Chapter 9: Love


Title : Broken Doll

Rated : M

Couple : Yunjae, Sibum, Haehyuk (possible others)

Genre : Romance/Drama

Warning:

NC. Smut. BDSM. Rape. PWP. BoyxBoy. PossibleMpreg.

Yang tidak kuat silakan kembali dan yang merasa yadong (termasuk saya) silakan melanjutkannya cerita ini akan penuh dengan adegan Rated entah rape or non rape.Bear with me? 😉

Don’t Like Don’t Read! GAK SUKA JANGAN BACA! NO BASHING!

Oke selamat membaca

Summary : Dia adalah masterku dan aku hanyalah doll untuk memuaskan nafsunya.

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

.

.

8 tahun yang lalu

Langit malam itu sudah berganti warna dari biru terang ke merah keoranyean hingga akhirnya menjadi gelap sempurna. Dihiasi dengan lautan bintang kecil untuk menemani sang rembulan yang sudah menggantikan kerja dari sang mentari.

Derap langkah kaki dari namja itu menjadi satu-satunya sumber suara di tengah jalanan yang sudah tak bernafas. Hembusan nafasnya terlihat bagaikan asap putih mengingat cuaca di negara itu sangatlah tidak mendukung. Musim dingin yang begitu mencekam terutama pada saat malam hari. Lantas apa yang sedang dilakukan oleh namja itu yang sedang berjalan tanpa memakai jaket atau alat penghangat lainnya?

Berhentilah dia tepat di satu taman yang sepi. Tak ada siapapun di dalam sana, hanya suara hembusan nafas dan droid jangkrik yang terdengar. Melihat sesuatu yang bercahaya di balik rerumputan, seulas senyuman terukir di wajahnya. Langkahnya semakin mantap menuju pada sumber cahaya tadi.

“Apa kau sudah menemukannya?” Sebuah suara terdengar melintas di pikirannya membuat dia mendesis kesal.

Tak memberikan jawaban, sebaliknya dia melanjutkan langkah kakinya. Namja bertubuh jangkung dengan perpaduan wajah manis dan tampan itu kemudian berjalan semakin masuk ke dalam sampai akhirnya dia menemukan sumber cahaya yang adalah pantulan sinar bulan pada sebuah tombol kecil. “Got you,” bisiknya dengan senang.

“Jika aku jadi kau, aku tak akan mau menekannya.” Suara itu seketika menghentikan gerakannya membuat dia berbalik dan mendapati namja lain yang berdiri dengan angkuh di hadapannya. Dia mengenal namja itu sebagai suami dari sepupunya dan tak lebih.

Dia mendesis kesal karena kegiatannya terganggu tanpa menyadari kalau namja itu mulai memperkecil jarak di antara mereka. “Dengar, sekali kau menekan tombol itu, merekaakan datang dan menjadikanmu sebagai objek percobaan, kau tentu tidak mau bukan?”

Selalu seperti ini. Suaranya yang –coret – seksi – coret – rendah selalu berhasil membuat tubuhnya gemetar. Dia tahu ini salah, tapi dia tak bisa mengontrol tubuhnya. Tanpa dia sadari, punggungnya sudah bersandar pada proyeksi pohon dengan namja itu berada di depannya. Jarak mereka begitu dekat hingga keduanya bisa saling mendengar dan merasakan hembusan nafas masing-masing. Kedua pasang mata itu saling berpandangan cukup lama untuk menyelami perasaan masing-masing.

Mungkin namja jangkung itu yang memulai, mungkin juga namja yang baru datang tadi yang berinisiatif, tak ada yang tahu dengan pasti, hanya saja dorongan itu muncul begitu saja ketika melihat ada emosi lain yang tersembunyi di balik sepasang mata yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap saja, bibir keduanya telah menempel satu sama lain. Lembut. Tak ada nafsu, hanya sebuah emosi lain yang bergejolak di antara mereka.

Saliva menetes perlahan dari samping bibir namja jangkung yang bersandar pada pohon itu. Matanya setengah terpejam. Sementara namja tampan itu menggunakan buku tangannya untuk membelai pipi kanan namja jangkung yang temben itu. Begitu lembut, itu yang dipikirkannya. Oh andai saja dia bertemu dengan namja ini sebelum menikah dengan sepupunya, mungkin, mungkin semuanya akan berbeda.

Shichi,” bisik namja jangkung itu dengan lirih. Tatapannya terlihat sendu. Ekspresinya seperti siap melepaskan cairan bening itu kapan saja.

Mereka tahu bahwa setelah ini, semuanya harus kembali seperti semula. Dia akan menjadi Shim Changmin, sepupu dari Choi – Park – Hanbyul dan juga sebagai seorangzenith yang disembunyikan. “Minku, Minku,” gumam namja tampan itu dengan nada sedih.

Dan sekali lagi hal tabu itu mereka lakukan. Ketika tak adalagi yang membatasi mereka. Ketika tak adalagi yang menghalangi mereka. Tubuh yang polos saling bergesekkan menciptakan sebuah sensasi yang memabukkan. Saling menyatukan tubuh dan perasaan mereka. Hal tabu yang tak boleh dilakukan. Suara namja jangkung yang melengking bagaikan melodi di tengah malam yang sepi. Tak ada kata yang terucap karena mereka sudah saling mengerti.

Setelah ini, Changmin akan kembali menjalankan tugasnya untuk menggenapi apa yang pernah diramalkan oleh Yonghwa dan Dong Wook akan kembali menjadi Se7enseorangcallous yang harus mengambil nyawa para zenith, termasuk zenith yang tubuhnya sedang ditindih olehnya.

Hanya saja, keduanya tak tahu bahwa ini adalah permulaan. Bahwa apa yang diramalkan dan direncanakan oleh Yonghwa baru terlaksana sebagian kecil yaitu, kejatuhan para zenith di tangan callous.

.

.

Broken Doll

“Love”

120609 YJ

27.04.2012

By eL-ch4n

.

.

Namja cantik itu terbaring di atas kasur milik master-nya. Tubuhnya yang polos sudah basah oleh peluh keringat. Mengingat ruang itu memakai pendingin dan namja itu tak memakai apapun, lantas apa yang menyebabkannya mengeluarkan banjir keringat seperti itu? Jawabannya karena ada sebuah vibrator yang bergetar di bagian dalamnya dengan kejantanannya yang terpasang cock ring menghalangi orgasmenya. Dengan segenap tenaga, dia berusaha mengontrol agar vibrator tersebut tidak masuk lebih dalam, tapi mengingat itu adalah vibrator yang didesain khusus oleh master-nya, sepertinya bukan hal yang mudah.

Ingin diam, tapi badan terus menggeliat. Ingin bergerak, tapi vibrator tersebut akan berjalan semakin ke dalam. Kondisinya saat ini seperti peribahasa buah simalakama. Dollyang bernama lengkap Lee Hyukjae ini hanya bisa mendesah di dalam ruang tidur sang master yang begitu luas. Yang lain sedang berada di tempat yang berbeda untuk memberikan dirinya privasi. Lagipula, mereka sangat tahu apa yang akan terjadi jika mereka menyentuh atau bahkan melihat Hyukjae dalam kondisi seperti ini. Sungguh, membangkitkan amarah Donghae setara dengan membangkitkan iblis yang sedang tertidur.

Eunhyuk tak bisa memungkiri bahwa dia sangat menginginkan sentuhan dari sang master secepatnya. Dia tak yakin apakah dia bisa bertahan lebih daripada ini. Badannya berguling sehingga sekarang pipinya menempel pada kasur yang empuk dan pantatnya menungging di udara. Tangannya mencoba meraih vibrator yang ada di dalam dindingnya untuk melakukan gerakan in dan out. Baru saja dia hendak menyentuhnya, sesuatu atau lebih tepatnya tangan seorang Lee Donghae menghentikannya.

Well, such a disobedient doll, aren’t you?” gumam Donghae dengan nada seduktif membuat tubuh Eunhyuk kembali gemetar hebat. Sensasi inilah yang sedari tadi diinginkannya. Sentuhan dari sang master selalu berhasil membuatnya mendapat kenikmatan, meskipun sentuhan itu hanya sentuhan ringan.

