Changmin and the Beast


Title: Pure Love

Couple: Se7min/Min7en Collection

Warn: DON’T LIKE DON’T READ

Rated: K-M

Summary: Cinta itu murni tak peduli ke mana cinta itu ditujukan.

.

.

Story

Title: Changmin and the Beast

Couple: Se7min Collection

Rated: T

Story Summary: Akhirnya Changmin mengerti bagaimana seorang Beauty bisa mencintai Beast dalam dongeng.

Warn: Shota! Min is 14 years old, Dong Wook 26!

.

.

“Seperti yang saya katakan kepada anda tadi, saya bermaksud untuk menarik semua donasi saya terhadap panti asuhan ini,” ujar seorang namja dengan badannya yang tegap dan memakai pakaian semi-formal – kemeja putih berlengan panjang dan celana hitam berbahan kain.

Yeojya yang duduk di seberangnya menelan ludah karena gugup dan takut. Takut? Ya, siapa yang tidak akan takut melihat seorang namja yang memakai topeng separuh muka sehingga yang terlihat hanya bibirnya, yang terlihat seksi –menurut yeojya itu,  dengan tatapan tajam di balik topengnya seolah ingin menerkam sang yeojya? Tidak membantu juga melihat genggaman erat kedua tangan sang namja terhadap tongkat yang terletak di tengah kedua kakinya yang terbuka. ”Erm, maafkan saya Dong Wook-shi, tapi kalau boleh saya tahu apa yang menyebabkan alasan anda menarik donasi anda?”

Namja yang bernama Dong Wook itu menyeringai lebar. Dia mendekatkan wajahnya sehingga melewati meja yang membatasi mereka berdua. ”Saya sudah tidak tertarik, itu saja, lagipula menurut yang saya dengar –”

”Hyung, ayo tendang!” Sebuah seruan mendadak menghentikan Dong Wook. Namja itu berdiri dengan menggunakan tongkatnya dan berjalan menuju ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan di luar. Yeojya itu terheran karena langkah namja itu tidak tertatih-tatih, melainkan tegap dan sempurna seolah tongkat itu tidak perlu digunakan.

Di balik jendela itu, Dong Wook melihat anak-anak panti yang sedang bermain di lapangan. Ada yang bermain bola, ada yang bermain rumah-rumahan, dan lainnya. Perhatian Dong Wook tertuju pada seorang anak yang menjadi sumber seruan tadi. Penampilan anak itu begitu menarik. Dilihat dari struktur wajahnya, sepertinya usianya tak lebih dari 15 tahun, tetapi tinggi anak itu sedikit melebihi anak-anak seusianya. Kala anak laki-laki itu tersenyum, matanya melakukan gerakan mis-match sehingga salah satu matanya terlihat lebih menyipit dibanding yang satunya. Sebuah senyuman lembut terukir di wajah Dong Wook melihat bagaimana anak laki-laki itu sedang tertawa dengan teman-temannya yang juga bermain sepak bola tadi.

Yeojya itu sedikit heran dengan apa yang sedang diperhatikan oleh namja yang baru saja ingin mencabut donasi di panti asuhannya. Biar bagaimanapun, tanpa asupan dari namja tersebut, panti asuhan itu terancam digusur. Jangan pikirkan tentang dirinya dulu, bagaimana dengan nasib anak-anak yang tinggal di panti itu? Ke mana mereka akan tinggal? ”Ehem, Dong Wook-shi?” tanya yeojya itu dengan lembut.

Namja yang dipanggil itu menoleh kali ini kembali dengan ekspresi seriusnya seperti senyuman tadi hanyalah angin lalu. ”Tiffany-shi, saya mempunyai syarat jika anda masih ingin tetap mempertahankan donasi saya.” Yeojya bernama Tiffany itu mengangguk. Matanya mengikuti arah gerakan namja itu yang kembali duduk di seberangnya. ”Saya ingin mengadopsi anak laki-laki itu.”

Tiffany mengikuti arah yang ditunjuk oleh Dong Wook dan memperhatikan anak laki-laki yang dilihat oleh namja itu tadi. Seketika mata yeojya itu membesar. ”Jung Changmin?”

”Jadi namanya Jung Changmin? Nama keluarganya mirip dengan Jung Yunho, pemilik Jung Corporation yang meninggal 2 tahun lalu bersama istrinya karena sebuah kecelakaan, apa itu hanya kebetulan atau?”

Suara dehaman keluar dari Tiffany. Dia mengangguk setelah kembali bertemu pandang dengan Dong Wook. ”Anda benar, dia anak dari Jung Yunho dan Jung Jaejoong yang meninggal 2 tahun lalu. Kerabat yang seharusnya merawat dia mempercayakan kami untuk menjaganya.”

”He? Bilang saja mereka mau melepas tanggung jawab,” desis Dong Wook. Seketika suasana kembali hening sampai Dong Wook memecahkannya, ”Berikan dia padaku, urus semua surat yang perlu kau selesaikan dan aku anggap pembicaraan mengenai penarikan donasiku tak pernah terjadi.”

.

.

Changmin and the Beast

by eL-ch4n

30.03.2012

.

.

Seumur hidupnya, Changmin baru dua kali melihat rumah mewah yaitu, rumahnya yang dulu dan rumah tempat dia berdiri sekarang. Mulut Changmin sudah menganga lebar melihat bagaimana rumah slash mansion itu begitu besar. Pintu utamanya saja hampir tiga kali lipat tinggi badannya yang kita tahu tidak pendek. Taman yang dilewatinya tadi memiliki bermacam-macam tumbuhan, bahkan kalau penglihatannya tidak salah, ada sebuah labirin yang terbuat dari rumput hijau yang terletak di bagian yang agak dalam. Melewati gerbang utama tadi saja dia harus diantar dengan menggunakan mobil. Anak laki-laki itu terlalu intens memperhatikan sekitarnya sampai tak menyadari ekspresi sedih di wajah Tiffany.

2 hari yang lalu, Dong Wook datang dan mengajukan syarat yang membuat Tiffany tak bisa berbuat apa-apa. Selama ini, panti asuhan yang dirawatnya menggunakan donasi yang diberikan oleh Dong Wook. Bisa saja dia mencari donatur yang lain, tetapi akan memakan waktu yang lebih lama dan dia tidak tahu apakah uang yang tersisa akan cukup untuk merawat anak-anak yang lain. Dia merasa sedikit kecewa dengan dirinya yang harus bergantung dengan orang lain dan harus mengorbankan Changmin dalam hal ini. Memang sebenarnya tidak ada yang salah. Dia bisa menganggap Dong Wook sebagai kliennya yang meminta untuk mengadopsi anak, tetapi Tiffany tahu bahwa topeng yang dipakai Dong Wook bukan tanpa alasan. Menurut rumor yang dia dengar, topeng itu untuk menutup wajahnya yang terbakar dan sejak saat itu sifatnya berubah 180 derajat menjadi dingin dan tak mempunyai perasaan. Ada yang mengatakan untuk menutupi goresan yang pernah dihasilkan oleh musuhnya ketika dia melakukan pekerjaan rahasianya. Banyak rumor, tapi tak ada yang tahu dengan pasti.

