Chapter 1: A Doll Named Kibum


Title : Broken Doll

Rated : M

Couple : Yunjae, Sibum (main), Haehyuk (possible others)

Genre : Romance/Drama

Warning:

NC. Smut. BDSM. Rape. PWP. BoyxBoy. Possible Mpreg.Penyalahgunaan selai semoga anda masih bisa memakan selai setelah ini :3 Typo.

Yang tidak kuat silakan kembali dan yang merasa yadong (termasuk saya) silakan melanjutkannya J cerita ini akan penuh dengan adegan Rated entah rape or non rape. Bear with me? 😉

Don’t Like Don’t Read! GAK SUKA JANGAN BACA! NO BASHING!

Sisany enjoy reading ^^

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

.

.

Dalam ruangan yang gelap itu terdapat berbagai jenis mainan yang biasa digunakan dalam melakukan kegiatan seksual secara ekstrim. Ada sejenis borgol yang menempel di dinding, tak lupa sejenis kuda-kudaan. Ada juga berbagai macam koleksi cambuk mulai dari yang panjang sampai yang pendek. Dildo dan vibrator juga terdiri dari beragam jenis. Kalau disebutkan satu persatu maka satu chapter ini akan habis hanya untuk menjelaskan kegunaan dari mainan tersebut. Maka dari itu mari kita beralih dan menuju pada suara cambukan yang terdapat di ruangan itu.

Ctar. Ctar.

Suara cambukan itu berasal dari seorang namja tampan yang sedang memegang cambuk hitam panjang. Di depannya terdapat seorang namja cantik yang sedang bertumpu pada kedua lutut dan tangannya sehingga namja cantik itu berada dalam posisi yang istilah kerennya adalah doggy style. Badannya sedikit melengkung menerima cambukan dari sang namja tampan. ”Ah…” teriaknya tiap kali cambuk itu menyentuh kulitnya yang putih mulus. Kedua namja itu tak memakai satu helai benangpun menunjukkan pada dunia tubuh mereka yang indah seperti Adam dan Hawa yang pertama kali diciptakan. Udara dingin tidak menjadi halangan bagi mereka karena saat ini yang penting adalah memuaskan keinginan mereka satu sama lain. Terlihat bahwa junior milik sang namja tampan berada di hole milik sang namja cantik. Kedua tangannya berada di pantat milik sang namja cantik untuk membantu agar juniornya bisa masuk lebih dalam. ”Urgh…” Cambuk yang tadi digenggamnya sudah dilemparkan entah ke mana.

Sang namja tampan meraih rambut pendek sebahu milik sang namja cantik sehingga kepalanya terangkat tanpa menganggu kegiatan inti mereka. Sang namja tampan mendekatkan wajah mereka dan melumat bibir plum merah itu dengan penuh nafsu. ”Urm…” desah mereka berdua. Saliva mereka saling bertautan dan samar-samar terdengar sang namja tampan berbisik, ”Hmm…Chullie.”

.

.

EH???

Chullie? Ups, maaf author salah. Itu adalah skrip untuk chapter berikutnya untuk persiapan Hanchul couple. Aduh, paboya author-shi. Oke, mana skrip yang asli?

Ah. Ini dia. Oke, mari kita ulang.

.

.

Namja ruang 407 segera menuliskan namanya –Choi Siwon – pada kertas cek yang bertuliskan nominal 201 juta dollar dan kemudian menyerahkannya kepada sang juru lelang. Doll Snow White yang telah dibelinya tadi diberikan obat bius agar tidak memberontak dan sedang duduk di kursi dengan tangan Siwon berada di pundak doll-nya. Menerima cek tersebut, sang juru lelang merasa aneh dengan angka yang tertera di atas sana. Dengan hati-hati dia pun bertanya, ”Tuan, kenapa ini 201 juta –”

Bugh.

Belum selesai terucap, sebuah kepalan tangan telah bertemu dengan wajahnya. Terlempar ke belakang tidak menghentikan kepalan lainnya yang menyentuh bagian perutnya membuatnya mundur terhempas ke dinding beton. Perlahan dia turun duduk di atas lantai memegangi perut dan wajahnya yang terasa sakit akibat pukulan tadi. Cek yang dipengangnya tadi terlempar olehnya namun jatuh tak jauh darinya.

Siwon mengangkat Snow White layaknya seorang pangeran di dalam dongeng. Dengan hati-hati dia membopongnya dengan bridal style. Kedua bodyguardnya segera datang dan berjalan di belakang sepupu Donghae itu. Beberapa pegawai lelang lainnya segera menghampiri sang juru lelang yang mulai mengeluarkan darah dari bagian wajahnya. ”Tenang saja, kau tidak akan mati.” ujar Siwon dengan pelan. ”Dan 1 juta itu, anggap saja sebagai kompensasi untuk lukamu.” Tak menunggu balasan, Siwon pun segera berlalu dengan Snow White di tangannya. Tatapannya tertuju lembut kepada namja elok bak bidadari yang sedang tertidur lelap akibat obat bius itu.

Sang driver segera membuka pintu begitu melihat tuannya datang. Siwon masuk ke dalam mobilnya dengan perlahan. Bahkan ketika masuk ke dalam limousin hitamnya dia tetap membiarkan dollnya berada dalam dekapannya. Seolah dia takut untuk melepaskan doll yang sudah menjadi miliknya.