Entah darimana datangnya tali itu, tapi yang jelas tali itu sudah mengikat kedua pergelangan tangan Eunhyuk yang diletakkan di belakang punggungnya. “Hmm, sepertinya kau sudah tidak memerlukan persiapan lagi, ne?” tanya Donghae dengan nada berbisik.

Tak ada jawaban datang dari Eunhyuk selain desahan nafasnya membuat Donghae merasa kesal. Dia memukul pantat berisi Eunhyuk hingga menimbulkan jejak tangannya yang memerah dan juga tak lupa karena tamparan itu, vibrator yang masih bergetar dalam setelan maksimum melesat lebih dalam lagi dan seketika suara lengkingan Eunhyuk terdengar.

Shut up, bitch! Apakah kau sebegitu ingin mereka melihatmu, hah?” Donghae menjambak rambut Eunhyuk dengan kasar sehingga kepala namja manis itu sedikit terangkat ke atas. Sang Perdana Menteri kemudian mendekatkan bibirnya pada daun telinga doll-nya. “Hmm, tapi slut sepertimu pasti suka dilihat oleh yang lain bukan? Bagaimana kalau aku membiarkan Daesung masuk dan melihatmu? Ah, pasti menyenangkan.”

Dengan cepat, Eunhyuk menggelengkan kepalanya. Cairan bening menetes perlahan membasahi pipinya. Cairan bening yang muncul entah karena apa. “Ani…ah…please? Hiks,” isaknya tertahan yang mendatangkan seringaian dari sang master.

“Kau seharusnya bersyukur karena aku kabur dari rapat untuk sementara,” bisik Donghae sembari menjilati pipi Eunhyuk dan merasakan cairan asin yang terdapat di pipi sangdoll. “Karena aku tahu my slutty doll here is so naughty. Apa yang ingin kau lakukan dengan vibrator tadi, eh?”

Badan Eunhyuk diputar sehingga sekarang keduanya saling berhadapan satu sama lain. Mendengar suara dari sang master tadi, Eunhyuk tahu bahwa dia berada dalam sebuah masalah besar.

Gulp.

Dia menelan ludah sebelum kembali menggelengkan kepalanya. “A – ani, aku hanya,” ujarnya yang langsung disela oleh Donghae.

“Hanya ingin orgasme sebelum aku datang, begitu?”

Namja manis itu sekali lagi menggeleng dengan cepat. Dia sungguh takut saat ini, jauh lebih takut daripada ketika dia diculik dulu. “Ani, itu…aku.” Dia menggigit bibir bawahnya sementara Donghae sedang setengah berlutut dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

“Sudahlah, aku akan menghukummu,” tegur Donghae yang merasa waktunya tak akan lama lagi. Dia harus cepat kembali ke tempat rapat atau Se7en bisa mencurigainya. “Come here.” Eunhyuk mengangguk dengan manis sembari mengangkat badannya yang tadi terbaring di atas kasur.

Zip.

Donghae membuka resleting celananya dan mengeluarkan kejantanannya yang masih belum begitu menegang. Melihat hal itu, Eunhyuk menjilat bibirnya. Tanpa perlu diperintahkan, dia tahu apa yang harus dia lakukan berikutnya. Mulutnya segera mengulum milik Donghae yang besar. Dia sempat tersedak ketika ujung kejantanan Donghae menyentuh ujung tenggorokannya. Tak bisa menggunakan tangannya, Eunhyuk memanfaatkan lidah dan giginya untuk memberikan kepuasan bagi sang master.

Plak.

Sekali lagi Donghae menampar pantat berisi Eunhyuk membuat vibrator tadi masuk semakin dalam hingga menyentuh prostat sang doll. “Urgh,” erang Eunhyuk kesakitan karena orgasmenya tertahan entah keberapa kalinya hari itu.

Suck it, bitch!” Donghae mendorong kepala Eunhyuk sehingga namja manis itu mengulum milik Donghae tanpa persiapan membuat dia kembali tersedak. Air mata itu mulai mengumpul di kedua ujung pelupuk matanya, tapi dia memfokuskan untuk menikmatinya. “Ah, oh, yesh…ahh…kau semakin pintar, eh?” Mendengar itu membuat sebuah senyuman tipis terukir di wajah Eunhyuk. Entah kenapa dia merasa senang karena bisa membuat Donghae berada dalam kondisi sekarang.

Jujur Eunhyuk sedikit kaget ketika tubuh mungilnya terangkat sehingga kulumannya terhadap milik Donghae yang mulai menegang terhenti. Detik berikutnya, erangan kesakitannya terdengar menggema di ruangan. “ARGGHHH – urm.”

Bibir Donghae segera melumat bibirnya sehingga suara erangannya tertutup. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya pada bibir Donghae yang menuntut untuk masuk ke dalam mulutnya. Tubuhnya bergerak naik turun sesuai dengan dorongan dari tangan Donghae yang menelusuri tubuh polosnya. Kejantanan Donghae dan vibrator yang menumbuk titik prostatnya membuat kenikmatan yang dirasakannya dua kali lipat. Desahannya menyelinap keluar dari sela-sela ciuman mereka membangkitkan libido dari sang master.

Eunhyuk menyadari bahwa master-nya sepertinya sangat tergesa-gesa untuk keluar sehingga dia menyempitkan dindingnya untuk menambah gesekkan pada kejantanan sangmaster. “Uh, ah, yesh, oh shit! More, tighter, oh,” desah Donghae yang sudah melepaskan ciuman mereka dengan saliva keduanya saling bertautan. Mata Eunhyuk terpejam untuk memfokuskan pada kegiatannya. Dia mempercepat gerakannya dan dia akhirnya merasakan bahwa dindingnya semakin sempit dan cairan precum Donghae mulai keluar.

Tak berapa lama, Donghae melepaskan orgasme di dalam tubuh Eunhyuk. Sementara Eunhyuk? Cock ring masih setia berada di kejantanannya menghalangi jalan keluar orgasmenya. Dia mengerang kesakitan dan menatap Donghae dengan mata memelas. “Master, hiks, jebbal? Please? Please?

Please, what?” tanya Donghae dengan seringaian di wajahnya.

Please let me cum, master, please?” pinta Eunhyuk dengan nada memelas.

Donghae terkekeh pelan. “You want to cum?” Eunhyuk mengangguk dengan cepat. Berikutnya dia merasakan Donghae kembali menghujamkan kejantanannya di dalam dinding Eunhyuk. “Then cum you will,” bisiknya di telinga Eunhyuk sembari melepas cock ring itu dengan perlahan menikmati erangan Eunhyuk.

Splurt.

Cairan putih segera memuncrat dan membasahi tubuh Eunhyuk yang polos sekaligus mengotori kemeja Donghae. “Cks, naughty doll! Lihat apa yang kau perbuat terhadap kemejaku?”

Namja manis itu gugup dan tubuhnya kembali gemetar. Dia menelan ludahnya dengan susah payah. “Mian, mianhaemaster.”

Tubuh Eunhyuk yang lebih kecil dari Donghae diangkat sehingga terlepas dari kejantanan sang master. Cairan putih Donghae mengalir keluar dari dinding Eunhyuk membasahi kakinya yang mulus. Pemandangan yang sungguh menggoda. Sayangnya dia sudah tak ada waktu lagi. Maka dengan segera, Donghae membaringkan tubuh Eunhyuk ke atas tempat tidur. Sentuhan lembut dari sang master membuat mata Eunhyuk terpejam dengan perlahan. Biarlah dia mendapat hukumannya nanti karena saat ini yang penting adalah Donghae bersama dengannya.

Melihat mata Eunhyuk yang sepenuhnya terpejam, Donghae tahu bahwa Eunhyuk sudah pergi ke alam mimpi. Senyuman lembut terukir di bibirnya. Tangannya merapikan poni Eunhyuk sembari mengusap kening sang doll. Perlahan sebuah tulisan terlihat di atas kening Eunhyuk. Tulisan yang sama dengan yang lain hanya dengan angka yang berbeda, yaitu: S-03.

Dia mendekatkan bibirnya pada kening yang bertuliskan itu dan menempelkannya cukup lama. Air mata Donghae mengalir pelan membasahi pipi kanannya. Sebelum dia menghilang, dia menyelimuti tubuh Eunhyuk agar namja itu tidak sakit. Tatapannya kembali melembut dan sekali lagi dia mendekatkan bibirnya, tapi kali ini pada telinga Eunhyuk. Dia tahu Eunhyuk sudah tertidur, tapi dia hanya ingin agar Eunhyuk tahu akan satu hal, yaitu perasaan yang selama ini disembunyikannya.