Lain Tiffany, lain Changmin. Bocah berusia 14 tahun itu begitu bahagia ketika akhirnya ada yang mau mengadopsi dirinya. Begitu mendengar kabar mengenai bahwa dia akan diadopsi, Changmin begitu bersemangat hingga akhirnya dia tidak tidur karena tidak sabar menunggu datangnya hari ini. Dia merasa akhirnya dia bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh teman-temannya, mendapatkan kasih sayang orang tua lagi. Tidak ada yang tahu bahwa itu semua hanyalah mimpi dan Changmin tak perlu mengetahui hal itu.

”Anda pasti Tiffany-shi dan Changmin-shi, silakan masuk, tuan muda sedang menunggu anda di dalam.” Pintu mereka dibukakan oleh seorang butler yang memiliki paras yang sedikit mengerikan dengan alis yang cukup tebal.

Mata Changmin sibuk untuk mengamati struktur bangunan yang akan ditinggalinya nanti. Jika tidak sedang menggenggam tangan Tiffany, maka dia pasti akan menelusuri setiap inci rumah itu dan tersesat. Tapi, dia bisa menelusurinya nanti saja, toh, dia juga akan tinggal di sini.

Butler itu menghentikan langkah mereka di depan pintu yang juga tak kalah mewah dan besar. Dia mengetuk pintunya untuk memberitahukan kehadiran mereka dan begitu mendengar kata ’Masuk’, dia mempersilakan Changmin dan Tiffany untuk masuk ke dalam ruangan yang sepertinya terlihat sebagai ruang kerja Dong Wook. ”Tiffany-shi,” ujarnya.

Mendengar namanya dipanggil, Tiffany mengangguk dengan perlahan. ”Dan saya yakin anak kecil yang ada di belakangmu itu adalah Changmin?” Tiffany sempat tersentak kaget melihat sebuah senyuman lembut yang terpancar dari wajah Dong Wook namun itu hanya sekilas sehingga yeojya itu bertanya apakah mungkin dia hanya salah lihat saja.

Changmin yang merasa namanya disebut perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia sebenarnya cukup kaget melihat wajah Dong Wook, namun dia terus meyakinkan dirinya bahwa dia tidak takut, melainkan hanya terkejut saja. ”Jung Changmin imnida,” gumamnya lembut.

Dong Wook tersenyum tipis dan mengangguk, ”Baiklah, saya yakin urusan anda sudah selesai, Tiffany-shi. Anda boleh pergi.” Dia mengangguk pada butler-nya yang masih setia berdiri di pojok ruangan. ”TOP akan mengantarkan anda keluar.”

Tiffany berjongkok sedikit sehingga dia sekarang sejajar dengan Changmin. ”Mulai sekarang, ini rumahmu ya, Minnie,” Changmin mengagguk. ”Karena itu kau harus baik-baik sama Dong Wook –shi. Jadi anak baik, ne?” Dia mencubit hidung Changmin sembari menggoyangkan wajah namja itu.

”Noona, hug,” gumam Changmin dengan wajah imutnya membuat Tiffany merasa gemas dan segera memeluk namja itu dengan erat. ”Aku akan merindukanmu, noona,” bisik Changmin.

Yeojya itu mengangguk dan hanya tersenyum tipis sekali lagi sebelum melepaskan pelukan mereka. Dia mengecup kening Changmin dan kemudian berpesan sekali lagi kepada Changmin agar menjadi anak yang patuh sebelum mengikuti sang butler keluar dari ruangan.

Blam.

Changmin masih menghadap ke arah pintu yang sudah tertutup hingga suara dehaman membuat dirinya memutar dan berhadapan dengan namja yang berjalan semakin dekat ke arahnya. ”Jadi, namamu Jung Changmin?”

”Ne, Dong Wook-shi,” gumam Changmin sembari mengangguk. Dia bingung harus memanggil namja yang ada di hadapannya dengan sebutan apa, appa sepertinya terlalu tua untuk namja itu.

Dong Wook terkekeh pelan. ”Panggil saja aku hyung, ne?” Dia yang sudah berdiri di depan Changmin segera mengelus kepala namja itu dengan lembut. Karena hal itu semua kegalauan dan pemikiran Changmin hilang seketika. Dia tersenyum lebar dan mengangguk dengan antusias. ”Ne, hyung!”

”Baiklah, tapi sebelum itu aku mau memberitahukan beberapa peraturan di sini. Kau tak boleh keluar kecuali mendapat ijin dariku dan dikawal oleh salah seorang bodyguard-ku, arasso?” Changmin mengangguk dan Dong Wook mempertajam tatapannya. ”Kedua, kau akan melakukan homeschooling dan boleh memilih apapun yang akan kau pelajari. Ketiga, aku tak keberatan jika kau mau meminta apapun pada diriku selama aku masih bisa memberikannya, uang bukan masalah. Terakhir,” Dong Wook menatap tajam ke arah Changmin membuat namja yang lebih muda itu meneguk ludah dan memperhatikan dengan seksama. ”Aku ingatkan, kau boleh berjalan ke manapun di mansion ini asal jangan ke lantai paling atas, mengerti?” Changmin mengangguk, meskipun ada rasa penasaran di dalam hatinya. ”Bagus, kalau kau melanggar hal itu,” Dong Wook tak meneruskan kalimatnya dan membiarkan Changmin membayangkan kemungkinan yang bisa terjadi jika dia melanggar syarat tersebut.

Dong Wook kembali berjalan ke belakang meja kerjanya. Melihat Changmin yang masih berdiri dengan kaku, namja itu menyengir. ”TOP, antarkan dia ke kamarnya dan sekalian bawa dia berkeliling.”

TOP yang sudah kembali sehabis mengantar Tiffany keluar sudah kembali berada di ruangan itu dan pada posisi yang sama. Dia mengangguk dan kemudian mengajak Changmin untuk mengikutinya. Setelah ruangan itu kosong dan tertinggal Dong Wook seorang diri, dia menyeringai. Tubuhnya disandarkan pada kursi kerjanya. Tangannya menyilang menjadi sandaran kepalanya. ”Akhirnya aku menemukanmu Minku.”