Hanya sang binatang pengerat yang melihat ke arah mana mobil limosin itu pergi sebelum memasuki time warp.

.

.

Broken Doll

”A Doll named Kibum”

ki-bum-3

By eL-ch4n

18.02.2012

.

.

Kling. Klang.

Kurang lebih bunyi seperti itu terdengar di ruang makan yang begitu luas. Sang mentari telah kembali bersinar menunjukkan cahayanya yang indah menembus dinding ruang makan yang begitu besar. Lampu tak dinyalakan hanya menggunakan sinar mentari yang begitu terang yang sedikit menampilkan sedikit kesan remang-remang.

Bunyi ’kling klang’ itu sebenarnya berasal dari alat makan yang terbuat dari perak asli bertemu dengan piring makan yang terbuat dari beling. Pemilik dari tangan yang memegang alat makan tak lain adalah namja tampan yang memiliki wajah cukup kecil dan master dari doll yang memiliki julukan Hero.

Segala yang digunakan dan dilakukannya mencerminkan sosok seorang bangsawan sejati. Kemeja putih polos berlengan panjang, celana hitam berbahan kain, gaya makan bak bangswan terhormat dan elegan. Dalam sekali pandang, orang pasti akan beranggapan dia adalah namja bertutur kata sopan dan baik hati. Oh, apakah demikian?

Drrt….drrt…

Sekali lagi sesuatu yang bergetar terdengar tepat di hadapan sang namja tampan yang sedang duduk di kursi tuan rumah. Tak memedulikan bunyi getaran tersebut dia masih melanjutkan sarapan pagi yang ada di depannya. Ruangan makan itu juga sunyi sehingga dia menikmati suara-suara yang ada di ruangan itu bagai melodi indah di telinga. Kalian mau mendengarnya?

Urgh….urm….mas…hah…ter…Yunho…please…” Salah satunya adalah suara desahan dari seorang namja cantik yang sedang duduk di depannya. Mereka hanya terhalangi oleh sarapan pagi seorang Yunho yang berupa roti panggang dan telur mata sapi di atas piringnya, botol mentega dan selai bertebaran di sekitarnya.

Yunho menghentikan sarapan paginya yang baru saja dia makan sebagian dan menatap namja cantik yang tak memakai sehelai benangpun. Kedua tangan sang namja cantik terikat di bagian belakang membuatnya tak bisa menggerakkan tangannya sesuka hati. Kedua kakinya terbuka lebar memperlihat juniornya yang berdiri tegak dan terus mengeluarkan cairan precum. Holenya yang sekali lagi dimasuki oleh sejenis vibrator yang berbentuk seperti telur terpampang jelas tepat di hadapan seorang Yunho.

”Hmm?” tanya sang master tanpa ada niat menghampiri doll yang kelihatannya sudah sangat menderita. ”Kau memanggilku, Hero Jaejoong?”

Doll yang bernama Jaejoong mengangguk dengan cepat. ”Mas…hah…need you…hah…urmm…”

”Kau sudah tidak tahan rupanya? Padahal kemarin kau bisa bertahan selama 3 jam, tapi hari ini?” Dia terhenti sebentar dan mengecek jam tangan yang ada pada tangan kanannya. ”Baru 1 jam Jaejoong, aku berharap lebih dari ini. Lagipula, apa kau lupa?” Tangan kanannya kembali memegang pisau makan dan mulai mengoleskan selai ke atas roti panggangnya. ”Kita ada taruhan, Jae~ Kalau kau keluar sebelum aku menyelesaikan sarapanku, hukuman sudah menantimu. Kau tidak mau berjalan seharian dengan vibrator settingan maksimum dalam holemu seharian kan? Tak lupa juga dengan tali-tali yang sudah menunggu menyentuh kulit halus putihmu. Ah, memikirkannya saja sudah membuatku merasa iri dengan tali-tali itu.” Yunho tidak tahu atau tidak peduli bahwa perkataannya tidak didengar sama sekali oleh Jaejoong yang saat ini memerlukan sebuah rangsangan lebih besar daripada vibrator pada holenya. Dia sangat menginginkan masternya di dalam tubuhnya sekarang juga.

Puh…lease…Mas…hah…” Desahan kembali keluar dari mulutnya. Oh, dia sungguh sudah tidak tahan ingin keluar dan jika Yunho tak menyelesaikan makanannya segera dia tidak tahu apakah dia sanggu bertahan. Kemarin tentu saja dia bisa bertahan karena vibrator yang dimasukkan lebih besar sehingga bisa menyentuh titik prostatnya. Namun kali ini, vibrator yang ada di dalam dinding rektumnya terlalu kecil dan hanya memberikan getaran-getaran kecil, membuat dirinya ingin keluar namun tak bisa seolah tertahan. Rasa tertahan ini beda ketika ditahan oleh ring yang dikenakannya kemarin. Kalau kemarin dia bisa mencapai orgasme, kalau kali ini jangankan orgasmen, nikmat saja tidak bisa dia rasakan. Apalagi setelah kemarin dia harus memuaskan masternya sebanyak 5 ronde atau lebih dia sudah tidak tahu –lagipula dia juga sudah tidak bisa menghitungnya.

