Chapter 10: Prelude


.

Title : Broken Doll

Rated : M

Couple : Yunjae, Sibum, Haehyuk (possible others)

Genre : Romance/Drama

Warning:

NC. Smut. BDSM. Rape. PWP. BoyxBoy. Mpreg.

Yang tidak kuat silakan kembali dan yang merasa yadong (termasuk saya) silakan melanjutkannya cerita ini akan penuh dengan adegan Rated entah rape or non rape.Bear with me? 😉

Don’t Like Don’t Read! GAK SUKA JANGAN BACA! NO BASHING!

Oke selamat membaca

Summary : Dia adalah masterku dan aku hanyalah doll untuk memuaskan nafsunya.

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

.

.

Namja tampan dengan sedikit sentuhan manis itu sedang berdiri dengan tegap di depan jendela yang tinggi dan lebarnya dua kali lipat dari ukurannya. Matanya menerawang pada apa yang ada di balik jendela tersebut. Kedua tangannya sendiri sedang terlipat di belakang pinggangnya. Dari caranya berpakaian, tampak bahwa dia hanyalah seorang namja yang sederhana. T-shirt bergaris horizontal dengan warna biru tua dan putih dipadu dengan celana jeans panjang.

Deru nafasnya terdengar menggema di ruangannya yang sepi. Hanya ada tempat tidur yang menemani kesehariannya beserta dengan meja kerja yang sedang dibelakanginya. Matanya sedikit menunjukkan rasa pilu kala melihat apa yang ada di hadapannya. Pemandangan yang begitu mengerikan. Gedung-gedung tinggi yang dulu berdiri dengan kokohnya, sekarang runtuh hingga tersisa puing-puing belaka. Mayat-mayat bertebaran dengan cairan merah menghiasi warna gedung yang kelam.

Sejenak matanya terpejam mencoba mereka ulang semua yang ada di otaknya. Perlahan iris mata hitam bening itu perlahan terbuka dan pemandangan yang tadi dia lihat sekarang hilang berganti dengan taman belakang yang berwarna hijau dipadu dengan beberapa warna lain dari bunga-bunga yang ditanam.  Pemandangan itu seolah menghilang begitu saja dalam sekejap, entah bagaimana caranya.

Dari balik pintu, suara ketukan terdengar. Sang namja yang tadi sedang berdiri tak memberikan aba-aba, tapi yang di balik pintu tahu bahwa dia telah diijinkan untuk masuk. Maka dari itu, perlahan pintu terbuka dan menampilkan sosok seorang yeojya yang memiliki rambut hitam bergelombang yang panjangnya sebahu. Kacamata yang dia kenakan membuat yeojya itu terlihat seperti tipe-tipe jenius. Mata hitamnya menelusuri ruangan dan menemukan sosok orang yang dicarinya.

”Tuan,” panggilnya pelan sembari membungkuk 90 derajat untuk memberi hormat.

Kim Na Si, apakah ini tandanya bahwa mereka semua sudah berkumpul?” tanya namja itu tanpa memutar badannya.

Yeojya yang sudah berada di depan meja sang namja dan sudah berdiri dengan tegap, menjawab dengan pelan, ”Ne, tapi hanya Neve dan Savior yang baru sadar. Menurut perhitungan saya, sepertinya tak lama lagi mereka akan tiba ke sini, tuan.”

Namja itu mengangguk. Tampak dari raut wajahnya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Entah apa itu, tidak ada yang tahu. Sudah menjadi maid dari namja itu 20 tahun lamanya dan Na Si masih belum bisa menyelami perasaan tuannya. ”Tak lama lagi dalam artian?”

Gulp.

Na Si meneguk ludahnya dan kemudian menghitung kembali di otaknya. Dia sedang mencerna informasi yang baru saja dia peroleh untuk disampaikan pada tuannya. ”Mungkin sekitar 2 bulan lagi, itupun dengan anggapan –”

”Dengan anggapan scion belum bangkit, benar?” sela sang tuan.

”N..n…ne,” jawab Na Si sembari mengangguk dengan gugup. Tuannya memang berwajah sangat ramah, tapi di baliknya, dia tahu ada kelicikan dan kekejaman yang tersembunyi. Benar kata orang bahwa mereka yang pendiam, ketika marah, akan jauh lebih mengerikan.

Aura yang dikeluarkan oleh namja itu berbeda dari sebelumnya. Ada sebuah tekanan yang tampak seperti pisau tak terlihat yang bisa memotong apa saja. Helaan nafas ditarik oleh sang namja sebelum dia memutar badannya hingga bertatapan dengan orbs hitam Na Si. ”Suruh Lee Joon untuk mengerjakan tugasnya, kita harus bersiap-siap untuk menghadapi kedatangan mereka.”

Yeojya itu mengangguk dengan cepat tak ingin membuat tuannya marah. Setelah namja itu kembali ditinggal sendirian, sebuah senyuman terukir di wajahnya. Bukan senyuman amarah, juga bukan senyuman sedih ataupun senang. Hanya sebuah senyuman tanpa emosi di dalamnya. Dia menatap ke atas, ke arah langit-langit ruangan yang transparan sehingga dia bisa langsung melihat awan. Matanya terpejam sejenak. Kilasan masa lalu melintas di otaknya dan kemudian tetesan bening itu mengalir membasahi pipinya.

Saudara sekalian, marilah kita berkenalan dengan Jung Yonghwa, zenith yang seharusnya sudah meninggal 20 tahun yang lalu.

.

.

Broken Doll

”Prelude”

20130126-233544.jpg

by eL-ch4n

11.05.2012

.

.

Pernahkah kau berpikir andai satu ketika saat kau membuka matamu

Kau mendapatkan dirimu berada pada sebuah dunia yang berbeda?

10 tahun yang lalu…

Namja manis yang terbaring di atas kasur itu mengerang sembari matanya yang tertutup itu perlahan terbuka. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dirinya dengan cahaya yang diterimanya. Kesadarannya masih setengah berada di alam mimpi hingga akhirnya sebuah suara mengejutkannya dan membuat dia sadar sepenuhnya.

”Kau sudah bangun?” Suara itu sedikit ringan dan ada ketenangan di dalamnya.

Sang namja manis itu memutar kepalanya sedikit dan mendapati seorang namja tampan yang tidak pernah dia temui. Namja tampan yang sedang membawa nampan berisi roti dan selai, sepertinya sarapan untuk dirinya. ”Siapa kau?” tanyanya dengan suaranya yang indah.

Hanya kekehan yang menjadi jawaban yang dia terima atas pertanyaannya. ”Kau tidak perlu tahu siapa diriku, tapi kau bisa memanggil diriku Ardent,” jawab namja tampan itu tanpa menanggalkan senyumannya.

”Di mana diriku? Siapa aku?” Akhirnya sesuatu menyadarkan namja manis itu. Dia tidak tahu siapa dirinya dan di mana dia berada sekarang. Setiap dia berusaha untuk mengingat jati dirinya, kepalanya begitu sakit seperti ditusuk seribu jarum.

”Tenanglah.” Namja manis itu merasa familiar dengan suara milik namja itu. Mungkinkah mereka pernah bertemu sebelumnya? Mengingat bahwa dia hilang ingat, hal itu bukanlah mustahil. Penampilan Ardent juga sangat tenang dan mapan, sesuatu yang meneriakkan kehangatan dan itulah yang dirasakan oleh namja manis itu ketika tangan kanan Ardent membelai pipi kanannya dengan lembut. ”Kau cantik,” bisiknya perlahan membuat semburat merah muncul di kedua pipi sang namja manis.

Seharusnya dia merasa kesal kala dirinya disebut dengan cantik mengingat bahwa dia adalah seorang namja, tapi entah kenapa dia merasa tak keberatan ketika dipanggil dengan sebutan itu oleh sang namja tampan yang mulai mendekatkan jarak yang ada di antara mereka. Detik sebelumnya ada jarak yang terbentuk di antara mereka, dan detik berikutnya jarak itu hilang ketika bibir sang namja tampan menempel di bagian bawah bibirnya. Kalau dari samping, mereka terlihat seperti sedang berciuman, tapi sebenarnya tidak. Ciuman yang mereka bagi hanya sekedar sapaan dan entah kenapa namja manis itu pernah merasakan hal itu sebelumnya. Sekali lagi, hal yang aneh di pagi hari itu.

Mata yang tadinya terpejam karena ekspetasi perlahan terbuka kembali menampakkan orbs hitam bening yang menenggelamkan siapapun yang menatapnya. ”Di mana aku?”

Namja tampan itu kemudian menarik dirinya dan duduk di ujung meja yang ada di sebelah kasur sehingga sang namja manis harus memutar dirinya ke arah kanan sedikit untuk bisa saling berhadapan. ”Kau berada di rumahku, tempat yang paling aman.”

Ingin bertanya lagi, namun namja manis itu menahan dirinya dan membiarkan Ardent melanjutkan apa yang ingin disampaikan oleh namja itu. ”Sepertinya kau benar-benar tak mengingat masa lalumu, eh?” Namja manis itu menggeleng. ”Baiklah kalau begitu,” gumamnya perlahan. ”Kau tentu tahu 80 tahun yang lalu kita berada dalam masa perang yang paling mengerikan? Perang pada masa kelam?” Cukup lama bagi namja manis itu untuk mengangguk secara perlahan. Sebenarnya dia juga tidak mengerti apa tujuan dari pembicaraan mereka ini. ”Kuberitahu sesuatu, alasan di balik peperangan itu adalah hal yang simpel,” gumam Ardent.