Aku tahu aku egois, tapi jika dengan egois aku bisa memilikimu, aku akan menjadi orang paling egois di dunia.”

.

.

Ketika cinta harus diperjuangkan

“Aku tahu aku egois, tapi jika dengan egois aku bisa memilikimu, aku akan menjadi orang paling egois di dunia.”

Ketika cinta akhirnya saling menyadarkan

“Aku bukanlah aku? Bagaimana agar aku bisa tahu apa yang harus kulakukan?”

.

.

Tidak perlu dijelaskan betapa khawatirnya Kyuhyun mendapati hyung-nya tiba-tiba jatuh pingsan dan tergeletak di atas lantai. Yang membuatnya kesal adalah yeojya yang ada di ruangan itu tak bertindak apapun meskipun baru saja yeojya itu mengatakan bahwa dia adalah sepupu Changmin. “Kenapa kau tak menolongnya?” desis Kyuhyun kepada sang yeojya yang masih duduk tanpa emosi. “Kenapa kau berada di sini? Bukankah seharusnya kau sedang bersama dengan Se7en-shi di sana?”

Yeojya itu tersenyum simpul. “Ne, tapi itu hanya sekedar formalitas. Setelah itu, aku dikembalikan lagi ke sini.”

Namja mungil itu mengabaikan yeojya itu dan sudah berada di samping hyung-nya, mencoba mengangkat sang hyung untuk duduk kembali ke atas sofa. Usahanya tentu saja sia-sia mengingat ukuran tubuh mereka yang jauh berbeda sehingga dia hanya bisa membuat hyung-nya terduduk di atas lantai dengan punggung hyung-nya bersandar pada sofa. Setelah memastikan bahwa hyung-nya tidak akan kenapa-kenapa, dia menatap tajam ke arah sang yeojya. “Kalau kau hanya ingin membalas dendam terhadap hyung, bukan begini caranya?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya yeojya itu dengan datar. “Balas dendam? Kau tidak tahu apa-apa, Kyuhyun. Aku tak membalas dendam, hanya ingin menyadarkandirinya.”

Kedua alis Kyuhyun terangkat. Perhatiannya kembali teralihkan ketika mendengar erangan dari namja jangkung yang perlahan mulai membuka matanya. “Hyung!” seru Kyuhyun dengan senang mendapati Changmin kembali sadar dan langsung memeluknya.

Sebuah senyuman lembut terukir di wajah Changmin dan dia membelai rambut Kyuhyun dengan lembut. “Kyu,” bisiknya dengan lembut.

“Sudah sadar, Minnie?” Suara Hanbyul membuat keduanya melepaskan pelukan di antara mereka. Tatapan Changmin menjadi lebih sendu melihat tampang datar dari yeojya itu. Changmin bisa merasakan seberapa besar usaha yeojya itu untuk tetap bertahan. Sekilas namun Changmin bisa melihat tubuh yeojya itu gemetar.

Aku bukanlah aku? Bagaimana aku bisa tahu apa yang harus kulakukan?” tanya Changmin kepada yeojya itu. Ya, sekarang dia sudah sadar bahwa dia bukanlah Max Changmin,doll yang dibeli oleh Presiden Amerika, melainkan Shim Changmin, saudara sepupu dari Hanbyul. Dia akhirnya sadar bahwa dirinya adalah salah seorang savior yang harus menyelamatkan dunia ini dari keterpurukan. Tapi, pertanyaanya adalah, apa yang bisa dia lakukan?

Yeojya itu hanya menyunggingkan sebuah senyum tipis. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan Changmin. Di lubuk hatimu, kau sudah tahu.”

“Jika benar apa kata noona mengenai male pregnancy, kenapa aku, ehem, itu,” ujar Changmin dengan gugup. Rona merah tak bisa dihilangkan dari kedua pipinya untuk mengutarakan apa yang ingin dia ucapkan.

Hal itu membuat Hanbyul terkekeh pelan karena dia mengerti maksud dari perkataan Changmin. “Dong Wook sebenarnya baik,” gumam yeojya itu pelan membuat Changmin bisa merasakan sebuah emosi tersembunyi di balik nada bicara yeojya yang menyatakan diri sebagai sepupunya. “Dia masih berusaha untuk menjaga perasaanku. Dia tahu bahwa jika kau berhasil, hatiku akan tersakiti. Itulah sebabnya dia meminum pil pengontrol setiap hari. Tanpa kau sadari, kau juga mengkonsumsinya, Minnie-ah,” gumam Hanbyul dengan lembut. Tatapan matanya terlihat sendu dan tersirat emosi lain di dalamnya.

“Maksudmu?” tanya Changmin dengan nada tak percaya. Dia tak pernah merasa pernah mengkonsumsi pil atau sejenisnya, kecuali –

Dia menatap Hanbyul tak percaya sementara sang yeojya mengangguk dengan perlahan. “Ne, makanan yang kau konsumsi setiap hari juga tak lupa sesuatu yang dia berikan kepadamu setelah kalian selesai melakukan kegiatan kalian. Tapi, sepertinya karena kecerobohannya, dia lupa meminumkannya padamu secara teratur.”

Masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, Changmin mengabaikan Kyuhyun yang sedang menatap mereka dengan bingung. Meskipun dibilang jenius, mendapat informasi sebanyak ini dalam sekejap bukanlah hal yang mudah bagi Kyuhyun terlebih mengingat umurnya yang masih muda.

“Apakah kau suka merasa mual di pagi hari?” Changmin mengangguk terhadap pertanyaan ini. “Suka menginginkan makanan yang cukup aneh?” Sekali lagi namja jangkung itu mengangguk. Perasaannya mulai tidak enak. “Lalu, kau merasa mood swing?” Kali ini, Changmin sudah mulai mempercayai perasaannya. Tidak mungkin. Biar dijelaskan bagaimanapun, hal ini tidak mungkin terjadi. “Percayalah, Minnie. Percayalah bahwa kini di dalam tubuhmu ada nyawa lain.”

“Hyung,” bisik Kyuhyun dengan pelan membuat Changmin memutar kepalanya memperhatikan namja yang sedari tadi merasa terabaikan itu.

Jika benar bahwa dia hamil, berarti projek itu berhasil. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengatakan pada Se7en mengenai hal ini bukan? Apa yang akan terjadi berikutnya? Oh, dia merasa sedih mengingat sekarang kemampuan zenith-nya sudah tak ada. “Neve memang seorang jenius.” Pernyataan ini seketika mendatangkan sekeping memori di dalam pikiran Changmin.

Ada sesuatu di dalamnya yang meronta keluar. Sebuah memori, memori yang tak ingin lagi dia kenang. Ini salah, dia tidak mungkin? Oh, Tuhan, katakan bahwa semua ini hanya mimpi. “Noona, ini tidak lucu.”

Hanbyul tersenyum. “Tentu saja, aku tidak sedang melucu kok. Dan kau tak perlu khawatir, Minnie, aku sudah tahu apa yang kalian lakukan di belakangku sejak dulu.”

“TIDAK!” Suara teriakan dari Kyuhyun sontak membuat kedua orang itu terkejut.

“Kyu?” tanya Changmin dengan gugup. Kyuhyun yang saat itu sedang berdiri membuat Changmin yang saat itu sedang terduduk harus sedikit mengangkat kepalanya. Dia bisa melihat ekspresi kesal dan sedih bercampur jadi satu.

“Hyung, hyung milikku kan? Kumohon, hyung,” pinta Kyuhyun dengan nada memelas.

Tak ada yang terucap dari namja jangkung itu. Dia hanya bisa menunduk. Kyuhyun adalah dongsaeng yang sangat disayanginya. Saat bersama di Mi[R]otic dulu, dia merasa bahwa dia harus menjaga Kyuhyun. Siapa yang tahu di saat yang sama dia mendapati bahwa Kyuhyun adalah scion yang menjadi legenda? Scion yang merupakan penerus dari para zenith?