.

.

”Ini ruang permainan. Memang masih proses karena tuan muda baru menyuruh kami untuk memperbaikinya baru-baru ini untukmu.” Changmin tidak begitu mendengarkan penjelasan TOP. Kepalanya kembali pada kejadian yang baru saja dialaminya. Dia merasa seperti pernah membaca hal ini di dalam dongeng yang sering diceritakan ibunya, tapi dia masih mencoba mengingatnya.

Beauty and the Beast!” serunya senang. Akhirnya, dia berhasil mengingat dongeng yang paling sering diceritakan ibunya. Menurut ibunya, dongeng itu mengajarkan sebuah cinta sejati bagaimana seseorang bisa mencintai tanpa memperhatikan penampilan. Tapi, bagi Changmin dongeng itu memberikan keganjalan. Apa jadinya jika Beast yang kembali tampan tidak akan meninggalkan Beauty dan mencari wanita lain yang lebih cantik dan kaya? Itu menyebabkan Changmin membenci dengan dongeng. Dia tidak tahu alasannya, hanya dia tidak suka.

”Ne, Changmin-shi?” tanya TOP yang sedikit kaget dengan seruan Changmin tadi.

Changmin hanya menyengir lebar, ”Gwenchana, TOP-shi.”

”Panggil saja saya dengan hyung,” sela TOP. Anggukan menjadi jawaban Changmin.

Tiba-tiba saja dia merasa seseorang menabrak badannya hingga sekarang punggungnya bersentuhan dengan lantai. Matanya tertutup menahan rasa sakit akibat tabrakan tadi. Perlahan matanya terbuka. Berada di atasnya, seorang namja –atau yeojya?- yang memiliki paras cantik namun juga tampan. Kulit wajahnya begitu mulus dan potongan rambutnya agak sedikit unik. Poninya panjang di bagian kanannya. ”Wah, kamu pasti Changmin!” serunya dengan senang. Dia segera memeluk Changmin yang masih menjadi bantalan tubuhnya.

”Eh? Ne,” jawab Changmin yang masih kaget dengan hal itu. Dia merasa tubuhnya ditarik ke atas dan kembali berpelukan dengan orang yang memeluknya tadi. Merasakan dada orang itu bidang, Changmin mengambil kesimpulan bahwa orang yang menabraknya adalah seorang namja.

”Perkenalkan, Jiyong imnida, panggil saja aku dengan GD ne?” Namja itu menarik tangan Changmin dan bersalaman. Tangan Changmin diayunkan ke atas ke bawah dengan semangat. Sebuah senyuman lebar terpasang di wajahnya. Dia mengedip sekejap kepada Changmin sebelum melepaskan salaman mereka.

”Ah, ne,” jawab Changmin. GD tersenyum lebar sekali lagi sebelum mengelus rambut Changmin dengan gemas. Dia segera berdiri dan menghampiri TOP yang hanya bisa menghela nafas.

Apa yang terjadi selanjutnya membuat Changmin membesarkan matanya. Dia melihat GD mendorong TOP ke dinding dengan bibir mereka yang saling melumat. Baru saja masuk ke dalam rumah ini dan dia sudah disuguhi hal-hal aneh seperti ini, dia hanya bisa berpikir apa yang akan terjadi berikutnya. ”Ji-ah, kau membuatnya takut,” gumam TOP di sela-sela ciuman mereka.

Suara kecipak kulit membuat pipi Changmin bersemu merah. Sesungguhnya dia tak ada masalah dengan percintaan sesama jenis atau sebagainya, hanya saja dia cukup kaget melihatnya langsung. ”Apa yang sedang kalian lakukan?” Suara tegas dari Dong Wook menghentikan ciuman mereka.

TOP segera merapikan seragamnya dan kembali memasang wajahnya yang serius sementara GD memutar kepalanya melihat Dong Wook yang berdiri dengan tegap meskipun dengan tongkat di tangan kanannya. GD hanya tersenyum lebar dan menghampiri Dong Wook. ”Jangan begitu, Wookie, kalau kau cemberut seperti itu kau akan menakuti, Minnie, ne?” kata GD dengan nada ceria.

Sayangnya, itu tak berpengaruh kepada Dong Wook karena dia masih memasang wajahnya serius. Dia menarik lengan Changmin yang masih terduduk dengan tangannya. Tangannya memukul-mukul pakaian Changmin yang mungkin sedikit berdebu. Tangan kirinya memegang dagu Changmin sehingga wajah mereka begitu dekat. Changmin bisa merasakan semburat merah di kedua pipinya ketika mata yang di balik topeng itu seolah menelanjangi dirinya.

”Wookie, kau ini, jangan makan dia dong!” canda GD.

Kruyuk. Kruyuk.

Suara perut Changmin yang meminta untuk diisi mendatangkan tawa dari GD, semburat merah dari Changmin, kekehan dari TOP, dan seulas senyuman tipis di wajah Dong Wook. ”Sudah waktunya untuk makan siang, ayo kita ke ruang makan.” Changmin mengangguk dengan antusias. Dia menyambut uluran tangan Dong Wook dan berjalan dengan bahagia ke ruang makan. Jika tadi Changmin mengerti bagaimana perasaan Beauty yang pertama kali bertemu dengan Beast, sekarang dia memahami kebaikan Beast.

.

.

Changmin tidak tahu kepada siapa dia harus bersyukur. Meski hidupnya sedikit berubah ketika orang tuanya meninggal dan harus tinggal di panti, tetapi dia tetap mendapatkan kebahagian. Saat bersama orang tuanya, mereka selalu menyempatkan diri untuk menghadiri acara-acara penting bagi Changmin di sela-sela kesibukan mereka. Kemudian saat di panti, dia juga mendapatkan teman-teman yang bersahabat dan Tiffany-noona yang ramah dan baik hati. Sekarang, dia diadopsi oleh seorang Choi Dong Wook yang selalu memperhatikannya layaknya seorang hyung. Changmin tak bisa menganggapnya sebagai ayahnya karena dia masih menyayangi ayah kandungnya.

Sudah 2 bulan tinggal di rumah itu dan semua yang dia inginkan hampir terpenuhi. Sesuai dengan syarat Dong Wook, dia melakukan homeschooling dan mempelajari semua materi yang harus dikuasainya. Selain itu, dia juga mempelajari dancing dan latihan vokal. Entah kenapa dia tertarik dengan aliran musik –mungkin karena darah ayahnya yang seorang dancer dan ibunya yang penyanyi senior.