Yunho mengangkat kedua alis matanya sembari memotong roti panggang di atas piringnya. ”Kau yakin?” tanyanya sebelum memasukkan potongan roti tersebut ke dalam mulutnya. ”Karena kalau aku memasukkannya sekarang dan kau mencapai orgasmenya kau kalah sebab aku belum menyelesaikan sarapanku.”

Jaejoong mengangguk dengan cepat. Sudahlah, peduli setan dengan hukuman yang akan dia terima nanti daripada dia harus mati karena kesesakkan? Tidak lucu bukan? ”Urm…puh…hah…lease….Yunnie.

Tring.

Bunyi kedua alat makan bertemu dengan piring sekali terdengar. Yunho telah meletakkan pisau dan garpu yang digunakannya tadi. ”Baiklah, kau boleh kemari, my doll.”

Mengerti bahwa itu aba-aba bagi dirinya, Jaejoong mencoba bergerak menuju ke arah masternya. Kedua kakinya yang terbuka lebar ditutupnya dan dia bertumpu pada lututnya. Lututnya bergesekkan dengan meja makan yang terbuat dari kaca. Tidak mudah mendekati sang master karena dihalangi oleh botol selai, mentega, piring, dan alat makan lainnya. Tentunya dia tidak mungkin menjatuhkannya begitu saja mengingat akan ada hukuman lain yang bisa saja menantinya. Akhirnya, dengan pelan dia menggeserkan penghalangnya menggunakan pipi dan mulutnya. Kedua tangannya masih senantiasa berada di belakang punggungnya, terikat dengan erat namun tak cukup erat untuk meninggalkan bekas. Jaejoong berjalan seperti ular yang menggunakan perut dan lututnya hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan masternya memperlihatkan wajahnya yang sudah penuh dengan peluh keringat. ”Hah…hah…” Dia mengatur nafasnya mencoba untuk berdiri namun rasanya dia sudah sangat lelah.

Yunho masih menatap dollnya yang raut mukanya sudah dipenuhi keringat, bibir begitu memerah, mata begitu sendu, sungguh pemandangan yang menggoda. Ingin segera merengkuh dollnya dan memuaskan dirinya sekaligus mengingat celananya juga sudah mulai mengetat, namun dia masih ingin tahu sejauh apa yang akan dilakukan dollnya itu.

”Hah…Hah…” Wajah Jaejoong berhadapan langsung dengan masternya. Mata doe itu meminta tolong pada sang master untuk segera memuaskannya. Pantatnya menungging ke atas dan bersentuhan dengan udara dingin membuatnya sedikit gemetar.

Akhirnya karena tak sabar, Yunho menggendong Jaejoong sehingga namja cantik itu sekarang berada di pangkuannya tak jauh dari juniornya yang mulai membesar. ”Hah…master…”  Kedua pasang mata saling berhadapan sebentar sebelum akhirnya bibir merah bertemu dengan leher putih susu yang begitu menggoda mendatangkan erangan-erangan dari sang pemilik leher sekaligus memberikan tanda merah menutupi tanda merah kemarin. ”Urm…ah….urm, hah.” Kepala Jaejoong dimiringkan ke arah kiri untuk memberikan akses lebih kepada sang master untuk menjelajahi lehernya dengan lidah sang master yang lihai.

”Hmm…argh…nggh…” Kedua tangan sang master sudah berada pada nipplenya yang menegang. Tangan itu dengan pelan menarik anting yang terdapat pada nipple kanannya mendatangkan sakit sekaligus nikmat yang tak bisa dilukiskan. ”Hmm…argh…” Badannya sedikit melengkung ketika tangan kiri masternya telah turun menjelajahi setiap inci tubuhnya sampai akhirnya berhenti pada miliknya sendiri yang minta dimanjakan. Lidah sang master sekarang berhadapan dengan nipple kiri dan menjilatnya seperti seorang bayi yang meminum asi dari ibunya.

”Mungkin kalau kubeginikan terus menerus siapa tahu susumu akan keluar ya?” candanya kemudian segera melumat bibir plum merah yang terus mendesah tadi. ”Hmm…? Sepertinya sudah tidak sabar ya?”

Jaejoong mengangguk. ”Hah…please.” Tatapan sendu dari mata doe itu tak sanggup menahan nafsu Yunho lagi.

Zip. Akhirnya dia membuka resletingnya dan mengeluarkan miliknya yang sudah berdiri tegak untuk menyentuh udara ruang makan. Jaejoong menjilat lidahnya dan menelan ludah melihat apa yang diinginkannya sedari tadi. ”Kau menginginkannya?” Jaejoong mengangguk. ”Hmm…baiklah.” Dia mengangkat Jaejoong dan menurunkannya sehingga sekarang kepala sang doll berhadapan langsung dengan junior milik masternya.

”Gunakan ini untuk melicinkannya.” Tangan kiri Yunho memegang sebuah botol selai strawberry yang tutupnya sudah terbuka.  Jaejoong menjilatnya seperti seekor kucing yang meminum susu dari piringnya. Merasa cukup banyak mengambil selai, tangan kanan Yunho segera menarik rambut Jaejoong untuk membiarkan bibir mereka saling bertautan. ”Hmm…urn..ah.”