“Sampai kapan kau akan terus berada di sampingnya, Kyu? Kau sudah tahu sejak dulu bahwa dia tak bisa melihatmu lebih dari apa yang kau harapkan bukan?” Pertanyaan itu menyadarkan sesuatu di dalam hati Kyuhyun. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu, tahu dengan pasti bahwa Changmin tak akan bisa dimilikinya. Bahwa Changmin tak menganggapnya lebih dari sebagai seorang dongsaeng biasa. Mungkin apa yang mereka lakukan selama ini juga bagi Changmin tak lebih dari sekedar untuk pelampiasan.

Salahkah dia? Salahkah dia mencintai Changmin? Apakah cintanya salah? Ataukah, dia hanya tak mencintai seseorang pada waktu yang tepat? “Jadi, selama ini kau hanya mempermainkanku saja?”

Pertanyaan itu membuat Changmin terkejut. Mempermainkan? Tidak, dia sama sekali tak mempermainkan perasaan Kyuhyun. Oh Tuhan, kenapa begitu banyak hal terjadi dalam satu hari. “Kyu,” bisiknya pelan. Tangannya hendak meraih tubuh mungil itu, tapi segera dihempas oleh namja mungil itu.

“Gwenchana, aku hanya ingin mengucapkannya sekali hyung.”

“Kyu aku –”

“Biarkan aku mengungkapkannya, hyung,” sela Kyuhyun dengan cepat membuat Changmin hanya bisa terduduk kaku. Dia menatap Kyuhyun dan seolah mengerti, dia hanya mengangguk perlahan. Mengetahui itu sebagai tanda dari Changmin, namja mungil itu menggigit bibir bawahnya pelan. “Saranghae, hyung. Sungguh. Sejak kau menyelamatkanku dari sana, aku selalu mencintaimu, dan karena itu jika kau bisa bahagia, aku rela. Aku rela, hyung. Sungguh,” gumam Kyuhyun. Meskipun cairan bening mulai mengaburkan pandangannya, dia masih berusaha untuk tegar agar Changmin bisa meraih kebebasannya.

“Aku juga tak keberatan,” sela Hanbyul yang merasa ini saat yang tepat untuk ikut campur dalam pembicaraan mereka. “Kumohon, jangan melukai Dong Wook, hanya itu yang kumohon darimu. Hanya itu.” Suasana kembali hening di antara mereka sampai kemudian Changmin berdiri. Ketika ditanya apa yang sedang dia lakukan, namja itu hanya tersenyum tipis.

Neve, biar bagaimanapun aku harus kembali kepada sang pencipta bukan?”

.

.

Ketika cinta tak lagi bisa dipercaya

“Jadi selama ini kau hanya mempermainkanku saja?”

.

.

Yunho tak habis pikir kenapa seorang yang kaya dan terkenal seperti Kwon Jiyong mau menggunakan teknologi lama seperti pesawat terbang untuk menempuh jarak yang jauh dari Korea ke Indonesia? Untung saja isi dari pesawat itu seperti hotel berbintang lima, kalau tidak, Yunho mungkin harus bertahan untuk tidak muntah dalam sekejap. Mungkin karena dia lebih terbiasa menggunakan transporter daripada teknologi zaman dulu seperti ini.

“Kenapa kita harus menggunakan pesawat?” gerutunya dengan pelan membuat Jaejoong yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.

Taeyang yang duduk di seberangnya bersama Seungri menampilkan senyuman khasnya. “Jiyong tak ingin kalian menunggunya terlalu lama di sana, lagipula ada beberapa hal yang harus kita bahas terlebih dahulu.”

“Sebentar,” sela Yunho. “Kita akan ke Indonesia kan?” Taeyang mengangguk. “Oke, kalau Indonesia apakah berarti kita akan bertemu dengan Dara, Minzy, Bom, dan, urm,CL?” Sekali lagi namja yang memiliki potongan rambut mohawk itu mengangguk.

Merasa ada sesuatu yang tak beres dengan suaminya, Jaejoong akhirnya bersuara juga. “Gwenchana, Yun?”

Suaminya hanya bisa menepuk keningnya dengan pasrah. Helaan nafas kemudian terdengar darinya. “Bertemu dengan Minzy, Bom, dan CL tak masalah, tapi bertemu dengan Dara dan Thunder adalah hal lain.” Gelak tawa kemudian terdengar dari dua namja di seberangnya sementara namja cantik di sebelah Yunho hanya bisa kebingungan melihat reaksi mereka. “Gwenchana, boo, kau tak perlu mengkhawatirkan apa-apa.” Mengetahui bahwa suaminya bingung, Yunho menenangkannya dengan menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

“Ah, jadi teringat lagi waktu itu ya, ketika kita masih belum terikat masalah seperti ini,” gumam Taeyang membuat Jaejoong merasa tertarik sementara erangan kesal melesat keluar dari mulut Yunho. “Rasanya baru kemarin kita semua bersama dan selalu dihibur dengan lelucon aneh dari Thunder.”

“Jangan kau ingatkan aku tentang hal itu,” gerutu Yunho. Taeyang hanya bisa tertawa sementara magnae di antara semuanya menarik lengan baju dari namja yang sedang tertawa itu.

“Wae, Seungri-ah?” tanya Taeyang dengan lembut.

Seungri tersenyum dan Taeyang tahu bahwa itu adalah senyuman jahil. Dia hanya bisa menghela nafas dan kemudian menarik lengan Seungri meninggalkan sepasang suami yang kebingungan itu. Butuh sepersekian detik bagi Yunho untuk menyadari apa yang sedang dilakukan oleh sang magnae. “Cih, dasar magnae itu.”

Jaejoong merasa bahwa suaminya sedang mengutarakan sesuatu. Dia memutar kepalanya dan bertatapan dengan sepasang mata elang yang membuat hatinya selalu berdebar kencang. “Yun? Kenapa dengan mereka?” tanyanya dengan tatapan polos membuat Yunho meneguk ludah untuk menahan dirinya. Namja bermata elang itu menggeleng kepalanya dengan cepat dan segera mengalihkan pandangannya keluar jendela.

Namja manis itu menggigit bibir bawahnya karena gugup untuk mengutarakan apa yang ada di dalam otaknya sekarang. Yunho harus tahu mengenai hal itu dan suaminya harus tahu itu dari mulutnya bukan dari orang lain dan bukan juga karena takdir. “Yun,” panggilnya dengan lembut.

“Hmm?” Yunho memutar kepalanya untuk menatapi suaminya yang menundukkan kepalanya seolah bersalah dengan apa yang sedang terjadi. “Wae, boo?”

“Yun, aku mohon jangan membenciku setelah ini, jebbal?” pinta Jaejoong dengan nada lirih yang membuat Yunho mau tak mau mengangguk dengan pelan. “Aku…” Jaejoong menggigit bibir bawahnya sekali lagi dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku hamil, Yun.” Selesai. Dia sudah mengatakannya. Dia hanya perlu menunggu reaksi dari Yunho yang sangat tidak ingin dia lihat.

Dia sudah mengantisipasi semuanya. Cercaan. Pertanyaan. Tamparan mungkin. Tapi tidak ketika sesuatu yang hangat mendekapnya dan sepasang bibir yang melumat miliknya sekarang. “Urmm,” desahnya. Tubuhnya yang ramping kemudian terangkat dan dia menjatuhkan dirinya di pangkuan sang suami dengan tidak melepaskan pagutan bibir mereka.

Saliva saling bertautan, kedua pasang mata yang dipenuhi dengan hawa nafsu. “Aku tidak salah dengar kan? Kau hamil kan?” Jaejoong mengangguk dengan ragu-ragu. Dia sungguh takut dengan reaksi dari Yunho. Bisa saja Yunho tak akan mengakui anak yang berada di dalam kandungannya. Sebaliknya yang dia dapatkan adalah sebuah senyuman lebar dari Yunho. “Aku akan menjadi appa!” serunya dengan gembira membuat rona merah muncul di wajah Jaejoong. Untung saja itu adalah private jet, kalau tidak dia pasti harus menahan malunya. “Neve memang jenius! Kau tidak tahu betapa aku sangat bahagia saat ini, boo.”

“Yun, kupikir kau –”

“Kau pikir aku akan marah? Dengar, aku tak peduli jika seandainya itu adalah anak dari U-know, kau tahu biar bagaimanapun dia adalah diriku dan seharusnya aku yang meminta maaf karena aku tak cukup kuat untuk bisa menyelamatkanmu.”