Hiburannya juga terpenuhi. Semua mainan terbaru yang keluar dibeli Dong Wook dan langsung dipasang di kamar permainan untuk Changmin. Internet di rumahnya juga cepat sehingga dia bisa mengunduh permainan lain yang ada. TV yang dipasang memiliki full channel sehingga dia bisa menonton acara dari seluruh dunia. Singkatnya, semua yang diinginkan oleh anak-anak seusia Changmin terpenuhi. Namun, entah kenapa Changmin tetap merasa ada yang kurang.

Mungkin karena dia masih anak-anak, dia ingin sekali bermain di luar bersama dengan teman-temannya. Dia hanya bisa keluar tiap minggu untuk menemani TOP membeli makanan atau GD yang ingin membeli peralatan rumah tangga. Itupun dengan syarat Changmin tak boleh ke mana-mana setelah menemani TOP atau GD.

Dan kali ini, Changmin bisa mengerti bagaimana perasaan Beauty yang terkurung dalam istana Beast.

Layaknya anak remaja lainnya yang ingin memberontak, Changmin pernah sekali kabur ketika sedang belanja dengan TOP. Dia harus berterima kasih pada dirinya yang cukup teliti dan pintar sehingga dia berhasil menguasai seluk beluk tempat tersebut dan kabur dari penglihatan TOP. Hari itu, untuk pertama kalinya, Changmin merasakan angin kebebasan.

Dia berjalan-jalan sembari mengamati para pejalan kaki lainnya. Entah kenapa dia suka menebak-nebak apa yang mungkin dilakukan oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang di depannya. Rasanya menyenangkan. Untung saja tadi dia membawa cukup uang dari uang belanjaan TOP sehingga dia bisa membeli makanan untuk mengganjal perutnya dan mencoba bermain di arcade. Rasanya sangat menyenangkan terlebih saat mengingat kembali ketika dirinya berhasil mengalahkan seorang anak yang lebih tua darinya dalam permainan tembak-tembakan.

Karena terlalu sibuk mengamati toko yang menjual jam itu, Changmin tidak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Tiba-tiba saja di depannya terdapat sarung tangan berwarna putih dengan bau memabukkan. Dalam sekejap saja, kegelapan memenuhinya.

Ketika matanya terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah ruangan kosong yang hanya menggunakan lampu di tengah sebagai penerangan. Kedua kaki dan tangan Changmin terikat pada sebuah kursi yang sedang didudukinya sehingga gerakannya terkunci. ”Urmm, urmm,” erangnya. Dia mencoba berteriak meskipun mulutnya diikat oleh pita yang menahan semua suaranya. ”Ngghh!”

”Ckck…apa kau yakin dia orangnya?” Sebuah suara menghentikan gerakannya tadi. Dia tidak bisa melihat wajah kedua orang yang berada di depannya sekarang selain tubuh mereka yang ramping dan sedikit atletis karena kedua orang tersebut memakai topeng hitam.

”Benar, aku lihat dia bersama dengan butler-nya tadi, pasti dia anak yang dirawatnya,” jawab namja yang sedang berdiri di samping namja yang terduduk itu.

Namja yang terduduk itu berdiri dan berjalan ke arah Changmin. Ketika sudah ada di depan Changmin, tubuhnya sedikit menunduk dan tangannya menggenggam dagu Changmin dengan gemas. ”Hmm, pipi yang kenyal juga, rasanya aku jadi ingin mencobanya,” ujarnya yang kemudian disertai dengan tawa.

”Hei, hei, kau tidak mau dia marah karena kau merusak propertinya,” tegur namja yang satu lagi.

Brak.

Suara pintu yang terbuka dengan kasar membuat ketiga orang itu tersentak kaget. Changmin hanya berharap bahwa siapapun yang berada di balik pintu itu adalah orang yang bisa menyelamatkannya. Harapannya sirna ketika yang dilihat di depan pintu bukanlah orang yang diharapkannya, melainkan seorang namja lainnya dengan wajah penuh keringat seperti habis berlari 10 kilometer tanpa henti.  Baru saja dia hendak membuka mulutnya, kepalanya dipukul hingga pingsan.

Hal ini sontak membuat kedua namja itu siaga. Mereka saling memberi aba-aba untuk bersiap menyerang siapapun yang akan masuk nanti. ”Kalian tidak akan mau melakukannya.” Suara yang familiar di telinga Changmin terdengar dari arah pintu tadi.

Dong Wook berjalan dengan gagahnya tanpa tongkat namun topeng tetap setia menutupi wajahnya. Sekilas Changmin menyadari tatapan Dong Wook tertuju ke arahnya dan dia menelan ludah menyadari tatapan tersebut. Changmin merasa sedikit sedih ketika dia melihat adanya rasa kecewa yang tersirat di baliknya. Rasa kecewa karena Changmin melanggar perintahnya. ”Aku sungguh tak menduga kau akan datang ke sini, Se7en,” desis namja yang memegang dagu Changmin tadi.

Namja yang satu lagi berjalan ke belakang Changmin dan mengacungkan pisau tepat di lehernya. ”Sudahlah, jangan bertele-tele, jika kau masih mau dia selamat, berikan apa yang kami mau.”

Kedua alis mata Se7en terangkat. ”Aku tak memerlukan Minku yang melawanku, terserah kalian mau apakan dia,” ujarnya dengan pelan sembari mengangkat kedua bahunya.

Kedua namja tadi tentunya tidak menganggap respon seperti itu dilihat dari panik yang melanda wajah mereka. Sementara Changmin? Anak laki-laki itu begitu ketakutan. ”Nggh, urrm.” Dia masih berusaha untuk menjerit namun yang keluar hanya erangan kacau seperti itu. Dia mencoba untuk melawan namja yang mengacungkan pisau ke arahnya, namun hasilnya nihil. Gerakannya terbatas dan dia bisa merasakan bahwa tali yang mengikatnya akan membekas di tubuhnya.

”Kau – kau yakin? Aku akan menggoreskan pisau ini pada lehernya yang putih!” teriak namja yang berada di belakang Changmin masih mencoba untuk mengadu nasib. Langkah Dong Wook terhenti. Dia memutar badannya. Kedua tangannya sekarang tersilang di depan dadanya. Sebuah seringaian terukir di wajahnya. ”Silakan, be my guest,” gumam Dong Wook dengan pelan.