Ardent berdiri tegak dan kemudian berjalan ke arah jendela yang letaknya di samping kiri kasur tersebut. Orbs hitam milik sang namja manis tak pernah lepas dari sosok Ardent. Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang berteriak ingin merasakan kehangatan dari Ardent. ”Apa?” Akhirnya setelah menemukan keberanian dari dirinya, namja itu kemudian bertanya.

Cinta,” jawab Ardent dengan tenang tanpa memutar badannya. ”Cinta yang dirasakan oleh dua penguasa yang paling berpengaruh pada zaman itu. Cinta terhadap seorang yeojya yang hanya bisa memilih salah satu. Keegoisan dari dua orang namja itu membuat sang yeojya tak bisa memilih hingga akhirnya memutuskan untuk menghilang. Dua penguasa itu kemudian saling menuduh bahwa salah seorang dari mereka menyembunyikan yeojya itu dan selebihnya kau tahu, seperti zaman dulu, perang dimulai karena ingin merebut sang yeojya dari lawannya.”

Cerita yang terdengar familiar, cerita yang klise, namun entah kenapa cerita itu begitu dekat di hatinya. ”Di mana? Di mana yeojya itu sekarang?”

Ardent pun akhirnya berbalik dan menatap namja manis itu. ”Menurutmu?” tanyanya dengan nada santai. Namja manis itu bingung, matanya mengekspresikan ketidaktahuannya. ”Ah ya, kau bertanya siapa namamu bukan?” Ardent mengalihkan pembicaraan mereka dan namja manis itu sadar bahwa ada sesuatu yang ingin disembunyikan Ardent maka dia hanya bisa mengangguk perlahan. ”Kau bisa memanggil dirimu dengan sebutan Neve.”

.

.

Pernahkah kau berharap agar dia yang di sampingmu adalah dia yang kau cintai?

Kibum terduduk di atas ranjangnya. Tangannya terlipat karena dia baru saja berdoa, meminta petunjuk dari Yang di Atas mengenai apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Semuanya terlalu mudah. Semuanya terlalu cepat. Apakah dia masih diberikan kesempatan untuk melewati semuanya kembali? Atau dia harus kembali kehilangan semuanya?

Tok. Tok.

Suara ketukan di pintu menyadarkan dirinya dari lamunannya dan dia hanya bergumam, ”Masuk,” sebagai jawabannya.

Pintu otomatis itupun bergeser ke samping dan sosok tinggi Changmin terlihat berjalan mendekat ke arah Kibum. Namja manis itu hanya duduk terdiam dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi, mengabaikan kehadiran Changmin di sampingnya. Terlalu banyak yang sedang dia pikirkan hingga dia tidak menyadari tatapan sedih dari Changmin.

”Bummie,” panggil Changmin dengan lembut. Masih juga tak mendapat jawaban dari Sang Neve, Changmin akhirnya menyentuh pundak Kibum untuk mendapatkan perhatian yang dia cari.

Satu sentuhan dari Changmin dan tiba-tiba saja Kibum mendesah, ”Ahh~”

Kibum sadar akan satu hal. Ketika dirinya menjadi seorang doll, tubuhnya menjadi begitu sensitif terutama ketika dia hampir tidak disentuh oleh master-nya selama lebih dari 20 jam. Satu sentuhan dari Changmin tadi membuat tubuhnya semakin bergetar dan tentu saja hal ini tidak dilewatkan oleh namja jangkung yang duduk di sampingnya. ”Bummie?”

Tak tahan lagi akhirnya Kibum mendorong Changmin hingga dia menindih tubuh jangkung Changmin. Bibir mereka saling bertemu, lidah saling bertaut, saliva saling bertukar, dan suara decakan saliva menggema di ruangan. Mulanya Changmin terkejut dengan tindakan Kibum, namun perlahan dia menutup matanya dan juga membalas perlakuan Kibum. Dia juga mengalami hal yang sama dengan Kibum mengingat dia juga adalah seorang doll.

Bibir Changmin kemudian menempel pada pipi Kibum dan bergeser pelan pada leher Kibum yang begitu putih dan menggoda. ”Ahh~” desahan yang dikeluarkan Kibum meningkatkan libido yang ada di dalam tubuh Changmin.

Keinginan untuk saling melepaskan hasrat itu jauh lebih besar daripada logika rasionalitas mereka. Dalam sekejap saja, atasan mereka sudah terlepas begitu saja membuat tubuh mereka topless. Dada polos mereka saling bergesekkan mendatangkan rangsangan tersendiri. Lidah Changmin bermain-main pada nipple Kibum yang sudah memerah, meminta untuk diperhatikan. Tangan kanannya sedang memilin nipple yang satunya dan mendatangkan erangan dari Kibum. ”Ohh…yeshh…ahh~

Dalam sekejap Changmin memutar tubuh mereka hingga sekarang Kibum yang berada di bawahnya. Lidahnya mulai bermain-main dan menjelajahi setiap tubuh Kibum yang kelihatan. Oh, ini adalah rasa yang pernah dia cicipi dulu. Ketika sebelumnya mereka saling mencari kehangatan. Tapi, mereka tak pernah melakukan lebih dari batasan. Hanya memberikan blow job bagi satu sama lain untuk melepas birahi mereka.

”Ahh, more…Changmin~” Tubuh Kibum melengkung ke atas seolah menggoda Changmin untuk menjilat kembali nipple-nya yang menegang. Getaran hebat dirasakan Kibum kembali kala lidah itu bermain pada nipple-nya.

Hangat.

Itulah yang dirasakan Kibum ketika bibir Changmin mencium perutnya seolah dia adalah orang yang paling berharga di dunia. Kehangatan itu entah kenapa membuat Kibum merasa sesak. ”Hen…hentikan,” bisik Kibum saat Changmin menyentuh gundukan yang ada di selangkangannya.

Dia kembali teringat di mana mereka berada sekarang dan posisi mereka. Ini bukanlah hal yang baik. Erangan kecewa keluar dari bibir Changmin, namun namja itu memutuskan untuk menuruti permintaan Kibum. Dapat dilihat ekspresi keraguan yang terukir di wajah Kibum. Satu ekspresi yang Changmin kenal dengan baik. ”Hei, gwenchana?” tanyanya dengan lembut sembari tangan kanannya membelai pipi Kibum dengan perlahan.

Tubuh Kibum gemetar dan isak tangis dari namja manis itu perlahan terdengar. Pemandangan yang menyayat hati. ”Mian, mian,” isaknya perlahan.

Ekspresi Changmin melembut dan bisa terlihat dari balik iris matanya, ada kesedihan yang disembunyikannya. ”Ne, gwenchana, Bummie, aku di sini, aku selalu di sini,” bisiknya dengan nada halus pada telinga Kibum. Tangannya melingkar pada leher Kibum dan mengangkat tubuh mungil Sang Neve sedikit hingga dada polos mereka kembali bergesekkan, tapi kali ini bukan karena hasrat, melainkan karena ingin mencari ketenangan.

Tangan Changmin perlahan turun ke pinggang ramping Kibum sementara Sang Neve melingkarkan tangannya pada leher Changmin dan membenamkan kepalanya pada leher Changmin. Dengan lembut Sang Savior membelai punggung polos Kibum yang bergetar dan menenangkan namja manis itu. Isak tangis tertangkap oleh indera pendengarannya, tapi dia berusaha untuk tidak menghiraukannya.

Setelah merasa bahwa Kibum sudah mulai tenang, dia melonggarkan pelukannya sehingga sekarang keduanya saling berhadapan. Lengan Kibum masih melingkar di lehernya dan detik berikutnya bibir mereka kembali bertemu. Hanya saja, kali ini lebih lembut. Ciuman ini seolah mengatakan bahwa mereka berharap yang di hadapan mereka saat ini adalah orang lain. Tapi, mereka tahu itu adalah hal mustahil. Karena itulah, mereka hanya bisa bersyukur dengan apapun yang bisa mereka terima sekarang.

Tetesan bening yang mengalir dari kedua pasang mata mereka seolah ingin menunjukkan harapan mereka agar semua ini berakhir dan mereka bisa kembali pada orang yang mereka inginkan.

.

.

Pernahkah kau berharap agar waktu terulang kembali?

Rapat tahunan itu akhirnya selesai dan tak banyak yang ditambahkan selain penjelasan mengenai Male Pregnancy yang akan dijalankan oleh Amerika dan dibantu oleh Cina. Tentu saja hal ini ditentang oleh Rusia yang dipimpin oleh Soo Man. Jika Male Pregnancy berhasil, berarti keutuhan negaranya akan terancam. Selama ini dia mendapat pasokan biaya dari negara lain, karena negaranya adalah satu-satunya negara yang udaranya masih belum tercampur oleh virus dan tempat yang baik bagi para yeojya untuk bertahan. Itulah sebabnya dia sedikit takut, kalau Male Pregnancy berhasil, maka negara lain akan mengambil yeojya dari negaranya dan negaranya akan kehilangan pasokan dana untuk mengerjakan hal yang direncanakannya.