Jaejoong menggeleng dengan cepat. “Ani, kau sudah lebih dari cukup dan aku tak bisa meminta seseorang yang jauh lebih baik dari dirimu, Yun, saranghae, jeongmal saranghae.” Sekali lagi keduanya saling mempertemukan bibir mereka. Kali ini dengan lembut pada awalnya dan kemudian mulai menuntut untuk meminta lebih. “Ahh~” Namja cantik itu mendesah ketika Yunho mulai menjilati leher putih Jaejoong seraya memberikan gigitan-gigitan yang menghasilkan tanda merah pada kulit mulus itu.

“Boo, aku sudah tak tahan, aku harap kau siap,” bisik Yunho di daun telinga Jaejoong yang kemudian dijawab dengan anggukan cepat dari sang namja cantik.

Karena kebutuhan mereka untuk segera merasakan satu sama lain, mereka melewati acara foreplay dan langsung pada bagian intinya. Jaejoong meletakkan kakinya di samping Yunho sehingga dia mengangkangi badan namja tampan itu. Dia terduduk di atas pangkuan Yunho dengan miliknya saling bergesekkan dengan milik Yunho yang mendatangkan sebuah rangsangan dan desahan. Dengan tangannya yang lihai, Yunho melepas celana Jaejoong dan menyelipkan dua buah jarinya ke dalam dinding Jaejoong. “Urgh,” erang Jaejoong yang kemudian menggigit bibirnya hingga sedikit terluka.

Segera Yunho melumat bibir Jaejoong agar namja cantik itu tak merasakan sakit terhadap apa yang sedang dilakukan oleh kedua tangannya. Dia sedang melebarkan dinding yang akan dia masuki nanti agar Jaejoong tak merasa sakit yang berlebihan. Sementara itu tangan kirinya yang senggang membuka resleting celananya dan mengeluarkan miliknya yang mulai menegang. “Boo, I need you.”

Me too, Yunnie-ahh~” Yunho tahu bahwa dia berhasil menemukan titik prostat dari Jaejoong. Dia segera mengangkat tubuh Jaejoong yang ringan sehingga bisa menurunkan celana namja cantik itu. Perlahan dia menurunkan tubuh Jaejoong di atas kejantanannya yang berdiri. Mencoba memosisikan Jaejoong pada sudut yang tepat agar dia bisa langsung menekan titik prostatnya. “AHH~” Jaejong mencoba menutup mulut dengan kedua tangannya agar suaranya tak terlalu keras.

Sakit yang dia rasakan tak lama karena kemudian tangan Yunho mengocok miliknya sementara kejantanan Yunho menekan titik prostatnya. Mendapat kenikmatan dari dua arah ini membuat Jaejoong tak bisa menahan orgasmenya lagi terutama mengingat rasanya sudah lama dia tak merasakan sentuhan Yunho meskipun itu hanya beberapa saat yang lalu.

“Urgh, tight,” erang Yunho yang merasakan dinding Jaejoong yang begitu ketat namun nikmat. Kejantanannya dilingkupi sesuatu yang hangat dan bergesekkan dengan dinding Jaejoong merupakan sebuah euforia yang tak bisa diungkapkan.

Merasa akan dikejar oleh waktu, Yunho mempercepat gerakannya untuk menghujamkan dirinya di dalam tubuh Jaejoong. Beberapa saat kemudian, keduanya mencapai orgasme. Rasanya memang terlalu cepat, tapi mengingat bahwa sewaktu-waktu Taeyang dan Seungri bisa kembali mendatangkan satu antusiasme tersendiri. Lagipula, mereka masih ada waktu. Saat ini yang terpenting adalah mereka saling memiliki satu sama lain juga karena mengingat bahwa Jaejoong sedang hamil sehingga dia tak berani memforsir namja cantik itu. Ciuman panas menutupi kegiatan mereka dan dengan jentikan jari, baju keduanya kembali seperti semula.

.

.

Sepasang mata itu terbuka, memperlihatkan orbs hitam yang begitu bening. Tubuhnya terasa lengket dan bagian bawahnya masih nyeri. Perlahan namja manis itu mengangkat tubuhnya yang masih berhubungan dengan namja tampan yang ada di sampingnya. Hati-hati dia menaikkan tubuhnya agar tidak membangunkan namja tampan itu, tapi ternyata ada sepasang tangan yang memegang pinggang rampingnya. Alhasil, usahanya sia-sia dan sebaliknya dia terjatuh dengan dadanya yang polos bergesekkan dengan dada bidang dari namja tampan yang ada di bawahnya.

“Mau ke mana?” tanya namja tampan itu dengan suaranya yang datar.

Kibum menggeleng dengan perlahan dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Tentu saja, mengingat sekarang bibirnya kembali lagi dilumat oleh sang namja tampan yang bernama Choi Siwon yang sekaligus adalah master-nya. “Urngh,” desah sang namja manis.

Bibir Siwon yang sudah terlepas kembali mengeksplorasi leher Kibum yang sudah penuh dengan bercak-bercak merah. Dia tersenyum puas melihatnya dan menambahkan lagi gigitan merah pada kulit yang masih polos. Sementara namja manis itu menggeser sedikit kepalanya untuk memudahkan Siwon untuk melakukan kegiatannya. “Hmm, you taste sweet, Bummie,” gumamnya di daun telinga Kibum membuat tubuh namja manis itu bergetar. Tangan Siwon yang kekar bergerak nakal di punggung Kibum. Sembari menggoda namja manis itu, dia hanya memberikan sentuhan-sentuhan ringan yang mendatangkan erangan dari Kibum.

Dia menginginkan lebih, tak cukup hanya dengan sentuhan dari namja tampan di bawahnya. Dengan tenaga yang ada, dia menggeserkan sedikit tubuhnya sehingga kejantanan Siwon yang masih tertanam di dalamnya kembali menegang akibat gesekan yang diberikannya. “Ahh`~” Siwon mendesah ketika Kibum menyempitkan hole-nya membuat kejantanan Siwon merasakan gesekan yang membangunkannya kembali.

Plak.

Tangan Siwon yang menjelajah di punggung Kibum menampar kedua pipi pantat Kibum yang mendatangkan erangan dari namja manis itu. “Argh~” Tamparan itu membuat dinding Kibum menjepit milik Siwon sekali lagi.

Hal berikut yang dilakukan Siwon adalah memutar tubuh mereka hingga sekarang tubuh mungil itu berada di atas ranjang. Tanpa memberikan kesempatan bagi Kibum untuk menyesuaikan diri, Siwon langsung melakukan kegiatan in dan out. Ujung kejantanannya berkali-kali menyentuh titik prostat Kibum membuat namja cantik itu mendesah.

Saat ini, di mata Siwon, tak adalagi sesuatu yang seindah Kibum yang berada di bawahnya, mengerang dan terus menyebut namanya. Dia juga tidak peduli kalau seandainya Sungmin melihat mereka karena dia tahu bahwa itu tak akan terjadi. Dia tak akan menjadi zenith jika hal seperti ini saja tidak bisa dia urus bukan?

Siwon membuang jauh-jauh pikiran lain selain memuaskan dirinya beserta namja yang terus mendesah. Desahan Kibum bagaikan untaian lagu yang tiada duanya. Tak ada yang bisa menggantikan melodi indah yang melintas keluar dari bibir merah mungil milik Kibum. “Ahh, moan for me,” bisiknya pelan namun cukup keras untuk tertangkap indera pendengaran Kibum.

Kedua kaki Kibum melingkar di pinggang kekar Siwon untuk mempermudah sang master meng-abuse hole-nya. Tak berapa lama cairan sperma menyembur keluar dari keduanya. Tubuh Kibum yang tadi sudah bersih, kembali dihiasi oleh cairan putih tersebut membuatnya merasa lengket sementara beberapa cairan mengenai tubuh terlatih Siwon. Cairan putih Siwon sendiri merembes keluar di sela-sela dinding Kibum, membasahi pahanya yang mulus sekaligus sprei yang ada di bawahnya.