Namja tadi mendadak kaku, dia tidak menduga semuanya akan menjadi seperti ini. Begitu mendapat anggukan dari namja yang pertama, dia mulai menggoreskan pisau itu kepada leher Changmin hingga darah mulai keluar dengan perlahan.

”Urrmm, nggh.” Changmin tahu bahwa semakin dia meronta semakin pisau itu akan tergores lebih dalam. Dia hanya bisa mengerang dan membesarkan matanya karena sakit yang terasa di lehernya. Begitu panas dan perih.

Hal berikutnya yang Changmin dengar adalah suara pistol yang ditembakkan dan baku hantam yang terjadi di ruangan itu. ”Kau lama, TOP,” desis Dong Wook. Changmin membuka matanya yang tadi tertutup karena menahan sakit. Dia melihat TOP sudah berdiri di samping Dong Wook dengan pistol di tangan kanannya sementara GD sedang berjalan sembari tersenyum ke arah namja yang satu lagi yang masih hidup. Namja yang mengacungkan pisau tadi sudah terjatuh tak bernyawa di belakang Changmin.

Air mata keluar dari mata Changmin karena ketakutan baru saja berada pada ambang kematian. Tubuhnya gemetar hebat terutama ketika Dong Wook berjalan menuju ke arahnya mengabaikan GD yang menghajar namja yang satunya hingga pingsan. Dong Wook menatapnya dengan tatapan sendu namun juga penuh amarah.

Ketika tangannya menyentuh pipi Changmin yang gemetar hebat, namja yang lebih tua itu tersenyum lembut. ”Mian, gwenchana ne?” Changmin mengangguk namun tak mampu untuk menghentikan air matanya. Ikatan di tangan dan kaki Changmin segera dibuka oleh Dong Wook dan seketika itu juga badan Changmin ambruk karena kelelahan pada tubuh Dong Wook.

Dong Wook terkekeh pelan dan menggendong Changmin dalam bridal-style. Pipi Changmin begitu memerah apalagi ditambah dengan siulan nakal dari GD. Sepertinya hanya GD yang tidak terpengaruh oleh tatapan tajam dari Dong Wook. Ketika berjalan menuju pintu keluar, Dong Wook menyadari darah yang keluar dari leher Changmin bekas tusukan pisau tadi. Dia menundukkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya untuk menjilat darah tersebut agar tak bersisa. ”Urmm…” Entah kenapa Changmin mendesah ketika lidah Dong Wook yang basah menyentuh lehernya dan ketika namja yang lebih tua itu menghentikannya, dia merasa kecewa. Keduanya bertatapan dalam waktu yang cukup lama dan dalam jarak yang begitu dekat sampai GD meneriakkan nama mereka untuk segera keluar.

Hari itu Changmin mengetahui bagaimana perasaan Beauty yang diselamatkan oleh Beast

.

.

Changmin merasa sangat bosan hari ini terutama karena Dong Wook sedang pergi bersama TOP dan GD sedang sibuk menciptakan lagu. Kalau produser lagu itu sedang intens untuk menciptakan lagu, dia tidak mau terganggu sehingga Changmin memutuskan untuk mengelilingi rumah yang dia tinggali. Dalam petualangannya, dia beberapa kali bertemu dengan para maid dan menyapa mereka.

Pertama, dia menuju ke perpustakaan untuk mencari ketenangan. Matanya menelusuri setiap judul yang ada di rak perpustakaan tersebut namun tak ada satupun yang menarik minatnya. Dia akhirnya mengangkat bahu dan kemudian beranjak pergi ke tempat lain.

Sembari berjalan menuju ke arah taman, Changmin kembali mengingat kejadian yang terjadi 2 minggu lalu –saat dia diculik dan Dong Wook menyelamatkannya. Hatinya entah kenapa selalu berdebar mengingat bagaimana Dong Wook terlihat khawatir terhadapnya terutama ketika lidah Dong Wook menjilat lehernya. Ada satu perasaan aneh di dalam tubuhnya. Perutnya serasa melilit setiap dia mengingat perlakuan lembut namja itu kepadanya. Selama 2 minggu itu, Dong Wook memutuskan untuk mengambil cuti dan mengerahkan semua perhatiannya kepada Changmin. Dia bahkan mengajak Changmin ke taman bermain karena tahu alasan Changmin kabur adalah karena anak itu merasa bosan.

Changmin tak habis pikir kenapa Dong Wook mau melakukan semuanya untuk dirinya? Apakah seperti Beast dalam dongeng, Dong Wook memiliki mawar merah yang akan layu satu per satu dan di harus menemukan cinta sejatinya?

Blush.

Muka Changmin mendadak memerah mendengar dirinya mengatakan cinta sejati, ”Ada apa dengan dirimu, Jung Changmin?” desisnya pelan.

Langkahnya terhenti ketika dia memegang dadanya yang debarannya semakin kencang setiap kali memikirkan senyuman lembut, tatapan tulus, dan perlakuan ramah dari Dong Wook. Rasanya ada yang berbeda ketika Dong Wook menyentuhnya. Kemudian tiba-tiba dia teringat atas syarat Dong Wook.

”Kau boleh berjalan ke manapun di mansion ini asal jangan lantai paling atas, mengertI?”

Rasa penasaran menggelumuti perasaan Changmin. Apakah mungkin ada sesuatu yang disembunyikan Dong Wook seperti Beast yang menyembunyikan mawar itu dari Belle? Entahlah, Changmin tidak tahu. Ini bukan kisah dongeng. Lagipula Dong Wook bukan Beast meskipun namja itu memakai topeng yang cukup mengerikan kala pertama dia bertemu namja itu.

Ah, sudahlah. Lebih baik dia memuaskan rasa ingin tahunya. Dia memutar langkah kakinya. Dengan hati-hati dia melewati para maid dan menyelinap ke tangga yang terdapat di bagian dalam untuk naik ke lantai paling atas. Dia berhenti ketika melihat seorang maid yang berjalan di atas lantai yang ingin dia tuju. Setelah memastikan sekelilingnya aman, Changmin segera menyelinap ke arah tangga yang ada di depannya dan naik ke atas.

Semakin ke atas, cahaya lampu semakin tak ada. Cukup lama bagi Changmin untuk membiasakan matanya dalam kegelapan. Dia akhirnya berhenti di depan sebuah pintu yang cukup kuno. Betapa terkejutnya dia mendapatkan pintu itu tidak terkunci dan tidak berdebu juga. Dia memutar kenop pintunya dengan hati-hati. Setelah terbuka, dia memasuki ruangan itu dengan perlahan.

