat rupa boneka istrinya
berharap suatu saat boneka yang mirip istrinya itu
akan terbangun dan berbicara lagi kepadanya
Pembuat boneka itu lupa
akan anaknya yang sudah dewasa
dan bahwa dia sudah tua renta
lupa bahwa sebentar lagi dia pun akan dipanggil
menyusul mendiang istrinya
tanpa sempat sekalipun
menatap ke arah anaknya

-x-

Donghae melihat ke arah kepalan tangannya yang memegang sesuatu, sebuah bandul kalung yang jika dibuka akan terdapat foto di dalamnya. Donghae sudah lupa di mana dia menyimpan itu jika dia tidak mencoba mencari foto Kyuhyun yang diberikan Se7en padanya. Se7en, pria dengan masa lalu yang penuh misteri, pemuda yang tak diketahui berada di pihak siapa. Apakah dia kawan ataukah dia lawan?

Foto yang berada di dalamnya sudah lama, usang karena melawan waktu. Foto yang dia lihat adalah foto sebuah keluarga dengan wajah penuh senyuman. Yonghwa juga berada di sana, merangkul seorang wanita yang elok rupanya. Sementara dua anak kecil berdiri di bawah dengan senyum lebar. Itu adalah Donghae yang merangkul Kibum. Foto ini, entahlah kapan diambil. Memori masa lalu yang mengerikan.

Matanya terpejam, mengingat saat-saat ibunya begitu sekarat dan ayahnya menjadi gila. Hal yang paling membuat Donghae kesal adalah ayahnya mungkin pernah mencintai gadis lain, seorang gadis bernama Seohyun, tapi ayahnya lupa bahwa yang bersama dengan dia selama itu, yang menjadi ibu Donghae dan Kibum bukanlah Seohyun. Bahkan, selama hidup Donghae, dia tak pernah bertemu seorang gadis bernama Seohyun sekalipun.

Waktu itu umurnya masih sekitar 17 tahun, tapi dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu. Dia memindahkan ibunya, meninggalkan Kibum dengan ayahnya yang sudah menjadi gila. Melihat kembali, Donghae merasa sedikit bersalah melakukan hal itu. Tapi dia harus membawa ibunya ke Russia, setidaknya itu satu-satunya tempat yang tak mungkin dapat dijangkau ayahnya. Begitu dia sampai ke negara itu, sayangnya, dia tak mendapati hal yang dia inginkan. Di sana, tak jauh berbeda dengan negara lain, begitu banyak bangunan runtuh dan mengerikan. Hanya ada satu dua gedung yang berdiri kokoh, tempat pemerintah Russia mengurung – itu bahasa yang dia ungkapkan untuk hal itu, sebab bagaimana tidak mengurung bila para perempuan itu hanya bisa berada di dalam sel, meskipun sel itu seperti sebuah apartemen studio yang bagus, dan tak dapat melakukan apapun.

Akhirnya, dia mencoba mencari cara lain dan di sanalah dia bertemu dengan seorang yang menolongnya. Orang itu menyuruh Donghae tetap menyembunyikan ibunya di Russia, tapi tidak dengan pemerintahannya, melainkan kepada dirinya. Donghae tak percaya dengan orang asing yang ditemuinya itu, tetapi setelah sebuah memori ke masa lalu, akhirnya Donghae dengan agak enggan meninggalkan ibunya pada pria itu. Dia tinggal di sana tanpa sepengetahuan Russia selama lebih dari dua tahun. Untuk memastikan bahwa dia dapat mempercayai pria itu.

Dan sekaligus membiasakan dirinya dengan seluk beluk negara itu kalau-kalau dia akan berkunjung lagi tanpa akses. Orang itu menyuruh Donghae untuk mengejar kekuasaan sebab dengan itu, Donghae dapat bergerak lebih leluasa. Dia kemudian menyarankan Donghae untuk memulai dari daerah Timur, mulai dari Thailand, Filipina, hingga akhirnya Donghae berhasil meraih jabatan menjadi Perdana Menteri di Korea. Setidaknya dia menguasai bagian Timur, memegang peranan kuat. Dan karena Korea Utara yang mempunyai hubungan dengan Russia dulu karena kepercayaan mereka, maka tidak susah bagi Donghae untuk sesekali berkunjung ke sana dengan alasan membangun relasi.

Semuanya berjalan lancar dan barulah dia teringat akan Kibum. Kibum yang sudah sama usianya dengan dirinya, seorang Zenith, yang berhasil meraih kekuasaan. Mungkin, cerita tentang Kibum akan didengarnya suatu hari. Mungkin, mereka dapat minum soju bersama dan bernostalgia dan di sana Kibum akan memakinya karena meninggalkannya. Tapi dia tak mungkin melakukannya sekarang. Sebab sekarang ada hal lain yang sudah menunggunya. Dia sudah menunda terlalu lama karena kejadian ayahnya (dia mengutuki hal itu) dan pembicaraannya dengan Siwon.