”Strawberry.” bisik Yunho pelan membuat sang doll tersipu merah dan mendatangkan cengiran dari Yunho. Diarahkannya sekarang kepala Jaejoong, yang mulutnya penuh dengan selai yang diambilnya dari botol dan juga dari bibir Yunho yang ternyata juga tadi memasukkan selai dalam mulutnya, tepat di depan juniornya dan memasukkannya tanpa peringatan mendatangkan sedakan dari Jaejoong. ”Hmm..urmm..”

Jaejoong membiarkan sang master memajumundurkan kepalanya untuk menentukan tempo yang diinginkan oleh sang master. ”Kurasa sudah cukup.” Setelah merasa cukup besar, Yunho menghentikan gerakan Jaejoong dan mengangkatnya kemudian memasukkan juniornya ke dalam Jaejoong tanpa mengeluarkan vibrator yang sudah berada di dalamnya lebih dulu.

”AHHHHH!!” erang Jaejoong dengan nada sedih. Dindingnya tiba-tiba saja ditembus oleh sesuatu yang lebih besar membuatnya merasa terbelah dua. Sering melakukan hal ini bukan berarti dia terbiasa mengingat bahwa dindingnya akan kembali mengetat –seperti yang sudah diajarkan di Mi[R]otic – terlebih lagi ada sebuah vibrator di dalamnya yang langsung masuk ke dalam. Dengan adanya vibrator itu, Jaejoong tak perlu waktu lama ketika sesuatu menyentuh titik prostatnya. ”Mo.h..r.e…hah..hah…master…mo..re…

Kedua tangan Yunho yang berada di pantat Jaejoong membantu menaikturunkan doll untuk bergesekkan dengan juniornya. ”Hmm…argh…kau masih…hah..saja ketat…hah…ahh…”

Splurt.

Akhirnya setelah 1 jam penuh sesak, Jaejoong bisa mengeluarkan orgasme pertamanya pada pagi itu.

Brug.

Tubuh putih polosnya bersentuhan dengan meja kaca dengan sangat tidak elit. ”Beraninya…hah…kau keluar lebih dulu, ya?” Jaejoong hanya menatap dengan mata doenya tanpa berbicara apa-apa, tapi dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan menerima hukumannya. ”Baiklah.” Yunho mengeluarkan juniornya dengan cepat membuat Jaejoong mengerang dan tubuhnya melengkung. ”Ahh…”

”Bersiaplah untuk hukumanmu nanti.”

Jleb.

Yunho sekali lagi memasukkan dirinya pada tubuh Jaejoong tanpa aba-aba mendatangkan erangan dan teriakkan dari namja yang berada di bawahnya. Hukuman untuk dollnya bisa dia pikirkan kapan saja, yang penting sekarang adalah mencapai orgasmenya terlebih dahulu. Dan sekali tusukan berikutnya akhirnya Yunho mencapai orgasmenya yang pertama sementara cairan putih Jaejoong kembali keluar mengenai dadanya dan kemeja Yunho untuk kedua kalinya.

Seringaian Yunho mengatakan bahwa ini belum berakhir. ”Lelah?” Jaejoong mengangguk pelan. ”Tapi aku belum, ayo kita lanjutkan ini lagi.”

Ya, ruangan makan di pagi hari pun menjadi pengamat dari kegiatan intim yang dilakukan dua namja itu, tapi, ini bukanlah pertama kali dia menjadi saksi bisu. Ini sudah entah keberapa kalinya ruang makan itu menjadi pengamat sejati, menunggu apalagi yang akan dihadirkan oleh kedua namja itu.

.

.

”Annyeong, Donghae’s speaking.” Suara berat dari seorang namja terdengar di ruangan yang gelap itu. Pemilik suara bernama Donghae adalah seorang namja yang memiliki rambut cokelat cepak, berwajah tampan juga sedikit mirip ikan. Tangan kanannya mengacak-acak rambutnya tanda bahwa dia merasa stress.

”Siwon? Ada apa kau memanggilku sepagi ini?” Tangan kirinya memegang ponsel yang terletak di telinga kirinya sementara tangan kanannya sekarang bertumpu di atas lutut yang ditekuknya.

”Kau harus membantuku, Donghae-ah.”

”Apa? Kau tidak membunuh orang sehingga aku harus menutup jejakmu lagi bukan?”  candanya.

”Aish, tak bisakah kau mendengarkanku dulu?”

”Baiklah…baiklah.” jawab Donghae dengan malas. ”Jadi, apa yang harus kubantu?”

”Siapa pemiliki Mi[R]otic?”

Pertanyaan dari sepupunya membuat kedua alis matanya terangkat. ”Maaf, apa aku tidak salah dengar? Seorang Choi Siwon ingin menanyakan siapa nama pemilik dari Mi[R]otic? Apakah kau yakin bahwa kau tidak salah berdoa pagi ini?”

”Lee Donghae! Aku tidak sedang bercanda kali ini! Apa kau tahu apa tidak?”