Tangannya mencari saklar yang ada di samping pintu. Ketika cahaya memenuhi ruangan, sekali lagi, Changmin menyesuaikan matanya pada cahaya tersebut. Matanya membesar ketika melihat apa isi ruangan itu. Di ruangan itu penuh dengan fotonya, dari waktu dia kecil hingga sekarang. Dia berjalan menuju ke meja yang memiliki foto keluarganya yang sedang tersenyum hangat. Di atas pigura foto, di dinding menggantung sebuah foto yeojya yang begitu cantik di mata Changmin. Yeojya itu memakai gaun berwarna putih (sepertinya gaun pengantin). Rambutnya yang panjang berwarna hitam diuraikan begitu saja kontras dengan kulitnya yang cukup putih. Tatapan matanya begitu lembut dan seketika Changmin bisa merasakan kehangatan di dalamnya.

Di ruangan itu penuh sekali dengan album foto Changmin dan keluarganya. Ada juga beberapa yang berisi foto yeojya yang digantung tersebut. Rasanya ada perasaan aneh lainnya yang menjalar di hatinya ketika mendapati Dong Wook tersenyum lembut pada yeojya yang sama yang sekarang dipeluknya. Mereka terlihat begitu mesra.

”Apa yang kau lakukan?” Suara berat Dong Wook sontak membuat Changmin terkejut dan menjatuhkan album foto yang dia pegang. Dia memutar badannya dan berhadapan langsung dengan Dong Wook yang menatapnya penuh amarah. Dong Wook berdiri tegak tanpa tongkat semenjak kejadian penculikan itu dan Changmin tidak tahu alasannya.

Gulp.

Changmin menelan ludah dan mencoba menjelaskan situasinya, ”Hyung aku –”

”Stop. Pertama, kau sudah berani kabur dariku. Sekarang kau melanggar perintahku yang paling penting?!” Changmin tahu bahwa Dong Wook begitu marah kepadanya, tapi dia masih tak mengerti. Apa yang sebenarnya disembunyikan Dong Wook, bukankah seharusnya Changmin yang marah karena fotonya disimpan dan diambil tanpa sepengetahuannya? ”GD!!” Suara teriakan Dong Wook memenuhi ruangan.

Tak berapa lama GD terlihat kecapekan sehabis berlari. Ketika matanya bertemu dengan Changmin, kedua matanya membesar karena horor. ”Wookie aku –”

”Kembalikan dia ke panti,” sela Dong Wook dengan tegas.

”Eh?” tanya GD tak percaya.

”Aku bilang, kembalikan dia ke panti, SEKARANG!”

”Hyung –”

”Jangan panggil aku hyung!” Dong Wook tak mengijinkan Changmin untuk berkata apapun karena namja itu segera berbalik dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.

GD menghela nafas sebelum menarik Changmin keluar dari ruangan itu. Dia membantu Changmin mengepakkan barang anak itu. Setelah semuanya beres, Changmin bermaksud untuk berpamitan, namun GD menggelengkan kepalanya. Kembali rasa sakit itu muncul ketika Changmin berpikir harus menjauh dari Dong Wook.

Mungkin inilah yang dirasakan Beauty ketika dia harus meninggalkan Beast.

.

.

1 bulan telah berlalu semenjak Changmin kembali ke pantinya. Tiffany menangis karena senang dan juga sedih mengetahui Changmin pulang ke panti. Dong Wook tetap menepati janjinya untuk memberikan donasi kepada panti asuhan tersebut dan hanya itulah yang diketahui Changmin. TOP pernah berkunjung sekali tapi itupun untuk mengantarkan barang Changmin yang tertinggal, yaitu PSP-nya. Changmin menolaknya, mengatakan bahwa barang yang dibelikan Dong Wook untuknya bukanlah miliknya.

Semenjak berada di panti, hanya tubuh Changmin yang pulang, tapi jiwanya entah ke mana. Bahkan dia tidak menggubris ajakan untuk bermain bola oleh sahabatnya. Pikirannya hanya terisi oleh namja yang selalu memakai topeng separuh muka itu. Begitu banyak perasaan yang berkecamuk di dalamnya. Ingin rasanya dia meminta alamat Dong Wook dan langsung berkunjung, tapi dia tahu bahwa itu juga tak ada gunanya. Apa yang dikatakan Dong Wook sudah jelas, dia tidak ingin melihat muka anak itu lagi.

Dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan namja itu, apakah dia cukup istirahat atau apakah dia masih tidak mau makan masakan GD lagi? Semenjak saat itu, Changmin menjadi seorang namja yang pemurung. Dia menjadi tertutup dan kondisinya tidak jauh berbeda ketika kali pertama dia menginjakkan kaki ke panti. Tiffany merasa resah karena hal itu. Dia melihat dari balik jendela bagaimaan keadaan namja jangkung itu. Akhirnya, Tiffany memutuskan sesuatu.

.

.

”Changmin, mereka adalah orang tuamu yang baru,” ujar Tiffany lembut pada Changmin yang baru saja melangkahkan kaki ke dalam. Kepalanya menunduk dan dia hanya melirik sekilas pada pasangan suami istri yang sebentar lagi akan menjadi orang tuanya yang baru. Dia hanya mengangguk dengan malas dan melakukan perkenalan formal seperti biasanya.

Tak berapa lama dia mendapati dirinya berada di mobil yang sama dengan pasangan suami istri tersebut. Satu hal yang terasa aneh di benak Changmin, dia merasa mengenali jalan yang dilewatinya sekarang. Mungkinkah?

Changmin kembali mendapati dirinya berdiri di depan gerbang yang sama, melewati taman yang sama, dan terpukau pada pintu utama yang sama. Apakah ini hanya halusinasinya?

”GD menyuruhku untuk menjemputmu, jadi di sinilah kita sekarang,” jelas yeojya yang tersenyum lembut kepadanya. Kalau tidak salah nama yeojya itu adalah Jung Seohyun dan namja yang menjadi suaminya adalah Jung Yonghwa. Sungguh kebetulan mereka bermarga sama. ”Sepertinya GD tahu kalau Tiffany ingin mencari orang tua untukmu dan mereka menyuruh kami untuk mengadopsimu, lagipula karena nama kita kebetulan sama sepertinya Tiffany tidak akan curiga,” jelas yeojya itu sekali lagi. Sementara suaminya masih menekan bel sembari tangannya menggenggam tangan yeojya itu dengan erat.

”Semoga saja Dong Wook tidak akan marah,” gumam namja itu.

”Aduh, Yonghwa, kau tidak perlu terlalu khawatir, chagi~” Yeojya itu mengcium kilat pipi Yonghwa.