“Apakah itu sudah cukup, eh?” gumam Siwon di daun telinga Kibum membuat namja manis itu tersentak kaget. Tatapannya terlihat tak percaya terhadap seringaian yang terpasang di wajah Siwon. Meskipun menyeringai, Siwon terlihat sedikit sedih (entah karena apa).

Gulp.

Namja manis itu menelan ludah. Tak ada kata yang terucap darinya. Dia hanya bisa memandang sepasang orbs bening yang menatapnya halus. “Maksud anda?” tanyanya dengan gugup yang hanya membuat seringaian Siwon menjadi senyuman tipis. “Arghh~” Kibum mengerang ketika Siwon menarik kejantanannya keluar dari dalam dinding Kibum.

Sesuatu di dalam hati Kibum meronta untuk diisi oleh sesuatu dan namja sendiri itu tak tahu apa seuatu yang dimaksud. “Apakah kau mau memberikanku kehormatan untuk menjelaskan semuanya, Kim Kibum atau harus kupanggil dengan Neve?”

Kedua orbs hitam itu membesar menunjukkan bahwa sang pemilik merasa kaget dengan apa yang baru saja dia dengar. Siwon tahu? Tapi, bagaimana bisa? Mendengar kekehan dari namja itu, Kibum tahu bahwa dia sebenarnya telah terjebak dalam perangkap zenith yang juga berstatus callous ini. “Aku terjebak rupanya, eh?”

Namja bermarga Choi itu menggelengkan kepalanya. Dia menjentikkan jarinya dan dalam sekejap keduanya kembali berpakaian tanpa ada bekas bahwa baru saja mereka melakukan hubungan intim. Siwon berdiri dan mengambil langkah untuk duduk di kursi yang terletak di samping ranjang. “Tidak juga,” mulainya sembari berjalan. “Aku sudah cukup merasa yakin bahwa kau adalah Neve, tapi aku hanya ingin memastikan saja. Kata orangtuaku, aku harus selalu memastikan sesuatu terhadap sesuatu yang masih rancu.”

“Orangtuamu? Apakah mereka?”

Siwon mengangguk terhadap pertanyaan itu. “Ne, mereka sudah mati karena pembantaian callous. Aku mendapatkan darah campuran ini karena ummaku, Choi Minki, adalah seorang zenith. Sementara appaku, Kang DongHo, adalah seorang callous. Aku memakai marga ummaku agar mereka tidak menyadari kehadiranku. Setidaknya, kalau bukan karena Donghae, mungkin aku juga akan bersama dengan mereka di Surga. Tapi, mungkin itu lebih baik ya?”

Kibum tak tahu, sungguh dia sangat bingung dengan kondisinya. Bertemu dengan Siwon sebenarnya adalah keberuntungan tersendiri baginya karena namja itu menyelamatkannya. Sayangnya, takdir mengatakan bahwa Siwon bukanlah seorang master biasa, melainkan seorang zenith berdarah campuran yang sebenarnya sangat langka. Hubungan antara callous dan zenith biasanya tak lebih dari rekan kerja. Sangat jarang mendapati persilangan seperti ini. Mungkin dari 1juta, hanya ada 1 yang seperti Siwon.

Choi Minki? Tunggu, sejauh yang dia ingat, Choi Minki atau yang biasa dipanggil dengan Ren adalah seorang NAMJA! Wajah Kibum yang tadi sedang tertunduk kemudian terangkat dan menatap Siwon yang tersenyum tanpa ekspresi. “Mungkinkah?” Tahu dengan maksud perkataan Kibum, Siwon mengangguk pelan. Cepat atau lambat, hal ini akan diketahui.

“Kenapa? Kenapa kau tidak KELUAR? KENAPA KAU MENYEMBUNYIKAN HAL ITU?” seru Kibum dengan lantang. Dia ingin menangis, sungguh. Siwon adalah bukti nyata dari keberhasilan Savior yang sudah dilakukan bahkan sebelum projek itu diberikan kepadanya.

Namja yang ditanya kemudian berdiri dan berjalan pelan mendekat ke arah Kibum. Ketika dia sudah berada di depannya, pukulan-pukulan ringan diberikan Kibum ke atas dadanya. Pilu terasa di hatinya melihat Kibum seperti ini. Dia mengerti bagaimana punggung ringan itu mengerjakan semuanya, menanggung semua beban, sesuatu yang seharusnya dia panggul.

Geram. Kesal. Itulah yang dirasakan Kibum saat ini. Emosi yang menumpuk menjadi satu. Dia tidak tahu apakah harus bersyukur atas rahasia ini atau malah sebaliknya merasa sedih. Oke, dia harus jujur bahwa jika seandainya Siwon mengaku pada dunia bahwa dirinya adalah anak dari seorang namja, maka mungkin dia tidak akan diberikan tugas ini, dan artinya –

– dia tidak akan bertemu dengan Changmin ataupun Siwon.

Deg.

Ada perasaan lain yang bergejolak ketika berpikir bahwa ada kemungkinan dia tidak akan bisa bertemu dengan namja yang berada di hadapannya sekarang. Seharusnya dia kesal, seharusnya dia marah. Karena kalau bukan karena Siwon, dirinya yang seorang zenith tidak akan merendahkan dirinya menjadi seorang doll. Namun, nasi telah menjadi bubur. Semua sudah berada pada posisi. Yang jelas sekarang di dalam dirinya ada bibit dari anak savior. Dia hanya bisa berharap kalau seandainya tidak akan terjadi penolakan dari tubuhnya. Jika itu terjadi, bukan hanya projeknya gagal, tapi juga dia akan mati.

“Tenang saja.” Seolah bisa mengerti apa yang sedang diperdebatkan oleh namja manis yang ada di hadapannya, Siwon berbisik pelan untuk menenangkan. “Selama aku berhubungan dengan dirimu, aku memakai pil pengontrol. Kau tak perlu khawatir.”

Tak bisa, Kibum tak bisa tenang. Bukan karena apa yang baru saja dikatakan oleh namja itu, tapi karena tatapan namja itu yang begitu dalam dan tenang. Dia hanya bisa memejamkan mata ketika melihat namja itu mendekatkan wajah mereka. Menunggu sampai bibirnya kembali dilumat, tapi itu tak akan terjadi karena detik berikutnya, dia mendorong tubuh namja bermarga Choi itu menjauh darinya.

Dia berdiri dengan tegap. Tak ada ekspresi di wajahnya meski tatapannya sedikit terlihat sendu. Siwon yang tersentak kaget atas reaksi Kibum hanya bisa tersenyum lembut. “Wae?”

My savior has awaken. Aku akan menjemputnya,” jawabnya dengan datar. “Dan karena kau sudah tahu siapa diriku, kurasa aku tak perlu menjelaskan apapun lagi. Terima kasih untuk waktunya selama ini.”

“Ani,” sela Siwon yang dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Aku yang harus berterima kasih atas kehormatan yang kudapatkan, tapi aku tak akan mengucapkan selamat tinggal. Tidak untuk sekarang, sampai jumpa,” ucapnya dengan seulas senyuman yang menampakkan kedua lesung pipinya. “Sampai jumpa di kesempatan berikutnya, Bummie.”

“Hn,” jawab Kibum yang kemudian menghilang dari ruangan itu meninggalkan Siwon sendirian dalam pikirannya.

Namja bertubuh tegap itu mendudukkan dirinya di atas sofa dengan kepala menghadap ke arah langit. Dia sudah tak peduli lagi. Bahkan ketika Sungmin pergi dari kehidupannya, dia tak pernah merasakan kehilangan seperti ini. Mendengar nama Sungmin, dia teringat dengan namja aegyo yang sebentar lagi akan datang ke ruangannya.

Ah, tapi dia masih bisa menghentikan waktu sebentar. Saat ini, dia masih mau meratapi kebodohannya. Andai saja dia sadar lebih cepat atau andai saja dia menyimpan kebohongan ini lebih lama. Mungkin, mungkin Neve akan memilihnya dan bukan namja itu. Bahkan setelah 100 tahun berlalu, Kibum kembali memilihnya, memilih seorang Shim Changmin.