Donghae memainkan tangan kanannya seolah bersikap untuk menenangkan sepupunya walau tak tampak. ”Kalau aku mengenalnya kenapa? Apa yang ingin kau lakukan?”

”Aku ingin berbicara dengannya, dan Donghae.”

”Hmm?” Donghae menguap lebar karena dia masih merasa lelah dengan kegiatannya kemarin malam. Oh kalau dia mengulang lagi apa yang terjadi tadi malam, seulas senyuman kembali terpasang di wajahnya karena pasalnya dia juga akan melakukan hal yang sama pada hari ini. Mengingat hal itu dia melirik ke tempat tidurnya yang sudah kosong tak berpenghuni. Alis matanya terangkat. ’Ke mana dirinya?’

”Hae…LEE DONGHAE!” Suara teriakan dari Choi Siwon menyadarkan Donghae dari lamunanya. ’Cih, dia mau kuhukum rupanya. Awas saja kau Hyukjae. Hukuman siap menantimu.’

”Ada apa, Siwon? Kau tahu aku bukan morning person. Jadi sekarang katakan apa yang kau inginkan dengan jelas. Tidak seperti biasanya kau bertele-tele.” Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di otaknya. ”Tunggu, jangan bilang kau –”

”Aku ingin bertemu dengannya untuk mengurus sesuatu dan iya, aku membeli sebuah doll dari pelelangan yang kemarin kau suruh aku hadiri.”

Well, akhirnya seorang yang taat agama sepertimu memutuskan untuk membelinya juga. Ceritakan padaku, seperti apa doll itu sehingga bisa meluluhkan hati es seorang Choi Siwon?”

Donghae mendengar Siwon menggumam sesuatu seperti ”Dia lebih es daripadaku.”

”Maaf?”

”Sudahlah, jadi siapa pemilik Mi[R]otic itu? Aku memerlukan beberapa hal dari dirinya.”

Donghae berdeham. ”Dengar, Siwon. Prosedur dari pembelian itu kau memberikan cek, mereka memberikan doll dan voila, namamu akan hilang dari daftar pembeli mereka. Jadi kau tak perlu khawatir jika –”

”Dia bukan doll.” sela Siwon pelan.

” – orang tahu kau…eh?” Sepupu Choi Siwon tak memercayai apa yang baru saja didengarnya. ”Tunggu, bukan doll? Tapi kau membelinya bukan? Bagaimana bisa?”

”Makanya aku perlu bicara dengan pemiliknya. Ada beberapa yang harus kuurus.” Helaan nafas terdengar dari seberang sana.

Punggung Donghae bertemu dengan sandaran tempat tidurnya dan matanya menatap langit-langit yang terbuat dari kaca bening sehingga bisa melihat langsung pemandangan langit di pagi hari. ”Kalau dia bukan doll, jadi dia apa? Kau tahu reputasi Mi[R]otic bukan tak ada karena hal kosong. Kau yakin dengan pendapatmu?”

”Sudahlah, katakan saja siapa pemiliknya dan aku yang akan bertemu langsung.”

Donghae pun hanya bisa menghela nafas. Pasalnya kalau sepupunya sudah bertekad maka dia tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah pikiran sepupunya. ”Jung Yunho. Pemiliknya bernama Jung Yunho. Kau bisa menemuinya sore nanti di klub Viena atau kau bisa mendatangi rumahnya yang berada di kompleks Green, beberapa kompleks ke kanan dari rumahmu.”

”Baik gomawo. Dan Donghae.”

”Hmm?”

”Jangan pernah menyuruhku untuk ikut serta pelelangan seperti kemarin!”

Klik.

Gelak tawa terdengar dari mulut seorang Lee Donghae memenuhi ruangan tempat tidurnya yang kemudian menggema.

Kriet.

Pintu kamarnya terbuka pelan menampilkan sosok seorang namja cantik berambut cokelat pirang yang hanya mengenakan sebuah kemeja yang cukup besar. Kemeja yang hanya menutupi sampai ke bagian bawah tepat selangkangannya membuat tampilan namja cantik itu menggoda. Kedua tangannya memegang nampan yang berisikan sarapan pagi yang sepertinya untuk Donghae.

”Ke mana kau?” tanya Donghae dengan dingin. Namja cantik itu tersentak kaget dan nyaris menjatuhkan nampan yang dipegangnya jika dia tidak melihat rasa sedih yang terlintas di mata Donghae. Dia menghela nafas sebelum meletakkan nampan yang terdapat sarapan Donghae ke atas meja di samping tempat tidur.

Tangan kekar Donghae segera menarik namja cantik itu ke dalam pelukannya. ”Ke mana kau, Hyukjae?” Namja cantik yang bernama Hyukjae hanya menatap orbs cokelat di hadapannya tanpa berkata-kata. ”Dan perlukah kau memakai baju jika kau tahu aku akan merobeknya lagi?”

Gulp.