”Sial, kalau begini caranya aku harus bertindak cepat,” desis Soo Man yang keluar dari ruang rapat diiringi dengan Yang Hyun Suk.

”Sepertinya, anak muda yang kau remehkan, mulai bergerak, eh, Soo Man –shi?” Penekanan ’shi’ pada kalimatnya membuat Soo Man kembali mendesis atas ejekan yang dilontarkan Yang Hyun Suk.

”Apa maumu?” tanya Soo Man dengan wajah yang penuh amarah.

Yang Hyun Suk hanya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk kembali berjalan meninggalkan Soo Man yang masih dilanda emosi. Sebuah tepukan di pundaknya membuat dia harus memutar kepalanya dan melihat sosok Se7en yang tersenyum penuh kemenangan. ”Annyeong, Soo Man-shi, aku harap anda tidak keberatan dengan hasil rapat tadi,” ujarnya penuh dengan rasa sarkasme di dalamnya.

Soo Man terdiam sesaat kemudian tak lama dia menyeringai. ”Tentu saja, Se7en-shi, bagaimana mungkin saya keberatan dengan keputusan anda yang sangat menjanjikan itu.”

Menyadari ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang pemimpin Rusia itu, Se7en kembali mendesak namja bermarga Lee itu kembali. ”Oh begitu, tapi saya harap anda juga tidak ada masalah dengan Jiyong yang bekerja sama dengan anda,” tambahnya lagi. Sedikit ada rasa senang ketika melihat kontrol Soo Man terhadap dirinya menghilang sesaat. ”Ah, anda tentu tidak masalah bukan kalau sebagian yeojya yang ada di tempat anda dipindahkan ke Indonesia?”

Namja penguasa Rusia itu menahan emosi yang ada di dalam dirinya. Dia menarik nafas sejenak sebelum kembali tersenyum penuh misteri di hadapan Se7en. ”Ah, bagaimana mungkin saya menolaknya? Seperti yang tadi sudah dijelaskan oleh Jiyong-shi, sejak peperangan terjadi, Indonesia sudah jauh lebih maju dari sebelumnya, bahkan jauh lebih baik daripada saat mereka mencoba bangkit dari penjajahan Belanda 165 tahun yang lalu.”

Se7en mengangguk, walau sebenarnya dia merasa sedikit curiga dengan ketenangan yang tersembunyi di balik amarah Soo Man. ”Se7en-shi,” tegur Soo Man yang membuat perhatian Se7en kembali kepada namja yang ada di hadapannya. ”Apakah pernah anda mengharap untuk mengulang waktu?”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Soo Man membuat Se7en sedikit tersentak kaget. Pernahkah? Oh, dia selalu berharap setiap malam bahwa waktu akan terulang kembali, namun dia tahu hal itu mustahil. Dia bukan Tuhan dan kalaupun iya, dia juga tidak bisa sembarangan mengulang waktu, ada paradox yang akan terbentuk jika dia nekad melakukannya. ”Ah, semua juga mengharapkan hal yang sama, bukankah anda sendiri juga demikian, Soo Man-shi?” tantang Se7en balik.

Aura yang dikeluarkan oleh dua penguasa negara adidaya itu begitu kuat dan menekan, membuat hampir semua yang ikut dalam rapat itu, terpaksa menyingkir. Mereka tahu lebih baik daripada mencari gara-gara terhadap kedua namja tersebut. Membuat Se7en dan Soo Man marah sama saja dengan mencari mati. ”Heyo! Apa yang sedang kalian bicarakan?!” sapa sebuah suara dengan nada ceria yang seketika itu juga menghilangkan atmosfir mengerikan di antara mereka.

Kepala Se7en memutar sedikit dan menghela nafas mendapati Jiyong tersenyum lebar di samping mereka. Inilah sosok Jiyong berbeda. Di saat rapat, namja pemilik rambut unik itu akan menjadi serius, tapi setelah selesai, dia akan kembali menjadi namja yang ceria dan pencerah suasana. ”Jiyong,” gumam Se7en sembari menggelengkan kepalanya dengan perlahan.

”Jiyong-shi,” sapa Soo Man yang menahan gemertak gigi.

Jiyong yang mendengar namanya dipanggil hanya tersenyum lebar tanpa menghiraukan tekanan yang dikeluarkan Soo Man terhadapnya. ”Ah, sepertinya aku mendengar seseorang ingin memutar balik waktu, apa yang menyebabkan anda tiba-tiba berpikir hal seperti itu, Soo Man-shi?” tanya Jiyong yang kemudian menatap ke arah Soo Man dengan sebuah cengiran di wajahnya.

Soo Man juga ikut tersenyum, namun senyumnya menyimpan sebuah misteri yang mengerikan. ”Ah, aku mendengar dari burung yang bertengger bahwa Sang Presiden Amerika ingin menyelamatkan seseorang di masa lalunya,” jawabnya tanpa menghiraukan pandangan dari penguasa negara lain yang ada di dekatnya.

”Oh begitu,” jawab Jiyong sembari menganggukkan kepalanya. Sementara Se7en? Namja itu tetap tenang. Ajaran dari appa-nya tentang pengendalian diri sepertinya cukup berhasil. Meskipun amarah meledak di dalamnya, dia masih bisa meredamnya. ”Ah, tapi kalau burung yang berkicau di jendelaku mengatakan bahwa Sang Presiden Rusia ingin mengambil kembali anaknya yang hilang.”

Terkejut, itulah yang dirasakan oleh semua pemilik mata yang tertuju pada tiga namja yang ada di tengah-tengah lorong. Anak? Sejauh yang mereka tahu Soo Man tidak mempunyai seorang anak, heck, istripun bahkan tak ada yang tahu. Jadi bagaimana mungkin namja itu mempunyai seorang anak?

Se7en yang sedari tadi terdiam akhirnya memutuskan untuk berbicara. ”Apakah anak yang dicari adalah seseorang yang bernama U-know Yunho?” Dan seketika itu juga bubar semua pertahanan Soo Man. Merasa tak sanggup meredam emosinya, dia segera mengundurkan dirinya dan menghindari tatapan penuh ingin tahu dari semuanya.

Begitu kehadiran Soo Man menghilang di antara mereka, Jiyong segera menyandarkan tangan kirinya pada pundak kanan Se7en. Cukup lama bersahabat, dia tahu bahwa Sang Presiden Amerika tidak akan menegurnya kecuali terpaksa. ”Menurutmu apakah itu cukup untuk membuatnya marah, hyung?” ujarnya melalui telepati agar tak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.

Presiden Amerika itu tak menjawab, sebaliknya dia hanya berjalan meninggalkan Jiyong sehingga namja itu hampir saja terjatuh kalau bukan karena refleksnya yang cepat. Melihat punggung Se7en yang tegar, Jiyong hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Para penguasa yang mengikuti rapat tadi sudah menghilang perlahan meninggalkan Jiyong, Siwon (TOP), dan Donghae sendiri di lorong putih itu.

Sepasang lengan melingkar di pinggang ramping Jiyong sehingga punggung Presiden Indonesia itu bersandar pada dada bidang pemilik lengan. ”Sepertinya aku harus menghukum doll-ku yang nakal, eh?” bisik suara itu di telinga Jiyong membuat namja manis itu mengerang. Matanya terpejam kala bibir itu menyentuh lehernya dan memberinya gigitan-gigitan kecil.

”Ehem,” deham seorang Lee Donghae yang seketika membuat pasangan itu melepaskan pelukan mereka. ”Mian, tapi aku rasa kita juga harus segera pergi. Siwon sepertinya akan segera kembali dan dia pasti tidak mau tahu apa yang sudah kau lakukan dengan tubuhnya, TOP,” ujar Donghae.

TOP yang masih berada dalam sosok Siwon hanya bisa mengerang kecewa karena harus menunda acaranya dengan Jiyong, tapi dia tahu lebih baik daripada membuat sang zenith marah. ”Ne, arasso,” jawabnya dengan enggan.

”Siwon tak ikut?” Sebuah suara menginterupsi mereka. Hati mereka sedikit lega mengetahui bahwa pemilik suara itu tak lain dan tak bukan adalah Tan Hankyung yang selama rapat hanya terdiam dan mengamati keadaan.

Donghae mengangguk. ”Dan sepertinya aku juga ingin tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang,” tambah Perdana Menteri Korea itu. ”Kau tidak mau menjemput Heechul-mu?” tanya Donghae mendadak membuat namja Cina itu hanya tersenyum lembut.

”Saat ini aku rasa akan lebih baik dia bersama Kangin, setidaknya dengan ini dia akan aman bersamanya. Italia mempunyai pertahanan yang cukup untuk saat ini,” jelas Hankyung dengan tenang. Tak tampak sedikitpun emosi meskipun tahu bahwa saat ini istrinya sedang berada di tangan namja lain, namja yang juga mencintai istrinya.

”Terkadang aku berharap kita bisa mengulang waktu,” gumam Jiyong dengan lembut. Ketiga namja yang lain menatapnya dan perlahan mengangguk setuju. ”Setidaknya, tidak ada yang perlu menderita terutama kalian berdua,” tunjuknya pada Donghae dan Hankyung.

Lee Donghae menggelengkan kepalanya. ”Ani, yang paling menderita di antara kita sebenarnya adalah Siwon. Bahkan setelah 100 tahun berlalu, dia tetap harus melepaskan-nya kembali.”