Dia pergi dan tidak mungkin akan kembali lagi. Dia telah sadar,” gumamnya pelan. Sejenak kemudian dia tertawa. “Kau bodoh, Choi Siwon, sungguh bodoh. Sekali lagi kauterjebak dalam perangkap Kim Kibum.” Tawanya semakin keras, tapi siapapun bisa mendengar teriakan sedih di baliknya. “Apanya yang sampai jumpa? Apanya yang kesempatan berikutnya? Tidak ada, Siwon, tidak adalagi kesempatan bagimu untuk merebut hati Kim Kibum.”

Dan ruangan itu hanya bisa terdiam menatap Siwon yang mengeluarkan tawa diiringi dengan cairan bening yang membasahi kedua pipinya.

.

.

Ketika cinta harus hilang

“Dia pergi dan tidak mungkin akan kembali lagi. Dia telah sadar.”

.

.

Heechul mengerang kesal ketika mendapati bahwa dirinya berada pada sebuah ruangan kosong yang tak berisi apapun juga siapapun. Seharusnya dia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kangin. Seharusnya, dia yang sudah lama berteman dengan namja itu tahu apa yang ada di pikiran namja itu. Apakah Kangin ingin membalas dendam pada dirinya? Ah, tidak, Kangin bukanlah namja serendah itu sampai-sampai mau melakukan pembalasan dendam.

“Sudah sadar?” Sebuah suara mengejutkan dirinya. Di sana, di ambang pintu, berdirilah sosok yang membawanya kepada tempat ini. Ingin memarahi, namun enggan kala melihat ekspresi sedih dari namja itu.

“Apa-apaan ini, Kangin? Kenapa kau membawaku ke sini?” Kangin hanya terdiam dan membiarkan Heechul melepaskan semua emosinya. “Kau sudah tahu bahwa sejak dulu aku tak pernah mencintaimu!”

“Kenapa?” ujar Kangin dengan pelan membuat Heechul menghentikan ucapannya. “Kenapa kau tak bisa melihat diriku? Apa bagusnya dari namja itu?”

Namja cantik itu terdiam. Dia tak tahu, sungguh dia tidak akan bisa menjelaskan apa bagusnya dari seorang Tan Hangeng atau Tan Hankyung, tapi dia tahu bahwa hanya namja itu yang bisa membuatnya merasa tenang dan berdebar di saat yang bersamaan. Hanya dengan namja itu, Heechul bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut harus dibenci karena Hankyung akan selalu menerimanya. Dan Heechul semakin yakin ketika Hankyung dengan relanya mengorbankan harga diri sebagai seorang callous demi menyelamatkan dirinya.

“Tenang saja, Chullie,” gumam Kangin. “Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk kebahagianmu.”

Heechul yang sedari tadi terdiam memikirkan pertanyaan Kangin, kembali tersadarkan dari lamunannya. Ditatapinya Kangin yang menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh cinta. Hal itu membuat Heechul merasa sesak, sungguh, tapi di lain pihak, dia merasa bersyukur ada seseorang yang begitu mencintainya seperti Kangin.

Cinta adalah sebuah pengorbanan dan Heechul akhirnya mengerti ketika dua namja yang ada di dekatnya menunjukkan itu padanya. Yang seorang adalah namja yang pernah dicintainya dan masih mengharapkan kebahagiannya. Yang satu lagi adalah namja yang sangat dicintainya dan sedang melakukan sesuatu untuk membiarkan dia mendapatkan haknya kembali. Heechul hanya bisa merenung dalam hati. Apa yang begitu berharga dari dirinya sampai kedua namja itu mau berkorban begitu banyak?

.

.

Ketika cinta akhirnya menjadi benci

“Kau sudah tahu bahwa sejak dulu aku tak pernah mencintaimu!”

Ketika cinta harus dipaksakan

“Kenapa kau tak bisa melihat diriku? Apa bagusnya dari namja itu?”

.

.

Jakarta, Indonesia, 20:56

“Selamat datang, Neve,” ujar seorang yeojya cantik dengan rambut panjangnya yang keriting dan dibiarkan terurai.

Neve atau yang kita kenal sebagai Kim Kibum hanya mengangguk sebagai jawaban atas sapaan yeojya cantik itu. “Sampai di mana kita, Dara?” tanyanya pada yeojya yang bernama lengkap Sandara Park atau yang biasa dipanggil dengan Dara itu.

Dara mengangguk dan kembali memutar kursinya untuk berhadapan pada layar transparan yang ada di hadapannya. Tangannya menyentuh layar tersebut dan mengeluarkan beberapa gambar yang Kibum yakini sebagai hasil observasi mereka. “Italia sudah menjadi sekutu Korea, hal itu sudah bisa ditebak.” Kibum mengangguk untuk membiarkan yeojya itu kembali melanjutkan penjelasannya. “Sepertinya Donghae berhasil membujuk Cina untuk bergabung dengannya juga.”

“Bagaimana dengan Dong Wook?” sela Kibum. Biar bagaimanapun Kibum tahu, siapapun yang didukung oleh negara adidaya itu, peluang kemungkinan mereka menang akan besar. Yeojya itu menunduk. Dia menggigit bibirnya dan Kibum tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran sang yeojya. “Ada apa?”

“Dong Wook tak berpihak pada siapapun, itu yang dia katakan. Dia hanya akan menolong siapapun yang benar-benar membutuhkan bantuannya. Sampai saat itu tiba…”

“Sampai saat itu tiba, pertarungan yang ada adalah antara Korea, Italia, dan Cina dengan Rusia, Jerman, dan Swiss?” Kibum tak yakin dengan ucapannya sendiri. Tidak mungkin. Swiss berada di pihak Rusia? Oh, apalagi yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Soo Man? “Dengar, Dara, kita harus cepat membawa Savior ke sini. Kita harus –”

“Tidak perlu, Neve,” sela sebuah suara tenor yang familiar di telinga keduanya. Perlahan, Kibum memutar kepalanya diikuti oleh Dara. Di depan mereka sekarang berdiri Shim Changmin dengan gagahnya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. “Aku kembali,” ucapnya dengan pelan namun dengan nada riang.

Kibum tersenyum lebar melihat Changmin berada di hadapannya. Tanpa dia ketahui, badannya bergerak dengan sendirinya menghampiri Changmin. Tangannya melingkar di perut namja jangkung itu dan kepalanya dibenamkan di atas dada bidang milik Changmin. Namja jangkung itu hanya tersenyum lembut. Pelukan ini begitu hangat, kenapa dia bisa melupakannya? “Jadi, sampai di mana kita?” tanya Changmin begitu Kibum melepaskan pelukannya.

Sang zenith kembali memasang wajah seriusnya dan berdeham. “Baiklah, kita kembali pada rencana kita semula. Siapapun yang berhasil menemukan itu, dia bisa memenangkan pertarungan ini dan membawa kedamaian bagi semuanya.”

“Aku tidak peduli dengan pertarungan itu, aku hanya ingin menyelamatkan mereka yang tidak bisa diselamatkan hanya karena masalah keuangan.” Benar, untuk itulah dia menjadi doll demi mendapatkan uang dan pengetahuan. Tapi, siapa yang menduga di satu sisi, dia malah mendapatkan seorang Choi Dong Wook?

Melihat Changmin yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Kibum bisa menebak apa yang ada di dalam otak namja itu.

Choi Dong Wook.

Hanya nama itu yang bisa membuat Changmin seperti ini dan juga hanya nama itu yang menjadi penentu apakah dia bisa menemukan hal yang mereka cari.

“Sebelum Soo Man sadar, kita harus bisa menemukan-nyamenemukan keberadaan Jung Yonghwa.”

.

.

Ketika itulah cinta akhirnya menjadi pisau bermata dua

Dia bisa menguatkanmu dan bisa menjatuhkanmu

Tergantung ke mana cinta itu berpihak

.

.

to be continued

.

.

A/N:

Entah kenapa mengupdate cerita ini penuh perjuangan -_-” udah mau update dari Jumat, eh Sabtu harus soswork jadi gak bisa tidur malam2 karena harus bangun pagi. Tadi pas ngetik, windows rusak alhasil pake soft yang lain -_-” ini aja masih mau memperbaiki windowsnya semoga beres *pray*

Curcol lagi, saya Senin udah mau UTS dan hari pertama adalah akuntansi. Siapapun tolong aku dari debit dan kredit T_T #plak

Nangis darah ini ceritanya. #plak

Jadi bagaimana dengan chapter ini? Apakah misteri sudah terjawab? 😉

.