Hyukjae menelan ludah. Sepertinya dia sudah berada di sisi buruk masternya pagi itu. ”Mianhae, master. Saya hanya ingin mengambil sarapan untuk anda dan saya tidak mungkin keluar tanpa memakai apapun.” Donghae melirik ke arah sarapan paginya yang baru dibawa Hyukjae untuknya. Tak lama dia menghela nafas. Tangan kanannya perlahan menyentuh lembut pipi Hyukjae dan menariknya ke dalam ciuman hangat. ”Dengar, lain kali kau tak boleh keluar dari kamar ini tanpa seijinku walau kau sudah memakai baju. Heck, aku bahkan tak peduli jika kau berani keluar di sini tanpa memakai sehelai benangpun. Jika kau melanggarnya sekali lagi, aku akan melakukan ’itu’ padamu di manapun aku menemukanmu tidak peduli teriakan yang kau keluarkan dan tidak peduli tatapan dari orang lain. Setelah itu aku akan mengurungmu dan memasukkan beads dan vibrator yang kau sukai itu secara bersamaan selama satu hari penuh. Oh tak lupa juga dengan cock ring yang akan membuatmu tak bisa mencapai orgasme, kau mengerti?”

Gulp.

Hyukjae mengangguk. Dia tidak mau melawan masternya jika dia harus berhadapan dengan hukuman seperti itu. ”Lalu sampai ke mana kita tadi?” Donghae bertanya yang hanya dijawab dengan tatapan permohonan dari Hyukjae. ”Sebagai peringatan.” Tubuh Hyukjae segera terhempas di bawahnya. Mata sang doll bisa menembus nafsu yang dipancarkan oleh kedua bola mata di depannya. Donghae mendekatkan wajahnya seolah hendak mencium sang doll, namun dihentikannya dan segera berdiri menuju ke lemari –tanpa memakai sehelai benangpun.

Donghae sedang mencari sesuatu, Hyukjae yakin, tapi dia tidak tahu apa itu dan dia tidak tahu apakah dia mau tahu atau tidak. ”Master mencari sesuatu?” Suara nyaring Hyukjae terdengar namun tak dihiraukan oleh sang master. Ketika berhasil menemukan apa yang dicarinya, Donghae segera berbalik dan mata Hyukjae membulat melihat apa yang dipengang masternya. Sebuah bando bertelinga kucing dan sebuah ekor kucing buatan berwarna hitam berada dalam genggaman tangan masternya.

Hyukjae meneguk ludahnya bertumpu pada kedua tangannya di atas tempat tidur mereka. ”Master?”

Sebuah seringaian menjadi jawaban dari pertanyaan Hyukjae. Donghae segera menarik kepala Hyukjae dengan kasar dan melumatnya. Perlahan tangan kirinya memasangkan ekor yang ujungnya seperti dildo panjang dan besar ke dalam hole Hyukjae. ”Hmm…prr…” Tubuh Hyukjae melengkung, desahan terdengar ketika dengan lihai masternya memasukkan ekor tersebut dan langsung menyentuh titik prostatnya. ”Hah…errm…”

Mata cokelat polosnya membuat Donghae harus bisa mengontrol dirinya agar tidak langsung menyerang dollnya saat ini juga –tidak tanpa memberikan hukuman manis bagi sang doll. ”Ah…ah…” Donghae menggelengkan jari telunjuk kanannya ketika Hyukjae ingin segera melumat bibir sang master kembali. ”Ini adalah hukuman karena membuatku marah, my slutty doll. Ups, hari ini kau akan menjadi kitten. Sebagai kucing kau tidak boleh berkata apapun, kecuali?” Donghae mengangkat alisnya menunggu dollnya untuk menjawab.

Namja cantik itu menelan ludah mengetahui bahwa masternya menginginkan jawaban yang tepat atau dia akan marah lagi. ”Meow.” Kepalanya sedikit terangkat untuk bertemu pandang dengan masternya sekali lagi.

Elusan pelan diberikan oleh sang master kepada kepala dollnya. ”Bagus, seharian ini kau adalah my kitten doll, mengerti?”

”Ya…argh…”Tubuhnya melengkung ketika dirasanya sesuatu bergetar hebat di bagian bawahnya. Melirik ke sebuah remote yang dipegang oleh masternya barulah dia tahu apa yang bergetar itu. Dildo yang ada di dalam dirinya bukan hanya sebuah dildo diam tetapi juga sejenis vibrator yang memberikan pelumas sehingga dildo tersebut semakin masuk ke dalam tubuhnya.

”Maaf, apa jawabanmu?” Donghae menggeser tombol ke arah maksimum.

Hyukjae merangkak dan menunggingkan pantatnya ke arah atas. Karena tak memakai apa-apa selain kemeja putih milik masternya, bagian bawahnya terlihat dengan jelas. ”Mee..oowww…~” Lengkingan terdengar dari sang doll mendatangkan sebuah senyum puas di wajah sang master. Tombol off pun ditekan membuat Hyukjae menghela nafas. ”Hah…hah…”

”Seekor kucing tak memerlukan baju bukan?” tanya Donghae yang langsung dijawab dengan anggukan dari Hyukjae. ”Bagus kalau kau mengerti.”

Srip.