Jiyong mengangguk tanda setuju. ”Benar, tapi aku juga tahu apa saja yang sudah kalian korbankan demi dirinya. Hanya saja dia tidak menyadarinya,” ujarnya sembari tersenyum lemah. Ada kiasan lain di balik pernyataannya, tapi biarlah hanya mereka yang tahu dan biarlah lorong itu menjadi pendengar setia tentang apa yang tersembunyi di masa lalu.

.

.

Pernahkah kalian berpikir bahwa dunia seolah kejam terhadap kalian?

Sedih. Sendiri. Kesepian.

Itulah yang dirasakan oleh Siwon saat ini. Tahu bahwa sebentar lagi Sungmin akan datang ke ruangan itu dan kemudian mendapati Kibum tak pada tempatnya, Siwon segera bersiap-siap. Tak berapa lama lagi dia akan bertemu dengan namja aegyo yang berhasil mengisi hatinya untuk sementara waktu. Namja yang kemudian harus pergi karena sesuatu hal yang tak bisa dimengerti oleh Siwon.

Pintu ruangan itu terbuka dan Siwon tidak merubah dirinya kembali menjadi TOP, melainkan membiarkan Sungmin bisa melihat keberadaannya kembali. ”Si – Siwon?” Namja bergigi kelinci itu terkesiap melihat keberadaan Siwon di hadapannya. Satu pertanyaan yang melintas di otaknya.

Bagaimana bisa seorang Choi Siwon berada di sini? ”Kenapa?” tanyanya setelah menghilangkan kegugupan yang dirasakannya. Wajahnya kembali menjadi stoic dan tatapannya menjadi dingin. Namja yang ada di hadapannya sekarang memang adalah namja yang mengisi hatinya dulu, namun sekarang hal itu hanyalah sebuah masa lalu. Masa lalu yang harus segera dilupakannya. ”Untuk apa kau ada di sini?”

Setiap satu langkah yang diambil Siwon membuat pertahanan yang dibangun Sungmin runtuh satu per satu. Ini bukan hal yang menguntungkan bagi Sungmin. Tanpa dia sadari sekarang dia sudah terjebak antara tubuh kekar Siwon dengan pintu. Kedua tangan Siwon berada di samping kepalanya. Mereka bisa mendengar deru nafas satu sama lain. ”Jadi, kau memutuskan untuk pergi dari diriku dan merendahkan dirimu sebagai doll untuk seorang Soo Man yang brengsek itu?” tanya Siwon dengan nada mengejak.

Kekesalan mulai bertumpuk dalam diri seorang Lee Sungmin, namun dia masih berusaha untuk bisa menyadarkan dirinya bahwa ada sesuatu yang harus dia lindungi. ”Di mana Kibum?” desis Sungmin untuk mengelak dari pertanyaan yang diajukan Siwon.

”Padahal aku berpikir bahwa kau adalah orangnya, Ming, tapi nyatanya, kau meninggalkanku. Apakah seleramu seburuk itu?”

”Di mana Kibum?” desis Sungmin, tak menghiraukan pertanyaan Siwon.

Penolakan dari Sungmin meningkatkan ambisi callous yang tersembunyi di dalam Siwon. Menghancurkan sesuatu yang melawan adalah hal yang paling membahagiakan bagi seorang callous. ”Jadi sekarang kau memilih Soo Man daripadaku?” tanya Siwon sembari mengurangi jarak di antara mereka. Dia bisa melirik tubuh Sungmin yang gemetar dan bagaimana namja manis itu masih mencoba mempertahankan kesadarannya. ”Tell me, apakah dia bisa membuatmu moan karena ekstasi? Apakah dia bisa membuat dirimu berteriak meminta lebih seperti yang kulakukan terhadapmu?” bisik Siwon dengan nada seduktif pada telinga Sungmin. Tangannya sendiri menjalar pelan dari paha Sungmin yang berbalut jeans. Perlahan naik dan terhenti di samping selangkangan Sungmin.

”Di…ah…mana Kibum?” tanya Sungmin yang masih mencoba mengontrol dirinya. Dia tahu itu susah apalagi dengan jarak yang begitu dekat antara dirinya dengan Siwon. Deru nafas Siwon yang menyentuh daun telinganya membuat tubuhnya begitu sensitif. Jika Siwon menyentuhnya lebih dari ini, dia tidak yakin apakah dia bisa menjaga kesadarannya.

”Hmm…slutty as usual, eh?” bisik Siwon dengan nada menggoda. Dia menikmati bagaimana Sungmin memejamkan mata untuk menahan diri agar tidak jatuh pada perangkapnya. Bagaimana bibir namja aegyo itu terlihat begitu menggemaskan dan meminta untuk segera dilumat. Sepertinya akal sehat dari seorang Choi Siwon juga sedang dipertaruhkan.

Bermaksud untuk meruntuhkan pertahanan Sungmin, Siwon memutuskan untuk mencium leher Sungmin yang terekspos di hadapannya. ”Hyaa~” jerit Sungmin sesaat.

Seringaian terukir di wajah Siwon mendengar desahan tertahan dari namja bergigi kelinci yang lehernya sedang dilumat oleh Siwon. ”Hmm, tubuhmu tetap nikmat seperti biasa, Ming,” bisiknya di sela-sela kulumannya terhadap leher Sungmin.

Kedua tangan Sungmin bertumpu pada dada bidang Siwon. Hanya terdiam. Ingin mendorong, tapi akal sehatnya kalah oleh rasa nikmat yang diberikan Siwon pada dirinya. Badannya sangat sensitif terutama ketika tangan nakal Siwon menjelajahi tubuh mungilnya. ”Di mana, hah, Kibum?” tanyanya di sela-sela kenikmatan yang diberikan Siwon padanya.

”Jadi sekarang kau memilih Kibum, eh? Sepertinya menjadi doll membuatmu menginginkan siapapun, eh?” Ejekan itu seketika membuat amarah Sungmin meledak.

Plak.

Dia menampar pipi Siwon sekencang yang dia bisa hingga bunyi itu terdengar. Pipi Siwon perlahan mulai memerah. Tapi, bukannya marah, namja pemilik dimple smile itu hanya tersenyum senang. ”Kenapa? Bukankah apa yang kukatakan itu benar?”

”Kau,” geram Sungmin sembari mengepalkan tangannya hingga tangannya memerah.

”Kalau yang kukatakan salah, kau tidak akan marah seperti ini bukan?” tantang Siwon kembali membuat Sungmin tersentak.

Seharusnya dia tahu ini adalah jebakan Siwon, namun kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya? ”Di mana Kibum?” Akhirnya dia memutuskan untuk menghindari pertanyaan Siwon dan balik mempertanyakan keberadaan Sang Neve yang hilang. Siwon mengangkat kedua bahunya. Hanya sesaat, namun Sungmin dapat melihat ekspresi sedih terukir di wajah Siwon.

Deg.

Ada perasaan sedih melihat ekspresi itu. Apakah berarti dia sudah dilupakan oleh Siwon? Apakah berarti dia sudah tak bisa lagi mengambil hati Siwon? Oh, tapi ini salahmu Sungmin, salahmu yang meninggalkan dirinya! ”Entahlah,” gumam Siwon. ”Mungkin dia kembali pada Savior-nya? Yang membuatku kembali berpikir berarti usahamu gagal eh? Aku ingin tahu apa yang akan diberikan Soo Man sebagai hukumannya?”

Bunyi alarm menggema di ruangan, tanda bahwa ada penyusup datang. Siwon tahu itu adalah tandanya bahwa dia harus segera pergi atau dia akan tertangkap. ”Ah, think that’s my cue, annyeong~” ujarnya dengan nada riang sebelum kemudian menghilang dalam transporter.

Sungmin tak bisa bergerak. Ada kesedihan di dalam dirinya saat tahu bahwa semua ini terjadi karena kebodohannya. Oh Tuhan, bagaimana bisa dia begitu bodoh? Siwon adalah namja yang begitu sempurna, tapi dia malah menyia-nyiakan Siwon hanya karena sebuah janji dari Soo Man.

Tapi, perlakuan Siwon tadi membuatnya berpikir. Saat dia menghilang dulu, kenapa Siwon tak mencarinya? Berarti benar bahwa Siwon tak memperhatikannya bukan? Kalau Siwon benar-benar menyayanginya, maka Siwon akan mencarinya. Dia tahu sifat Siwon. Jadi, bukankah ini berarti bahwa sebenarnya Sungmin tak lebih dari seorang pelepas hasrat bagi Siwon? Bukankah ini menandakan bahwa Sungmin hanyalah sebagai selingan bagi Siwon yang bisa dilepaskan begitu saja.

Namja bergigi kelinci itu kemudian terduduk di atas lantai yang dingin dan menunduk pasrah. Kesedihan. Amarah. Kesepian. Kekecewaan. Semua melebur menjadi satu. Sebuah emosi yang sudah tak bisa dia paparkan lagi. Jika saja tidak teringat dengan janji yang mengikat dirinya, mungkin dia akan memilih untuk menahan Siwon dan memaksa agar namja itu mengijinkan dirinya untuk ikut serta. Ah, tapi sudahlah. Semua sudah terjadi. Dan Sungmin hanya bisa terus tegar untuk menyelamatkannya.