Dia harus bergegas membawa foto Kyuhyun ke Hyukjae sebelum doll-nya terbangun. Dan menjelaskan semuanya akan memakan waktu yang lama. Tapi, semoga, kali ini dia dapat menyelesaikan semuanya. Semoga pada akhirnya hanya ada kebahagiaan bagi mereka semua.

Donghae berteleportasi, meninggalkan kediamannya itu. Sementara jika kita melihat pada sebuah kartu nama di atas meja di ruangan kerja Donghae. Di atas kartu tersebut tertulis sebuah nama yang sudah tak asing lagi:

Jung Ji Hoon

-x-

Kyuhyun merasa bosan sebab semuanya meninggalkannya sendirian sekarang. Hanbyul memang mencoba menemaninya, tetapi Kyuhyun tahu bahwa kondisi wanita itu tak memungkinkan, makanya dia hanya menunggu saja di sana. Tak ada siapapun sebab Se7en lebih suka meminimalisir berkontak dengan orang luar.

“Kau sendirian?” Sebuah suara membuatnya terkejut. Dia yang sedang berbaring di sofa, terjatuh ke lantai karena kaget. Di hadapannya berdiri seorang pria (benarkah itu pria? Dia tampak begitu manis?) berambut pirang, badan pria itu begitu kecil bahkan Kyuhyun yang lebih muda saja terlihat lebih bugar. Pria itu terlihat kekurangan gizi dan mata Kyuhyun yang tajam dapat melihat seperti ada bekas pukulan di tangannya. “Tak baik memandang orang begitu lama.”

Kyuhyun berdiri dan menatap tajam. “Tak baik menyelinap ke rumah orang tanpa izin, apa kau pencuri?”

Pemuda pirang itu tertawa dan Kyuhyun dapat melihat gigi kelincinya. “Ya, aku akan mencuri dirimu,” jawabnya tegas.

“Siapa yang menyuruhmu?” Pemuda itu mengangkat alis seolah terkejut dengan reaksi Kyuhyun yang begitu datar, tak ada rasa takut pada diri anak kecil itu. “Setidaknya sebelum aku ikut denganmu, aku harus tahu siapa yang menyuruhmu.”

“Kau tidak takut? Ada apa denganmu? Apakah semua orang di sini sudah gila?” teriak pria itu, merasa kesal karena tak mengerti dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Semuanya sudah tak dia pahami lagi.

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya, tanda tak peduli. “Bukan, hanya saja aku tak bisa ke mana-mana. Tak ada tempat yang bisa kutuju. Hanya Changmin, dan itupun dia meninggalkanku.” Membicarakan Changmin membuat Kyuhyun menjadi sedih. Sejujurnya bisa saja dia memaksa untuk ikut dan bilang Changmin benar menyayanginya, dia seharusnya mengajaknya. Tapi Changmin berpikir bahwa saat itu akan lebih baik Kyuhyun bersama Se7en. Setidaknya Se7en mempunyai kuasa di Amerika dan paling tidak Presiden Amerika itu tak akan melakukan hal aneh pada Kyuhyun untuk sementara waktu.

Ya, memang sebab Se7en sendiri sudah tak pernah kelihatan semenjak Changmin tak ada di sana. Rasanya dia kembali seorang diri jadi diculik ke manapun sebenarnya sudah bukan masalah, toh tak akan adalagi yang peduli.

“Paling tidak, ikut denganmu mungkin aku bisa tidak sendirian. Lagipula kalau kau menculikku berarti kau menginginkan sesuatu dariku dan kalian tak akan mungkin memperlakukanku dengan kasar. Jadi kurasa tak ada salahnya untuk ikut denganmu. Hanya saja aku belum tahu namamu dan siapa yang menyuruhmu.”

Pria itu menghela nafas panjang. Salah-salah umurnya mungkin tak akan panjang bukan karena perintah master-nya tapi karena anak kecil di hadapannya ini. “Lee Sungmin, namaku Lee Sungmin. Dan yang menyuruhku adalah Lee Sooman, pemilik negara Russia sekaligus sebenarnya adalah paman tiriku.”

“Oh, kalau Russia menginginkanku berarti aku lebih berharga daripada yang aku kira rupanya. Ya, baiklah aku akan ikut denganmu.” Tanpa perlawanan, Kyuhyun membiarkan dirinya dipegang oleh Sungmin dan dibawa pergi melalui teleportasi. Setidaknya mungkin di sana dia akan mendapatkan jawaban tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Ya. Setidaknya begitu.