Akhirnya pintu pun terbuka dan terlihatlah GD dengan rambutnya yang khas. Sebuah senyuman lebar menghias wajahnya. Dia memeluk Yonghwa dan Seohyun satu persatu sebelum perhatiannya kembali terarah pada Changmin. ”Ini dia Minnieku, aigo, miss you,” gumamnya.

Changmin tak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluk GD dengan erat hingga leher GD terasa sesak karena tubuh Changmin yang sedikit pendek membuatnya harus sedikit menunduk. ”Kalau begitu kami pergi dulu ya, Yonghwa sudah tidak sabar,” goda Seohyun. GD memberi salam sembari Changmin tetap memeluknya.

Setelah akhirnya Changmin melepaskan pelukannya dia menatap produser itu dengan tatapan heran. ”Kenapa hyung?”

”Hehe. Ayo masuk, akan kujelaskan nanti,” ujar GD sembari mengangkat barang Changmin yang hanya dua buah koper kecil.

Dalam perjalanan GD menjelaskan bagaimana kelakuan Dong Wook berubah 180 derajat. Dia kembali menjadi workaholic dan GD juga mengatakan bahwa sebenarnya Dong Wook adalah kepala dunia hitam. Namja yang waktu itu menculiknya adalah anak buah dari lawan Dong Wook yang merasa iri. ”Aku harap kau tak akan merubah pikiranmu tentang hyung, dia sudah cukup menderita kau tahu?” ujar GD setelah dia menyelesaikan ceritanya. Mereka sudah meletakkan barang Changmin di kamarnya yang dulu dan tak lama mereka kembali menelusuri lorong yang sama untuk menuju ruang kerja Dong Wook.

Changmin menggeleng. ”Tidak akan, Dong – hyung yang kukenal adalah orang yang baik,” gumamnya. Dia tidak akan merubah pikirannya meskipun dia tahu apa pekerjaan Dong Wook, karena baginya Dong Wook begitu baik dan selalu memperhatikannya. ”Kalau boleh tahu, kenapa dia –”

”Mwolla, aku juga tidak tahu,” sela GD karena dia tahu pertanyaan Changmin. ”Yang kutahu adalah gadis dalam foto itu adalah istrinya. Ruangan atas itu dulu digunakan oleh istrinya untuk mengumpulkan foto-foto mereka agar mereka bisa mengingat setiap perjalanan mereka.”

Entah kenapa mendengar kata istri, dada Changmin terasa sakit. ”Lalu di mana istrinya sekarang?” Changmin yakin bahwa suaranya sekarang terdengar serak dan menyakitkan.

”Sudah tak ada, istrinya sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat terbang. Sejak saat itu Dong Wook menutup dirinya. Topeng yang dia gunakan?” Changmin mengangguk tanda mengijinkan GD untuk melanjutkan kalimatnya. ”Katanya untuk menutup dosa yang dia buat. Dia tahu bahwa musuhnya yang meletakkan bom pada pesawat yang ditumpangi istrinya. Seharusnya saat itu dia ikut serta, namun karena urusan mendadak, dia mengatakan akan menyusul. Mungkin dia masih menggunakan topeng itu untuk mengingatkan dirinya pada masa lalu. Aku dan TOP sudah mengatakan agar dia melupakannya, tapi dia tidak bisa. Katanya urgh, maaf, katanya dia merasa bersalah pada istrinya.”

”Kenapa dia mempunyai fotoku?” Belum sempat GD menjawab, mereka sudah sampai di depan ruang kerja Dong Wook.

GD membukakan pintu itu dengan kuncinya. ”Kau tanyakan saja sendiri pada orangnya. Tunggu di sini, dia akan pulang sebentar lagi.” Dia menepuk pundak Changmin sembari mendorong namja itu ke dalam. ”Dan good luck.”

Blam.

Begitu pintu tertutup, Changmin melangkahkan kakinya dengan pelan dan berjalan menuju ke arah meja Dong Wook. Dia melihat ada sebuah pigura foto di sana. Foto yang terdapat orang tuanya dan Dong Wook dengan istrinya. Mereka semua tersenyum lebar seperti sahabat lama. Kedua yeojya –ibunya dan istri Dong Wook – berada di tengah sementara ayahnya dan Dong Wook berada di samping dengan lengan yang direntangkan. Jari telunjuknya terarah pada wajah Dong Wook yang terlihat begitu sempurna di matanya. Mata tajam, bibir seksi, alis sedikit tebal. Meski tak pernah melihatnya, namun Changmin mengenali bibir itu, bibir yang mengecup lehernya. Seketika itu tangan kiri Changmin beralih pada leher yang dikecup dan dijilat Dong Wook waktu itu. Rasanya begitu hangat.

Kriet.

Mendengar pintu yang terbuka, Changmin segera mengalihkan perhatiannya pada kenop pintu yang berputar. Perlahan di balik pintu itu dia melihat Dong Wook dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Namja itu tetap terlihat begitu tegap dan tampan di mata Changmin. Begitu sempurna. ”Kau?” tanyanya terkejut ketika mendapati Changmin berada di ruangannya, di belakang meja kerjanya.

Sejenak, Changmin bisa melihat emosi senang di pantulan mata Dong Wook, namun itu sesaat karena tak lama kemudian emosi itu sirna. ”Apa yang kau lakukan di sini?” desis namja bertopeng itu.

Gulp.

Changmin menelan ludah ketika melihat Dong Wook mempercepat langkahnya. ”Aku tanya apa yang sedang kau lakukan di sini, hah?!” seru Dong Wook yang sekarang sudah berdiri di depan Changmin.

Hening.

Tak ada jawaban yang keluar dari Changmin. Entah keberanian dari mana, Changmin mengangkat tangannya dan perlahan menuju ke topeng yang dikenakan Dong Wook. ”Apa yang kau lakukan?” desis Dong Wook yang menahan gerakan tangan Changmin dengan mengunci pergelangan tangannya.

”Membuka topengmu,” jawab Changmin dengan pelan. Dia menarik tangannya yang dikunci Dong Wook tadi. Entah mengapa genggaman Dong Wook melemah. Namja bertopeng itu tidak mengelak ketika akhirnya kedua tangan Changmin berada di topengnya dan melepasnya perlahan. Ketika topeng itu terlepas, Changmin bisa melihat namja yang jauh lebih tampan daripada yang dia lihat di foto tadi.