.

.

Pernahkah kau berharap bahwa kau bukanlah dirimu?

Kedua tubuh yang polos itu saling bergesekkan dalam penuh ekstasi. Bau sex dan sperma tertangkap oleh indera penciuman mereka. Dada yang saling bersentuhan mendatangkan sebuah getaran bagi keduanya. Bibir keduanya saling bertautan bersamaan dengan kecipak saliva.

”Urm…Minnie~” desah namja manis yang berada di bawah tubuh Changmin. Badannya menggeliat oleh setiap sentuhan Changmin pada tubuhnya. Meskipun tangan yang menyentuhnya berbeda dengan orang yang dia harapkan, tapi dia juga tahu bahwa Changmin mengalami hal yang sama.

Kedua pasang mata saling bertemu untuk menyelami perasaan masing-masing dan detik berikutnya bibir mereka kembali bersentuhan mendatangkan sensasi yang tak bisa diurai oleh kata-kata. Kedua tangan Changmin mendarat pada leher Kibum untuk memperdalam ciuman panas mereka. Bagai candu yang tak bisa membuatnya cukup, dia terus menekan bibir merah Kibum, memaksa namja manis itu untuk membukanya agar sekali lagi lidahnya bisa bertarung dengan sang tuan rumah. Merasakan cairan bening yang tertukar di antara mereka.

Tangan kanan Changmin terlepas dari leher Kibum dan menelusuri tubuh putih Kibum yang polos. Hal ini mendatangkan sengatan listrik yang membuat Kibum kembali mengerang. ”Ahh~” Mengetahui bahwa Kibum juga menikmatinya, Changmin kembali melakukan kegiatannya. Dia meremas paha Kibum dengan gemas. Ibu jarinya sedikit menyentuh twinsball Kibum sehingga namja manis itu mendesah. ”Ohh, Minnie…ohh.”

”Bummie,” bisik Changmin pada daun telinga Kibum.

Bagian intim dari keduanya saling bergesekkan dan itu membuat kejantanan keduanya berdiri tegak karena tegang. Begitu merah meminta untuk segera dikeluarkan. Keduanya kembali bertatapan. Changmin mengerjapkan matanya sekali dan kemudian tersenyum lembut. Tangan kirinya membelai pipi Kibum dengan lembut. ”Kita tidak akan melakukannya, ne?” bisiknya. Kibum mengangguk. Dia tahu Changmin mengerti. Mereka seperti terhubung dengan sebuah benang yang tak bisa dijelaskan. Saling mengerti satu sama lain, meskipun begitu berbeda.

Changmin kembali tersenyum dengan tulus. Tubuhnya perlahan turun bersamaan dengan lidahnya yang menjilati setiap kulit Kibum yang bisa dia jangkau. Hingga akhirnya dia berada di tengah selangkangan Kibum dan berhadapan pada kejantanan Sang Neve yang sudah mengeluarkan precum.

”Ohh…moreehh…Minnie…ahh~” desah Kibum begitu Changmin langsung mengulum miliknya. Kehangatan segera melingkupi kejantanannya dan Kibum tak bisa menjelaskan ekstasi yang sekarang dialaminya. Pandangannya mengabur karena cairan bening yang ada di pelupuk matanya. Rasa bersalah menyerang dirinya. Kedua tangannya berada di depan matanya untuk menutup dirinya dari dunia. Merasa tak layak untuk dilihat. ”Ahh~” Desahan yang keluar dari mulutnya bagaikan sebuah pembuktian betapa menjijikannya dirinya saat ini.

Dia tahu bahwa Changmin juga tak ingin melakukannya, tapi rasa egois dalam dirinya membuat dia tak bisa berkutit lagi. Sempat terlintas dalam pikirannya, bagaimana jika dia bukanlah Neve, bagaimana kalau dia hanyalah Kim Kibum biasa? Bukankah itu akan lebih indah? ”Changmin, ahhh~” Dia bisa merasakan puncak orgasmenya sesaat lagi.

Mendengar erangan nikmat dari Kibum, Changmin mempercepat kulumannya. Kedua tangannya juga ikut memainkan twinsball Kibum. Changmin bisa merasakan kejantanan Kibum di dalam mulutnya mulai membesar dan sebentar lagi namja yang ada di bawahnya akan mencapai puncak orgasmenya. ”Min, ah, together…ahhh…” Changmin mengangguk dan kemudian melepaskan kulumannya. Hal ini mendatangkan erangan kekecewaan dari Kibum, tapi kemudian dia kembali teringat bahwa dia yang memintanya.

Kibum kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan mengubah posisi mereka. Changmin sekarang bersandar pada sandaran ranjang dengan dirinya yang sekarang sedang mengulum milik Changmin. Desahan yang menyisip keluar dari mulut Changmin membuat Kibum sedikit senang. ”Bummie, ahh…so good…so good…faster…

Gerakan Kibum semakin cepat sesuai dengan permintaan Changmin. Pipinya yang menggembung karena mengulum milik Changmin merupakan pemandangan yang begitu menggoda bagi kau manapun. Seandainya saja Changmin bisa, mungkin saat itu juga dia akan menyetubuhi Kibum, namun dia kembali teringat dengan perasaannya dan apa yang sedang mereka lakukan saat ini sebenarnya salah. Tapi, rasa nikmat sudah mengalahkan akal sehat keduanya.

Changmin menghentikan gerakan Kibum. Dia menarik tubuh mungil Sang Neve untuk kembali melumat bibir merah bagaikan darah itu. Satu tangannya menopang tubuh Kibum sementara yang satu lagi menggesekkan milik keduanya yang sudah menegang.

”Ahh…Minnie…cumming…cumming…

Me too…ahh….me tooo….Bummie!!”

”Changmin!!”

Splurt. Dan keduanya datang bersamaan tanpa penetrasi, hanya sekedar untuk melepaskan libido mereka. Tubuh Kibum kemudian jatuh di atas badan Changmin karena kelelahan. Sang Savior hanya tersenyum lembut dan kemudian merapikan poni Kibum. Dia mengecup kening Kibum perlahan. Terkadang Changmin berdoa di dalam tidurnya agar dia bisa menjadi orang lain, yang bebas, tanpa terikat oleh status atau apapun. Bebas mencintai ataupun dicintai. Tapi, dia tahu itu hanyalah harapan semu.

Changmin adalah Changmin. Begitu pula dengan Kibum. Dan dia tidak bisa membohongi perasaannya yang mulai tumbuh terhadap Se7en. Bagaimana dengan Kibum? Dia tahu bahwa Kibum juga tak menganggapnya lebih dari seorang dongsaeng, sama seperti perasaannya terhadap Kyuhyun. Inilah awal dan inilah akhir. Tapi hidup akan terus berlanjut. Cinta tak akan pernah berhenti.

Sekali lagi, Changmin hanya bisa berharap semoga Se7en mau menerima dirinya  apa adanya, meskipun sekarang dia hanyalah seorang Savior.

.

.

Pernahkah kau berharap kau tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi?

”Gwenchana, Yunnie?” tanya Jaejoong dengan lembut kala melihat suaminya yang tiba-tiba berhenti berjalan.

Saat ini, mereka sedang melangkah keluar dari pesawat dan menginjakkan kaki mereka pada Nusantara. Kepala  Yunho mendadak terasa begitu sakit membuat langkahnya terhenti. Suara Jaejoong yang tertangkap indera pendengarannya samar-samar terasa mengabur. Oh tidak, Yunho tahu gejala ini, tapi bukankah U-know sudah memberikan tubuh ini sepenuhnya untuk dirinya?

Bruk.

Dan detik berikutnya tubuh Yunho ambruk. Jika bukan karena refleks Taeyang yang cepat, mungkin kepala Yunho akan bertemu dengan jalanan aspal yang keras. Jaejoong berteriak histeris dan langsung menghampiri suaminya. Dia memanggil nama ’Yunho’ berkali-kali namun Yunho tak kunjung sadar.

Sementara di sisi lain, Taeyang menatap ke arah Seungri seolah sedang melakukan sebuah komunikasi yang hanya kedua namja itu tahu. Jaejoong sendiri sudah terlalu mengkhawatirkan Yunho sampai tidak menyadari hal tersebut.

Taeyang mengalungkan tangan Yunho pundaknya sementara yang satu lagi pada pundak Seungri. Badan Yunho yang sedikit besar membuat Taeyang sedikit susah untuk mengangkatnya seorang diri jadilah posisi mereka saat ini Yunho berjalan di antara Taeyang dan Seungri.

Dalam perjalanan mereka untuk masuk ke dalam airport, Jaejoong mulai terisak. Bukankah baru saja Yunho terlihat baik-baik saja? Bahkan mereka sempat berbagi kebahagiaan mendengar kabar gembira dari Jaejoong. Kenapa sekarang suaminya kembali pingsan? Apa yang sedang terjadi?

Tatapan mata doe Jaejoong tak pernah lepas dari Yunho yang dibopong oleh kedua namja tadi. Ada perasaan ketakutan yang tiba-tiba melanda dirinya. Seperti ketika dia harus kehilangan Yunho dulu. Apakah mungkin?

Tidak.

Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia percaya, percaya dengan janji yang dilontarkan U-know padanya. Tidak mungkin bukan jika namja itu akan melanggar janjinya?