Dengan sekejap kemeja yang memeluk tubuh putih itu sekarang sudah terlepas, terlempar entah ke mana. Bunyi kancing kemeja berjatuhan terdengar. ”Me…meoww~” Hyukjae meletakkan kedua tangannya ke atas dada masternya hendak meminta ciuman hangat dari sang master, namun ketika bibir mereka telah bersentuhan, sang master telah melepaskan dan mengangkatnya seperti mengangkat kucing kemudian membiarkannya merangkak di atas lantai marmer yang dingin. ”Maaf tapi untuk kucing nakal sepertimu, kau harus tidur di bawah dan aku tidak akan menciummu sampai kau sadar akan kesalahanmu.”

Donghae pun kembali menutup mata menunggu sampai mentari siang membangunkannya. Tak lupa sebelumnya menyetel tombol tersebut ke arah minimum sehingga dildo tersebut bergetar pelan tanpa disadari oleh dollnya.

Pagi itu Hyukjae merasakan apa yang dinamanya kedinginan walau Donghae sudah memberikannya selimut tebal, namun Hyukjae tetap merasa ada sesuatu yang kurang –sesuatu yang bernama Lee Donghae.

.

.

Siwon menyibakkan poni milik doll yang baru dibelinya tadi. Dengan hati-hati dia mengelus pelan wajah namja cantik itu. Dia baru saja menelepon sepupunya untuk mengetahui lebih lanjut tentang namja cantik yang dijuluki Snow White yang menurut Siwon sangat cocok untuk dirinya. Kulitnya putih mulus bagai salju yang baru turun. Bibir plum merahnya bagai darah seolah minta untuk dicium. Rambut hitam sehitam arang dan matanya yang hitam membuat namja cantik ini begitu sempurna.

Dia tidak mengerti kenapa dia memutuskan untuk membeli doll yang dia ketahui ternyata bukanlah doll. Ada sebuah ketertarikan ketika mata mereka bertemu sekilas seolah ada yang menariknya begitu dalam. Sebuah senyum lembut terukir di wajah seorang Choi Siwon. Sebuah senyuman yang sudah lama tak muncul semenjak kematian kedua orang tuanya dalam peperangan tak berwujud.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mengetahui bahwa namja cantik yang ada di atas tempat tidurnya sekarang ini bukanlah sebuah doll. ’Jaga pikiranmu Choi Siwon. Tuhan pasti tak menginginkan kau melakukan hal ini.’ tegurnya berkali-kali. Dia tahu bahwa namja cantik ini bukanlah doll karena di pergelangan tangan kanannya terdapat dua buah tusukkan jarum yang di tengahnya terdapat sebuah tulisan ’S-01’.

Sebenarnya bagi beberapa orang tulisan itu tak akan berarti apa-apa, tapi bagi Choi Siwon yang sudah lama berada di dalam kedokteran dan riset, tulisan itu menandakan sesuatu –seuatu yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Mungkin dia memang benar doll, tapi dia bukan hanya sekedar doll. Ada sesuatu, ada sesuatu yang membuat namja cantik ini menariknya membuatnya merasakan perasaan untuk memiliki sesuatu.

Dicondongkan badannya sehingga wajah mereka hanya tersisa beberapa inci. Hembusan nafas dari sang namja cantik bisa dirasakannya. Kalau dilihat dari samping mereka seperti kisah dongeng bagian pangeran yang menemukan Snow White dan mendekatkan dirinya untuk mencium Sang Putri Salju mengeluarkan racun dari tubuhnya. Siwon tertawa pelan sembari menarik kepalanya. Rasanya lucu juga memikirkan hal itu, tapi sepertinya tak ada salahnya untuk mencoba bukan? Sedari tadi dia tertarik untuk merasakan bibir plum merah segar itu. ’Hentikan Choi Siwon, kau harus berhenti berpikir yang tidak-tidak.’

Akhirnya Siwon pun memutuskan untuk berdiri dan keluar dari kamarnya. Dia harus mengurusi beberapa hal salah satunya adalah menghubungi Jung Yunho. Ketika kenop pintu sudah berputar, sebuah suara menghentikannya. ”Urr…” Rupanya Sang Putri Salju akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.

Siwon segera mengambil langkah panjang menuju ke samping tempat tidurnya.

”Di mana aku?” Itulah yang pertama kali didengar Siwon. Pertanyaan yang sudah bisa ditebak. ”Ah, kau yang membeliku.” Ketika mata mereka bertemu, Snow White menyadari Siwon sebagai master yang baru saja membelinya. ”Baiklah, kau mau langsung melakukannya sekarang atau –”

”Atau apa?” Dengan jarak sedekat ini, Siwon bisa melihat bahwa kulit namja itu sangat mulus bahkan lebih mulus dari setiap yeojya yang pernah dia temui (yang tidak banyak mengingat betapa ketatnya perlindungan dari pemerintah). Mata hitamnya begitu pekat dan indah, seperti sebuah batu onyx yang langka. ”Sudahlah badanmu masih lelah.” Siwon sekali lagi menarik dirinya dan mengelus kepala namja cantik yang sudah terduduk di tempat tidurnya dengan lembut. ”Istirahat saja.”

”Aku masih virgin.” ujar namja cantik itu dengan tegas tanpa memedulikan perkataan Siwon. ”Tapi, aku cukup tahu bagaimana cara memuaskanmu.”