Tanpa aba-aba, Dong Wook menarik tangan kiri Changmin hingga namja mungil itu menubruk dada bidangnnya. Dengan sigap, Dong Wook melumat bibir merah menggoda itu. Tangan kirinya menyelinap ke pinggang Changmin untuk menekakan ciuman mereka. Kedua tangan Changmin akhirnya melingkar pada leher Dong Wook begitu pula tangan Dong Wook pada pinggang Changmin.

Dan hari itu, Changmin akhirnya mengerti bagaimana perasaan cinta Beauty terhadap Beast.

.

.

TBC/End?

.

.

A/N:

Annyeong haseyo semuanya XDDD…rencananya ini ff maunya gak panjang2 tapi entah kenapa jadi panjang ya -_-”

Oke, jadi saya jelaskan ya. Ini sebenarnya kumpulan ONESHOT, jadi saya masukkan COMPLETE karena sebenarnya cerita ini sudah COMPLETE hanya tergantung minat para pembaca dan jika saya ada ilham saja. Bisa dilanjutkan bisa juga tidak ^^ makasih untuk pengertiannya..hehe..

.

Curcol dikit ya, gapapa kan? *dijitak readers* oke, itu saya tahu klo mgkn pada nanya asal couple ini dari mana dan gak jelas gitu, saya juga udah bilang kalau saya baca ff ’Tarnished Angels’ di livejournal dan saya jadi suka dengan couple ini. Menurut saya apa yang ditulis di ff itu terasa nyata sekali dan membuat saya hampir menangis karenanya 😥

Intinya saya tetap menghargai semua couple yang ada, jadi tolong hargailah couple ini juga ne? ^^

Dan saya akan tetap update semampu saya, jadi harap chingu menunggu ^^

Gomawo

Last, review? 😉

3001ChangMinnie

PS: Saranghae Chingudeul XDDD

.

.

Ah itu saya ada ff baru couple Sibum, tapi masih di facebook untuk ikut lomba. Boleh minta tolong untuk di LIKE ? 🙂

Gomawo m(_0_)m dan sungguh saya minta maaf sudah merepotkan 😥

Ini linknya

Winter Soul

Musim dingin tahun lalu, keduanya berpisah. Pada musim dingin tahun ini, keduanya kembali dipertemukan. Cinta sejati yang tak mengenal waktu, status, dan jenis kelamin. Akhirnya mereka bisa bersatu dalam damai.

Advertisements

25 responses to “Changmin and the Beast

  1. Yah!! TuBerColusisnya muncul!!
    Huwaa el-chan sya gak setuju klo end, gantung tuh :O
    ayo ayo next chapt xD sya uda girang bgt krna se7min niii!!
    Bos! Sya menuntut dilanjutkan, penasaran tingkat akut!! Gyahaaaa
    bner2 gmana gtu ceritanya xD
    Ngebayangin manisnya changmin~ (lgsung kbayang di MV hug, masih unyu2 kedipin mata sebelah, cium kucing kecil.. *mimisan!*) trus ganteng dong wook~ (ah pokoknya fantasy liar deh wahaha)
    apa lgi waktu tarik tangan changmin, aih langsung slow motion gtu cweeetttt!! Pokoknya, itu cerita gantung bos, misteri ruang diatap blum terpecahkaan!! *dibekep*

    next chap next chap xD

    what? Wae el-chan? Ada yg ngebas kmu gra2 se7min?
    Hey, here se7min’s figther B-) *pinjem topeng se7en* #gayaakut

    yo! DAEBAKK el-chan!!

    • tuberculosis? chingu sakit? 😦
      hahaha..iya XD
      nanti aku kasih lanjutannya :3 skrang ujian dulu #jduar
      aaa…changmin unyu abis XDD

      yah biasalah ==” gak suka sama crack couple katanya aneh u.u #jduar
      tpi itu udah lama kok XD
      ohhh chingu yg ambil topeng se7en ya, dia sampai ngamuk2 tuh kasihan changmin kena getah #lho
      akhir kata, gomawo XD

  2. keren!!
    Speechless… Rasa.na ga da yg bisa aq bilang…
    Feel dr ff nie, aq dapet bgt!
    Request sequel dan prequel.na dong L-chan…

  3. Anyeonghasseo…#bungkuk”

    Q hdir lg neh..#ngabsen diri ndiri
    Q sdh ba yg di FB, daebak deh pokok.a
    humm… Ini sdh prnh di ffn yah?
    Q ga’ bsa koment bxak cozt dri dulu Q sdh suka bgt sma serial(?) crita ini
    so msih ad lnjutn.a kan??
    Kekekeke….. Keep writing…
    Hwaiting ne… XD XD

  4. yah~ bkn.a masih ada lanjutan.a ya? p’rasaan pas di ffn dibikin twoshoot dan ni bru 3/4.a . . . oopps, ya ga sih?! ku jga udh rada lupa, keke 😛
    *se7en : sok tau!
    ku : suka2 gw dong, sapa lu ngatur2 gw?!
    se7en : o gt y (smirk)
    ku : GLEKK (nelen ludah) A-aw #kabur*
    poko.a hrs dilanjutin, titik! DX #plak maksa
    ok, ditunggu lanjutan.a, chingu ~,<

    ^^

  5. Umma!! Nae suka banget ma ceritanya.. Apalagi nae suka banget ma cerita beauty and the beast.. Umma, umma daebakk!! >o< #standing applause to umma..

    Ceritanya belum selesai kan umma? Masih ada lanjutannya kan umma? Coz siapa changmin bagi se7en blum ke ungkap.. #gubrak.. Lanjut ya umma.. Please.. #puppy eyes..

    • wah makasih nak :*
      sama nak, umma juga suka sama beauty and the beast >w<

      blom dong 😉 tapi kita lihat saja nanti ya hehe #jduar

      ne nak *hug* #lho

  6. HUWAAAA endnya gantung bgt nih!! yadongnya manaaa~?! PLAK! XD versi lain dari beauty and the beast! daaan keren! aku suka~ idenya kreatif bgt, bisa hmpir sama gitu ama ver aslinyaah! 😀

  7. wah aku baru nemu yang kayak gini
    Se7Min yah?
    wah ternyata mereka romantis juga
    berarti Se7en bisa ngalihin Min dari makanan? ekekek
    tapi aku suka lho ama cerita nya
    wah banyakin yah ff nya
    betewe ini chapter aja gak papa kan
    kayak nya seru tuh ^^

    oh ya salam kenal 😀

    • iya 😀 kkk~
      romantis banget >w< karena se7en lebih sadis dari makanan ~_~ #plak
      hahah..klo chapter takutnya malah aneh
      mending gini aj akkk :3
      thanks ya :3

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s