”Wah, wah, jadi beginikah salam dari seorang Jung Yunho?” Sebuah suara yang menyapa mereka kala pintu bandara terbuka membuat perhatian Jaejoong teralih. Dia mencari pemilik suara yang menyapa mereka. Di depannya tampaklah dua orang namja, yang satu tampan sementara yang satu lagi merupakan perpaduan tampan dan manis.

Namja tampan yang tampangnya terlihat sedikit lebih tua dengan rambutnya yang pirang itu menyengir ke arah mereka. Cengiran yang membuat bulu roma Jaejoong sedikit berdiri. ”Devil,” desis Taeyang yang cukup keras untuk ditangkap oleh indera pendengaran Jaejoong.

Devil?

Sebenarnya siapa namja yang berada di hadapannya sekarang? Kenapa begitu banyak pemain baru yang tidak dia ketahui? ”Ayolah, kalian terlalu lama. Dara – noona sudah mengomel daritadi dan kalian kan tahu bahwa aku paling tidak bisa menghadapi omelannya.”

Seungie,” gerutu namja yang berada di sampingnya. Wajahnya yang terlihat stoic tadi cukup menunjukkan amarah yang tersembunyi di baliknya, tetapi namja yang diberi julukan Devil itu hanya menyengir dan mencubit pipi namja manis itu dengan gemas.

”Aigo, Thunder-ku ini,” ujarnya dengan nada bercanda.

Thunder?

Tiba-tiba Jaejoong teringat dengan pernyataan Yunho di pesawat tadi. Thunder? Berarti dia adalah Thunder yang dibicarakan Yunho sebagai orang yang malas ditemui oleh suaminya. Dilihat dari penampilannya, Thunder sepertinya tidak bermasalah. Wajahnya memang manis, terlalu manis malah. Dia juga tinggi, lebih tinggi dari namja berjulukan Devil tadi. Tapi, sayangnya aura manis yang dikeluarkan Thunder sepertinya lebih kuat dan kalah oleh aura maskuline Devil.

”Sudahlah, kalian ini datang untuk membawa kami segera menemui Neve atau ingin bermesraan di sini?” desis Seungri yang mulai kesal melihat interaksi pasangan bodoh di depannya.

”Aigo, sepertinya ada yang cemburu karena tidak bisa memuaskan hasratnya, ne?” goda Devil kepada Seungri yang dibalas dengan decakan kesal dari sang magnae.

Taeyang kemudian memutuskan untuk menginterupsi agar semuanya bisa cepat selesai. ”Seung Ho –hyung? Bisakah kita kembali ke markas sekarang? Aku yakin lebih baik kita segera menemui Dara-noona sebelum dia semakin marah, ne?”

Seung Ho mengangguk dan kemudian mengantarkan mereka masuk ke sebuah pintu yang Jaejoong tahu akan mereka gunakan untuk langsung berteleportasi ke tempat yang mereka katakan markas tadi. ”Hei, kau Kim Jaejoong?”

”Jung,” sela Jaejoong terhadap pertanyaan Seung Ho tadi.

Namja yang memakai sarung tangan berwarna merah itu mengangguk. ”Ah, apakah kau tahu siapa sebenarnya suamimu itu?”

Pertanyaan itu membuat Jaejoong bingung. Apa maksudnya dengan pertanyaan itu? Apakah ada sesuatu yang terselebung di baliknya? ”Maksudmu?” tanyanya sembari menatap ke arah Seung Ho.

”Seungie,” bisik Thunder yang merasa bahwa sepertinya dia tahu ke mana tujuan pembicaraan ini.

”Cepat atau lambat dia juga akan tahu, dan bukankah ada pepatah yang mengatakan lebih cepat lebih baik?” balas Seung Ho mengabaikan tatapan memelas dari Thunder. ”Dan lagipula, sebaiknya Jaejoong harus tahu siapa sebenarnya suaminya sebelum semuanya terlambat.”

Jaejoong masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang dijelaskan oleh namja bersarung tangan merah itu. Seandainya saja dia mempunyai kekuatan untuk bisa membaca pikiran mungkin saat ini dia bisa tahu apa yang sebenarnya ada di balik pikiran namja berambut pirang itu. ”Bolehkah kau menjelaskannya?”

Seung Ho hanya tersenyum lembut. ”Thunder jauh lebih tahu mengenai Yunho daripada diriku, mungkin lebih baik kau tanya pada dirinya,” ujarnya lembut sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Thunder yang sedang menggigit bibir bawahnya.

Taeyang dan Seungri yang mengetahui apa yang sebenarnya inti dari pembicaraan itu memutuskan untuk terdiam. Mereka tahu jika ada yang mengenal Yunho lebih dalam, itu adalah Thunder. Biar bagaimanapun Thunder mungkin salah satu dari sedikit yang mengetahui alasan munculnya U-know.

”Maksudnya? Bisakah seseorang menjelaskan padaku apa yang sebenarnya kalian bicarakan?” gerutu Jaejoong dalam keputusasaannya.

Markas mereka sepertinya masih jauh terlihat dari angka 05:00 yang terpasang di dinding. Artinya masih ada 5 menit untuk sampai ke tempat tujuan dan Jaejoong merasa 5 menit cukup untuk setidaknya menarik dia dari kegelapan yang mulai menyelimutinya. ”Tubuh Yunho bukanlah milik Yunho, justru sebenarnya itu adalah milik U-know,” ujar Thunder dengan perlahan.

Satu pernyataan itu cukup membuat Jaejoong menjadi histeris. ”Ap – apa maksudmu? Yunho. Yunnie adalah pemilik tubuh itu! U-knowlah kepribadian lain yang tercipta!”

Thunder menggeleng dengan perlahan. ”Ani, U-know adalah pemilik tubuh itu dan sebaliknya Yunho adalah pribadi yang dia ciptakan. Selalu sendirian di dalam dunianya menyebabkan U-know menjadi pribadi yang pendiam dan dingin. Itulah sebabnya kala dia menginjak dunia luar, dia menciptakan Yunho. Jung Yunho yang ceria, Jung Yunho yang pengertian, Jung Yunho…yang kau cintai.”

Dan detik berikutnya yang Jaejoong rasakan adalah kegelapan yang menyelimuti matanya dan membuatnya kehilangan kesadaran. Bersamaan dengan itu dia juga mendengar suara familiar meneriakkan namanya. Suara namja yang dia cintai.

.

.

Pernahkah kau berharap andai waktu bisa berhenti?

Begitu Eunhyuk membuka matanya, dia merasa kecewa mendapati tidak ada siapapun di kamar selain dirinya sendiri. Rasa kesepian itu kemudian melanda dirinya. Tubuhnya masih sedikit lengket akibat kegiatan yang baru saja dia lakukan bersama master-nya tadi. Ingin bergerak, tapi dia masih merasa sedikit perih. Sudah melakukan hal ini berkali-kali dengan sang master, dia masih belum bisa menghilangkan rasa perih yang ada akibat hubungan tersebut.

Dia gemetar begitu tubuhnya yang polos bersentuhan dengan selimut membuat dirinya yang masih sensitif kembali terangsang. ”Ahh~” desahnya ketika kejantanannya bergesekkan dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.

Tangannya mulai bergerak perlahan dan menyentuh tubuh yang baru saja melakukan aktivitas itu dengan master-nya. Badannya dimiringkan sedikit hingga bersandar pada sandaran ranjang. Kepalanya menatap ke atas dengan mata setengah terpejam. Tangannya memilin kedua nipple yang sudah kembali menegang. ”Ohh….ahh….master…

Tangan kanannya sekarang berjalan perlahan ke bawah. Dia membayangkan bahwa yang menyentuhnya sekarang adalah Donghae dan itu cukup membuat kejantanannya kembali menegang. Rasanya dia tidak akan pernah puas. Seharusnya sang master yang candu akan tubuhnya, tapi dia juga tidak bisa menghalangi keinginan untuk memiliki lebih dari sang master.

Begitu tangan kanannya menyentuh miliknya yang sudah menegang, cairan precum mulai keluar. Tangan kirinya sendiri masih setia memilin nipple-nya yang mulai kembali memerah. ”Urhh…ohh…”

”Aku tak menduga itu yang kau lakukan jika aku tak ada.” Sebuah suara yang familiar di telinganya membuat gerakannya terhenti. Dia memutar kepalanya dan mendapati Donghae sudah berdiri di hadapannya dengan seringaian terpasang di wajah sang master. ”Wae? Kenapa berhenti?” tanya Donghae dengan nada tanpa ekspresi, tapi Eunhyuk bisa menyadari ada sebuah emosi lain yang tersembunyi.

Sang Perdana Menteri kembali menyeringai. Dia kemudian merangkak ke atas tubuh Eunhyuk hingga sekarang keduanya saling berhadapan. ”Kenapa tidak kau lanjutkan? Apa perlu kubantu?” tanya Donghae dengan nada seduktif.

Eunhyuk merespon dengan mengeluarkan bunyi ’Prr’ yang meningkatkan libido sang master. Donghae memutuskan untuk memegang tangan kanan Eunhyuk dan mengarahkannya pada kejantanan sang doll yang sudah tegak. ”Baiklah, hukumanmu bisa menanti,” bisiknya pada daun telinga Eunhyuk yang begitu sensitif.