Seperti dirasuki sesuatu, Siwon segera mendorong tubuh Snow White sehingga sekarang dia berada di bawah Siwon. Muka mereka saling berdekatan, kedua pasang mata saling menatap, yang satu dipenuhi rasa sendu dan pengkhianatan, sementara yang satu dipenuhi dengan rasa bingung namun lembut. Sebuah senyum terukir pada muka Siwon. ”Tenanglah, kau istirahat saja dulu. Nanti kita bicarakan lagi, arasso?”

Ketika Siwon hendak berdiri, dia merasa tertarik ke bawah dan tak lama akhirnya permintaannya terkabul. Dia bisa merasakan bibir plum merah itu dan seperti pikirannya rasanya sangat manis dan memabukkan. ”Hah…hmm…” desahan-desahan pelan dikeluarkan oleh sang doll –yang bukan doll – meningkatkan libido dari seorang Choi Siwon. Hampir saja Siwon mengerape namja yang ada di bawahnya jika sesuatu di otaknya tak berteriak menyuruh dia untuk berhenti.

Akhirnya tautan merekapun berhenti, saliva saling bertukar. Mata namja di bawahnya penuh nafsu dan kemauan –entah apa Siwon tak tahu. Jika Siwon tak tahu mungkin dia akan berpikir bahwa namja di bawahnya memakai lipstik merah membara. ”Siapa namamu?” tanya Siwon pelan. Sungguh pertanyaan di luar dugaan.

Mulanya sang doll terlihat ragu untuk menjawab namun melihat mata Siwon yang lembut, tapi tegas, dia meneguk ludah sebelum berkata. ”Kibum. Namaku, Kibum, master.”

.

.

To be continued…

.

.

AN:

Setelah saya pikir-pikir enaknya bersambung aja deh, kalau oneshot mikirnya susah -_-” dan saya memutuskan untuk memasukkan

Hanchul couple

Last

Review please? 😉

3001ChangMinnie

Thanks for reading

Advertisements

40 responses to “Chapter 1: A Doll Named Kibum

  1. aduh saya speechless bacanya, ga bisa berkedip sama sekali
    gyahaha
    tapi couple yang saya tunggu” belom keluar nih

  2. Oh, yang kemarin itu Siwon toh? Kibum yang jadi doolnya Siwon? Hati-hati Siwon bisa-bisa karena godaan Kibum kau yang alim jadi nggak alim lagi ==”

  3. aaaahhh…. tyata doll yg dibeli siwon kibum yaaa….
    huhuuu…. kasian hyunkjae je kucing tp sexy…..
    sementara jaejoong…. aigooo, hukuman apa yg diberikan oleh masternya yunho?
    penasaran bgt….^^,

  4. cerita.a gax ada yg berubah ya sama yg di ffn…..tapi malah bagus readers dri ffn jd gx bingung….
    buat author semangat buat lanjutin karyanya ya……^.^

  5. kaga kebyang pas hyukjae jd kitty pasti lucu dan sexy gtu..//di geplak donghae..
    ternyata..eh.. ternyta seorang manusia alim kyk choi siwon jga suka ke club yang kyk gtu ya..
    tp wonpa so sweet bnget lah sma kibum.. dy kyk.y kaga kyk yang laen ne yang rada keras gtu sma dollnya..

  6. dari awal chapter ini fict udah menegangkan, ya ampun…….
    penyiksaan dollnya gx tanggung2. tinggal siwon aja yg belom keliatan gimana cara dia ke kibum

  7. ah keren
    jadi ngebayangin hyuk yang lagi dhukum hae,gak nyangka kalo hae bisa juga kejam
    tinggal Sibum nih yang belum beraksi

  8. Seperti sedang membaca beberapa chapter dlm satu chapter. Walo bcerita ttg 3 couple y beda tp tetap asik bacanya..udah nggak sabar mo baca chap selanjutnya.

  9. Hanchul tiba-tiba nongol langsung rated 20 tahun keatas xD
    YunJae udah beraksi… Haehyun udah beraksi..
    Tinggal Sibum yg belum beraksi…
    Eh se7en ama changmin belum ketemu juga kayaknya..

  10. akhirnya sdh mulai jelas… pmilik mirotic trnyta yunho…
    mkn pnsrn ma lnjutnnya…
    siwon, msh polos nich… tpi kibum’a yg “wow” XDDD

  11. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

  12. Tuh kan bnr ke 3 pasangan itu yunjae,sibum n haehyuk
    Tp knpa di awal tba2 mncul heechul ya???

    Ceritanya mkin seru n menegangkan
    Lanjuttttttttt 😉

  13. wahhh hot banget yunjae sm haehyuk
    hadeeehhh keren keren ini ff
    hot dan top banget deh
    ckckckkc si siwon malu2 aja
    seru ini ff

  14. speechless…. ><
    aduh itu si jaejoong bakal dihukum sama yunho?
    terus itu si hyukjae jadi kucing? aigo pasti sexy abis /plak/ xD
    itu si tuan choi jadi kagak alim lagi dong xD

    oh ya, disini ada se7min kah?

  15. Ommoooo siwon oppa sweet banget ~~~
    Wahhh kayanya kealiman siwon oppa bakal terkikis disini *geleng2*

    Apa disini master sama doll saling mencintai atau hanya sebagai pemuas nafsu aja~~~

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s