-x-

“Yonghwa sudah menjadi gila, kau sudah tahu itu Se7en.”

“Ya, tapi kau merancangku untuk tak mengkhianatinya, aku hanya bisa berada di sisinya dan menurutinya.”

“Tidak, kau kurancang bukan untuk itu, kau kubuat untuk melindunginya. Jadi kau dapat memilih hal yang terbaik untuk dia, meskipun mungkin kau harus mengkhianatinya.”

“Aku sudah lelah, aku tak sanggup lagi.”

“Tenanglah, ini yang terakhir kali. Kalian sudah mematikan energi daya untuk membangkitkan semuanya, jadi tak ada kemungkinan untuk kalian melakukan sinkronisasi dan memulai dari awal.”

“Aku tak tahu lagi aku harus berbuat apa, Rain.”

“Dong Wook, bunuh aku. Dengan begitu kau dapat melindungi Yonghwa dan aku dapat melakukan hal lain. Percayalah padaku.”

“Apakah dengan itu semua akan kembali seperti semula?”

“Untuk itu, kita harus mencari tahu. Yonghwa berhasil menemukan sel untuk bertahan hidup lebih lama dan dia merencanakan untuk memberikan itu kepada Kibum. Tapi dia mengurungkan niatnya sebab dia ingin mencobanya pada istrinya. Sungguh kasihan dia masih juga tak ingat siapa sesungguhnya Seohyun.”

“Sebenarnya, aku tak mengerti. Siapa itu Seohyun dan kenapa Yonghwa begitu terobsesi dengan Seohyun?”

“Seohyun bukanlah istrinya, Dong Wook, Seohyun adalah anaknya. Anaknya yang pertama yang meninggal karena udara yang tak mendukung. Yonghwa histeris menjadi gila, terobsesi untuk melakukan sesuatu menyelamatkan Seohyun hingga dia mengingat bahwa Seohyun adalah istri yang harus diselamatkannya hingga istrinya yang sesungguhnya ditelantarkannya.”

“Seperti kisah si pembuat boneka yang kau ceritakan. Hanya kali ini Yonghwa histeris membuat anaknya, hingga lupa pada istrinya sendiri. Hingga pada pikiran Yonghwa akhirnya tertanam logika seperti itu? Dunia sudah benar-benar gila.”

“Semenjak Siwon bertemu Kibum, Dong Wook, semenjak itu semuanya sudah menjadi gila.”

“Aku percaya pada Yonghwa, aku rasa dia tahu apa yang dia kerjakan. Masalah Seohyun, mungkin ada sesuatu terjadi pada otaknya saat melakukan sinkronisasi terakhir kali. Aku akan menemaninya Rain, seperti seharusnya.”

“Kuharap yang terbaik untuk kalian.”

-x-

to be continued…?

-x-

AN:

Hello! Apa kabar semua? Semoga chapter ini menjawab cukup banyak permasalahan ya, dan maaf karena tidak banyak couple yang muncul. Menulis ini butuh tenaga lebih. Aku ingin memberikan lebih banyak buat kalian mengenai penjelasan maka semua aku usahakan dapat dipecahkan di sini. Masih ada beberapa misteri yang tersisa. Yang masih mungkin dapat didiskusikan

  1. Benarkah Yonghwa sudah gila?
  2. Siapakan Seohyun yang sesungguhnya?
  3. Siapakah ibu Donghae dan Kibum?
  4. Bagaimana nasib Kibum saat ditinggal Donghae?
  5. Siwon sudah hilang saat Kibum ditemukan, bagaimana bisa?
  6. Siapa sajakah petinggi yang dihidupkan kembali?
  7. Apa peranan Tao dan Kris?
  8. Ke mana Lee Min Ho dan Sandara Park? Apakah ada peranan lagi untuk mereka atau author ini sudah puas dengan ‘happy ending’ itu?
  9. Kenapa tangan Yonghwa menjadi batu?
  10. Apa yang direncanakan Yonghwa?
  11. Rain sudah mati? Apa rencana Rain?
  12. KAPAN AUTHOR INI UPDATE LAGI?

Ya silakan didiskusikan. Oh ya silakan ditambahkan lagi ya

13. Di mana kalian mau author ini untuk update? WordPress tetap, perlukah di wattpad juga? Thanks!

Thanks to:

changchangie | retno1990 | Siska Lee | miss o | Sapphire Mickey | djp | ZENminzBaoChim | Anna | lee aiden | Halimah Choi | Rachan213 | Amandhharu | Heeheehee

4 responses to “Chapter 17 – A Journey to the Past

  1. Kukira ff ini discontinue. Huahhh senengnya masih lanjut. Bentar eoni aku masih baca chapter 11. Nanti aku kebut sampe sini. Dan ninggalin review. Semangatt terus ya eoniee😙

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s