Gemetar yang terlihat dari tubuh Eunhyuk membuat Donghae tersenyum senang. Ah, inilah reaksi yang dia inginkan dari Eunhyuk. Dengan lambat dia menarik tangan Eunhyuk agar mengocok kejantanan sang doll. Dia mengarahkan tangan Eunhyuk bagaimana cara memuaskan diri sang doll dengan benar. Begitu lambat hingga membuat Eunhyuk merasa sedikit sesak. ”Ahh..faster…master….hiks….

Donghae kembali menyeringai dan akhirnya mempercepat gerakannya pada kejantanan Eunhyuk. Jadi, dia menggunakan tangan Eunhyuk untuk memanjakan kejantanan sang doll sendiri dan sekarang dia mulai mempercepat gerakannya. Ketika merasakan dengan tangannya bahwa milik Eunhyuk sudah mulai membesar, Donghae melepaskan tangannya mendatangkan erangan kecewa dari Eunhyuk.

”Aku ingin melihat kau memasukkan jarimu ke dalam hole-mu dan mencapai orgasme karenanya,” bisiknya dengan nada perintah.

Sang doll hanya bisa mengangguk pasrah dan melakukan apa yang diperintahkan oleh sang master. Donghae tersenyum. Dia mengecup kening Eunhyuk sebentar sebelum kemudian menarik dirinya hingga dia bisa mendapat tempat yang pas untuk bisa melihat doll-nya.

Eunhyuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Donghae. ”Eits, no touching your manhood,” sela Donghae yang melihat tangan Eunhyuk yang ingin menyentuh kejantanannya sendiri. Dia kembali tersenyum mendengar erangan kecewa dari sang doll. Terutama ketika sang doll menurutinya.

Tangan kanan Eunhyuk perlahan menuju ke depan hole-nya dan berputar-putar di sana. Dia mulai memasukkan satu jari. ”Urggh,” erangnya. Rasanya seperti ada yang kurang seolah berbeda ketika sang master yang mempersiapkannya. Tangan kirinya sendiri sedang memilin nipple-nya. Tidak mendapat larangan dari sang master, Eunhyuk tahu bahwa hal itu diperbolehkan.

Dua jari dan Eunhyuk mulai melakukan gerakan scissoring untuk mencari sweet spot-nya. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Eunhyuk menjadi satu-satunya sumber suara yang ada di sana. Sementara Donghae? Namja itu masih berdiri dengan tegak seolah tidak terpengaruh. Padahal celananya mulai menyempit dan gundukan di tengah selangkangannya mulai membesar. Hanya saja, daya kontrolnya begitu besar.

”Ohh…master…feel me…ahhh…” desah Eunhyuk. Dia membayangkan tangan yang memasuki dirinya adalah milik Donghae. Dia membayangkan apa yang biasa dilakukan Donghae sedang dilakukan tangannya. ”Ohh…so good…moree….” Eunhyuk meracau ketika akhirnya kedua jarinya menumbuk pada sebuah titik yang membuat dia merasakan sebuah kepuasan yang biasa dia capai ketika sang master menyetubuhinya.

Merasa tak cukup dengan dua jari, Eunhyuk memasukkan satu jari lagi sehingga sekarang tiga jari berada di dalam hole-nya. ”Ahh…ohh…” Tak bisa, ada sesuatu yang seolah menghentikannya. Orgasmenya tak kunjung bisa dicapai olehnya walaupun dia sudah melakukan seperti yang biasa dilakukan oleh Donghae pada dirinya.

”Kenapa?” tanya Donghae yang merasakan keragu-raguan yang tampak di wajah Eunhyuk. ”Bukankah aku bilang aku ingin melihatmu orgasme sendiri? Dan bukankah itu yang sedang kau lakukan kalau aku tidak pulang tadi?”

Eunhyuk tersentak kaget. Dia sadar bahwa ini adalah hukuman yang diberikan Donghae padanya. Seharusnya dia tahu bahwa dia tidak akan bisa mencapai orgasme tanpa Donghae karena tak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan yang diberikan sang master kepadanya. Inilah yang ingin diajarkan oleh sang master padanya. Dia menatap Donghae dengan tatapan memelas. Sementara Donghae? Namja itu menyeringai melihat ketidakberdayaan yang tampak di wajah Eunhyuk.

Come, my pet,” perintahnya pada Eunhyuk. Mengangguk, Eunhyuk kemudian berjalan merangkak menuju ke arah Donghae. ”You want this?” Donghae menunjuk pada kejantanannya yang sudah terlepas dari kesesakan dan sedang berdiri dengan gagahnya. Kembali Eunhyuk mengangguk dan hal ini membuat Donghae tersenyum penuh kemenangan. ”Suck for it then!” Dia menjambak rambut Eunhyuk dan kemudian menghujamkan miliknya ke dalam mulut mungil Eunhyuk. Sang doll tersedak karena ujung kejantanan sang master menusuk tenggorokannya. Dia tidak siap ketika sang master memaksanya mengulum milik master-nya yang tidak bisa dibilang kecil. ”Ahh..so good…slut!

Eunhyuk hanya bisa menerima perkataan yang dilontarkan Donghae padanya. Saat ini yang lebih penting adalah melepas hasratnya. Ketika merasa miliknya mulai membesar, Donghae tidak melepas kuluman Eunhyuk dan malah memaksa namja manis itu untuk mengulum lebih dalam lagi. ”Faster, bitch…ah…there…

”Aku ingin kau menelannya tanpa sisa, kalau ada sedikit yang terlihat maka aku pastikan kau tidak akan bisa mencapai orgasmemu,” ancam Donghae ketika dia menghentikan gerakan Eunhyuk sebentar untuk membiarkan namja manis itu menarik nafas. Dengan patuh, Eunhyuk mengangguk dan kembali melumat milik Donghae.

Splurt.

Segera begitu cairan putih itu meluncur keluar dari kejantanan Donghae, Eunhyuk menelan semuanya tanpa sisa. Dia bahkan menjilati sisa-sisa cairan putih yang tertempel pada kejantanan Donghae. Hal ini guna untuk meyakinkan Donghae bahwa tidak adalagi cairan putih yang tersisa.

Kejantanan Donghae kembali menegang melihat Eunhyuk yang menjilati sisa cairan putih yang menempel di tubuhnya. Sosok Eunhyuk terlihat begitu menggemaskan dan, ehem, fuckable. Maka tanpa menunggu apa-apa, dia langsung mendorong tubuh Eunhyuk ke atas lantai yang dingin dan langsung menghujamkan miliknya pada hole Eunhyuk.

Dalam sekejap juga Eunhyuk segera mencapai orgasmenya dan kembali mendesah. ”Ah…master…ohh…”

Libido Donghae semakin meningkat kala desahan Eunhyuk tertangkap oleh daun telinganya. Tak menghiraukan lantai yang dingin atau bisa saja suara Eunhyuk terdengar di kamar lain, Donghae kembali menyerang Eunhyuk.

Baru melakukan dengan Eunhyuk membuat Donghae tahu di mana titik sensitif milik doll-nya. Jadi, tidak perlu waktu lama bagi keduanya untuk mencapai orgasme mereka yang kedua. Aktivitas mereka berdua terhenti dan deru nafas terdengar dari keduanya.

Kedua pasang mata itu saling menatap dengan lembut sebelum kemudian terpejam ketika bibir mereka saling menempel. Bukan karena nafsu, tapi karena sebuah perasaan hangat lainnya. Satu yang ada di pikiran keduanya. Andai saja waktu terhenti. Andai saja mereka bisa menikmati kebahagiaan mereka saat ini. Andai oh andai.

.

.

Pernahkah kau berharap bahwa dia yang kau cintai tak akan meninggalkanmu?

Se7en menyadari ada yang aneh ketika dia memasuki bungalow tempat Changmin dan Kyuhyun tinggal. Suasana kosong seperti sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan akhirnya membuat Se7en menyadari satu hal. Dia kemudian menyalakan lampu dan mengelilingi ruang tamu yang sudah tidak ada seorangpun. Aroma parfum khas istrinya tertangkap indera penciumannya dan ini menguatkan keyakinannya.

”Dia sudah pergi.” Langkah Se7en terhenti mendengar suara yang dia terjemahkan sebagai milik Kyuhyun terdengar.

Dia berbalik dan mendapati sosok mungil Kyuhyun yang mencoba berdiri dengan tegap. Mata yang sedikit memerah. Pipi yang basah cukup membuat Se7en tahu apa yang baru saja dilakukan oleh namja mungil itu. ”Secepat ini?” tanya Se7en dengan nada ringan, meskipun ada kesedihan di baliknya. ”Tak ada ucapan selamat tinggal darinya?”

Kyuhyun menggeram. Entah kenapa amarahnya memuncak mendengar nada bicara Se7en yang seolah meremehkan itu. ”Apa yang kau inginkan? Tidakkah cukup kau menyiksanya selama 7 tahun ini?”

Alis mata Se7en terangkat. ”Menyiksa? Menyiksa dalam hal apa?” balasnya dengan tenang. Dia kemudian memutuskan untuk duduk dengan mata masih menatap ke arah Kyuhyun. ”Oh, maksudmu ketika aku menyetubuhinya? Begitu?” tanya Se7en dengan sebuah seringaian di wajahnya.