.

Beberapa penjelasan.

Satu. TOP dan Siwon BUKAN satu tubuh dan 2 kepribadian, melainkan mereka saling menyamar. TOP menjadi Siwon dan mengikuti rapat, sementara Siwon menyamar menjadi TOP dan menyelamatkan Kibum.

Dua. Semua petunjuk sudah hampir bisa ditebak.

Mengenai jumlah zenith, benar ada lebih dari 2, bahkan lebih dari 4 karena Changmin dan Sungmin juga terhitung. Zenith saat ini: Siwon, Kibum, Changmin, dan Sungmin.

Mengenai perkataan TOP adalah bahwa Siwon merupakan darah campuran zenith dan callous.

Sepertinya petunjuk Neve yang paling gampang y 😉

Tapi, semua salah menebak pada petunjuk kedua yaitu, mengenai paragraf Jung Yonghwa 😀 jadi selamat menebak lagi~

Tiga. Ini update terakhir saya untuk dua minggu karena mau fokus dengan UTS dan kesehatan mama saya :3

Mohon doanya m(_0_)m

.

.

Akhir kata,

Review?

_Verzeihen

Advertisements

31 responses to “Chapter 9: Love

  1. hyaaaa!! hey, aku numpang baca ya :))
    mian, aku baru comment di part ini, tapi dari part prolouge sampai ini, ff kamu bagus bggtttt!!! XD
    asli, ini unik, dan ide cerita yang luar biasa WOW!!!
    aku sukaa!!! dan karena baca ff kamu , aku mulai terobsesi (?) dengan SE7MIN COUPPPLEEEEE DAEBAAKKKKK CHINGU YAAAA

    • silakan XD
      gwenchana kok, makasih dah komen ya ^^v
      hihi..jadi malu >w<
      bagus..ayo, kita tebarkan virus se7min
      chingu harus makin cinta sama se7min #tebarconfetti #eh

  2. Jaemma hamil~minku hamil~
    tinggal kibum yg belum..serasa ingin sembunyiin pilnya siwon..
    SiBum berpisah?andwee..plis buat mereka bersatu lagi,mi..
    Seperti biasa, karya anda selalu membuat saya terkagum2 dgn alur cerita yg tidak bs diduga dan jg membuat saya nosebleed seember berkat bumbu nc yang wah!!
    4 thumbs up 4 u,mi !!

    • baguslah..mereka hamil X3
      hihi..yakin ada pil? 😛
      amin..ayo kita bkin mereka kembali bersatu…
      bumbu NC? O.oa wah, syukurlah saya bsa masak jga #ngaco
      gomwo 🙂

  3. Huwaaaaaaa..eL..mian..mianhe baru review..
    Keren eL…tambah ngerti aku…plus tambah gemes sm pairing2nya…hadeuh..yang paling2 emang se7min yah…tapi juga ngerasain nyeseknya Sibum…kyaaaaaa…

  4. annyeong haseyo chingu…
    Aq pnggmar ff buatanmu..sayang bngt dihapus ma ffn..sedih bngt.. 😥
    Maaf slama ini aq jd silent reader..mianhae..
    Minta password untk slave day n broken doll-ny ya chingu..
    Email q :
    namiasuma@yahoo.com
    Gomawo chingu..
    Semangat terus ya…

  5. minta password’a ya,,,aku prnh bca ff ini di ffn sprti’a…, trus hilang, trnyta dihapus ffn ya :(.., mian jdi siders ya…,jengmal mianhae.., aku mnta password Slave day sma broken doll’a ya.. semangat bwt ff trus ya.. 🙂

    emailku : sabrina_debora@yahoo.com

  6. pindah dari ffn yah T^T
    ceritanya menarik walau agak” ngeri dibagian NC-nya *lah napa gw baca yah*
    kata-katanya juga mudah dimengerti, wl ada beberapa bagian yg gak aku paham hehe
    boleh minta pw broken doll sama slave day gak?
    makasih, keep fight ^^

  7. Anyeong, Nara imnida ^^ aku suka sama ceritanya, penuh misteri bikin reader jadi bertanya-tanya, Chap selanjutnya diproteksi, ne? Boleh minta paswordnya nggak? Trus tadi aku sempat baca Secret juga, kan ditulis kalau Secret itu bagian dari Slave day, terus katanya FF itu iproteksi ya? Boleh minta paswordnya juga nggak?
    naralee98@yahoo.com itu alamat emailku.
    Em, tadi aku juga sempat mau add FB Author tapi nggak nemu nama FB Author, mungkin kesalahan ada pada koneksiku.
    Mian komennya kepanjangan *Bow….

    • annyeong ^^v silakan2 😀 semoga dah dapat..heeh
      iya..bagian dari Slave Day, dan itu gak diprotect kok 🙂
      hoo…fb kamu apa, nanti kuadd aja X3
      mian balasnya lama *deep bow juga*

  8. Sejauh ini gue ngebaca, komen di part ini ajadeyah…
    #ditendangauthor

    Jadi Hae itu sebenarnya ada perasaan sama Hyuk…
    Emang dijdat Hyuk ituh angka apasih???

    End well SiBum kenapa kepisah??
    Jangan dong…

    Aduuuu thor ff kamuh bagus banget, pendalaman karakternya juga, gue beneran kaya lagi baca sebuah novel berate R gitu…
    Apalagi liat cara penulisannya…

    Oke thor semangat buat last partnya…

    • iya, gapapa
      langsung ngerangkup aja ^^v

      angka keren yg cuma ada satu #eh

      wah, gak tahu deh. kta lihat saja 😉

      makasih ya ^^v
      aku jadi terharu :’)

      semangat semangat ^^v

  9. kasihan ne sibum.., wonpa sih ngebiarin bummie pergi gyu aju..
    kaga asik ahhhh.. hik..hik..hik.. 😦
    kirain pas tw jaema hamil yunpa bakaln ngamuk eh ternyata malah seneng abis..

    mau tnya kmn ya pasangan haehyuk.. perasaaan ngilang dah..

  10. “Terima kasih sudah mau meninggalkan jejak anda di sini.
    Sayangnya, pintu ini bukanlah akhir bagi perjalan anda jadi janganlah berhenti di sini.
    Jika berkenan, silakan tinggalkan jejak anda pada jalan terakhir yang anda temui.
    Itu akan sangat berarti bagi Sang Pemilik.
    Terima kasih.”

  11. Owowowowowowow jadi nave itu kibum tohhhhhh dia yg udah ciptain savior hemmmm
    Mulai terkuak satu2 nih misterinya

    Tapi knpa sibum harus berpisah sih 😦
    Knpa juga kibumnya ga hamil

    Buat jaejong n changmin chukae ya 😀
    Apa ya kira2 tnggepan se7en kalo tau changmin hamil????

    Makin seru nih
    Lanjut deh 😉

  12. setelah baca dri part 1 sampe part ini, sepertinya sudah saatnya suara saya keluar. g enak diem mulu, udah geregetan pengen koment tpi juga g sabaran buat lanjut.

    author nim, ini keren….
    walaupun konfliknya berat, tapi mudah dicerna. komposisi ncnya juga pas #eh?
    alurnya keren, sempet salah salah nebak, tapi akhirnya tebakan pertama / awal yg justru malah bener.
    dri awal udah feeling si kibum pasti ada apa apanya,dan udah sempet yakn kalo kibum itu seorang zenith yg nyiptain savior.

    ah…. ini keren sangat….
    baiklah sepertinya cukup. saya mau telusur di next chap. udah telat banget ini soalnya…
    hehehe…..

  13. aku syok teramat syok
    jd semua sedkit demi sedikit udh ke bongkar
    sediiihhh banget sibum terpisah
    hueeeeeee
    jebal kembalikan mereka
    kangin dan heechul blm jelas
    syok pas udh paham
    astagaaaaa
    kyumin sibum bersatu donggggg
    jung yong hwa sapa lg itu
    keren sungmin dan kibum masih ,masuk barisan zenith

  14. Jd dr 3 savior yg diketahui sudh 2 yg hamil dan tersisa kibum kan?? sebenernya klo dipikirin lg, gmn cara mereka melahirkan?? operasi kah?? ga mungkin normal kan ?? dan… ekhem…. lewat rektum?

Leave your trail behind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s