”Hentikan! Biarkan dia pergi!” seru Kyuhyun.

”Aku tak mengatakan bahwa aku tak mengijinkan dia untuk pergi, aku hanya bertanya dalam hal apa aku menyiksa dirinya?” tanya Se7en kembali tak mau kalah.

Sebenarnya Kyuhyun tahu dia bertanding dalam sebuah peperangan yang tak bisa dia menangkan. Tapi entah kenapa dia ingin sekali melampiaskan emosinya. Mungkin Se7en adalah orang yang tepat. Tidak mungkin bukan dia membentak ke arah Hanbyul? Dia juga masih memiliki harga diri sebagai seorang namja! Lagipula ketika Changmin pergi entah ke mana, Hanbyul juga langsung kembali ke Rusia karena udara di Amerika tidak baik untuk kesehatan yeojya itu. Jadi ke mana lagi dia bisa melampiaskan emosinya selain pada namja yang sedang menyeringai di hadapannya sekarang.

”Biarkan dia bebas, jangan mengikatnya lagi, kumohon,” pinta Kyuhyun dengan nada memelas. Dia sendiri tidak tahu untuk apa dia memohon padahal dia tahu bahwa Changmin sendiri sudah terbelengu dalam pesona seorang Choi Dong Wook.

”Aku tak pernah mengikatnya, tidak dulu, tidak juga sekarang,” gumam Se7en.

Kyuhyun terkesiap mendengar nada sedih yang ada di balik ucapan Se7en, seolah menyayat hati siapapun yang memiliki hati peka seperti dirinya saat ini. ”Kau tidak tahu, Kyu, kau tidak tahu berapa kali aku berharap aku bisa mengikatnya. Tapi, dia bagai angin yang akan selalu meniup entah ke mana membawa sebuah emosi yang tersimpan di dalam lubuk hati siapapun.”

Benar. Itulah yang dia rasakan tentang Changmin. Sosok Changmin bagaikan sesuatu yang tidak pernah bisa gapai, tapi dia merasa seolah bisa mendapatkannya. Bagai angin yang memberikan ketenangan dan kesejukan, begitulah sosok Changmin di dalam diri Kyuhyun. Tapi, angin itu bebas, tak ada yang bisa mengikat dirinya, meskipun kau berpikir seolah kau bisa menemukan caranya.

Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Kyuhyun tidak sadar bahwa Se7en sudah berdiri di hadapannya entah sejak kapan. Barulah ketika  dagunya terangkat dan matanya berhadapan dengan wajah Se7en, dia bisa merasakan jarak mereka yang begitu dekat. Hal yang berikutnya yang terjadi adalah tubuh mungilnya tertekan karena bibir Se7en menyerang miliknya. Begitu dalam. Begitu hangat, namun berbeda dengan apa yang pernah diberikan Changmin pada dirinya.

Dia bisa merasakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh Se7en. Pesan bahwa bukan hanya dia sendiri yang merasakannya. Menginginkan agar dia yang kau cintai selalu berada di sampingmu. Itulah yang saat ini dia rasakan. Jika dia bisa, dia berharap bisa mengurung Changmin agar namja itu tak bisa pergi ke manapun. Dianggap sebagai dongsaeng pun tak masalah, tapi dia tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil.

Setidaknya, setidaknya dia tidak mengalaminya seorang diri. Ada Se7en yang juga mengalami hal yang sama. Biarlah ruang tamu itu kemudian mengetahui perasaan saling bergantung yang tumbuh di antara keduanya. Sesuatu yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata karena hal itu begitu semu, namun nyata. Hal yang kita sebut-sebut sebagai cinta.

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Sekali lagi terima kasih untuk semua review dan dukungannya :’)

Semoga chapter ini tidak mengecewakan chingudeul *deep bow*

Author ini ingin bergalau ria sebentar. Jadi gini, umma dari author akhirnya kembali dan sempat dilhat, bagaimana tubuh umma jadi begitu kurus. Rasanya ini membuat author ini menyadari betapa bodoh dirinya dulu tidak menyadari kehadiran ummanya.

Bagi kalian yang masih mempunyai umma kalian dan masih sehat, bersyukurlah. Nikmati waktu kalian bersama sebelum kalian menyesal. Sekarang author ini berusaha untuk menghabiskan waktu yang dia punya sebanyak yang dia bisa. Ya intinya, hargai setiap waktu yang ada :’)

^^v

Oke deh, author ini undur diri dulu

Last, review? 😉

_Verzeihen

PS: Kim Na Si adalah OC milik reizakov males login

PPS: This is my longest chapter ever 😉

Thanks before

Advertisements

23 responses to “Chapter 10: Prelude

  1. WHATTT???
    hiks… aku… entah kenapa agak sedih di part ini… enggak tau kenapa…. tapi sedih bgtttt 😥
    aku sedih… kenapa se7min pisah disini… sibum juga…hueeeeeee hiksss
    kamu memang bener2 hebat chingu 🙂 ❤

  2. akhirnya bisa baca juga chapter ini 😀
    pas dulu dipost di ffn aku nggak bisa baca chapter ini, tiba-tiba chapternya putus ditengah-tengah, mungkin sangkin panjangnya chapter ini dan karena ponselku yang jadul#curcol
    Ardent tuh siapa? apakah dia Jung YongHwa, bagaimana dia masih hidup? terus yang bingung lagi ternyata Yunho bukan pemilik asli tubuhnya melainkan U-know? dan U-know juga mencintai Jaejoong kan, apakah Yunho nggka bakal sadar lagi
    dan yang bikin sebel, kenapa juga U-know adalah anaknya Soo man? beneran kah itu yang diomongin Se7en
    aah… masih tiap chapter meski ada rahasia yang terungkap tapi malah memunculkan rahasia baru, ditambah tiap chapter cast-nya selalu bertambah, jadi tambah rame aja
    hwaiting!!

    • ah..akhirnya dibaca juga #jduar
      he? O.o iya kykny begitu ._.) mian ya kepanjangan…
      ardent itu saya..kkk~
      yup 😀 kan perlu satu hal yg bkin turn over gitu..hehe twistnya gimana? 😉
      iya, semua yg diucapkan se7en itu benar ^^V
      wah..mian ya kalau jadi keramean, diusahakan biar gak terlalu rame Q.Q

  3. Inilah mengpa Q suka sma fict” yg Author-san buat, konflik.a hdir di stiap chap, tgntikan dgn mslah” yg sdh lwat, bgmn cinta, dendam,persaingn, di cmpur aduk shinga msalah.a kompleks
    daebakk….
    Rasa.a Q mw nangis Bummie and minnie dah prg, npa mrk hrus prg seh??
    Turs Sungmin jg, sumpah, ap sbnar.a yg dia smbuxi’in
    ayolah, ini smpe kpn tmat.a moga ga’ sad ending…..
    Ok kt srahkan smua.a sma Author

    • ah..makasih 🙂
      jadi terharu >w<
      karena harus pergi ._.) supaya mereka bisa mencari jawaban masing2 hihi~
      aku juga lupa, tanya sama sungmin yuk #eh
      amin..gak akan kok, paling cuma ngegantung #eh

  4. Pliz satukan se7min & sibum lagi ya,min..
    auwh..chapter ini sedih banget ..
    Deskripsinya betul2 bagus ..
    Author berhasil membuat saya gundah gula*diinjek

  5. Kok di part inih pada Broken yah???
    Liat tuh Umin sama Kibum…

    Huwaaaaaa…..
    Ayo thor jangan pisahin mereka dong…

  6. Scion? Apa itu?
    Akhirnya Jung Yonghwa muncul juga setelah membuat Nara penasaran, walau bentar….
    Lho? Bukannya Nave itu Kibum ya? Emang Nave ada berapa?
    Wah, apa hubungan Yunppa sama Lee So Man. Lalu kenapa Yunppa pingsan?
    Ini chap penuh kegalauan ne….

    • scion itu…
      hihi..iya, senang ya bisa ngetik yonghwa juga X3
      hehe..nave itu kibum kok 🙂 untuk ini bisa saya jawab biar tidak bkin pusing ^^v
      yunppa dan soo man itu anak dan appa ^^v

  7. yunpa itu anknya soe man..
    suman tw klo yunpA masih hidup??

    trus trnyata u-know lah yang pya tubuh bukan yunho..
    makin seru dan makin penasarannnnnnn..

  8. part ini cuma perasaan saya aja atau emang part yang menyedihkan?
    terlalu banyak emosi dan perpisahan
    author ssi jebal,tolong satukan sibum dan se7min kembali

  9. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

  10. Kayanya part ini dari awal smpe akhir menguras air mata deh T_T

    Knpa sibum n se7min harus dipisahkan padahal kan sbnrnya diantara mereka udah ada perasaan sayang n cinta huweeeeeeee

  11. sedih bgtu banyak di part yg pergi
    apalg bagian nya siwon ohhhh myyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy
    rasanya pengen nangis tau pas part ini
    heechul kangin hangeng jg hueeeee
    astagaaaaa
    masih ada yg blm paham tp bnyk yg udah paham
    nggk kuat rasanya mw baca part selanjutnya tkut nangis
    semoga smua diujung baik2 saja nggk ada yg sedih kecewa
    semua negara damai amieeennn

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s